• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KEL 05 GDB-310 2023

N/A
N/A
Ananda

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN KEL 05 GDB-310 2023"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

PEMETAAN TOPOGRAFI BATAS BIDANG TANAH (Studi Kasus : Ds. Pananjung Kab. Bandung)

Laporan Kemah Kerja

Diserahkan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi Mata Kuliah GDB-310 Kemah Geospasial

Disusun Oleh : Kelompok : 5 (Lima)

Dea Riska Deviana 23-2020-017 Ananda Kurnia 23-2020-026 M. Rhaihan Daffa N. 23-2020-029 M. Fathan Fadillah 23-2020-077 Thoriq Baihaqi 23-2022-057

Dosen Pengampu : Moh. Abdul Basyid, Ir., M.T.

LABORATORIUM SURVEI DAN PEMETAAN PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESI

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL

BANDUNG 2023

(2)

i KATA PENGANTAR

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan karunia-Nya, penyusun dapat menyelesaikan laporan kemah geospasial sesuai batas waktu yang ditentukan. Laporan ini merupakan merupakan salah satu syarat untuk memenuhi mata kuliah GDB-310 Kemah Goespasial, Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional Bandung.

Sebagai bentuk bekal dan persiapan yang nantinya bisa digunakan dalam dunia pekerjaan, dilakukan kegiatan kemah geospasial, dimana daerah pemetaannya yaitu Desa Pananjung, Kabupaten Bandung. Dalam kegiatan pengukuran dilapangan maupun penyusunan laporan kemah geospasial, tim pengukur maupun tim penyusun mendapatkan sedikit banyak kendala dan kesulitan, tetapi kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar karena bantuan dari pihak-pihak yang terlibat. Maka dari itu, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Orang tua yang telah memberikan restu dan dukungan serta bekal baik materi maupun moril dalam pelaksanaan Kemah Geospasial 2023.

2. Bapak Dr. Soni Darmawan, S.T., M.T. selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Itenas.

3. Bapak Moch. A. Basyid, Ir., M.T. selaku Ketua Program Studi Geodesi Itenas sekaligus Dosen Pengampu Mata Kuliah Kemah Geospasial.

4. Bapak Dr. Henri Kuncoro, S.T., M.T. selaku kepala Laboratorium Survei dan Pemetaan.

5. Bapak Ade M. Nurussalam selaku Teknisi Laboratorium Survei Pemetaan.

6. M. Yazid Ibnu Sofyan, Hany Ardianty, R Dimas Aradhea L., Andi Suhendar, dan M. Ikhsan Adidafa, sebagai Asisten Kemah Geospasial yang telah memberikan ilmu dan arahan.

7. Kepala Desa Pananjung Kabupaten Bandung yang telah memberikan kesempatan pada penyusun untuk bisa melaksanakan Kemah Geospasial 2023.

8. Aparat Desa Pananjung yang telah memberikan fasilitas dan informasi yang bermanfaat dan memudahkan bagi peserta.

(3)

ii KATA PENGANTAR

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

9. Seluruh warga Desa Pananjung yang telah menerima dan membantu, serta dapat bekerja sama dengan peserta.

10. Peserta Kemah Geospasial 2023 yang telah mendukung terselenggaranya program Kemah Geospasial ini.

Dan seluruh pihak terkait yang turut serta membantu kegiatan Kemah Geospasial ini dan tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh pihak dan dapat menjadi contoh bagi kegiatan selanjutnya.

Bandung, 27 Juli 2023

Penyusun

(4)

iii DAFTAR ISI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Maksud dan Tujuan ... 2

1.4 Manfaat Praktikum ... 3

1.5 Lingkup Pelaksanaan Praktikum ... 3

1.6 Struktur Organisasi Kemah Geospasial ... 4

BAB II DASAR TEORI ... 7

2.1 Topografi ... 7

2.1.1 Metode Pengukuran Topografi ... 7

2.1.2 Peta Topografi ... 10

2.2 Survei Terestris ... 11

2.2.1 Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal ... 11

2.2.2 Kegunaan Poligon ... 12

2.2.3 Jenis-jenis Poligon ... 12

2.2.4 Pengolahan Data Poligon ... 23

2.2.5 Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal ... 24

2.2.6 Pengukuran Detail Situasi ... 31

BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM ... 33

3.1 Wilayah Pelaksanaan Praktikum ... 33

(5)

iv DAFTAR ISI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

3.2 Waktu Pelaksanaan Praktikum ... 34

3.3 Metodologi Praktikum ... 37

3.4 Tahapan Praktikum ... 38

3.4.1 Peralatan yang Digunakan ... 38

3.4.2 Orientasi Lapangan ... 42

3.4.3 Pematokan ... 43

3.4.4 Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal ... 43

3.4.5 Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal ... 45

3.4.6 Pengukuran Detail Situasi/Topografi ... 46

3.4.7 Pendataan Persil ... 48

3.5 Pengolahan Data ... 49

3.5.1 Pengolahan Data Kerangka Dasar Horizontal ... 49

3.5.2 Pengolahan Data Kerangka Dasar Vertikal ... 51

3.5.3 Pengolahan Data Detail Situasi/Topografi ... 53

3.5.4 Pengolahan Persil ... 54

3.6 Visualisasi Data ... 55

3.6.1 Plotting Kerangka Dasar Horizontal... 55

3.6.2 Plotting Detail Situasi/Topografi ... 59

3.6.3 Penarikan Garis Kontur ... 62

BAB IV HASIL DAN ANALISIS ... 67

4.1 Hasil dan Analisis Kerangka Dasar Horizontal ... 67

4.2 Hasil dan Analisis Kerangka Dasar Vertikal ... 69

4.3 Hasil dan Analisis Detail Situasi/Topografi ... 70

4.4 Hasil dan Analisis Kesesuaian Detail Situasi dengan Data Foto Udara ... 71

4.5 Hasil dan Analisis Data Persil ... 74

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 75

(6)

v DAFTAR ISI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

5.1 Kesimpulan ... 75

5.2 Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA... 77

LAMPIRAN…………...79

(7)

vi DAFTAR GAMBAR

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Organogram Penanggung Jawab ... 5

Gambar 2. 1 Metode Pengukuran Survei Terestris ... Error! Bookmark not defined. Gambar 2. 2 Metode Penentuan Ekstra-Terestris . Error! Bookmark not defined. Gambar 2. 3 Pengukuran Fotogrametri ... Error! Bookmark not defined. Gambar 2. 4 Contoh Peta Topografi ... Error! Bookmark not defined. Gambar 2. 5 Pengukuran Metode Poligon ... Error! Bookmark not defined. Gambar 2. 6 Pengukuran Metode Poligon Tertutup ... Error! Bookmark not defined. Gambar 2. 7 Pengukuran Metode Poligon Terbuka ... Error! Bookmark not defined. Gambar 2. 8 Prinsip Penentuan Beda Tinggi dengan Sipat Datar ... Error! Bookmark not defined. Gambar 2. 9 Keterangan Pengukuran Sipat Datar Error! Bookmark not defined. Gambar 2. 10 Pengukuran Detail Situasi/Topografi Metode Tachymetri .... Error! Bookmark not defined. Gambar 3. 2 Sketsa Perencanaan Poligon ... 33

Gambar 3. 3 Metodologi Praktikum ... 37

Gambar 3. 4 Pematokan ... 43

Gambar 3. 5 Pendataan Persil ... 49

Gambar 4. 1 Hasil Pengukuran dan AOI Pengukuran Kelompok 5 ... 67

Gambar 4. 2 Perbandingan Hasil Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal ... 68

Gambar 4. 3 Hasil Pengolahan Data Kerangka Dasar Vertikal ... 69

Gambar 4. 4 Hasil Detail Situasi ... 70

Gambar 4. 5 Citra Foto Udara Desa Pananjung ... 72

Gambar 4. 6 Kesesuaian Hasil Detail Situasi dengan Citra Foto Udara ... Error! Bookmark not defined. Gambar 4. 7 Hasil Persil ... 74

(8)

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 vii

DAFTAR TABEL DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Tingkat Ketelitian Sipat Datar ... 24

Tabel 3. 1 Waktu Pelaksanaan Praktikum ... 34

Tabel 3. 2 Peralatan yang Digunakan ... 38

Tabel 3. 3 Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal ... 44

Tabel 3. 4 Pengukuran Detail Situasi ... 46

Tabel 3. 5 Pengolahan Data Kerangka Dasar Horizontal ... 49

Tabel 3. 6 Pengolahan Data Kerangka Dasar Vertikal ... 51

Tabel 3. 7 Pengolahan Data Detail Situasi/Topografi ... 53

Tabel 3. 8 Pengolahan Persil ... 54

Tabel 3. 9 Plotting Kerangka Dasar Horizontal ... 55

Tabel 3. 10 Plotting Detail Situasi/Topografi ... 59

Tabel 3. 11 Penarikan Garis Kontur ... 62

(9)

viii KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A : Nama Peserta Kemah Geospasial Tahun 2023 LAMPIRAN B : Rincian Kegiatan Kemah Geospasial Tahun 2023 LAMPIRAN C : Data Kerangka Dasar Horizontal

LAMPIRAN D : Data Kerangka Dasar Vertikal LAMPIRAN E : Data Detail Situasi/Topografi LAMPIRAN F : Data Persil

LAMPIRAN G : Form Beda Tinggi

LAMPIRAN H : Pengolahan Poligon Metode Bowditch LAMPIRAN I : Sketsa Pengukuran

LAMPIRAN J : Dokumentasi Kegiatan

(10)

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 1

BAB I PENDAHULUAN BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kemah Geospasial merupakan salah satu mata kuliah wajib yang terdapat dalam program studi sarjana Teknik Geodesi Itenas. Sedikit berbeda dengan mata kuliah lainnya, mahasiswa tidak lagi diberikan hal-hal teoritis/fundamental.

Mahasiswa justru dituntut untuk menerapkan dan mengimplementasikan hal-hal teoritis yang telah didapatkan pada matakuliah lainnya dalam bentuk proyek kegiatan survei dan pemetaan suatu wilayah kajian. Secara definitif, survei merupakan kegiatan pengambilan data dari kenampakan yang terdapat di dunia.

Sedangkan pemetaan merupakan upaya untuk merepresentasikan posisi dari kenampakan yang terdapat di dunia pada bidang datar relatif terhadap sistem referensi koordinat yang diacu. Umumnya, produk akhir yang dihasilkan pada kegiatan ini adalah peta dasar dalam format cetak maupun digital.

Kemah Geospasial ini dilaksanakan untuk memenuhi salah satu nilai Tridharma perguruan tinggi. Tridharma Perguruan Tinggi mengatur perguruan tinggi untuk peduli memecahkan masalah di masyarakat, diantaranya melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Kemah Geospasial dilaksanakan oleh semua mahasiswa Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas) khususnya Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan Program Studi Teknik Geodesi untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh selama duduk di bangku perkuliahan serta sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan Kemah Geospasial ini diikuti oleh mahasiswa semester enam yang telah lulus mata kuliah survei dan pemetaan seperti Ilmu Ukur Tanah, Survei GNSS, dan Jaring Kontrol Geodesi.

Kemah Geospasial ini dilaksanakan di Desa Pananjung, Kabupaten Bandung dengan output yang dihasilkan berupa peta topografi dan juga peta bidang tanah.

Peta topografi adalah informasi tentang tinggi suatu tempat terhadap rujukan tertentu. Untuk menyajikan variasi ketinggian suatu tempat pada peta topografi, umumnya digunakan garis kontur. Peta topografi menampilkan gambaran permukaan bumi yang dapat diidentifikasi, berupa obJek alami maupun buatan.

Peta topografi menyajikan obyek-obyek dipermukaan bumi dengan ketinggian yang dihitung dari permukaan air laut dan digambarkan dalam bentuk garis-garis

(11)

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 2

BAB I PENDAHULUAN kontur, dengan setiap satu garis kontur mewakili satu ketinggian.Peta topografi memiliki dua unsur utama yaitu ukuran planimetrik (ukuran permukaan bidang datar) dan ukuran relief (berdasarkan variasi elevasi). Ukuran planimetrik pada peta topografi digambarkan dengan koordinat X dan Y, sedangkan ukuran relief digambarkan dalam koordinat Z. Elevasi pada peta topografi ditampilkan dalam bentuk garis-garis kontur yang menghubungkan titik-titik di permukaan bumi yang memiliki ketinggian yang sama (Yukha,2019).

Untuk membantu kelancaran kegiatan Kemah Geospasial tersebut diperlukan metode pengelolaan data yang terkait dengan kegiatan ini dengan peta topografi.

Metode ini merupakan pengadaan kerangka kontrol horizontal yang merupakan kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi horizontalnya berupa koordinat pada bidang datar (X,Y). Pengukuran dan Pemetaan Poligon merupakan salah satu pengukuran dan pemetaan kerangka kontrol horizontal yang bertujuan untuk memperoleh koordinat planimetris (X,Y) titik-titik pengukuran.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, berikut merupakan rumusan masalah dalam kegiatan praktikum kemah geospasial ini adalah :

1. Bagaimana tahapan pekerjaan pembuatan peta topografi dan bidang tanah?

2. Bagaimana koreksi pada setiap metode yang digunakan dalam pengukuran?

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dari praktikum Kemah Geospasial ini adalah untuk memenuhi salah satu mata kuliah wajib di program Studi Teknik Geodesi Itenas yaitu GDB-210 Kemah Geospasial yang akan dilakukan di Desa Pananjung, Kabupaten Bandung.

Adapun tujuan dari praktikum Kemah Geospasial ini adalah :

1. Mahasiswa dapat membuat peta topografi hasil pengukuran di Desa Pananjung, Kabupaten Bandung.

2. Mahasiswa dapat bekerja sama dan berkoordinasi dengan baik di dalam tim maupun antar tim.

3. Mahasiswa dapat menerapkan teori – teori dari beberapa mata kuliah terkait yang didapatkan selama perkuliahan.

(12)

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 3

BAB I PENDAHULUAN 1.4 Manfaat Praktikum

Kemah Geospasial merupakan suatu kegiatan yang dapat dijadikan acuan oleh setiap mahasiswa tingkat akhir khususnya untuk pembekalan di kemudian hari.

Manfaat yang didapatkan pada praktikum Kemah Geospasial khususnya bagi mahasiswa adalah :

1. Mahasiswa dapat meningkatkan rasa bertanggung jawab dan kedisiplinan terhadap pekerjaan yang dilakukannya.

2. Mahasiswa dapat meningkatkan ilmu dan keterampilan dari perspektif teknis maupun non-teknis.

1.5 Lingkup Pelaksanaan Praktikum

Berikut ini merupakan Batasan masalah dari kegiatan praktikum Kemah Geospasial :

1. Praktikum Kemah Geospasial ini dilaksanakan di kampus Itenas Bandung.

2. Metode yang digunakan adalah metode poligon dalam kerangka dasar horizontal, metode sipat datar dalam pengukuran kerangka dasar vertikal, metode absolut, diferensial, dan statik dalam pengamatan GPS, metode tachymetri dalam pengukuran detail situasi, dan metode pengukuran ekstra- terestrial dalam pengukuran drone.

3. Data yang diamati adalah sudut, jarak, dan koordinat dalam pengukuran kerangka dasar horizontal, beda tinggi atau elevasi dalam pengukuran kerangka dasar vertikal, koordinat geodetik serta geosentrik dalam pengamatan GPS, dan foto udara dalam pengukuran drone.

4. Wilayah pengukuran yang dilakukan oleh peserta Kemah Geospasial berada di desa Pananjung, Kabupaten Bandung, yang dibagi menjadi 8 wilayah pengukuran. Kelompok 5 mendapat wilayah pengukuran 9.

5. Tahapan kegiatan pembuatan peta topografi adalah orientasi lapangan, pematokan, pengukuran GPS, Pengukuran Kerangka Dasar Pemetaan, Pengukuran Detail Situasi, Pengukuran Drone, Pengolahan data, Penggambaran sampai ke Layouting Peta Topografi.

(13)

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 4

BAB I PENDAHULUAN 1.6 Struktur Organisasi Kemah Geospasial

Secara kelembagaan susunan organisasi Kemah Geospasial Tahun 2023 dijabarkan sebagai berikut :

1. Pelindung : Prof. Meilinda Nurbanasari, S.T., M.T., Ph.D.

(Rektor Institut Teknologi Nasional)

2. Pembina : Dr. Soni Darmawan, S.T., M.T.

(Dekan Fakultas Teknik Sipil &

Perencanaan

3. Penanggung Jawab Program : Ir. Moh Abdul Basyid, M.T.

(Ketua Program Studi Teknik Geodesi Itenas)

4. Penanggung Jawab Kegiatan : Dr. Henri Kuncoro, S.T., M.T.

Kepala Lab. Survei Pemetaan 5. Penasihat Kegiatan : Rinaldy, S.T., M.T.

(Dosen Jurusan Teknik Geodesi Itenas)

6. Pengawas Kegiatan : 1. Ade Ma’mun Nurussalam (Teknisi Lab. Survei Pemetaan) 2. M. Yazid Ibnu Sofyan

(Koordinator Asisten Praktikum) 7. Asisten Praktikum : 1. Hany Ardianty

2. R. Dimas Aradhea L.

3. Andi Suhendar

(14)

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 5

BAB I PENDAHULUAN 4. M. Ikhsan Adidafa

8. Peserta Kemah Kerja : Peserta Kemah Geospasial sebanyak 54 orang

Berikut merupakan organigram penanggung jawab peserta Kemah Geospasial Tahun 2023 :

Gambar 1. 1 Organogram Penanggung Jawab

Dengan pemegang tanggung jawab dari tugas pada organogram diatas sebagai berikut :

No. Nama Jabatan

1. Dosen Pengampu Moh Abdul Basyid, Ir., M.T.

2. Kepala Lab Dr. Henri Kuncoro, S.T., M.T.

3. Teknisi Lab Ade Ma’mun Nurssalam

4. Asisten 1. M. Yazid Ibnu Sofyan

(15)

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 6

BAB I PENDAHULUAN 2. Hany Ardianty

3. R. Dimas Aradhea L.

4. Andi Suhendar 5. M. Ikhsan Adidafa

5. PJ Kemker Ardan Eko Saputro

6. Ketua PJ Kerangka Dasar M. Dion Suratman 7. Wakil Ketua PJ Kerangka Dasar Dwi Aulia Silvi

8. Ketua PJ Topografi Adithya Kuratcana Wiguna 9. Wakil Ketua PJ Topografi Lia Kurnia Julianti N.

10. PJ Levelling Dhafikri Hafizka A.

11. Ketua PJ Peta Gabungan & Uav Rivan Rivanna 12. Wakil Ketua PJ Peta Gabungan & Uav Farhatun Mufrodah

13. Ketua PJ Laporan Ananda Kurnia

14. Wakil Ketua PJ Laporan Nadia Nur Azzahra

(16)

7 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 BAB II DASAR TEORI 2.1 Topografi

Survei topografi adalah suatu metode untuk menentukan posisi tanda-tanda (features) buatan manusia maupun alamiah diatas permukaan tanah. Survei topografi juga digunakan untuk menentukan konfigurasi medan (terrain). Kegunaan survei topografi adalah untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk gambar peta topografi. Gambar peta dari gabungan data akan membentuk suatu peta topografi. Sebuah topografi memperlihatkan karakter vegetasi dengan memakai tanda-tanda yang sama seperti halnya jarak horizontal diantara beberapa features dan elevasinya masing-masing diatas datum tertentu (Indosurta, 2021).

2.1.1 Metode Pengukuran Topografi

Topografi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk bumi dan benda langit lainnya, seperti planet, satelit, dan asteroid. Hal itu juga termasuk penggambarannya di peta. Ada dua metode yang bisa membantu studi topografi, yaitu survei secara langsung dan penginderaan jarak jauh. Survei topografi adalah suatu metode untuk menentukan posisi tanda-tanda buatan manusia maupun alamiah di lapangan. Survei topografi juga digunakan untuk menentukan konfigurasi medan. Kegunaan survei topografi adalah untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk pembuatan peta topografi. Gambar peta dari gabungan data akan membentuk suatu peta topografi. Sebuah peta topografi memperlihatkan karakter vegetasi dengan memakai tanda-tanda yang sama seperti halnya jarak horizontal diantara beberapa fitur dan elevasinya masing-masing diatas data tertentu.

Proses pemetaan topografi sendiri adalah proses pemetaan yang pengukurannya langsung dilakukan di permukaan bumi dengan peralatan survei terestris. Teknik pemetaan mengalami perkembangan ilmu dan teknologi. Dengan perkembangan peralatan ukur tanah secara elektronis, maka proses pengukuran menjadi semakin cepat dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Proses pemetaan bentuk muka bumi membutuhkan suatu keahlian khusus, yang harus dimiliki oleh seorang surveyor, sedangkan pekerjaan seorang surveyor biasa disebut survei topografi. Survei topografi merupakan survei yang bermaksud untuk informasi

(17)

8 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

permukaan tanah dari suatu lokasi proyek. Informasi tersebut dapat berupa tinggi rendah hingga keadaan fisik dan posisi suatu objek alamiah maupun buatan. Survei ini sangat berguna dalam pembuatan peta topografi. Walaupun sudah ada teknologi yang sangat maju yaitu penginderaan jarak jauh (remote sensing), survei secara langsung masih diperlukan untuk mendapatkan data atau informasi yang lebih akurat tentang keadaan suatu permukaan tanah. Secara garis besar metode pemetaan topografi dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu metode terestris, metode ekstra terestris dan fotogrametri.

a. Metode Terestris

Dilansir dari laman Pengembangan SDM Bidang Informasi Geospasial milik Badan Informasi Geospasial (BIG) dijelaskan bahwa survei terestris merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan di permukaan bumi di mana pengamat melakukan kontak langsung dengan objek yang akan dipetakan. Pada dasarnya pengukuran survei terestris dilakukan untuk mendapatkan informasi posisi dari suatu objek di permukaan bumi. Metode pengukuran terestris mencakup pengumpulan data besaran arah, sudut, jarak, dan ketinggian yang diperoleh langsung dari lapangan (BIG, 2020). Survei terestris memiliki ketelitian informasi topografi (detail situasi, ketinggian/kontur, ukuran luas) yang cenderung tinggi apabila dibandingkan dengan teknik survei dan pemetaan lainnya. Untuk wilayah pemetaan yang tidak terlalu luas, survei terestris sangat efektif dilakukan (Sondang dkk, 2021).

Gambar 2. 1 Metode Pengukuran Survei Terestris

(18)

9 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

Pengukuran terestris dilaksanakan sebagai pengukuran suplesi dan/atau pengukuran panjangan sisi bidang tanah sebanyak :

- Minimal 1 (satu) sisi bidang tanah untuk pekerjaan dengan skala peta kerja paling kecil 1 : 2.500 atau lebih besar (misal : skala 1 : 2.500, skala 1 : 1.000, skala 1 : 500, dsb.)

- Semua sisi bidang tanah untuk pekerjaan dengan skala peta kerja lebih kecil dari 1 : 2.500 (misal : skala 1 : 3.000, skala 1 : 5.000, dsb.)

- Apabila dalam pengukuran bidang tanah ditemukan adanya bidang-bidang tanah yang sudah terdaftar dan belum terpetakan, maka bidang-bidang tersebut dipetakan pada Peta Dasar Pendaftaran.

- Untuk bidang tanah yang sudah terdaftar dan sudah terpetakan pada peta dasar pendaftaran, cukup diverifikasi di lapangan sebagai kegiatan peningkatan kualitas data pertanahan.

- Peta dasar yang digunakan harus memuat informasi : 1. Sumber Data

2. Proyeksi Peta

3. Coordinate Reference Frame yang digunakan 4. Waktu Perekaman

5. Metode pengukuran bidang tanah, dll.

b. Metode Ekstra-Terestris

Metode ekstra-terestris, penentuan posisi dilakukan dengan melakukan pengukuran atau pengamatan objek/benda di angkasa, baik yang alamiah (seperti bulan, bintang, dan quasar) maupun yang buatan manusia seperti satelit. Ada beberapa metode atau sistem penentuan posisi secara ekstra-terestris yang telah dikenal selama ini, yaitu : astronomi geodesi, fotografi satelit, SLR (Satellite Laser Ranging), LLR (Lunar Laser Ranging), VLBI (Very Long Baseline Interferometry), Transit (Doppler), dan GPS (Abidin, 2000).

(19)

10 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

Gambar 2. 2 Metode Penentuan Ekstra-Terestris

c. Metode Fotogrametri

Metode ini adalah pengukuran (pengamatan) dengan cara tidak langsung terhadap wilayah yang dipetakan. Metode ini menerapkan teknik pemotretan dari udara terhadap sebagian wilayah yang ingin dipetakan. Hasil dari Foto udara ini berupa citra foto yang direktifikasi kembali dengan alat sterioplotter.

Penerapan metode ini umumnya untuk pemetaan wilayah cakupan yang luas dengan peta yang dihasilkan dalam skala kecil (Sobatnu, 2018).

Gambar 2. 3 Pengukuran Fotogrametri

2.1.2 Peta Topografi

Peta topografi adalah informasi tentang tinggi suatu tempat terhadap rujukan tertentu. Untuk menyajikan variasi ketinggian suatu tempat pada peta topografi, umumnya digunakan garis kontur. Peta topografi menampilkan gambaran permukaan bumi yang dapat diidentifikasi, berupa objek alami maupun buatan. Peta topografi menyajikan obyek-obyek dipermukaan bumi dengan ketinggian yang dihitung dari permukaan air laut dan digambarkan dalam bentuk garis-garis kontur, dengan setiap satu garis kontur mewakili satu ketinggian.Peta topografi memiliki dua unsur utama yaitu ukuran planimetrik (ukuran permukaan bidang datar) dan ukuran relief (berdasarkan variasi elevasi). Ukuran planimetrik

(20)

11 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

pada peta topografi digambarkan dengan koordinat X dan Y, sedangkan ukuran relief digambarkan dalam koordinat Z. Elevasi pada peta topografi ditampilkan dalam bentuk garis-garis kontur yang menghubungkan titik-titik di permukaan bumi yang memiliki ketinggian yang sama (Yukha,2019).

Peta kontur adalah peta yang menggambarkan sebagian bentuk-bentuk permukaan bumi yang bersifat alami dengan menggunakan garis-garis kontur.

Garis kontur pada peta topografi diperoleh dengan melakukan pengolahan interpolasi linier antara titik-titik ketinggian yang berdekatan.Interpolasi linier adalah suatu metode atau fungsi matematika yang menduga nilai pada lokasi lokasi yang datanya tidak tersedia atau tidak didapatkan.Interpolasi linier mengasumsikan bahwa atribut data bersifat kontinu di dalam ruang dan atribut ini saling berhubungan.

Gambar 2. 4 Contoh Peta Topografi

2.2 Survei Terestris

2.2.1 Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal

Poligon adalah serangkaian titik-titik yang dihubungkan dengan garis lurus sehingga titik-titik tersebut membentuk sebuah rangkaian (jaringan) titik atau poligon.

(21)

12 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 2.2.2 Kegunaan Poligon

Pada pekerjaan pembuatan peta, rangkaian titik poligon digunakan sebagai kerangka peta, yaitu merupakan jaringan titik-titik yang telah tertentu letaknya di tanah yang sudah ditandai dengan patok, dimana semua benda buatan manusia seperti jembatan, jalan raya, gedung maupun benda-benda alam seperti danau, bukit, dan sungai akan diorientasikan. Kedudukan benda pada pekerjaan pemetaan biasanya dinyatakan dengan sistem koordinat kartesius tegak lurus (X,Y) di bidang datar (peta), dengan sumbu X menyatakan arah timur - barat dan sumbu Y menyatakan arah utara selatan. Koordinat titik-titik poligon harus cukup teliti mengingat ketelitian letak dan ukuran benda-benda yang akan dipetakan sangat tergantung pada ketelitian dari kerangka peta (Dogruyol, 2015).

Metode poligon adalah salah satu cara penentuan posisi horizontal banyak titik dimana titik satu dengan yang lainnya dihubungkan satu sama lain dengan pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk rangkaian titik-titik (poligon).

Gambar 2. 5 Pengukuran Metode Poligon

Pengukuran dan pemetaan poligon merupakan salah satu metode pengukuran dan pemetaan. Kerangka dasar horizontal yang bertujuan untuk memperoleh koordinat planimetris (x,y) titik-titik pengukuran. Pengukuran poligon sendiri mengandung arti salah satu metode penentuan titik diantara beberapa metode penentuan titik yang lain.

2.2.3 Jenis-jenis Poligon

Berdasarkan bentuknya poligon dibagi dalam dua bagian, diantaranya Jenis Poligon secara Visual:

- Poligon Tertutup

Poligon tertutup adalah poligon yang bermula dan berakhir pada satu titik yang sama. Poligon tertutup sering disebut poligon kring (kring poligon). Pada poligon tertutup yaitu garis-garis kembali ke titik awal, jadi membentuk segi

(22)

13 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

banyak, berakhir di stasiun lain yang mempunyai ketelitian letak sama atau lebih besar daripada ketelitian letak titik awal, Poligon tertutup memberikan pengecekan pada sudut-sudut dan jarak tertentu, suatu pertimbangan yang sangat penting, titik sudut yang pertama = titik sudut yang terakhir.

Gambar 2. 6 Pengukuran Metode Poligon Tertutup

Ditinjau dari segi pendekatannya (azimut dan koordinat), terdapat beberapa variasi seperti:

• Tanpa ikatan

• Terikat hanya azimuth

• Terikat hanya koordinat

• Terikat azimut dan koordinat

Keuntungan dari poligon tertutup yaitu, walaupun tidak ada ikatan sama sekali, namun koreksi sudut dapat dicari dengan adanya sifat poligon tertutup yang jumlah sudut dalamnya sama dengan (n-2)*1000. Selain itu, terdapat pula koreksi koordinat dengan adanya konsekuensi logis dari bentuk geometrisnya bahwa jumlah selisih absis dan jumlah selisih ordinat sama dengan nol.

Keuntungan inilah yang menyebabkan orang senang bentuk poligon tertutup.

Satu-satunya kelemahan polygon tertutup yang sangat menonjol ialah bahwa bila ada kesalahan yang proporsional dengan jarak (salah satu salah sistematis) tidak akan ketahuan, dengan kata lain walaupun ada kesalahan tersebut, namun poligon tertutup itu kelihatan baik juga. Jarak-jarak yang diukur secara elektronis sangat mudah dihinggapi kesalahan seperti itu, yaitu kalau ada kesalahan frekuensi gelombang. Kelemahan poligon tertutup yaitu, bila ada kesalahan yang proporsional dengan jarak (salah satu salah sistematis) tidak akan ketahuan. Dengan kata lain, walaupun ada kesalahan, namun poligon

(23)

14 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

tertutup kelihatan baik juga. Jarak-jarak yang diukur secara elektronis sangat mudah dihinggapi kesalahan seperti kesalahan frekuensi gelombang. Berikut merupakan jenis-jenis poligon tertutup berdasarkan titik ikatnya :

• Poligon tertutup terikat sempurna : poligon tertutup yang terikat oleh azimuth dan koordinat.

• Poligon tertutup tidak terikat sempurna : poligon tertutup yang terikat pada koordinat atau azmuth saja.

• Poligon tertutup tanpa ikatan sama sekali (poligon lepas) Perhitungan poligon tertutup :

Menurut Modul yang dikeluarkan oleh Stpn (2021) jika digunakan metode Bowditch dalam penghitungan, poligon tertutup mempunyai 3 syarat geometri, yaitu: (1) syarat sudut; (2) syarat absis; dan (3) syarat ordinat. Hitungan poligon tertutup dilakukan untuk memenuhi syarat-syarat geometri tersebut.

Secara geometris, jumlah sudut dalam poligon tertutup =

Σs = (n-2).180o ... (2.1) jumlah sudut luarnya =

Σs = (n+2).180o ... (2.2) dalam hal ini n adalah jumlah titik sudut poligon.

Dengan menggunakan syarat geometris sudut tersebut, hasil keseluruhan ukuran sudut (Σs u ) dapat dihitung penyimpangan/kesalahannya. Penyimpangan atau kesalahan adalah selisih jumlah sudut ukuran dengan syarat penutup sudut, seperti persamaan (2.3) atau (2.4). Karena berbagai penyebab, hasil ukuran sudut tidaklah tepat menghasilkan angka seperti syarat sudut di atas, tetapi biasanya hanya mendekati angka itu. Besarnya penyimpangan (fs) bergantung pula pada ketelitian alat yang digunakan.

Pada sudut dalam: fs =

Σs u - (n-2).180o ... (2.3) Pada sudut luar:

fs = Σs u - (n+2).180o ... (2.4) keterangan: fs : kesalahan penutup sudut , Σs u : jumlah sudut ukuran.

(24)

15 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

Besarnya fs dikoreksikan pada setiap sudut ukuran secara merata, sehingga rumus koreksi sudut

(ks): ks = -fs/n ... (2.5) Penyimpangan hasil ukuran dinyatakan diterima atau tidak, dengan cara membandingkannya terhadap toleransi. Jika penyimpangannya lebih kecil atau sama dengan toleransi, ukuran sudut itu diterima. Namun jika penyimpangannya lebih besar dari toleransi, ukuran sudut itu ditolak, dan harus dilakukan pengukuran ulang. Hitungan toleransi ukuran sudut mengikuti ‘hukum kompensasi’, yaitu total kesalahan (acak) yang terjadi adalah ketelitian alat dikalikan dengan akar jumlah kejadiannya.

Toleransi:

| fs | ≤ C.√n ... (2.6) keterangan:

C : ketelitian alat, harganya sebesar bacaan terkecil (least count) alat.

n : jumlah titik poligon | …| : tanda harga mutlak

Dikatakan bahwa pengukuran sudut poligon diterima, artinya cukup alasan untuk menyatakan bahwa kesalahan yang terjadi pada pengukuran sudut itu telah terbebas dari kesalahan sistematis dan kesalahan kasar. Hitungan dapat dilanjutkan, karena pada prinsipnya hitungan poligon tidak dapat dilanjutkan jika masih terdapat kesalahan kasar atau kesalahan sistematis. Jika dikatakan bahwa pengukuran sudut poligon ditolak, artinya cukup alasan untuk menyatakan bahwa kesalahan yang terjadi pada sudut itu belum terbebas dari kesalahan non acak. Oleh sebab itu, hitungan atau data ukuran dicek kembali.

Bila perlu dilakukan pengukuran ulang.

Hitungan berikutnya adalah untuk memenuhi syarat absis dan syarat ordinat pada poligon tertutup. Syarat absis pada poligon tertutup:

Σ d . s i n α = 0 ... (2.7) Syarat ordinat pada poligon tertutup:

Σ d . c o s α = 0 ... (2.8) keterangan:

(25)

16 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 d adalah jarak sisi

poligon α adalah azimut sisi poligon Jika terdapat kesalahan ukuran, maka besarnya kesalahan penutup absis:

fx = Σ d . s i n α ... (2.9) Jika terdapat kesalahan ukuran, maka besarnya kesalahan penutup ordinat:

fy = Σ d . c o s α ... (2.10) Dari besarnya fx dan fy, dapat ditentukan besarnya kesalahan penutup linear poligon:

fL = (fx2 + fy2 ) ½ ... (2.11) Toleransi diterapkan pada kesalahan penutup linier (fL), yaitu dari perbandingan fL terhadap total jarak sisi poligon (Σ D ) .

Tahap penghitungan poligon tertutup metode Bowditch (menggunakan formulir hitungan poligon):

1. Jumlahkan sudut hasil pengukuran poligon (Σ s u ).

2. Hitung kesalahan pengukuran sudut (fs) dengan rumus (2.3) atau (2.4).

Jika kesalahan masuk toleransi, penghitungan dilanjutkan. Jika tidak masuk toleransi, cek hasil ukuran atau penghitungan.

3. Jika kesalahan (fs) masuk toleransi, distribusikan kesalahan tersebut ke semua sudut ukuran sebesar: ks= -fs/n (rumus 2.5)

4. Dengan menggunakan harga sudut terkoreksi dan azimut awal (sudut jurusan) hasil pengukuran lapangan, hitung azimut semua sisi-sisi poligon dengan rumus:

α(sisi) = α(sisi sebelumnya) + β ( terkoreksi)- 180o ... (2.12) 5. Hitung d sin α dan d cos α untuk semua sisi poligon.

6. Hitung fx = Σ d . s i n α; fy = Σ d . c o s α; dan fL = √(fx2 + fy2 ) 7. Hitung Σ d , selanjutnya periksa apakah 1 : (Σ d /fL) tidak lebih dari

toleransi?

8. Jika kesalahan linear f L masuk toleransi, hitung dan koreksikan fx dan fy ke masing-masing sisi poligon sebanding dengan jarak-jarak sisi poligon:

kxij = (dij /Σ d ) . fx ... (2.13)

(26)

17 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

kyij = (dij /Σ d ) . fY ... (2.14) 9. Hitung koordinat titik-titik poligon ( X, Y ) secara berantai mulai dari

koordinat titik awal, tambahkan secara aljabar, baik untuk X maupun untuk Y, dengan rumus :

Xj = Xi + dij sin αij + kxij ... (2.15) Yj = Yi + dij cos αij + kxij ... (2.16) Menurut Hardiono, M. R. (2014) Pengukuran adalah pengamatan dari besaran (jarak, sudut, tinggi, dll). Pengamatan tidak luput dari kesalahan-kesalahan.

Ada tiga jenis kesalahan kesalahan yang biasa terjadi pada saat pengukuran : 1. Kesalahan Kasar (Blunder)

Kesalahan ini terjadi karena kurang hati-hati , kurang pengalaman dan kurang perhatian. Sebagai catatan bahwa dalam pengukuran kesalahan ini tidak boleh terjadi, bila terjadi harus diulang Contoh-contoh kesalahan blunder :

- Salah baca : 3 dibaca 8, 6 dibaca 9, 7 dibaca 9

- Salah catat : misalkan 1 rentangan pengukuran tidak tercatat, atau salah menempatkan data ukuran (sudut horizontal terbalik dengan helling) - Salah dengar

Cara mengatasi contohnya :

- pengecekan sendiri hasil pengamatan dan pembacaan - gunakan alat bantu, contoh : kompas, GPS

- selalu menggambar langsung sketsa setelah mendapatkan dan mencatat hasil ukuran.

2. Kesalahan Sistematis

Kesalahan sistematis umumnya terjadi metode atau cara pengukuran yang salah dan karena alat ukur yang dipakai itu sendiri. Contoh penyebab yang terkait dengan alat ukur :

- Syarat pengaturan alat tidak lengkap - Patok yang bergeser atau goyang

- Penyinaran pada alat bacaan tidak merata - Skala rambu, kesalahan titik nol rambu Cara mengatasinya :

(27)

18 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 - Alat perlu dikalibrasi sebelum digunakan - Pengukuran Panjang pita ukur

- Koreksi pada pengolahan data 3. Kesalahan Acak (Random)

Kesalahan akan terlihat apabila dilakukan pengamatan yang berulang-ulang.

Beberapa contoh yang mengakibatkan kesalahan acak : - Getaran tanah atau tanah tidak stabil

- Atmosfer bumi

- Psikis pengamat (contoh : faktor kelelahan)

Kesalahan ini dapat diralat dengan menghitung perataan apabila terdapat data yang cukup.

Pengukuran merupakan proses yang mencakup tiga hal atau bagian yaitu benda ukur, alat ukur dan pengukur atau pengamat. karena ketidak sempurnaan masing - masing bagian ini ditambah dengan pengaruh lingkungan maka bisa dikatakan bahwa tidak ada satupun pengukuran yang memberikan ketelitian yang absolut. Ketelitian bersifat relatif yaitu kesamaan atau perbedaan antara harga hasil pengukuran dengan harga yang dianggap benar, karena yang absolut benar tidak diketahui. Setiap pengukuran, dengan kecermatan yang memadai, mempunyai ketidaktelitian yaitu adanya kesalahan yang berbeda - beda, tergantung pada kondisi alat ukur, benda ukur, metoda pengukuran dan kecakapan si pengukur.

Kesalahan dalam pengukuran-pengukuran yang dinyatakan dalam persyaratan bahwa :

1. Pengukuran tidak selalu tepat

2. Setiap pengukuran mengandung galat

3. Harga sebenarnya dari suatu pengukuran tidak pernah diketahui 4. Kesalahan yang tepat selalu tidak diketahui

Adapun faktor-faktor kesalahan yang menjadi penyebab kesalahan pengukuran adalah sebagai berikut :

1. Alam, perubahan angin, suhu, kelembaban udara, pembiasan cahaya, gaya berat dan deklinasi magnetik

2. Alat, ketidaksempurnaan konstruksi atau penyetelan instrumen

(28)

19 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

3. Pengukur, keterbatasan kemampuan pengukur dalam merasa, melihat, dan meraba

Kondisi alam walaupun pada dasarnya merupakan suatu fungsi yang berlanjut, akan tetapi mempunyai karakteristik yang dinamis. Hal inilah yang menyebabkan banyak aplikasi pada bidang pengukuran dan pemetaan. Pengukuran dan pemetaan banyak tergantung dari alam.

Pelaksanaan pekerjaan dan pengukuran jarak, sudut, dan koordinat titik pada foto udara juga diperlukan suatu instrumen pengukuran yang prosedurnya untuk mengupayakan kesalahan yang kecil. Dan jika diantara kesalahan itu terjadi maka pengukuran dan pengumpulan data harus di ulang. Kesalahan terjadi karena salah mengerti permasalahan, kelalaian, atau pertimbangan yang buruk. Kesalahan dapat ditemukan dengan mengecek secara sistematis seluruh pekerjaan dan dihilangkan dengan jalan mengulang sebagian atau bahkan seluruh pekerjaan. Dalam melaksanakan ukuran datar akan selalu terdapat “Kesalahan”. Kesalahan ini disebabkan baik karena kekhilafan maupun karena kita manusia memang tidak sempurna dalam menciptakan alat – alat. Kesalahan ini dapat kita golongkan dalam :

1. Kesalahan instrumental/kesalahan karena alat 2. Kesalahan karena pengaruh luar/dalam 3. Kesalahan pengukur

- Poligon Terbuka

Studocu (2021) menjelaskan Poligon terbuka adalah poligon yang titik awal dan titik akhirnya merupakan titik yang berlainan (bukan satu titik yang sama).

Poligon terbuka ini dapat kita bagi lebih lanjut berdasarkan peningkatan pada titik-titik (kedua titik ujungnya). Ada dua macam peningkatan untuk poligon terbuka ini yaitu:

• Peningkatan azimuth

• Peningkatan koordinat

Berdasarkan peningkatan-peningkatan itu, maka poligon terbuka dapat dibagi lebih lanjut menjadi :

1. Tanpa ikatan sama sekali

(29)

20 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

2. Pada salah satu ujung yang lain tanpa ikatan sama sekali

3. Pada salah satu ujungnya terikat azimut saja, sedangkan pada ujung yang lain tanpa ikatan sama sekali

4. Pada salah satu ujungnya terikat azimuth dan koordinat, sedangkan pada ujung yang lain tanpa ikatan sama sekali

5. Pada kedua ujungnya masing-masing terikat azimuth

6. Pada salah satu ujungnya terikat koordinat, sedangkan ujung yang lain terikat azimuth, pada kedua ujungnya masing-masing terikat koordinat 7. Pada salah satu ujungnya terikat azimuth dan koordinat, sedangkan ujung

yang lain terikat azimuth saja.

8. Pada salah satu ujungnya terikat azimuth dan koordinat, sedangkan ujung yang lain terikat koordinat.

9. Pada kedua ujungnya masing-masing terikat baik azimuth maupun koordinat

10. Pada kedua ujungnya masing-masing terikat baik azimuth maupun koordinat.

Gambar 2. 7 Pengukuran Metode Poligon Terbuka

Berikut merupakan jenis-jenis poligon terbuka berdasarkan titik ikatnya :

• Poligon terbuka terikat sempurna : poligon terbuka yang masing-masing ujungnya terikat azimuth dan koordinat.

• Poligon terbuka tidak terikat sempurna :

1. Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh azimuth saja, sedangkan ujung yang lain tidak terikat sama sekali. Poligon semacam ini dapat dihitung dari azimuth awal dan yang diketahui dan sudut-sudut poligon yang diukur, sedangkan koordinat dari masing-masing titiknya masih lokal.

2. Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh koordinat saja, sedangkan ujung yang lain tidak terikat sama sekali.Poligon semacam

(30)

21 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

ini dapat dihitung dengan cara memisalkan azimuth awal sehingga masing-masing azimuth sisi poligon dapat dihitung, sedangkan koordinat masing-masing titik dihitung berdasarkan koordinat yang diketahui. Oleh karena itu pada poligon bentuk ini koordinat yang dianggap betul hanyalah pada koordinat titik yang diketahui (awal) sehingga poligon ini tidak ada orientasinya.

3. Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat, sedangkan ujung yang lain tidak terikat. Poligon jenis ini dapat dikatakan satu titik terikat secara sempurna namun belum terkoreksi secara sempurna baik koreksi sudut maupun koreksi koordinat, tetapi sistem koordinatnya sudah benar.

4. Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh azimuth. Pada poligon jenis ini ada koreksi azimuth, sedangkan koordinat titik-titik poligon adalah koordinat lokal.

5. Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh koordinat. Jenis poligon ini tidak ada koreksi sudut tetapi ada koreksi koordinat.

6. Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh koordinat, sedangkan ujung yang lain terikat azimuth. Pada poligon ini tidak ada koreksi sudut dan koreksi koordinat.

7. Poligon terbuka yang salah satu ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat saja, sedangkan ujung yang lain terikat koordinat. Jenis poligon ini tidak ada koreksi sudut tetapi ada koreksi koordinat.

8. Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat, sedangkan ujung yang lain tidak terikat azimuth. Poligon ini ada koreksi sudut tetapi tidak ada koreksi koordinat.

9. Poligon terbuka yang kedua ujungnya terikat oleh azimuth dan koordinat, sedangkan ujung yang lain tidak terikat azimuth. Jenis poligon ini ada koreksi sudut tetapi tidak ada koreksi koordinat.

• Poligon terbuka tanpa ikatan sama sekali (poligon lepas), pengukuran seperti ini akan terjadi pada daerah-daerah yang tidak ada titik tetapnya dan sulit melakukan pengukuran baik dengan cara astronomis maupun

(31)

22 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

dengan satelit. Poligon semacam ini dihitung dengan orientasi lokal artinya koordinat dan azimuth awalnya dimisalkan sembarang.

Berikut merupakan syarat geometri poligon terbuka terikat sempurna : 1. Syarat sudut

∑β U + fs = (αakhir – αawal) + N.180°

2. Syarat absis dan ordinat

∑d sin α + fx = (Xakhir – X awal)

∑d cos α + fy = (Yakhir – Y awal)

N = n (n : jumlah titik yang diukur sudutnya) = sesuai geometri di atas.

Dalam beberapa kondisi N dapat berharga (n+2), (n-2), (n+1) dan (n-1), tergantung dari sudut dalam satu sudut luar yang diukur dan faktor formulasi besaran azimut awal dan azimut akhir.

3. Langkah hitungan sebagaimana langkah di atas, untuk point (f) menyesuaikan ketentuan poligon terbuka terikat sempurna.

Menurut Hardiono, M. R. (2014) pengukuran tidak luput dari kesalahan- kesalahan. Kesalahan pada poligon terbuka sama dengan poligon tertutup. Ada tiga jenis kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi pada saat pengukuran :

1. Kesalahan Kasar (Blunder)

Kesalahan ini terjadi karena kurang hati-hati , kurang pengalaman dan kurang perhatian. Sebagai catatan bahwa dalam pengukuran kesalahan ini tidak boleh terjadi, bila terjadi harus diulang Contoh-contoh kesalahan blunder :

- Salah baca : 3 dibaca 8, 6 dibaca 9, 7 dibaca 9

- Salah catat : misalkan 1 rentangan pengukuran tidak tercatat, atau salah menempatkan data ukuran (sudut horizontal terbalik dengan helling) - Salah dengar

Cara mengatasi contohnya :

- pengecekan sendiri hasil pengamatan dan pembacaan - gunakan alat bantu, contoh : kompas, GPS

- selalu menggambar langsung sketsa setelah mendapatkan dan mencatat hasil ukuran.

2. Kesalahan Sistematis

(32)

23 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

Kesalahan sistematis umumnya terjadi metode atau cara pengukuran yang salah dan karena alat ukur yang dipakai itu sendiri. Contoh penyebab yang terkait dengan alat ukur :

- Syarat pengaturan alat tidak lengkap - Patok yang bergeser atau goyang

- Penyinaran pada alat bacaan tidak merata - Skala rambu, kesalahan titik nol rambu Cara mengatasinya :

- Alat perlu dikalibrasi sebelum digunakan - Pengukuran Panjang pita ukur

- Koreksi pada pengolahan data 3. Kesalahan Acak (Random)

Kesalahan akan terlihat apabila dilakukan pengamatan yang berulang- ulang. Beberapa contoh yang mengakibatkan kesalahan acak :

- Getaran tanah atau tanah tidak stabil - Atmosfer bumi

- Psikis pengamat (contoh : faktor kelelahan)

Kesalahan ini dapat diralat dengan menghitung perataan apabila terdapat data yang cukup.

2.2.4 Pengolahan Data Poligon

Pengolahan data poligon dikontrol terhadap sudut-sudut dalam atau luar poligon dan dikontrol terhadap koordinat baik absis maupun ordinat. Pengolahan data poligon dimulai dengan menghitung sudut awal dan sudut akhir dari titik- titik ikat poligon, kontrol sudut poligon diawali terlebih dahulu dilakukan yaitu untuk memperoleh koreksi sudut poligon dengan cara mengontrol jumlah sudut poligon terhadap pengurangan sudut akhir dengan sudut awal poligon.

Koreksi sudut poligon yang diperoleh kemudian dibagi secara merata tanpa bobot terhadap sudut-sudut poligon hasil pengukuran dan pengamatan di lapangan terhadap sudut awal poligon dijumlahkan terhadap sudut poligon yang dikoreksi.

Sudut-sudut jurusan titik poligon terhadap titik poligon berikutnya mengacu Kontrol Koordinat berbeda dengan kontrol sudut yaitu koordinat akhir dan awal dikurangi serta dibandingkan terhadap jumlah proyeksinya terhadap absis dan

(33)

24 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

ordinat. Koreksi absis dan ordinat akan diperoleh dan dibandingkan dengan mempertimbangkan bobot kepada masing-masing titik poligon.

2.2.5 Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal

Kerangka dasar vertikal merupakan teknik dan cara pengukuran kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu. Bidang ketinggian rujukan ini biasanya berupa ketinggian muka air laut rata-rata (mean sea level - MSL) atau ditentukan lokal.

Pengadaan jaring kerangka dasar vertikal dimulai oleh Belanda dengan menetapkan MSL di beberapa tempat dan diteruskan dengan pengukuran sipat datar teliti. Bakosurtanal, mulai akhir tahun 1970-an memulai upaya penyatuan sistem tinggi nasional dengan melakukan pengukuran sipat datar teliti yang melewati titik-titik kerangka dasar yang telah ada maupun pembuatan titik- titik baru pada kerapatan tertentu. Jejaring titik kerangka dasar vertikal ini disebut sebagai Titik Tinggi Geodesi (TTG).

Hingga saat ini, pengukuran beda tinggi sipat datar masih merupakan cara Pengukuran beda tinggi yang paling teliti. Sehingga ketelitian kerangka dasar vertical dinyatakan sebagai batas harga terbesar perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat datar pergi dan pulang. Pada tabel 2.1 ditunjukkan contoh ketentuan ketelitian sipat teliti untuk pengadaan kerangka dasar vertikal. Untuk keperluan pengikatan ketinggian, bila pada suatu wilayah tidak ditemukan TTG, maka bisa menggunakan ketinggian titik triangulasi sebagai ikatan yang mendekati harga ketinggian teliti terhadap MSL.

Tabel 2. 1 Tingkat Ketelitian Sipat Datar

Tingkat Ketelitian K

I 3 mm

II 6 mm

II 8 mm

Pelaksanaan pengukuran kerangka dasar vertikal dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu metode sipat datar, dan pengukuran Trigonometris.

Metode sipat datar prinsipnya adalah mengukur tinggi bidik alat sipat datar optis di lapangan menggunakan rambu ukur. Hingga saat ini, pengukuran beda

(34)

25 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

tinggi dengan menggunakan metode sipat datar optis masih merupakan cara pengukuran beda tinggi yang paling teliti. Sehingga ketelitian kerangka dasar vertikal (KDV) dinyatakan sebagai batas harga terbesar perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat datar pergi dan pulang.

Pengukuran Trigonometris prinsipnya adalah adalah perolehan beda tinggi melalui jarak langsung teropong terhadap beda tinggi dengan memperhitungkan tinggi alat, sudut vertikal (zenith atau inklinasi) serta tinggi garis bidik yang diwakili oleh benang tengah rambu ukur.

Metode sipat datar merupakan metode yang paling teliti dibandingkan dengan metode trigonometris. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan teori perambatan kesalahan yang dapat diturunkan melalui persamaan matematis diferensial parsial.

• Metode Pengukuran Sipat Datar Optis

Metode sipat datar optis adalah proses penentuan ketinggian dari sejumlah titik atau pengukuran perbedaan elevasi. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan tinggi di atas air laut ke suatu titik tertentu sepanjang garis vertikal.

Perbedaan tinggi antara titik-titik akan dapat ditentukan dengan garis sumbu pada pesawat yang ditunjukan pada rambu yang vertikal. Tujuan dari pengukuran penyipat datar adalah mencari beda tinggi antara dua titik yang diukur. Misalnya bumi, bumi mempunyai permukaan ketinggian yang tidak sama atau mempunyai selisih tinggi. Apabila selisih tinggi dari dua buah titik dapat diketahui maka tinggi titik kedua dan seterusnya dapat dihitung setelah titik pertama diketahui tingginya.

Gambar 2. 8 Prinsip Penentuan Beda Tinggi dengan Sipat Datar

Keterangan gambar :

A dan B : titik di atas permukaan bumi yang akan diukur beda tingginya

(35)

26 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

a dan b : bacaan rambu atau tinggi garis mendatar / garis bidik di titik A dan B

HA dan HB : ketinggian titik A dan B di atas bidang referensi

∆hAB : beda tinggi antara titik A dan B

Beda tinggi antara A dan B dirumuskan sebagai:

∆h

AB

= a - b

Apabila (a–b) hasilnya positif ( + ), maka dari A ke B berarti naik, atau B lebih tinggi daripada A. Sebaliknya, apabila (a–b) negatif ( – ), maka dari A ke B turun atau B lebih rendah daripada A.

Sebelum digunakan alat sipat datar mempunyai syarat yaitu: garis bidik harus sejajar dengan garis jurusan nivo. Dalam keadaan di atas, apabila gelembung nivo tabung berada di tengah garis bidik akan mendatar. Oleh sebab itu, gelembung nivo tabung harus di tengah setiap kali akan membaca skala rambu.

Karena interval skala rambu umumnya 1 cm, maka agar kita dapat menaksir bacaan skala dalam 1 cm dengan teliti, jarak antara alat sipat datar dengan rambu tidak lebih dari 60 meter. Artinya jarak antara dua titik yang akan diukur beda tingginya tidak boleh lebih dari 120 meter dengan alat sipat datar ditempatkan di tengah antara dua titik tersebut dan paling dekat 3,00 m.

Gambar 2. 9 Keterangan Pengukuran Sipat Datar

Keterangan:

1. A, B, dan C = stasion: X = stasion antara 2. Andaikan stasion A diketahui tingginya, maka:

• Disebut pengukuran ke belakang, b = rambu belakang;

• Disebut pengukuran ke muka, m = rambu muka. Dari pengukuran 1

(36)

27 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

dan 2, tinggi stasion B diketahui, maka:

• Disebut pengukuran ke belakang;

• Disebut pengukuran ke muka, stasion B disebut titik putar 3. Jarak AB, BC dst masing-masing disebut seksi atau slag.

4. Ti = tinggi alat;

5. Tgb= tinggi garis bidik.

Pengertian lain dari beda tinggi antara dua titik adalah selisih pengukuran ke belakang dan pengukuran ke muka. Dengan demikian akan diperoleh beda tinggi sesuai dengan ketinggian titik yang diukur. Pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal harus diawali dengan mengidentifikasi kesalahan sistematis dalam hal ini kesalahan garis bidik alat sipat datar optis melalui suatu pengukuran sipat datar dalam posisi 2 stand (2 kali berdiri alat). Pengukuran beda tinggi double stand adalah pengukuran yang di berdiri alat. terjadi pada saat pengukuran sehingga alat didirikan 2 kali. Kegunaan pengukuran ini adalah untuk mengurangi kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran sehingga alat didirikan dua kali. Kesalahan garis bidik adalah kemungkinan terungkitnya garis bidik teropong ke arah atas atau bawah diakibatkan oleh keterbatasan pabrik membuat alat ini betul-betul presisi.

Pengukuran beda tinggi metode double stand :

Mendirikan waterpass di antara dua titik target merupakan pekerjaan yang sering dijumpai di lapangan. Penempatan waterpass di antara dua titik target ini tidak perlu segaris dengan kedua titik tersebut, yang penting jarak di antara waterpass dan titik-titik tersebut diusahakan sama atau hampir sama panjangnya. Dalam aplikasi sesungguhnya jarak-jarak antara titik-titik tersebut panjangnya tidak diukur secara optis dengan alat waterpas, tetapi diukur dengan alat ukur jarak langsung misalnya pita ukur, EDM dan lainnya. Pengukuran jarak secara optis dengan alat waterpas ini digunakan untuk membandingkan dengan hasil yang diperoleh dari pengukuran jarak langsung tersebut ataupun untuk mengecek bacaan benang tengahnya, apakah telah memenuhi ketentuan bahwa bt = ½ (ba+bb). Satu kedudukan waterpas di antara dua titik target yang ditegakkan rambu ukur disebut slag, pengukuran dalam satu hari terdiri dari

(37)

28 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

beberapa slag yang dikenal dengan istilah seksi,sedangkan trayek adalah panjang pengukuran dari beberapa seksi, yang merupakan panjang dari satu pekerjaan proyek.

Spesifikasi teknik pengukuran waterpass adalah sebagai berikut :

1. Maksud pengukuran waterpass adalah untuk menentukan ketinggian titik- titik terhadap bidang referensi tertentu yang akan digunakan sebagai jaring sipat datar pemetaan

2. Alat ukur yang dipakai adalah waterpass

3. Jalur pengukuran dibagi menjadi beberapa seksi 4. Tiap seksi dibagi menjadi slag yang genap

5. Setiap pindah slag rambu muka menjadi rambu belakang dan rambu belakang menjadi rambu muka

6. Pengukuran waterpass dilakukan dengan cara double stand,ring.

7. Toleransi kesalahan pembacaan stand 1 dengan stand 2 adalah < 2 mm 8. Pembacaan rambu dengan tiga benang (benang atas, tengah,dan bawah) Pengukuran beda tinggi metode double stand pulang-pergi :

1. Menyiapkan alat ukur waterpass di atas kaki tiga, dan siapkan pula alat tulis untuk mencatat hasil pengukuran

2. Membuka kaki tiga dari pengunci

3. Mendirikan dan dalam keadaan tidak terkunci tinggikan sampai kira-kira sebatas dada, kemudian kuncikan kembali

4. Merenggangkan ketiga kakinya membentuk segitiga sama sisi dengan jarak antar kaki sekitar 96 cm dan kepala kaki tiga dalam keadaan mendatar 5. Mengeluarkan alat ukur dari tempatnya, kemudian pasang di atas kepala

kaki tiga yang sudah disiapkan tadi, pasang sekrup yang ada di kepada kaki tiga pada lubang yang ada di bagian bawah alat ukur cukup kuat agar antara kaki tiga dan alat betul-betul menjadi satu kesatuan

6. Menginjak alat injakan yang ada di kaki tiga

(38)

29 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

7. Mengatur teropong sejajar dengan dua buah skrup pendatar

8. Memutar kedua skup pendatar ke atas atau kebawah secara bersamaan dan sekrup ketiga sebagai pengatur sampingan,sampai gelembung nivo tepat ditengah kotak

9. Untuk memenuhi syarat garis bidik sejajar garis nivo, mengatur gelembung nivo tabungnya agar tepat ada di tengah dengan menggunakan sekrup pengatur nivo tabung

10. Mengarahkan teropong ke sasaran, berupa rambu ukur yang didirikan tegak diatas titik pengukuran

11. Mengecek benang diafragma terlihat atau tidak. bila tidak terlihat putar- putar sekrup pemfokus diafragma sampai benang diafragma tersebut terlihat jelas

12. Menentukan dua titik A dan B

13. Membagi panjang PQ dalam beberapa slag

14. Membaca benang tengah di tiap slag, dengan menganggap bacaan bt yang berlawanan dengan arah pengukuran menjadi arah belakang (b), yang searah menjadi arah muka (m) dan catat pada lembar kerja. Hitung beda tinggi tiap-tiap slag

Selanjutnya kesalahan yang disebabkan kekurangan-kekurangan pada tanda- tanda indeks rambu karena titik-titik balik bernomor genap yang tidak tersedia antara dua titik dapat dianggap sebagai kesalahan pembidik. Pada sipat datar teliti,seluruh jarak harus dibagi menjadi bagian-bagian berjumlah genap untuk menentukan titik-titik balik.

1. Kesalahan instrumen : disebabkan oleh petugas, penyetelan instrumen sipat datar yang tidak sempurna (garis kolimasi tidak sejajar dengan rambu nivo tabung)

2. Parallax yang timbul pada saat pengukuran

a. disebabkan oleh rambu yaitu gradasi rambu yang tidak teliti, untuk perbaikannya dibutuhkan kalibrasi, adanya kesalahan indeks rambu,

(39)

30 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

sambungan rambu yang tidak sempurna (terutama pada tipe perpanjangan)

b. kesalahan alami

- Pengaruh sinar matahari langsung : sinar matahari langsung dapat merubah kondisi instrumen sipat datar dan karenanya merubah garis kolimasi. Pada sipat datar teliti selama observasi, instrumen sipat datar harus terlindung dari sinar matahari. Demikian pula, pemuaian atau penyusutan skala rambu harus dikoreksi disesuaikan dengan temperatur rambu tersebut.

- Perubahan posisi instrumen sipat datar dan rambu-rambu : karena beratnya sendiri, baik instrumen sipat datar maupun rambu akan dapat terbenam, jika ditempatkan di atas tanah yang lunak. Pada tempat-tempat seperti itu, penyangga statif dan rambu haruslah dibuat khusus seperti piket, patok atau harus dipilih tempat-tempat padat. Angin yang berhembus kencang akan menyulitkan pekerjaan pengukuran, dan untuk menghindarinya dapat digunakan perisai pelindung atau menggunakan rambu yang pendek.

- Pengaruh refraksi cahaya : sebagaimana dimaklumi, bahwa berkas cahaya yang melintasi udara dengan kerapatan yang berbeda-beda akan direfraksikan. Sedangkan dekat di atas permukaan tanah temperatur udara sangat berubah-ubah dan karenanya perubahan kerapatannya pun besar pula. Karena itu pembacaan rambu menjadi sulit dan mungkin sekali tidak teliti. Untuk meningkatkan ketelitiannya, jarak bidikan haruslah sependek mungkin. Selanjutnya diusahakan agar posisi instrumen sipat datar terletak di tengah-tengah antara kedua rambu.

- Pengaruh lengkung bumi : karena permukaan bumi tidaklah datar, akan tetapi berbentuk speris, maka lengkung permukaan bumi haruslah diperhitungkan. Tetapi hal ini merupakan problema yang kecil pada sipat datar. Lebih-lebih apabila instrumen sipat datar ditempatkan di tengah- tengah antara kedua rambu,maka pengaruhnya dapat diabaikan.

(40)

31 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 2.2.6 Pengukuran Detail Situasi

Pemetaan situasi dan detail adalah pemetaan suatu daerah atau wilayah ukur yang mencakup penyajian dalam tiga dimensi koordinat horizontal dan koordinat vertikal secara bersama-sama dalam suatu gambar peta. Prinsipnya dengan menentukan objek-objek penting berdasarkan unsur sudut dan jarak dalam jumlah yang cukup, sehingga dapat mewakili atau menggambarkan daerah tersebut dan seisinya secara jelas mungkin dengan skala tertentu. Peralatan dan perlengkapan yang digunakan biasanya dengan menggunakan alat theodolit dan meteran.

Pengukuran situasi merupakan suatu kegiatan pengumpulan data di lapangan (daerah yang dipetakan). Kegiatan yang dilakukan bersifat teknis pengukuran posisi horizontal dan pengukuran posisi vertikal terhadap unsur-unsur atau objek-objek di permukaan bumi. Maksud dan tujuan pengukuran situasi adalah untuk mendapatkan gambaran selengkap mungkin dari sebagian kecil maupun sebagian besar suatu lokasi/daerah tertentu dengan cara memindahkan data ukuran lapangan ke suatu bidang datar menggunakan skala dan sistem proyeksi orthogonal (Sobatnu, 2018).

Pada kegiatan pengukuran situasi diperlukan adanya suatu jaringan kerangka dasar pemetaan yang terdiri dari kerangka dasar horizontal maupun kerangka dasar vertikal sebagai titik referensi/ikat/kontrol/acuan bagi pengukuran titik-titik detail. Dari kondisi ini terlihat ada tiga bagian penting/utama yang harus dilakukan dalam rangka pengukuran situasi, yaitu:

1. Penentuan dan pengukuran posisi horizontal untuk kerangka dasar pemetaan.

(sebagai contoh menggunakan poligon tertutup);

2. Penentuan dan pengukuran posisi vertikal (elevasi) untuk kerangka dasar pemetaan. (sebagai contoh menggunakan metode sipat datar);

3. Penentuan dan pengukuran posisi horizontal dan vertikal untuk titik-titik detail atau objek daerah/lokasi yang dipetakan menggunakan metode tachimetry.

Penentuan dan pengukuran posisi horizontal dengan metode poligon tertutup dan penentuan posisi vertikal dengan sipat datar telah diuraikan di atas.

Selanjutnya akan dibahas dan mempelajari bagian penentuan dan pengukuran posisi titik-titik detail di lapangan dengan metode tachimetry.

(41)

32 BAB II DASAR TEORI

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

Metode tachymetri adalah pengukuran menggunakan alat-alat optis, elektronis, dan digital. Pengukuran detail cara tachymetri dimulai dengan penyiapan alat ukur di atas titik ikat dan penempatan rambu di titik bidik. Setelah alat siap untuk pengukuran, dimulai dengan perekaman data di tempat alat berdiri, pembidikan ke rambu ukur, pengamatan azimuth dan pencatatan data di rambu BT, BA, BB serta sudut miring (Purwaamijaya, 2015).

Metode tachymetri didasarkan pada prinsip bahwa pada segitiga-segitiga sebangun, sisi yang sepihak adalah sebanding. Kebanyakan pengukuran tachymetri adalah dengan garis bidik miring karena adanya keragaman topografi, tetapi perpotongan benang stadia dibaca pada rambu tegak lurus dan jarak miring

"direduksi" menjadi jarak horizontal dan jarak vertikal. Pada gambar, sebuah transit dipasang pada suatu titik dan rambu dipegang pada titik tertentu. Dengan benang silang tengah dibidikkan pada rambu ukur sehingga tinggi t sama dengan tinggi theodolite ke tanah (Hafiz, 2014).

Gambar 2. 10 Pengukuran Detail Situasi/Topografi Metode Tachymetri

(42)

33 BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 BAB III

PELAKSANAAN PRAKTIKUM 3.1 Wilayah Pelaksanaan Praktikum

Wilayah pengukuran yang dilakukan oleh peserta Kemah Geospasial berada di Desa Pananjung, Kab. Bandung yang dibagi menjadi 8 wilayah pengukuran.

Gambar 3. 1 Wilayah Pengukuran

Wilayah pengukuran Kelompok 5 adalah wilayah pengukuran nomor 9, ditandai dengan warna ungu. Sebagian besar wilayah pengukuran kelompok 5 meliputi pemukiman warga di rw 3, dan jalan di bagian lapangan bola, untuk detail rencana pengukuran dapat melihat sketsa perencanaan berikut.

Gambar 3. 2 Sketsa Perencanaan Poligon

(43)

34 BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 3.2 Waktu Pelaksanaan Praktikum

Tabel 3. 1 Waktu Pelaksanaan Praktikum

Kegiatan Gambar Tanggal/Bulan/Tahun

Orientasi Lapangan dan Pemasangan Patok

03/07/2023

Pengambilan data

KKH dan Pengolahan data KKH

04/07/2023 – 05/07/2023

Pengambilan data

KKV dan Pengolahan data KKV

05/07/2023 dan 07/07/2023

(44)

35 BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

Kegiatan Gambar Tanggal/Bulan/Tahun

Pengukuran data Detail Situasi dan Pengolahan data Pengolahan data Detail Situasi

09/07/2023 – 11/07/2023

Pendataan Persil dan Pengolahan data Persil

09/07/2023 – 11/07/2023

(45)

36 BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023

Kegiatan Gambar Tanggal/Bulan/Tahun

Drafting &

Laporan

04/07/2023 – 12/06/2023

(46)

37 BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 3.3 Metodologi Praktikum

Gambar 3. 3 Metodologi Praktikum

(47)

38 BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 3.4 Tahapan Praktikum

3.4.1 Peralatan yang Digunakan

Tabel 3. 2 Peralatan yang Digunakan

No. Nama Peralatan

Gambar Keterangan

1. Drone Digunakan dalam

pembuatan basemap foto udara, yang dimana nantinya akan di overlay dengan hasil pengukuran untuk melihat kesesuaian antara data dan kesesuaiannya di lapangan.

2. Premark Digunakan sebagai

titik-titik kontrol yang diletakkan ke tanah,

agar dapat

terindetifikasi oleh drone pada saat mengambil foto udara.

3. GPS Geodetik

Digunakan untuk pengamatan suatu titik

acuan kerangka pemetaan.

(48)

39 BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 No. Nama

Peralatan

Gambar Keterangan

4. Electronic Total Station

(ETS)

Alat utama dalam suatu pengukuran topografi, dimana data yang dapat diakuisisi dengan alat ini adalah koordinat, sudut, dan jarak.

5. Prisma Digunakan sebagai

target tembakan/

reflektor dari ETS.

6. Waterpass Alat yang digunakan

untuk mengukur data elevasi, dengan mendapatkan beda tinggi dari tempat yang

ingin diketahui ketinggian atau elevasinya.

7. Statif Digunakan sebagai

kaki atau tempat berdirinya alat baik ETS/Waterpass/GPS Geodetik/Prisma.

(49)

40 BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 No. Nama

Peralatan

Gambar Keterangan

8. Meteran Digunakan untuk

mengukur tinggi alat yang digunakan.

9. Pita Ukur Digunakan untuk

mengukur jarak antar titiknya.

10. Pole Digunakan untuk

pengukuran detail situasi, juga digunakan sebagai dudukan untuk alat prisma.

11. Rambu Ukur

Digunakan sebagai target untuk mendapatkan data

beda tinggi pada pengukuran KKV.

(50)

41 BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 No. Nama

Peralatan

Gambar Keterangan

12. Paku Payung

Digunakan untuk menandai titik poligon atau titik bantu.

13. Rompi Lapangan

Digunakan sebagai alat pelindung diri (seragam lapangan), dan sebagai identitas.

14. Alat Tulis Digunakan untuk

mencatat hal penting

mengenai data pengukuran di lapangan.

15 Laptop Sebagai media utama

untuk mengolah data hasil pengukuran.

(51)

42 BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

KELOMPOK 5 / KEMAH GEOSPASIAL 2023 No. Nama

Peralatan

Gambar Keterangan

16. Smartphone Digunakan sebagai

alat komunikasi antar anggota kelompok maupun dengan kelompok yang lain.

17. Flashdisk Digunakan sebagai

media untuk menyimpan ataupun

mentransferkan data hasil pengukuran lapangan.

3.4.2 Orientasi Lapangan

Orientasi Lapangan dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai lokasi pengukuran dan dapat melakukan perencanaan titik poligon yang akan ditentukan dengan pemasangan patok, Hasil dari orientasi ini dapat menentukan acuan untuk pengukuran poligon, pengukuran detail situasi, posisi Bench Mark (BM), dan batas area pengukuran. Hasil orientasi lapangan kelompok 5 sesuai dengan tempat yang telah ditentukan oleh PJ Kemker, terdapat 2 titik BM dan 15 titik poligon perencanaan yang telah dibuat untuk selanjutnya dipakai dalam pengukuran. Orientasi lapangan ini dilaksanakan pada :

Referensi

Dokumen terkait