Kucing yang Bernama Nino
Ayumi sedang menyusun kue kering yang akan dibawanya besok. Hari sudah semakin gelap, bintang-bintang menampakkan kemilaunya dilangit malam. “Yu, ada kucing masuk!” teriak ibu Ayumi yang kebetulan sedang mencuci piring didapur.
Sehingga ia dapat melihat kucing itu masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Ayumi mencari-cari keberadaan kucing itu didalam rumahnya dan akhirnya ia menemukan kucing itu berada dibawah meja makan. “Imut sekali!” batin Ayumi.
Kucing itu berwarna putih dengan beberapa pola hitam di kedua telinganya, badannya juga berisi, kucing itu memiliki wajah sangar dengan matanya yang berwarna kuning dan sayang sekali kaki sebelah kirinya pincang sehingga ia sedikit sulit berjalan.“Meong, meong..ayo kita keluar meong..” ucap Ayumi pada kucing itu.
Kucing itu hanya melihatnya saja dan mengusap-usapkan kepalanya dikaki kursi.
“Ayo sini.” Ayumi melangkah menuju dapur dan kucing belang itu mengikutinya. “Ma, kucingnya gak mau keluar.” adu Ayumi pada ibunya, Ayumi ingin mengangkat kucing itu agar keluar namun ia memiliki phobia terhadap semua binatang. Ayumi berdiri didepan pintu belakang dan kucing itu masih berdiri disebelah Ayumi. “Hei, ayo keluar. Ini udah malam, besok lagi jika ingin main ke sini.” ucap Ayumi pada kucing itu. “Ayo duduk disitu, biar kucingnya ngikut kita.”ajak ibu Ayumi.
Ayumi dan ibunya duduk di kursi yang ada didapur kotor yang sengaja diletakkan di luar. “Cantik sekali. Kucing siapa ini?” ucap ibu Ayumi sembari mengelus-elus kepala si kucing. Kucing itu mendudukkan badannya dilantai dan berguling-guling kesana kemari bahkan ia menutup matanya ketika ibu Ayumi mengelus kepalanya seakan-akan menikmati dan ingin bermanja-manja. “Udah malam banget, meong pulang ya.” Ibu Ayumi melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah namun kucing itu mengikuti, ibu Ayumi menghentikan langkahnya dan mengusap- usap kepala kucing itu, “Udah malem, besok lagi ya. Pulang sana.” ucapnya halus.
“Meong..meong…” sahut si kucing yang seakan-akan tidak ingin kemana-mana.
Dengan terpaksa ibu Ayumi meletakkan kucing itu di kursi yang mereka duduki tadi lalu berlari masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Setengah jam kemudian, Ayumi dan ibunya mengintip kucing itu melalui pintu belakang yang dibuka sedikit, kucing itu memandang kea rah mereka berdua, “Meong..meong..meong..” “Besok lagi ya mainnya,” ucap Ayumi lalu mereka meninggalkan si kucing diluar.
Keesokkan harinya, Ayumi keluar mengambil handuk dan melihat kucing yang tadi malam ke rumahnya. “Loh?” tanya Ayumi heran. “Ma! Kucingnya kok masih disini?” “Kayaknya dia tidur dikursi ini soalnya mama buka pintu dia masih tiduran dikursi.” jelas ibu Ayumi. “Meong..” kucing itu meregangkan ototnya dan menguap, membuka mulutnya lebar-lebar. “Hei, kau nakal gak? Jangan nakal ya, jangan suka nyakar.” gumam Ayumi karena ia takut dengan binatang.
“Meong sini… makan ini.” Ibu Ayumi meletakkan sebuah piring yang berisi sedikit daging ikan dan kepala ikannya serta nasi dilantai. Kucing itu segera berlari ke piring itu dan mengendus-endusnya, “Makan ya. Ma, minumnya mana?” tanya Ayumi sambil menoleh kearah ibunya. Ibunya mencari-cari wadah yang bias digunakan untuk air si kucing dan kebetulan menemukan botol air mineral besar, ia memotongnya lalu mengisinya dengan air. “Nah, ini minum meong ya.” Kucing itu asyik makan, “Gak suka nasi?”tanya Ayumi yang masih setia duduk disebelah si kucing yang sedang makan, Ayumi memerhatikan jika nasinya masih utuh namun kepala ikannya sudah habis. Kucing itu melihat kearah Ayumi lalu meminum dengan perlahan.
Besoknya, kucing itu juga masih berada dirumah Ayumi bahkan ia tidak pernah pergi kemanapun kecuali jika sedang membuang kotorannya. “Meong mau tinggal disini ya?” tanya Ayumi seraya mengelus kepala kucing itu. Ayumi baru berani menyentuh kucing itu setelah orang tuanya mengatakan jika si kucing itu tidak akan menyakar dan nakal. “Dia tidur dimana?” pikir ibu Ayumi yang masih
memikirkan dimana dan dengan apa si kucing tidur. “Ada kotak gak digudang?”tanya ayah Ayumi. “Bentar, mama cari di gudang dulu.”
Ibunya pergi ke gudang yang berada didalam rumah, tidak lama kemudian ibu Ayumi keluar dan membawa sebuah kardus yang berukuran sedang. “Meong tidur sini ya, ayo sini.” Ibu Ayumi menggendong si kucing dan memasukkan ke dalam kardus yang diisi baju yang tidak terpakai. Si kucing menurut dan menidurkan badannya didalam kardus dan orang tua serta Ayumi masuk ke dalam rumah.
Empat hari berlalu dan si kucing masih tetap berada dirumah Ayumi dan orang tua Ayumi setuju akan merawat si kucing itu. Mereka memandikan, mengobati luka si kucing dan memberi makan si kucing. Hari ini sudah hari keempat si kucing dirumah dan kucing itu suka mengelus-eluskan kepalanya ke kaki mereka dan mengikuti kemanapun mereka bertiga pergi jika dirumah. “Kita kasih nama siapa si meong?” tanya ibu Ayumi, saat ini mereka sedang menonton tv dengan si kucing yang tiduran di keset. “Kasih nama Garfield aja, Ma.” “Gak, gak. Gak cocok sama meong. Coba kita cari diinternet.” Ibu Ayumi mulai mencari, “Vino aja. Vino!”
panggil sang ibu pada si kucing, si kucing tidak mau menoleh. “Meong!” panggil Ayumi. “Bastian. Alex. Kenjiro.” tetap kucingnya tidak menoleh. “Nino.” ucap ibu Ayumi. “Nino. Nino. Nino.” Si kucing pun menoleh kearah Ayumi. “Oke namanya Nino!” dan sejak saat itu Ayumi menjadi akrab dengan Nino dan tidak takut kucing lagi.