LAPORAN BULANAN
WHO HEALTH EMERGENCIES
MARET 2024
constant vomiting
constant vomiting
constant vomiting
constant vomiting
constant vomiting
constant vomiting
constant vomiting
constant vomiting
Sakit perut yang parah
Mual
Perkembangan situasi demam berdarah dengue di Indonesia
Jumlah kasus tertinggi terdapat di Kota Bandung, Kota Kendari, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, dan Kabupaten Subang.
46 168 kasus*
350 kematian secara nasional*
Tingginya kasus demam berdarah dengue diperkirakan masih akan masih akan berlanjut hingga bulan April 2024, bertepatan dengan musim hujan pasca El Nino. Sebagian besar kasus demam dengue disebabkan Serotipe virus dengue DENV-3. Peningkatan signifikan suspek dengue terjadi sejak minggu ke-47 tahun 2023.
WHO saat ini sedang melakukan revisi pedoman penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) demam berdarah dengue, peningkatan kapasitas di 38 provinsi, dan pengadaan 5 000 alat tes diagnostik cepat (RDT) dengue.
Sumber: Kementerian Kesehatan (Kemkes) per 1 April 2024
*jumlah kumulatif di Tahun 2024
Gejala dengue biasa
Demam tinggi (40°C/104°F)
Sakit kepala parah
Rasa sakit di belakang mata
Nyeri otot dan sendi
Muntah
Kelenjar bengkak
Ruam Sumber: WHO
Gejala dengue berat
Sumber: WHO
Muntah terus- menerus
Pernapasan cepat
Gusi atau hidung berdarah Kelelahan
Merasa gelisah
Terdapat darah pada muntah/tinja
Menjadi sangat haus
Kulit pucat dan dingin
Merasa lemah
0,000 5,000 10,000 15,000 20,000
Tren nasional suspek dengue tahun 2023–2024
2023
Sumber: Kemkes - Public Health Emergency Operations Centre (PHEOC) 20 000
15 000
10 000
5 000
0
18 368
2024
Per 25 Maret 2024. Berdasarkan laporan mingguan.
Dari tahun 2023 hingga Maret 2024, terjadi 44 kematian akibat rabies:
35 kematian pada tahun 2023, dan 9 kematian hingga Maret 2024.
Rabies kembali muncul di Pulau Timor pada Mei 2023, setelah periode bebas rabies bertahun-tahun. Semua kabupaten di Pulau Timor selain Kabupaten Kupang telah terjangkit virus rabies.
Pada Juli 2023, seekor anjing dinyatakan positif rabies di Kota Kupang, dan pada Maret 2024, dua ekor anjing juga terjangkit rabies di Kabupaten Belu.
Rabies, penyakit yang selalu berakibat fatal setelah timbulnya gejala, disebarkan terutama oleh anjing. Nusa Tenggara Timur (NTT) diidentifikasi sebagai daerah berisiko tinggi di antara 26 provinsi di Indonesia dengan kasus rabies. Untuk mendukung respons KLB ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana membentuk gugus tugas pada bulan Januari 2024 untuk menangani situasi rabies di NTT. WHO memfasilitasi distribusi serum dan vaksin antirabies ke provinsi tersebut serta meningkatkan kapasitas lokal melalui lokakarya dan memberikan bantuan teknis terkait penilaian risiko bersama.
Perkembangan situasi rabies di Nusa Tenggara Timur
Cuci luka dengan air mengalir dan sabun selama 15 menit
Segera kunjungi fasilitas kesehatan (puskesmas/rabies centre/rumah sakit) terdekat
Segera laporkan kepada petugas kesehatan hewan
Apa yang harus dilalukan pada gigitan hewan yang berpotensi menularkan
rabies?
Sebaran kasus rabies di NTT antara 2023–Maret 2024
Kabupaten Timor Tengah Utara (4 kasus)
Kabupaten Ende (5 kasus)
Kabupaten Timor Tengah Selatan (16 kasus) Kabupaten Manggarai
(3 kasus)
Kabupaten Malaka (2 kasus) Kabupaten Manggarai Timur
(2 kasus)
Kabupaten Nagekeo (1 kasus)
Kabupaten Ngada (1 kasus)
Sumber: Kemkes - Tim Kerja Zoonosis per 31 Maret 2024
Kabupaten Sikka (10 kasus)
Sumber: Kemkes - Tim Kerja Zoonosis Sumber: Kemkes - Tim Kerja Zoonosis per 31 Maret 2024
Jawa Tengah (27) Banjir, letusan gunung berapi, tanah longsor,
angin puting beliung, wabah penyakit
Jawa Timur (27) Banjir, gempa bumi, tanah longsor, angin
puting beliung, kebakaran, kecelakaan Sumatra Barat (27)
Banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, kebakaran lahan dan
hutan
Bali (11) Jakarta (21)
Sumatera Selatan (5) Sumatera Utara (5)
Kalimantan Selatan (14)
Sulawesi Selatan (7) Sulawesi Utara (7)
Papua (7)
Tinjauan situasi darurat di Indonesia
Selama bulan Maret 2024, Indonesia mengalami 167 bencana yang terdiri dari 11 jenis bencana. Bencana yang paling banyak terjadi adalah banjir dan gempa bumi, yang berdampak pada banyak provinsi di Indonesia, terutama Sumatra Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Banjir di Jawa Tengah
Banjir dan tanah longsor di Sumatra Barat
Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan banjir di Kabupaten Pesisir Selatan pada 7 Maret 2024 dengan ketinggian air banjir 10–80 cm. Status tanggap darurat diperpanjang hingga 4 April 2024.
Curah hujan yang tinggi disertai angin kencang dan luapan sungai menyebabkan banjir di Kabupaten Demak pada 13 Maret 2024 dengan ketinggian air berkisar 20–150 cm. Bupati menetapkan status darurat selama 14 hari hingga 30 Maret 2024. Curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada 14 Maret 2024 dengan ketinggian air mencapai 10–70 cm. Menanggapi hal tersebut, bupati setempat menetapkan status darurat selama 10 hari, berlaku hingga 25 Maret 2024.
Kabupaten Kudus Kabupaten Demak
7 orang meninggal 39 272 orang terdampak (88 bayi, 8 ibu hamil, 847 lansia)
2 800 orang luka berat/ringan
3 588 orang mengungsi
3 penyakit teratas:
infeksi saluran pernapasan akut, dermatitis, dan mialgia 127 575 orang
terdampak (108 bayi, 507 balita, 43 ibu hamil, 685 lansia)
3 puskesmas, 2 puskesmas desa, 8 posko kesehatan 4 757 orang luka berat/ringan
14 852 orang mengungsi 3 penyakit teratas:
penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut, pusing
5 454 orang luka ringan/berat 223 000 orang terdampak (5 642 bayi, 18
795 balita, 3 906 ibu hamil, 35 416 lansia, 95 orang dengan disabilitas)
25 orang meninggal
3 penyakit teratas:
infeksi saluran pernapasan akut, demam, dermatitis,
Sumber: Pusat Krisis Kesehatan - Kemkes per 25 Maret 2024
Gempa di Jawa Timur
Pada tanggal 22 Maret 2024, Kabupaten Tuban mengalami serangkaian gempa besar dengan magnitudo 6,0, 5,3, dan 6,5. Gempa bumi tersebut tidak menimbulkan risiko tsunami.
Kabupaten Tuban Kota Surabaya Kabupaten Gresik
1 RS terdampak (RS NU Tuban); rusak ringan tetapi tetap beroperasi
60 orang terkena dampak
6 rumah sakit terdampak; rusak ringan tetapi tetap beroperasi
236 orang terkena dampak
1 rumah sakit terdampak; rusak sedang tetapi tetap beroperasi
39 003 orang terkena dampak (1 572 lansia, 215 ibu hamil, 852 balita, 195 bayi)
26 orang luka berat/ringan
33 635 orang mengungsi
Respon
Kementerian Kesehatan (Kemkes)
Mengoordinasikan dan mengawasi pusat operasi darurat kesehatan (HEOC).
1.
Menugaskan tim penilai dan menawarkan bantuan dalam mengelola krisis kesehatan.
2.
Membuat update situasi bencana secara tepat waktu.
3.
Mengidentifikasi fasilitas kesehatan yang terkena dampak.
4.
Melakukan penilaian dan mengevaluasi kondisi kesehatan di lapangan saat ini.
5.
Menawarkan dukungan dalam perencanaan operasional, pelaporan harian, pembuatan infografis, kompilasi data, pemetaan respons, dan pengaturan papan informasi untuk koordinasi dan distribusi relawan kesehatan.
6.
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Provinsi (Dinkes Kab/Ko dan Dinkes Prov)
Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Demak telah meningkatkan kewaspadaan petugas kesehatan terhadap deteksi leptospirosis setelah hujan deras dan banjir.
1.
Melakukan layanan kesehatan, pendidikan kesehatan, surveilans penyakit, dan pencegahan wabah di Jawa Tengah.
2.
Mengerahkan tim medis darurat (EMT) dari Pusat Krisis Kesehatan Kantor Wilayah Sumatera Barat untuk mendukung Kabupaten Pesisir Selatan.
3.
Menyediakan obat-obatan dan makanan tambahan bayi dan ibu hamil.
4.
Dinkes kabupaten dan puskesmas di Sumatera Barat melakukan penilaian kesehatan secara cepat, mendirikan klinik keliling, dan melakukan pengendalian dan pengawasan penyakit.
5.
Dinkes Gresik mengerahkan tim tanggap darurat ke Pulau Bawean untuk memastikan tersedianya layanan kesehatan yang memadai.
6.
WHO Indonesia
Memantau situasi dengan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan dan PHEOC).
1.
Kalender ini, berfungsi sebagai alat kesiapan bagi para pemangku kepentingan yang digunakan di kemkes, memungkinkan komunikasi proaktif dan menjadi landasan tindakan surveilans berbasis risiko. Dengan menggunakan data penyakit nasional selama periode 10 tahun, kalender risiko bertujuan memberikan proyeksi bahaya dan risiko yang akan datang. Pendekatan terpadu ini mencerminkan sinergi antara pengetahuan tentang perubahan iklim dan data kesehatan masyarakat, sehingga memperkuat strategi kesiapan dan respons nasional.
Sumber: Kemkes/WHO Indonesia
Kalender risiko nasional
Sejalan dengan pedoman global terkait dengan surveilans kolaboratif dari berbagai sumber (multisource collaborative surveillance), WHO Indonesia bekerja sama dengan Kemkes mengintegrasikan data dari Early Warning, Alert and Response System (EWARS) dengan berbagai data dari sumber lain, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang meliputi curah hujan, suhu, dan bencana alam.
Integrasi ini menghasilkan kalender risiko yang dapat memperkirakan kejadian kesehatan musiman dengan pendekatan hazard.
Pedoman rumah sakit aman
Rumah sakit berperan penting dalam memperkuat ketahanan kesehatan dengan memberikan layanan kesehatan untuk masyarakat, bertindak sebagai pusat rujukan, menyebarkan data kesehatan dan informasi surveilans, serta berkontribusi pada upaya preventif dan promotif. Untuk memenuhi fungsi-fungsi ini secara efektif, rumah sakit perlu memastikan keselamatan, fungsi, dan aksesibilitas selama bencana, sehingga mewujudkan konsep rumah sakit yang aman.
Kemkes, melalui kepemimpinan Pusat Krisis Kesehatan, sedang mengembangkan konsep rumah sakit aman
(safe hospitals) untuk memperkuat ketahanan sistem layanan kesehatan. Untuk itu, WHO memberikan
dukungan teknis dan masukan kepakaran untuk merumuskan pedoman rumah sakit aman. Pedoman ini
diharapkan dapat menjadi panduan bagi para pemangku kepentingan dalam membangun rumah sakit yang
tangguh dan aman, terutama dalam menghadapi berbagai ancaman, termasuk yang ditimbulkan oleh
perubahan iklim. Pedoman ini dapat diakses pada tautan berikut
https://link.kemkes.go.id/PedomanSafeHospital1.
Kesiapsiagaan penyakit zoonosis dan penyakit infeksi baru
WHO mendukung orientasi severe acute respiratory infection (SARI) di 10 rumah sakit perluasan di Bekasi pada 8 Maret 2024.
WHO memberikan dukungan teknis dalam on the job training pencegahan dan pengendalian pes di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada 27 Maret 2024. Sebanyak 42 peserta hadir dari berbagai kabupaten seperti Boyolali, Sleman, Bandung Barat, dan Pasuruan, serta perwakilan dari Kemkes dan dinkes provinsi.
WHO memberikan bantuan teknis untuk pengembangan kurikulum dan modul kesiapan dan ketahanan penyakit infeksi baru (EID) di jaringan rumah sakit pada tanggal 20–21 Maret 2024 (didanai oleh USAID).
Indonesia berpartisipasi dalam latihan simulasi International Health Regulations (IHR) secara virtual pada tanggal 12 Maret 2024 untuk meningkatkan koordinasi antara IHR national focal points dan IHR focal points WHO, serta berlatih menggunakan Annex II IHR.
Kegiatan tim kedaruratan kesehatan - Maret
WHO mendukung pengadaan 5 000 alat RDT dengue. WHO juga mendukung revisi pedoman wabah demam berdarah dan pelatihan kepada petugas dari 38 provinsi.
WHO memberikan dukungan teknis untuk penggunaan aplikasi eZoonosis pada pertemuan tentang kasus Antraks. Peserta pertemuan mencakup antara lain perwakilan puskesmas dan Dinkes Kabupaten Sleman dan Gunung Kidul, serta Dinkes Prov DIY.
Surveilans
WHO berpartisipasi dalam pertemuan surveilans sindromik pada 13 Maret 2024. Pertemuan tersebut berfokus pada identifikasi laboratorium rujukan dan diskusi metode pemantauan dan supervisi, termasuk penggunaan kode International Classification of Diseases (ICD) 10 dan pengkajian data rumah sakit.
WHO memberikan dukungan teknis untuk pelatihan refresher EWARS di kabupaten-kabupaten terpilih di Provinsi Nusa Tenggara Timur tentang pelaporan data surveilans berbasis kejadian (EBS). Delapan kabupaten dipilih berdasarkan jumlah kasus gigitan hewan yang diterima PHEOC. Sebanyak 61 peserta mengikuti pelatihan yang berasal dari puskesmas, rumah sakit, dan dinas kesehatan kabupaten.
Kesiapan kedaruratan medis
WHO Indonesia memberikan masukan teknis untuk penyusunan pedoman rumah sakit yang aman.
WHO memfasilitasi pengadaan 8 850 vaksin antirabies dan bets ke-2 2 481 serum antirabies, yang akan didistribusikan ke provinsi-provinsi terpilih dengan pendanaan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia.
WHO Indonesia mempresentasikan rancangan peta jalan pengawasan pada pertemuan kerangka kerja pada 15 Maret 2024.
Kredit: WHO/Endang Wulandari Credit: Kemkes
Kredit: Kemkes/Pusat Krisis Kesehatan
Kredit: Kemkes
Kredit: Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso
Petugas WHO menjadi narasumber pada kegiatan supervisi influenza-like illness (ILI) dan SARI di Yogyakarta pada tanggal 25 Maret 2024 (didanai oleh Global Fund) dan di Kalimantan Selatan pada tanggal 26–28 Maret 2024.
WHO menyampaikan masukan pada pertemuan persiapan latihan simulasi penyakit rentan wabah di perlintasan batas negara.
[email protected]
Kegiatan tim kedaruratan kesehatan - Februari
Kesiapsiagaan penyakit zoonosis dan penyakit infeksi baru
WHO berpartisipasi dalam kunjungan pemantauan dan evaluasi pada tanggal 31 Januari–1 Februari 2024 untuk mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian leptospirosis di Demak. Kunjungan ini mencakup kegiatan diskusi epidemiologi molekuler di RS Sultan Fatah, pengendalian dan infeksi leptospirosis di Puskesmas Bonang 1, serta tim koordinasi lokal bidang pencegahan dan pengendalian Leptospirosis di Demak.
WHO berpartisipasi dalam pelatihan langsung aplikasi e- Zoonosis, sebagai bagian dari sebuah lokakarya tentang rabies.
WHO juga menyampaikan masukan terkait aplikasi ini pada 21 hingga 23 Februari 2024. WHO mendukung pengembangan aplikasi tersebut bersama Kemkes dan Universitas Gadjah Mada selama tahun 2020-2021.
WHO berpartisipasi dalam pertemuan IHR States Parties Self- Assessment Annual Report (SPAR) dengan penanggung jawab bidang teknis zoonosis, surveilans, dan laboratorium pada 13 Februari 2024.
WHO berpartisipasi dalam Pandemic Influenza Severity Assessment (PISA) ke-3.
WHO berpartisipasi dalam pertemuan pengawasan sindromik pada tanggal 15 Februari 2024. Kode ICD10 digunakan untuk mengidentifikasi tren dan angka pembanding.
WHO memberikan masukan teknis pada pertemuan peta jalan surveilans pada 12–13 Februari 2024. Pertemuan tersebut melibatkan 80 peserta (daring dan luring), yang mewakili Kemkes dan mitra.
Surveilans
WHO berpartisipasi dalam pelatihan daring EWARS untuk staf rumah sakit di Kalimantan Timur pada tanggal 20 Februari 2024. Tim surveilans dan PHEOC menghadiri pertemuan secara luring untuk memaparkan presentasi tentang pengenalan EWARS, pengelolaan data, dan analisis data.
WHO mengikuti pelatihan EWARS daring untuk staf rumah sakit di Sulawesi Utara pada tanggal 19 Februari 2024.
Sebanyak 25 peserta mengikuti pelatihan. Sebagian besar peserta berasal dari rumah sakit dan dinkes kabupaten/kota.
WHO berpartisipasi dalam pelatihan EWARS daring untuk staf puskesmas di Kabupaten Kotawaringin Barat pada tanggal 26 Februari 2024. Saat ini, semua puskesmas di Kotawaringin Barat memiliki akses ke website EWARS.
WHO berpartisipasi dalam pertemuan advokasi penguatan surveilans berbasis komunitas bersama International Federation of Red Cross (IFRC), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) untuk mendukung perencanaan perluasan kegiatan tahun 2024–2025.
Kesiapan kedaruratan medis
WHO memfasilitasi pertemuan tim pendukung klaster kesehatan, yang merupakan mekanisme koordinasi utama Indonesia untuk kegiatan kesiapan, respons, dan pemulihan darurat kesehatan, pada 27 Februari 2024. Lebih dari 20 mitra hadir dan menetapkan kerangka kerja untuk pertemuan reguler klaster kesehatan untuk memperkuat koordinasi, pertukaran informasi dan perencanaan strategis untuk ketahanan sistem kesehatan serta kegiatan kesiapan dan tanggap darurat.
Kredit: WHO/Vita Hanafi
Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
WHO Indonesia
[email protected]
WHO memaparkan rencana strategis global untuk ancaman kesehatan masyarakat dalam pertemuan kerangka kerja pada 15 Februari 2024.
WHO memaparkan strategi influenza global dan memfasilitasi orientasi surveilans sentinel ILI untuk pintu masuk negara pada 5–6 Februari 2024
Kredit: WHO/Fieni Aprilia
Credit: WHO/Endang Wulandari
WHO menyampaikan masukan untuk pemutakhiran modul pelatihan rapid response team dan modul pelatihan mentor Field Epidemiology Training Program (FETP).
WHO dan Kemkes berpartisipasi dalam pertemuan FETP regional SEARO pada 20–24 Februari 2024.
WHO memfasilitasi sebuah pertemuan daring antara Kemkes dan kementerian kesehatan India dan penentuan tolok ukur (benchmarking) inspeksi kapal berbasis risiko.