• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSERVASI TANAH & AIR - Spada UNS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "KONSERVASI TANAH & AIR - Spada UNS"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

KONSERVASI TANAH & AIR

Oleh

Joko Suyono

[email protected]

(2)

KONTRAK KULIAH

MINGGU KE

MATERI PENGAMPU

1 MASALAH EROSI DAN AKIBATNYA

Sifat dan Fungsi Tanah; Kerusakan Tanah dan Badan Air; Dampak Erosi

Joko Suyono

2 MASALAH EROSI DAN AKIBATNYA Sedimen dan NPS; Penyebaran Global

Daerah Erosi; Selektivitas Erosi dan Nisbah Pengkayaan Sedimen; Upaya

Penyelamatan SDA; Dst

Joko Suyono

3 PENGERTIAN DASAR & HIDROLOGI

Konservasi Tanah dan Air; Erosi; Siklus Air;

Joko Suyono 4 Persamaan Air; Infiltrasi; Aliran Air,

Aliran Sungai, Prediksi Laju Aliran Permukaan, dst

Joko Suyono

(3)

4. SEDIMEN

dan NISBAH PELEPASAN SEDIMEN

 Sedimen : Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut oleh air dari suatu tempat yang

mengalami erosi pada suatu DAS dan masuk ke dalam suatu badan air.

 Sedimen yg terbawa masuk ke dalam sungai hanya

sebagian saja dari tanah yang tererosi dari tempatnya.

Sebagian lagi dari tanah yang terbawa erosi akan

mengendap pada suatu tempat di lahan di bagian bawah tempat erosi pada DAS tersebut.

 Nisbah antara jumlah sedimen yang terangkut ke

dalam sungai terhadap jumlah erosi yang terjadi di dalam

DAS disebut : Nisbah pe-Lepasan Sedimen (NLS) (Sediment

Delivery Ratio/SDR)

(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

SUB-DAS SERANG-LUSI,

DAS JRATUNSELUNA

(9)

SUB-DAS SERANG

(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)

Besarnya nilai pelepasan sedimen (NPS) dari Sub-DAS Serang dengan luas

37.474,10 ha (375 km

2

) adalah berkisar 8,5-11,0% (9,7%), sehingga besarnya

tanah tererosi yang masuk ke dalam

Waduk Kedung Ombo yaitu sekitar 9,7%

dikalikan besarnya erosi seluruh Sub- DAS Serang (468.101,89 ton/th) adalah 45.405,88 ton/th.

CONTOH :

(18)
(19)

DAS BENGAWAN SOLO (DAS SOLO)

(20)

 Waduk Gajah Mungkur

mempunyai daerah tangkapan (catchment area) sekitar 135.000 hektar, dimana 121.073 hektar berupa lahan dan sisanya berupa genangan (BTPDAS, 1995).

Secara geografis daerah tangkapan Waduk Gajah Mungkur terletak pada 7°32' - 8°15' LS dan 110° 04' - 111° 18' BT. Sedangkan secara administrasi sebagian besar daerah tangkapan Waduk Gajah Mungkur berada di Kabupaten Wonogiri, dan sebagian berada di Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Pacitan (Propinsi Jawa Timur), serta Kabupaten Gunung Kidul (DIY).

WADUK GAJAH MUNGKUR

(21)

 Proyek Irigasi Waduk Gajah Mungkur merupakan salah satu sektor yang dikembangkan dari Proyek Waduk Gajah Mungkur Wonogiri sebagai rencana pengembangan Sungai/Bengawan Solo. Tujuan proyek ini untuk membangun sistem jaringan irigasi yang relatif stabil bagi lahan sawah dengan pengelolaan sumberdaya air yang diambil dari Bendung Colo yang merupakan bagian dari Waduk Gajah Mungkur Wonogiri.

 Proyek pembangunan jaringan irigasi ini selesai pada

tahun 1984 di bawah pengawasan Proyek Irigasi Bengawan

Solo (PBS). Areal pelayanan jaringan irigasi ini mencapai

23.200 hektar, yang meliputi: Kabupaten Sukoharjo 8.248

hektar, Kabupaten Karanganyar 1.937 hektar, Kabupaten

Sragen 9.439 hektar, dan Kabupaten Klaten 3.576 hektar.

(22)

SUB-DAS KEDUANG

(23)
(24)
(25)
(26)
(27)

Hasil Studi Tim JICA (2007) : 3.178.510 m

3

per tahun.

No SUB-DAS SEDIMEN (m3/th) 1. Keduang 1.218.580 2. Solo Hulu 604.990 3. Tirtomoyo 503.760 4. Alang U. 401.280 5. Wuryantoro 376.920

6. Temon 72.980

TOTAL 3.178.510

(28)

Besarnya nilai pelepasan sedimen (NPS) dari Sub-DAS Keduang adalah berkisar 8,5- 11,0% (9,0%), sehingga besarnya tanah

tererosi yang masuk ke dalam Waduk Gajah Mungkur yaitu sekitar 9,0%

dikalikan besarnya erosi seluruh Sub-

DASKeduang (2.409.505,17 ton/th) adalah 216.855 ton/th.

Luas wilayah Sub-DAS Keduang menurut hasil analisis digital sekitar 42.260,66 ha (422,6 km

2

) .

CONTOH :

Rumus-rumus diatas perlu diuji di lapangan

dengan beberapa hasil penelitian.

(29)
(30)
(31)

5. PENYEBARAN GLOBAL DAERAH EROSI

 Daerah yang paling banyak mengalami erosi umumnya terbatas pada daerah di dalam zone antara 40

0

Lintang Utara dan 40

0

Lintang Selatan.

Di dalam zone ini tanah-anah daerah tropika adalah yang paling banyak tererosi. Keadaan iklim menentukan kecenderungan erosi oleh karena mencerminkan tidak saja besarnya dan pola curah hujan akan tetapi juga jenis dan pertumbuhan vegetasi serta jenis tanah.

Ancaman erosi yang tertinggi terjadi di daerah

tropika basah yang telah terganggu vegetasinya

dan di daerah agak kering, jika dibandingkan

dengan erosi di daerah kering dan daerah tropika

basah yang belum terganggu vegetasinya .

(32)
(33)
(34)

 Asia secara keseluruhan memiliki laju erosi tertinggi dibandingkan dengan benua-benua lainnya, yaitu sebesar rata-rata 166 ton/km

2

/tahun (El-Swaify, Arsyad dan Krisnarajah, 1983). Sebagai perbandingan di Australia besarnya erosi rata-rata adalah yang terendah yaitu sebesar 32 ton/km

2

/tahun (0,32 ton/ha/tahun) atau seperlima erosi di Asia.

 ...dst

(35)
(36)

6. SELEKTIVITAS EROSI dan NISBAH PENGAYAAN SEDIMEN (NKS)

 Selektivitas Erosi :

 Dalam peristiwa erosi, fraksi halus tanah akan terangkut lebih dahulu dan lebih banyak dari fraksi yang lebih kasar, shg kandungan liat sedimen lebih tinggi dari kandungan liat tanah semula.

 Proses ini bertalian dengan daya angkut aliran permukaan terhadap butir-butir tanah yang berbeda berat jenisnya

 Kejadian ini disebut selektivitas erosi, dan tanah yang

telah mengalami erosi teksturnya menjadi lebih kasar dari

sebelum terjadi erosi.

(37)

Sifat-Sifat Tanah Tingkat Degradasi Lahan Ringan Sedang Berat Kimia Tanah :

C-Organik (%) 2,11 a 2,03 a 1,80 a

N-total (%) 0,20 a 0,12 a 0,14 a

P

2

O

5

(mg/100g) 124 a 87 a 104 a

K

2

O (mg/100g) 40 a 36 a 30 a

Nilai Tukar Kation

(cmol/kg) 4,50 a 4,37 a 2,41 b

Fisika Tanah :

Ketebalan Tanah

(cm) 131 a 99 b 40 c

Permeabilitas

(cm/jam) 2,76 a 3,55 a 6,81 b

Porositas (%) 63,93 a 65,88 a 68,25 a Bulk Density (g/cm

3

) 0,98 a 1,05 a 1,06 a

Pasir (%) 48,13 a 49,49 ab 55,87 b

Debu (%) 24,73 a 26,37 a 24,37 a

Liat (%) 27,14 a 24,14 a 19,76 a

Tabel : Rata-rata sifat kimia dan fisika tanah berdasarkan

tingkat degradasi lahan

(38)

G. Sindoro (3.250 m dpl)

G. Sumbing (3.145 m dpl)

CONTOH : PROSES DEGRADASI LAHAN

(39)

 KONDISI LAHAN DEGRADASI RINGAN

(40)
(41)

 KONDISI LAHAN DEGRADASI SEDANG

(42)
(43)
(44)

 KONDISI LAHAN DEGRADASI BERAT

(45)
(46)
(47)

 NISBAH PENGKAYAAN SEDIMEN (NKS)

(48)
(49)

 Pengaruh perlakuan terhadap erosi

Tabel 2. Pengaruh mulsa batang jagung terhadap nilai erosi pada kubis

Perla kuan

Erosi

(Kejadian hujan harian) Erosi

(Curah hujan selama April s/d Juni 2015)

Curah Hujan Erosi N St.d Avera

(mm)ge St.d Average

(kg/ha)*) CH

(mm) N St.d (ton/h a)*)

(%)PE

T-M0 12 20.65 26.5 1655.90 1128.83

a 318.5 12 1655.90 13.55 a T-M1 12 20.65 26.5 1547.77 1054.92

a 318.5 12 1547.77 12.66

a 6.5

T-M2 12 20.65 26.5 1513.70 1031.42

a 318.5 12 1513.70 12.38

a 8.6

T-M3 12 20.65 26.5 1217.97 830.25

a 318.5 12 1217.97 9.96

a 26.5 Rata-

rata 1011.36 12.14

(50)

Pengaruh Mulsa Batang Jagung Terhadap Nilai Pengayaan Sedimen Tabel 4. Pengaruh mulsa batang jagung terhadap konsentrasi sedimen dan

Nilai Pengayaan Sedimen (NPS) pada kubis dan kacang merah

Perlakuan Konsentrasi Sedimen

Pada Kubis Nilai Pengayaan Sedimen (NPS) Pada Kubis

N St.d Average

(g/l) *) N P K C-

Organik*)

T-M0 12 13.08 18.03

5a 1,06a 1,77a 1,01a 1,04a

T-M1 12 12.43 17.16

0a 1,12b

3,67b 1,03a 1,07a

T-M2 12 11.88 16.61

9a 1,09ab

3,65b 1,27b 1,12ab

T-M3 12 10.07 13.92

3a 1,11b

3,67b 1,53c 1,21b Perlakuan Konsentrasi Sedimen

Pada Kacang Merah Nilai Pengayaan Sedimen (NPS) Pada Kacang Merah

N St.d Average

(g/l) *) N P K C-

Organik*)

T-M0 12 24.05 25.27

5a 1,11a 2,06ab 1,15a 1,09a

T-M1 12 22.57 23.67

4a 1,15a 2,35ab 1,31a 1,07a

T-M2 12 20.24 20.91

3a 1,18a

1,79a

1,29a 1,24a

T-M3 12 18.79 19.80

3a 1,24a 2,81b 1,58b

1,22a

(51)

Nilai pengayaan hara N, P, K, C-Organik pada kubis

(52)

Nilai pengayaan hara N, P, K, C-Organik pada kacang merah

(53)

Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan bahwa dengan bertambahnya dosis mulsa menyebabkan konsentrasi sedimen

dalam limpasan permukaan cenderung menurun (Tabel 4), namun disisi lain rasio pengayaan unsur hara dalam sedimen (nilai SER) cenderung meningkat dengan bertambahnya dosis mulsa (Tabel 4 dan Gambar 1).

Hal ini sejalan dengan yang dilaporkan oleh Sinukaban (2007),

yang menyatakan bahwa kenaikan dosis mulsa mengakibatkan erosi lebih bersifat selektif terhadap partikel-partikel tanah yang halus.

Bertambahnya mulsa dipermukaan mengakibatkan kecepatan limpasan permukaan berkurang sehingga kapasitas transportasi limpasan permukaan menurun. Pada gilirannya menyebabkan

sedimen yang kasar mengalami deposisi di belakang mulsa, tetapi sedimen yang relatif halus seperti liat (clay) dan koloid tetap terbawa bersama limpasan permukaan.

Dengan perkataan lain, bertambahnya dosis mulsa mengakibatkan limpasan permukaan lebih selektif terhadap sedimen yang berukuran liat dan koloid (Sinukaban, 1981). Karena sedimen yang berukuran halus tersebut (liat dan koloid) lebih aktif mengikat C-orgaik maupun unsur hara, maka dengan bertambahnya dosis mulsa pada akhirnya menghasilkan erosi (sedimen) yang mengandung konsentrasi C-

organik dan unsur hara yang lebih tinggi.

(54)

Tabel 5. Pengaruh mulsa batang jagung terhadap erosi dan hara terangkut erosi pada kubis dan kacang merah

Perlakuan Nilai hara terangkut erosi (kg ha-1) pada kubis Tanah

tererosi*) N*) P*) K*) Organic-

C*) T-M0 12891a 98.48a 4.89a 13.66a 231.35a T-M1 11740a 92.39a 5.05a 14.32a 207.02a T-M2 10221a 82.58a 3.37a 12.16a 194.40a

T-M3 9595a 81.56a 4.98a 14.01a 186.17a

Perlakuan Nilai hara terangkut erosi (kg ha-1) pada kacang merah Tanah

tererosi*) N*) P*) K*) Organic-

C*) T-M0 13546a 108.23a 4.47a 13.55a 239.49a T-M1 12659a 107.56a 8.73a 12.78a 231.37a T-M2 12377a 99.63a 7.92a 15.47a 237.49a

T-M3 9963a 75.92a 6.87a 15.04a 205.10a

Pengaruh mulsa batang jagung terhadap erosi dan hara terangkut erosi

(55)

 Walaupun rasio pengayaan unsur hara

meningkat dengan bertambahnya dosis mulsa

(Tabel 4), tetapi jumlah hara yang hilang melalui

erosi pada umumnya menurun terutama hara N

dan C-organik (Tabel 5). Hal ini disebabkan oleh

menurunnya jumlah tanah tererosi akibat

pemakaian mulsa, walaupun konsentrasi hara

dalam sedimen meningkat. Dengan menurunnya

unsur hara terangkut erosi ( nutrient loss through

erosion ) akibat pemberian mulsa batang jagung,

maka penggunaan mulsa sisa tanaman dapat

dianjurkan sebagai teknik konservasi untuk

mengurangi pencemaran atau pengayaan

sedimen, hara N, dan C-organik pada perairan

(waduk/danau, dan sungai).

(56)
(57)

7. UPAYA PENYELAMATAN SDA (TANAH, AIR, HUTAN)

Kerusakan DAS di Indonesia makin

lama semakin meningkat setiap tahunnya.

 Pada tahun 1984 : terdapat 22 DAS dalam keadaan kritis dengan luas sekitar 9,69 juta hektar.

 Pada tahun 1994 : menjadi 39 DAS kritis dengan luas sekitar 12,52 juta hektar

(Ditjen RRL, 1999).

 Tahun 1999 : 62 Prioritas Kritis I

 Pada tahun 2004 : menjadi 65 DAS kritis

(Ditjen Sumberdaya Air, 2004).

(58)
(59)
(60)
(61)

 PENGELOLAAN TANAH DAN

SISTEM USAHATANI

(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)

 PEMBUKAAN TANAH dan EROSI

(72)
(73)
(74)
(75)
(76)
(77)

 TINDAKAN KONSERVASI TANAH &

AIR (KTA) UNTUK MENGATASI

BANJIR & KEKERINGAN

(78)
(79)
(80)
(81)
(82)
(83)
(84)

LATOSOL COKLAT SUB-DAS PROGO HULU

(85)
(86)

Referensi

Dokumen terkait