BERITA ACARA
Konsultasi Publik 1
Penyepakatan Daftar Isu Strategis Prioritas Pembangunan Berkelanjutan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tahun 2023-2043 Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara
Nomor :………..
Pada hari senin, tanggal Empat bulan September tahun Dua Ribu Dua Puluh Tiga, bertempat di ruang aula Dinas Pekerjaa Umum, Tata Ruang dan Perhubungan. telah dilaksanakan Konsultasi Publik Ke-1 tema penjaringan daftar panjang isu dan penyepakatan isu strategis pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Pakpak Bharat dalam rangka satu kesatuan rangkaian dalam penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tahun 2023-2043 Kabupaten Pakpak Bharat. Konsultasi Publik Ke-1 ini dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Daerah Kabupaten Pakpak Bharat, perwakilan asosiasi, dan perwakilan masyarakat sebagaimana terlampir dalam daftar hadir pelaksanaan kegiatan. Hal-hal yang menjadi bahan diskusi dalam Konsultasi Publik Ke-1 ini adalah sebagai berikut:
1. Peserta Konsultasi Publik Ke-1 sepakat dengan daftar panjang isu Pembangunan Berkelanjutan yang sudah terkumpul untuk mendukung upaya penyelesaian penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2023-2043 Kabupaten Pakpak Bharat.
2. Hasil List Daftar Isu Strategis Prioritas Pembangunan Berkelanjutan dengan a.
Metode Skoring: memiliki rentang 0 - 3, dimana 0 = tanpa keterkaitan, 1= keterkaitan rendah, 2 keterkaiatan sedang, 3 = keterkaiatan tinggi lalu hasil analisis skoring dapat dilihat pada tabel 3 lalu dilakukan penyepakatan isu strategis, hasil isu sebagai berikut:
1) Kawasan Rawan Bencana
2) Sarana dan Prasarana Transportasi yang Kurang Memadai 3) Alih Fungsi Lahan
4) Pengelolaan Sampah Belum Terpadu dan Optimal
5) Gangguan Kestabilan Debit Air Sungai
6) Aktifitas Pertambangan di Kawasan Hutan dan Sungai
7) Terjadinya Kerusakan Lahan Utamanya pada Kawasan Hutan 8) Rendahnya Akses Sanitasi dan Penanganan Limbah Cair
3. Hasil List Daftar Isu Strategis Pembangunan Berkelanjutan yang didapat lalu dilakukan penapisan lagi dengan menggunakan metode skoring menggunakan dengan rentang 1-5, dimana 1 = kurang penting dan 5 = sangat penting. hasil analisis skoring dapat dilihat pada tabel 4 lalu dilakukan penyepakatan isu strategis prioritas, hasil isu sebagai berikut:
1) Alih Fungsi Lahan
2) Aktifitas Pertambangan di Kawasan Hutan dan Sungai 3) Terjadinya Kerusakan Lahan Utamanya pada Kawasan hutan 4) Pengelolaan Sampah Belum Terpadu dan Optimal
5) Kawasan Rawan Bencana
6) Rendahnya Akses Sanitasi dan Penanganan Limbah Cair
4. Masukan tertulis dapat disampaikan setelah acara konsultasi publik Ke-1 ini selesai dilaksanakan.
Tabel 1. Daftar Panjang Isu Hasil Penjaringan Isu Pembangunan berkelanjutan Kabupaten Pakpak Bharat
No. Isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan
1 Banyaknya kejadian longsor yang berada di daerah tepi kanan - kiri jalan yang menyebabkan terganggunya akses pengguna jalan
2 Drainase pada tepi jalan penghubung tidak lancar
3 Hampir semua wilayah di Kecamatan Kabupaten Pakpak Bharat termasuk kedalam daerah rawan longsor
4 Adanya perkembangan sistem pertanian pada daerah rawan bencana longsor
5 Daerah yang teridentifikasi bahaya longsor terdapat pada beberapa Kecamatan seperti a)Kecamatan Tinada dan b)Kecamatan STTU Jehe
6 Daerah yang teridentifikasi bahaya banjir terdapat pada beberapa Kecamatan seperti a) Kecamatan STTU Julu, b) Kecamatan PGGS, c) Kecamatan Tinada, d) Kecamatan Pagindar, e) Kecamatan Siempat Rube, dan f) Kecamatan Kerajaan.
7 Habitat satwa Orang Utan terganggu karena adanya pembukaan lahan 8 Konflik satwa Orang Utan dengan perkebunan masyarakat
9 Banyaknya kegiatan penebangan pohon secara illegal di daerah kawasan hutan Kabupaten Pakpak Bharat (tidak ada izin penebangan)
10 Pengembangan objek wisata alam Kecamatan Pagindar belum terkelola dengan baik 11 Sektor pariwisata perlu di bangun berupa homestay di Kecamatan Pagindar
12 Lokasi wisata di Kabupaten Pakpak Bharat sulit dijangkau dan akses jalan yang kurang bagus
13 Pengembangan pariwisata alam di beberapa tempat belum memiliki fasilitas wisata yang memadai
14 Manajemen pengelolaan pariwisata Kecamatan Pagindar masih terbatas
15 Rencana pengembangan wisata alam di Kecamatan Pagindar belum terlaksana dengan baik
16 Manajemen pariwisata belum terintegrasi antara pemilik usaha dan masyarakat sehingga rawan konflik sosial
17 Masyarakat terlebih dahulu membangun rumah/gedung sebelum mengajukan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG)
18 Banyak terdapat pembangunan yang tidak sesuai peraturan daerah
19 Banyak bangunan permukiman yang berada di kawasan rawan bencana longsor 20 Penggunaan lahan tidak sesuai tata ruang, misalnya industri di kawasan perdagangan
dan jasa, kawasan lindung digunakan untuk pertanian semusim, galian mineral tambang batu yang dilakukan bukan diatas kawasan pertambangan
21 Masih banyaknya usaha/kegiatan yang belum mempunya izin kegiatan usaha di Kabupaten Pakpak Bharat.
22 Adanya bangunan yang berada didaerah sempadan sungai.
23 Kerusakan jalan di beberapa Kecamatan Kabupaten Pakpak Bharat.
24 Banyak jalan yang rusak akibat kondisi tanah yang labil.
25 Masih banyaknya jalan di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat yang tidak memadai.
26 Jalan ke desa-desa banyak yang masuk kawasan bencana longsor.
No. Isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan 27 Kebutuhan terminal (tipe C) untuk menampung aktifitas angkutan umum.
28 Konektifitas antar jalan yang ada saat ini belum terintegrasi dengan baik (antar jalan di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat belum terkoneksi seluruhnya)
29 Keadaan fasilitas pasar di kecamatan yang kurang memadai.
30 Pembangunan drainase di permukiman dan tepi jalan sebaiknya ditata agar menghindari luapan air di saluran drainase perumahan penduduk dan menghindari genangan air dibahu jalan.
31 Masih banyak drainase di permukiman penduduk tidak berfungsi sehingga air selokan mengalir di bahu jalan, mohon untuk dikaji kembali drainase yang mengalami rusak parah.
32 Penebangan pohon secara liar banyak terjadi di kawasan hutan di Kabupaten Pakpak Bharat. Aksi ini, apabila tidak dikendalikan akan mengancam perubahan bentang alam dan memperluas resiko kerusakan hutan yang akan terjadi di masa depan.
33 Adanya beberapa rencana pembangunan jalan yang melewati kawasan Hutan dapat menyebabkan berkurangnya tutupan canopy hutan dan berkurangnya biodiversitas alami pada kawasan hutan.
34 Pembangunan PLTMH di hulu Lae Merah di Kecamatan Sitelu Tali Urang Julu akan berdampak pada pengurangan atau kelebihan arus air (menjadi tidak stabil) karena adanya sistem buka tutup pada rencana kegiatan PLTMH, yang dapat mengganggu daerah wisata Lae Merah.
35 Adanya sumber mata air yang belum terkelola dengan baik menyebabkan berkurangnya debit air, kemudian adanya perubahan lahan di kawasan tangkapan air hujan menjadi kawasan terbuka menyebabkan run off yang tinggi sehingga air langsung terbuang ke badan sungai.
36 Aktivitas operasi penambangan minerba di Kabupaten Dairi berdampak pada kawasan lindung di Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat.
37 Adanya aktifitas penambangan galian C berjenis pasir sungai yang belum mempunyai izin lingkungan.
38 Adanya pertambangan ilegal pada kawasan hutan
39 Beberapa petani di Kabupaten Pakpak Bharat tidak menggunakan kaidah konservasi tanah yang benar (beberapa petani tidak menerapkan pola alur tanah yang benar).
40 Adanya penetapan kawasan berdasarkan potensinya untuk budidaya perkebunan jenis durian dan jagung.
41 Belum adanya peraturan yang mendukung sentra produksi pertanian dan sistem pengelolaan pasca panen.
42 Banyaknya kerusakan jaringan irigasi dan masih banyaknya pertanian yang belum mendapatkan akses irigasi.
43 Pengelolaan sampah di beberapa kecamatan masih kurang baik, karena adanya
penambahan jumlah penduduk dan perilaku masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan.
44 Pengelolaan sampah belum dilakukan secara terpadu, dan banyak sampah dari aktifitas masyarakat yang menumpuk.
No. Isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan
45 Kurangnya tempat pengumpulan sementara (TPS) sampah di beberapa kecamatan Kabupaten Pakpak Bharat.
46 Luasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kurang memadai dan adanya pemindahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) lama ke lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) baru.
47 Akses pengangkutan sampah belum optimal.
48 Adanya sampah yang belum terkelola dengan baik.
49 Masih banyak masyarakat yang buang air besar (BAB) di sungai.
50 Adanya limbah rumah tangga yang belum terkelola dengan baik dan terbuang ke lingkungan secara langsung.
51 Rendahnya kepemilikan jamban sehat.
52 Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu (IPLT) belum beroperasi.
53 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat masih rendah.
54 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal masing belum ada.
55 Rumah Sakit yang ada di Kecamatan Salak belum mempunyai pengolahan limbah bahan, berbahaya dan beracun (B3) dan belum mempunyai izin operasional pengolahan limbah bahan, berbahaya dan beracun (B3).
56 Sebaran fasilitas umum dan fasilitas sosial penunjang kegiatan masyarakat belum merata.
57 Akses menuju kawasan pendidikan di beberapa tempat masih terbatas.
58 Budidaya pertanian di Kabupaten Pakpak Bharat yang tidak ramah lingkungan (penggunaan pestisida).
Sumber : Hasil FGD Penjaringan Isu Pembangunan Berkelanjutan pada tanggal Senin, 07 Agustus 2023 bertempat di ruang rapat dinas PUTRHUB
Tabel 2. Hasil Pengelompokan Daftar Panjang Isu Pembangunan Berkelanjutan No. Tema Isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan Sektor Kebencanaan
1 Kawasan Rawan Bencana 1 Banyaknya kejadian longsor yang berada di daerah tepi kanan - kiri jalan yang menyebabkan terganggunya akses pengguna jalan
2 Drainase pada tepi jalan penghubung tidak lancar
3 Hampir semua wilayah di Kecamatan Kabupaten Pakpak Bharat termasuk kedalam daerah rawan longsor
4 Adanya perkembangan sistem pertanian pada daerah
rawan bencana longsor
5 Daerah yang teridentifikasi bahaya longsor terdapat
pada beberapa Kecamatan seperti a)Kecamatan Tinada dan b)Kecamatan STTU Jehe
6 Daerah yang teridentifikasi bahaya banjir terdapat
pada beberapa Kecamatan seperti a) Kecamatan STTU Julu, b) Kecamatan PGGS, c) Kecamatan Tinada, d) Kecamatan Pagindar, e) Kecamatan Siempat Rube, dan f) Kecamatan Kerajaan.
Sektor Lingkungan Hidup
2 Berkurangnya Keanekaragaman Hayati
1 Habitat satwa Orang Utan terganggu karena adanya pembukaan lahan
2 Konflik satwa Orang Utan dengan perkebunan
masyarakat
3 Banyaknya kegiatan penebangan pohon secara
illegal di daerah kawasan hutan Kabupaten Pakpak Bharat (tidak ada izin penebangan)
Sektor Pariwisata
3 Belum Optimalnya
Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan
1 Pengembangan objek wisata alam Kecamatan Pagindar belum terkelola dengan baik
2 Sektor pariwisata perlu di bangun berupa homestay d
i Kecamatan Pagindar
3 Lokasi wisata di Kabupaten Pakpak Bharat sulit dijangkau dan akses jalan yang kurang bagus
4 Pengembangan pariwisata alam di beberapa tempat
belum memiliki fasilitas wisata yang memadai
5 Manajemen pengelolaan pariwisata Kecamatan
Pagindar masih terbatas
No. Tema Isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan
6 Rencana pengembangan wisata alam di Kecamatan
Pagindar belum terlaksana dengan baik
7 Manajemen pariwisata belum terintegrasi antara pemilik usaha dan masyarakat sehingga rawan konflik sosial
Sektor Penataan Ruang dan Infrastruktur 4 Pelanggaran Tata Ruang dan Tata
Bangunan
1 Masyarakat terlebih dahulu membangun rumah/gedung sebelum mengajukan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG)
2 Banyak terdapat pembangunan yang tidak sesuai peraturan daerah
3 Banyak bangunan permukiman yang berada di
kawasan rawan bencana longsor
4 Penggunaan lahan tidak sesuai tata ruang, misalnya
industri di kawasan perdagangan dan jasa, kawasan lindung digunakan untuk pertanian semusim, galian mineral tambang batu yang dilakukan bukan diatas kawasan pertambangan
5 Masih banyaknya usaha/kegiatan yang belum
mempunya izin kegiatan usaha di Kabupaten Pakpak Bharat.
6 Adanya bangunan yang berada didaerah sempadan s
ungai.
5 Sarana dan Prasarana Transportasi
yang Kurang Memadai 1 Kerusakan jalan di beberapa Kecamatan Kabupaten Pakpak Bharat.
2 Banyak jalan yang rusak akibat kondisi tanah yang
labil.
3 Masih banyaknya jalan di wilayah Kabupaten
Pakpak Bharat yang tidak memadai.
4 Jalan ke desa-desa banyak yang masuk kawasan bencana longsor.
5 Kebutuhan terminal (tipe C) untuk menampung
aktifitas angkutan umum.
6 Konektifitas antar jalan yang ada saat ini belum terintegrasi dengan baik (antar jalan di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat belum terkoneksi seluruhnya)
6 Pertumbuhan Kawasan Perkotaan Belum Tertata dan Terencana
1 Keadaan fasilitas pasar di kecamatan yang kurang memadai.
2 Pembangunan drainase di permukiman dan tepi jalan
No. Tema Isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan sebaiknya ditata agar menghindari luapan air di saluran drainase perumahan penduduk dan menghindari genangan air dibahu jalan.
3 Masih banyak drainase di permukiman penduduk
tidak berfungsi sehingga air selokan mengalir di bahu jalan, mohon untuk dikaji kembali drainase yang mengalami rusak parah.
7 Alih Fungsi Lahan 1 Penebangan pohon secara liar banyak terjadi di kawasan hutan di Kabupaten Pakpak Bharat. Aksi ini, apabila tidak dikendalikan akan mengancam perubahan bentang alam dan memperluas resiko kerusakan hutan yang akan terjadi di masa depan.
2 Adanya beberapa rencana pembangunan jalan yang
melewati kawasan Hutan dapat menyebabkan berkurangnya tutupan canopy hutan dan berkurangnya biodiversitas alami pada kawasan hutan.
Sektor Pertambangan dan energi 8 Gangguan Kestabilan Debit Air
Sungai
1 Pembangunan PLTMH di hulu Lae Merah di Kecamatan Sitelu Tali Urang Julu akan berdampak pada pengurangan atau kelebihan arus air (menjadi tidak stabil) karena adanya sistem buka tutup pada rencana kegiatan PLTMH, yang dapat mengganggu daerah wisata Lae Merah.
2 Adanya sumber mata air yang belum terkelola dengan baik menyebabkan berkurangnya debit air, kemudian adanya perubahan lahan di kawasan tangkapan air hujan menjadi kawasan terbuka menyebabkan run off yang tinggi sehingga air langsung terbuang ke badan sungai.
9 Aktifitas Pertambangan di Kawasan Hutan dan Sungai
1 Aktivitas operasi penambangan minerba di Kabupaten Dairi berdampak pada kawasan lindung di Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat.
2 Adanya aktifitas penambangan galian C berjenis pasir sungai yang belum mempunyai izin lingkungan .
3 Adanya pertambangan ilegal pada kawasan hutan
No. Tema Isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan
Sektor Pertanian
10 Terjadinya kerusakan lahan, utamanya pada Kawasan Hutan
1 Beberapa petani di Kabupaten Pakpak Bharat tidak menggunakan kaidah konservasi tanah yang benar (beberapa petani tidak menerapkan pola alur tanah yang benar).
11 Ketidakmerataan fasilitas
pertanian 1 Adanya penetapan kawasan berdasarkan potensinya untuk budidaya perkebunan jenis durian dan jagung.
2 Belum adanya peraturan yang mendukung sentra produksi pertanian dan sistem pengelolaan pasca panen.
3 Banyaknya kerusakan jaringan irigasi dan masih banyaknya pertanian yang belum mendapatkan akses irigasi.
Sektor sampah dan sanitasi 12 Pengelolaan Sampah Belum
Terpadu dan Optimal
1 Pengelolaan sampah di beberapa kecamatan masih kurang baik, karena adanya penambahan jumlah penduduk dan perilaku masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan.
2 Pengelolaan sampah belum dilakukan secara
terpadu, dan banyak sampah dari aktifitas masyarakat yang menumpuk.
3 Kurangnya tempat pengumpulan sementara (TPS)
sampah di beberapa kecamatan Kabupaten Pakpak Bharat.
4 Luasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kurang
memadai dan adanya pemindahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) lama ke lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) baru.
5 Akses pengangkutan sampah belum optimal.
6 Adanya sampah yang belum terkelola dengan baik.
13 Rendahnya Akses Sanitasi dan Penanganan Limbah Cair
1 Masih banyak masyarakat yang buang air besar (BAB) di sungai.
2 Adanya limbah rumah tangga yang belum terkelola
dengan baik dan terbuang ke lingkungan secara langsung.
3 Rendahnya kepemilikan jamban sehat.
No. Tema Isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan
4 Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu (IPLT) belum
beroperasi.
5 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat masih rendah.
6 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal
masing belum ada.
7 Rumah Sakit yang ada di Kecamatan Salak belum
mempunyai pengolahan limbah bahan, berbahaya dan beracun (B3) dan belum mempunyai izin operasional pengolahan limbah bahan, berbahaya dan beracun (B3).
Sektor sosial, ekonomi dan pelayanan publik 14 Ketersediaan dan Kontinuitas
Layanan Publik belum Optimal 1 Sebaran fasilitas umum dan fasilitas sosial penunjang kegiatan masyarakat belum merata.
2 Akses menuju kawasan pendidikan di beberapa tempat masih terbatas.
Sektor Sumberdaya Air
15 Berkurangnya Kualitas Air 1 Budidaya pertanian di Kabupaten Pakpak Bharat yang tidak ramah lingkungan (penggunaan pestisida) .
Sumber : Hasil Analisis Kesepakatan Tim Penyusunan KLHS Revisi RTRW Kabupaten Pakpak Bharat, Tahun 2023
Tabel 3. Hasil Analisis Skoring Isu Pembangunan dengan Kriteria Penentuan Isu Pembangunan Berkelanjutan
N
o Isu Pembangunan Berkelanjutan
Kriteria Penentuan Isu Pembangunan Berkelanjutan
Jumla Karakteristi h
k Wilayah
Potensi Dampa
k
Keterkaita
n Isu Keterkaita
n KRP Keterkaita
n RPPLH Keterkaita n KLHS
1 Kawasan Rawan Bencana 3 3 3 2 0 0 11
2 Berkurangnya Keanekaragaman Hayati 2 2 2 1 0 0 7
3 Belum Optimalnya Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan
3 2 2 1 0 0 8
4 Pelanggaran Tata Ruang dan Tata Bangunan
3 2 3 1 0 0 9
5 Sarana dan Prasarana Transportasi yang Kurang Memadai
3 2 3 3 0 0 11
6 Pertumbuhan Kawasan Perkotaan Belum
Tertata dan Terencana 3 2 2 3 0 0 10
7 Alih Fungsi Lahan 3 3 3 3 0 0 12
8 Gangguan Kestabilan Debit Air Sungai 2 3 3 2 0 0 10
9 Aktifitas Pertambangan di Kawasan Hutan dan Sungai
3 3 2 2 0 0 10
N
o Isu Pembangunan Berkelanjutan
Kriteria Penentuan Isu Pembangunan Berkelanjutan
Jumla Karakteristi h
k Wilayah
Potensi Dampa
k
Keterkaita
n Isu Keterkaita
n KRP Keterkaita
n RPPLH Keterkaita n KLHS 10 Terjadinya Kerusakan Lahan Utamanya
pada Kawasan Hutan
3 3 3 2 0 0 11
11 Ketidak Merataa Fasilitas Pertanian 2 2 1 2 0 0 7
12 Pengelolaan Sampah Belum Terpadu dan Optimal
3 3 2 2 0 3 13
13 Rendahnya Akses Sanitasi dan Penanganan Limbah Cair
3 3 2 1 0 2 11
14 Ketersediaan dan Kontinuitas Layanan Publik belum Optimal
3 2 3 1 0 0 9
15 Berkurangnya Kualitas Air 2 2 1 1 0 0 6
Sumber : Hasil Analisis Kesepakatan Tim Penyusunan KLHS Revisi RTRW Kabupaten Pakpak Bharat, Tahun 2023
Tabel 4. Hasil Analisis Isu Strategis menjadi Isu Pembangunan Berkelanjutan Prioritas
No.
Isu Pembangunan Berkelanjutan
Strategis
Muatan Lingkungan Hidup Total Ranking
Kapasitas
DDDTLH Dampak LH Jasa Lingkungan Cakupan
Bencana Mutu SDA Biodiversitas Perubahan
Iklim Kemiskinan Kesehatan Masyarakat
Hukum Tradisional 1 Kawasan
Rawan Bencana
5 5 5 5 3 3 3 1 3 0
33 5
Kawasan rawan bencana mengakibatka n adanya penurunan daya dukung daya tampung lingkungan hidup pada jasa
lingkungan pengaturan dan
perlindungan dari bencana
Kawasan rawan bencana menyebabkan dampak risiko yang negatif apabila terjadi di daerah yang memiliki penduduk dan daerah yang padat peduduknya
Jasa lingkungan yang sangat berperan adalah jasa lingkungan pengaturan perlindungan dari bencana
Kawasan rawan bencana pada Kabupaten Pakpak Bharat banyak terjadi bencana longsor karena memiliki kontur dan elevasi yang terjal di daerah Kabupaten Pakpak Bharat
Mutu SDA akan tergerus karena terjadinya bencana longsor
Berkurangnya biodiversitas di daerah kawasan rawan bencana yang berakibat adanya hilangnya keanekagarakan hayati
Dengan adanya kawasan rawan bencana tidak
mempengaruhi perubahan iklim
Kerugian ekonomi akibat rawan bencana cukup berpengaruh pada
masyarakat dalam mengakses fasilitas ekonomi dan fasilitas kesehatan
Kawasan rawan bencana berpengaruh pada
masyarakat dalam mengakses fasilitas kesehatan
Dengan adanya kawasan rawan bencana tidak mempengaruhi hukum adat
2 Sarana dan Prasarana Transportasi yang Kurang Memadai
0 0 0 0 0 0 0 4 2 0
6 8
Adanya sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai tidak mempengaruhi adanya
perubahan daya dukung daya tampung linkungan
Dengan adanya sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai tidak
menimbulkan dampak risiko lingkungan hidup
Sarana dan prasarana
transportasi yang kurang memadai tidak berdampak pada kualitas jasa lingkungan hidup
Akibat adanya sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai tidak memicu munculnya terjadi bencana alam
Dengan adanya sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai tidak mempengaruhi Mutu SDA
Sarana dan prasarana
transportasi yang kurang memadai tidak berpengaruh terhadap
keberadaan biodiversitas
Sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai tidak mempengaruhi terjadinya perubahan iklim
Sangat
mempengaruhi kondisi tingkat kemiskinan masyarakat terkait adanya sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai
Sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai mempengaruhi pada layanan kesehatan masyarakat
Hukum adat tradisional tidak berpengaruh akan adanya keberlangsungan kegiatan sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai
3 Alih Fungsi 5 4 5 5 5 5 3 2 2 2 38 1
No.
Isu Pembangunan Berkelanjutan
Strategis
Muatan Lingkungan Hidup Total Ranking
Kapasitas
DDDTLH Dampak LH Jasa Lingkungan Cakupan
Bencana Mutu SDA Biodiversitas Perubahan
Iklim Kemiskinan Kesehatan Masyarakat
Hukum Tradisional Adanya Alih
fungsi lahan, menyebabkan penurunan daya dukung dan daya tampung lahan
Adanya Alih fungsi lahan sangat berdampak signifikan dalam penurunan kualitas LH
Adanya Alih fungsi lahan sangat berdampak pada kualitas jasa lingkungan penyedia pangan, tata aliran air dan banjir, serta pencegahan dan perlindungan bencana
Cakupan kawasan bencana sangat dipengaruhi oleh adanya Alih fungsi lahan
Mutu SDA akan terancam apabila adanya Alih fungsi lahan
Adanya Alih fungsi lahan berpengaruh terhadap keberadaan biodiversitas
Adanya Alih fungsi lahan mengakibatka n terjadinya perubahan iklim
Adanya Alih fungsi lahan cukup berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan masyarakat
Adanya Alih fungsi lahan yang tidak menjaga keseimbangan ekologi akan berdampak pada tingkat kesehatan masyarakat
Hukum adat sangat berpengaruh pada adanya Alih fungsi lahan
4 Pengelolaan Sampah Belum Terpadu dan Optimal
5 5 5 3 5 0 0 0 3 0
26 4
Adanya pengelolaan sampah yang belum terpadu dan optimal mengakibatka n sampah tidak terkelola dengan baik dan dapat menyebabkan penurunan daya dukung daya tampung lingkungan yang dimana seharusnya dapat terkelola dengan baik
Adanya pengelolaan sampah yang belum terpadu dan optimal sangat berdampak signifikan dalam penurunan kualitas LH
Adanya pengelolaan sampah yang belum terpadu dan optimal sangat berdampak pada menurunnya kualitas jasa lingkungan penyedia air bersih, tata aliran air dan banjir, serta pencegahan dan perlindungan bencana
Cakupan kawasan bencana sangat dipengaruhi oleh keberadaan pengelolaan sampah yang belum berjalan dengan baik
Mutu SDA tidak banyak dipengaruhi oleh akibat adanya pengelolaan sampah yang belum terpadu dan optimal
Pengelolaan sampah belum terpadu dan optimal tidak berpengaruh signifikan terhadap keberadaan biodiversitas
Akibat adanya pengelolaan sampah yang belum terpadu dan optimal tidak
berpengaruh pada
perubahan iklim
Akibat pengelolaan sampah belum terpadu dan optimal tidak berpengaruh pada
kemiskinan
Pengelolaan sampah belum terpadu dan optimal sangat berpengaruh pada kesehatan masyarakat
Hukum adat tidak
berpengaruh pada akibat pengelolaan sampah belum terpadu dan optimal
5 Gangguan Kestabilan Debit Air
4 5 5 0 0 0 0 0 0 0
14 7
Adanya Adanya Adanya gangguan Cakupan Mutu SDA Adanya gangguan Adanya Adanya Adanya Hukum adat
No.
Isu Pembangunan Berkelanjutan
Strategis
Muatan Lingkungan Hidup Total Ranking
Kapasitas
DDDTLH Dampak LH Jasa Lingkungan Cakupan
Bencana Mutu SDA Biodiversitas Perubahan
Iklim Kemiskinan Kesehatan Masyarakat
Hukum Tradisional
Sungai
gangguan kestabilan debit air sungai
menyebabkan penurunan daya dukung daya tampung lingkungan pada rusaknya kebutuhan air bersih
gangguan kestabilan debit air sungai sangat berdampak signifikan dalam penurunan kualitas LH
kestabilan debit air sungai menyebabkan kualitas jasa lingkungan akan mempengaruhi penurunan jasa lingkungan
kawasan bencana tidak dipengaruhi oleh akibat adanya gangguan kestabilan debit air sungai
tidak banyak dipengaruhi oleh akibat adanya gangguan kestabilan debit air sungai
kestabilan debit air sungai tidak berpengaruh signifikan terhadap keberadaan biodiversitas
gangguan kestabilan debit air sungai tidak berpengaruh pada
perubahan iklim
gangguan kestabilan debit air sungai tidak berpengaruh pada
kemiskinan
gangguan kestabilan debit air sungai tidak
berpengaruh pada kesehatan masyarakat
tidak
berpengaruh pada adanya gangguan kestabilan debit air sungai
6 Aktifitas Pertambangan di Kawasan Hutan dan Sungai
5 5 5 5 5 5 5 0 1 0
36 2
Adanya aktifitas pertambangan di kawasan Hutan dan sungai
mempengaruhi penurunan daya dukung daya tampung lingkungan hidup pada penyedia lahan tangkapan air pada kawasan hutan
Terjadinya degradasi lahan yang dapat
menyebabkan kerusakan tanah
Adanya
penurunan daya dukung daya tampung
lingkungan pada jasa lingkungan (P2) penyedia air bersih masyarakat
Cakupan kawasan bencana dipengaruhi oleh akibat aktifitas pertambangan di kawasan hutan dan sungai
Mutu SDA banyak dipengaruhi oleh akibat aktifitas pertambangan di kawasan hutan dan sungai
Aktifitas
pertambangan di kawasan hutan dan sungai berpengaruh signifikan terhadap keberadaan biodiversitas
Akibat aktifitas pertambangan di kawasan hutan dan sungai berpengaruh pada
perubahan iklim
Akibat aktifitas pertambangan di kawasan hutan dan sungai tidak berpengaruh pada
kemiskinan
Akibat aktifitas pertambangan di kawasan hutan dan sungai berpengaruh pada kesehatan masyarakat terutama masyarakat yang banyak menggunakan sumber air dari sungai
Hukum adat tidak
berpengaruh pada akibat aktifitas
pertambangan di kawasan hutan dan sungai
7 Terjadinya kerusakan lahan
utamanya pada
5 5 4 4 5 5 4 0 0 0
32 3
Terjadinya kerusakan
Terjadinya kerusakan
Terjadinya kerusakan lahan
Cakupan kawasan
Mutu SDA banyak
Terjadinya kerusakan lahan
Terjadinya kerusakan
Terjadinya kerusakan
Terjadinya kerusakan
Hukum adat tidak
No.
Isu Pembangunan Berkelanjutan
Strategis
Muatan Lingkungan Hidup Total Ranking
Kapasitas
DDDTLH Dampak LH Jasa Lingkungan Cakupan
Bencana Mutu SDA Biodiversitas Perubahan
Iklim Kemiskinan Kesehatan Masyarakat
Hukum Tradisional
Kawasan hutan
lahan
utamanya pada kawasan hutan menyebabkan penurunan daya dukung daya tampung lingkungan pada rusaknya kebutuhan air bersih
masyarakat
lahan utamanya pada kawasan hutan sangat berdampak signifikan dalam penurunan kualitas LH
utamanya pada kawasan hutan menyebabkan penurunan kualitas jasa lingkungan
bencana dipengaruhi oleh akibat terjadinya kerusakan lahan utamanya pada kawasan hutan
dipengaruhi oleh akibat terjadinya kerusakan lahan
utamanya pada kawasan hutan
utamanya pada kawasan hutan berpengaruh signifikan terhadap keberadaan biodiversitas
lahan
utamanya pada kawasan hutan berpengaruh pada
perubahan iklim
lahan utamanya pada kawasan hutan tidak berpengaruh pada
kemiskinan
lahan
utamanya pada kawasan hutan tidak
berpengaruh pada kesehatan masyarakat
berpengaruh pada akibat Terjadinya kerusakan lahan utamanya pada kawasan hutan
8 Rendahnya Akses Sanitasi dan
Penanganan Limbah Cair
5 4 4 0 0 0 0 0 5 0
18 6
Rendahnya akses sanitasi dan
penanganan limbah cair menyebabkan penurunan daya dukung daya tampung lingkungan
Rendahnya akses sanitasi dan
penanganan limbah cair sangat berdampak signifikan dalam penurunan kualitas LH
Rendahnya akses sanitasi dan penanganan limbah cair menyebabkan penurunan kualitas jasa lingkungan
Cakupan kawasan bencana tidak dipengaruhi oleh akibat rendahnya akses sanitasi dan penanganan limbah cair
Mutu SDA tidak banyak dipengaruhi oleh akibat rendahnya akses sanitasi dan
penanganan limbah cair
Rendahnya akses sanitasi dan penanganan limbah cair tidak berpengaruh signifikan terhadap keberadaan biodiversitas
Rendahnya akses sanitasi dan
penanganan limbah cair tidak
berpengaruh pada
perubahan iklim
Rendahnya akses sanitasi dan
penanganan limbah cair tidak
berpengaruh pada
kemiskinan
Rendahnya akses sanitasi dan
penanganan limbah cair sangat berpengaruh pada kesehatan masyarakat
Hukum adat tidak
berpengaruh pada akibat rendahnya akses sanitasi dan penanganan limbah cair
Tabel 5. Hasil Analisis Isu Pembangunan Berkalanjutan Strategis menjadi Prioritas
No Isu Pembangunan Prioritas Jumlah Skor Status
1 Alih Fungsi Lahan 38 Prioritas 1
2 Aktifitas Pertambangan di Kawasan Hutan dan Sungai 36 Prioritas 2
3 Kawasan Rawan Bencana 33 Prioritas 3
4 Terjadinya Kerusakan Lahan Utamanya Pada Kawasan Hutan 32 Prioritas 4
5 Pengelolaan Sampah Belum Terpadu dan Optimal 26 Prioritas 5
6 Rendahnya Akses Sanitasi dan Penanganan Limbah Cair 18 Prioritas 6
Demikian Berita Acara Konsultasi Publik Ke-1 ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Lampiran daftar hadir peserta, notulensi dan dokumentasi kegiatan merupakan bagian tidak terpisahkan dari Berita Acara ini. Seluruh pihak yang menandatangani berita acara ini akan menyepakati isi dari berita acara ini dan bekerjasama dalam menindaklanjuti kesepakatan ini berdasarkan tanggungjawab dan kewenangan masing-masing.
Dibuat di Kabupaten Pakpak Bharat Pada Hari Senin, Tanggal : 04 - 09 - 2023
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan
Lingkungan Hidup
(……….) NIP………..
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang dan Perhubungan
(……….) NIP………..
Tembusan disampaikan kepada Yth, : Bupati Pakpak Bharat, (Sebagai Laporan)