i
KONSELING REHABILITASI PADA REMAJA PELAKU SEKS PRANIKAH DI RUMAH HIJAU (RH) KOTA
MATARAM Skripsi
Oleh : Isra Nurwahida NIM : 180303083
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2022
ii 2022
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi oleh: Isra Nurwahida, Nim: 180303083 dengan judul
“Konseling Rehabilitasi Pada Remaja Pelaku Seks Pranikah Di Rumah Hijau (RH) Consulting”, telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diuji.
Disetujui Pada Tanggal:
Pembimbing 1 Pembimbing 11
Dr. Mira Mareta, M.A Muhammad Awwad,M.Pd.I NIP.197511072002122001 NIP.198810302019031010
iv
NOTA DINAS PEMBIMBING
Mataram , 2022
Hal : Ujian Skripsi Yang Terhormat
Dekan Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi Di Mataram
Assalamualaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.
Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi, kami berpendapat bahwa skripsi saudari:
Nama Mahasiswa : Isra Nurwahida
NIM : 180303083
Jurusan/Prodi : Bimbingan dan Konseling Islam
Judul Skripsi :Konseling Rehabilitasi Pada Remaja Pelaku Seks Pranikah Di Rumah Hijau (RH) Consulting Kota Mataram Tahun 2022.
Telah memenuhi Syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasah Skripsi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera di-munaqasah-kan.
Wassalamualaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pembimbing 1 Pembimbing 11
v
PENGESAHAN
Skripsi oleh : Isra Nurwahida, NIM : 180303083 dengan judul
“Konseling Rehabilitasi Pada Remaja Pelaku Seks Pranikah Di Rumah Hijau (RH) Consulting Kota Mataram”, telah dipertahankan di depan dewan penguji jurusan Bimbingan Konseling Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram pada tanggal,
Dewan Penguji
Dr. Mira Mareta, M.A.
(Ketua sidang/Pem.1)
Muhammad Awwad, M.Pd.I.
(Sekretaris siding/Pem 11)
Sarapuddin, M.A.
( Penguji 1)
Maliki, M.Pd.I.
( Penguji 11)
vi MOTTO
ۖ ِناَوْدُعْلاَو ِمْثِ ْلَا ىَلَع اْوُنَواَعَت َلََو ۖى ٰوْقَّتلاَو ِّرِبْلا ىَلَع اْوُنَواَعَتَو َّنِاۗ َ ٰٰاللّ اوُقَّتاَو
ِباَقِعْلا ُدْيِدَش َ ٰٰاللّ
Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. (Q.S Al- Maidah:2).1
1 Al-Qur’an Kemenag, Lajnah Pantashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2005.
vii
PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan untuk:
1. Orang tuaku tercinta yaitu Bapak Suhardi dan Ibu Saira yang selalu mendidik dari kecil dan mendukung setiap aktivitasku yang positif serta tidak pernah berkeluh kesah dalam bekerja demi membiayai kebutuhanku sehari-hari termaksuk kebutuhan perkuliahan sampai saat ini.
2. Kepada dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram khusunya dosen Bimbingan dan Konseling Islam (BKI).
3. Kepada teman-temanku yang telah berjuang bersama dan kepada almamaterku.
viii
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim,
Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat, kesempatan, kesehatan dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan Proposal Skripsi yang berjudul “Konseling Rehabilitasi Pada Remaja Pelaku Seks Pranikah Di Rumah Hijau (RH) Kota Mataram” dapat diselesaikan dengan baik.
Popsal Skripsi ini merupakan syarat menyelesaikan Program Studi S1 Bimbingan Konseling Isalam Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Mataram.
Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya yang telah ikhlas membantu dalam proses penyusunan Proposal Skripsi ini, yaitu kepada :
1. Ibu Dr. Mira Mareta, M.A, selaku Ketua Jurusan Bimbingan Konseling Islam dan Bapak Syamsul Hadi, selaku Sekertaris Jurusan Bimbingan Konseling Islam di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Mataram.
2. Ibu Dr. Mira Mareta, M.A selaku dosen pembimbing 1 dan Bapak Muhammad Awwad, M.Pd.I, selaku dosen pembimbing 2 yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing serta memberikan dukungan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Dr. Muhammad Saleh, M.A selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi
4. Prof. Dr.H. Masnun, M.Ag. Selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberikan tempat bagi peneliti untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan dan p[eringatabn utuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.
5. Ibu Elis Fitriani S.Psi selaku direktur di Rumah Hijau Consulting (RH) yang telah bersedia menerima peneliti untuk
ix
melakukan penelitian di RH dan juga staf lainnya yang telah membantu dalam proses penelitian.
Semoga amal kebaikannya mendapatkan pahala dan di ridhoi oleh Allah.
Peneliti sangat menyadari bahwa proposal skripsi ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, saran dan kritikan yang bersifat konstruktif sangat peneliti harapkan demi kelayakan dan kesempurnaan kedepannya, agar bisa diterima dan bermanfaat secara penuh oleh khalayak umum yang berminat dengan karya ini.
Mataram, 12 Mei 2022
Penulis,
Isra Nurwahida NIM:180303083
x DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN JUDUL ii
PERSETUJUAN PEMBIMBINGiii PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSIiv NOTA DINAS PEMBIMBINGv
PENGESAHANvi HALAMAN MOTTOvii
HALAMAN PERSEMBAHANviii KATA PENGANTAR ix
DAFTAR ISI xi ABSTRAK xiii
BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 7
C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian7 D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 9 E. Telaah Pustaka9
F. Kerangka Teori 11 G. Metodologi Penelitian 23 H. Teknik Pengumpulan Data 25 I. Teknik Analisa Data 27 J. Keabsahan Data 29
K. Sistematika Pembahasan 30 BAB II HASIL DAN TEMUAN 32
xi
A. Gambaran Umum Rumah Hijau Consulting Kota Mataram32
1. Sejarah Rumah Hijau Consulting Kota Mataram 32 2. Visi dan Misi Rumah Hijau Consulting Kota Mataram
33
3. Struktur Organisasi Rumah Hijau Consulting Kota Mataram 34
4. Jodbes Petugas Rumah Hijau Consulting Kota Mataram 35
B. Bentuk Dan Faktor Perilaku Seks Pranikah Pada Klien Di Rumah Hijau (RH) Kota Mataram 37
C. Proses Pelaksanaan Konseling Rehabilitasi Pada Klien Pelaku Seks Panikah di Rumah Hijau Consulting Kota Mataram48
BAB III PEMBAHASAN 75
A. Analisis Bentuk Dan Faktor Perillaku Seks Pranikah Pada Klien Di Rumah Hijau (RH) Kota Mataram 75
B. Analisis Proses Pelaksanaan Konseling Rehabilitasi Pada Klien Pelaku Seks Panikah di Rumah Hijau (RH) Consulting Kota Mataram 78
BAB IV PENUTUP 85 A. Kesimpulan 85 B. Saran 87
DAFTAR PUSTAKA 90 LAMPIRAN94
xii
KONSELING REHABILITASI PADA REMAJA PELAKU SEKS PRANIKAH DI RUMAH HIJAU (RH) KOTA
MATARAM TAHUN 2022
Oleh : Isra Nurwahida NIM 180303083
ABSTRAK
Dampak dari perilaku seks pranikah pada remaja dapat menimbulkan dampak yang sangat buruk diantaranya, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, pola pikir yang negatif serta emosional yang tidak terkendali sampai kepada kasus HIV. Oleh karena itu pentingnya remaja pelaku seks pranikah diberikan konseling rehabilitasi untuk pemulihannya. Rumah Hijau Consulting (RH) sebagai lembaga yang memiliki fungsi untuk memberikan konseling, memilki lima klien terkait perilaku seks pranikah. Oleh karena itu penelitin ini memiliki tujuan, yang pertama untuk mengetahui bentuk dan faktor perilaku seks pranikah pada klien di RH, dan yang kedua bagaimana RH melakukan proses konseling rehabilitasi.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data yaitu, wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknis analisis data menggunakan analisis interaktif, tiga komponen yakni reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa bentuk perilaku seks pranikah yang dilakukan oleh kelima klien di RH yaitu mencium, meraba-raba bagian sensitif lawan jenis, berpelukan hingga sampai pada tahap berhubungan intim atau seks pranikah. Hal yang menjadi faktor utama penyebab
xiii
terjadinya perilaku seks pranikah pada klien di RH adalah pengawasan orang tua yang kurang ketat, sehingga memberikan peluang besar pada klien untuk melakukan hal-hal negatif seperti melakukan seks pranikah. Kemudian proses pelaksanaan konseling rehabilitasi oleh RH dengan penerapan konseling Cognitive Behavioral Therapy (CBT) pada klien pelaku seks pranikah cukup berpengaruh terhadap terjadinya perubahan perilaku secara positif pada diri klien.
Kata Kunci: Konseling Rehabilitasi, Seks Pranikah, Remaja.
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Remaja adalah sebagai periode transisi antara masa anak- anak ke masa dewasa, atau masa usia belasan tahun. Bisa dilihat juga pada anak-anak yang melakukan tingkah tertentu seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya dan sebagainnya. Pada masa ini, remaja mengalami banyak perubahan dan rentan munculnya masalah serta rasa ingin tahu yang tinggi.2 Adapun tanda-tanda pada remaja dimulai dari seks sekunder pada laki-laki maupun pada perempuan dan mulai terjadi fertilitas dan terjadi berbagai perubahan psikososial. Kemudian organ reproduksi pun mengalami perkembangan pada akhirnya akan mengalami kematangan.
Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulai menyukai lawan jenisnya serta arus media informasi, baik elektronik maupun non elektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual remaja tersebut.3
Hurlock, membagi fase remaja menjadi masa remaja awal dengan usia antara 13-17 tahun dan masa remaja akhir usia antara 17-18 tahun. Masa remaja awal dan akhir menurut Hurlock memiliki karakteristik yang berbeda dikarenakan pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati dewasa.4
Budaya seks di Indonesia setiap tahun semakin meningkat, hal ini terlihat dari perkembangan era globalisasi
2Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2011),hlm. 2.
3Anisa Nurhayati, dkk, Determinan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja SMA Negeri 1 Indralaya Utara, Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, Vol 8, No.2 Juli 2017, hlm.84.
4Khoirul Bariyyah Hidayati, Konsep Diri, Adversity Quotient dan Penyesuaian Diri Pada Remaja, Jurnal Psikologi Indonesia, Vol 5, No 02, Mei 2016, hlm.137.
2
sekarang ini, memungkinkan para remaja dengan mudah mendapatkan sajian tontonan, bacaan dan lain sebagainya mengenai seks. Pada saat ini kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kemenkes pada Oktober 2013, Sebanyak 63% remaja sudah pernah melakukan hubungan seks dengan kekasihnya maupun orang sewaan untuk memuaskan hawa nafsu mereka dan dilakukan dalam hubungan yang belum sah.5 Adapun Menurut Sarwono, perilaku sesk pranikah adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik yang dilakukan sendiri, dengan lawan jenis, maupun sesama jenis tanpa adanya ikatan pernikahan menurut agama.6
Dari definisi diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa perilaku seks pranikah dilakukan di luar nikah tanpa adanya ikatan pernikahan menurut agama yang dilakukan atas dasar dorongan hasrat seksual dengan lawan jenis dan bisa dilakukan sesuai kemauan setiap individu.
Menurut data SDKI ( Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia ) 2017 tercatat 80% wanita dan 84% pria mengaku pernah berpacaran. Kelompok umur 15-17 merupakan kelompok umur mulai pacaran pertama kali. Kebanyakan wanita dan pria mengaku saat berpacaran melakukan berbagai aktifitas. Aktivitas yang dilakukan seperti berpegangan tangan 64% wanita, dan 75% pria, berpelukan 17% wanita dan 33% pria, dan cium bibir 30% wanita dan 50% pria.
Diantara wanita dan pria yang telah melakukan hubungan
5Ade Lukmono, Bukan Budaya Indonesia, Fakta Seks Bebas di Lapangan Mengkhawatirkan, dalam https://kendalku.pikiran- rakyat.com/nasional/amp/pr-11895868/bukan-budaya-indonesia-fakta-seks- bebas-di-lapangan-mengkhawatirkan, Diakses tanggal 5 November 2020, 20:29 WIB.
6Namora Lumangga Lubis, Psikologi Kespro, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2013), hlm.75.
3
seksual pranikah 59% wanita dan 74% pria melaporkan mulai berhubungan seksual pertama kali pada umur 15-19 tahun.
Diantara remaja yang telah melakukan hubungan seksual dilaporkan 12% wanita mengalami kehamilan tidak diinginkan.7
Adapun bentuk dari perilaku seksual menurut Soetjiningsih adalah sebagai berikut, yang pertama, berpegangan tangan, kedua memeluk/dipeluk di pinggang, ketiga, memeluk/dipeluk dibahu, keempat cium bibir, kelima cium bibir sambil pelukan,keenam meraba/diraba daerah payudara dan kelamin dalam keadaan berpakaian, ketujuh mencium/dicium daerah payudaya dan kelamin dalam keadaan berpakaian, kedelapan saling menempel alat kelamin dalam keadaan berpakaian, kesembilan meraba/diraba daerah oragen dalam keadaan tanpa berpakaian, kesepuluh mencium/dicium di area payudara dan kelamin tanpa berpakaian, kesebelas saling menempel alat kelamin tanpa berpakaian, dan terakhir melakukan hubungan seksual.8
Perilaku tersebut memiliki banyak dampak negatif diantaranya mengalami depresi, (perasaan malu, bersedih yang berlebihan dan melukai diri sendiri) kemudian bisa menyebabkan pelaku mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD), aborsi, resiko terkena infeksi menular seksual (IMS), seperti ulkus mole, klamidia, trikomoniasis, scabies, sifilis, kutil kelamin (kondiloma akunimala), herpes genital gonorrhoeae,depresi, dan resiko tertular HIV/AIDS.9
7Najwa Hasna Nida, Perilaku Seks Pranikah Remaja, dalam http://dp3ap2.jogjaprov.go.id/berita/detail559-perilaku-seks-pranikah-remaja, diakses tanggal 28 Agustus 2020, pukul 19.19.
8 Sri Helmi Hayati&Santi Esterlita Purnamasari, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Untuk Penurunan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja, Jurnal Psikologi, Vol 17, No 1, Maret 2021, hlm.31.
9 Dewi Sartika Rahadi&Sofwan Indarjo, Perilaku Seks Bebas Pada Anggota Club Motor X Kota Semarang, Journal Of Health Education, Vol 2, No.2, 2017.
4
Faktor yang mempengaruhi terjadinya seks pada remaja antara lain, pertama, faktor perkembangan yang berasal dari keluarga, dimana anak mulai tumbuh dan berkembang.
Kedua, faktor luar mencangkup sekolah yang berperan dalam mencapai kedewasaannya. Ketiga, masyarakat yang meliputi adat kebiasaan, pergaulan, perkembangan (pengaruh teman sebaya). Faktor-faktor lainnya berupa dorongan seksual, keadaan kesehatan tubuh, psikis, pengalaman seksual, paparan informasi dan pengetahuan seksual.10
Memperhatikan fenomena dan dampak dari perilaku seksual pranikah diatas, tentunya sangat memprihatinkan karena sebagian besar pelakunya adalah remaja. Maka perlu adanya penaganan khusus. Salah satu pemulihan bagi remaja pelaku seks pranikah adalah dengan melakukan konseling rehabilitasi agar mendapatkan pemulihan dari kejadian yang mereka alami yang berakibat fatal bagi mental setiap individu. Menurut Szymanski mendefinisikan
“rehabilitatiocounseling sebagai a professioan that assist inividuals with disabilities in adapting to the environtment, assists environments in accommodating the needs of the individual and work toward full participation of persons with disabilities in all aspects of society, especially work”.11
Maksud dari definisi yang dikemukakan oleh Szymanski diatas adalah konseling rehabilitasi merupakan sebuah profesi yang menerapkan proses konseling untuk membantu individu penyandang cacat dalam beradaptasi dengan lingkungannya dan membantu lingkungan dalam mengakomodasi kebutuhan individu tersebut agar dapat mencapai tujuan pesonal,
10 Ruri Maiseptiya Sari, dkk, Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja SMKN, Jurnal Ners Lentera, Vol. 8, No. 1, Maret 2020.
11T.F.Rigagar&DennisR.Maki, Rehabilitation Counseling, (New York:PT.Spinger,2004), hlm.19.
5
vokasional, dan kehidupan yang mandiri serta mampu berpatisispasi penuh dalam segala aspek kehidupan masyarakat.
Konseling rehabilitasi sangat diperlukan untuk pemulihan individu penyandang cacat baik fisik maupun mentalnya.
Seperti yang telah dilakukan oleh RH dalam membantu pemulihan mental klien pelaku seks pranikah. Rumah Hijau Consulting adalah transformasi dari Nusa Tenggara for Nusantara for ( NTN Psikologi ), penyedia jasa layanan psikologi sejak tahun 2012. Rumah Hijau Consulting ingin mengambil peran membangun Indonesia lewat peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sumber daya berkualitas hadir dari manusia-manusia yang mengenal potensi diri, menjalin hidup dengan produktif dan bahagia, berkontribusi bagi sesama.
Adapun hasil wawancara kepada psikolog pada tanggal 25 Maret 2022, memberikan keterangan bahwa :
“Terdapat 5 klien yang sudah mereka tangani dari data konseling dan laporan baru-baru ini, khususnya mengenai masalah seks pranikah atas dasar suka saling suka (pacaran) dan rata-rata usia mereka mulai dari 15-19 tahun. Adapun remaja yang melakukan seks pranikah dikarenakan memiliki pengetahuan yang rendah dan sebagiannya lagi remaja yang tidak sekolah. Remaja yang mereka tangani rata-rata berasal dari keluarga yang orang tuanya buruh tani dan kurang pendidikan oleh karena itu persoalan seksualitas dengan keluarga tidak pernah mereka bicarakan sehingga pengetahuan tentang seksualitas mereka masih kurang. Sehingga membuat pelaku seks pranikah sangat terpukul ketika kejadian itu menimpa diri mereka (kehamilan yang tidak diinginkan)dan berakibat besar bagi mental setiap
6
remaja. Ada yang depresi, ketakutan, merasa bersalah, dan merasa malu.12
Bercermin dari uraian diatas maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa salah satu pemulihan bagi remaja perilaku seks pranikah adalah dengan melakukan konseling rehabilitasi agar mendapatkan pemulihan dari kejadian yang mereka alami yang berakibat fatal bagi mental setiap individu. Mengapa harus konseling rehabilitasi ? Peneliti dalam hal ini menggunakan konseling rehabilitasi dengan alasan bahwa banyak fakta yang merupakan salah satu cara yang paling dianggap tepat untuk membantu pemulihan kesehatan mental bagi perilaku seks pranikah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk dan faktor yang menyebabkan perilaku seks pranikah pada klien di RH dan bagaimana proses pelaksanaan konseling rehabilitasi oleh RH Kota Mataram dalam menangani klien pelaku seks pranikah. Dari latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul, “Konseling Rehabilitasi Pada Remaja Pelaku Seks Pranikah Di Rumah Hijau (RH) Kota Mataram Tahun 2022.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas, maka peneliti dapat merumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Bentuk Dan Faktor Yang Menyebabkan Perilaku Seks Pranikah Pada Klien Di Rumah Hijau Kota Mataram ?
12 Nur Indah Agustini, Wawancara, 25 Maret 2022 pukul 10: 00 WITA
7
2. Bagaimana Proses Pelaksanaan Konseling Rehabilitasi Pada Remaja Pelaku Seks Pranikah Di Rumah Hijau Kota Mataram ?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk Mengetahui Bentuk Dan Faktor Yang Menyebabkan Perilaku Seks Pranikah Pada Klien Di Rumah Hijau Kota Mataram.
b. Untuk Mengetahui Proses Pelaksanaan Konseling Rehabilitasi Pada Remaja Pelaku Seks Pranikah Di Rumah Hijau Kota Mataram.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan ilmu khususnya pada bidang psikologis dan konseling siswa.
b. Secara Praktis
1) Bagi Mahasiswa
Sebagai salah satu acuan yang bisa digunakan untuk melakukan konseling, khususnya dalam menangani korban seks bebas (seks pranikah) 2) Bagi Penulis
Bagi penulis, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dan referensi untuk terus meningkatkan kapasitas diri dalam melakukan teknik konseling rehabilitasi, juga agar dapat berbagi pengalaman dan ilmu kepada orang lain terkait konseling rehabilitasi pada remaja akibat seks pranikah.
3) Bagi Peneliti Selanjutnya
8
Sebagai tambahan referensi konseptual dalam pengembangan penelitian mengenai permasalahan konseling rehabilitasi pada remaja akibat seks pranikah.
D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup
Untuk menghindari pembahasan yang keluar dari fokus penelitian, maka cakupan dan pembahasan dalam penelitian ini hanya akan membahas hal-hal yang terkait dengan fokus penelitian yang sudah dikemukakan sebelumnya yaitu, meneliti proses konseling rehabilitasi pada remaja pelaku seks pranikah yang dilaksanakan oleh konselor yang ada di RH Kota Mataram.
2. Setting
Setting atau lokasinya akan diadakan di Rumah Hijau (RH) Consulting JL. Batu Bolong No.54 Perumahan Griya Pagutan Kota Mataram.
E. Telaah Pustaka
Berdasarkan tema yang diangkat “Konseling Rehabilitasi Pada Perilaku Seks Pranikah Di Kalangan Remaja Di RH Kota Mataram”, ada beberapa penelitian yang memiliki tema yang hampir sama, yang peneliti kemukakan guna menghindari plagiasi. Adapun telaah pustaka yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
Hasil dari Skripsi Ana Iriani 2020, yang berjudul
“Hubungan Tingkat Self Esteem Dengan Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja” studi kasus Di SMK Nusantara Bogem Glogor Diwek Jombang. Ternyata memiliki hubungannya dengan penelitian yang sedang peneliti lakukan saat ini. Hal ini terlihat dari variabel terikatnya yaitu sama- sama membahas terkait perilaku sesk pranikah pada remaja
9
namun pada penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku seks pranikah pada remaja memiliki kategori rendah sementara pada penelitian yang akan peneliti teliti Di RH Kota Mataram menunjukkan bahwa perilaku seks pranikah pada remaja memiliki kategori sedang. Terlihat jelas penelitian di atas memiliki perbedaan dengan penelitian ini, adapun perbedaannya dari cara penanganannya. Penelitian di atas menggunakan konseling rehabilitasi sementara pada penelitian ini menggunakan self esteem serta objek dan lokasi penelitiannya berbeda.13
Penelitian terdahulu yang menguatkan penelitian ini yaitu dari skripsi Suherni 2020, yang berjudul “Tingkat Pengetahuan Tentang Seks Bebas Pada Remaja Di SMP Muhammadiyah Kasihan Bantul Yogyakarta”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang seks seks bebas pada remaja di SMP Muhammadiyah Kasihan Bantul Yogyakarta. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan desain penelitiannya cross sectional. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan seks bebas remaja Di SMP Muhammadiyah Kasihan Bantul mayoritas baik karena terdapat pada responden berjenis kelamin perempuan (62,5%), berumur 13 tahun (54,2%), memiliki ibu berpendidikan tinggi (60%)s, memiliki ibu tidak bekerja (65,4%) dan mendapatkan sumber informasi >3 sumber sebesar (62,1%).14
13Ana Iriani, Hubungan Tingkat Self Esteem Dengan Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja Di SMK Nusantara Bogem Grogol Diwek Jombang, (Skripsi, STIK Insan Cendekia Medika, 2020), hlm.63.
14 Skripsi Suherni, Tingkat Pengetahuan Tentang Seks Bebas Pada Remaja Di SMP Muhammadiyah Kasihan Bantul Yogyakarta, (Skripsi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Yogyakarta, 2020), hlm.57
10
Skripsi Shofiy Yusro, yang berjudul “Pengaruh Perilaku Seks Pranikah Terhadap Harga Diri Remaja”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah perilaku seks pranikah ikut serta memberikan pengaruh terhadap harga diri seorang remaja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik populasi yaitu seluruh populasi digunakan sebagai subjek penelitian. Pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan angket/kuesioner yang mengembangkan dari teori-teori yang ada. Hasil dari pene litian ini menunjukkan bahwa mayoritas perilaku seks pranikah pada siswa SMA X berada pada tingkat sedang ditunjukkan dengan perilaku yang sering kali tidak percaya diri untuk mengemukakan pendapat, tidak berperan aktif saat di kelas. serta keberaniannya akan muncul jika dilakukan secara bergerombolan dalam hal-hal negatif.15
F. Kerangka Teori
1. Konseling Rehabilitasi a. Pengertian Konseling
Pengertian konseling menurut British Association Of Counseling, “konseling merupakan suatu proses bekerja dengan orang banyak, dalam suatu hubungan yang bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis, psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah”.16
Konseling juga merupakan suatu profesi. Artinya yang bisa melakukan konseling ialah orang yang memang mendapat pendidikan untuk melakukan
15 Nurul Millah, Pengaruh Perilaku Seks Pranikah Terhadap Harga Diri Remaja, (Skripsi, Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2017), hlm.84.
16Abdul Hanan, Meningkatkan Motivasi Belajar Bimbingan Konseling Siswa Kelas V11 C Melalui Bimbingan Kelompok Semester Satu, Jurnal Ilmiah Mandala Education, Vol. 3, No. 1 April 2017, hlm.63
11
konseling dan melalui proses sertifikasi serta harus mendapatkan lisensi untuk melaksanakan konseling.17
Berdasarkan pengertian di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa konseling adalah proses pemberian bantuan yang layak dilakukan melalui wawancara oleh seorang konselor kepada individu yang sedang mengalami masalah (klein), pada pertemuan itu konselor membantu klien dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi agar klien dapat menyesuaikan dirinya, baik dengan diri maupun dengan lingkungan serta bisa dengan mandiri mengambil keputusan apa yang akan dilakukan kedepannya.
b. Rehabilitasi
Menurut Kartini Kartono, mendefinisikan bahwa rehabilitasi adalah restorasi (perbaikan, pemulihan) pada normalitas, atau pemulihan menuju status yang paling memuaskan terhadap individu yang pernah menderita suatu penyakit mental”.18
Konseling rehabilitasi juga merupakan proses sistematis yang membantu orang dengan kecacatan, fisik mental perkembangan, kognitif dan emosi untuk mencapai tujuan personal, karier, dan hidup mandiri di dalam setting yang terintegrasi mungkin melalui aplikasi dari proses konseling. Proses konseling melibatkan komunikasi, penentuan tujuan, dan pertumbuhan atau perubahan kearah yang lebih baik melalui self-advocacy, intervensi psikologi, intervensi
17Jaenette Murad Lesmana, Dasar-dasar Konseling, (Jakarta:UI- Press, 2005), hlm.3.
18Kartini Kartono, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), hlm.425.
12
vokasional, intervensi sosial, dan intervensi behavioral.19
Peneliti menyimpulkan bahwa konseling rehabilitasi dapat diartikan sebagai suatu bidang ilmu yang mengkaji cara-cara membantu penyandang cacat mencapai tujuan personal, sosial, psikologis, dan vokasionalnya. Untuk itu seorang konselor rehabilitasi perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus serta sikap yang dibutuhkan untuk berkolaborasi dalam hubungan profesional dengan penyandang cacat. Proses konseling melibatkan komunikasi, penentuan sasaran dan pertumbuhan yang menguntungkan atau perubahan melalui self- advocacy, psikologis, keterampilan vokasional, sosial dan intervensi tingkah laku.
2. Perilaku Seks Pranikah Pada Remaja a. Pengertian Remaja
Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun perananya seeringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk mengkategorikan remaja. Sebaba usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun.20
Dari definisi diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa masa remaja sebagai periode perkembangan
19Sunaryo, Dasar-dasar Rehabilitasi Dan Pekerjaan Sosial, (Jakarta:Depdikbud, 1994), hlm.35
20 Namora Lumonga, Psikologi Kespro, (Jakarta:PT.Kencana Prenada Media Group, 2013), hlm.73
13
yang paling penting bagi setiap individu pada kenyataannya merupakan suatu periode yang rentan dengan perubahan dan rentan munculnya masalah dan pada masa pubertas tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk mengkategorikan remaja.
b. Perkembangan Fisik Dan Kognitif
Pada perkembangan remaja juga merupakan tahapan pubertas. Tahapan pubertas (puberty) adalah sebuah periode dimana kematangan fisik berlangsung cepat. Yang melibatkan perubahan hormonal dan tubuh yang terutama berlangsung dimasa remaja awal.21
Pada tahap ini remaja mulai berinteraksi dengan lingkungan dan semakin luas daripada tahapan anak- anak, remaja sudah mulai berinteraksi dengan teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk dapat berinteraksi dengan orang dewasa. Karena pada tahapan ini, anak sudah mulai mampu mengembangkan pikiran normalnya, mereka juga mampu mencapai logika dan juga rasio serta dapat menggunakan abstraksi. Arti simbolik dan kiasan dapat mereka mengerti. Melibatkan mereka dalam suatu kegiatan akan lebih memberikan akibat positif pada perkembangan kognitifnya.22
c. Perkembangan Hubungan Sosial
Hubungan sosial adalah cara-cara individu bereaksi terhadap orang-orang disekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya.
Hubungan sosial ini juga berkaitan dengan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosialnya misalnya, makan dan minum senidir, berpakaian sendiri, menaati
21 Jhon W. Santroct, Life-span Defelopment: Perkembangan Masa, (Jakarta: Erlangga, 2011), hlm.404
22 Ibid, hlm.405
14
peraturan, membangun komitmen bersama dalam kelompok atau organisasinya dan sejenisnya.23
Karakteristik hubungan sosial remaja adalah sebagai berikut:
1) Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan pergaulan. Hal ini menyebabkan remaja meiliki solidaritas yang amat tinggi dan kuat dengan kelompok sebayanya, jauh melebihi dengan kelompok lain, bahkan dengan orang tuanya sekalipun.
2) Adanya upaya memilih nilai-nilai sosial. Hal ini menyebabkan remaja senantiasa mencari nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan, jika remaja tidak menemukan nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan maka remaja cenderung akan menciptakan nilai-nilai kelompok mereka sendiri.
3) Mulai ada rasa tertarik pada lawan jenis, hal ini menyebabkan remaja pada umumnya berusaha keras memiliki teman dekat dari lawan jenisnya.
4) Pada masa remaja mulai tampak kecenderungannya untuk memilih karier tertentu, meskipun sebenernya perkembangan karier remaja masih berada pada tahap pencarian karier.24
Dari pembahasan di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa pada masa ini remaja sudah mulai meunjukan dirinya di lingungan sosial dengan berbagai kegiatan dan sudah membangun komitmen dengan kelompoknya. Pada masa ini, remaja sudah mulai belajar untuk mandiri misalnya, makan sendiri, memakai baju sendiri dan menaati peraturan yang ada di lingkungan sosial baik dari
23 Ibid, hlm.407
24 Ibid, hlm. 92
15
lingkungan keluarga maupun sekolahnya.
Kemudian remaja sudah menunjukkan sikap saling menyukai antara lawan jenisnya dan memilih karier sendiri.
d. Pengertian Perilaku Seks Pranikah
Menurut Baxter dan Oakley, mereka menyebutkan seks dan jenis kelamin (gender) sering digunakan secara bergantian, meskipun beberapa ahli merumuskan seks sebagai unsur biologi dan jenis kelamin sebagai unsur seksualitas yang dipelajari secara sosial”. Sedangkan menurut Stenzel dan Krigiss,
“seks adalah suatu ekspresi fisik di atas komitmen, kepercayaan dan saling ketergantungan yang membentuk pernikahan. Ketika seseorang tersenyum, memeluk, meremas tangan dengan pasangannya (suami atau istrinya) maka pada dasarnya ia tengah melakukan aktivitas seksual.25
1) Faktor-faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Sek Pranikah Pada Remaja. Menurut Sarwono, mengatakan bahwa faktor faktor penyebab hubungan seks bebas atau seks pranikah di kalangan remaja adalah :26
a) Meningkatnya libido seksualitas. Sehubungan dengan berkembangnya kondisi fisik dan peranan sosial remaja, seseorang remaja mendapatkan motivasinya dari meningkatnya energi seksual dan libido.
b) Penundaan usia perkawinan. Dengan banyaknya aturan-aturan dan tuntutan-tuntutan
25 Rony Setiawan dan Siti Nurhidayah, Pengaruh Pacaran Terhadap Perilaku Seks Pranikah, Junal Kesehatan, Vol. 1, No. 2, September 2008.hlm 62.
26Sarlito W Sarwono, Psikologi Remaja, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2010), hlm.188.
16
untuk menikah maka makin terbataslah kesempatan untuk menikah di bawah usia yang sudah ditetapkan sehingga menyebabkan seseorang menunda sementara keinginannya untuk menikah.
c) Tabu larangan. Orang tua dan pendidikan tidak mau terbuka kepada anak-anak atau anak didik mereka tentang seks, mereka khwatir kalau anak itu jadi ikut-ikutan mau melakukan seks sebelum menikah atau sebemum waktunya.
Seks kemudian menjadi tabu untuk dibicarakan.
d) Kurangnya informasi tentang seks. Sikap mentabukan seks pada remaja hanya mengurangi kemungkinan untuk membicarakan secara terbuka namun tidak menghambat hubungan seks itu sendiri.
e) Pergaulan yang makin bebas. Kebebasan pergaulan antar jenis pada remaja, kiranya dengan mudah bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, khusuna di kota-kota besar. Pergaulan bebas yang melewati batas seperti dugem, minum-minuman keras, dan sebagainya akan berujung pada seks bebas, karena pergaulan bebas dapat menyebabkan seseorang lupa diri, merasa tidak modern jika tidak mengikuti tren yang akan berujung pada seks bebas.
Berdasarkan hasil dari penelitian yang dilakukan peneliti, peneliti menemukan fakta bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya seks pranikah di RH
17
Consulting dari segi dalam maupun dari segi luar.
Faktor dari dalam yakni lemahnya pertahanan diri dan kurangnya penyesuaian diri terhadap perubahan lingkungan baik yang positif maupun negatif. Sedangkan faktor dari luar yaitu kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua, karena banyaknya orang tua yang hanya sibuk mencari nafkah tanpa memikirkan kebutuhan berupa kasih sayang dan perhatian kepada anak.
Akibatnya kurangnya pengawasan langsung dari orang tua, kurangnya sarana untuk men yalurkan waktu senggang. Selain itu adanya pengaruh buruk dari kemajuan teknologi serta pengaruh buruk dari teman sebayanya.
2) Dampak dari Perilaku Seks Pranikah
Banyak dampak yang akan terjadi pada remaja ketika melakukan seks pranikah tentunya hal itu sangat berpengaruh untuk kelangsungan hidup ke depannya. Beberapa dampak dari seks pranikah akan di jelaskan sebagai berikut.27
a) Hamil di luar nikah.
Penyimpangan seksual juga ikut berpotensi menginggapi anak-anak dan remaja pelaku seks pranikah. Usia yang terlalu dini mengenal seks membuat mereka ingin mencoba-coba, penasaran, ingin tahu seputar aneka perilaku seksual seperti yang dipertontonkan di film atau majalah porno. Mental yang masih lemah, jiwa yang labil mendorong remaja melakukan hal- hal di luar kebiasaan, sementara mereka sendiri sadar bahwa itu merrupakan penyimpangan.
27 Ibid, hlm.41.
18
Problem yang dikatakan paling rumit adalah ketika anak remaja mengalami kehamilan akibat pergaulan bebas mereka. Kehamilan di luar nikah secara tidak langsung juga mendorong tindakan aborsi.Aborsi mengandung pengertian pengguguran kandungan (misscarriage). Cristopher J.
Gearon menjelaskan aborsi sebagai pengakhiran sebuah kehamilan. Ada dua kategori aborsi, yaitu aborsi yang tidak disengaja (Abourtus Sspontaneous) dan aborsi sengaja (Abortus Provokatus). Aborsi tidak disenagaj biasanya dikarenakan kecelakaan, pekerjaan yang terlalu berat atau karena penyakit tertentu. Sedangkan aborsi yang mengandung unsur kesengajaan terbagi menjadi dua macam. Pertama, aborsi yang senagaj dilakukan karena ada alasan-alasan medis yang membolehkannya. Aborsi seperti ini biasa dikenal dengan istilah (Abortus Provokatus Terapetikus). Kedua, aborsi yang senagaj dilakukan tetapi bukan karena pertimbangan faktor medis. Aborsi seperti ini biasa dikenal dengan istilah (Abortus Provokatus Kriminalis).
Jenis aborsi seperti ini yang dipersoalkan dari sisi hukum, agama, dan norma-norma susila yang ada di masyarakat.
b) Putus sekolah.
Salah satu akibat dari terjadinya seks bebas adalah terputusnya kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Biasanya, terputusnya sekolah disebabkan hamil pranikah banyak
19
dialami oleh remaja usia sekolah menengah ke atas (SMA).
c) Penyakit menular seksual (PMS)
Menurut Dewi Inong Irana, bukan hanya AIDS yang mengincar penganut seks bebas akan tetapi penyakit menular seksual (PMS) lainnya pun akan menyerang setiap remaja yang melakukan seks bebas atau seks pranikah.
Bakteri merupakan salah satu penyebab yang dapat menimbulkan PMS. Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri diantaranya Gonore (Gonorrhea), Infeksi Genital Nonspesifik (IGNS), sifiliS, Herpes Genitalis, Herpes Simpleks Genital dan Kondiloma Akuminata (Kutil Kelamin).
3. Seks Pranikah Perspektif Islam
Kebutuhan seksual memang merupakan naluri yang dimiliki oleh setiap manusia. Kebutuhan tersebut harus disalurkan dengan jalan yang sesuai dengan ajaran islam, yaitu hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki sebuah ikatan pernikahan yang sah baik dimata hukum maupun secara agama. Agar terhindar dari perilaku seksual sebelum menikah, maka setiap individu perlu melakukan pengontrolan terhadap dorongan seksual tersebut. Hal ini sesuai yang dianjurkan dalam islam bahwa setiap insan harus bisa menjaga pandangan matanya, baik laki-laki maupun perempuan karena ketertarikan terhadap sesuatu berawal dari sebuah pandangan. Sebagaimana firman Allah QS. An-Nur ayat : 30,
20
Artinya :“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memlihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur ayat: 30).28
QS. An-Nur ayat 30 di atas, mengatakan perintah untuk menjaga pandangan merupakan suatu keharusan, karena padangan adalah jalan bagi seseorang untuk jatuh pada perbuatan zina (perilaku seksual praniah ) baik laik-laki maupun perempuan.
Ulama menggaris bawahi bahwa dalam perzinahan terhadap pembunuhan pada penempatan sebab kehidupan (sperma) bukan pada tempatnya yang sah.
Ini biasa diusul keinginan untuk menggugurkan yakni membunuh janin yang dikandung. Kalau ia dilahirkan hidup, maka biasanya ia dibiarkan begitu saja tidak ada yang memelihara dan mendidiknya, dan ia merupakan salah satu bentuk prmbunuhan. Perbuatan melantarkan anak dikatakan pembunuhan karena secara sengaja tidak merawat dan membimbing anak sehingga anak secara perlahan-lahan akan sakit dan meninggal.
28 M Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Jilid 6, (Jakarta : Lentera Hati, 2002), hlm. 458
21
Islam melarang segala bentuk keintiman antara pasangan yang belum menikah. Pelaku perzinahan akan menerima hukuman di dunia dan di akhirat.
Pelaku pezina yang belum menikah akan mendapatkan hukuman cambuk sebanyak seratus kali dan diasingkan selama satu tahun baik laki-laki maupun perempuan. Dasarnya ialah firman Allah QS. An-Nur ayat 2 :
Artinya : “Pezina perempuan dan pezina laki-laki, maka jilidlah keduanya seratus kali jilid, dan jangan nbalas kasihan kepada keduanya mencgah kamu untuk (menjalankan) agama Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) disaksikan oleh sekumpulan bagi orang-orang yang beriman”.29
Dampak Perilaku sesk Pranikah dalam Perspektif Islam. Dampak secara sederhana bisa diartikan sebagai pengaruh dalam setiap keputusan yang diambil oleh seseorang biasanya mempunyai dampak tersendiri, baik itu dampak positif maupun negatif. Perilaku seks pranikah sama sekali tidak memiliki dampak positif bagi remaja, perilaku seks pranikah ini banyak menimbulkan dampak
29Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahan, Jilid 6, Cet.Ulang (Semarang : Wicaksana, 1993), hlm.589
22
negatif pada remaja, karena dalam islam juga perilaku seks pranikah ini dianggap perbuatan yang sangat keji.
Sebagaimana yang disebutkan dalam QS.Al-Isra/17;32.
Artinya : dan janganlah kamu mendekati zina;
Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.30
Ayat ini menegaskan bahwa Allah melarang hamba-hambanya untuk mendekati perbuatan zina walau dalam bentuk menghayalkannya, mendekati tempat- tempatnya dan hal-hal yang merangsang sehingga dapat menghantarkan kamu terjerumus ke dalam keburukan itu.
G. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Cara ilmiah bermakna kegiatan dilandasi oleh metode keilmuan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dengan teknik analisis yang menghasilkan data deskriptif. Metode penelitian kualitatif ialah suatu penelitian yang digunakan untuk meneliti pada objek yang alamiah dan peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.31 Menurut Bogdan Dkk, mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
30Departemen Agama, Al-Quran dan Tafsir, Jilid 5 Cet.Ulang, (Semarang: Wicaksana, 1993), hlm.40
31Djam’an Satori&Aan Komriah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:CV Alfabeta, 2014), hlm.90.
23
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.32
1. Subyek dan Obyek Penelitian
Subjek penelitian merupakan sumber tempat memperoleh keterangan penelitian. Yakni sumber informasi guna mengumpulkan data-data. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah konselor Di RH Kota Mataram dan staf (pegawai biasa). Dalam penelitian ini penulis menggali informasi, baik berupa data, dokumen atau wawancara dengan sistematis yang berada Di RH Kota Mataram.
Adapun objek penelitian ialah fenomena yang menjadi topik dan tempat penelitian. Dan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah proses layanan konseling rehabilitasi yang dilakukan konselor dalam menangani remaja pelaku seks pranikah Di RH Kota Mataram.
2. Jenis Dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Data kualitatif merupakan data yang diuraikan dalam bentuk kalimat.
Adapun data kualitatif meliputi :
a. Data tentang gambaran umum mengenai objek penelitian
b. Data lain yang tidak berupa angka.
Adapun jenis-jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua macam, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
1) Data primer
Data primer merupakan teknik pengumpulan sumber data yang mengambil data atau informasi dari sumber
32Lexy J.Moleong, Penelitian Kualitatif, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya Offset, 2010), hlm.4.
24
pertama, biasanya disebut dengan responden. Data atau informasi bisa diperoleh melalui wawancara dan observasi. Dan data primer tersebut diperoleh dari psikolog Di RH Kota Mataram yaitu, Ibu Nur Indah Agustini dan Ibu A.A.Sagung Ratih Damayanti. Terkait bagaimana bentuk dan factor perilaku seks pranikah pada remaja di RH dan proses konseling rehabilitasi yang dilakukan oleh psikolog pada remaja pelaku seks pranikah di RH.
2) Data sekunder
Data sekunder merupakan teknik pengumpulan sumber data menggunakan bahan yang bukan dari sumber pertama sebagai sarana untuk memperoleh data atau informasi untuk menjawab masalah yang diteliti. Adapun yang menjadi data sekunder atau data pendukung adalah dokumentasinya.33 Data sekunder (data tangan kedua) yaitu data yang diperoleh dari pihak lain secara tidak langsung diperoleh oleh peneliti yaitu dari staf (pegawai biasa) yaitu, Bapak Saleh Hambali yang bekerja Di RH Kota Mataram.
H. Teknik Pengumpulan Data
Pada tahap penelitian ini agar diperoleh data yang valid dan bisa di pertanggung jawabkan, maka data diperoleh melalui :
1. Observasi Partisipan (Langsung)
Observasi merupakan proses pengamatan sistematis dari aktivitas manusia dan pengaturan fisik di mana kegiatan tersebut berlangsung secara terus menerus dari fokus aktivitas bersifat alami untuk menghasilkan
33Ibid, hlm.105
25
fakta.34 Dalam hal ini peneliti melakukan observasi mengenai bagaimana bentuk dan factor perilaku seks pranikah pada remaja proses konseling rehabilitasi yang akan dilakukan oleh konselor yang ada Di RH Kota Mataram. Hal ini bertujuan agar mengetahui bagaimana bentuk dan factor perilaku seks pranikah pada remaja dan proses pelaksanaan konseling rehabilitasi ole RH Consulting pada remaja pelaku seks pranikah.
2. Wawancara
Wawancara pada penelitian kualitatif merupakan pembicaraan yang mempunyai tujuan dan didahului beberapa pertanyaan informal. Wawancara penelitian lebih dari sekedar percakapan dan berkisar dari informal ke formal. Walaupun semua percakapan memiliki aturan peralihan tertentu atau kendali oleh satu atau partisipan lainnya, aturan pada wawancara penelitian lebih ketat.35
Wawancara sebagai upaya mendekatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada informan. Tanpa wawancara, peneliti akan kehilangan informasi yang hanya dapat diperoleh dengan jalan bertanya langsung.
Adapun wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak terstruktur. Wawancara tidak terstruktur merupakan wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang biasanya telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.36 Maka dari itu peneliti menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur yang
34Hasyim Hasanah , Teknik-Teknik Observasi, Jurnal at-Taqaddum, (Semarang: UIN Semarang), Vol. 8, No. 1, Juli 2016, hlm. 26.
35Imami Nur Rachmawati , Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif: Wawancara, Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol. 11, No.1, Maret 2007, hal 36.
36Djam’an Satori, Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV Alfabeta, 2014), hlm. 136.
26
memungkinkan pertanyaan berlangsung luwes, tetap fokus, arah pertanyaan lebih terbuka, sehingga diperoleh informasi yang kaya dan pembicaraan tidak kaku dan santai.
Adapun dalam pengumpulan data, peneliti melakukan wawancara antara lain dengan psikolog dan staf (pegawai biasa) yang ada Di RH Kota Mataram. Hal demikian itu dilakukan agar memperoleh data secara luas dan menyeluruh sesuai dengan kondisi saat ini.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi adalah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen- dokumen.
Metode dokumentasi digunakan oleh peneliti dengan tujuan mengumpulkan data-data yang memiliki keterkaitan dengan penelitian yang peneliti lakukan.37 Yakni proses melihat kembali sumber-sumber data dari dokumen yang terdahulu dan dapat digunakan untuk memperluas data-data yang telah ditemukan. Adapun sumber data dokumen diperoleh dari lapangan berupa buku, arsip, majalah, bahkan dokumen perusahaan atau dokumen resmi yang berkaitan dengan fokus penelitian.
Adapun data yang dikumpulkan oleh peneliti yaitu dari buku dan jurnal yang terkait dengan Konseling Rehabilitasi Pada Remaja Pelaku Seks Pranikah Di RH Kota Mataram.
37Irwanto Soehartono, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm 67.
27
Tabel-1.1
Rincian Waktu dan Penelitian
Kegiatan Waktu Penelitian
Desember februari Maret April Mei juni Pembuatan
proposal Seminar proposal penelitian Laporan /revisi Sidang munaqosah
I. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data.
Menurut Sugiyono teknik analisis data merupakan proses mencari dan menyusun data secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabar ke unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang paling penting, kemudian dipelajari, setelah itu membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Analisis data dilakukan secara sistematis dan didasarkan pada deskripsi serta analisis dilakukan secara kualitatif.38
Adapun proses analisis data menurut Sugiyono sebagai berikut:
1. Reduksi data
38Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: CV Alfabeta, 2015), hlm. 335.
28
Reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya, dan membuang yang tidak perlu. Pada tahap ini yang pertama dilakukan adalah merangkum data-data yang berhubungan dengan penelitian, selanjutnya memilah dan memilih data-data tersebut serta menyusun sesuai dengan fokus penelitian.
2. Penyajian Data
Penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat,bahkan hubungan antara kategori, flowchart, dan sejenisnya. Adapun penyajian data yang ditempuh adalah menentukan data yang di peroleh kemudian dikelokkan dalam tabel. Selain dijelaskan dalam bentuk tabel, peneliti juga akan menjelaskan dengan cara mendeskripsikan hasil dan klasifikasikan berdasarkan konseling rehabilitasi.
3. Menarik Kesimpulan dan Verifikasi
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah apabila ditemukan bukti- bukti yang kuat dan mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Berdasarkan reduksi data dan penyajian data diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa, dalam penelitian mengenai konseling rehabilitasi pada remaja pelaku seks pranikah di Rumah Hijau Kota Mataram.
Dengan menggunakan metode analisis isi, didapatkan hasil bahwa terdapat konseling rehabilitasi pada remaja tersebut dengan menerapkan konseling Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Menurut sugiyono analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih
29
mana yang paling penting dan pelajari, serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.39
J. Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data merupakan usaha pembuktian yang dilakukan oleh peneliti sesuai dengan kenyataan yang ada.
Oleh sebab itu ada kriteria-kriteria tertentu yang digunakan untuk membuktikan keabsahan data yang telah terkumpul.
Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik triangulasi data.
Dalam penelitian ini untuk mendapatkan keabsahan data dapat diperoleh dari triangulasi. Triangulasi bisa disebut sebagai teknik pengujian yang memanfaatkan penggunaan sumber yaitu membandingkan dan mengecek terhadap data yang diperoleh.
Peneliti menggunakan triangulasi sebagai berikut:
1. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Di sini sumbernya yang akan diwawancarai adalah psikolog yaitu, Ibu Nur Indah Agustini dan Ibu A.A.Sagung Ratih Damayanti dan pegawai (staf biasa) yaitu, Bapak Saleh Hambali.
2. Triangulasi Metode.
Menurut Patton, terdapat dua strategi, yaitu yang pertama pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan kedua pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Triangulasi ini untuk metode yang digunakan dalam memperoleh data penelitian. Yaitu
39Ibid, hlm. 345.
30
membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara.
3. Triangulasi Teori.
Triangulasi teori bahwa data itu tidak dapat di cek dengan satu teori membutuhkan banyak teori. Dimana teori-teori tersebut akan mendukung dalam mengelola data-data yang telah dikumpulkan oleh peneliti. Adapun triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan triangulasi teori karena keabsahan data yang digunakan dalam hal ini peneliti banyak mengambil dari buku-buku refrensi, mengadopsi teori- teori para ahli dibidangnya dan ide jurnal.40
K. Sistematika Pembahasan
Penelitian berbentuk penelitian lapangan, penulisannya mengacu pada pedoman penulisan skripsi UIN Mataram.
Penulisan ini juga menggunakan bahasa Indonesia yang disempurnakan serta mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Sistematika pembahasan yang menjadi langkah-langkah dalam proses penyusunan tugas akhir ini selanjutnya yaitu:
1. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisikan uraian dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
40Muh. Fitrah, M.Pd & Dr. Lutfiyah, M.Ag, Metodologi Penelitian:
Penelitian Kualaitatif, Tindakan Kelas & Studi Kasus, (Sukabumi : CV. Jejak, 2017) hlm.330
31
2. BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
Pada bagian ini diungkapkan seluruh data dan temuan penelitian. Peneliti sebisa mungkin menjaga jarak dan menahan diri untuk tidak mencampuri fakta terlebih dahulu.
3. BAB III PEMBAHASAN
Di bagian pembahasan ini diungkapkan proses analisis terhadap temuan penelitian sebagaimana dipaparkan di Bab II berdasarkan pada perspektif penelitian atau kerangka teoritik sebagaimana diungkap di bagian Pendahuluan. Jadi, peneliti tidak menulis ulang data-data atau temuan yang telah diungkapkan di Bab II.
4. BAB 1V PENUTUP
Di Akhir bab peneliti akan memberikan kesimpulan hasil dari penelitian yang merupakan jawaban dari pada rumusan masalah dan saran-saran dari peneliti.
32 BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Gambaran Umum Rumah Hijau (RH)
1. Sejarah Rumah Hijau Consulting (RH)
Rumah Hijau Counsulting (RH Counsulting) terletak di Kelurahan Pagutan JL.Batu Bolong No. 54 Perumahan Griya Pagutan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kota Mataram terdiri dari 6 Kecamatan dan 50 Kelurahan salah satunya adalah kelurahan pagutan.
Kelurahan ini memiliki konde pos 83117 mayoritas penduduknya bersuku sasak.
Berdirinya RH Consulting tidak lepas dari seseorang yang memiliki kepedulian tinggi, Beliau adalah Bapak Pujiarrohman, M.Psi.,Psikolog. RH Consulting sebelumnya dinamakan Nusa Tenggara For Nusantara (TNT Psikologi) yang berdirinya sejak tahun 2012, pada saat itu tempat ini hanya menerima pelayanan khusus untuk layanan psikologi setelah masuk tahun 2019 Nusa Tenggara For Nusantara berevolusi menjadi RH Consulting dan kini memperluas jasa layanan sebagai perusahaan konsultasi dengan tiga bidang expertise :41 a. Pengembangan SDM (Human Resources)
Menyediakan layanan terkait dengan kebutuhan sumber daya manusia dan strategi peningkatan kualitas SDM dengan mempertimbangkan berbagai faktor pendukung (existing) juga peluang (opportunity) dan tantangan (challenge) di masa yang akan datang.
41 Saleh Hambali, Wawancara, 21 Maret 2022 pukul 11:00 WITA
33
b. Psikologi Industri dan Organisasi (I-O-Psychology) Menyediakan layanan berbasis psikologi untuk mendukung produktifitas dan efektifitas kerja. Iklim kerja yang positif dan kemampuan individu dalam mengelola dinamika personal-profesional akan memberikan output positif bagi insitusi.
c. Pengembangan Diri (Personal Growth dan Development-PGD)
PGD unit adalah unit pengembangan diri. Layanan PGD dirancang berdasarkan life-span (fase hidup) individu dengan tujuan menyongkong individu dalam mengenal diri dan potensi yang dimiliki hingga dapat menjalankan perannya secara optimal.
2. Visi dan Misi Visi :
Membangun Indonesia lewat peningkatan khualitas sumber daya manusia (SDM).
Misi :
membantu entitas berkembang dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki dan mampu mengambil peran sosial untuk menginspirasi dan berkontribusi bagi masyarakat.
Di dalam sebuah instansi atau kelembagaan, visi dan misi sangatlah penting. Hal ini disebabkan karena kebutuhan akan keselarasan berfikir menentukan arah gerak dan lankah-langkah apa saja yang akan diambil. Dari visi dan misi RH Consulting di atas, dapat peneliti pahami bahwa yaitu merefungsionalisasi fungsi SDM supaya dapat berkembang dan mampu mengambil peran sosial untuk menginspirasi dan berkontribusi bagi masyarakat.42
42 Saleh Hambali, Wawancara, 21 Maret 2022 pukul 11:00 WITA
34
3. Struktur Organisasi Rumah Hijau Kota Mataram
DIREKTUR Elis Fitriani
S.Psi
PSIKOLOG
Nur Indah Agustini,M.P
siPsikolog
Administrasi Saleh hambali
S.Sos Pujiarohma
n, M.Psi., Psikolog
Etty Setiawati,
M.A. Lalu
Abdurrachma n Wahid,
M.A.
A.A. Sagung Ratih Daayanti,
M.Psi., Psikolog
Co. Assesman Windri tristiarrini
S.Pdi Keuangan
Adharisman S.Kom.i
Bendahara Muliati
Lalu Abdurrachman
Wahid, M.A.