LAPORAN KASUS
“KATARAK”
Disusun Oleh : Tiyar Pramawita
Andini 201670006
Pembimbing : dr. Sri Widiastuti, Sp.M
KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA RSUD JHON P. WANANE KABUPATEN SORONG
PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER UNIVERSITAS PAPUA
APRIL 2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul “Katarak”.
Penulisan laporan kasus ini dibuat untuk memenuhi persyaratan tugas Mahasiswa Profesi Pendidikan Dokter Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Papua.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua Orang tua yang telah memberikan dukungan dan doanya. Ucapan Terima kasih Penulis berikan juga kepada dosen pembimbing dr. Sri Widiastuti, Sp.M selaku pembimbing yang telah membantu dalam penulisan laporan kasus ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih terdapat kekurangan, baik dari aspek materi, sistematika penulisan, maupun aspek bahasa yang digunakan, oleh karena itu, Penulis mengharapkan masukan dan saran dari semua pihak sebagai bahan perbaikan. Semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Sorong, 6 April 2023
Tiyar Pramawita .A.
LEMBAR PENGESAHAN Nama Lengkap Mahasiswa : Tiyar Pramawita Andini Nomor Induk Mahasiswa : 201670006
Jurusan : Program Pendidikan Profesi Dokter
Fakultas : Kedokteran
Universitas : Papua
Bagian Pendidikan : Ilmu Kesehatan Mata
Laporan Kasus : Katarak
Diajukan Pada : 6 April 2023
Pembimbing : dr. Sri Widiastuti, Sp.M
Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal
………...
Mengetahui, Pembimbing
dr. Sri Widiastuti, Sp.M
DAFTAR ISI
Kata Pengantar. ... 2
Lembar Pengesahan. ... 3
Daftar Isi. ... 4
Bab 1 – Deskripsi Kasus ... 5
Bab 2 – Tinjauan Pustaka ... 10
2.1 Anatomi Lensa ... 10
2.2 Definisi Katarak ... 11
2.3 Epidemiologi ... 11
2.4 Etiologi & Patofisiologi ... 11
2.5 Klasifikasi Katarak ... 12
2.6 Prinsip Diagnostik ...16
2.7 Diagnosis Banding ... 17
2.8 Tatalaksana ...17
2.9 Komplikasi. ... 19
2.10 Prognosis. ... 20
Bab 3 – Pengelolaan Kasus ... 21
Bab 4- Kesimpulan. ... 22
Daftar Pustaka ... 23
BAB 1
DESKRIPSI KASUS 1.1 PEROLEHAN DATA
Perolehan data pasien didapatkan dari anamnesis, pengamatan, dan analisis rekam medis yang dilakukan pada tanggal 31 Maret 2023 di Poli Mata Rumah Sakit Jhon P. Wanane Kabupaten Sorong.
1.2 IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Ana Saud
Tanggal lahir : 01 Februari 1957
Umur : 66 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Kristen
Alamat : Jl. Taruna, Kel. Klamalu, Kec. Mariat
Nomor RM 008820
1.3 ANAMNESIS
Keluhan Utama: Kedua mata kabur Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poli Mata RS John P. Wanane dengan keluhan penglihatan kedua mata kabur sejak ± 3 tahun lalu. Pasien mengatakan awalnya penglihatannya hanya buram sedikit berkabut namun lama kelamaan semakin bertambah buram dan sulit melihat, saat melihat dekat maupun jauh. Pasien mengatakan penglihatannya kabur sehingga kadang ia hanya bisa melihat setengah saja. Penglihatan dirasa paling kabur terutama pada mata sebelah kiri.
Keluhan tersebut terkadang disertai dengan penglihatan yang silau, tidak di sertai dengan rasa nyeri, merah dan bengkak pada matanya. Pasien mengaku memiliki riwayat keluarga yang mengalami hal yang sama dengannya, yaitu adik dan kakaknya. Pasien tidak memiliki
riwayat jatuh atau terbentur. Pasien mengatakan memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol dan tidak memiliki riwayat penyakit diabetes. Riwayat pengobatan, pasien sama sekali belum pernah memberi obat pada matanya, ini kali pertama ia periksa matanya di dokter.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Riwayat alergi tidak ada.
Memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol. Riwayat diabetes disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
• Adik dan kakak pasien memiliki riwayat penyakit katarak pada matanya.
Riwayat Penggunaan Obat
• Tidak ada
Riwayat Sosial dan Kebiasaan
• Pasien merupakan seorang petani yang setiap harinya aktif bekerja dikebun dan juga ibu rumah tangga.
2.4 PEMERIKSAAN FISIS
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis, GCS E4V5M6 Tanda Vital : Tensi: 209/180 mmHg
Kepala : Status oftalmologi Thoraks : Tidak dilakukan Abdomen : Tidak dilakukan Ekstremitas : Tidak dilakukan Status Oftalmologi :
OD OS
OD Keterangan OS
1/60 Visus 0,5/60
Ortoforia Kedudukan Bola
Mata Ortoforia
Normal ke segala arah
Gerakan Bola Mata
Normal ke segala arah
Edema (-), Hiperemis (-),
Trikiasis (-), Massa (-) Palpebra Superior Edema (-), Hiperemis (-), Trikiasis (-), Massa (-) Edema (-), Hiperemis (-),
Trikiasis (-), Massa (-) Palpebra Inferior Edema (-), Hiperemis (-), Trikiasis (-), Massa (-) Hiperemis (-), Papil (-), Massa (-),
Folikel (-) Konjungtiva Tarsalis Hiperemis (-), Papil (-), Massa (-), Folikel (-)
Hiperemis (-), Edema (-), Injeksi konjungtiva (-), Injeksi siliar (-), secret (+)
Konjungtiva Bulbi Hiperemis (-), Edema (-), Injeksi konjungtiva (-), Injeksi siliar (-),
secret (-) Jernih, Bentuk bulat, Infiltrat (-),
Edema (-), Sikatrik (-), Corpus alienum (-)
Kornea
Jernih, Bentuk bulat, Infiltrat (-), Edema (-), Sikatrik (-), Corpus
alienum (+)
Jernih, Dalam COA Jernih, Dalam
Warna coklat kehitaman , Simetris,
Iris Warna coklat kehitaman , Simetris,
Bulat, Terletak di tengah, Isokor,
Refleks Cahaya (+) Pupil Bulat, terletak di tengah, isokor, Refleks Cahaya (+)
Keruh Lensa Keruh
Normal TIO Palpasi Normal
A B
Gambar 1.A. Keadaan kedua mata pasien. B. Keadaan mata kiri pasien.
1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan
1.5 RESUME
Pasien datang ke Poli Mata RS John P. Wanane dengan keluhan penglihatan kedua mata kabur sejak ± 3 tahun lalu. Pasien mengatakan awalnya penglihatannya hanya buram sedikit berkabut namun lama kelamaan semakin bertambah buram dan sulit melihat, saat melihat dekat maupun jauh. Pasien mengatakan penglihatannya kabur sehingga kadang ia hanya bisa melihat setengah saja. Penglihatan dirasa paling kabur terutama pada mata sebelah kiri.
Keluhan tersebut terkadang disertai dengan penglihatan yang silau. Pasien mengaku memiliki riwayat keluarga yang mengalami hal yang sama dengannya, yaitu adik dan kakaknya yang menderita katarak. Pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol.
Riwayat pengobatan, pasien sama sekali belum pernah memberi obat pada matanya, ini kali pertama ia periksa matanya di dokter. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan tensi 209/180 mmHg. Pada pemeriksaan didapatkan visus OD 1/60 dan OS 0,5/60 serta warna lensa yang keruh dimata kiri dan kanan. Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.
1.6 DIAGNOSIS
Diagnosis kerja : ODS Katarak Imature Diagnosis
Banding:
− Katarak Insipien
− Retinopati Hipertensi 1.7 TATALAKSANA
• Medikamentosa:
o Amlodipine 10mg
• Non-Medikamentosa:
o SICS (Small incision cataract sugery) OS dan pemasangan IOL (Intra ocular lens) OS.
• Edukasi:
o Menjelaskan kepada pasien bahwa penglihatan buram yang dialaminya karena pasien mengalami katarak.
o Menjelaskan kepada pasien bahwa katarak yang dialami pasien perlu dioperasi khususnya pada mata sebelah kiri. Pasien juga akan diberikan lensa buatan pada matanya untuk menggantikan lensa kontak.
o Menjelaskan kepada pasien bahwa pasien diharuskan minum obat untuk hipertensinya demi kelancaran operasi.
1.8 PROGNOSIS
o Quo Ad Vitam : ad bonam o Quo Ad Sanam : ad bonam o Quo Ad Functionam : ad bonam o Quo Ad Komestikam : ad bonam
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Lensa
Lensa ialah struktur pada mata yang terletak di belakang iris dan di depan corpus vitreum, yang dikelilingi processus ciliaris. Lensa mempunyai struktur bikonveks dan transparan. Lensa disangga oleh serat-serat zonula yang berasal dari corpus ciliare. Serat – serat tersebut menyisip ke bagian ekuator kapsul lensa. Lensa bersifat avaskular dan tidak mempunyai persarafan, sehingga nutrisi lensa diperoleh dari aqueous humor.
Metabolisme lensa terutama bersifat anaerob akibat rendahnya kadar oksigen terlarut di dalam aqueous.1,2
Gambar 2: Anatomi Lensa.
2.2 Definisi Katarak
Katarak berasal dari Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract, dan Latin cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya. Katarak imature adalah katarak yang terjadi pada sebagian sisi lensa atau hanya sedikit opaque. Sedangkan katarak matur adalah katarak yang terjadi pada seluruh bagian lensa atau seluruh sisi lensa sudah mengalami kekeruhan.3
2.3 Epidemiologi
Gangguan penglihatan masih menjadi permasalahan utama di Indonesia. Sebagian besar gangguan penglihatan tersebut diakibatkan oleh katarak. Berdasarkan data nasional Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014 – 2016 Kemenkes, dengan sasaran populasi usia 50 tahun ke atas diketahui bahwa angka kebutaan mencapai 3%
dan katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi (81%). Diketahui angka operasi katarak per satu juta populasi pertahun di Indonesia ±1.600, sedangkan target yang diinginkan oleh Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan di Indonesia adalah sebesar 2.000-3.000 di tahun 2030. Masih banyak penderita katarak di Indonesia yang belum di operasi salah satu alasannya karena penderita tidak tahu jika katarak bisa disembuhkan.alasan lainnya juga masih banyak penderita katarak terutama di daerah pedalaman yang belum bisa mendapatkan akses pelayanan Kesehatan untuk mendapatkan pelayanan operasi katarak.5
2.4 Etilogi dan Patofisiologi
Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi juga akibat kelainan kongenital (berkaitan dengan nutrisi ibu saat hamil, infeksi rubella, dan difisiensi oksigenasi akibat perdarahan plasenta), atau penyulit penyakit mata local menahun. Bermacam-macam penyakit mata dapat mengakibatkan katarak seperti glaucoma, ablasi, uveitis, myopia berat, dan retinitis pigmentosa. Katarak dapat berhubungan proses penyakit intraokuler lainnya.
Katarak juga dapat disebabkan oleh bahan toksik khusus (kimia dan fisik). Keracunan
beberapa jenis obat dapat menimbulkan katarak seperti: eserin (0,25-0,5%), kortiosteroid, ergot, dan antikolinesterase topical. Kelainan sistemik atau metabolic yang dapat menimbulkan katarak adalah diabetes militus, galaktosemi, dan distrofi miotonik. Trauma juga dapat menyebabkan katarak yaitu seperti trauma benda tumpul, radiasi sinar UV, sengatan listrik, dan radiasi pengion. Katarak dapat ditemukan pada keadaan tanpa adanya kelainan mata atau sistemik (katarak senil, juvenil, herediter) atau kelainan kongital mata.4,6
Degenerative, denaturasi, dan koagulasi protein lensa yang terdapat dalam serat lensa adalah proses yang mendasari terjadinya sebuah katarak. Mekanisme perubahan struktur protein lensa berbeda-beda tergantung penyebabnya. Beberapa mekanisme yang mendasari seperti hidrasi kortikal antara serat lensa, metaplasia fibrosa epitel lensa, pengendapan pigmen tertentu, dan gangguan proses pertumbuhan lensa. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan lensa menjadi putih keruh akibatnya penglihatan jadi terganggu.6
Mekanisme lain pembentukan katarak:6-8
13 2.5 Klasifikasi Katarak
Berdasarkan usia katarak dapat diklasifikasikan dalam:4,7,8
➢ Katarak kongenital → katarak yang muncul sejak lahir atau terlihat pada usia dibawah 1 tahun. Berkaitan dengan kurangnya nutrisi ibu saat kehamilan, dan infeksi rubella dan rubeola.
➢ Katarak Juvenil → katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun. Katarak yang lembek dan terdapat pada orang yang muda, yang mulai terbentuk pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak ini biasanya lanjutan dari katarak kongenital.
Katarak juvenil biasa merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolic dan penyakit lainnya seperti:katarak metabolic, otot distrofi miotonik, katarak traumatic, dan katarak komplikata.
➢ Katarak Senilis→ katarak setelah usia 50 tahun (sering dijumpai 90%). Terjadi karena ada proses penuaan. Katarak senilis secara klinik dikenal dalam 4 stadium yaitu insipient, imatur, matur,dan hipermatur.
Tabel 1: Perbedaan stadium katarak senil. 4
Insipien Imatur Matur Hipermatur
Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan lensa Normal Bertambah (air masuk) /intumesen
Normal Berkurang
(air+ lensa keluar)
COA Normal Dangkal Normal Dalam
Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka
Shadow test (-) (+) (-) Pseudopositif
Penyulit - Glaukoma - Uveitis+ Glaukoma
o Katarak insipient→ Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior. Pada katarak ini proses degenerasi belum menyerap cairan mata kedalam lensa disertai kekeruhan ringan pada lensa.
Kekeruhan ini dapat menyebabkan polyopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang menetap dalam waktu yang lama.
o Katarak Imatur→ Katarak yang belum mengenai seluruh lapis lensa atau sebagian saja. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotic bahan lensa yang degenerative. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menibulkan hambatan pupil sehingga dapat terjadi glaucoma sekunder.
o Katarak Matur→ katarak telah mengenai seluruh bagian lensa. Kekeruhan bisa terjadi karena deposisi ion Ca yang menyeluruh. Pada jenis ini akan terjadi kekeruhan lensa yang jika lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa. Tajam penglihatan akan turun bahkan hanya bisa melihat cahaya.
o Katarak Hipermatur→ Katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi keras atau lembek dan mencair. Lensa dapat keluar dari kapsul, mengecil, dan berwarna kuning dan kering. Jika katarak masih berlanjut dan disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar. Korteks akan berbentuk seperti kantong susu yang disertai nucleus yang tenggelam didalam korteks yang basa disebut dengan katarak Morgagni.
o Katarak komplikata→ Katarak akibat penyakit mata lain seperti radang, dan proses degenerasi seperti ablasi retina, retinitis pigmentosa, glaucoma, tumor intra ocular, iskemia ocular, nekrosis anterior segmen, buftalmos, akibat suatu trauma dan pasca bedah mata. Selain itu juga bisa karena penyakit sistemik endokrin (DM, hipoparatiroid, galaktosemia, dan myotonia) dan keracunan obat ( steroid local lama, steroid sistemik, oral kontra septik, tiotepa intra vena).
o Katarak Diabetes→Terjadi pada pasien yang memiliki penyakit DM. beberapa pendapat menyatakan bahwa keadaan hiperglikemia terdapat penimbunan sorbitol dan fruktosa didalam lensa. Pada lensa akan terlihat kekeruhan seperti tebaran salju subcapsular yang sebagian jernih karena pengobatan. Diperlukan pemeriksaan tes urine dan pengukuran gula darah puasa. Katarak pasien DM dapat terjadi dalam 3 bentuk yaitu:
15 - Pasien diabetes juvenil dan tua tidak terkontrol, dimana terjadi katarak
serentak pada kedua mata dalam 48 jam, bentuk dapat snow flake atau bentuk piring subapsular.
- Katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara histologic dan biokimia sama dengan katarak pasien nondiabetic.
Klasifikasi katarak berdasarkan lokasi kekeruhannya di lensa, yaitu:9
➢ Katarak nuklearis→ ditandai dengan kekeruhan sentral dan perubahan warna lensa menjadi kuning atau cokelat secara progresif. Nukleus lensa mengalami pergeseran progresif yang menyebabkan naiknya indeks refraksi (miopisasi). Miopisasi menyebabkan penderita presbiobi dapat membaca dekat tanpa menggunakan kacamata (second sight).
➢ Katarak kortikal→ Berkaitan dengan proses oksidasi dan presipitasi protein pada sel-sel serat lensa. Pemeriksaan slitlamp dapat melihat ada tidaknya vakuola degenerasi hidropik yang merupakan degenerasi epitel posterior, dan menyebabkan lensa mengalami elongasi ke anterior dengan gambaran seperti embun.
➢ Katarak subkapsuler→ Katarak ini dapat terjadi di subkapsuler anterior dan posterior. ditemukan kekeruhan seperti plak di korteks subkapsular posterior pada pemeriksaan slitlamp.
2.6 Penegakan Diagnosis
Penegakkan diagnosis lensa dapat dilakukan dengan anamnesis dan pemeriksaan Anamnesis dapat berupa beberapa gejala:7
• Gambar kabur→ Distorsi dari gambar dan penglihatan berkabut akan terjadi pada stadium awal dari katarak. Penglihatan kabur tersebut akan semakin lama semakin memberat karena lensa semakin keruh.
• Coloured halos (lingkaran cahaya yang berwarna)→Terjadi akibat kerusakan penyebaran cahaya putih dalam spektrum warna karena adanya tetesan air dalam lensa.
• Silau → salah satu dari gejala awal, dan memiliki tingkatan silau bervariasi sesuai lokasi dan ukuran kekeruhan lensa.
• Titik hitam pada bagian depan mata→ Penglihatan titik hitam tersebut akan menetap akibat kekeruhan lensa atau peningkatan densitas pada satu titik tertentu pada lensa.
• Uniocular poliopia (penglihatan ganda dari suatu objek)→ Sering terjadi pada gejala awal katarak. Terjadi akibat refraksi irregular oleh lensa yang menyebabka berbagai indeks refraktif.
• Kehilangan penglihatan (gejala berangsur progresif).
Pada pemeriksaan dapat dilakukan:7
a. Pemeriksaan visus→ Biasanya pasien dengan katarak akan mengalami penurunan visus, berkisar 6/9 sampai persepsi cahaya, hal ini tergantung pada lokasi dan maturasi kataraknya.
b. Pemeriksaan oftalmoskopi direk→ Lensa katarak parsial akan menunjukkan hasil pemeriksaan berupa bayangan hitam yang berlawanan dengan cahaya merah pada
daerah katarak. Lensa katarak yang lengkap tidak menunjukkan cahaya merah karena lensa sudah keruh sepenuhnya dan tidak dapat ditembus oleh cahaya.
c. Pemeriksaan iluminasi oblik→ Pemeriksaan ini untuk menampakan warna dari lensa dalam area pupil yang bervariasi dalam tipe katarak yang berbeda.
d. Slit lamp→ Dilakukan pada pupil yang berdilatasi sempurna. Pemeriksaan ini menunjukkan morfologi lengkap dari kekeruhan (ukuran, bentuk, tempat, warna, dan kekerasan nukleus)
e. Pemeriksaan iris shadow→ Ketika cahaya dari arah oblik menyinari pupil, bayangan crescentric dari batas pupil dari iris akan membentuk kekeruhan keabu- abuan dari lensa, sepanjang korteks bersih (clear korteks) tampak antara kekeruhan dan batas pupil. Iris shadow adalah tanda dari katarak imatur karena saat lensa menjadi lebih transparan atau keruh sempurna, tidak ada iris shadow yang terbentuk.
2.7 Diagnosis Banding
Diagnosis banding pada katarak yang perlu diperhatikan yaitu katarak kongenital, katarak kongenital yang disertai dengan leukoria perlu dibedakan dengan kondisi lain yang juga menyebabkan leukoria seperti retinoblastoma, retinomatif, prematuritas, hiperplastik primer vitreus persisten (PHPV). Diagnosis banding lainnya yaitu kelainan refraksi, dry eyes syndrome, glaucoma, edema macula, ablasio retina.8 2.8 Tatalaksana
• Medika Mentosa
Hingga saat ini belum ditemukan obat-obatan yang terbukti mampu memperlambat atau menghilangkan katarak. Beberapa agen yang diduga dapat memperlambat pertumbuhan katarak adalah penurun sorbitol, aspirin, dan vitamin C, tetapi belum ada bukti yang signifikan mengenai hal tersebut. Selain itu, penggunaan midriatrium seperti phenylephrine 2,5%, cyclopentolate, dan atropine dapat dipertimbangkan pada pasien dengan visus awal 6/24 atau lebih. Selain itu dokter dokter juga dapat memberikan obat-obatan terkait riwayat penyakit pasien sebelum dilakukannya operasi
contohnya pada penderita hipertensi disarankan untuk konsumsi obat hipertensinya agar pembedahan dapat dilakuka dengan baik.
• Non-Medika Mentosa
Penatalaksanaan katarak dengan pembedahan masih menjadi satu–satunya tatalaksana kuratif dari katarak yaitu dengan mengeluarkan lensa yang keruh dan menggantinya dengan lensa tanam intraocular. Sebelum dilalakukan operasi katarak, diperlukan beberapa persiapan antara lain, yaitu:8
✓ Biometri, pengukuran ultrasound pada panjang mata dan keratometri untuk mengukur kurvatur kornea, serta menjumlahkan kekuatan dari implant untuk dimasukkan ke mata selama pembedahan
✓ Memastikan masalah kesehatan umum dalam keadaan stabil (hipertensi, diabetes melitus, penyakit pernapasan)
✓ Beberapa pengobatan meningkatkan insidens perdarahan, warfarin tidak dianjurkan untuk dihentikan, tetapi INR harus dibawah
✓ Aspirin harus dihentikan seminggu setelah operasi
✓ Informed consent pada pasien untuk hasil yang diharapkan dan komplikasi yang mungkin dapat terjadi pasca operasi
Terdapat beberapa teknik pembedahan pada operasi katarak, yaitu:8 1. ECCE (Extra Capsular Cataract Extraction)
Ekstraksi katarak ekstrakapsular sampai saat ini merupakan metode yang paling banyak dipilih. Metode ini dilakukan dengan menyisakan bagian posterior dari kapsul lensa. Insisi dibuat pada limbus atau kornea perifer, pada arah superior atau temporal. Kemudian dibuat celah di kapsul anterior (anterior capsulorhexis), kemudian nukleus dan korteks lensa dikeluarkan. Lensa intraokular dimasukkan kedalam kantong kapsul yang disokong oleh kapsul posterior.
katarak dengan dislokasi lensa akibat zonula yang tidak stabil, dan jika fasilitas mikroskop operasi kurang memadai. Metode ini dahulu dilakukan sebelum teknik katarak ekstrakapsuler semakin dikembangkan. Adapun keuntungan yang dapat diperoleh dari metode ini yaitu prosedurnya relatif mudah, menggunakan peralatan yang sederhana dan pemulihan visus dapat dilakukan dengan menggunakan kacamata 10 dioptri segera setelah operasi. Sedangkan kekurangannya adalah irisan yang besar membuat penyembuhan menjadi lebih lama, dapat menimbulkan komplikasi iris dan vitreous inkarserata, ablasio retina, serta mencetuskan astigmatisma.
3. Phaco Emulsification
Fakoemulsifikasi adalah teknik operasi katarak ekstrakapsular dengan mengemulsifikasikan lensa menggunakan gelombang ultrasonik 40.000 MHz.
Teknik fakoemulsifikasi banyak digunakan saat ini. Teknik ini menggunakan vibrator ultrasonik untuk memecah nukleus yang keras sehingga isi nukleus dan korteks dapat diaspirasi melalui insisi kecil berukuran 2,5–3,0 mm. Ukuran insisi yang sama juga cukup untuk memasukkan lensa intraokuler yang dilipat. Jika lensa intraokuler rigid digunakan, insisi harus diperpanjang hingga 5 mm.
4. SICS (Small Incision Cataract Surgery)
Small incision cataract surgery (SICS) merupakan suatu teknik popular saat ini.
Perbedaan yang nyata antara SICS dan ekstraksi katarak ekstrakapsular adalah irisan operasi sangat kecil sehingga sering tidak membutuhkan jahitan pada luka insisi.
Metode SICS juga memungkinkan operasi dilakukan hanya dengan anestesi lokal, penyembuhan relatif lebih cepat, dan resiko astigmatisma lebih kecil.
2.9 Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat muncul akibat operasi katarak yaitu seperti
endoftalmitis, edema makula sistoid, edema kornea), perdarahan di depan mata (hifema), ablasio retina, serta pasien juga dapat dapat merasa lebih silau pasca operasi katarak .4
2.10 Prognosis
Prognosis untuk pasien katarak yang menjalani operasi pada umumnya cukup baik.
Pemeriksaan mata rutin dilakukan untuk mendeteksi perkembangan katarak pada mata yang belum terkena. Banyak pasien yang menerima lensa monofokal memerlukan koreksi untuk mendapat ketajaman penglihatan terbaik setelah dilakukannya operasi.
Prognosis visus untuk pasien katarak anak-anak yang membutuhkan operasi tidak sebaik pasien katarak senilis. Ambliopia dan anomali saraf optik atau retina membatasi derajat penglihatan yang dapat dicapai dalam kelompok usia ini.4
BAB 3
PENGELOLAAN KASUS
Diagnosis katarak imatur pada kasus ini ditegakkan berdasarkan hasil anamnasis dan pemeriksaan (visus dan slit lamp). Pasien mengeluhkan pandangan buram sejak 3 tahun yang lalu yang awalnya seperti awan berkabut kemudian lama kelamaan penglihatan penglihatan semakin berkurang. Saat pemeriksaan visus pasien adalah 1/60 OD dan O,5/60 OS. Hal ini sesuai dengan teori bahwa penglihatan berkabut akan terjadi pada stadium awal dari katarak.
Penglihatan kabur tersebut akan semakin lama semakin memberat karena lensa semakin keruh.1,7 Semakin keruhnya lensa mata akan menyebabkan semakin berkurangnya penglihatan.
Selain itu, pada kasus ini pasien bekerja sebagai petani yang artinya ia sering terpapar terik matahari. Hal ini sesuai dengan teori yaitu radiasi sinar UV dapat memicu terjadinya katarak.
Adanya radiasi sinar UV dapat memicu radikal bebas, yang dapat menyebabkan oksidasi lipid membran dan denaturasi protein yang dapat mempermudah kekeruhan pada lensa mata.7,8
Penentuan maturitas katarak dapat ditentukan dengan pemeriksaan slit lamp. Pada katarak imatur adanya kekeruhan lensa yang Sebagian saja atau belum mengenai seluruh lapis lensa. Hal ini sesuai dengan hasil pemeriksaan pada pasien dengan menggunakan slit lamp saat di poli.
Penatalaksanaan katarak dengan pembedahan masih menjadi satu–satunya tatalaksana kuratif dari katarak pasien ini telah diedukasi bhwa katarak dapat di sembuhkan dengan operasi, sebelum operasi pasien di berikan obat hipertensi yaitu Amlodipine 10mg dan diedukasi terkait operasi yang akan dilakukan. Katarak memiliki prognosis yang baik ketika dilakukan pembedahan. Pemeriksaan mata pasien yang menerima lensa monofokal memerlukan koreksi untuk mendapat ketajaman penglihatan terbaik setelah dilakukannya operasi.4
BAB 4 KESIMPULAN
Katarak berasal dari Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract, dan Latin cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya.Katarak imature adalah katarak yang terjadi pada sebagian sisi lensa atau hanya sedikit opaque. Sedangkan katarak matur adalah katarak yang terjadi pada seluruh bagian lensa atau seluruh sisi lensa sudah mengalami kekeruhan.
Sebagian besar gangguan penglihatan di Indonesia diakibatkan oleh katarak, sehingga dibutuhkan penatalaksanaan yang tepat agar tujuan penurunan populasi pasien katarak dapat tercapai. Salah satu pengobatan katarak terutama yang sudah matur adalah dilkukannya pembedahan. Teknik pembedahan katarak dapat berupa ECCE, ICCE, Phaco Emulsification, dan SICS. Prognosis katarak jika ditatalaksana dengan tepat secara umum baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Eva PR, Augsburger JJ. Vaughan & Asbury’s general ophthalmology. 9th ed. New York : McGraw Hill Education; 2018.
2. Wineski LE. Snell’s clinical anatomy by regions. 10th ed.Philadelphia:Wolters Kluwer;2019.
3. Ilyas HS, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata.4th ed. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2014.
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Situasi Gangguan Penglihatan. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI; 2018.
5. Nizami AA, Gulani AC. Cataract. [Updated 2022 Jul 5]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539699/
6. Eva PR, Augsburger JJ. Vaughan & Asbury’s general ophthalmology. 9th ed. New York : McGraw Hill Education; 2018.
7. Syawal R, Amir SP, Akib MNR, Maharani RN, Kusumawardhani SI, Razak HH, et al. Buku ajar bagian ilmu kesehatan mata – panduan klinik dan skill program profesi dokter.
Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia; 2017.
8. Astari. Katarak : klasifikasi, tatalaksana, dan komplikasi operasi. CDK-269 [internet]. 2018 [cited 2023 Feb 03]; 45 (10): 748 – 52 p.