Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konflik sosial terkait penggunaan bendungan pada studi komunitas petani di desa Bonto Salluang. Lokasi penelitian di Desa Bonto Salluang Kecamatan Bantaeng, informan ditentukan melalui positive sampling yaitu pengumpulan data dengan pertimbangan tertentu.
Latar Belakang
Masyarakat Desa Bonto Salluang sebagian besar memperoleh pendapatan dari sektor pertanian dan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Bagaimana peran pemerintah dalam konflik sosial pembangunan bendungan di desa Bonto Salluang kabupaten Bantaeng.
Tujuan Penelitian
Apa saja bentuk konflik sosial yang terjadi dalam pemanfaatan bendungan di Desa Bonto Salluang Kecamatan Bantaeng?
Mamfaat Penelitian
Hal ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah khususnya Pemerintah Kabupaten Bantaeng mengenai pembangunan infrastruktur di desa Bonto Salluang.
Defenisi Operasional
Konflik sosial
Meliputi berbagai konflik yang dipahami orang-orang dalam organisasi, ketidaksesuaian tujuan, perbedaan penafsiran fakta, ketidaksepakatan yang disebabkan oleh ekspektasi. Arbitrase merupakan salah satu bentuk konflik sosial melalui pihak ketiga dan kedua belah pihak yang berkonflik menyetujuinya.
Masyarakat Agrari
Kekayaan sumber daya tersebut terdiri dari sumber daya air, sumber daya lahan, sumber daya hutan, sumber daya kelautan, serta keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya, dan tersebar luas di setiap pulau di Indonesia. Pengelolaan sumber daya air pertanian perlu mendapat perhatian agar kinerja sektor pertanian dapat tetap berfungsi dengan baik. Salah satunya adalah pengelolaan kuantitas air untuk penyediaan, pengaturan dan pembuangan air guna mendukung pertanian dalam mengantisipasi kebutuhan air di masa depan.
Pengelolaan air untuk irigasi pertanian melalui jaringan irigasi secara teknis cukup kompleks dan didasarkan pada kolektivitas dan solidaritas sosial.
Konsep Bendungan
Sesuai dengan tata cara perencanaan umum yang baku, bendungan adalah suatu bangunan air dengan peralatan yang dibangun pada penampang atau potongan yang sesuai, yang sengaja dibuat untuk menaikkan permukaan air atau memperoleh ketinggian air terjun sehingga air dapat disadap dan dialirkan. secara gravitasi ke tempat yang membutuhkannya. Bendungan pelimpah yang dibangun di seberang sungai akan menyediakan tingkat air minimum ke bangunan pengambilan untuk keperluan irigasi. Persamaan antara bendungan dan bendungan adalah sama-sama merupakan bangunan air yang dibuat di sepanjang badan sungai.
Landasan teori konflik
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), irigasi, pengendalian banjir, perikanan darat atau keperluan lainnya, tetapi untuk satu tujuan saja. Dalam kaitannya dengan upaya mensukseskan pembangunan pertanian, khususnya dalam hal keterbatasan modal, salah satu caranya adalah melalui investasi. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa investasi adalah cara yang tepat untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.
Astuti (2005) mengatakan jika terjadi peningkatan investasi pada sektor pertanian maka akan berdampak pada pertumbuhan perekonomian Indonesia terutama pada peningkatan pendapatan dari sektor produksi dan penerimaan kompensasi faktor produksi tenaga kerja dan modal.
Penelitian relevan
Menurut Bio, 2017 berjudul “Peranan Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Wilayah Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh”. Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan wilayah Kabupaten Bireuen, dengan meningkatnya produksi pertanian di Kabupaten Bireuen maka pendapatan para petani dan masyarakat di Kabupaten Bireuen juga akan meningkat. Peran sektor pertanian juga tercermin dari tingginya penyerapan tenaga kerja sehingga mampu mengurangi pengangguran di Kabupaten Bireuen.
“Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Bireuen selalu meningkat setiap tahunnya karena meningkatnya persentase tanaman pangan, hortikultura, dan perikanan.”
Bagang Kerangka Berfikir
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam konflik sosial terkait pembangunan bendungan pada masyarakat petani di Desa Bonto Salluang Kabupaten Bantaeng. Menurut Riense dan Abdi, “penelitian kualitatif berupaya memberikan gambaran mendalam tentang situasi yang diteliti.” Hal ini lebih lanjut ditegaskan oleh Bogdan dan Taylor bahwa “penelitian kualitatif tidak sekedar deskriptif, namun yang lebih penting adalah menemukan makna di baliknya (fenomenologi), sebagai makna yang tersembunyi, atau sengaja disembunyikan guna menghasilkan data deskriptif dalam bentuk verbal, tertulis dan tertulis. bentuk lisan.
Dari uraian tersebut maka penelitian ini dimaksudkan untuk memahami konflik sosial terkait pembangunan bendungan pada masyarakat pertanian di Desa Bonto Salluang Kabupaten Bantaeng.
LokasiPenelitian
InformanPenelitian
FokusPenelitian
InstrumenPenelitian
Jenis dan Sumber Data
Teknik Pengumpulan Data
Observasi ini dilakukan dengan cara peneliti mengunjungi lokasi penelitian kemudian mengamati dan mencatat fenomena-fenomena yang diteliti di lokasi penelitian yaitu Desa Bonto Salluang Kecamatan Bantaeng yang dilakukan beberapa kali secara informal guna memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya terkait dengan hal tersebut. masalah penelitian.. Wawancara Sugiyono digunakan sebagai teknik pengumpulan data ketika peneliti ingin mempelajari sesuatu dari responden secara lebih mendalam. Observasi dan wawancara dapat dilakukan secara bersamaan, artinya pada saat observasi dapat juga dilakukan wawancara dengan peneliti untuk memperoleh data yang lebih mendalam, sehingga apa yang terjadi di lapangan sesuai dengan apa yang kita peroleh dari penelitian.
Dokumentasi merupakan pelengkap observasi dan wawancara karena dokumentasi dilakukan sambil mengamati dan mewawancarai informan penelitian di lapangan.
Teknik Analisis Data
Teknik keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif, data dapat dinyatakan valid apabila tidak terdapat perbedaan antara apa yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada objek penelitian. Observasi diperluas: Observasi diperluas maksudnya peneliti kembali ke lapangan, melakukan observasi, mewawancarai kembali dengan sumber data yang ditemui sebelumnya atau sumber data baru. Dengan demikian, kepastian data dan rangkaian peristiwa dapat terekam secara pasti dan sistematis, karena peneliti dapat memeriksa kembali apakah data yang ditemukan itu salah atau tidak.
Nama Desa Bonto Salluang diberikan kepada masyarakat ketika desa tersebut dimekarkan dari kecamatan induk Bonto Lebang menjadi desa definitif Bonto Salluang.
Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Bantaeng
Kecamatan yang ada di Kabupaten Bantaeng antara lain Kecamatan Bantaeng, Kecamatan Bissappu, Kecamatan Eremerasa, Kecamatan Gantarangkeke, Kecamatan Pajjukukang, Kecamatan Sinoa, Kecamatan Tompobulu dan Kecamatan Uluere. Jumlah penduduk Kabupaten Bantaeng mencapai 170.057 jiwa dengan rincian laki-laki 82.605 jiwa dan perempuan 87.452 jiwa. Bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Jeneponto dan bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba.
Gambaran Umum Wilayah Desa Bonto Salluang
Selain 615 unit rumah di Desa Bonto Salluang, terdapat 7 unit Masjid/Mushallah, 3 unit Sekolah Dasar, 2 unit Posyandu dan 1 unit TK. Data pendidikan KRT dan anggota keluarga di Desa Bonto Salluang dapat dilihat pada Tabel 5. Selain pelayanan kesehatan melalui Posyandu, masyarakat Desa Bonto Salluang juga mendapatkan manfaat jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin.
Untuk mengakses sekolah tersebut, warga Desa Bonto Salluang menggunakan jasa transportasi (mobil mikrolet) karena sarana transportasi di Desa Bonto Salluang tidak terputus.
HASIL PENELITIAN
Penyebab Terjadinya Konflik pada pemamfaatan bendungan
"Tapi ada petani yang perselisihan lamanya muncul lagi. Sebelumnya kita pernah konflik karena krisis air, jadi mereka petani karena bendungan ini. Masalah kemarin juga muncul." “Biasanya kalau mau lihat adu mulut di sore hari, biasanya petani yang adu mulut secara lisan.” Kita yang jadwalnya sore hari cenderung tertipu dengan petani yang jadwalnya pagi sampai sore, biasanya petani datang malam hari untuk membuka air yang saya matikan, dan akhirnya sawah saya tidak penuh.
Di sini pembagian airnya dibagi menjadi dua wilayah yaitu Panaikang Satu, waktu pengambilan air dari pagi hingga sore hari pukul 15.00 dan Panaikang Dua, pukul 15.00 hingga pukul 12. Namun di Panaikang Dua biasanya ada petani, belum waktunya mengambil air. dari Panaikang One makanya kami petani disini.
Bentuk konflik
“Konflik yang terjadi di sini kebanyakan hanya sekedar adu mulut, namun ada juga petani yang menggunakan parang untuk berkonflik, namun ketika ada petani yang menggunakan parang, biasanya ada petani lain yang cepat melerai pertengkaran.” Terdapat informan yang pernah peneliti wawancarai mengenai bentuk-bentuk konflik yang terjadi di masyarakat Salluang. Namun biasanya ada petani dari daerah Panaikang yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, namun biasanya konflik yang terjadi kebanyakan hanya sekedar cekcok mulut saja.
Biasanya para petani di kawasan Panaikang 1 ini berjaga secara bergiliran agar tidak ada petani dari Panaikang 2 yang mengambil air ki.
Upaya Penyelesaian Konflik pada masyarakat petani di desa bonto salluang
Demikian hasil wawancara dengan beberapa informan mengenai solusi permasalahan konflik yang muncul di masyarakat khususnya petani di desa Bonto Salluang, dan semoga solusi tersebut dapat menyelesaikan permasalahan yang muncul. Konflik yang dapat disimpulkan adalah konflik sosial yang terjadi pada masyarakat petani desa Bonto Salluang merupakan konflik yang terjadi karena perbedaan kepentingan sosial para pihak. Dalam suatu konflik, berbagai kelompok yang berkonflik duduk bersama untuk membahas permasalahan pokok dan juga menyelesaikan konflik melalui kompromi atau negosiasi antara pihak-pihak yang bertikai sehingga tidak ada pihak yang menang sepenuhnya dan tidak ada pihak yang merasa kalah untuk mencari solusi atas konflik yang muncul.
Tak hanya itu, pemerintah juga mengerahkan aparat keamanan yakni Kepolisian Negara (Polri) untuk turut serta menyelesaikan konflik yang terjadi di masyarakat Desa Bonto Salluang.
Pembahasan
Kedua, kepentingan-kepentingan yang diperjuangkan harus tertata rapi, tidak tercerai-berai dan tidak terkotak-kotak, sehingga masing-masing pihak memahami dengan jelas ruang lingkup tuntutan pihak lain. Kesimpulan dari konflik tersebut adalah konflik sosial yang terjadi pada masyarakat petani di desa Bonto Salluang merupakan konflik yang muncul karena adanya perbedaan kepentingan sosial dari pihak-pihak yang berkonflik. Mediasi merupakan salah satu bentuk penanganan konflik sosial dimana pihak-pihak yang berkonflik sepakat untuk menunjuk pihak ketiga sebagai mediator.
Kemitraan semua pihak yang dilandasi komitmen terhadap visi dan misi yang harmonis dan sinergis juga penting dalam upaya pengelolaan konflik.
Saran
Kesalahpahaman pemerintah adalah telah terjadi konflik antar masyarakat petani akibat pembangunan bendungan di Desa Bonto Salluang, dimana pemerintah melakukan tindakan yaitu konsultasi dengan masyarakat khususnya masyarakat petani untuk menyalurkan air. jadwal yang disepakati bersama agar nantinya tidak terjadi konflik antar petani dan sawah petani dapat pulih kembali. Pemerintah desa dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam membangun infrastruktur di desa Bonto Salluang. Mahasiswa, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Dosen, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Dosen, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Dosen, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas, 2014.
Bagaimana cara kepala desa mengatasi permasalahan konflik sosial yang terjadi pada sektor pertanian di Desa Bonto Salluang?