Seperti yang penulis ketahui bahawa Imam Syafii merupakan salah seorang ulama fiqh, ushul fiqh dan hadis pada zamannya. Oleh itu, adalah perlu untuk memahami halangan ini daripada pelbagai alim ulama termasuk pandangan Imam Syafii tentang halangan tersebut. Penelitian ini merupakan salah satu usaha untuk meluaskan pengetahuan para penulis dan pembaca secara umum tentang pemikiran Imam Siyafi tentang ikrar.
Akan menjadi pedoman bagi penelitian selanjutnya mengenai Konsep Gadai dan Kegunaan Barang Gadai Menurut Imam Syafi'i.
PENDAHULUAN
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
- Sistematika Penulisan
Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya baik bagi penulis maupun akademisi pada umumnya. Penulisan penelitian ini terdiri atas beberapa bab dan subbab yang diuraikan secara lengkap dan sistematis dari satu seri ke seri lainnya, dengan sistematika penulisan sebagai berikut :.
LANDASAN TEORI
Pengertian Gadai (Rahn)
1 Syafi'i 767 (150 H) Menjadikan sesuatu atau barang sebagai jaminan atas suatu utang yang dapat digunakan untuk membayar utang apabila yang berhutang tidak sanggup membayar utangnya. Artinya: “Penghasilan sesuatu atau barang sebagai jaminan atas suatu utang yang dapat digunakan untuk membayar suatu utang apabila debitur tidak mampu membayar utangnya.” Artinya : “Suatu harta yang dijadikan jaminan atas suatu utang yang dapat dibayar lunas harganya apabila debitur tidak mampu membayar utangnya.”
Artinya: “Harta yang dipergunakan oleh pemiliknya sebagai jaminan atas suatu utang yang mengikat atau akan mengikat.”
Dasar Hukum Gadai (Rahn)
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil. Ini bermaksud: "setiap orang bertanggungjawab terhadap apa yang telah dilakukan atau telah dilakukannya." (Jabatan Agama RI, 2013:576). Maksudnya: “Dari Aishah, “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w pernah membeli makanan secara berhutang daripada seorang Yahudi, lalu Nabi menggadaikan baju linen untuknya (Alu Bassam.
Maksudnya: "Daripada Aisyah dia berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya pakaian itu telah sampai kepada Pulan dari Syam.
Rukun dan Syarat Gadai ( rahn )
Orang-orang yang matang, berakal budi, dan dapat diandalkan serta barang-barangnya yang dijaminkan. a) Pegadaian mempunyai hak untuk mendapatkan kembali barang yang digadaikan setelah melunasi pinjamannya. Hasil penjualan barang gadai dapat digunakan untuk melunasi pinjaman Marhun Bih dan sisanya dikembalikan kepada Rahin. Marhun harus bernilai dan berguna menurut ketentuan syariat Islam, sehingga tidak dapat dijadikan jaminan.
Minuman yang dimaksud tidak ada nilainya dan tidak dapat digunakan sesuai syariat Islam sehingga tidak dapat dijadikan jaminan.
Jenis-jenis Akad Gadai
Untuk memperoleh dana pinjaman maka nasabah harus menyerahkan harta jaminan berupa barang yang dapat digunakan oleh penerima gadai, baik secara rahin maupun murtahin (Mardani. Akad mudharabah adalah akad yang dibuat oleh pihak pegadaian (rahin) dengan pihak penerima gadai. pemberi gadai (murtahin) Pegadaian atau orang yang menjaminkan harta benda untuk menambah modal usaha atau produktifitasnya.
Dalam kontrak ini, penggadai akan memberikan bahagian keuntungan berdasarkan keuntungan yang diperolehi kepada penggadai di bawah kontrak sehingga modal yang dipinjam dibayar. Sekiranya harta gadaian itu boleh digunakan oleh penggadai, perjanjian baru mengenai penggunaan harta gadaian boleh dibuat berdasarkan kontrak yang boleh disesuaikan dengan jenis harta gadaian. Namun, jika pemilik harta mendapat gadaian, dia boleh mengurus dan memanfaatkan objek tersebut, dan hasilnya sebahagiannya diserahkan kepada pegadaian berdasarkan perjanjian (Ali, 2008: 28).
Akad ijarah adalah akad yang tujuannya adalah pertukaran manfaat selama jangka waktu suatu harta untuk jangka waktu tertentu, yaitu pembelian manfaat sebagai imbalannya. Akad Musyarakah amwal Al-'Inan adalah suatu transaksi berupa persekutuan antara dua pihak atau lebih, yang disponsori oleh pegadaian syariah untuk membagi keuntungan (profit loss sharing), berbagi kontribusi, memiliki berbagai harta benda dan risiko untuk dibagikan dalam suatu perusahaan. . Pola musyarakah dimaksudkan untuk mendorong investasi bersama antara pihak-pihak yang mempunyai modal minim namun mempunyai kesempatan berusaha yang cukup dan pihak-pihak yang mempunyai modal besar namun belum memanfaatkannya secara maksimal (Sasli, 2005: 82).
Status dan Jenis Barang Gadai
Barang yang digadaikan harus diketahui, tidak boleh menggadaikan sesuatu yang majhul (tidak dapat dipastikan ada atau tidaknya). Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Irsyadul Ibad (2017) menyelidiki “Pemanfaatan Barang Gadai (Studi Banding Fiqih Empat Madzhab).” Persamaan penelitian yang dilakukan penulis adalah sama-sama meneliti tentang konsep gadai dan kegunaan barang gadai.
Pendekatan filosofis dan komparatif menjelaskan konsep gadai dan pemanfaatan barang gadai menurut Imam Syafi'i. Sedangkan yang menjadi subjek penelitian ini adalah konsep gadai dan pemanfaatan barang gadai menurut Imam Sayafi'. Mengenai penggunaan barang gadai (marhun) oleh pegadaian (rahin), para ulama berbeda pendapat, antara mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi'i, dan mazhab Hanbali. 1) Ulama Syafi'i.
Penggunaan Barang Gadaian (Si mati) oleh Penerima (Murtahin) Sekiranya pemberi gadai adalah pemilik pemberi gadaian (si mati), maka murtahin adalah pihak yang berhak menahan si mati untuk menjamin hutang gadaian. Menurut ulama Hanafiyah, tidak ada perbezaan antara penggunaan barang gadaian mengakibatkan harga lebih rendah atau tidak. Menurut ulama Hanafiyah, hal ini sesuai dengan fungsi gadai (marhun) sebagai jaminan dan amanah bagi penerima gadai (murtahîn).
Berbeda dengan pendapat Sejid Sabik, penggunaan barang yang digadaikan tidak diperbolehkan walaupun telah mendapat izin dari yang menaruhnya. Penggunaan barang yang dijaminkan oleh rahin menurut mazhab Syafi'i, Hanafi, Hanbali mengatakan bahwa penggunaan barang yang dijaminkan adalah haram kecuali mendapat izin dari murtahin.
Penyelesaian Gadai
Sejarah Perkembangan Pegadaian
Sistem gadai sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW, hal ini didasari oleh hadis Nabi yang menegaskan bahwa Nabi pernah berhutang kepada orang Yahudi untuk makanan. Pada awalnya pegadaian secara formal muncul di Italia, yang kemudian diterapkan di kawasan Eropa lainnya seperti Inggris dan Belanda. Bentuk usaha pegadaian di Indonesia dimulai pada masa VOC dengan Bank Van Lening yang bertugas memberikan pinjaman uang kepada masyarakat dengan agunan gadai.
Sejak saat itu, bentuk pegadaian mengalami beberapa kali perubahan, seiring dengan perubahan yang mengaturnya. Pada mulanya usaha pegadaian di Indonesia dilakukan oleh pihak swasta, kemudian pada awal abad ke-20 didirikan pegadaian negara (Hindia Belanda) di Sukabumi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda melalui Staatsblad pada tahun 1901. nomor 131 tanggal 12 Maret 1901, Jawa Barat (Subagiyo, 2014, Vol. 1 No. 1. hal.164). Konsep penyelenggaraan pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi modern dengan prinsip rasionalitas, efisiensi dan efektivitas dengan nilai-nilai Islam.
Fungsi operasional pegadaian syariah dilaksanakan pada kantor cabang pegadaian syariah atau ULGS sebagai suatu unit organisasi yang dikepalai oleh Divisi Usaha Lainnya PT Pegadaian, dan merupakan unit usaha mandiri yang secara struktural terpisah dalam pengelolaannya dengan usaha pegadaian konvensional. Masih di tahun yang sama, empat kantor cabang Pegadaian di Aceh diubah menjadi Pegadaian Syariah (Rofiqoh dan Ghazali, 2018, Vol.1 No.2.p.33).
Tinjauan Relevan
Jenis Penelitian
Tempat dan Waktu Penelitian
Subjek dan Objek Penelitian
Imam Syafii begitu tekun dalam pelajaran sehinggakan beliau mampu menghafal kitab al-Muwathta' (karya Imam Malik) pada usia 10 tahun. Imam Syafii mengeluarkan fatwa setelah mendapat izin dari syaikhnya, Muslim bin Khalid az-Zanji. Beliau tinggal bersama mereka selama dua puluh tahun dan daripada mereka Imam asy-Syafi belajar bahasa Arab dan Balagah.
Setelah asy-Syafi'i belajar banyak daripadanya, beliau melakukan perjalanan pertamanya ke Madinah (Muhammad, 2011: 22). Imam asy-Syafi'i pernah berkata bahawa saya telah menghafal Al Muwaththa' sebelum saya datang kepada Imam Malik. Selepas itu, Imam asy-Syafi'i pergi ke Baghdad (ibu kota Iraq) untuk berurusan dengan ilmu, mengadakan dialog dengan Muhammad bin al-Hasan (murid Abu Hanifah) dan sebaliknya menyebarkan ilmu hadith, mendirikan Mazhab manusia dan mempertahankan Sunnah .
Kedatangan Imam asy-Syafi'i di Mesir disambut dengan penuh kegembiraan oleh para ulama dan penduduk Mesir. Setelah menempuh perjalanan panjang dan mencari ilmu, Imam asy-Syafi'i kembali ke Mekah pada tahun 186 H dan mengembangkan ilmu dan ijtihadnya. Manakala menurut Fuad Sazkin dalam kenyataannya yang diringkaskan, kitab Imam asy-Syafi'i mencapai sekitar 113-140 kitab.
Kitab ini diberi nama Ar-Risala karena Imam asy-Syafi'i menulisnya sebagai jawaban atas surat permintaan Abdurrahman bin Mahdi. Namun menurut ulama Syafi’iyah, imbalan dan resiko dari barang yang digadaikan merupakan hak rahin sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh murtahin.
Sumber Data dan Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Untuk melengkapi data yang diperlukan dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi. Teknik dokumenter adalah suatu cara pengumpulan informasi dari dokumen-dokumen, baik itu peninggalan tertulis, arsip, dokumen ijazah, rapor, peraturan hukum, catatan harian, surat pribadi, catatan biografi, dan lain-lain yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi. Teknik Dokumentasi Prastowo dipilih sebagai metode pengumpulan data dalam penelitian ini karena sumber penelitian dalam penelitian ini berupa dokumen.
Hal ini juga didasarkan pada tujuan penelitian ini yaitu pemikiran Imam Syafi’i tercermin dalam beberapa karya tulisnya. Cara yang digunakan dalam teknik dokumentasi adalah dengan mengkodekan dan menyusunnya sesuai dengan tema atau hipotesis yang dimilikinya. Penelitian harus dimulai dengan mengidentifikasi tema-tema pada data dan mengkodekan data sesuai kategori yang ada pada data tersebut (Prastowo.
Teknik Analisis Data
Sedangkan tujuannya adalah untuk memudahkan kita menemukan makna dari tumpukan data apa pun dan dengan mudah menuangkannya ke dalam laporan (Pohan dalam Prastowo). Pendekatan historis akan menjelaskan tentang sejarah pion kuno, sedangkan pendekatan filosofis akan menjelaskan konsep pion. Penjelasan ini pada hakikatnya dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan : “apa”, “mengapa” dan apa konsep gadai serta kegunaan barang gadai menurut Imam Syafi’i. Dari kedua pendekatan tersebut akan diperoleh penjelasan mengenai makna yang terkandung dalam penelitian ini.
BIOGRAFI IMAM SYAFI’I DAN KONSEP GADAI DAN
Nama, Kelahiran, Ciri-ciri dan Keluarga
Pertumbuhan dan Kegiatan Imam Syafi’i dalam Mencari
Guru-Guru Imam Syafi’i
Murid-Murid atau Pengikut Imam Syafi’i
Karya-Karya Imam Syafi’i
Akhir Kehidupan Imam Syafi’i
Kelebihan Imam Syafi’i serta Pujian Ulama terhadapnya
Deskripsi Temuan Penelitian
PENUTUP
Saran
Pemberi gadai (murtahin) tidak boleh seenaknya mengambil atau merampas manfaat dari barang yang digadaikan, melainkan harus mendapat izin terlebih dahulu dari pemilik barang (rahin), karena bagaimanapun ia masih mempunyai hak atas barang tersebut, maka murtahin tidak boleh menyalahgunakannya. barang yang digadaikan, karena ia menanggung resiko cedera, kerugian, dan berkurangnya nilai barang tersebut. Anshori, Abdul Ghofur, 2011, Implementasi Gadai Syariah di Indonesia dan Konsep Kelembagaannya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Asqalani, Al-Hafizh, Bulugul Bulugul Maram Kumpulan Hadits Hukum dalam Praktek Hukum Islam, Darul Haq, Jakarta.
Dwi Febriani, 2011, Konsep gadai dan pemanfaatan barang gadai menurut Sayyid Sabiq, Fakultas Ilmu Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.