• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI ... - KKP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI ... - KKP"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

LAKIP DIT. KKJI 2017 i

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

2017

DIREKTORAT KONSERVASI KAWASAN DAN JENIS IKAN

TAHUN ANGGARAN 2017

LAPORAN AKUNTABILITAS

KINERJA INSTANSI

PEMERINTAH

(LAKIP)

(2)

LAKIP DIT. KKJI 2017 ii KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, hingga Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2017.

Penyusunan LAKIP 2017 Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut merupakan pertanggungjawaban atas pelaksanaan kinerja yang telah dicapai selama satu tahun dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel menuju good governance.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak terkait yang telah memberi sumbangsih dalam proses penyusunan LAKIP ini.

Semoga LAKIP 2017 ini, selanjutnya menjadi bahan pertimbangan dalam perbaikan program konservasi ke depan.

Jakarta, Januari 2017

Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Ir. Andi Rusandi, M.Si

(3)

LAKIP DIT. KKJI 2017 iii DAFTAR ISI

Hal

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tugas, Fungsi dan Dasar Hukum ... 2

BAB II. PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA ... 4

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA ... 7

Capaian Kinerja Organisasi... 7

BAB IV PENUTUP ... 46 LAMPIRAN

(4)

LAKIP DIT. KKJI 2017 iv DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 1 Perjanjian kinerja tahun 2017 Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut ... 4 Tabel 2 Rencana strategis Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut 2015 - 2019 ... 6 Tabel 3 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Dit KKHL Tahun 2017 ... 8 Tabel 4 Target dan Realisasi Sasaran Strategis Meningkatnya Kesejahteraan Masyarakat Kelautan Dan Perikanan ... 9 Tabel 5 Target dan Realisasi IKU PDB Tahun 2017 ... 10 Tabel 6 Target dan Realisasi Sasaran Strategis Terwujudnya Kedadulatan dalam

Pengelolaan SDKP ... 12 Tabel 7 Penilaian status level pengelolaan SKPT Mentawai ... 13 Tabel 8 Target dan Realisasi Sasaran Strategis Terwujudnya Pengelolaan SDKP yang

Partisipatif, Bertanggung jawab dan berkelanjutan ... 15 Tabel 9 Target dan Capaian kinerja yang dicapai oleh Dit KKHL ... 15 Tabel 10 Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia tahun 2017 ... 16 Tabel 11 Target dan Realisasi IKU jumlah kawasan konservasi yang meningkat kualitas

pengelolaan efektifnya tahun 2017 ... 18 Tabel 12 Penilaian E-KKP3K tahun 2017 ... 19 Tabel 13 Target dan Realisasi Sasaran Strategis Tersedianya Kebijakan Pembangunan KP yang Efektif ... 24 Tabel 14 Target dan Realisasi Sasaran Strategis Terselenggaranya Tata Kelola

Pemanfaatan SDKP yang Berkeahlian, Berdaya Saing dan Berkelanjutan ... 25 Tabel 15 Perbandingan target dan realisasi penambahan luas kawasan konservasi

perairan terhadap tahun-tahun sebelumnya ... 26 Tabel 16 Penambahan Luas Kawasan Konservasi Perairan Tahun 2017 ... 26 Tabel 17 Kawasan Konservasi Perairan yang di fasilitasi upaya pemanfaatannya ... 28 Tabel 18 Target dan realisasi jumlah kemitraan yang mendukung pengelolaan efektif

konservasi dan keanekaragaman hayati ... 29

(5)

LAKIP DIT. KKJI 2017 v Tabel 19 Target dan Realisasi Sasaran Strategis Terselenggaranya Pengendalian dan

Pengawasan SDKP yang Profesional dan Partisipatif ... 30 Tabel 20 Target dan realisasi pengelolaan jenis ikan terhadap tahun-tahun sebelumnya

dan jangka menengah ... 31 Tabel 21 Target dan Realisasi Indeks kompetensi dan integritas Dit KKHL ... 37 Tabel 22 Target dan Realisasi Sasaran Strategis Terwujudnya Manajemen Pengetahuan

Ditjen PRL yang Kompeten, Professional dan Berintegritas ... 38 Tabel 23 Target dan Realisasi IKU Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi DJPRL Tahun 2017 . 41 Tabel 24 Perbandingan Nilai AKIP Ditjen PRL Terhadap Realisasi Tahun 2015, 2016 dan

2017, berdasarkan Komponen penilaian AKIP ... 42 Tabel 25 Target dan Realisasi IKU Nilai Maturitas SPIP Tahun 2017 ... 43 Tabel 26 Target dan Realisasi Persentase tindak lanjut direktif pimpinan (%) ... 44 Tabel 27 Target dan Realisasi IKU Jumlah inovasi pelayanan publik Lingkup DJPRL Tahun 2017 ... 45 Tabel 28 Perbandingan Persentase Kepatuhan Tahun 2015 dengan Perencanaan Jangka

Menengah ... 48

(6)

LAKIP DIT. KKJI 2017 vi DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar 1 Level pengelolaan jenis ikan prioritas hingga tahun 2019 ... 31

Gambar 2 Grafik Capaian IKU MP KKP tahun 2017 ... 39

Gambar 3 Grafik Capaian per Komponen MP KKP tahun 2017 ... 40

Gambar 4 Rincian per komponen pembentuk MP Ditjen PRL tahun 2017 ... 40

Gambar 5 Capaian Nilai Kinerja Anggaran Ditjen PRL berdasarkan Aplikasi SMART-DJA ... 47

(7)

LAKIP DIT. KKJI 2017 1 BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki 17.480 pulau- pulau besar dan kecil serta garis pantai sepanjang 95.181 km. Dengan Luas daratan hanya 1,9 juta km2, maka 75% wilayah Indonesia berupa lautan, yang terdiri dari 3,1 juta km2 wilayah laut teritorial dan 2,7 juta km2 zona ekonomi eksklusif (ZEE). Dengan realitas seperti ini, Indonesia tentu saja memiliki potensi sumberdaya kelautan, yang terdiri atas sumberdaya alam dapat pulih (renewable resources), sumberdaya alam tidak dapat pulih (non-renewable resources), sumber energi kelautan, dan jasa-jasa lingkungan yang sangat besar.

Dengan populasi penduduk yang semakin meningkat dan kemajuan teknologi, maka eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya alam pesisir dan laut semakin tinggi dan tidak terkendali. Pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut yang bersifat eksploitatif dan tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, akan menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian sumberdaya alam tersebut bagi generasi mendatang. Dengan demikian, diperlukan upaya-upaya yang komprehensif baik dari pihak pemerintah, non- pemerintah, dan masyarakat demi tercapainya keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat saat ini dengan kesinambungan ketersediaan sumberdaya pesisir dan laut untuk generasi mendatang. Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan hendaknya diimplementasikan dalam pengelolaan sumberdaya.

Salah satu perangkat pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang dipandang efektif adalah melalui pengembangan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K), yakni dengan mengalokasikan sebagian wilayah pesisir dan/atau laut sebagai tempat perlindungan bagi ikan-ikan ekonomis penting untuk memijah dan berkembang biak dengan baik. Dengan mengalokasikan sebagian wilayah pesisir dan laut yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, ekosistem terumbu karang yang sehat, dan menyediakan tempat perlindungan bagi sumberdaya ikan, maka pada akhirnya akan mendukung kegiatan perikanan berkelanjutan.

Meningkatnya kebutuhan manusia dan tekanan terhadap lingkungan khususnya sumberdaya hayati laut, mengakibatkan terjadinya penurunan populasi beberapa biota perairan. Hal ini menyebabkan beberapa biota perairan seperti ikan Terubuk, Hiu, Napoleon, Capungan Banggai, Dugong, Penyu, dan Labi-Labi menjadi langka dan terancam punah. Menurut Fishbase, 140 jenis ikan di Indonesia terancam punah dan 120 jenis termasuk jenis ikan endemik. Untuk mengatasi penurunan populasi yang terus menerus dan mengantisipasi atau jangan sampai terlambat dalam penyelamatan jenis ikan ini dimasa yang akan datang, maka perlu dilakukan upaya konservasinya meliputi aspek pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan.

Konservasi jenis ikan adalah upaya melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan sumber daya ikan, untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan jenis ikan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Didalam Pasal 22 PP No. 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan disebutkan bahwa “Konservasi jenis ikan dilakukan melalui: (a) penggolongan jenis ikan; (b) penetapan status perlindungan jenis ikan; (c) pemeliharaan; (d) pengembangbiakan; dan (e) penelitian dan pengembangan”.

Untuk mencapai tujuan konservasi jenis ikan tersebut dan dalam rangka mencapai output berupa jenis ikan terancam punah, langka, endemik yang diidentifikasi, dipetakan, dilindungi, dilestarikan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan

(8)

LAKIP DIT. KKJI 2017 2

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut merupakan salah satu Direktorat pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut yang diharapkan dapat memberikan peran yang lebih nyata dalam mewujudkan pengelolaan sumberdaya ikan yang berkelanjutan. Dengan program perlindungan dan konservasi sumber daya alam yang ada diharapkan dapat menangani isu-isu strategis di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, sekaligus mendukung pemulihan ekonomi menuju bangsa yang maju, makmur dan berkeadilan yang dibangun atas dasar keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki melalui penerapan IPTEK dan manajemen profesional, sejalan dengan mandat UU No 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Berdasarkan peraturan menteri kelautan dan perikanan Nomor 06/PERMEN- KP/2017, tentang organisasi dan tata kerja kementerian kelautan dan perikanan, tugas Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut adalah melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis, dan evaluasi dibidang konservasi dan keanekaragaman hayati laut.

1.2. Tugas, Fungsi dan Dasar Hukum

Berdasarkan undang-undang No.17 tahun 2007 tentang rencana pembangunan jangka panjang nasional yang salah satu misinya menyatakan: Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan misi tersebut adalah dengan menumbuhkan wawasan bahari bagi masyarakat dan pemerintah agar pembangunan Indonesia berorientasi kelautan; meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang berwawasan kelautan melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan; mengelola wilayah laut nasional untuk mempertahankan kedaulatan dan kemakmuran; dan membangun ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan.

Oleh karena itu, sesuai dengan fungsi pembangunan kelautan dan perikanan di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan diarahkan untuk mengoptimalkan segenap potensi yang ada dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional tersebut dengan Tugas Pokok sebagai berikut :

“Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria, pedoman dan bimbingan teknis serta evaluasi dan pelaporan dibidang konservasi dan keanekaragaman hayati laut”.

Sedangkan fungsi dari Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut adalah :

1) Penyiapan perumusan kebijakan di bidang penataan, penetapan dan pemanfaatan kawasan Konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil, perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati (ekosistem, spesies/jenis ikan, dan genetik), otoritas pengelola CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), konvensi dan jejaring konservasi, serta pengembangan sarana prasarana konservasi;

2) Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang di bidang penataan, penetapan dan pemanfaatan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil, perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati (ekosistem, spesies/jenis ikan, dan genetik), otoritas pengelola CITES, konvensi dan jejaring konservasi, serta pengembangan sarana prasarana konservasi;

3) Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang di bidang penataan, penetapan dan pemanfaatan kawasan konservasi perairan, pesisir dan

(9)

LAKIP DIT. KKJI 2017 3

pulau-pulau kecil, perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati (ekosistem, spesies/jenis ikan, dan genetik), konvensi dan jejaring konservasi, serta pengembangan sarana prasarana konservasi;

4) Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang di bidang penataan, penetapan dan pemanfaatan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil, perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati (ekosistem, spesies/jenis ikan, dan genetik), konvensi dan jejaring konservasi, serta pengembangan sarana prasarana konservasi;

5) Pelaksanaan urusan tata usaha dan kerumahtanggaan direktorat.

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut mengacu kepada beberapa perundang-undangan yang menjadi landasan hukumnya, diantaranya yaitu :

1. UU No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya;

2. UU No. 45 Tahun 2009 tentang perubahannya atas UU no 31 tahun 2004 tentang perikanan;

3. UU No. 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;

4. UU No 1 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU no. 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil;

5. Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2007 tentang konservasi sumberdaya ikan;

6. Permen KP 16 Tahun 2008 tentang perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;

7. Permen KP 17 Tahun 2008 tentang kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau- pulau kecil;

8. Permen KP No. Per.02/Men/2009 tentang tata cara penetapan kawasan konservasi perairan;

9. Permen KP No. Per.04/Men/2010 tentang pemanfataan jenis dan genetika ikan;

10. Permen KP No.Per.30/Men/2010 tentang rencana pengelolaan dan zonasi kawasan konservasi perairan;

11. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 21/PERMEN-KP/2015 tentang kemitraan pengelolaan kawasan konservasi perairan.

12. Permen KP No. Per.47/PERMEN-KP?2016 tentang pemanfaatan kawasan konservasi perairan;

13. Permen KP No. Per.49/Men/2016 tentang tata cara penetapan perlindungan jenis ikan 14. Keputusan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil No. Kep.

44/KP3K/2012 tentang pedoman teknis evaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil (E-KKP3K).

(10)

LAKIP DIT. KKJI 2017 4 BAB 2

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

Dalam rangka mendukung upaya pengelolaan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil (KKP3K) secara efektif dan berkelanjutan telah ditetapkan sebagai bagian dari 2 (dua) target strategis nasional. Pertama, konservasi berkelanjutan ditetapkan menjadi salah satu indikator kinerja utama pembangunan kelautan dan perikanan (IKU KKP). Kedua, konservasi berkelanjutan dijadikan sebagai prioritas capaian dalam Millennium Development Goals (MDGs) dalam rangka mendukung pembangunan berkeadilan seperti yang dituangkan dalam Instruksi Presiden Nomor 03 Tahun 2010 tentang pembangunan berkeadilan.

Berdasarkan rencana strategis 2015-2019 Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut adalah Pengelolaan dan Pengembangan Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati Laut, dimana sasaran yang akan dicapai selama kurun waktu 2015-2019 adalah:Terkelolanya 123.000 Km2/ 35 kawasan konservasi perairan secara berkelanjutan; dan penambahan 40.000 Km2/4.000.000 ha kawasan konservasi perairan serta terkelolanya 20 jenis biota perairan yang terancam punah, langka, endemik dan dilindungi.

Rencana Strategis Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut 2015- 2019 merupakan suatu dokumen yang disusun oleh Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, sebagaimana diamanatkan oleh Undang- Undang No. 25 Tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional dan Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang rencana pembangunan jangka panjang 2005-2025, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan PER.07/PERMEN-KP/2017 tentang organisasi dan tata kerja kementerian kelautan, serta visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan. Rencana strategis ini juga merupakan acuan dalam perencanaan program kegiatan.

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut melaksanakan program kegiatan pengelolaan dan pengembangan konservasi kawasan dan keanekaragaman hayati laut dengan sasaran pada tahun 2017 yaitu peningkatan level pengelolaan kawasan konservasi sebanyak 30 kawasan konservasi perairan; penambahan 700.000 ha kawasan konservasi perairan; dan terkelolanya 19 jenis biota perairan yang terancam punah, langka endemik dan dilindungi. Untuk mencapai sasaran tersebut, maka ditetapkan indikator dan target yang akan dicapai pada 5 tahun berjalan. Adapun tapja Dit KKHL adalah seperti yang tercantum dalam tabel 1 berikut dan rencana strategis direktorat dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.

Tabel 1 Perjanjian kinerja tahun 2017 Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

STAKEHOLDER PERSPECTIVE 1 Terwujudnya kesejahteraan

masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil

1 Pertumbuhan PDB Perikanan 9.5

COSTUMER PERSPECTIVE 2 Terwujudnya kedaulatan dalam

pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan

2 Tingkat Kemandirian SKPT di bawah tanggung jawab Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

4

(11)

LAKIP DIT. KKJI 2017 5

3 Terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan

3 Jumlah Kawasan Konservasi perairan, pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil yang meningkat efektivitas pengelolaannya (kawasan)

30

4 Luas kawasan konservasi (juta ha) 18.6

5 Nilai Kesesuaian Bantuan Pemerintah Dit Konservasi

dan Keanekaragaman Hayati Laut (%) 60 INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE

4 Tersedianya kebijakan

pembangunan Dit. KKHL yang efektif

6 Indeks efektifitas kebijakan pemerintah 7.7 5 Terselenggaranya tata kelola

pemanfaatan SDKP yang adil, berdaya saing dan berkelanjutan

7 Jumlah penambahan luas kawasan konservasi (Ha) 700.000

8 Jumlah kawasan konservasi yang difasilitasi upaya

pemanfaatannya (kawasan) 19

9 Jumlah kemitraan kawasan konservasi yang mendukung pengelolaan efektif Konservasi dan keanekaragaman hayati (dok)

10

6 Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan SDKP yang profesional dan partisipatif

10 Jumlah Jenis Ikan yang dilakukan perlindungan,

pelestarian dan/atau pemanfaatannya (jenis) 19

LEARNING AND GROWTH PERSPECTIVE 7 Terwujudnya aparatur sipil negara

Dit. KKHL yang kompeten, profesional dan berkepribadian

11 Indeks kompetensi dan integritas Dit. KKHL 80

8 Tersedianya manajemen

pengetahuan Dit. KKHL yang handal dan mudah diakses

12 Persentase unit kerja Dit. KKHL yang menerapkan

sistem manajemen pengetahuan yang terstandar 65

9 Terwujudnya birokrasi Dit. KKHL yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima

13 Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi Dit. KKHL 86

10 Terkelolanya anggaran pembangunan Dit. KKHL secara efisien dan ekuntabel

14 Nilai kinerja anggaran Dit. KKHL (%) 85 15 Persentase Kepatuhan terhadap SAP lingkup Dit.

KKHL (%) 100

(12)

LAKIP DIT. KKJI 2017 6

Tabel 2 Rencana strategis Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut 2015 - 2019

KEGIATAN

SASARAN STRATEGIS

INDIKATOR KINERJA

TARGET

2015 2016 2017 2018 2019

PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN KONSERVASI

KAWASAN DAN JENIS

Terkelolanya

kawasan konservasi perairan secara berkelanjutan;

bertambahnya kawasan konservasi perairan serta terkelolanya jenis biota perairan yang terancam punah, langka, endemik dan dilindungi

Luas Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang dikelola secara efektif

68.000 km2 /17 Kawasan

82.000 km2/ 28 Kawasan

100.000 km2/ 30 Kawasan

108.000 km2/33 Kawasan

123.000 km2/ 35 Kawasan

bertambahnya luas kawasan konservasi perairan

5.000 km2 /

500.000 ha 6.000 km2 /

600.000 ha 7.000 km2 /

700.000 ha 7.000 km2 /

700.000 ha 7.000 km2 / 700.000 ha

Jumlah jenis yang dikonservasi dan dimanfaatkan secara berkelanjutan

15 jenis 15 jenis 19 jenis 19 jenis 20 jenis

(13)

LAKIP DIT. KKJI 2017 7 BAB 3

AKUNTABILITAS KINERJA

Konservasi saat ini telah menjadi tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai bagian dari upaya harmonisasi antara pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat dan keinginan untuk terus melestarikan sumberdaya yang ada bagi masa depan.

Kegiatan-kegiatan utama yang dilakukan untuk mendukung program dan pencapaian sasaran yang ditetapkan pada direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut adalah:

1. Pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi perairan

2. Penyusunan dan pelaksanaan regulasi pengelolaan kawasan konservasi perairan 3. Melakukan fasilitasi pengembangan dan pengelolaan konservasi jenis

4. Melakukan penyusunan dan pelaksanaan regulasi pengelolaan konservasi jenis

Pada tahun 2017 indikator kerja utama Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut yang mendukung langsung indikator kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah sebagai berikut :

1. Kawasan konservasi perairan yang meningkat kualitas pengelolaannya sebanyak 30 Kawasan;

2. Bertambahnya luas kawasan konservasi seluas 700.000 ha;

3. Jumlah jenis yang dikonservasi dan dimanfaatkan secara berkelanjutan sebanyak 19 jenis

Kegiatan utama yang dilakukan untuk mendukung sasaran program direktorat adalah pengelolaan dan pengembangan konservasi kawasan dan jenis ikan di tahun 2017 ini adalah sebagai berikut:

1. Kawasan konservasi baru yang ditetapkan/dicadangkan di tingkat nasional dan daerah;

2. Kawasan konservasi yang ditata menuju pengelolaan efektif;

3. Kawasan konservasi yang di manfaatkan;

4. Keanekaragaman hayati laut yang di lindungi, dilestarikan dan/atau dimanfaatkan 5. Kemitraan yang mendukung pengelolaan efektif konservasi dan keanekaragaman

hayati

6. Pembangunan SKPT Mentawai

7. Layanan perkantoran dan penatausahaan direktorat 8. NSPK bidang konservasi kawasan dan jenis

Capaian kinerja organisasi Direktorat KKHL akan disampaikan dalam laporan di bawah ini.

CAPAIAN KINERJA ORGANISASI

Pengukuran capaian kinerja Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut tahun 2017 dilakukan dengan cara membandingkan antara target (rencana) dan realisasi indikator kinerja utama pada masing-masing perspektif. Pencatatan dan pengukuran kinerja

(14)

LAKIP DIT. KKJI 2017 8

dilakukan dengan bantuan perangkat lunak berbasis balanced scorecard dari Kementerian Kelautan Perikanan, yaitu pada http://kinerjaku.kkp.go.id.

Secara rinci, capaian masing-masing sasaran strategis dan indikator kinerja utama Dit KKHL Tahun 2017 adalah sebagai berikut:

Tabel 3 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Dit KKHL Tahun 2017 Indikator Kinerja Utama Target

Tahun 2017

Realisasi Tahun

2017

Realisasi thd Target 2017

No Uraian

Stakeholder Perspective IKU

1

Pertumbuhan PDB Perikanan (%) 8 8.95 74.37%

Customer Perspective IKU

2

Tingkat Kemandirian SKPT tanggung

jawab Ditjen PRL 4 4 100%

IKU 3

Jumlah luas kawasan konservasi (jt Ha)

18,6 19.114 102.9%

IKU 4

Jumlah kawasan konservasi perairan yang meningkat kualitas pengelolaan efektifnya (kawasan)

30 22 73.33%

IKU

5 Nilai kesesuaian bantuan pemerintah lingkup Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (%)

80 83,33* 104,16

Internal Process Perspective IKU

6 Indeks efektifitas kebijakan

pemerintah 7,7 8.5 100%

IKU

7 Jumlah penambahan luas kawasan

konservasi (Ha) 700.000 1.179.342 168%

IKU 8

Jumlah kawasan konservasi perairan yang difasilitasi upaya

pemanfaatannya (kawasan)

20 20 100%

IKU

9 Jumlah kemitraan yang mendukung pengelolaan efektif konservasi dan keanekaragaman hayati (dok)

10 10 100%

IKU

10 Jumlah keanekaragaman hayati laut yang dilindungi, dilestarikan dan/atau dimanfaatkan (jenis)

19 19 100%100

Learning and Growth Perspective

(15)

LAKIP DIT. KKJI 2017 9 Indikator Kinerja Utama Target

Tahun 2017

Realisasi Tahun

2017

Realisasi thd Target 2017

No Uraian

IKU

11 Indeks kompetensi dan integritas

DJPRL 80 80 100%

IKU

12 Persentase unit kerja DJPRL yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar

65 68.68 105.66%

IKU 13

Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi DJPRL A (86) 86

100%

IKU

14 Nilai AKIP DJPRL A (85) 85

100%

IKU

15 Nilai Maturitas SPIP 2 2 100%

IKU

16 Persentase tindak lanjut direktif

pimpinan (%) 100 100 100%

IKU

17 Jumlah inovasi pelayanan publik

Lingkup DJPRL 1 1 100%

IKU

18 Nilai kinerja anggaran Dit KKHL (%) 85 79

92.94%

IKU

19 Persentase Kepatuhan terhadap SAP

lingkup DJPRL (%) 100 100 100%

SS.1. Terwujudnya Kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil

Dalam rangka mencapai sasaran strategis meningkatnya kemakmuran masyarakat kelautan dan perikanan, Dit KKHL menurunkan indikator kinerja dari Dirjen PRL yaitu Pertumbuhan PDB Perikanan (%). Target yang ditetapkan untuk mengukur keberhasilan indikator kinerja pada sasaran strategis ini, serta realisasi pada Triwulan IV Tahun 2017 ini dijelaskan pada tabel berikut :

Tabel 4 Target dan Realisasi Sasaran Strategis Meningkatnya Kesejahteraan Masyarakat Kelautan Dan Perikanan

Indikator Kinerja Utama Target Tahun 2017

Realisasi Tahun

2017 Persentase terhadap Target

2017

No Uraian

Stakeholder Perspective IKU

1

Pertumbuhan PDB Perikanan

(%) 8 6,75*** 84,37

Capaian setiap indikator kinerja utama untuk mengukur keberhasilan sasaran strategis PDB Perikanan selama tahun 2017:

(16)

LAKIP DIT. KKJI 2017 10 IKU 1. Pertumbuhan PDB Perikanan

Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan jumlah nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama periode tertentu. PDB perikanan merupakan sub sektor dari PDB Nasional. Dalam PDB perikanan, yang dihitung adalah produksi perikanan tangkap dan budidaya, dalam bentuk ikan segar (non-olahan) di seluruh indonesia. Produksi yang dihasilkan belum diperhitungkan penyusutannya, karena jumlah yang didapatkan dari PDB dianggap bersifat bruto/kotor.

Produk domestik bruto perikanan yang rutin diterbitkan oleh BPS hanya merupakan subsektor dari sektor pertanian sehingga nilai PDB perikanan mencerminkan kinerja dari Kementerian Kelautan dan Perikanan itu sendiri, karena yang tercakup dalam subsektor perikanan hanyalah sektor primer yaitu penangkapan dan pembudidayaan ikan.

Capaian PDB perikanan yang digunakan oleh KKP mengacu pada BPS, dimana PDB dihitung dengan pendekatan pengeluaran, yaitu dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli produk perikanan yang diproduksi selama periode tertentu.

Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: (1) Rumah tangga, (2) Pemerintah, (3) Pengeluaran investasi, dan (4) selisih antara nilai ekspor dikurangi impor (ekspor bersih).

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan PDB perikanan terbagi dalam dua kelompok besar yaitu pengumpulan data primer dan pengumpulan data sekunder.

Data primer didapat dari survei khusus yang diadakan oleh Direktorat Neraca Produksi bekerjasama dengan Pusdatin KKP. Sedangkan data sekunder didapat dari statistik perikanan tangkap dan budidaya KKP, statistik perusahaan perikanan dari subdit statistik perikanan BPS, statistik industri besar dan sedang BPS, statistik industri mikro dan kecil BPS.

Pada tahun 2017, target pertumbuhan PDB perikanan sebesar 8% yang diharapkan produksi garam dapat mendukungnya. Capaian ini baru mencapai 74.37% dari target tahun 2017. sebagaimana pada tabel berikut:

Tabel 5 Target dan Realisasi IKU PDB Tahun 2017

INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI %

PDB Perikanan 8 5,95 74,37

Sumber data: Pusdatin, KKP

Capaian ini baru mencapai 74,37 persen dari target tahun 2017. Perekonomian subsektor perikanan s.d. triwulan IV 2017 tumbuh rata-rata sebesar 5,95 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata ekonomi Indonesia (5,07 persen) dan sektor pertanian (3,42 persen). Untuk sektor perikanan dapat diketahui bahwa pendapatan para pelaku usaha di bidang perikanan tangkap dan budidaya pada triwulan IV-2016 ADHB mencapai Rp. 90,57 triliun dan ADHK 2010 mencapai Rp. 57,79 triliun. Kontribusi perekonomian sektor perikanan triwulan IV-2017 terhadap PDB ADHB sebesar 2,59 persen, kontribusi ini lebih tinggi daripada triwulan III-2016 (2,56 persen), dan triwulan II-2017 (2,53 persen) dan stabil dibandingkan total 2016 (2,56 persen). Kontribusi PDB sektor perikanan Indonesia ADHB triwulan IV-2017 terhadap PDB nasional menunjukkan adanya peningkatan nilai tambah yang mencerminkan peningkatan income para pelaku subsektor kelautan dan perikanan secara rata-rata pada triwulan IV-2017 dibandingkan triwulan III-2017, triwulan II-2017 dan total 2016.

(17)

LAKIP DIT. KKJI 2017 11

Laju pertumbuhan PDB perikanan triwulan IV-2017 (3,60 persen) lebih tinggi daripada laju pertumbuhan PDB kelompok perikanan (1,79 persen) dan lebih rendah daripada laju pertumbuhan PDB Nasional (5,19 persen). Laju pertumbuhan PDB perikanan triwulan IV-2017 (3,60 persen) juga lebih tinggi daripada laju pertumbuhan PDB perikanan triwulan IV-2016 (2,62 persen). Perekonomian perikanan tahun 2017 tumbuh sebesar 5,95 persen, pertumbuhan ini lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi Indonesia (5,07 persen) dan lebih tinggi daripada pertumbuhan sektor pertanian 2017 (3,42 persen), Pertumbuhan ini menunjukkan adanya peningkatan daya beli (purchasing power) dari para pelaku sektor kelautan dan perikanan dibandingkan sektor lain pada kelompok pertanian, kehutanan, perikanan dan nasional. Pertumbuhan sektor perikanan tahun 2017 menunjukkan bahwa sektor perikanan baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya menunjukkan potensi besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan perekonomian subsektor perikanan triwulan IV 2017 disebabkan oleh meningkatnya produksi perikanan tangkap dan perikanan budidaya triwulan IV 2017 sebesar 1,78 persen dari triwulan III. Berikut tabel pertumbuhan PDB perikanan :

Tabel 6. Pertumbuhan PDB Perikanan

Sasaran Strategis 1 Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Perikanan Budidaya

IKU-2 Pertumbuhan PDB Perikanan

Realisasi 2016

2017 Kenaikan 2016-2017 (% /Tahun)

2019

Target Realisasi % Capaian Target % Capaian 2017-2019

5,15 8 5,95 74,37 0,8 12 49,58

*Sumber data, BPS mengeluarkan data PDB Tahun 2017 di 5 Februari 2018

Dalam tiga tahun terakhir PDB sub sektor perikanan tumbuh di atas rata-rata nasional dan dalam 4 tahun terakhir memiliki rata-rata pertumbuhan tertinggi dalam sektor pertanian secara umum. Hal ini menunjukkan bahwa subsektor perikanan memegang peranan strategis dalam mendorong pertumbuhan pada PDB kelompok pertanian, maupun nasional. PDB sub sektor perikanan tumbuh di atas rata-rata nasional dan memiliki rata-rata pertumbuhan tertinggi dalam sektor pertanian secara umum. Hal ini menunjukkan bahwa subsektor perikanan memegang peranan strategis dalam mendorong pertumbuhan pada PDB kelompok pertanian, maupun nasional.

Dengan melihat faktor pendukung di atas, maka terlihat bahwa Ditjen PRL tidak terkait langsung dengan indikator Pertumbuhan PDB Perikanan ini.

SS.2. Terwujudnya Kedaulatan dalam Pengelolaan SDKP Sumberdaya Kelautan dan Perikanan

Dalam rangka mencapai sasaran strategis terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan SDKP, Ditjen KKHL menjabarkannya dalam indikator kinerja tingkat kemandirian SKPT tanggung jawab Dit KKHL.

(18)

LAKIP DIT. KKJI 2017 12

Tabel 7 Target dan Realisasi Sasaran Strategis Terwujudnya Kedadulatan dalam Pengelolaan SDKP

Indikator Kinerja Utama Target Tahun 2017

Realisasi Tahun

2017

Persentase terhadap Target 2017

No Uraian

Customer Perspective IKU

2

Tingkat Kemandirian SKPT tanggung

jawab Dit KKHL 4 4 100

Capaian indikator kinerja utama untuk mengukur keberhasilan sasaran strategis selama Tahun 2017 adalah:

IKU 2. Tingkat Kemandirian SKPT tanggung jawab Direktorat KKHL

Indikator kinerja tingkat kemandirian SKPT tanggung jawab Ditjen PRL merupakan indikator kinerja utama (IKU) Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil untuk lokasi Kab.

Morotai, Direktorat Jasa Kelautan untuk Lokasi Kabupaten Talaud dan Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut di Kabupaten Mentawai, IKU ini muncul pada tahun 2017 berkaitan dengan program pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan.

Target indikator kinerja adalah tingkat kemandirian SKPT mengalami peningkatan untuk setiap lokasinya. Indikator kinerja tingkat kemandiarian SKPT dapat dibandingkan dengan standar nasional yaitu Renstra KKP Tahun 2015-2019 adalah target terbangunnya sarana dan prasarana di 25 pulau kecil hingga tahun 2019. Pada tahun 2017 sudah sesuai dengan renstra yaitu ditargetkan sebanyak 31 pulau.

Data dasar tingkat kemandirian SKPT berasal dari hasil pengukuran tingkat kemandirian pulau-pulau kecil pada tahun 2016. Pada tahun 2017, target peningkatan tingkat kemandirian SKPT sebesar 4. Berikut capaian indikator kinerja utama Tingkat kemandirian SKPT tahun 2017 :

SKPT MENTAWAI

Target Kemandirian SKPT untuk tahun 2017 ini sebesar 4, dan realisasi kinerja tahun 2017 ini sebesar 100 % yaitu level 4. Target IKU tahun 2016 level 3 dicapai dengan presentase 100% oleh Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil. Pada tahun 2017 amanat pengembangan SKPT Mentawai di lakukan oleh Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut dengan Realisasi tahun 2017 sama dengan realisasi pada tahun 2016 yaitu sebesar 100%.

Pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai pengembangan SKPT Mentawai hingga mencapai target di tahun ini antara lain:

1. Sekretariat SKPT Kabupaten Kepulauan Mentawai 2. Masterplan SKPT Kabupaten Kepulauan Mentawai 3. DED untuk kegiatan fisik

4. Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Nomor 3B/PER-DJPRL/2017 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu Kabupaten Kepulauan Mentawai di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2017 tanggal 5 April 2017

(19)

LAKIP DIT. KKJI 2017 13

5. Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Nomor 32/KEP-DJPRL/2017 tentang Penerima Bantuan Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Kabupaten Kepulauan Mentawai tanggal 1 Agustus 2017

6. Dukungan Kegiatan Penangkapan Ikan:

• Pembangunan ice storage, kapasitas 30 ton

• Pengadaan Portable Ice Storage

• Pembangunan sistem air tawar bersih (Kapasitas 180 m3/hari)

• Penimbunan dan pemasangan conblock (Luas : 1.950 m2)

• Pembangunan kapal ikan 5 gt, alat tangkap gillnet : 15 unit

• Penataan kawasan pelabuhan (Listrik tenaga surya untuk JPU, gapura SKPT, fas.

Kebersihan)

• Mobil pick up, cool box 50 liter (172 buah) dan 1 ton

• Bimbingan Teknis Penangkapan dan Penanganan Pasca Penangkapan Ikan masyarakat dan penyuluh

7. Dukungan Kegiatan pembudidayaan ikan:

• Pembangunan jaringan air tawar (pipanisasi) ke BBIP) Jarak mata air ke bbip 1.2 km

• Pengadaan genset 30 KVA (2 unit), pembangunan tempat genset

• Pengadaan Pompa Air Laut dan Instalasi

• Bantuan benih ikan kerapu (32.000 ekor) alat pembersih jaring, pakan dan obat- obatan untuk 10 kelompok

• Pengadaan KJA-HDPE (2 UNIT @ 8 petak ukuran 4m x 4m, untuk pemeliharaan indukan)

• Pengadaan speed boat

• Pengadaan bak pendederan

• Penataan Kawasan BBIP (LTS untuk JPU, Gapura SKPT, Fas. Kebersihan, Perlengkapan Kantor, Pemasangan Instalasi Jaringan Listrik di BBIP)

• Bimbingan Teknis Budidaya Kerapu dan Pembenihan Kerapu bagi masyarakat dan penyuluh

• Magang Staf BBIP Sikakap di BPBL Batam (10 orang)

Berikut tabel penilaian status level pengelolaan SKPT Mentawai Tabel 8 Penilaian status level pengelolaan SKPT Mentawai

Kriteria Pra Mandiri 4

Aspek Fisik 0.81

Aspek Produksi dan Ekonomi 0.50

Aspek Kelembagaan 0.86

Aspek Sosial dan Lingkungan 0.88

Nilai Rata-Rata 0.76

Status Nilai Kategori

Pra Mandiri 1 0.25 Pra Persiapan Pra Mandiri 2 ≥ 0.25 dan < 0.5 Persiapan Pra Mandiri 3 ≥ 0.5 dan < 0.75 Terbangun

(20)

LAKIP DIT. KKJI 2017 14 Pra Mandiri 4 ≥ 0.75 dan < 1 Terkelola

Mandiri 1 Terkelola Efektif

Keberhasilan dalam pencapaian target IKU dinilai berdasarkan form penilaian pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan (SKPT) Mandiri, dimana aspek yang dinilai sebagai berikut :

A. Aspek pembangunan Sarana dan Prasarana dengan parameter : a. Sarana dan Prasarana Perikanan tangkap

b. Sarana dan prasarana perikanan Budidaya c. Sarana pengelola SKPT

d. Sarana dan prasarana penunjang SKPT B. Aspek Produksi dan Ekonomi dengan Parameter :

a. Peningkatan pendapatan nelayan/pembudidaya b. Peningkatan produksi hasil perikanan

c. Nilai tambah pengolahan hasil perikanan

d. Akses kredit perbangkan bagi nelayan/pembudidaya C. Aspek Kelembagaan dengan Parameter :

a. Dokumen Rencana Induk (master plan) dan rencana bisnis (business plan) pembangunan sentra kelautan dan perikanan

b. Kebijakan (RPJMD) dan anggaran (APBD) pengembangan bisnis kelautan dan perikanan daerah

c. Satuan kerja pengelola di sentra bisnis perikanan (PPI) d. Kelembagaan usaha nelayan dan kemitraan

e. Sistem perijinan dan ekspor hasil perikanan D. Aspek Sosial dan Lingkungan dengan parameter :

a. Kesadaran masyarakat untuk konsumsi ikan berkualitas baik b. Kegiatan perikanan ramah lingkungan

c. Pemantauan dan pengawasan sumberdaya perikanan

d. Sistem pengelolaan limbah perikanan di PPI dan unit pengolahan nelayan (waste management)

e. Mitigasi bencana dan dampak perubahan iklim di lokasi Sentra Kelautan dan Perikanan

Berdasarkan parameter-parameter diatas yang dinilai (rincian pada lampiran) SKPT Mentawai memperoleh nilai 0.76 yang merupakan nilai minimum pada level pengelolaan pramandiri 4 atau terkelola. Faktor penunjang keberhasilan pencapaian diraih dengan telah terselesaikannya pembangunan sarana prasarana fisik , telah beroperasionalnya kegiatan produksi budidaya dan perikanan tangkap, telah beroperasionalnya sarana penunjang SKPT seperti pangkalan BBM, mobil operasional, akses jalan. Aspek sosial dan lingkungan seperti telah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk konsumsi ikan berkualitas baik, kegiatan perikanan ramah lingkungan, pemantauan dan pengawasan sumberdaya perikanan serta mitigasi bencana juga merupakan faktor penunjang peningkatan level pengelolaan SKPT Mentawai.

Beberapa hal yang perlu di tingkatkan untuk pengelolaan SKPT Mentawai antara lain dengan meningkatkan sarana pengawasan seperti kantor pengawas dan peralatan penunjangnya, peningkatan produksi perikanan untuk ekspor, kemudahan akses kredit perbankan bagi nelayan/pembudidaya, peningkatan sosialisasi sistem perijinan dan ekspor hasil perikanan, serta pendampingan masyarakat dalam pengelolaan limbah.

(21)

LAKIP DIT. KKJI 2017 15

SS.3. Terwujudnya Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan yang partisipatif, bertanggungjawab dan berkelanjutan

Dalam upaya mencapai sasaran strategis terwujudnya pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang partisipatif, bertanggung jawab dan berkelanjutan, capaian diukur berdasarkan Indikator Kinerja Utama: (IKU 3) Jumlah Luas Kawasan Konservasi, (IKU 4) Jumlah Kawasan Konservasi Perairan yang Meningkat Kualitas Pengelolaan Efektifnya, dan (IKU 5) Nilai Kesesuaian Bantuan Pemerintah Lingkup Ditjen Pengelolaan Ruang Laut.

Tabel 9 Target dan Realisasi Sasaran Strategis Terwujudnya Pengelolaan SDKP yang Partisipatif, Bertanggung jawab dan berkelanjutan

Indikator Kinerja Utama Target 2017

Realisasi Triwulan

IV

Persentase terhadap

Target 2017 Customer Perspective

IKU 3. Jumlah luas kawasan konservasi (jt Ha)

18,6 19.114 102

IKU 4. Jumlah kawasan konservasi Perairan yang meningkat kualitas

pengelolaan efektifnya (kawasan) 30 30 100

IKU 5. Nilai Kesesuaian Bantuan Pemerintah lingkup Ditjen

Pengelolaan Ruang Laut (%) 80 83 103

IKU 3. Jumlah luas kawasan konservasi (jt Ha)

Indikator kinerja utama jumlah luas kawasan konservasi merupakan luas kawasan konservasi yang dikelola dan dimanfaatkan selama tahun 2017. Penghitungan target dilakukan dengan menjumlahkan luas kawasan konservasi tahun 2016 dan luas kawasan konservasi baru pada tahun 2017. Data penghitungan diperoleh dari Direktorat Kawasan Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut dan Pemerintah Daerah. Target luas kawasan konservasi pada tahun 2017 sejumlah 18,6 juta ha hingga target tahun 2019 adalah 20 juta ha. Target luas kawasan konservasi mengalami peningkatan setiap tahunnya dibandingkan target tahun 2015 (16,5 juta ha) dan tahun 2016 (17,9 juta ha).

Target luasan kawasan konservasi perairan di tahun 2017 sebesar 18.6 juta Ha dengan realisasi sebesar 19.144 juta Ha atau sebesar 102% dari target. Target dan Capaian kinerja yang dicapai oleh Dit KKHL sebagai berikut :

Tabel 10 Target dan Capaian kinerja yang dicapai oleh Dit KKHL

Indikator Kinerja Tahun Target Realisasi Persentase

Jumlah

Luas Kawasan Konservasi (juta Ha)

2015 16.5 17.3 104%

2016 17.9 18.6 103%

2017 18.6 19.14 102%

2019 20 - -

(22)

LAKIP DIT. KKJI 2017 16

Persentase capaian kinerja luas kawasan Konservasi Perairan dari tahun 2015 lebih dari 100%. Pencapaian tahun 2017 melebihi target yang dicanangkan di dalam renstra KKP yang diturunkan kedalam renstra Dirjen PRL sebesar 18.6 juta ha.

Pencapaian kinerja ini merupakan akumulasi luas kawasan Konservasi dari tahun sebelumnya di tambahkan dengan penambahan luas kawasan konservasi perairan yang dicadangkan pada tahun 2017 sebesar 1.179.342 ha. Penambahan kawasan yang dicadangkan berada pada Provinsi Sulut, Sulteng, Kalbar, Bali, Sumbar dan Sulbar. Berikut tabel kawasan konservasi perairan di Indonesia hingga tahun 2017.

Tabel 11 Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia tahun 2017

No Kawasan Konservasi Jumlah

Kawasan Luas (Ha) Ketrangan

A Dikelola Kementerian Lingkungan

Hidup dan Kehutanan 32 4,694,947.55

1 Taman Nasional Laut 7 4,043,541.30 DKI, Jateng, Sulteng, Sulsel,

Sultera, Papua

2 Taman Wisata Alam Laut 14 491,248.00 Maluku(3), Sultera(2),

Kaltim(1), NTT(3), NTB(2), Banten(1), Aceh(2)

3 Suaka Margasatwa Laut 5 5,678.25 DKI, Jabar, Kaltim, Pabar(2)

4 Cagar Alam Laut 6 154,480.00 Lampung, Jabar(2), NTT,

Kalbar, Pabar B Dikelola Kementerian Kelautan dan

Perikanan dan Pemerintah Daerah 140 14,449,746.73

5 Taman Nasional Perairan 1 3,355,352.82 Nusa Tenggara Timur

6 Suaka Alam Perairan 3 445,630.00 Maluku, Pabar(2)

7 Taman Wisata Perairan 6 1,541,040.20 Sumbar, Kepri, NTB, Sultera,

Maluku, Papua

8 Kawasan Konservasi Daerah 130 9,107,723.71

Aceh(4), Sumut(4), Sumbar(9), Riau(1), Bengkulu(3), Jambi(2), Lampung(3), Babel(5), Kepri(5), Jabar(3), Jateng(6), DIY(2), Jatim(4), Banten(1), Bali(4),

NTB(9), NTT(4), Kalbar(4), Kaltim(2), Kalteng(1), Kalsel(2),

Kaltara(3), Sulut(6), Gorontalo(3), Sulteng(7), Sulsel(5), Sultera(10), Sulbar(3),

Maluku(6), Malut(5), Pabar(3), Papua(1)

Jumlah Total 172 19,144,694.28

Kegiatan pendukung keberhasilan pencapaian target 2017 adalah identifikasi potensi calon kawasan konservasi perairan dan penetapan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil. dengan anggaran yang relatif kecil dengan adanya penghematan anggaran pemerintah, Dit KKHL berupaya mengoptimalkan kerjasama dengan stakeholders terkait seperti akademisi, NGO, masyarakat, pemerintah kabupaten dan Pemerintah Provinsi untuk meningkatkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan luasan kawasan konservasi perairan di Indonesia untuk mencapai target 20 Juta Ha.

Analisis atas efisiensi penggunaan sumberdaya; Dari realisasi anggaran konservasi perlindungan dan pemanfaatan kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati laut yang mencapai 79.58%, dengan tidak dapat dimanfaatkannya dana yang berasal dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) COREMAP- CTI maka capaian kinerja jumlah luas kawasan

(23)

LAKIP DIT. KKJI 2017 17

konservasi sebesar 102% ini masih bisa dikatakan efisien. Tentu saja jika realisasi anggaran bisa dimaksimalkan, maka hasil yang didapat bisa dan sangat mungkin akan lebih baik.

Program/kegiatan yang menunjang keberhasilan kinerja; Pada IKU ini pada pelaksanaannya identifikasi potensi dan pencadangan kawasan pada pencadangan kawasan, mensyaratkan adanya usulan inisiatif, data potensi kawasan serta hasil diskusi dengan masyarakat dan stakeholders terkait. Implikasi dari pencadangan adalah pemerintah daerah dan pusat harus menyiapkan personil, pendanaan, prasarana dan sarana, serta pemberdayaan masyarakat yang diharapkan akan memperbaiki dan menjaga kondisi sumberdaya ekosistem kawasan yang dijadikan kawasan konservasi .

Program yang sangat erat dengan capaian luas kawasan konservasi adalah identifikasi potensi calon kawasan konservasi perairan dan penetapan kawasan konservasi perairan, merupakan salah satu program perlindungan dan pelestarian sumberdaya hayati laut yang dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan cq Ditjen Pengelolaan Ruang Laut sebagai salah satu IKU Menteri Kelautan dan Perikanan guna mencapai penambahan luas kawasan konservasi perairan hingga 20 juta ha pada tahun 2019, terdapat isu strategis yang menjadi dasar pengelolaan kawasan konservasi yaitu P3D (Personil, Pendanaan, Prasarana dan Sarana dan Dokumen) kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil.

IKU 4. Jumlah kawasan konservasi Perairan yang meningkat kualitas pengelolaan efektifnya (kawasan)

Kawasan konservasi perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil adalah kawasan perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil yang dilakukan upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan secara berkelanjutan untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya (UU 27/2007, PP 60/2009). Efektivitas pengelolaan kawasan konservasi adalah suatu metode untuk menilai efektivitas KKP yang pengukurannya melalui Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil (E-KKP3K). E-KKP3K merupakan suatu panduan baku/standar untuk mengevaluasi capaian pengelolaan berkelanjutan suatu kawasan konservasi perairan sesuai Keputusan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Nomor KEP.44/KP3K/2012.

Indikator kinerja utama jumlah kawasan konservasi perairan yang meningkat kualitas pengelolaan efektifnya merupakan IKU lanjutan dari tahun sebelumnya. Pengukuran target dilakukan dengan menghitung banyaknya kawasan konservasi perairan nasional/daerah yang meningkat pengelolaan efektifnya berdasarkan penilaian E-KKP3K berupa level pengelolaan kawasan konservasi merah, kuning, hijau, biru, dan emas. Ukuran keberhasilan berupa peningkatan minimal 1 tingkat pengelolaan efektif dari level tahun sebelumnya. Sumber data untuk mengetahui jumlah kawasan konservasi yang meningkat efektivitas pengelolaannya berasal dari data base di Direktorat KKHL. Target penilaian pada tahun 2017 adalah 30 kawasan konservasi mangalami peningkatan pengelolaan efektifnya. Jumlah kawasan yang menjadi target ini lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dimana target dan capaian pada tahun 2015 sebanyak 17 kawasan dan tahun 2016 sebanyak 28 kawasan, sedangkan target tahun 2019 sebanyak 35 kawasan.

Pada tahun 2017 indikator kinerja utama jumlah kawasan konservasi yang meningkat kualitas pengelolaan efektifnya ini target tercapai 100%, sebagaimana pada tabel berikut:

(24)

LAKIP DIT. KKJI 2017 18

Tabel 12 Target dan Realisasi IKU jumlah kawasan konservasi yang meningkat kualitas pengelolaan efektifnya tahun 2017

INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI %

jumlah kawasan konservasi yang meningkat

kualitas pengelolaan efektifnya (Kawasan) 30 30 100

Sumber data: Dit KKHL, KKP

Target peningkatan pengelolaan yang efektif pada tahun 2017 untuk 30 kawasan konservasi. Penghitungan nilai efektifitas pengelolaan kawasan Konservasi menggunakan tools e-kkp3k dengan kartu skor evaluasi efektifitas pengelolaan kawasan Konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil dengan kriteria sebagai berikut :

Evaluasi penilaian peringkat level pengelolaan memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut:

A. Peringkat merah kriteria yang harus dipenuhi adalah : a. Usulan inisiatif

b. Identifikasi dan inventarisasi calon kawasan c. Pencadangan kawasan konservasi perairan B. Peringkat kuning kriteria yang harus dipenuhi adalah :

a. Unit organisasi pengelola dan SDM b. Rencana pengelolaan dan zonasi c. Sarana dasar dan prasarana

d. Dukungan pembiayaan pengelolaan

C. Peringkat hijau kriteria yang harus dipenuhi adalah : a. Unit organisasi pengelola dan SDM

b. Sarana dan prasarana pendukung pengelolaan c. Dukungan pembiayaan dan pengelolaan

(25)

LAKIP DIT. KKJI 2017 19 d. Pengesahan rencana pengelolaan dan zonasi

e. Standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan f. Pelaksanaan rencana pengelolaan dan zonasi g. Penetapan KKP3K oleh Menteri

D. Peringkat Biru kriteria yang harus dipenuhi adalah : a. Unit organisasi pengelola dan SDM

b. Sarana dan prasarana pendukung pengelolaan c. Dukungan pembiayaan pengelolaan

d. Standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan e. Penetapan kawasan konservasi

f. Penataan batas kawasan g. Pelembagaan

h. Pengelolaan sumberdaya kawasan i. Pengelolaan sosial ekonomi dan budaya E. Peringkat Emas kriteria yang harus dipenuhi adalah :

a. Pelembagaan

b. Peningkatan kesejahteraan masyarakat c. Pendanaan berkelanjutan

Penghitungan berdasarkan kriteria-kriteria di atas untuk tahun 2017 dapat dilihat hasilnya untuk penilaian peningkatan E-KKP3K di 30 kawasan Konservasi pada tabel di bawah ini :

Tabel 13 Penilaian E-KKP3K tahun 2017

No NAMA KAWASAN

TAHUN 2016

(28 Kawasan) 2017 (30 Kawasan)

1 Kawasan Konservasi Perairan Pesisir Timur Pulau Weh Kota Sabang

100 100

100 100

100 100

36 50

- 2 Kawasan Konservasi Perairan Daerah Nias Utara

100 100

27 100

71 95

- - 3 Kawasan Konservasi Laut Daerah Kep. Mentawai

(lokasi Desa Saibi Samukop,Saliguma dan desa Katurai

100 100

100 100

71 95

- -

- -

4 Taman Wisata Perairan Gugusan Pulau-pulau Momparang dan Laut Sekitarnya( Belitung Timur)

100 100

100 100

38 95

- -

- -

5 Kawasan Konservasi laut Daerah Bintan

100 100

100 100

71 81

- -

- -

6 KKPD Batam 100 100

(26)

LAKIP DIT. KKJI 2017 20

No NAMA KAWASAN TAHUN

2016

(28 Kawasan) 2017 (30 Kawasan)

100 100

61 67

- -

- -

7

Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Kabupaten Sukabumi dengan status Taman Pesisir

100 100

100 100

95 100

29 36

0 -

8 Kawasan Konservasi Taman Pesisir Ujungnegoro – Batang

100 100

100 100

90 100

18 57

0 -

9 Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida-Klungkung

100 100

100 100

100 100

71 75

0 -

10 Taman Wisata Perairan Gili Sulat dan Lawang- Kab Lombok Timur

100

100

52 - -

11 Taman Wisata Perairan Gili Tangkong, Gili Nanggu dan Gili Sundak- Lombok Barat

100 100

73 100

29 52

- -

- -

12 Kawasan Konservasi Laut Daerah Selat Pantar-Alor

100 100

100 100

90 100

61 69

- -

13 Kawasan Konservasi Perairan Laut Kabupaten Sikka

100 100

100 100

69 71

- -

14 Kawasan Konservasi Taman Pesisir dan Taman Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan sekitarnya – berau

100 100

100 100

95 100

- 32

- -

(27)

LAKIP DIT. KKJI 2017 21

No NAMA KAWASAN TAHUN

2016

(28 Kawasan) 2017 (30 Kawasan)

15 Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan

100 100

73 100

- 38

- -

- -

16 Kawasan Konservasi Perairan Kei Kab Maluku Tenggara

100 100

100 100

71 100

76 76

17

Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Taman Pulau Kecil-yamdena Kab maluku tenggara barat

100

100

19 - - 18 Kawasan Konservasi Laut Raja Ampat :(ayau-

asia,teluk mayalibit, selat dampier, wayag-sayang- piay, misool selatan; 1 SML)-raja ampat

100 100

100 100

91 100

96 96

- -

19 Kawasan Konservasi Perairan Daerah Tambrauw

100 100

100 100

43 95

0 -

0 -

20 Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Biak Numfor

100 100

41 100

0 38

0 -

0 -

100 100

TNP laut Sawu dan Sekitarnya

100 100

90 100

21 39 51

TWP Kepualauan Anambas

100 100

100 100

22 62 100

7 59

SAP Kepulauan Aru Tenggara

100 100

100 100

23 57 100

17 51

SAP Kepulauan Raja Ampat

100 100

100 100

24 19 100

46

SAP Kepulauan Waigeo sebelah barat 100 100

(28)

LAKIP DIT. KKJI 2017 22

No NAMA KAWASAN TAHUN

2016

(28 Kawasan) 2017 (30 Kawasan)

100 100

25 43 100

46

TWP Kapoposang

100 100

100 100

26 43 100

32

TWP Pulau Padaido

100 100

100 100

27 33 100

32

TWP Gili Ayer, Gili Meno, Gili Trawangan

100 100

100 100

28 90 100

18 46

TWP Laut Banda

100 100

100 100

29 43 100

22 32

TWP Pulau Pieh

100 100

100 100

30 76 100

31 76

tahun 2017 sebesar 30 kawasan, yg terdiri dari 5 kawasan menjadi 100% kuning, 17 kawasan menjadi 100% hijau dan 8 kawasan masih pada level warna yg sama namun prosentasenya meningkat pada level warna yg sama.

Kegiatan yang menunjang pencapaian kinerja antara lain : pemasangan titik referensi di TNP Laut Sawu dan SAP Raja Ampat; konsultasi publik penyusunan dokumen rencana pengelolaan zonasi taman pulau kecil Kepulautan Tatoarang, TNP Natuna, TP Banggari dan TPL Maluku Tenggara; Rapat koordinasi CTi-CFF Pokja Kawasan Konservasi Perairan;

pembahasan percepatan pengalihan P3D, Pembahasan revisi UU No 5 tahun 1990;

peningkatan kapasitas SDM pengelola KKP; bimbingan teknis SDM pengelola KKP; penyusunan NSPK terkait pengelolaan efektif KKP;

Pelaksanaan pencapaian kinerja ini menghadapi tantangan dengan berkurangnya pagu anggaran Dit KKHL dengan adanya pemotongan anggaran serta penghentian pembiayaan kegiatan yang berasal dari PHLN. Untuk mengoptimalkan anggaran serta pencapaian target Dit KKHL bekerjasama dengan Unit Pelaksana Teknis Dit PRL , NGO, Perguruan Tinggi serta Pemerintah Daerah dan Provinsi untuk mencapai target pengelolaan efektif kawasan konservasi.

(29)

LAKIP DIT. KKJI 2017 23 IKU 5. Nilai Kesesuaian Bantuan Pemerintah lingkup Dit Konservasi dan

Keanekaragaman Hayati Laut (%)

Pada tahun 2017, Nilai kesesuaian bantuan pemerintah lingkup Ditjen KKHL merupakan indikator kinerja baru sebagai implementasi dari penyaluran bantuan pemerintah lingkup Ditjen KKHL yang dinyatakan dalam satuan persen (%). Nilai kesesuaian merupakan suatu ukuran atas kesesuaian antara rencana (kebutuhan) dan realisasi penyaluran bantuan pemerintah oleh Ditjen KKHL untuk pemerintah daerah atau masyarakat berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Pengukuran dilakukan berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi penyaluran bantuan pemerintah berdasarkan kesesuaian kebutuhan, sasaran, kontrak (spesifikasi, jumlah, dan waktu), dan infrastruktur pendukung.

Nilai kesesuaian bantuan pemerintah merupakan IKU baru pada tahun 2017 dengan target nilai kesesuaian bantuan pemerintah sebesar 80% yang berarti minimal 80% bantuan pemerintah yang disalurkan kepada pemerintah daerah/masyarakat telah sesuai kebutuhan, sasaran, kontrak, dan infrastruktur pendukung dari kegiatan-kegiatan yang direncanakan.

Target kesesuaian bantuan pemerintah Ditjen KKHL adalah penyaluran bantuan pemerintah untuk kegiatan: Keanekaragaman Hayati Laut yang Dilindungi, Dilestarikan dan/atau Dimanfaatkan.

Bantuan pemerintah yang dilaksanakan oleh Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut untuk tahun 2017 ini berupa 30 paket bantuan untuk kelompok masyarakat penggerak konservasi, dan bantuan untuk kelompok masyarakat pada lokasi SKPT Mentawai. Bantuan yang di berikan untuk Kompak antara lain berupa peralatan komunikasi, peralatan selam, kamera, teropong, life jacket, kapal pengawas, GPS, coolbox, genset.

Kelompok Masyarakat ini berada di : Kabupaten Sabang (5 KOMPAK), Kabupaten Anambas (5 KOMPAK), Kota Manado (1 KOMPAK), Kota Padang (1 KOMPAK), Kabupaten Padang Pariaman (1 KOMPAK), Kabupaten Buleleng (1 KOMPAK), Kabupaten Banggai Laut (5 KOMPAK), Kabupaten Banggai Kepulauan (5 KOMPAK), Kabupaten Pangkajene Kepulauan (1 KOMPAK), Kabupaten Polewali Mandar (1 KOMPAK), Kabupeten Maluku Tenggara (2 KOMPAK), Kabupaten Raja Ampat (3 KOMPAK).

Bantuan untuk masyarakat pada lokasi SKPT Mentawai berupa : Kapal 5gt, benih kerapu, pakan dan obat-obatan ikan, biaya operasional melaut, cool box, alat pembersih jaring, dan jaring gill net. Bantuan ini diberikan pada kelompok masyarakat nelayan budidaya dan kelompok masyarakat nelayan budidaya.

Kegiatan yang menunjang tercapainya kinerja ini adalah : identifikasi dan verifikasi kelompok masyarakat, inventarisasi dan evaluasi usulan proposal bantuan pemerintah dari kelompok masyarakat,

SS.4. Tersedianya Kebijakan Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang Efektif

Dalam rangka mencapai sasaran strategis tersedianya kebijakan pembangunan kp yang efektif, Dit KKHL menjabarkannya dalam 1 (satu) Indikator kinerja, yaitu indeks efektifitas kebijakan pemerintah.

Target yang ditetapkan untuk mengukur keberhasilan indikator kinerja pada sasaran strategis ini, serta realisasi pada Triwulan IV tahun 2017 ini dijelaskan pada tabel berikut:

Gambar

Tabel 1 Perjanjian kinerja tahun 2017 Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati  Laut
Tabel 2 Rencana strategis Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut 2015 - 2019
Tabel 3 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Dit KKHL  Tahun 2017  Indikator Kinerja Utama  Target
Tabel  4  Target  dan  Realisasi  Sasaran  Strategis  Meningkatnya  Kesejahteraan  Masyarakat  Kelautan Dan Perikanan
+7

Referensi

Dokumen terkait

New York: Cengage Learning 14& 15 Discuss the evolution of cruising Distinguish the cruise product among all transportation systems Goeldner, C., Ritchie, J.R.,2012 Tourism: