KONTROL SOSIAL MASYARAKAT TERHADAP PERILAKU PACARAN REMAJA DI DESA GOISO’OINAN KECAMATAN SIPORA UTARA
KABUPATEN. KEPULAUAN MENTAWAI
Agnes Senita, Nilda Elfemi, Isnani
Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
In Goiso'Oinan Village there is adolescent dating behavior, where the behavior of youth courtship is not so controlled by local people, so in this research see how form of social control of society to behavior of teen courtship. with the aim to describe the form of social control of society against youth courtship behavior. The theory used in this research is Talccot Parson theory. This research uses qualitative approach with descriptive research type. Informant selection technique 10 people.
The type of data used in the primary data. Data collection method can be done that is non participant observation, document study and in-depth interview. Unit analysis ie group. Analysis of data used is interactive data analysismodel (Miles and huberman).
From the results of research conducted it can be concluded that the form of social control community form of social control of society against youth dating behavior in the village of Goiso'Oinan that is 1) general picture of dating behavior of teenagers, in general description of dating behavior in the village is very free without the control and supervision the more the teenagers are dating. 2) a form of social control of the community where there are implementing rules arat langgai against youth courtship behavior, application of custom rules in solving the problems contained in Goso'Oinan Village. In the rules of laggai arat in the village Goiso'Oinan very minimal meaning less run
Keywords: Society Control Behavior Youth
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari memerlukan adanya sistem pengendalian sosial (sosial control) terhadap berbagai gejala perilaku
menyimpang di masyarakat sering kali diartikan sebagai pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah beserta aparaturnya saja. Memang ada besarnya bahwa di era globalisasi sekarang ini
kontrol sosial oleh pemerintah yang memiliki sanksi-sanki tegas terhadap anggota suatu masyarat yang melanggar norma-norma yang berlaku lebih banyak dipakai dalam mengontrol dan mengawasi berbagai gejala perilaku menyimpang di masyarakat (Abdulsyani,1994:61).
Kontrol sosial yang dilakukan dalam bentuk aturan oleh berbagai pihak kepada masyarakat, selain dapat memberikan pedoman kepada individu tentang bagaimana seharusnya berperilaku dalam kehidupan masyarakat dan bagaimana seharusnya sikap yang harus diambil oleh masyrakat agar tidak terpengaruh oleh sekelompok orang. Kontrol sosial yang dilakukan tersebut seharusnya dianggap sebagai sesutu yang sangat menguntungkan masyarakat khususnya individu. Perilaku adalah suatu totalitas gerak motoris, persepsi, dan fungsi koqnitif, dari manusia. Salah satu unsur dari perilaku gerak sosial yakni terkait oleh empat syarat yaitu: diarahkan untuk untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, terjadi pada situasi tertentu, diatur oleh kaidah tertentu, terdorong
oleh motivasi tertentu (Soekanto, 2004:52).
Berpacaran adalah suatu hal yang normal terjadi antara pasangan- pasangan dalam proses berpacaran mereka saling mengerti, saling memperlihatkan watak masing-masing.
Menunjukkan tipe kepribadian dan mulai mengerti tipe-tipe tabiat dasar, pacaran adalah serangkain aktivitas bersama yang di warnai keintiman (seperti ada kepemilikan dan keterbukaan diri) serta adanya keterikatan emosi antara pria dan wanita yang belum menikah. Dengan tujuan untuk saling mengenal dan melihat kesesuaian antara satu sama lain sebagai pertimbangan sebelum menikah (Lugman, 2014:3-4 ).
Pada masing-masing baik laki- laki maupun perempuan Allah meletakkan sesuatu yang membuat keduanya saling memiliki ketertarikan dan kecenderungan terhadap yang lain.
Baik secara fisik maupun mental, sehingga gerakan dan suarapun dapat menjadi salah satu daya ikatan diantara keduanya. Kecencerungan emosional diantara kedua jenis manusia ini adalah
kecenderungan naluriah yang dibawak sejak lahir dimana pada masing-masing terdapat perasaan cinta, ketertarikan keterpengaruhan terhadap lawan jenis ( Abdullah,2000:13-14 ).
Dalam masyarakat Mentawai terdapat Norma yang mengatur perilaku masyarakat agar mampu bertingkah laku sesuai dengan norma tersebut sehingga kehidupan masyarakat dapat berjalan dengan baik. Khususnya yang mengatur hubungan perempuan dan laki-laki yang belum menikah, di Desa Goisooinan terdapat beberapa aturan norma yang berlaku diantaranya:
METODE PENELITIAN
Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Tipe penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif. Tipe deskriptif dipilih karena penelitian ingin memperoleh gambaran untuk mendeskripsikan kontrol sosial masyarakat terhadap perilaku pacaran remaja di Desa Goiso’Oinan Kecamatan Sipora Utara Kab. Kep mentawai.
Pemilihan informan penelitian diambil dengan cara purposive sampling dengan kriteria yang telah ditentukan yaitu: kepala Desa Goiso’Oinan, tokoh masyarakat, warga masyarakar Desa Goiso’Oinan.
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Umum Perilaku
Pacaran Remaja Di Desa Goiso’Oinan
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan bahwa perilaku pacaran merupakan hal yang lumrah, dimana di Desa Goiso’Oinan terdapat tempat remaja berpacaran diantaranya yaitu: air terjun pujujurung dan pantai Goiso’Oinan. Tempat tersebut merupakan tempat dimana remaja itu berpacaran, dalam satu minggu terdapat 2 sampai 3 kali . Baik siang maupun sore hari, yang mana tempat itu merupakan tempat yang menurut mereka nyaman untuk berpacaran.
Karena lumrahnya perilaku pacaran remaja di Desa Goiso’Oinan sehingga masyarakat sulit membedakan mana remaja yang berpacaran dan mana remaja yang tidak berpacaran. Perilaku
pacaran remaja ini bukan hanya terjadi di air tejun dan dipantai, perilaku ini juga terjadi dirumah, dimana mereka membuat kesepakan dengan alasan hanya berkunjung disalah satu rumah apakah itu dirumah laki-laki atau dirumah perempuan.
2. Bentuk Kontrol Sosial Masyarakat Terhadap Perilaku Pacaran Remaja Di Desa Goiso’Oinan Kecamatan Sipora Utara Kab.
Kep Mentawai
2.1. Aturan Arat Laggai
Di Desa Goiso’Oinan terdapat aturan/arat laggai yang dijadikan kontrol sosial masyarakat, dimana aturan arat laggai tidak tersurat, arat laggai ini sudah dijalankan pada jaman nenek moyang. Dalam masyarakat Goiso’Oinan arat laggai ini diatur oleh kepala Desa. Dimana dalam arat laggai terdapat aturan dalam berperilaku dalam masyarakat khususnya anak-anak remaja. Aturan tersebut diantaranya:
anak-anak remaja, pemuda pemudi tidak boleh bertamu lewat dari jam 10.00, bagi remaja yang masih satu kali melanggar masih diberikan peringatan, bagi remaja yang sudah diberi peringatan tetapi masih melanggar
aturan tersebut. Maka remaja tersebut akan dipukul, ditendang dan ditampar.
Pada saat anggota kemanan sedang melakukan rudo pada malam jumat tanggal 9 November 2017 , petugas keamanan kedapatan remaja yang sedang berpacaran pada jam 11.00 WIB di salah satu rumah warga.
Kebetulan rumah itu sedang kosong, remaja tersebut mengambil kesempatan untuk bertemu disana. Mereka ditemukan dalam kedaan berpelukan, kemudian anggotan keamanan membawak remaja tersebut untuk diproses secara lanjut pada malam itu juga. Mereka diproses satu persatu sambil memberikan sanksi kepada remaja tersebut, kalau sama perempuan ditampar kalau sama laki-laki, ditinju dan ditampar. Kejadian seperti sangat sering terjadi apalagi saat ini sudah ada jaringan wifi serta jaringan seluler untuk mempermudah masyarakat berkomunikasih, namun hal ini akan dijadikan alasan bagi remaja untuk bertemu dan berpacaran. Namun dengan kelalayan masyarakat dimana aturan itu dijalankan oleh semua orang khususnya anak-anak.
Namun aturan ini lebih banyak orang yang melanggar dari pada orang yang menerapkan atau mentaati aturan.
Yang mana pada saat masyarakat kedapatan remaja yang berpacaran dan sudah melanggar aturan yang ada, remaja hanya diberi teguran. Padahal remaja tersebut sudah sering melanggar aturan, namun masyarakat Desa Goiso’Oinan tidak bertindak dalam mengatasi masalah yang dilakukan oleh remaja.
2.2. Aturan Agama
Agama merupakan tuntutan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan. Dalam kehidupan sehari-hari tidak lepas dari aturan-aturan hidup yang berlaku.
Dengan demikian norma adalah kaidah atau aturan yang disepakati dan memberi pedoman bagi perilaku para anggotanya dalam mewujudkan sesuatu yang dianggap baik dan diinginkan, yang berisi tentang perintah dan larangan. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan terdapat aturan agama dalam greja khatolik diambil dari nilai- nilai kitab suci. Yang mana aturan ini diketuai oleh koorninator, atau pastor.
Dimana dalam ajaran greja khatolik terdapat injil yang dijadikan pedoman bagi umat kristen dan khatolik. Adapun aturan agama khatolik diantaranya:
harus rajin serta taat beribadah, tidak boleh mencuri, menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, tidak menggunakan narkoba, tidak mengonsumsi minuman keras, selalu berbakti kepada orang tua.
Aturan ini selalu diberitahukan kepada semua jemaat khatolik mapun kristen, pada saat pertengahan ibadah maupun pada khotbah berlangsun.
Supaya umat khatolik selalu mengingat bahwa dalam ajaran agama terdapat larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan, karena jika aturan tersebut dilarang maka sanksi atau hukumannya berhubungan dengan Tuhan. Namun aturan ini hanya sebagai aturan, tidak dilaksanakan sesuai dengan ajaran agama yang dianut. berdasarkan norma atau aturan diatas maka masyarakat dapat menjalankan tugasnya dalam mengontrol perilaku pacaran remaja saat ini. Dalam aturan agama terdapat perintah dan larangan dalam bertingkah laku. Seperti dilarang untuk berzina,
mencuri, membunuh, tidak boleh mengingini hak milik orang lain.
Larangan-larangan ini selalu di ucapkan secara keseluruhan pada saat pertengahan ibadah yang sedang berlangsung.
Meskipun ada aturan agama yang dijadikan suatu pedoman bagi umat khatolik dan kristen. Tetapi aturan ini tidak dijalankan sesuai dengan aturan ajaran agama khatolik justru sebaliknya banyak yang melanggar.
Khususnya anak-anak remaja di Desa Goiso’Oinan mereka datang didalam greja tetapi tidak lama kemudian mereka langsung keluar pada saat ibadah dimulai. Orang tua, maupun petugas dalam greja sudah menegu dan memberi pengertian bahwa pada memulai ibada tidak boleh lagi ada yang keluar.
Karena jika ada yang keluar masuk pada saat ibada sedang berlangsung, Jemaat dalam greja akan terganggu . Namun mereka mengabaikan apa yang dikatakan oleh koordinator atau orang tua yang memberikan teguran. Mereka tidak menyadari bahwa dalam mengukuti
ibadah banayak hal yang perlu diketahui tentang ajaran agama yang perlu dijadikan sebagai patokan dalam berperilaku
2.3. Teguran
Hal yang paling umum dilakukan masyarakat terhadap remaja yang berpacaran adalah teguran.
Teguran tersebut dapat berupa teriakan maupun teguran langsung pada lokasi kejadian. Teguran adalah suatu peringatan, kritikan atau ajaran terhadap orang yang melakukan kesalahan. Dengan demikian, teguran dimaksudkan untuk memberitahu dan memperingati seseorang, sehingga dapat membuat seseorang menyadari atas perbuatan yang ia lakukan.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan bahwa salah satu cara masyarakat menegendalikan perilaku pacaran remaja dengan cara memberikan teguran. teguran disini dimaksud dapat berupa diteriakin dari jauh, maupun dengan ditegur secara langsung dan lokasi tempat kejadian.
Setelah itu remaja yang kedapatan sama
masyarakat diproses serta dibawak kerumah orang tuanya.
2.4. Penggebrekan
Penggebrekan merupakan penangkapan terhadap remaja yang berpacaran dengan mendatangi lokasi kejadian secara mendadak.
Penggebrekan ini dilakukan oleh pemuda atau warga masyarakat sekitar, dimana masyarakat itu melihat atau mendapatkan informasi dari orang bahwa di Desa Goiso’Oinan ada orang yang berpacaran, sehingga pemuda atau masyarakat disana langsung turun ke lokasi untuk melakukan penggebrekan. Penggebrekan ini dilakukan kapan saja, baik siang maupun malam hari penggebrekan yang dilakukan oleh masyarakat yaitu masyarakat itu sendiri yang langsung bertindak dalam dalam melakukan penggebrekan itu.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan bahwa di Desa goiso’Oina terdapat salah satu cara masyarakat untuk mengatasi supaya perilaku pacaran remaja tidak mengarah ke arah menyimpang.
Penggebrekan ini dilakukan pada saat keadaan sedang tidak aman, maka dari itu warga serta petugas keamanan untuk melakukan penggebrekan.
Khususnya dalam hal berpacaran dimana masalah ini tidak bisa dibiarkan masyarakat begitu saja.
2.5. Sanksi Masyarakat Sosial Sanksi adalah suatu cara masyarakat untuk mengarahkan tingkah laku seseorang agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku secara umum. Artinya remaja yang diharapkan nantinya bisa membangun dan membina suatu daerah menjadi lebih baik untuk sekarang dan kedepannya.
Namun, dengan terjadinya hal-hal yang jauh dari harapan masyarakat setempat terutama bagi keluarga pelaku pacaran.
Dimana masyarakat Desa Goiso’Oinan harus memberikan sanksi, Sanksi ini berupa penekanan pembebanan penderitaan bagi siapa saja yang melanggar norma yang berlaku.
Selain itu juga sebagai pertimbangan terhadap remaja lainnya agar tidak melakukan kesalahan yang sama ataupun kesalahan yang lainnya
tidak terulang kembali. Keberadaan sanksi ini diharapkan bisa membuat seseorang atau kelompok menjadi jera yang tidak akan mengulangi kesalahan mereka baik kesalahan yang sama ataupun kesalahan yang berbeda. Proses pemberian sanksi kepada remaja yang berpacaran yaitu tergantung pada pelanggaran atau kesalahan yang mereka lakukan. Dimana semakin berat kesalahan yang dilakukan seseorang maka semakin berat sanksi yang akan diterimanya.
Tabel .7. Sanksi Bagi Orang Yang Berperilaku Pacaran Di Desa Goiso’Oinan
No Bentuk perilaku pacaran
Sanksi yang diberikan
masyarakat 1
Ketahuan pacaran atau berdua-duaan sampai larut malam
Kalau cewek ditampar, kalau cowok ditinju 2 Tertangkap basah Teguran dan
dinikahkan 3 Laki-laki yang
tidak bertanggung jawab akibat dari perilaku pacaran melewai batas norma yang berlaku
Sanksi tanah dan rumah serta seluruh harta warisan yang dimiliki.
Sumber : Data Primer.
2.6. Sanksi Benda
Sanksi benda adalah serangkaian ketentuan hukum yang mengatur hubungan hukum secara langsung antara seseorang dengan benda melahirkan sebagai hak. Artinya pemberian sanksi benda ini adalah sebagai bukti atas perilaku yang pernah ia perbuat, dalam pemberian sanksi ini tergantung kepada orang yang memberikan hukuman bendanya.
Berdasarkan observasi yang dilakukan bahwa di Desa Goiso’Oinan terdapat sanksi benda, dimana sanksi benda seperti: 1 atau 2 bidang tanah dan satu bauah rumah milik pelaku. Sanksi ini ganti dari perilaku yang dilakukan pelaku. Seperti dalam hal berpacaran, jika perilaku pacaran yang dilakukan
pelaku sudah mengarah
kepenyimpangan, atau suda hamil duluan maka pelaku tersebut harus menyetujui sanksi apapun yang diberikan warga masyarakat. Jika pelaku tidak bertanggung jawab dari perilaku yang telah dilakukan, maka masyarakat akan bertindak untuk memberikan sanksi benda kepada
pelaku. Dimana sanksi benda tersebut berupa tanah dan rumah milik pelaku
Hal ini sesuai dengan analisis talccot parson yaitu teori Fungsionalisme Struktural yang dikenal dengan skema AGIL. Diantaranya adalah Adaptasi (Adaptation), Pencapaian Tujuan (goal attainment), Integrasi (integration), latensi pemeliharaan pola (latency), Suhendi &
wahyu (2001:105-106). Yang dijelaskan berikut ini.
1. Adaptasi (adaptation) dimana remaja yang ada di Desa Goiso’Oinan mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan, yang mana di Desa Goiso’Oinan terdapat aturan-aturan dalam mengatur setiap perilaku khususnya perilaku pacaran remaja. Untuk itu peran orang tua serta masyarakat untuk memberikan pengawan lebih terhadap perilaku remaja.
2. Pencapaian Tujuan (goal attainment) ialah dengan adanya aturan-aturan yang ada supaya lebih dipertegas serta dijalankan, dengan tujuan agar remaja di Desa
goiso’Oinan meninggalkan perilaku buruk yang tidak diinginkan oleh masyarakat khususnya serta tidak merugikan dirinya sendiri.
3. Integrasi (integration) dimana orang tua ialah mengatur hubungan orang tua dengan anak agar tidak mengulangi pacaran yang melewati batas dengan cara memberikan nasehat, arahan. Bahwa perbuatan yang dilakukan tidak baik dipandang oleh masyarakat.
Sehingga anak berperilaku sebagai mestinya anak-anak.
4. Latensi atau pemeliharaan pola (latency) dimana perilaku anak banyak didasarkan atas respon atau tanggapan dari orang lain (dari luar dirinya) dalam hal ini peran orang tua serta masyarakat dalam memelihara serta memperbaiki dengan cara meberikan nasehat bahwa berperilaku pacaran yang sudah melewati norma tidak baik dilakukan. Karena menyebabkan mereka memahami sesuatu hal yang belum sepatasnya meeka lakukan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk kontrol sosial masyarakat terhadap perilaku pacaran remaja di Desa Goiso’Oinan yaitu :
1. Masyarakat Desa Goiso’Oinan kurang bekerja sama antara pihak kepala Desa serta warga masyarakat terhadap perilaku pacaran remaja, serta kurangnya dalam memberikan pengawasan yang lebih kepada anak-anak remaja khususnya yang berpacaran.
2. Orang tua kurang ikut serta berperan dalam memberikan pengarahan,nasehat, dalam berperilaku serta bersikap layaknya anak-anak.
3. Masyarakat Desa goiso’Oinan kurang memberikan ketegasan pada aturan-aturan yang telah ada.
DAFTAR PUSTAKA.
Abdullah, Adil Fathi. 2000. Seni Bergaul Dengan Lawan Jenis.
Kairo Mesir :Ad-Dar Azhadabiah.
Abdulsyani, 1994. Sosiologi Skematika Teori Dan Terapan.
Jakarta:Bumi Aksara Afrizal.2014. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta : Raja Wali Pers.
Afrizal.2014. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta : Raja Wali Pers.
Soekanto,Soerjono.2004.SosiologiKelu arga Tentang Ikhwal Keluarga,Remaja Dan Anak .Jakarta:PT Rineka Cipta.
Lugman, El-Hakim.2014.Fenomena Pacaran Dunia Remaja . Pekan Baru Riau: Zanafa Publishing .