• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRITIK WAHABI-SALAFI TERHADAP TASAWUF/TAREKAT

N/A
N/A
Salma Aulia Putri

Academic year: 2024

Membagikan "KRITIK WAHABI-SALAFI TERHADAP TASAWUF/TAREKAT"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1

KRITIK WAHABI-SALAFI TERHADAP TASAWUF/TAREKAT

“Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Tasawuf Kontemporer Semester 6 Kelas C”

Dosen Pengampu:

Dr. Akhmad Sodiq M.Ag.

Disusun Oleh :

Kelompok 2

M. Raihan Jamal 11210110000082 Salma Aulia Putri 11210110000135 Tazkia Nurul Aulia 11210110000136

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2024 M/ 1445 H

(2)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan berkah dan rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan dan menyusun makalah ini untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Metode Penelitian yang membahas tentang “kritik wahabi-salafi terhadap tasawuf/tarekat”.

Shalawat serta salam tidak lupa kami panjatkan kepaa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kami mengucapkan terimakasih kepada Bpk. Dr. Akhmad Sodiq M.Ag.

selaku dosen pengampu yang telah mempercayai kami untuk membuat makalah ini dan juga teman-teman kelompok yang telah bersama-sama menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

Makalah ini telah kami susun dengan semaksimal mungkin dengan mencari refrensi dari berbagai buku dan artikel yang dapat mempermudah kami dalam proses pembuatan makalah. Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi kalimat maupun tata bahasa. Oleh karena itu, segala bentuk masukan, kritik dan saran sangat kami apresiasi. Masukan, kritik dan saran yang diterima akan menjadi pelajaran dan evaluasi yang berharga untuk perbaikan kedepannya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kami dan umumnya bagi para pembaca. Aamiin allahumma aamiin.

Depok, 21 Maret 2024

Kelompok 2

(3)

3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan Penulisan ... 1

BAB II PEMBAHASAN ... 3

A. Sejarah Wahabi-salafi ... 3

B. Ajaran wahabi/salafi terkait amaliah tasawuf ... 5

C. Konsep bidah dan kufur menurut wahabi-salafi ... 13

D. Dampak Reformis wahabi-salafi dalam fenomena gerakan anti tasawuf pasca tahun 1950... 14

BAB III PENUTUP ... 16

A. Kesimpulan ... 16

B. Saran ... 16

DAFTAR PUSTAKA ... 18

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Islam dalam arti wahyu berupa teks-teks al-Qur’an dan hadits sebagaimana yang tertulis di dalamnya dan sampai kepada kita, baik yang berupa thalabi ataupun khabari . Akan tetapi, dalam realitasnya pemaknaan Islam yang pertama tidak berhenti sampai disitu, malainkan terkoneksi dalam diri manusia baik berupa pikiran, penghayatan, dan tata cara pelaksanaan nilai-nilai tersebut. Pemikiran seorang muslim baik dalam keadaan berproses maupun sampai menghasilkan sesuatu dari teks-teks suci tersebut yang meliputi kepercayaan, aturan hidup, dan intraksinya dengan Tuhan ataupun dengan manusia.

Dari proses ini dihasilkanlah berupa penghayatan (keyakinan), sikap dan prilaku yang didasari wahyu. Dengan demikian, secara tradisional lahirlah Islam dalam ilmu fiqih, ilmu kalam, dan tasawuf yang diikuti dengan realisasinya dalam kehidupan baik secara individual, sosial kemasyarakatan, psikologi, dan spiritual. Ketika inilah Islam dalam arti yang kedua yaitu kebudayaan karena ketiga keilmuan tersebut merupakan hasil atau proses cipta, karsa, rasa, dan karya manusia, semua itu adalah kebudayaan.

Akan tetapi di segi lain, tidak seorang pun yang berani mengklaim bahwa semua hal tersebut bukan unsur Islam, jadilah disatu sisi Islam dan disisi yang lain kebudayaan. Kebudayaan Islam yang banyak mendominasi arah dan tujuan pikiran, sikap, dan perialaku kaum muslimin saat ini banyak mengandung distorsi. Hal ini tampak jelas dari menjamurnya aliran pemikiran akidah yang menjadikan umat ini bersikap fatalistik, kurang energik dan tidak rasional. Diantara penyebab distorsi yang parah ini kemungkinan terletak pada kekeliruan dalam metodologi penafsiran teks- teks agama atau paradigma pemahamannya yang mengakibatkan buruk bagi perkembangan kebudayaan tersebut. Ada banyak aliran pemikiran aqidah, salah satunya adalah Salafi dari segi doktrindoktrin dan sejarah kemunculannya.

(5)

5 B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang ada, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana Sejarah Wahabi-salafi ?

2. Bagaimana Ajaran wahabi/salafi terkait amaliah tasawuf ? 3. Bagaimana Konsep bidah dan kufur menurut wahabi-salafi ?

4. Bagaimana Dampak Reformis wahabi-salafi dalam fenomena gerakan anti tasawuf pasca tahun 1950 ?

C. Tujuan Penulisan Makalah

Dari rumusan masalah yang ada, maka dapat disimpulkan tujuan dinuatnya makalah ini yaitu sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui Sejarah Wahabi-salafi

2. Untuk mengetahui Ajaran wahabi/salafi terkait amaliah tasawuf 3. Untuk mengetahui Konsep bidah dan kufur menurut wahabi-salafi 4. Untuk mengetahui Dampak Reformis wahabi-salafi dalam fenomena

gerakan anti tasawuf pasca tahun 1950

(6)

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Wahabi-Salafi

Wahabiyah merupakan paham keagamaan yang muncul di awal abad ke-20 di Saudi Arabia. Paham ini dikenalkan pertama sekali oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.Pemikiran ulama ini didukung oleh Kerajaan Saudi Arabia. Ada banyak ulama yang menjadi tokoh sentral Wahabi asal Saudi Arabia, di antaranya ‘Abd al-‘Aziz bin Baz, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dan Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin.

Paham ini juga telah berkembang di Indonesia melalui dukungan Saudi Arabia yang memberikan beasiswa pendidikan kepada para pelajar Indonesia. Setelah tamat, alumni perguruan tinggi Saudi Arabia tersebut menjadi agen penyebaran mazhab Wahabiyah di Indonesia. Dengan bantuan Saudi Arabia dan kelompok Wahabiyah di Timur Tengah, mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam, perpustakaan, penerbitan, dan majelis taklim. Alumni Saudi Arabia di Indonesia memainkan peran sebagai agen penyebaran mazhab Wahabiyah di tanah air. Mereka mengenalkan karya ulama Wahabi dari berbagai negara, terutama Saudi Arabia, dan juga ikut menyumbangkan karya yang mengulas ideologi Wahabiyah. Karya-karya Wahabiyah beredar bebas di Indonesia.1

Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyadi Kartanegara yang telah mengungkapkan bahwa ada sejumlah faktor pendorong kebangkitan sebuah peradaban, di antaranya adalah motivasi agama, dukungan dan perlindungan penguasa, gerakan penerjemahan, serta penelitian dan pengkajian khazanah masa lampau. Hal ini tampaknya telah dilakukan oleh kelompok Syiah dan Saudi Arabia, dan gejala ini memungkinkan kebangkitan pemikiran dalam mazhab Syiah dan Wahabiyah di Indonesia.

Wahabiyyah merupakan salah satu aliran yang didirikan oleh

1 Yudian Wahyudi (ed.), Gerakan Wahabi di Indonesia: Dialog dan Kritik,(Yogyakarta: Penerbit BinaHarfa, 2009)

(7)

7

Muhammad bin Abdul Wahab. Muhammad ibn Abd al-Wahhab lahir pada tahun 1703 di Uyaynah, Arabia (sekarang bagian dari Arab Saudi). Ia meninggal dunia pada tahun 1792. ia menghabiskan waktu selama 4 (empat) tahun untuk belajar di Madinah. Mungkin di sini perlu dicatat bahwa pada waktu itu Madinah masih menjadi pusat pengetahuan dan pertukaran intelektual Islam yang penting, yang menarik banyak sarjana dan pelajar dari berbagai belahan dunia Islam. Di antara orang-orang yang pernah tercatat pernah menjadi guru dari Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab adalah Syeikh ‘Abdullah ibn Ibrahim, yang sama-sama berasal dari Najd, dan Muhammad Hayyat al-Sindi, seorang ahli hadis dari India.2

Muhammad bin Abdul Wahab mulai bergerak dan mengajarkan program pembaharuannya dinegerinya sendiri di Uyainah, disekitar tahun 1740 M. Sesudah bekerja giat kiankemari, akhimya mendapat pengikut yang cukup banyak pula. Akan tetapi juga banyak golongan-golongan yang menentang dan merintangi usaha pembaharuan Ini. Bahkan diantara orang yang menentang usaha pembaharuan, adalah saudaranya sendiri Sulaiman bin Abdul Wahab. Melihat pertumbuhan gerakan Wahabi yang bersikap keras menerapkan kembali ajaran ajaran Islam, maka Amir dari al Hasa yang menguasai Uyainah segera memerintahkan kepada Amir Uyainah untuk membunuh Muhammad bin Abdul Wahab. Akan tetapi amir Uyainah akhirnya memilih jalan tengah, yaitu dengan diam-diam memerintahkan Muhammad bin Abdul Wahab untuk melarikan diri dari Uyalnah. Akhirnya Muhammad bin Abdul Wahab pergi ke Dar'iyah karena negeri Ini agaknya tertarik terhadap ajaran Wahabi

Dari sisi ajaran, Wahabiyyah bercirikan puritan dan tradisional.

Kelompok ini menolak sumber doktrin selain dari Alquran dan Sunnah.

Kelompok ini membuat pendirian yang jelas terhadap tradisi dan praktik yang tidak berakar pada kedua sumber ini, dan menyebutnya sebagai bid’ah dalam keyakinan Islam. Kelompok ini bersikeras bahwa keagungan Islam dapat diperoleh kembali jika komunitas Muslim kembali pada prinsip- prinsip yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Penyebaran paham dan

2 Dr.Mizaj Iskandar, Sunni & Wahabi:mencari titik temu dan seteru ( Banda Aceh:Naskah Aceh, 2018 ) hal.

142

(8)

gerakan Wahabiyyah berawal dari koalisi antara Muhammad bin ‘Abd al- Wahab dan Muhammad ibn Sa’ud. Berbagai penaklukan dilakukan dan akhirnya menjadikan Wahabisme menjadi kekuatan dominan di Saudi Arabia sejak tahun 1800 sampai saat ini.3

B. Ajaran wahabi/salafi terkait amaliah tasawuf 1. Tawassul

Ulama dari beberapa golongan berbeda pendapat tentang hukum tawassul. Ada yang mengharamkannya, ada juga yang membolehkannya.

Kelompok yang mengharamkan menilai bahwa tawassul adalah bentuk syirik besar, yakni menyekutukan Allah SWT dengan meminta kepada selain-Nya. Nashiruddin al-Albani mengatakan dalam kitabnya al-Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu bahwa tawassul dengan dzat seseorang termasuk dengan dzat Nabi adalah perilaku yang dilarang oleh ulama terdahulu dan salaf. Ber-tawassul dengan meminta kepada Nabi setelah wafatnya juga dilarang oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab al-Qaidah al-Jalilah. Al-Albani berpendapat bahwa tawassul dengan dzat seseorang tidak memiliki landasan yang kuat dari Al-Qur’an dan hadis. Ia menilai hadis yang menjadi rujukan atas bolehnya tawassul, khususnya hadis yang diriwayatkan dari Malik al- Dar adalah hadis yang lemah. Golongan ini juga beranggapan bahwa tawassul dan berdoa dengan dzat seseorang bertentangan dengan QS. al- A’raf [7]: 180; “Hanya milik Allah al-Asma’ al-Husna, maka berdoalah dengan menyebutnya”. Ayat ini secara eksplisit memerintahkan untuk berdoa hanya dengan kedudukan Allah yang ditujukan kepada-Nya. 4

Golongan kontra dipelopori oleh paham Wahabi. Paham yang dirintis oleh ulama, Muhammad bin Abdul Wahab. Mereka mengklaim diri sebagai kalanganahl al-hadis, yang beramal jika ada dalil yang dapat diterima sebagai hujjah. Pengikutnya antara lain Albani, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Banyak ayat Al-

3 Mhd Syahnan & Abd Mukhsin, Perkembangan literatur keislaman (Medan:Perdana Publishing, 2022) hal.60

4 Eko Zulfikar, pemahaman hadis tawassul: analisis pro-kontra tawassul dengan dzat seseorang, Jurnal Studi hadis nusantara, Vol.5 No 1 Juni 2023, h.66

(9)

9

Qur’an yang mereka kemukakan dan yang mereka pahami sebagai dalil pelarangan tawassul. Di antara poin penting alasan mereka melarang tawassul adalah tawassul merupakan perbuatan bid’ah dan syirik.5

Mahrus Ali, dalam bukunya Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik, mengomentari hadis di atas dengan mengutip kitab Zadul Ma’ad (2/369). Di dalam riwayat tersebut terdapat perawi Fadhl bin Muwaffaq yang lemah dan Fudhail bin Marzuq yang selalu berkata benar, tertuduh syi’ah, suka melamun, dan meyampaikan hadis yang tidak tepat.

Keberadaan perawi tersebut menyebabkan kulitasnya dha’if jiddan. Mahrus Ali mengatakan bahwa tawassul merupakan perbuatan bid’ah karena tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Ia menambahkan bahwa bid’ah harus ditolak, sekalipun ada maksud baik atau motif baik sebab akan membawa kejelekan, kerusakan, dan mengubah ajaran. Bila masalah ini dibuka maka urusan agama akan rusak. Kerusakan disebabkan karena banyak masalah yang akan dimasukkan ke dalam agama. Umat Islam pun menjadi mirip dengan orang Yahudi dan Nasrani.6

para ulama yang membolehkan tawassul memberikan beberapa catatan, antara lain:

a. Tawassul adalah salah satu cara berdoa, dan yang dituju asalnya (hakikatnya) adalah Allah SWT, mengingkari hal ini berarti telah musyrik.

b. Tidak boleh ber-tawassul kepada sesuatu kecuali karena kecintaan kepada yang dia ber-tawassul dengannya dan kepercayaan bahwa Allah mencintai orang yang jadi wasilah tersebut, walaupun dalam hal ini memang ada ikhtilaf, dan sebagian sangat tidak menyukai hal ini.

c. Orang yang ber-tawassul jika ia meng-iktikad-kan bahwa yang dia jadikan wasilah mampu memberikan manfaat atau madharat sendiri maka telah musyrik.

d. Tawassul bukanlah perkara yang esensial dan penting, dan tidaklah pengabulan doa bergantung dengannya, bahkan hukum asal berdoa adalah langsung kepada Allah SWT.7

5 Desri Ningsih, “Tawassul dalam Perspektif Hadis (Kajian terhadap Hadis Kisah Tiga Pemuda Terperangkap Dalam Goa)”, Jurnal Ulunnuha, Vol. 9, No. 1, 2020, h. 76

6 Ibid

7 http://www.diyya.wordpress.com/tawassul/html, diakses pada Sabtu, 23 Maret 2024

(10)

2. Ziarah Makam

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990), ziarah diartikan sebagai “kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, misalnya makam, dsb.” Dari pengertian ini, tampak bahwa yang dikunjungi dalam kegiatan ziarah bukan sembarang tempat, melainkan tempat yang dianggap keramat, misalnya makam atau kuburan, seperti kuburan Syekh Mutamakin di Kajen, kuburan Syekh Jangkung, Raden Ayu Pandan Arum Raden Ayu Retno Jinoli, dan Kyai Momok di Desa Landoh Kecamatan Kayen, kuburan Adipati Pragolopati, Dewi Nawang Wulan, Dewi Nawangsih, Kyai Temu Ireng, dan Nyai Temu Ireng di Desa Tamansari Kecamatan Tlogowungu, dan sebagainya, serta tempat-tempat lain yang memiliki nilai sejarah spiritual tinggi.8

Ziarah ke makam, baik yang keramat maupun tidak, berkaitan erat dengan unsur keagamaan. Makam dalam banyak kebudayaan dan kepercayaan di seluruh dunia, menempati ruang spiritual yang istimewa, bahkan menjadi pusat kehidupan keagamaan di samping difungsikan sebagai kuil-kuil pemujaan. Sebagai tempat dikuburkannya jasad orang yang sudah meninggal, makam dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh-roh orang yang meninggal. Berziarah ke makam merupakan cara untuk berhubungan kembali secara spiritual dengan roh- roh tersebut Ziarah ke makam juga berkaitan dengan kehidupan sosial.

Orang yang ingin melakukan sesuatu atau kebutuhan tertentu, seperti membuka lahan pertanian, melangsungkan perkawinan, sampai berperang, merasa belum sah kalau belum meminta restu pada roh-roh nenek moyang. Rohroh itu dipercaya dapat melindungi mereka, mengabulkan permohonan mereka, bahkan dapat pula menghukum kalau mereka melakukan pelanggaran . Penghormatan kepada orang- orang yang telah meninggal diwujudkan dalam berbagai cara, misalnya mengadakan upacara kematian dengan ritual dan peralatan yang rumit,

8 AH.Choirun, Menggali Makna Ziarah Di Makam Mursyid Toriqoh Syekh Mutamakin Kajen Dalam Perspektif Konseling Tasawuf, Vol. 8, No. 1, Juni 2017, h.111

(11)

11

pembangunan kuburan secara mewah, di beberapa tempat disertai makanan dan harta untuk bekal perjalanan sang arwah, sampai pendirian kuil-kuil pemujaan.9

Ziarah kubur adalah mendatangi kuburan dengan tujuan untuk mendoakan ahli kubur dan sebagai pelajaran bagi peziarah bahwa tidak lama lagi juga akan menyusul menghuni kuburan sehingga dapat lebih Dari pengertian dan definisinya ziarah kubur adalah suatu kegiatan atau aktivitas mengunjungi makam dari orang yang telah meninggal dunia baik yang dulu semasa hidupnya kita kenal maupun yang tidak kenal.

Pada saat berziarah ke kuburan sebaiknya anda mengikuti tata cara yang baik agar mendatangkan hikmah bagi yang berziarah maupun yang diziarahi. Secara garis besar ziarah kubur dapat dibagi dua, yaitu ziaran kubur yang syar’iayh dan ziarah kubur syirkiyah. Pertama, ziarah kubur yang disyari’atkan dalam Islam adalah berziarah ke kubur Muslimin, dan mengucapkan salam atas mereka, mendo’akan untuk mereka agar diberi ampunan dan maghfirah, sebagaimana terdapat dalam hadits- hadits. Hendaklah kamu mengambil pelajaran dengan keadaan mereka dahulunya bahwa mereka dulu begini dan begitu, mereka adalah para nabi, wali, shalihin, dan para raja. Mereka telah mati, telah dipendam, telah menjadi tanah, dan mereka telah menjumpai apa yang telah mereka perbuat baik berupa kebaikan atau keburukan. Kedua, ziarah kubur yang syirkiyah atau menyekutukan Allah dan sangat dilarang dalam Islam adalah apabila peziarah menciumi kuburan, atau sujud di atasnya, atau mengusap-usapnya, atau memanggil -manggil penghuninya, atau minta pertolongan padanya (istighatsah dengan kubur), atau minta keselamatan (istinjad) padanya, atau bernadzar (misalnya kalau sukses usahanya maka akan mengadakan penyembelihan) untuk kubur, atau menyangka atau meyakini bahwa (mayit) yang dikubur itu bisa memberi manfaat atau madharat padanya. Ziarah kubur model ini bertentangan dengan ajaran Islam dan banyak diperbuat oleh orang jahiliyah. Oleh karena itu

9 AH.Choirun, Menggali Makna Ziarah Di Makam Mursyid Toriqoh Syekh Mutamakin Kajen Dalam Perspektif Konseling Tasawuf, Vol. 8, No. 1, Juni 2017, h.112

(12)

dulu Nabi Muhammad Saw melarang ziarah kubur.10

3. Tabarruk

Kata berkah secara bahasa artinya bertambah atau berkembang, yaitu salah satu definisi yang diambil dari kata ba-ra-ka. Secara istilah, berkah ialah bertambahnya kebaikan dalam segala bidang. Redaksi lain menyebutkan bahwa berkah ialah karunia Allah SWT. yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Allah SWT.

menggunakan kata ini dalam bentuk jamak, yaitu barakat. Artinya ialah rahmat, kasih sayang yang diberikan oleh-Nya kepada manusia hal ini bisa kita temukan ayatnya dalam Al-Qur’an. Bisa juga diartikan berkah itu dipahami sebagai bahagia, laksana pundi-pundi kebaikan dan berlimpahnya nikmat yang diperoleh dari Allah SWT. Sedangkan kata tabarruk secara bahasa ialah bentuk masdar dari tabarraka-yatabarraku, sehingga tabarraktu bi bermakna mengharap dengan perantara sesuatu . Secara istilah, ialah sebuah kebaikan yang ada dalam sesuatu.

Dalam kitab Tahdzibul-Lughah disebutkan bahwa maksud dari tabarruk ialah mencari tambahan kebaikan dari mutabarrak bih (yang ditabaruki) Jadi, bertabarruk ialah suatu upaya perilaku yang bertujuan mencari berkah lewat perantara benda maupun seseorang yang dikehendaki oleh Allah SWT. untuk memperoleh keberkahan dari-Nya. Dari definisi yang telah penulis jelaskan, dapat ditarik kesimpulan bahwa berkah ialah bertambahnya kebaikan atau kebahagiaan, yang bisa kita dapatkan dengan upaya tabarruk terhadap benda ataupun seseorang yang dikehendaki Allah SWT. bisa memperoleh keberkahan dari-Nya.11

10 Ibid, h.123

11 Muhammad Rijal Zaelani, Konsep Berkah dalam Pandangan Ahlussunnah: Analisis Syarah Hadis tentang Tabarruk, Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin Vol. 2 No. 2 (April 2022), h.238-239

(13)

13 4. Zikir

Dalam tarekat, amalan zikir muncul sebagai ritual yang sangat diutamakan. Zikir atau zikrullah mempunyai berbagai takrif dari segi bahasa dan istilah.Menurut al-ausahal-Fiqhiyah zikir dari segi bahasa ialah sesuatu yang disebut dengan lisan atau menghadirkan sesuatu pada hati. Dari segi istilah fikih pula, zikir ialah ingatan hamba kepada Tuhannya sama ada dari segi zat, sifat, perbuatan, hukum, membaca al-Quran,berdoa, mensucikan-Nya, memuliakan-Nya, mentauhidkan-Nya, memuji-Nya, mensyukuri-Nya dan mengagungkan- Nya. Ulama-ulama tasawuf pula mengemukakan takrif istilah zikir yang pelbagai dengan lebih halus dan terperinci.

Al-Sakandari menyatakan zikir dari segi bahasa bermaksud sebut dan ingat.Dari sudut peristilahan tasawuf pula, zikir bermaksud terlepas daripada kelalaian dan kelupaan hati dengan sentiasa merasa hadir hati berserta Allah.Ia bermaksud ingatan dan kehadiran hati yang kuat lagi berterusan terhadap makna-makna ketuhanan Allah sehingga terbuang kelalaian daripada hati tersebut.

Takrifan ini selari dengan kenyataan al-Harawi danal- Kamshakhanawi Takrifan lain sepertiungkapan Muhammad ibn Kakis bahawa zikir ialah “engkau hilang daripada kewujudanmu dengan syuhdkepada-Nya Apapun tafsir yang dikemukakan oleh para ulama sufi, rumusannya ialah zikir merupakan perbuatan mengingati Allah SWT setiap masa tanpa lalai yang boleh mengekang seseorang daripada syuhd(menyaksikan dengan mata hati) terhadap-Nya. Dalam dunia tarekat tasawuf, zikir merupakan suatu ibadah yang amat dititikberatkan kerana ia merupakan metodkerohanian seorang sālik (orang yang berusaha menuju kepada Allah melalui ilmu tarekat tasawuf) untuk mencapai makrifatullah.12

Bagi zikir darajah, ia diamalkan oleh orang yang ingin mengikuti jalan sufi atau ahli tarekat. Mereka digelar sebagai sālik iaitu para penempuh jalan rohani iaitu murid dalam sebuah tarekat,

12 Thahirah dkk, Konsep Zikir Darajah Dalam disiplin ilmu tarekat, Jurnal Islam dan Masyarakat Kontemporari Bil. 8 Jun 2014, h.63

(14)

Tujuan seorang sāling mengamalkan zikir tarekat ialah untuk menyucikan diri dari maksiat zahir dan batin demi menuju kepada Allah atau mengenal Allah dengan sebenar-benar kenal .Al-Ghazali menyatakan buah amalan mereka adalah memutuskan segala hambatan nafsu dan menyucikan akhlak yang tercela serta semua sifat jahat. Dengan cara itulah manusia boleh sampai pada pengosongan hati dari selain Allah SWT, dan mengisinya dengan zikir pada Allah. Al-Sakandari dalam Matnual-Ḥikam menyatakan zikir adalah merupakan jalan yang paling dekat untuk mendekatkan atau menuju kepada Allah.

Kriteria zikir darajah Terdapat beberapa ciri yang membezakan di antara kedua-dua jenis zikir tersebut.Antara kelainannya ialah dari aspek bimbingan mursyid, adab, kaifiat, keperluan ayah,talqin danirsyād.13

5. Shalawat

Di dalam tarekat, praktik shalawat seringkali menjadi inti dari wirid (dzikir yang rutin diamalkan). Para murid atau pengikut tarekat melakukan shalawat secara berulang-ulang dengan tujuan untuk memperdalam hubungan spiritual mereka dengan Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT.

- Manfaat dan Keutamaan Shalawat dalam Tarekat

1. Pembersihan Hati: Shalawat dipandang sebagai sarana untuk membersihkan hati dari penyakit spiritual dan menciptakan rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW.

2. Pengangkatan Derajat Spiritual: Dengan konsisten dalam melakukan shalawat, diharapkan seseorang dapat mencapai derajat spiritual yang lebih tinggi di hadapan Allah SWT.

3. Syafaat di Hari Kiamat: Praktik shalawat diyakini dapat menjadi penyebab untuk mendapatkan syafaat (bantuan atau perantaraan) dari Nabi Muhammad SAW di hari kiamat.

- Peran Shalawat dalam Kehidupan Sehari-hari

Praktik shalawat tidak hanya terbatas pada sesi-sesi dzikir dalam tarekat,

13 Ibid, h.65

(15)

15

tetapi juga menjadi bagian dari ibadah sehari-hari umat Islam. Orang- orang sering melakukan shalawat secara rutin sebagai ungkapan cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

6. Nida

Nida adalah salah satu praktik dalam tasawuf dan tarekat yang sering kali menjadi perdebatan di antara ulama. Praktik ini melibatkan pengulangan zikir atau doa dengan nada yang melantun atau bersahut- sahutan, yang dianggap oleh aliran Wahabi/Salafi sebagai bentuk bid'ah dan tidak didasarkan pada ajaran Islam yang murni.

- Argumentasi Ajaran Wahabi/Salafi Terkait Nida

Aliran Wahabi/Salafi umumnya menolak praktik nida dengan beberapa alasan yang mendasar:

1. Ketidaksesuaian dengan Sunnah: Mereka berpendapat bahwa tidak ada contoh dari Rasulullah SAW atau para sahabat yang melakukan praktik nida, sehingga dianggap sebagai bid'ah.

2. Potensi Syirik: Terdapat kekhawatiran bahwa praktik nida dapat membawa pada bentuk penyembahan selain Allah SWT, sehingga dianggap sebagai syirik.

3. Gangguan terhadap Fokus Ibadah: Pandangan mereka adalah bahwa praktik nida dapat mengalihkan fokus dari ibadah yang sebenarnya, yaitu ibadah kepada Allah SWT, menjadi fokus kepada pengalaman mistis atau emosional semata.

- Respons Terhadap Kritik

Meskipun demikian, penganut tasawuf dan tarekat seringkali merespons kritik aliran Wahabi/Salafi dengan berbagai argumen:

1. Tradisi dan Sejarah: Mereka mengklaim bahwa praktik nida memiliki akar dalam tradisi kultural dan sejarah Islam tertentu, meskipun tidak secara langsung didasarkan pada Al-Quran dan Hadis.

2. Bukti dalam Sejarah: Beberapa ulama besar dalam sejarah Islam,seperti Al-Ghazali dan Jalaluddin Rumi, mempraktikkan nida sebagai bagian dari ibadah mereka.

(16)

Pentingnya Pengalaman Subyektif: Mereka menekankan bahwa pengalaman spiritual dan ibadah dapat sangat subyektif, dan praktik seperti nida mungkin bermanfaat bagi sebagian individu dalam mencapai kedekatan dengan Allah SWT.

C. Konsep bidah dan kufur menurut para ahli

Bid’ah secara Bahasa adalah sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya. Sedangkan bid’ah dalam pengertian syari’at Islam adalah sesuatu baru yang tidak terdapat penyebutannya secara tertulis, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam hadits. (Sharih al-Bayan, j. 1, h. 278).

Menurut kaum wahabi, bid’ah adalah amalan/praktik kegamaan yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw dan tidak mempunyai dasar dalam teks Al-Qur’an. Sehingga, wahabisme kemudian menampilkan konsep bid’ah sebagai lawan negatif dari sunnah. Oleh karena itu, mereka membicarakan/mengikuti pemberantasan bid’ah/meninggalkan amalan bid’ah dan menegakkan sunnah. Bahkan golongan ini sebenarnya tidak mengakui bahwa bid’ah mempunyai sisi lain, yaitu bid’ah khasanah (bid’ah yang baik), namun mereka menganggap semua amalan termasuk dalam kategori bid’ah yang mereka anggap sebagai perbuatan buruk dan negative, dengan begitu mereka mudah memahami bahwa orang yang melakukan segala ritual bid’ah akan dimasukkan ke dalam neraka.14

Dalam amaliah-amaliah/ritual/tradisi Islam, praktik keagamaan yang sering dikatakan sebagai bid’ah oleh wahabi yang menjadi identitas muslim di Indonesia adalah diantaranya: Maulid Nabi, memperingati hari kematian sesama umat muslim (haul/tahlilan), sholawatan, dan praktik keagamaan lainnya yang dianggap tidak memiliki dasar. Konsep bid’ah yang dijadikan pegangan oleh kaum wahabi merupakan konsep dakwah yang dikemukakan oleh pendirinya (Muhammad bin Abdul Wahhab), yang dalam kitabnya ia mengatakan: “Ma ja’a anna al-bid’atu asyaddu min al-khabair” (Apa saying yang termasuk dalam kategori bid’ah termasuk dosa besar”. Dapat kita ketahui bahwa melakukan tradisi tahlilan, tawassulan, membaca Al-Qur’an, sholawatan, dan memperingati haul maka dianggap dosa besar oleh

14 Shiddiq, A. Tradisi Akademik Pesantren. TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam, 10 (2), h. 218-229. 2015

(17)

17

kelompok wahabi. Salah satu ulama wahabi kontemporer bernama Abdul Aziz bin Baz, mencantumkan dalam karyanya Syahru ats-tsalastatil ushul yang salah satu isinya adalah “barang siapa yang menyembah kepada selain Tuhan (Allah), baik itu Nabi, wali, pohon, atau yang lainnya, maka kaum wahabi menganggapnya kafir dan musyrik.15

Muhammad bin Abdul Wahab juga menyatakan dalam karyanya yang berjudul “Al-Ushul al-Tsalatsah” bahwa bid’ah ialah suatu perbuatan yang dilakukan seseorang untuk tujuan ibadah tetapi tidak mempunyai dasar tertentu dalam Al-Qur’an maupun al-Sunnah. Beliau menekankan, jika seorang muslim ingin mengucapkan atau melakukan sesuatu, ia harus mengetahui terlebih dahulu tentang Al-Qur’an dan al-Sunnah. Hal ini bertujuan agar setiap perkataan dan perbuatan seorang muslim mempunyai landasan dalil, dilakukan oleh Rasulullah, bahkan tidak bertentangan dengan syari’at.16

D. Dampak Reformos wahabi-salafi dalam fenomena gerakan anti Tasawuf oasca tahun 1950

Reformasi Wahabi-Salafi merupakan gerakan reformasi keagamaan yang bertujuan untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni berdasarkan Al-Quran dan Hadis. Gerakan ini dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan berkolaborasi dengan keluarga Saud untuk mendirikan negara Saudi Arabia pada abad ke-18. Salah satu karakteristik utama dari pemikiran Wahabi-Salafi adalah penolakan terhadap berbagai praktik tasawuf. Mereka menganggap tasawuf sebagai bid'ah (inovasi) dalam agama yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Pemikiran ini sangat memengaruhi pandangan umat Islam terhadap tasawuf, terutama di wilayah yang terpengaruh oleh pemikiran Wahabi-Salafi.

Pada Tahun 1950-an, terjadi fenomena gerakan anti-tasawuf yang dipengaruhi oleh pandangan Wahabi-Salafi. Gerakan ini terutama muncul di beberapa negara dengan pengaruh kuat dari pemikiran Wahabi-Salafi,

15 Shidqi, A. Respon Nahdlatul Ulama (NU) Terhadap Wahabisme Dan Implikasinya Bagi Deradikalisasi Pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 2(1), h. 109-130. 2013

16 Finsa Adhi Pratama and Ira Trisnawati, “Pemikiran Tajdid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Dalam Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah,” Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam, 2021.

(18)

seperti Arab Saudi, Mesir, dan beberapa negara di wilayah Timur Tengah.

- Dampak Reformasi Wahabi-Salafi terhadap Gerakan Anti-Tasawuf 1. Penyebaran Pemikiran Anti-Tasawuf: Pemikiran Wahabi-Salafi,

yang menolak praktik-praktik tasawuf, menyebar secara luas melalui lembaga-lembaga pendidikan, masjid, dan media di berbagai negara.

Hal ini menghasilkan munculnya gerakan anti-tasawuf yang semakin kuat, dengan para ulama dan aktivis menyerukan penolakan terhadap praktik-praktik tasawuf tradisional.

2. Pembatasan Aktivitas Tasawuf: Di beberapa negara, pemerintah yang terpengaruh oleh pemikiran Wahabi-Salafi mengambil langkah-langkah untuk membatasi aktivitas tasawuf, termasuk penutupan tarekat-tarekat tradisional dan larangan terhadap praktik- praktik tasawuf di masjid-masjid.

3. Polarisasi dalam Masyarakat Islam: Dampak reformasi Wahabi- Salafi menciptakan polarisasi dalam masyarakat Islam antara mereka yang mendukung tasawuf dan mereka yang menolaknya. Hal ini mengakibatkan ketegangan sosial dan kebingungan dalam masyarakat Muslim tentang peran dan relevansi tasawuf dalam kehidupan keagamaan.17

17 Abdul Mun’im Kholil, ‘Jejak Metodologis Anti-Sufi: Analisis KritisPemikiran Sufisme Ibn Taymiyah Dalam Jurnal’, Reflektika, Vol. 13.No. 1., h. 34.

(19)

19 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Wahabiyah merupakan paham keagamaan yang muncul di awal abad ke-20 di Saudi Arabia. Paham ini dikenalkan pertama sekali oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.Pemikiran ulama ini didukung oleh Kerajaan Saudi Arabia. Ada banyak ulama yang menjadi tokoh sentral Wahabi asal Saudi Arabia, di antaranya ‘Abd al-‘Aziz bin Baz, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dan Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin.

Mahrus Ali, dalam bukunya Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik, mengomentari hadis di atas dengan mengutip kitab Zadul Ma’ad (2/369). Di dalam riwayat tersebut terdapat perawi Fadhl bin Muwaffaq yang lemah dan Fudhail bin Marzuq yang selalu berkata benar, tertuduh syi’ah, suka melamun, dan meyampaikan hadis yang tidak tepat.

Keberadaan perawi tersebut menyebabkan kulitasnya dha’if jiddan. Mahrus Ali mengatakan bahwa tawassul merupakan perbuatan bid’ah karena tidak ada pada masa Rasulullah SAW.

Menurut kaum wahabi, bid’ah adalah amalan/praktik kegamaan yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw dan tidak mempunyai dasar dalam teks Al-Qur’an. Sehingga, wahabisme kemudian menampilkan konsep bid’ah sebagai lawan negatif dari sunnah.

Reformasi Wahabi-Salafi merupakan gerakan reformasi keagamaan yang bertujuan untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni berdasarkan Al-Quran dan Hadis. Gerakan ini dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan berkolaborasi dengan keluarga Saud untuk mendirikan negara Saudi Arabia pada abad ke-18.

B. Saran

Dengan disusunnya makalah ini, kami berharap kepada Allah SWT semoga makalah ini bisa menjadi bahan pembelajaran yang bermanfaat.

(20)

Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangannya dan bahkan kesalahannya. Oleh karena itu, kami membutuhkan kritik dan saran dari para pembaca, agar kedepannya bisa lebih baik lagi.

(21)

21

DAFTAR PUSTAKA

Azisi, Ali Mursyid Azisi Ali Mursyid, Wiwik Setiyani, and Hotimah Novitasari.

"Nahdlatul Ulama, Tradisi dan Wahabi: Penafian Pengikut Wahabi terhadap Tradisi Tahlilan Masyarakat Nahdliyin." Ansoruna: Journal of Islam and Youth Movement 1.1 (2022): 1-26.

Choirun AH, (2017) Menggali Makna Ziarah Di Makam Mursyid Toriqoh Syekh Mutamakin Kajen Dalam Perspektif Konseling Tasawuf, Vol. 8, No. 1, Hassan basri, t. B., badaruddin, f. B., & mohamad, a. M. B. (2014). Konsep zikir

darajah dalam disiplin ilmu tarekat.

Kholil, abdul mun’im. jejak metodologis anti-sufi: analisis kritis pemikiran sufisme ibn taymiyah dalam jurnal reflektika, vol. 13.no. 1.

Muhammad Rijal Zaelani (2022) Konsep Berkah dalam Pandangan Ahlussunnah:

Analisis Syarah Hadis tentang Tabarruk, Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin Vol. 2 No. 2

Ningsih Desri, (2020) “Tawassul dalam Perspektif Hadis (Kajian terhadap Hadis Kisah Tiga Pemuda Terperangkap Dalam Goa)”, Jurnal Ulunnuha, Vol. 9, No. 1.

Pratama, Finsa Adhi, and Ira Trisnawati. “Pemikiran Tajdid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Dalam Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah.” Zawiyah:

Jurnal Pemikiran Islam, 2021.

Shiddiq, A. Tradisi Akademik Pesantren. TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam, 10 (2), h. 218-229. 2015

Shidqi, A. (2013). Respon Nahdlatul Ulama (NU) Terhadap Wahabisme Dan Implikasinya Bagi Deradikalisasi Pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 2(1), h. 109-130. 2013

Zulfikar Eko , (2023) pemahaman hadis tawassul: analisis pro-kontra tawassul dengan dzat seseorang, Jurnal Studi hadis nusantara, Vol.5 No 1

Referensi

Dokumen terkait