• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTRAK SOSIAL (HOBBES, LOCKE, ROUSSEAU)

N/A
N/A
urmin bpjs satkes polri

Academic year: 2024

Membagikan "KONTRAK SOSIAL (HOBBES, LOCKE, ROUSSEAU)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

26.05.2016 [1-8]

KONTRAK SOSIAL (HOBBES, LOCKE, ROUSSEAU)

Agi Rico Sidauruk (1406612615) Alifia Zahra (1406612565) Damara Aldio (1306414721) Fathul Purnomo (1406537294) Nicko Saputra (1406537211)

Verdy Septian Nugraha (1406612552) Wirda Wirdiyana (1406612546)

Yasmin Humaira Fanda Hartono (1406537325)

Abstrak:

Kontrak sosial merupakan teori rasional yang memiliki asumsi bahwa terbentuknya suatu negara adalah atas dasar kesepakatan dari masyarakatnya. Teori kontrak sosial berkembang dan sangat dipengaruhi oleh pemikiran pada zaman Pencerahan (Enlightenment age) yang ditandai dengan rasionalisme, realisme, dan humanisme, yang menempatkan manusia sebagai pengatur sebuah negara dan juga sebagai pengatur dinamika kehidupan. Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean J. Rousseau sama-sama berangkat dari pembahasan tentang kontrak sosial dalam analisis politik mereka, yaitu melandaskannya pada anggapan dasar bahwa manusialah sumber segala kewenangan.

Kata Kunci:

kontrak sosial • negara • masyarakat • rasionalisme • realisme • humanisme • manusia Ilmu Filsafat

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Depok, 2016

(2)

Pendahuluan

Suatu negara pada dasarnya terbentuk sebagai pihak yang memiliki legitimasi untuk mengatur serta memberikan hukuman pada rakyatnya. Negara dalam hal ini tidak semerta merta tebentuk begitu saja dan langsung mengatur rakyatnya, namun negara pada dasarnya terbentuk karena ada kesepakan antara banyaknya individu untuk menyerahkan kekuasaan mereka baik itu sebagian atau seluruhnya demi menjaga dan menjamin hak hak dari anggota individu tersebut. Persetujuan ini lah yang disebut dengan social contract, yang mana dalam perkembangannya terbentuk dari latar belakang yang berbeda.

Dalam sudut pandang Thomas Hobbes, monarki absolut merupakan bentuk negara yang paling sahih untuk mengatur rakyatnya, sedangkan bagi John Locke suatu negara tidaklah dapat mensubjekkan anggota atau rakyatnya karena negara hanya memiliki sebagian kekuasaan dari rakyatnya tersebut, rakyat diatur dengan konstitusi.

Berbeda lagi dengan pandangan Jean-Jacques Rousseau yang memandang negara sebagai penjamin dari tidak saling tersilangnya hak-hak atas setiap individu, general of will nantinya akan bermuara pada demokrasi.

Dari ketiga bentuk kontrak sosial tersebut, dalam tulisan ini kemudian akan mengkaitkannya dengan munculnya gerakan terorrisme yang dapat mengancam keberadaan suatu negara. Terorrisme yang dalam hal ini merupakan suatu perlawanan terhadap keberadaan suatu negara dapat dikategorikan sebagai kelompok yang telah memiliki law of nature yang berbeda dengan individu individu lain yang telah terangkul dalam suatu negara.

Dalam karangan ini kemudian akan membahas mengenai titik berangkat munculnya social contract dari Thomas Hobbes, John Locke serta Jean-Jacques Rousseau hingga terbentuknya suatu konsep negara. Lalu kemudian akan membahas mengenai kemunculan aksi teror yang dilakukan oleh terrorisme sebagai bentuk respon terhadap keberadaan suatu negara yang telah terbentuk.

Thomas Hobbes

Pemikiran Thomas Hobbes (1588-1679) tentang kontrak sosial di dasarkan pada asumsi dasar bahwa sejatinya kondisi normal (state of nature) manusia adalah konflik yang penuh dengan persaingan brutal, kekuasaan, dan perang (Vallentyne, 2003: 2).

Atau dalam istilah lain dikenal dengan “homo homini lupus” yang artinya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Namun perlu di garis bawahi bahwa pemikirannya tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan politik Inggris pada masa itu, dimana Hobbes yang notabene hidup di masa pergolakan politis dan perang saudara akhirnya mendukung penuh monarki absolut. Ia percaya bahwa satu-satunya bentuk pemerintahan sosial yang berdaulat adalah dengan merealisasikan otoritas penguasa (sovereign) yang sifatnya tidak terbatas (Mouritz, 2010: 124).

(3)

Dalam menghasilkan pemikiran teori kontrak sosial, Hobbes dalam bukunya yang berjudul “Leviathan” menggambarkan bentuk kekuasaan yang berasal dari kondisi atau keadaan alamiah (state of nature) manusia. Menurutnya, sebelum terbentuknya suatu negara dan kekuasaan superior, manusia cenderung bertindak sebebas mungkin dan berusaha mempertahankannya dengan cara menguasai orang lain. Kehendak manusia untuk dapat mempertahankan kebebasan mereka juga pada dasarnya didorong oleh kehendak mereka untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Maka dengan adanya persaingan untuk dapat menyelamatkan diri mereka masing-masing, konflik antar manusia tidak dapat dihindari. Setiap orang merasa punya hak atas segala sesuatu, bahkan tubuh orang lain. Tidak ada standar tingkah laku objektif seperti dasar hukum yang akhirnya menyebabkan manusia menjadi asosial (tidak ada masyarakat) dan berperilaku amoral. Dan dengan semakin kompleksnya persaingan antar manusia yang terjadi, maka keengganan manusia untuk sengsara dan mati pun juga meningkat.

Sehingga pada kondisi alamiah, manusia dengan akalnya berusaha untuk saling menghindari peperangan yang terjadi sebagai akibat benturan power dan kepentingan dengan menciptakan suatu kondisi artifisial (buatan).

Dengan masuknya manusia dalam kondisi artifisial, manusia masuk pula dalam kondisi sipil—yakni setiap anggota masyarakat saling membuat kesepakatan untuk melepaskan hak-hak mereka dan kemudian disalurkan pada beberapa orang atau lembaga untuk dapat dijalankan dengan baik (kumpulan hak yang diberikan pada satu orang atau lembaga disebut dengan commonwealth atau ‘persemakmuran’. Namun, untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik, beberapa orang atau lembaga ini perlu diberikan hak sepenuhnya untuk dapat menggunakan kekuatan masyarakat. Dengan demikian, beberapa orang atau lembaga ituah yang memegang kedaulatan rakyat yang bertugas untuk menciptakan serta menjaga keselamatan masyarakat. Setelah diberikannya kedaulatan pada pihak tersebut, tidak ada alasan lagi untuk mencabut kewenangan atas hak yang sudah diberikan karena tindakan demikian merupakan langkah yang paling logis untuk menghindarkan mereka pada kondisi perang yang saling menjatuhkan. Hanya saja, pemegang kedaulatan secara penuh berhak untuk menjaga serta menciptakan perdamaian.

Dengan kondisi seperti ini, pemegang kedaulatan tidak dapat lagi diganggu gugat walaupun oleh masyarakat sendiri. Karena masyarakatlah yang mengikatkan diri mereka pada pemegang kekuasaan dan ini bukanlah kesepakatan antara yang memerintah dan yang diperintah, melainkan kesepakatan antarindividu untuk mengakhiri kondisi alamiah dan membentuk masyarakat sipil. Penguasa atau pemegang hak-hak juga bebas dari kritik dan debat publik karena kedudukannya berada di atas hukum sipil. Pada intinya, pandangan Hobbes menyatakan bahwasanya kekuasaan yang tertib dan kuat adalah kekuasaan yang berada dibawah satu orang atau penguasa yang diberikan kedaulatan oleh masyarakatnya. Dimana ketika masyarakat masuk kontrak sosial, kekuasaan politik yang bersangkutan berakhir dan hak sipilnya tercabut. Jadi, tidak ada bentuk otoritas yang definitif dari Hobbes, karena masyarakat hanya dituntut untuk menciptakan kedaulatan yang kuat.

(4)

Hobbes mengklaim bahwa Reason manusia mengarahkan manusia kepada tindakan yang bermoral(moral : altruist) “truth that everyone ought to follow reason, that is, no over ought to act irrationality” (Skorupski, 2010:89), sehingga tindakan yang diluar reason menjadi tindakan tidak bermoral. Maksud Hobbes tentang reason adalah basis dari moralitas adalah bahwa pada dasarnya manusia mempunyai sifat mempertahankan diri, sehingga menurut Hobbes tindakan rasional dan bermoral adalah tindakan yang paling optimal dalam mempertahankan diri sendiri. Jadi Hobbes di sini berpendapat bahwa dengan menyerahkan seluruh kebebasan seseorang kepada pihak ketiga/Negara menjadi tindakan yang paling rasional dalam mengoptimalkan pertahanan diri lalu yang terjadi manusia bertindak bermoral atau dengan kata lain berbaik hati kepada manusia lainnya karena tindakan itu menjadi pilihan yang paling rasional dalam mempertahankan dirinya oleh karena itu menurut Hobbes jika manusia dalam keadaan state of nature tindakan bermoral tidak mungkin ada sebab manusia cenderung bertindak sebebas mungkin dan berusaha mempertahankannya dengan cara menguasai orang lain. Kehendak manusia untuk dapat mempertahankan kebebasan mereka juga pada dasarnya didorong oleh kehendak mereka untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Jadi, peran Reason disini adalah menjadi instrument manusia dalam mempertahankan dirinya .

John Locke

Berbeda dengan bentuk pemikiran Thomas Hobbes, dalam memandang state of nature manusia, John Locke mengandaikan manusia memiliki sifat alamiah yang harmonis, teratur, serta produktif (Steele, 1993: 11). Locke sampai pada pandangan ini tidak terlepas dari pandangan christian dan kondisi sosial yang dialaminya pada saat itu, dimana nuansa religius yang kental yang kemudian menjadikannya sebagai dasar dalam merumuskan kondisi alamiah manusia. Acuan dasar yang dipakai Locke dalam memandang state of nature manusia ini kemudian sampai pada Tuhan (God). Bagi Locke, God ini merupakan origin dari state of nature manusia, karena God ini hadir dalam kehidupan manusia dalam dua bentuk, yaitu sebagai inspirasi ilahi (divine inspiration) dan hukum alam (law of nature) (Steele, 1993: 12). Kedua bentuk tersebut kemudian menggambarkan bahwa manusia dalam hal ini mempunyai tujuan sebagai pemimpin atau agen yang akan merealisasikan tujuan dari nature itu sendiri dengan asumsi bahwa God ini mempunyai kebijaksanaan yang akan tereduksi pada tindakan- tindakan alamiah manusia.

Oleh karenanya, Locke pun sampai pada pernyataan bahwa semua manusia pada dasarnya setara, karena merupakan bentuk realisasi dari keberadaan God (Steele, 1993:

15). Sehingga semua manusia pada dasarnya tidak hanya harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri namun harus juga memenuhi kebutuhan seluruh peradaban manusia.

Dalam hal ini Locke pun kemudian menyatakan bahwa tidak ada orang yang memiliki yurisdiksi atas setiap tindakan manusia lain karena masing-masing telah memiliki hak yang sama yaitu untuk hidup (life), bebas (liberty), dan memiliki (property). Mengenai kehidupan dan kebebasan, Locke kemudian menyatakan bahwa manusia berada dalam state of freedom dimana manusia mampu menjalani kehidupan mereka bebas dari tuntutan orang lain. Namun perlu digaris bawahi bahwa kebebasan dan kesetaraan yang dimaksudkan oleh Locke bukan pada ranah kemampuan manusia atau kekayaan, karena

(5)

dalam hal ini jelas terdapat suatu variasi antara satu sama lainnya, maka dari itu yang dimaksudkan Locke dalam hal ini ialah hak untuk tidak menjadi sasaran dari kehendak manusia lain sehubungan dengan keberadaan state of freedom (Steele, 1993: 16).

Meskipun begitu bentuk variatif dari sisi individu manusia ini pada nyatanya dapat menimbulkan permasalahan tertentu. Misalkan saja pada hak properti yang dimiliki setiap orang, saat satu individu manusia telah memiliki sesuatu namun karena beberapa alasan manusia tersebut kemudian memutuskan untuk memiliki sesuatu tersebut melebihi apa yang dia butuhkan sehingga menimbulkan surplus pada apa yang dimilikinya yang dapat mengurangi dan mengganggu hak milik orang lain.

Bagi Locke, masalah yang muncul akibat dari kepentingan individu ini dapat merusak pengaturan dan state of nature manusia itu sendiri. Selain itu, pihak yang dirugikan atas pelanggaran tersebut tidak memiliki cukup kekuasaan atau power untuk memberi sangsi pada individu yang melanggar tersebut. Dalam hal ini tentu terlihat absennya suatu pemegang kekuasaan yang dapat menjaga keseimbangan dan keamanan dalam masyarakat tersebut. Maka Locke kemudian menjelaskan bagaimana cara manusia agar keluar dari kondisi yang tidak aman dengan menciptakan kondisi artifisial dengan cara diadakannya kontrak sosial. Dimana dalam kontrak sosial Locke, kekuasaan yang akan diberikan pada calon pemegang kekuasaan tidak diberikan seluruhnya, melainkan hanya sebagian saja. Hubungan diantara pemberi kekuasaan dan pemegang kekuasaan tidak hanya sebatas hubungan kontraktual saja, melainkan juga hubungan untuk saling mempercayai.

Oleh karenanya dalam social contract Locke ini, suatu negara yang baik ialah negara yang bisa memberikan jaminan terhadap hak-hak dasar dari manusia itu sendiri, maka dari itu terbentuknya kontrak ini harus didasarkan pada suara mayoritas serta jaminan atas perlindungan hak-hak warga negara dari pemerintahan negara tersebut (Palmer, 2006: 195). Oleh karenanya suatu negara yang dibayangkan Locke ini tidak sepenuhnya memegang kekuasaan atas rakyatnya, negara dalam hal ini hanya berperan sebagai legitimasi atas adanya pihak yang berhak memberikan hukuman pada individu yang telah keluar dari law of nature-nya.

Jean-Jacques Rousseau

Pada Rousseau yang pemikiran mengenai kontrak sosialnya dipengaruhi oleh John Locke, konvensi atas kontrak sosial terbentuk atas dasar legitimasi dari seluruh otoritas politik, tetapi gagasannya mengenai masyarakat lebih natural dan tidak se- individualistik daripada Locke[CITATION Bri111 \p 131 \l 1033 ]. Russeau yang memiliki jargon pemikiran yaitu “Man was born free, and everywhere he is in chain

(Rousseau, 2002 : 156) menganggap seseorang itu bebas dan memiliki hak-haknya, namun ia tetap dibatasi ketika masuk ke dunia sosial, dimana mereka diatur oleh hukum, dan diberikan status kewarganegaraan. Bagi Rousseau, negara merupakan manusia – manusia yang bermoral yang berpadu dengan anggotanya (masyarakatnya)

(6)

yang dalam tindakannya diatur oleh general will yang pada ujungnya merupakan kebebasan dan kesetaraan bagi masyarakatnya.

Pada dasarnya manusia memiliki keinginan-keinginan dalam hidupnya yang ingin ia penuhi. Namun tidak semua keinginannya dapat dipenuhi apabila ia masuk dalam kehidupan sosial yang memungkinkan adanya manusia lain yang memiliki keinginan yang beragam yang juga ingin dipenuhi. Hal ini dapat menimbulkan konflik karena keinginan-keinginan tersebut bisa saja bertentangan sehingga tidak mungkin dapat terwujud. Maka dari itu diambillah keinginan– keinginan yang sama antara manusia satu dengan lainnya yang pada akhirya membentuk general will. General will mengabaikan keinginan–keinginan lanjutan yang berbeda tiap individunya. General will merupakan suatu yang diinginkan oleh seluruh masyarakat, misalnya masyarakat mnginginkan kenyamanan dan keamanan untuk dirinya. Maka negara harus menjamin keinginan yang diinginkan oleh seluruh masyarakat dengan memberikan kenyamanan dan keamanan dengan juga memberikan peraturan agar pelanggaran atas kenyamanan dan keamanan tidak terjadi.

Dengan adanya general will secara tidak langsung terbentuk kontrak sosial dimana individu harus memberikan beberapa haknya kepada negara supaya tidak terjadi konflik. Misalnya jika ada orang mencuri barang kita, kita tidak bisa memukul dia karena kita tidak berhak untuk menyakiti dirinya, melainkan adanya badan seperti polisi yang kita berikan hak untuk menghakimi mereka.

General will atau kehendak umum sebagai solusi dari Rousseau untuk menciptakan pemerintahan yang lebih baik dibandingkan dengan society yang corrupt.

Seperti yang dikatakan Susan Dunn dalam bukunya.

‘‘To find a form of association that may defend and protect with the whole force of the community the person and property of every associate, and by means of which each, joining together with all, may nevertheless obey only himself, and remain as free as before.’’ Such is the fundamental problem of which the social contract provides the solution. (Susan, 2002: 163) Bagi dia dengan kehendak umum masyarakat dapat mendapatkan haknya lebih baik dibandingkan dengan saat ia berada dalam society yang corrupt. Society yang corrupt bagi Rousseau di sini merupakan masyarakat yang sudah dirusak oleh reason.

Orang–orang mulai lepas dari state of nature-nya dan mempunyai nilai yang berbeda dengan sebelumnya. Society yang corrupt ini bagi Rousseau merupakan hal yang mengecewakan tetapi tidak dapat dihindari, karena manusia memang sudah mempunyai kapasitas untuk berpikir jadi hal tersebut tidak dapat dihindari. Dan di sinilah dibutuhkannya General will sebagai solusi untuk mengatur masyarakat yang sudah keluar dari state of nature-nya. Dalam General will semua orang dipandang sama tanpa adanya pengecualian dan semua orang dipaksa untuk tunduk atas kehenda general will tersebut.

(7)

Ketika memasuki kehidupan sosial, manusia cenderung melupakan dirinya dan hak-haknya untuk seluruh komunitas. Rousseau menganggap hal ini merupakan pertukaran hak yang mana individu memberikan hak naturalnya untuk hak sipilnya.

Dalam pandangan Rousseau, seseorang yang dipaksa masyarakat untuk memutuskan hukum dapat membawanya kembali kepada awareness-nya terhadap apa yang sebenarnya ia minati.

Penutup

Hobbess, Rousseau, maupun Locke memberikan titik berangkat yang berbeda- beda dalam mendefinisikan manusia. Dari situlah kemudian sistem bernegara yang mereka bayangkan juga berbeda-beda. Manakala ditodong untuk memberikan jawaban atas pertanyaan dari perilaku teraktual abad ini bisa jadi titik tolak yang mereka gunakan sudah sama sekali tidak bisa dipakai. Seperti halnya pendefinisian manusia di abad ini yang sudah bergeser menuju homo-tecnologicus, pendefinisian seperti ini penting dilakukan demi mendapatkan solusi tepat memberikan jawaban atas terorisme.

Jika titik berangkat yang kita gunakan adalah homo-technologicus, maka sistem bernegara yang kita gunakan juga bisa jadi sama sekali berbeda. Dan setiap dari kita paham bahwa terorisme abad 21 adalah kumpulan homo-technologicus.

Humanisme yang selama ini didengungkan oleh negara-negara eropa akankah hanya bekerja untuk kurun waktu tertentu saja, dan kita harus kembali mencari cara bernegara yang lain. Ataukah kita terus mengembangkan pemikiran dari tiga filosof ini demi mendapatkan jawaban terakurat dalam permasalahan terorisme.

Sifat teknologi yang reduktif, parsial, dan rizomatik menjadikan cara berada manusia telah berubah. Kontrak sosial yang diandaikan oleh para filosof tersebut bisa saja tidak sama sekali bekerja diabad ini, dan ini yang menjadi dugaan kami dalam melihat kegagalan beberapa negera eropa dalam hal terorisme.

(8)

Daftar Pustaka

(ed.) Vallentyne, Peter. 2003. Equality and Justice: Social Contract and the Currency of Justice. New York: Routledge

Mouritz, Tom. 2010. Comparing the Social Contracts of Hobbes and Locke. The Western Australian Jurist

Warburton, Nigel. 2011. A Little History of Philosophy. Yale: Yale University Press Palmer, Donald. 2006. Looking at Philosophy: The Unbearable Heaviness of

Philosophy Made Lighter. New York: McGraw-Hill Companies.

Steele, Dean A. 1993. A Comparison of Hobbes and Locke on Natural Law and Social Contract. Austin : The University of Texas.

(ed.) Skorupski, John. 2010. Companion To Ethics. New York: Routledge

Rousseau, J.J. (2002). The Social Contract and The First and Second Discourses ed.

Susan Dunn. Vail-Ballou Press, Binghamton, New York. USA

Duignan, Brian. (2011). The History of Philosophy: Modern Philosophy. Britannica Educational Publishing. New York

Dunn, Susan. 2002. The Social Contract and The First and Second Discourses Jean – Jacques Rousseau. Yale: Yale University Press

Referensi

Dokumen terkait