• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria Bradford Hill dalam Epidemiologi Kausal

N/A
N/A
mia setianingrum

Academic year: 2024

Membagikan "Kriteria Bradford Hill dalam Epidemiologi Kausal"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Sonya Maharani Anindya Nayla NIM : 25000121140212

Kelas : 2C FKM 2021

Tugas Dasar Epidemiologi: 9 KRITERIA DALAM BRADFORD HILL

Kriteria inferensi kausal telah menjadi isu penting dan kontroversial dengan pembentukan dewan penasehat pertama untuk Surgeon General tentang efek kesehatan dari merokok. Dalam laporan tahun 1964, Komisi menyajikan daftar

"kriteria epidemiologi kausal". Sir Austin Bradford Hill kemudian menguraikan pidato kepresidenannya yang klasik tahun 1965 kepada Departemen Kedokteran Kerja Royal Society yang baru didirikan. Kriteria Hill diterima secara luas sebagai dasar untuk menyimpulkan kausalitas

1. Strength of association (Kekuatan Asosiasi)

Semakin kuat hubungan antara paparan dan penyakit, semakin kuat keyakinan bahwa hubungan itu kausal. Hal ini karena semakin kuat hubungan yang diamati antara paparan dan penyakit, semakin kecil kemungkinan hubungan yang diperkirakan akan terpengaruh oleh kesalahan acak yang tidak terduga. Skala yang digunakan untuk menilai hubungan antara paparan dan penyakit diberikan dalam hal risiko relatif (RR) atau rasio odds (OR).

Misalnya, risiko kanker paru-paru meningkat pada perokok dibandingkan bukan perokok. Satu studi menunjukkan bahwa perokok memiliki risiko 35 persen terkena kanker paru-paru dibandingkan dengan bukan perokok.

2. Biologic credibility (secara biologi dapat dimengerti/ logis)

Biologi dapat menjelaskan perjalanan suatu penyakit (tidak berbeda dengan ilmu biologi). Kriteria ini juga mutlak untuk menunjukkan bahwa penelitian menunjukkan hubungan sebab akibat. Sekali lagi, hasil uji statistik adalah numerik dan kepentingannya tergantung pada penelitinya.

Contohnya kanker paru-paru dimulai dengan asap rokok dan kadar nikotinnya masuk ke paru-paru. Nikotin yang diinfiltrasi merusak epitel. Setelah itu, epitel terus

(2)

beregenerasi. Peristiwa yang terjadi terus menerus menyebabkan hilangnya kontrol sel epitel dan perkembangan kanker paru-paru.

3. Consistency (konsisten)

Konsistensi hasil penelitian, meskipun penelitian serupa dilakukan oleh waktu dan tempat yang berbeda, kelompok yang berbeda, dan peneliti yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya hubungan sebab akibat. Kriteria konsistensi mutlak untuk menunjukkan bahwa penelitian ini kausal

Semakin konsisten dengan penelitian lain yang dilakukan pada populasi dan pengaturan yang berbeda, semakin kuat kepercayaan pada hubungan sebab akibat.

Kriteria koherensi juga sangat penting dalam meyakinkan komunitas penelitian kausal.

Contohnya merokok diyakini sebagai penyebab CA paru-paru hanya setelah dibuktikan melalui ribuan penelitian yang dilakukan di berbagai populasi, negara, dan waktu.

4. Temporality/ time sequence (hubungan temporal)

Untuk mengetahui bahwa suatu faktor adalah penyebab penyakit, perlu dipastikan bahwa paparan terhadap faktor tersebut telah terjadi sebelum penyakit itu muncul. Salah satu faktor terpenting untuk penelitian Kasus-kontrol terdiri dari pemeriksaan riwayat pajanan dari seseorang yang diduga menyebabkan suatu akibat.

sakit.

Contohnya kanker paru-paru biasanya didahului dengan merokok. Contoh lain adalah pengaruh asupan energi pada desain kasus-kontrol obesitas bayi. Anak-anak tidak menggunakan pengingat diet 24 jam, tetapi harus diingat bahwa mengukur asupan makanan harus mendahului timbulnya obesitas.

5. Dose-response relationship/ biological gradient (terdapat tingkat gradasi biologi)

Semakin tinggi dosis obat/intervensi/paparan yang diberikan, semakin tinggi atau bahkan lebih rendah Hasil yang dicapai. Lebih banyak paparan menyebabkan seseorang mengembangkan penyakit lebih cepat dalam waktu singkat. Kriteria ini mutlak untuk menunjukkan bahwa penelitian ini bersifat kausal. Misalnya, semakin tinggi konsumsi bahan makanan Goitrogen, semakin rendah kadar yodium darah pada

(3)

mencit, meskipun diberi singkong yang diberi garam tambahan yodium sesuai standar SNI

6. Specificity (spesifikasi)

Jika suatu variabel terbatas pada pekerja tertentu di lingkungan tertentu, menyebabkan penyakit tertentu, dan tidak ada kecurigaan bahwa variabel lain menyebabkan penyakit, maka variabel tersebut sangat spesifik dan kausal disetujui menjadi sangat mungkin. Faktor penyebab hanya menyebabkan satu penyakit, dan penyakit hanya disebabkan oleh satu penyebab. Semakin spesifik efek paparan, semakin kuat hubungan sebab akibat.

Kriteria spesifisitas sering disalahgunakan oleh pendukung perokok (dan perokok) untuk menyangkal hubungan sebab akibat antara kebiasaan merokok dan CA paru-paru. Klaim mereka bahwa hubungan antara merokok dan CA paru-paru tidak spesifik, karena merokok juga menyebabkan banyak penyakit lain, termasuk:

7. Coherence (koherensi)

Koheren dalam perkembangan penyakit, biologi, dan epidemiologi pada akhirnya memungkinkan pemahaman bersama. Namun, kriteria koheren bukanlah syarat suatu penelitian dinyatakan kausal. Kajian dianggap koheren jika konsisten dengan fakta/fakta yang diketahui. Semakin koheren situasi penyakit dengan pengetahuan tentang perjalanan alami penyakit, semakin kuat kepercayaan pada hubungan sebab akibat antara paparan dan penyakit. Misalnya, menurut riwayat penyakit, biologi dan epidemiologi, merokok dapat menyebabkan kanker paru-paru

8. Experimental evidence (bukti eksperimen)

Hasil penelitian eksperimental mendukung kesimpulan kausal. Blalock (1971) dan Suser (1973) menyarankan bahwa jika perubahan variabel independen (faktor penelitian) diikuti oleh perubahan variabel dependen (penyakit), hubungan sebab akibat dapat dikonfirmasi oleh bukti eksperimental. Dalam praktiknya, bukti eksperimental seringkali tidak realistis, tidak memadai, atau bahkan tidak etis, terutama jika menyangkut faktor penelitian yang berbahaya bagi manusia.

Kekuatan hubungan kausal dapat ditentukan melalui rekam medis, intervensi, dan studi hewan. Misalnya, dalam eksperimen laboratorium, telinga kelinci yang

(4)

tergores sesekali dapat menyebabkan kanker. Tar tembakau bersifat karsinogen (menyebabkan kanker)

9. Analogy (analogi)

Temuan yang memiliki karakteristik serupa mungkin menyerupai tingkat kausalitas yang sama jika kausalitas sebelumnya ada dalam kondisi yang relatif sama.

Kriteria analogi cukup untuk mendukung kausalitas, karena imajinasi para ilmuwan memang memunculkan banyak ide serupa, dan akibatnya analogi menjadi tidak spesifik, yang digunakan sebagai dasar untuk mendukung kausalitas. Dalam beberapa situasi, kriteria analogis tentu dapat digunakan.

Misalnya, thaladomine dapat mengurangi rasa mual pada ibu hamil. Selama lima tahun ke depan, banyak ibu akan memiliki anak, yang cacat. Kedua, seperti rubella, bayi memiliki kelainan. Thaladomine kembali karena memiliki efek yang sama. Hasil pencarian menunjukkan RR: 3,1 dibandingkan ibu yang tidak mengonsumsi thaladomine. Properti ini dianggap memfasilitasi hubungan asosiasi dan tidak harus hadir.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arciniegas Paspuel, O. G., Álvarez Hernández, S. R., Castro Morales, L. G., &

Maldonado Gudiño, C. W. (2021). KRITERIA BRADFORD HILL DALAM HUBUNGAN KAUSALITAS

2. Nujaimah, & Alfian. (2014). Artikel Review: Kausalitas dalam Farmakologi.

Jurnal Unpad, 14(1), 1–10.

Referensi

Dokumen terkait