• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan hasil penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "laporan hasil penelitian"

Copied!
162
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Rencana Pembahasan

KAJIAN PUSTAKA

Konsep atau Kajian Teori

  • Peran dan Fungsi Perguruan Tinggi
  • Kekerasan Terhadap Perempuan
  • Bentuk-Bentuk Kekerasan Seksual
  • Pencegahan Dan Penanganan Kekerasan Seksual Dalam
  • Mekanisme Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual

Meningkatnya kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi merupakan paradoks yang sangat mengkhawatirkan. Proses pemulihan diatur dalam pasal 14 bahwa pimpinan satuan pendidikan wajib melaksanakan pemulihan terhadap korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh pendamping.

METODELOGI PENELITIAN

Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penggunaan pendekatan kualitatif bertujuan untuk memahami lebih dalam partisipasi dan strategi perguruan tinggi dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, khususnya di beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur dan Makassar. Sedangkan metode deskriptif ini digunakan karena peneliti ingin mendeskripsikan situasi terkini mengenai bentuk partisipasi perguruan tinggi dan strategi pencegahan, pengobatan dan pendampingan terhadap korban kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

Data dan Sumber Data

57 Komnas Perempuan, Pedoman Pencegahan dan Penanganan Kasus Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), (Jakarta: Komnas Perempuan, 2020), 5. Kurangnya pemahaman tentang gender dan kekerasan seksual justru akan berujung pada banyak kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi. Keberadaan Satgas PPKS menimbulkan beberapa perpecahan terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan UINSA.

Pendekatan administratif dapat dijadikan sebagai cara pertama dan utama dalam menangani kekerasan seksual di perguruan tinggi. Masing-masing fakultas aktif menjalankan program pencegahan dan penanganan kekerasan seksual dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Penggunaan hukum sebagai alat dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan tersier merupakan upaya yang sangat rasional.

Mengatasi kekerasan seksual di pendidikan tinggi merupakan isu yang sangat penting untuk diatasi karena beberapa alasan. Komnas Perempuan, Pedoman Pencegahan dan Penanganan Kasus Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), (Jakarta: Komnas Perempuan, 2020).

KAJIAN DATA

Bentuk-Bentuk Partisipasi Perguruan Tinggi Dalam Mencegah Dan

Menyikapi Keputusan Rektor IAIN Jember Nomor 316 Tahun 2020 tentang SOP Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di IAIN Jember. Hal ini merupakan bentuk implementasi dari Keputusan Rektor Nomor 532 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan IAIN Kediri. Adanya kasus kekerasan seksual di lingkungan Universitas UINSA dapat menghebohkan media sosial dan aplikasi perpesanan.

Kekerasan seksual tidak hanya terjadi di perguruan tinggi, namun juga terjadi di sekolah. Universitas Negeri Airlangga merupakan kampus yang pertama kali peka terhadap adanya kekerasan seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi UNAIR. Keberadaan Satgas PPKS merupakan wujud penurunan kasus kekerasan seksual di kampus UNAIR.”85.

Respon terhadap semakin maraknya kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi baik di PTN, PTS maupun PTKIN sangat memprihatinkan. Rektor pun menyikapi hal tersebut dengan menerbitkan Keputusan Rektor UNEJ Nomor 4 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual di Lingkungan Universitas Negeri Jember. Peraturan rektor tersebut merupakan bentuk implementasi Peremndikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Pendekatan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi.

Strategi Perguruan Tinggi Dalam Mencegah Dan Menangani

“Kemudian pengaduan tersebut menjadi wadah bagi korban untuk menceritakan kisahnya dan menjelaskan kronologis kasus ini untuk mengetahui dampak yang dirasakan oleh korban kekerasan seksual.”95. Referensi, referensi tersebut merupakan bentuk penegasan bahwa terdapat dampak yang signifikan terhadap kasus kekerasan seksual. Upaya pencegahan kekerasan seksual di kampus IAIN Kediri melalui sosialisasi secara langsung dan tidak langsung.

Di lingkup kampus, harus ada peran civitas akademika, yakni dengan membentuk tim pencegahan kekerasan seksual. Selain itu, jika terbukti ada pelajar yang melakukan kekerasan seksual, maka akan dikenakan berbagai sanksi. Hal ini merupakan bentuk perhatian Kampus UINSA agar kejadian kekerasan seksual tidak lagi terjadi di lingkungan Perguruan Tinggi UINSA.

Setiap universitas tentu memberikan respon terhadap kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan universitas. Strategi yang diterapkan adalah Universitas Negeri Jember bekerjasama dengan Polres Jember untuk memberikan pemahaman dan edukasi terkait pencegahan kekerasan seksual. Faktor yang mendorong dan menghambat perguruan tinggi dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.

Faktor-Faktor Yang Mendorong Dan Menghambat Perguruan Tinggi

167 Orin Gusta Andini, Urgensi keterlibatan LPSK dalam penanganan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi, Sanksi. Mengacu pada visi Edward III, menganalisis dan mendeskripsikan implementasi kebijakan pemerintah tentang pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual (PPKS) di perguruan tinggi. Implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi, Jurnal Analisis Sosiologi Juli 2022, Vol.

Ema Mutia Fitri, dkk, Implementasi Kebijakan Negara Terkait Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi, Jurnal Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial (Gesi), Vol. Usfiyatul, Sistem Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual di Kampus, Jurnal Kafa'ah Kajian Gender. Orin Gusta Andini, Perlunya pelibatan LPSK dalam menangani kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi, sanksi 2022.

Bentuk Dan Motif Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan Dan

ANALISIS DATA

Menciptakan Lingkungan Pendidikan Yang Merdeka Dari Kekerasan

Tata cara pencegahan kekerasan seksual harus dilakukan oleh perguruan tinggi dengan melaksanakan pembelajaran, penguatan manajemen dan penguatan budaya Civitas Akademika. Layanan atau saluran pelaporan kekerasan seksual ini disosialisasikan kepada seluruh mahasiswa, dosen, tenaga pengajar dan pekerja di kampus. Memberikan mekanisme pemulihan bagi mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan dan warga kampus yang menjadi korban kekerasan seksual.

Mengkomunikasikan kepada civitas kampus mengenai langkah-langkah Universitas dalam proses pengambilan keputusan terkait setiap laporan kekerasan seksual yang diterimanya. Melaksanakan sosialisasi secara berkesinambungan seputar pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus yang berwawasan kesetaraan sejak penerimaan mahasiswa baru, dan terus ditingkatkan secara berkesinambungan setiap semesternya. Sebanyak mungkin dosen dan anggota rektorat, dekan, dan dewan guru besar terlibat aktif dalam kampanye anti kekerasan seksual di kampus.

Menyelenggarakan pelatihan atau seminar sebanyak-banyaknya kepada mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan tentang membantu korban kekerasan seksual di kampus. Melakukan evaluasi secara berkala sebagai dasar rencana pengembangan program pencegahan dan pengobatan kekerasan seksual yang dikendalikan kampus. Indikator yang patut menjadi poin penting dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus antara lain; 158.

Kebijakan Strategis Perguruan Tinggi Dalam Mencegah Kekerasan

Upaya preventif dari berbagai perguruan tinggi lebih intensif berupa sosialisasi tentang kekerasan seksual. Pencegahan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi meliputi kegiatan: Komunikasi, sosialisasi dan edukasi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual; Sektor hukum yang memberikan perlindungan dan pengobatan hukum secara langsung terhadap perempuan dan anak korban kekerasan seksual.

Dari ribuan perguruan tinggi, tidak semuanya memiliki aturan yang jelas dalam menangani kasus kekerasan seksual. Falikul Isbah, “Oasis Baru”: Implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi, Jurnal Analisis Sosiologi Juli 2022, vol. Banyak kasus yang tidak dilaporkan di berbagai negara, sebagian besar kasus kekerasan seksual di kampus ditangani dalam kapasitas (kuasi) informal oleh pengelola institusi pendidikan tinggi.

184 Ema Mutia Fitri, dkk, Implementasi Kebijakan Pemerintah tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (SPV) di Perguruan Tinggi, Jurnal Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial (Gesi), vol. Nikmatullah, Demi Nama Baik Kampus Terhadap Perlindungan Korban: Kasus Kekerasan Seksual di Kampus, Qawwam Vol. Usfiyatul Marfu'ah, dkk, Sistem pencegahan dan pengobatan kekerasan seksual di kampus, Kafa'ah: Jurnal Kajian Gender, Volume 11, No.

Tantangan Perguruan Tinggi Dalam Penangan, Pendampingan Dan

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan rumusan masalah yang dianalisis peneliti seperti pada bab sebelumnya. Upaya perlindungan, penanganan dan pemberian bantuan terhadap kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, khususnya di lingkungan pendidikan tinggi, telah dilakukan sesuai dengan ketentuan Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi dan Kementerian Agama. Jadi korban bisa menjalani rehabilitasi atau penyembuhan berdasarkan kondisi psikologis, sosial bahkan hukum.

Dan bagi pelanggarnya, sedapat mungkin dilakukan tindakan hukum sesuai dengan jenis sanksi dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku; mulai dari sanksi administratif ringan, sedang, hingga berat. Namun berdasarkan hasil penelitian, sanksi berat khususnya tidak sebanyak sanksi ringan dan menengah yang diberlakukan oleh perguruan tinggi terkait. Selain itu, perguruan tinggi pada umumnya melakukan pencegahan dengan berbagai cara, mulai dari menindaklanjuti peraturan, kebijakan, hingga membentuk tim sosialisasi, gugus tugas, dan kerja sama antarlembaga.

Berkenaan dengan strategi yang diterapkan perguruan tinggi untuk mencegah, mengatasi, mendukung dan melindungi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di lingkungan tersier; Nampaknya secara kelembagaan telah muncul beberapa kebijakan strategis yang menjadi strategi dalam lingkup kekerasan seksual di lingkungan tersier. Tantangan yang dihadapi perguruan tinggi dalam menjalankan tanggung jawabnya menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari segala bentuk kekerasan seksual dapat berupa permasalahan kepegawaian yang belum semua orang paham tentang kekerasan seksual, birokrasi yang kurang proaktif dan tidak bersinergi. dalam pemberantasan kekerasan seksual di lingkungan kampus, sulitnya mengungkap kejadian di luar pengakuan dan pengaduan korban, dilema kelembagaan antara melindungi kepentingan korban (keadilan, kepastian hukum) dan kepentingan lembaga (menjaga nama baik lembaga). ) dan sanksi yang ada masih masuk dalam kategori tidak memberikan keadilan kepada korban. Namun semua tantangan problematis tersebut dapat diatasi dengan regulasi yang tepat, baik internal lembaga maupun regulasi hukum lainnya.

Saran

Adzkar dkk, Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak di Lingkungan Pendidikan, Jakarta: The Asia Foundation, 2016. Ariani Hasanah Soejoeti, Vinita Susanti, Pembahasan Restorative Justice dalam Konteks Kekerasan Seksual Kampus, Deviance: Jurnal Kriminologi Jilid 4 Edisi 1 Juni 2020 Galuh Artika Suri dkk, Peran Perempuan PBB dalam Mengatasi Kekerasan Seksual terhadap Perempuan di Indonesia.

Ivo Noviana, Kekerasan seksual terhadap anak: dampak dan pengobatan Pelecehan seksual terhadap anak: dampak dan pengobatan, Sosio Informa Vol. Nikmatullah, Demi nama baik kampus terhadap perlindungan korban: Kasus kekerasan seksual di kampus, QAWWAM: Jurnal Pengarusutamaan Gender, Vol. Dini, dkk, Banjir Informasi, Penentuan Gender dan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi, Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia: Teori dan Aplikasi: Vol.

Sri, dkk, Tantangan analisis kebijakan pencegahan kekerasan seksual terhadap anak melalui pengembangan media teknologi informasi, International Journal of Natural Sciences and Engineering. Sumintak dan Abdullah Idi, Analisis Relasi Kekuasaan Michel Foucault: Studi Kasus Munculnya Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi, Jurnal Intelektualitas: Islam, Masyarakat dan Sains, Vol. Kominfo, Gali Solusi Cegah Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi, https://www.kominfo.go.id/content/detail/38072/tetaskan-Solusi-cepat-Violence-seksual-di-perguruan-tinggi/0/berita, .

Referensi

Dokumen terkait