• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR - Repository Poltekkes Kaltim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN AKHIR - Repository Poltekkes Kaltim"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Keaslian Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Landasan Teori

  • Konsep Dasar Masa Nifas
  • Konsep Payudara
  • Konsep ASI
  • Konsep Perawatan Payudara

Kebutuhan kalori pada masa menyusui sebanding dengan jumlah ASI yang diproduksi dan lebih tinggi pada masa menyusui dibandingkan pada masa kehamilan. Pada persalinan normal, ambulasi sebaiknya dilakukan setelah 2 jam. ibu mungkin miring ke kiri atau ke kanan untuk menghindari adanya trombosit). a) Keuntungan ambulasi dini adalah sebagai berikut (a) Ibu merasa sehat dan kuat. Mandi di tempat tidur sampai ibu bisa mandi sendiri di kamar mandi, bagian yang paling penting dibersihkan adalah puting susu dan ibu.

Kebersihan harus diperhatikan dan luka patah (rhagade) harus segera diobati, karena kerusakan pada puting susu merupakan port de enteree dan dapat menyebabkan mastitis. Oleh karena itu, sebaiknya bersihkan puting susu dengan air matang setiap kali sebelum menyusui. Lochia adalah cairan yang keluar dari vagina pada masa nifas dan tidak lebih dari keluarnya cairan dari rahim, terutama cedera plasenta.

Alat kontrasepsi yang cocok untuk ibu nifas antara lain metode Amenore Laktasi (MAL), pil progestin (pil mini), suntik progestin, alat kontrasepsi implan dan alat kontrasepsi dalam rahim (Dewi dkk, 2011). 8). Zat pelindung tersebut antara lain sebagai berikut. a) Lactobacillus bifidus (mengubah laktosa menjadi asam laktat, asam asetat, yang dapat memberikan keasaman pada pencernaan sehingga menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Retak pada puting susu dapat sembuh sendiri dalam waktu 48 jam. a) Penyebab puting lecet adalah sebagai berikut.

Jika puting susu terbalik saat hamil, sebaiknya puting ditarik menggunakan minyak kelapa setiap kali mandi, 2-3 kali sehari. Gejala payudara bengkak adalah: bengkak, nyeri, puting kencang, kulit mengkilat namun tidak merah, ASI tidak keluar, badan terasa meriang setelah 24 jam. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah kelahiran, yang disebabkan oleh tersumbatnya saluran susu secara terus menerus.

Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya daya hisap/keluarnya ASI atau penyedotan yang tidak efektif, bisa juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan dari pakaian/bra. a) Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut. Salah satu permasalahan menyusui pada masa awal persalinan adalah puting lecet, puting perih, payudara bengkak, dan mastitis. Ibu disarankan untuk menyusui minimal delapan kali sehari pada bulan-bulan pertama setelah melahirkan untuk menjamin produksi dan sekresi ASI (Ria, 2012).

Perawatan payudara merupakan suatu upaya perawatan payudara khususnya pada masa nifas (masa menyusui) agar pemberian ASI lebih mudah (Saleha, 2009). Pijatan ini akan memberikan rasa nyaman dan rileks pada ibu bersalin setelah proses melahirkan, karena tidak menghambat sekresi hormon prolaktin dan oksitosin (Biancuzzo, 2003: Roesli, 2009). Pijat oksitosin dapat dilakukan segera setelah melahirkan. . ibu melahirkan anaknya dengan durasi 2-3 menit, frekuensi pemberian pijatan adalah 2 kali sehari.. 1) Untuk menjaga kebersihan payudara agar tidak terjadi infeksi 2) Untuk membuat puting susu lentur sehingga bisa tidak mudah sakit.

Kerangka Teori

Kerangka Konsep Penelitian

Hipotesis/ Pertanyaan Penelitian

METODE PENELITIAN

  • Jenis Penelitian dan Desain
  • Waktu dan Tempat Penelitian
  • Populasi dan Sampel
  • Variabel
  • Definisi Operasional
  • Instrumen Penelitian
  • Teknik dan Analisa Data
  • Langkah-Langkah Penelitian

Bab ini akan memaparkan karakteristik responden yang terdiri dari umur, pendidikan, pekerjaan, paritas dan hasil penelitian variabel perawatan payudara pada ibu nifas normal dan analisis bivariat yaitu pengaruh perawatan payudara terhadap produksi ASI pada ibu nifas. ibu. Nilai mean, median, mode dan standar deviasi produksi ASI di wilayah kerja Puskesmas Temindung Samarinda Tahun 2017. Hasil analisis statistik uji untuk mengetahui pengaruh perawatan payudara terhadap produksi ASI pada masa nifas ibu dengan menggunakan uji t independen memberikan nilai probabilitas (p-value). ) = 0,000 lebih kecil dari α (0,05) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara ibu nifas yang mendapat pijat oksitosin dengan yang tidak mendapat pijat oksitosin.

Dengan demikian dapat disimpulkan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan perawatan payudara terhadap produksi ASI pada ibu nifas normal di wilayah kerja Puskesmas Temindung Samarinda tahun 2017. Hal ini terbukti dari penelitian Wijayanti (2014), Pemberian pijat oksitosin akan lebih memperlancar produksi ASI pada ibu nifas, dimana secara fisiologis pijat oksitosin merangsang refleks oksitosin atau merangsang refleks ke bawah untuk mengeluarkan hormon oksitosin ke dalam darah. Keluarnya kolostrum merupakan tanda aktifnya refleks oksitosin, artinya ibu yang mendapat pijat oksitosin mempunyai produksi ASI lebih cepat dibandingkan ibu yang tidak mendapat pijat oksitosin (Perinasia, 2007).

Dari hasil penelitian yang diperoleh terlihat bahwa 15 orang kelompok intervensi yang diberikan pijat oksitosin rata-rata produksi ASInya lebih banyak yaitu 40,67cc dibandingkan 15 orang kelompok kontrol yaitu 34,07cc. Untuk melihat pengaruh perawatan payudara pada ibu nifas normal terhadap produksi ASI di Wilayah Kerja Puskesmas Temindung Samarinda tahun 2017 dilakukan uji t independen dan diperoleh p-value sebesar 0,000 lebih kecil dari α (0,05). sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan terhadap produksi ASI antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol di Wilayah Kerja Puskesmas Temindung Kota Samarinda Tahun 2017. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Komunitas Temindung Samarinda Wilayah kerja Puskesmas tahun 2017 tentang pengaruh perawatan payudara ibu nifas normal terhadap produksi ASI dengan menggunakan data primer yang diperoleh sejak tanggal 01 Mei 2017 sampai dengan tanggal 31 Mei 2017 maka dapat disimpulkan.

Terdapat perbedaan jumlah produksi ASI hari ketiga setelah melahirkan antara primipara yaitu 38,42cc dan multipara yaitu 42,6cc. Terdapat pengaruh perawatan payudara terhadap produksi ASI pada ibu nifas normal di wilayah kerja Puskesmas Temindung Samarinda tahun 2017 dengan p-value 0,00 < α (0,05). Efektivitas pemberian paket keberhasilan produksi ASI pada ibu menyusui dengan operasi caesar di wilayah Depok, Jawa Barat.

Efektivitas pijat oksitosin dan perawatan payudara dalam memperlancar produksi ASI pada ibu pasca operasi caesar di RS Wira Bhakti Mataram Tahun 2015. Hubungan perawatan payudara dengan produksi ASI pada ibu primipara di wilayah kerja Puskesmas Wongggaditi Kota Gorontalo . Model pengaruh dukungan teman sebaya dan pasangan ibu hamil terhadap kelancaran produksi ASI dan keputusan menyusui (teori perilaku terencana/pendekatan TPB).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2017 di wilayah kerja Puskesmas Temindung Samarinda dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh antara tanggal 1 Mei 2017 sampai dengan tanggal 31 Mei 2017, dengan jumlah sampel atau subjek penelitian sebanyak 30 orang ibu nifas normal yang memenuhi kriteria inklusi. . Sebaran karakteristik berdasarkan paritas (jumlah anak) ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Temindung Samarinda Tahun 2017.

Tabel 4.1 diatas menunjukan distribusi kelompok responden,  sebagian  besar responden berusia 20-35 tahun sebanyak 26 orang (86,7%) dan  sebagian kecil responden berusia <20 tahun sebesar 4 orang (13,3%)
Tabel 4.1 diatas menunjukan distribusi kelompok responden, sebagian besar responden berusia 20-35 tahun sebanyak 26 orang (86,7%) dan sebagian kecil responden berusia <20 tahun sebesar 4 orang (13,3%)

Pembahasan

Pijat oksitosin dan cara pengobatan lainnya akan paling efektif bila dilakukan pada hari pertama dan kedua pasca melahirkan, karena pada hari kedua ASI yang diproduksi belum cukup sehingga harus dilakukan tindakan untuk merangsang hormon laktasi (Budiarti, 2009). Seorang primipara merasa lebih cemas dan keadaan psikologisnya tidak stabil, hal ini akan mempengaruhi pelepasan hormon yang berperan dalam produksi ASI. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan nilai mean, median, modus dan standar deviasi produksi ASI pada kelompok intervensi dan kontrol yaitu nilai mean pada kelompok intervensi sebesar 40.66, mean sebesar 40.00, modus sebesar 40.00, nilai mean sebesar 40.00, nilai mean sebesar 40.00. simpangan baku 3,01, minimum 37,00 dan maksimum 48,00 mempunyai skor lebih besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu mean 34,06 median 34,00 modus 30,00 standar deviasi 3,67 minimum 29,00 maksimum 39,00.

Peneliti berasumsi bahwa ketika melakukan pijat oksitosin pada ibu nifas, ibu akan merasa lebih nyaman dan rileks, sehingga hal inilah yang menyebabkan peningkatan hormon oksitosin yang berfungsi memperlancar keluarnya ASI. Dengan melakukan pijat oksitosin maka ibu akan merasa rileks dan nyaman, rasa lelah setelah melahirkan akan hilang sehingga pijatan akan merangsang hormon oksitosin dan ASI akan cepat keluar, saraf parasimpatis akan mempercepat penyampaian perintah ke otak. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ummah (2014) yang menyatakan bahwa ASI tidak diproduksi hanya karena produksi ASI tidak ada atau tidak mencukupi, namun seringkali produksi ASI mencukupi namun pengeluarannya terhambat karena adanya hambatan pada oksitosin. sekresi. .

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Mawaddah (2015) yang mengatakan bahwa melalui pijat oksitosin kontraksi otot polos, sensasi, pikiran dan perasaan ibu akan meningkat karena produksi hormon endorfin penyebab oksitosin. untuk dibentuk sehingga dapat menyebabkan produksi ASI. Kemudian pada kelompok kontrol, peneliti menyuruh para ibu untuk tidak melakukan pijat oksitosin atau pijatan apapun di area tersebut. Perawatan payudara dilakukan pada ibu primipara dan multipara pasca melahirkan selama 6-8 jam dengan jumlah responden sebanyak 30 orang di wilayah kerja Puskesmas Temindung selama 3 hari berturut-turut.

Tenaga kesehatan khususnya bidan diharapkan dapat memberikan edukasi kepada ibu mengenai pentingnya perawatan payudara setelah melahirkan. Perawatan payudara pada masa nifas dapat membantu memperlancar pemberian ASI. Asupan nutrisi dan faktor pendukung produksi ASI juga perlu dijaga agar produksi ASI dapat selalu berjalan lancar dan tidak mengganggu proses pemberian ASI pada bayi. Hubungan Perawatan Payudara Dengan Kelancaran Produksi ASI Pada Ibu Nifas Di Desa Wonorejo Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerjo.

Efektivitas kombinasi teknik meermet dan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu pasca operasi caesar di RSUD Jawa Tengah. Hubungan perawatan payudara pada ibu nifas dengan kelancaran produksi ASI di Desa Karang Duren Kecamatan Semarang. Pijat oksitosin untuk mempercepat pengeluaran ASI pada ibu pasca melahirkan normal di Dusun Sono Desa Ketanen Kecamatan Panceng Gresik.

Keterbatasan Penelitian

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

Keadaan mental dan pikiran yang tenang sangat mempengaruhi produksi ASI, jika ibu mengalami stres, pikiran depresi, gelisah, sedih dan tegang maka produksi ASI akan sangat terpengaruh. Ibu menyusui tidak disarankan menggunakan alat kontrasepsi berupa pil yang mengandung hormon estrogen, karena malah akan mengurangi jumlah ASI yang diproduksi. Sebelumnya peneliti membagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, dimana pada kelompok perlakuan peneliti memberikan pijat oksitosin pada ibu 6-8 jam setelah melahirkan selama 3 hari berturut-turut, dan selanjutnya pada hari ke 3. Sehari setelah melahirkan, peneliti mengukur produksi ASInya dengan cara memompa ASI dengan pompa tangan dan mengukur ASI sejumlah CC, sedangkan pada kelompok kontrol peneliti tidak memijat ibu dengan oksitosin pada 6-8 jam setelah melahirkan, melainkan hanya mengukur ASI pada hari ke 3 setelah melahirkan dengan menggunakan pompa ASI manual pada ibu nifas, kemudian peneliti membandingkan apakah terdapat perbedaan produksi ASI antara dua kelompok yang mendapat perlakuan dan tidak.

Gambar

Tabel 4.1 diatas menunjukan distribusi kelompok responden,  sebagian  besar responden berusia 20-35 tahun sebanyak 26 orang (86,7%) dan  sebagian kecil responden berusia &lt;20 tahun sebesar 4 orang (13,3%)
Tabel berikut ini menunjukkan distribusi responden menurut pekerjaan.
Tabel  4.4  diatas  menunjukan  distribusi  paritas  responden  dimana  sebagian  besar  paritas  responden  adalah  multipara    sebanyak  16  orang (53,3%) dan sebagian kecil  primipara14 orang (46,7%)
Tabel  4.6  diatas  menunjukkan  distribusi  jumlah  responden  yang   mempunyai  ASI  kurang  pada  primipara  sebanyak  8  orang  (57,1%),   pada  multipara  4  orang  (37,5%),  sedangkan  produksi  ASI  normal  pada  Primipara  sebanyak  6  orang  (43,9

Referensi

Dokumen terkait

COURSE MODULE Module/Course Title: Agricultural Engineering and Biosystems Management Module course code TPE 6110 Student Workload 8 hours, 30 minutes Credits 4.5 Semester 1