LAPORAN BACA
Nama : Jefrianus Wungo
NIM : 01-22-103-2022-003
Prodi/ Semester : PAK
Mata Kuliah : Teologi PB 2
Dosen Pengampu : Timotius Cong, M. Th
Judul : Teologi Perjanjian Baru 2
Pengarang : Donald Guthrie
Jumlah halaman : 397
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia1992
A. Latar Belakang
Latar belakang dari buku "Teologi Perjanjian Baru" meliputi pemahaman mendalam mengenai karya penyelamatan Kristus sebagaimana disampaikan dalam Kitab-kitab Injil Sinoptik, Injil Yohanes, dan tulisan-tulisan para rasul lainnya. Dalam konteks agama Yahudi, kurban dianggap penting sebagai cara manusia mendekati Allah. Kurban-kurban yang disajikan dalam Perjanjian Lama memiliki tujuan khusus dan dipandang sebagai syarat perjanjian yang ditetapkan oleh Allah. Kitab-kitab Injil Sinoptik memberikan gambaran yang kohesif tentang kehidupan, pengajaran, dan penderitaan Yesus Kristus, serta misi-Nya yang menekankan pentingnya penderitaan dan salib dalam penyelamatan manusia. Di samping itu, Injil Yohanes memberikan penjelasan tentang pribadi Yesus dan makna pekerjaan-Nya dengan menyajikan refleksi teologis yang mendalam, termasuk penggambaran tentang kematian-Nya yang sesuai dengan rencana ilahi.
Buku ini juga menguraikan kisah para rasul, khususnya dalam Kisah Para Rasul, surat-surat Paulus, Surat-surat Petrus, Surat Ibrani, dan Kitab Wahyu, yang semuanya menggambarkan pemahaman yang mendalam tentang peran Kristus dalam karya penyelamatan. Paulus menekankan gagasan tebusan dalam karya Kristus, sementara
Surat-surat Petrus menyoroti gagasan tentang penebusan dan nilai darah Kristus sebagai harga tebusan yang mahal. Surat Ibrani menekankan peran Kristus sebagai Imam Besar yang membawa kelepasan atau penebusan yang tuntas melalui darah-Nya sendiri. Kitab Wahyu menyoroti tema penebusan dalam konteks konflik antara Allah dan Iblis yang digambarkan dalam seluruh isi kitab tersebut. Dengan kata lain, mempelajari buku ini tidak hanya memberikan wawasan teologis, tetapi juga memperkuat keyakinan akan pentingnya pengorbanan Yesus dalam menyelamatkan umat manusia dari hukuman dosa dan memperkenalkan mereka pada keselamatan kekal dalam Kristus
1. Kitab-kitab Injil Sinopik
Kitab-kitab Injil Sinoptik merujuk kepada tiga Injil dalam Perjanjian Baru yang memiliki kesamaan dalam penyajian cerita-cerita tentang kehidupan, pengajaran, dan penderitaan Yesus Kristus. Misi Yesus ditegaskan saat pembaptisan-Nya, dan pengantar misi ini juga terlihat dalam penuturan tentang baptisan serta makna peristiwa tersebut dalam konteks penting dari misi-Nya kepada orang-orang. Yesus dalam Injil diberi berbagai sebutan, seperti Mesias, Hamba, Anak Allah, dan Roh Allah, yang semuanya mengarah pada pelayanan-Nya yang luas. Penderitaan dan salib menjadi pokok yang penting dalam penulisan Injil, dan maknanya memengaruhi seluruh isi Perjanjian Baru.
Oleh karena itu, memahami arti salib penting untuk memahami karya dan misi Yesus dalam Injil Sinoptik.
Terkait petunjuk-petunjuk tentang kematian yang menjelang, dengan tema yang mencakup kesadaran akan misi Yesus, perlawanan terhadap-Nya, penderitaan sebagai puncak dari penuturan Injil-injil Sinoptik, pertimbangan tentang bagaimana Yesus memandang kematian-Nya, dan perlunya mempertimbangkan bukti dengan hati-hati untuk menemukan jawaban yang memadai. Oleh karena itu, kita dapat lihat, bagaimana Yesus menggunakan perumpamaan tentang para tamu perjamuan untuk menjelaskan sikap-Nya terhadap puasa, dengan menyiratkan bahwa kepergian sang mempelai mungkin menandakan kematian-Nya yang kejam (Markus 2:18-20; Matius 9:14-17; Lukas 5:33-38). Yesus menyatakan bahwa Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam, seperti Yunus tinggal di perut ikan, yang dianggap sebagai petunjuk tidak langsung kepada kematian dan kebangkitan-Nya (Matius 12:40).
a. Fakta Untuk Penafsiran Penderitaan Yeuss
Bukti ini, dapat kita lihat dalam (Lukas 9:31) menyatakan bahwa Musa, Elia, dan Yesus berbicara tentang tujuan kepergian Yesus yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. Penggunaan kata "kepergian" (exodos) dalam konteks ini menjadi pertimbangan terhadap pandangan Lukas terhadap penderitaan Yesus, meskipun terdapat interpretasi yang beragam terkait makna kata tersebut.
Ayat ini juga dapat dikaitkan dengan Lukas 12:49-50 di mana Yesus menunjukkan kesiapan-Nya menghadapi waktu yang sulit di depan-Nya, termasuk baptisan-Nya yang akan datang. Baptisan dalam Lukas dikaitkan dengan pengutusan api, yang berbeda dari konteks dalam Matius dan Markus. Lukas mencatat ucapan Yesus terhadap Herodes bahwa ia mengusir setan dan menyembuhkan orang, menunjukkan sikap-Nya yang teguh dalam menghadapi penderitaan yang mendekat.
b. Fakta Penggambaran Penderitaan Yesus Oleh Lukas
1. Lukas meniadakan cerita tentang pengurapan Yesus di Betenia, artinya ia meniadakan suatau petunjuk yang khas kepada penguburan Yesus
2. Dalam penuturan Lukas, Yudas meninggalkan ruangan atas sebelum penetapan Perjamuan Malam, karena sudah dimasuki iblis (Luk 23:3). Dalam kita-kitab Injil lain ia hadir dalam perjamuan itu dan menerima penggang khusus. Lagi pula Yesus berkata, lebih baik lagi orang itu sekiranya ia tidak lahirkan (Mat 26:24)
3. Lukas tidak menyebutkan bahwa semua murid meninggalkan Yesus, sebagaimana disebut kitab-kitba Injil lain (Mat 26:56; Mrk 14:50).
4. Penyengkalan Petrus dalam Lukas aggak dikurangi bobotnya dengan dicantumkannya doa Yesus agar imannya jangan luntur (Luk 22:32)
5. Hanya Lukas yang merekam doa Yesus bagi para pengeniayaan-Nya (Luk 23:34), serta himbauan-Nya kepada wanita-wanita yerusalem agar tidak menegisi Dia, melainkan diri dan anak-anak mereka (Luk 23:28)
6. Cerita penyaliban berakhir takkala yesus menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa-Nya (Luk 23:46)
7. Hanya Lukaslah dari antara Kitab-kitab Ijil Sinoptik yangh menceritakan bagaimana Yesus, walaupun sedanga di atas kayu salib, tetap melayani kebutuhan aorang lain (23:39-43).
2. Injil Yohanes
Penyajian Yohanes tentang pribadi Yesus memiliki ciri khasnya sendiri, begitu pula dengan penjelasannya mengenai arti pekerjaan Kristus. Beberapa ahli berpendapat bahwa Yohanes menyampaikan refleksi teologisnya sendiri tentang makna misi Yesus, sementara yang lain menyatakan bahwa dia mungkin dipengaruhi oleh pemikiran Yunani atau gagasan-gagasan Ibrani. Dalam Injil Yohanes, sebagian komentar berasal langsung dari Yohanes, tetapi ada juga keterangan yang diasosiasikan dengan Yesus. Oleh karena itu, menerima bahwa Yohanes telah menyajikan pengajaran Yesus sedemikian rupa sehingga pikiran Yesus sendiri tentang pekerjaan-Nya dapat dipahami, adalah suatu hal yang beralasan.
a. Kematian Yeus Sesui dengan Rencana
Kematian Yesus sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya, seperti yang tercermin dalam ucapan-ucapan-Nya yang menunjukkan kesadaran-Nya akan waktu yang telah ditetapkan. Yohanes mencatat tema "saat" yang berkaitan dengan penderitaan Yesus, seperti dalam Yohanes 7:30 dan Yohanes 8:20 yang menyatakan bahwa saat-Nya belum tiba untuk ditangkap. Yesus juga mengatakan kepada orang-orang Yunani dalam Yohanes 12:23 bahwa saatnya Anak Manusia dimuliakan, yang menunjukkan kesadaran-Nya akan tujuan hidup-Nya di dunia ini. Dalam Yohanes 12:27, Yesus berdoa agar diselamatkan dari saat itu, menunjukkan ketegangan yang dihadapinya menjelang kematian-Nya. Dalam doa-Nya dalam Yohanes 17, Yesus menyatakan bahwa saatnya telah tiba untuk dimuliakan, menunjukkan keyakinan bahwa kematian-Nya adalah kesempatan bagi Bapa untuk memuliakan-Nya. Yohanes sendiri merasakan kepastian akan tak terelakkan nya salib, dan dengan keahlian menelusuri perjalanan Yesus yang terarah lurus kepada tujuan itu.
b. Penderitaan Sebagai Suatu Kurban
Pada Yohanes 1:29, Yohanes Pembaptis dua kali memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah, dengan pernyataan penuh makna bahwa Yesus adalah "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia". Dalam konteks ini, digunakan kiasan tentang kurban, mengingatkan kita pada upacara kurban dalam Perjanjian Lama. C.H. Dodd menganggap "Anak Domba Allah"
sebagai suatu gelar mesianis, dengan mengacu pada Yesaya 53:7 yang menyebutkan tentang hamba yang seperti anak domba yang dibawa ke
pembantaian. Meskipun pada saat Yesus diadili, Ia tidak sepenuhnya bungkam seperti yang diramalkan dalam nubuatan tersebut, namun penafsiran ini lebih memadai daripada tafsiran lain yang hanya mengacu pada sifat jinak dari anak domba itu. Keterkaitan dengan gagasan kurban terlihat dari penggunaan frase
"menghapus dosa", yang secara jelas menunjukkan hubungan dengan bahasa kurban. Dalam konteks ini, bisa dipahami bahwa Yesus memahami diri-Nya sebagai Hamba yang menanggung dosa banyak orang, seperti yang disebut dalam Yesaya 53:12.
c. Yesus Mati Secara Suka Rela
Dalam Injil Yohanes, terdapat penekanan bahwa Yesus mati secara sukarela, bukan hanya sebagai peristiwa yang tak terhindarkan. Yesus memegang kendali atas nasib-Nya sendiri dan melaksanakannya sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. Hal ini terlihat dalam pernyataan-Nya dalam Yohanes 10:11,15,17 di mana Dia menyatakan bahwa Dia memberikan nyawa-Nya dengan sukarela. Bahkan dalam Yohanes 10:18, Yesus menegaskan bahwa tidak seorang pun yang mengambil nyawa-Nya, melainkan Dia memberikannya menurut kehendak-Nya sendiri. Konsep sukarela ini juga ditegaskan dalam Yohanes 15:13 di mana Yesus menghubungkan pemberian hidup-Nya dengan kuasa untuk mengambilnya kembali.
d. Kematian diebut Sebut Seabagai “Ditinggikan”
Kematian Yesus disebut sebagai "ditinggikan", yang memiliki dua makna penting: cara kematian (penyaliban) dan penafsiran atasnya (sebagai suatu kejayaan). Penggunaan istilah "peninggian" ini terlihat dalam beberapa nats dalam Injil Yohanes:
1. Dalam Yohanes 3:14-15, Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia harus
"ditinggikan" seperti ular yang ditinggikan oleh Musa, yang kemudian diinterpretasikan sebagai peristiwa penyaliban. Pentingnya peninggian ini ditekankan, menunjukkan perlunya peristiwa tersebut.
2. Dalam Yohanes 8:28, Yesus menyatakan bahwa ketika Anak Manusia telah "ditinggikan", orang-orang akan mengenali Dia. Hal ini juga menunjukkan pada peristiwa salib sebagai suatu penyataan tentang identitas Yesus.
3. Dalam Yohanes 12:31, akibat-akibat dari peninggian Yesus disebutkan, termasuk penghakiman atas dunia dan pelenyapan kuasa-kuasa jahat.
Peninggian dipandang sebagai sarana untuk menarik orang kepada Yesus, serta sebagai aspek kejayaan dari salib.
e. Manfat Kematian Yesus
Manfaat kematian Yesus dapat kita ketahui dalam Yohanes 11:49-50, di mana Kayafas, sebagai Imam Besar saat itu, menekankan manfaat politis kematian Yesus. Ketakutan kalangan Yahudi terhadap pengikut Yesus memuncak, dan Kayafas menyatakan bahwa lebih baik satu orang mati daripada bangsa mereka binasa, dengan tujuan untuk mempertahankan status politik mereka dan menghindari tindakan keras dari penguasa Romawi.
Namun, pemahaman Yohanes tentang manfaat kematian Yesus jauh lebih mendalam. Yohanes menyoroti peran Kayafas sebagai Imam Besar pada saat Yesus meninggal, menggarisbawahi bahwa dalam konteks tersebut Kayafas secara tidak sengaja mengungkapkan kebenaran spiritual tentang arti kematian Yesus. Meskipun Kayafas melihat manfaat politis, Yohanes melihat kematian Yesus sebagai suatu pengorbanan yang memiliki konsekuensi yang jauh lebih dalam dalam konteks kehidupan rohani dan keselamatan manusia.
KARYA PENYELAMATAN KRISTUS
A. Pemahaman yang berkemang
Dalam pemahaman yang berkembang mengenai karya penyelamatan Kristus, dapat kita ketahui, yang terdapat dua jalur bukti yang telah diperhatikan sebelumnya. Tujuan utama dari pembahasan ini adalah untuk menemukan pemikiran Yesus sendiri tentang misi-Nya, terutama mengenai kematian-Nya. Meskipun Yesus tidak secara eksplisit mengajarkan tentang pendamaian, ia memberikan petunjuk-petunjuk yang cukup tentang makna kematian-Nya, yang kemudian menjadi landasan bagi pemikiran para rasul.
Meskipun ada pendapat bahwa banyak hal dalam Kitab-kitab Injil berasal dari refleksi teologis dalam Jemaat mula-mula, penulis menegaskan bahwa pemahaman tentang pendamaian ini tidak mungkin muncul tanpa landasan pengajaran Yesus sendiri. Lukas, yang melanjutkan cerita sampai ke periode pemberitaan Injil oleh orang-orang Kristen, mencantumkan ajaran Yesus kepada murid-murid tentang perlunya Mesias menderita, menegaskan bahwa pemahaman ini berasal dari ajaran langsung Yesus.
1. Kisah Para Rasul
Dalam bab tersebut, pada bagian Kisah Para Rasul, dapat dilihat bahwa kematian Kristus dipandang sebagai bagian dari maksud ilahi. Hal ini disampaikan secara jelas dalam khotbah Petrus yang pertama (Kisah 2:23), di mana Petrus menyatakan bahwa Yesus diserahkan oleh Allah sesuai dengan rencana-Nya, meskipun tanggung jawab manusia dalam penyaliban Yesus juga disorot. Penulis juga menekankan pentingnya keyakinan bahwa Yesus menggenapi Kitab Suci, seperti yang disampaikan dalam Kisah 3:18, di mana penggenapan nubuat-nubuat tentang penderitaan Mesias juga disebutkan. Selain itu, dalam Kitab Kisah Para Rasul, Yesus juga digambarkan sebagai Hamba, sebuah gelar yang muncul beberapa kali dan diyakini mendukung pengidentifikasinya dengan Hamba yang Menderita dalam Kitab Yesaya. Hal ini menunjukkan bahwa penulis Kitab Kisah Para Rasul mengaitkan pemahaman tentang kematian dan pelayanan Yesus dengan nubuat-nubuat dalam Kitab Suci, serta memperkuat keyakinan bahwa kematian Yesus adalah bagian dari rencana penyelamatan Allah.
2. Surat-surat rasuri dan Kitab Wahyu
Dengan hal ini, dapat dipahami dari cara penulisnya menyajikan bukti dari surat-surat para rasul, terutama dari pandangan Paulus. Dalam ayat I Korintus 15:3, Paulus secara khas menyatakan bahwa kematian Kristus adalah untuk dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci. Hal ini menunjukkan bahwa Paulus menghubungkan kematian Kristus langsung dengan dosa-dosa manusia dan memandangnya sebagai pemenuhan nubuat dalam Kitab Suci. Ini mencerminkan pemahaman Paulus tentang pentingnya kematian Kristus dalam konteks teologis. Sebagaiman yang tercatat dalam I Korintus 15:3 "Karena itu aku beritakan kepadamu Injil itu, yang telah aku terima: bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci."
3. Surat Ibrani
Surat Ibrani membahas peran imam dan pengurbanan Kristus dalam hubungannya dengan dosa. Dalam Ibrani 1:3, penyucian dosa disebut sebagai pendahuluan kepada penobatan Kristus sebagai Imam Besar yang melibatkan pengurbanan dirinya. Ayat ini menyoroti bahwa kematian
Kristus memiliki dimensi penyucian dosa, yang juga terlihat dalam Ibrani 2:17 di mana Imam Besar disamakan dengan saudara-saudara-Nya untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Konsep pendamaian ini mencakup tindakan penggantian tertentu yang menghapus dosa-dosa.
Selanjutnya, Surat Ibrani juga menyoroti perbedaan antara imamat Kristus dan imamat Lewi dalam menangani dosa. Ibrani 5:3 menunjukkan bahwa imam besar harus mempersembahkan kurban karena dosa, termasuk dosa dirinya sendiri, sementara Kristus, seperti yang disebutkan dalam Ibrani 7:26-27, tidak perlu mempersembahkan kurban untuk dosanya sendiri karena kesucian-Nya
4. Surat 1 Petrus
Surat I Petrus menyoroti peran Kristus sebagai kurban dan pengganti dosa manusia. Ayat-ayat dalam surat ini secara langsung menghubungkan kematian Kristus dengan penebusan dosa dan pengorbanan-Nya sebagai kurban yang diperlukan untuk keselamatan umat manusia. Misalnya, dalam 1 Petrus 1:18, Kristus disebut sebagai "Domba Allah yang tak bercacat dan tak bernoda", menyoroti kesucian dan kebersihan-Nya yang membuat darah-Nya berharga untuk menebus dosa manusia. Surat ini juga menekankan penggantian Kristus untuk dosa manusia, seperti yang disebutkan dalam 1 Petrus 2:24, di mana Kristus "sendiri telah memikul dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya pada kayu salib". Selain itu, dalam 1 Petrus 3:18, Kristus disebut sebagai yang "telah mati sekali untuk segala dosa kita", menegaskan perannya sebagai pengganti bagi orang-orang yang berdosa. Pemahaman ini bahwa Kristus adalah kurban dan pengganti dosa manusia menjadi dasar untuk himbauan kepada umat-Nya untuk mengikuti teladan-Nya dalam menghadapi penderitaan, bukan sebagai pola penderitaan yang harus mereka ikuti, tetapi sebagai teladan penuh pengorbanan yang telah menggantikan kita yang berdosa.
5. Surat-surat Yohanes
Surat-surat Yohanes memberikan pemahaman yang mendalam tentang peran Kristus dalam pendamaian dosa manusia. Dalam surat tersebut, Kristus digambarkan sebagai pembawa pendamaian yang tidak hanya membatalkan kesalahan kita, tetapi juga bertindak sebagai pembela saat murka Allah mengancam. Ini menegaskan bahwa Kristus sendiri adalah
jawaban atas murka Allah. Selanjutnya, dalam Surat I Yohanes 4:10, ditekankan bahwa Allahlah yang menyediakan pendamaian, yang didorong oleh kasih-Nya yang besar. Ini mencerminkan perubahan dalam konsep pendamaian, dengan kasih menggantikan murka sebagai pendorong utama.
Meskipun pendamaian tidak secara khusus dikaitkan dengan kematian Kristus dalam beberapa ayat, seperti I Yohanes 1:7, di mana "darah" Kristus disebut sebagai penyucian dari dosa, dan I Yohanes 3:16, yang menunjukkan bahwa Kristus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, menunjukkan pada suatu tindakan penggantian yang mendasari karya-Nya.
Hal ini menyoroti hubungan yang erat antara pekerjaan Kristus dan penghapusan dosa manusia. Dengan demikian, Surat-surat Yohanes memberikan pandangan yang komprehensif tentang peran Kristus dalam membawa pendamaian bagi umat manusia.
6. Paulus
Dapat kita ketahui, bahwa Paulus menekankan gagasan tebusan dalam karya Kristus. Istilah yang digunakan, "apolutrosis", menunjukkan pembebasan atau pengampunan yang diperoleh melalui karya Kristus.
Dalam Roma 3:24-26, Paulus menyebutkan tentang penebusan yang terkait dengan anugerah dan iman dalam darah Kristus. Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah penebus kita melalui darah-Nya. Dalam Roma 8:23, istilah
"pembebasan tubuh kita" menggambarkan pembebasan yang akan datang, yang mencakup seluruh alam semesta dan menunjukkan hasil dari penebusan Kristus. Sedangkan dalam Efesus 1:7-8, Paulus menghubungkan penebusan dengan darah Kristus, menyiratkan bahwa darah-Nya adalah harga yang dibayarkan untuk penebusan dosa manusia. Dengan menggunakan bentuk sekarang, Paulus menunjukkan bahwa hasil-hasil penebusan itu sedang terwujud secara aktual. Dengan demikian, Paulus menggambarkan peran Kristus sebagai penebus manusia melalui karya-Nya yang disertai dengan pembayaran tebusan melalui darah-Nya.
7. Surat Ibrani
Surat Ibrani menekankan peran Kristus sebagai Imam Besar yang membawa kelepasan atau penebusan yang tuntas melalui darah-Nya sendiri.
Dalam Ibrani 9:12, Kristus digambarkan sebagai Imam Besar yang membawa darah-Nya sendiri ke dalam Tempat Kudus, bukan darah hewan,
untuk menjamin penebusan yang sempurna. Darah Kristus tidak hanya menyucikan hati nurani dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia (ayat 14), tetapi juga menunjukkan harga penebusan itu. Surat Ibrani juga banyak membahas penderitaan Kristus sebagai harga pekerjaan-Nya (Ibrani 2:10, 2:18; 5:7-8; 12:2-3). Ayat 15 menekankan bahwa Kristus telah mati untuk menebus pelanggaran-perpelanggaran hukum Taurat, sehingga memberikan janji kekal bagi mereka yang dipanggil untuk menerima warisan-Nya.
Dengan demikian, Surat Ibrani menjelaskan bahwa Kristus sebagai Imam Besar membawa kelepasan atau penebusan yang sempurna melalui penderitaan-Nya dan darah-Nya yang suci.
8. Surat-surat Petrus
Dengan hal ini dapat kita ketahui, bahswa Petrus menyoroti gagasan tentang penebusan, khususnya dalam 1 Petrus 1:18-19, yang menekankan bahwa orang-orang Kristen ditebus bukan dengan barang yang fana, tetapi dengan darah Kristus yang mahal. Meskipun terkait dengan konsep kurban, perhatian utamanya adalah pada nilai darah Kristus sebagai harga tebusan yang sangat berarti. Perumpamaan tentang harga tebusan menggambarkan pembayaran yang dibuat untuk membebaskan hamba-hamba, yang juga mengingatkan pada pembebasan umat Israel dari Mesir. Oleh karena itu, ayat ini menyampaikan makna yang hidup tentang pembebasan yang efektif yang dilakukan Kristus, bahkan dengan membayar dengan darah-Nya sendiri, sehingga darah tersebut disebut "mahal".
Gagasan serupa muncul dalam 2 Petrus 2:1, yang membicarakan nabi-nabi palsu yang menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka.
Dalam konteks ini, penyangkalan mereka terhadap penebusan dilihat sebagai tindakan yang sangat buruk. Mereka secara tidak pantas menolak segala yang telah dilakukan Yesus untuk kepentingan mereka. Ini menunjukkan bahwa penebusan dalam Surat-surat Petrus menjadi fokus penting, menggarisbawahi nilai dan pentingnya peran Kristus sebagai penebus.
9. Kitab Wahyu
Dalam Kitab Wahyu, tema penebusan sangat terlihat, seperti yang terungkap dalam Wahyu 5. Di sini, nyanyian para tua-tua di hadapan Anak Domba menekankan bahwa Kristus telah membeli mereka bagi Allah
dengan darah-Nya, menjadikan mereka suatu kerajaan dan imam-imam bagi Allah. Penebusan langsung dikaitkan dengan kematian Kristus, dan hasilnya membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan orang-orang yang ditebus. Mereka dipanggil untuk melayani sebagai raja dan imam, namun keadaan sebelum pembebasan tidak dijelaskan dalam ayat ini. Hal ini terjadi dalam konteks konflik antara Allah dan Iblis yang digambarkan dalam seluruh isi Kitab Wahyu. Tema penebusan yang serupa muncul dalam Wahyu 14:4-5, di mana 144.000 orang ditebus sebagai kurban-kurban sulung bagi Allah dan Anak Domba. Penebusan ini menghasilkan kesetiaan baru dan pembebasan dari segala kejahatan, menunjukkan bahwa orang-orang yang ditebus kini menjadi milik Allah.
KESIMPULAM
Dapat di simpulkan, bahwa Karya penyelamatan Kristus, seperti yang disampaikan dalam Kitab-kitab Injil Sinoptik, Injil Yohanes, dan tulisan-tulisan para rasul lainnya, menampilkan gambaran yang mendalam tentang bagaimana kematian Yesus Kristus memiliki makna yang penting dalam rencana penyelamatan Allah bagi umat manusia. Melalui teks-teks ini yang sudah maparkan di atas, saya pribadi dapat memahami bahwa penderitaan dan salib Yesus bukanlah kebetulan semata, tetapi merupakan bagian integral dari misi-Nya untuk membebaskan manusia dari dosa dan mengembalikan mereka kepada Allah. Dalam hal ini, mempelajari buku menjadi suatu tugas yang penting bagi saya pribadi, karena membantu saya merenungkan secara lebih dalam tentang pentingnya pengorbanan Yesus Kristus dalam menyelamatkan umat manusia dari hukuman kematian akibat dosa manusia.
Dengan demikian, buku ini juga memberikan gambaran yang jelas tentang misi Yesus Kristus dalam menghadapi penderitaan dan salib sebagai bagian dari rencana penyelamatan Allah. Melalui perenungan atas kematian-Nya, saya dapat memahami bahwa tidak ada hal yang kebetulan dalam karya penyelamatan Kristus, tetapi semuanya terjadi sesuai dengan rencana ilahi. Oleh karena itu, mempelajari isi buku ini bukan hanya memberikan wawasan teologis saya, tetapi juga meneguhkan keyakinan saya akan pentingnya pengorbanan Yesus dalam membebaskan kita dari
hukuman dosa dan memperkenalkan kita pada keselamatan kekal dalam Kristus.