• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KERJA PRAKTEK INSPEKSI MONITORING PENGUKURAN ARUS BOCOR PADA TRANSFORMATOR 150 KV DI GIS BANDARA

N/A
N/A
Martin sihaloho

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN KERJA PRAKTEK INSPEKSI MONITORING PENGUKURAN ARUS BOCOR PADA TRANSFORMATOR 150 KV DI GIS BANDARA"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KERJA PRAKTEK

INSPEKSI MONITORING PENGUKURAN ARUS BOCOR PADA TRANSFORMATOR 150 KV

DI GIS BANDARA

Jonatan Sinurat 2005541130

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS UDAYANA JIMBARAN

2023

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1.1.1 PT PLN (Persero)

Berawal di akhir abad 19, bidang pabrik gula dan pabrik ketenagalistrikandi Indonesia mulai ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yangbergerak di bidang pabrik gula dan pebrik teh mendirikan pembangkit tenaga lisrik untuk keperluan sendiri. Antara tahun 1942-1945 terjadi peralihan pengelolaan perusahaan-perusahaan Belanda tersebut oleh Jepang, setelah Belanda menyerah kepada pasukan tentara Jepang di awal Perang Dunia II. Proses peralihan kekuasaankembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada sekutu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pemuda dan buruh listrik melalui delagasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas yang bersama-sama dengan Pemimpin KNI Pusat berinisiatif menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW. Pada tanggal 1 januari 1961, JawatanListrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pemimpin Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas yang dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965. Pada saat yang sama, 2 (dua) perusahaan negara yaituPerusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pengelola tenaga listrik milik negara dan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pengelola gas diresmikan. Pada tahun 1972,sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 18, status Perusahaan Listrik Negara (PLN) ditetapkan sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara dan sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum. Seiring dengan kebijakan Pemerintah yang memberikan kesempatan kepada sektor swasta

(3)

untuk bergerak dalam bisnis penyediaan listrik, maka sejak tahun 1994 status PLN beralih dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dan juga sebagai PKUK dalam menyediakan listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang. Adapun visi dan misi dari PT. PLN Persero yaitu :

a. VISI

1. Menjadi Perusahaan Listrik Terkemuka se-Asia Tenggara dan

#1 Pilihan Pelanggan untuk Solusi Energi.

b. MISI

1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasipada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.

2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitaskehidupan masyarakat.

3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.

4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

1.1.2 Makna Lambang PT PLN (Persero) Gas Insulated Swichgear(GIS) Bandara Ngurah Rai

Gambar 1. 2 Gambar Logo PLN (Sumber: PT. PLN (Persero), 2023)

Bentuk, warna dan makna lambang Perusahaan resmi yang digunakan adalah sesuai yang tercantum pada Lampiran Surat Keputusan Direksi PerusahaanUmum Listrik Negara No. : 031/DIR/76 Tanggal : 1 Juni 1976, mengenai Pembakuan Lambang Perusahaan Umum Listrik Negara.

(4)

a. Element-element Dasar Lambang 1. Bidang Persegi Panjang Vertikal

Gambar 1. 2 Bidang Persegi Panjang Vertikal (Sumber: PT. PLN (Persero), 2023)

Menjadi bidang dasar bagi elemen-elemen lambang lalnnya, melambangkan bahwa PT PLN (Persero) merupakan wadah atau organisasi yang terorganisir dengan sempurna. Berwarna kuning untuk menggambarkan pencerahan, seperti yang diharapkan PLN bahwa listrik mampu menciptakan pencerahan bagi kehidupan masyarakat. Kuning juga melambangkan semangat yang menyala-nyala yang dimiliki tiap insan yang berkarya di perusahaan ini.

2. Petir atau Kilat

Gambar 1. 3 Petir atau Kilat (Sumber: PT. PLN (Persero), 2023)

Melambangkan tenaga listrik yang terkandung di dalamnya sebagai produk jasa utama yang dihasilkan oleh perusahaan. Selain itu petir pun mengartikan kerja cepat dan tepat para insan PT PLN (Persero) dalam memberikan solusi terbaik bagi para pelanggannya. Warnanya yang merah melambangkan kedewasaan PLN sebagai perusahaan listrik pertama

(5)

Indonesia dan kedinamisan gerak laju perusahaan beserta tiap insan perusahaan serta keberanian dalam menghadapi tantangan perkembangan jaman.

3. Tiga Gelombang

Gambar 1. 4 Tiga Gelombang (Sumber: PT. PLN (Persero), 2023)

Memiliki arti gaya ramba energi listrik yang dialirkan oleh tiga bidang usaha utama yang digeluti perusahaan yaitu pembangkitan, penyaluran dan distribusi yang seiring sejalan dengan kerja keras para insan PT PLN (Persero) guna memberikan layanan terbaik bagi pelanggannya.

Diberi warna biru untuk menampilkan kesan konstan (sesuatu yang tetap) seperti halnya listrik yang tetap diperlukan dalam kehidupan manusia. Di samping itu biru juga melambangkan keandalan yang dimiliki insan-insan perusahaan dalam memberikan layanan terbaik bagi para pelanggannya.

1.2 Profil PT. PLN (Persero) Gas Insulated Swicher(GIS) Bandara PT. PLN (persero) distribusi Bali selain menyuplai pasokan listrik dengan melakukan pemasangan kabel bawah laut dari Jawa-Bali sebesar 200 megawatt juga memiliki Gas Insulated Switch Gear (GIS) bandara Ngurah Rai di Kedonganan yang pengerjaan pembangunannya selesai tahun 2013.

Latar belakang dibangun-nya GIS Bandara adalah untuk memenuhi kecukupan listrik di Nusa Dua saat APEC 2013 serta memenuhi kapasitas listrik di bandara Ngurah Rai.

Gardu Induk sebagai sarana penyediaan tenaga listrik, teknologinya telah berkembang cukup pesat dan dalam beberapa dekade terakhir, sebagai contoh adalah penerapan switchgear SF6, penggunaan peralatan mikroprosesor sebagai alat pengontrol serta pemakaian arrester-arrester ZnO.

Penggunaan Gardu Induk konvensional yang selama ini dipakai mempunyai beberapa kendala. Kendala-kendala tersebut adalah :

● Dampak psikologis terhadap masyarakat, karena peralatan Gardu Induk Konvensional terletak di luar ruangan sehingga timbul kesan menakutkan.

(6)

● Adanya pencemaran terhadap isolator dan peralatan Gardu Induk menyebabkan penurunan keandalan dari peralatan tersebut.

(7)

● Gardu Induk konvensional memerlukan lahan yang luas, padahal harga tanah sangat mahal, terutama di kota-kota besar dan kawasan industri wisata yang merupakan pusat-pusat beban.

Atas dasar pertimbangan tersebut, maka penggunaan Gas Insulated Switchgear (tipe Gardu Induk Pasangan Dalam ) yang mulai diperkenalkan pada akhir tahun 1960-an meluas penggunaannya di seluruh dunia. Dan sekarang keberadaannya telah membawa revolusi yang besar dalam bidang penyediaan tenaga listrik, khususnya teknik tegangan tinggi dan tegangan menengah di Nusa Dua, Bali yang merupakan salah satu pusat beban di Bali yang memiliki lahan yang sempit dengan harga tanah yangsangat mahal.

Gardu Induk Pasangan Dalam :

1. gardu induk yang hampir semua komponennya (switchgear, busbar, isolator, komponen kontrol, komponen kendali, cubicle, dan lain-lain) dipasang di dalam gedung. Kecuali transformator daya, pada umumnya dipasang di luar gedung.

2. Gardu Induk semacam ini biasa disebut Gas Insutaled Substation (GIS).

3. GIS merupakan bentuk pengembangan gardu induk, yang pada umumnya 4. GIS dibangun di daerah perkotaan atau padat pemukiman yang sulit

untuk mendapatkan lahan.

(8)

1.1.1 Struktur Organisasi PT. PLN (Persero) Gas

Insulated Swichgear(GIS) Bandara Ngurah Rai Bali

Ada pun gambar dari stuktur organisasi dari PT. PLN(Persero) GIS (Gas Insulated Swichgear) Bandara Ngurah Rai Bali adalah Sebagai Berikut.

Gambar 1.5 Bagan Struktur GIS (Gas Insulated Swichgear) Bandara Ngurah Rai Bali

(Sumber:PT PLN (Persero) GIS Bandara Ngurah Rai,2020)

Gambar di atas merupakan bagan struktur organisasi GIS (Gas Insulated Swichgear) Bandara. Berikut merupakan uraian tugas dan wewenang dari masing- masing bagian yang ada di PT.PLN(Persero) GIS Bandara Ngurah Rai Bali.

a. SPV II Jargi Bandara Ngurah Rai

Mengelola Inspeksi Level 1 seraca realtime,mengelola sarana dan keamanan fisik dan mengelola troubleshooting untuk menjaga kesiapan GI dan Transmisi, serta melaksankan program Perusahaan.Untuk melaksanakan tanggung jawab sebagaimana disebutkan diatas, bagian Jaringan GI mempunyai Fungsi:

1. Menyusun rencana kegiatan kerja

2. Melaksanakan pemeliharaan terhadap kondisi peralatan instalasi

3. Mengkoordinir penyusunan data hasil assessment 4. Mencegah gangguan controlable

(9)

5. Mensupervisi pengoprasian peralatan instalasi GI sesuai SOP

(10)

6. Menjadi insforman akurat data asset dan sarana JarGI 7. Mengkoordinasi pelaksanaan Analisa gangguan ringan 8. Melakukan pengecekan hasil laporan Kontrol Line 9. Mengkoordinir laporan bulanan GI

10. Menjalin hubungan baik ke pihak internal dan eksternal 11. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan

oleh atasan langsung seusai dengan tugas dan tanggung jawab.

b. JarGI Bandara Ngurah Rai

1. Kondisi Normal Kondisi Normal merupakan kondisi dimana semua perlatan utama, perlatan bantu, perlatan pendukung dapat dioperasikan sesuai dengan fungsinya, yang harus dilakukan oleh petugas JARGI yaitu memeriksa semua peralatan secara visual dan dimasukan kedalam daftar cheklis list peralatan gardu induk.

2. Kondisi Gangguan Kondisi Gangguan merupakan kondisi berubahnya status dan atau fungsi peralatan yang berubah karena pengaruh alam atau peralatan itu sendiri yang mengakibatkan kondisi menjadi tidak semestinya. Tugas yang harus dilaukan oleh operator JARGI adalah mematikan bunyi sirene/ horn/ klakson, mengamati secara menyeluruh perubahan status atau fungsi pada panel kontrol, indikasi pada lemari proteksi, mencatat jam kejadian, announciator pada panel kontrol dan indicator rele yang bekerja.

3. Kondisi Pemeliharaan Kondisi Pemiliharaan merupakan kegiatan pemeliharaan yang dilakukan untuk mempertahankan performa perlatan instalasi. Tugas yang harus dilakukan pertugas JARGI adalah manuver pemberian tegangan sebelum melakukan pelepasan tegangan sebelum melakukan pemeliharaan dan melakukan maneuver penberian tegangan setelah selesai melakukan pemeliharaan. 7

4. Kondisi Darurat Kondisi Darurat merupakan kejadian musibah seperti kebakaran, banjir, gempa bumi yang dapat membahayakan jiwa manusia dan keruskan peralatan instalasi listrik asset PLN. Tugas yang harus dilakukan operator JARGI adalah membebaskan perlatan yang terganggu dari tegangan, melapokan kepada Dispacther Region , Pikert UPT dan melakukan evakuasi atau meningalkan tempat untuk menyelamtkan diri.

(11)

c. Ground Patrol GIS Bandara Ngurah Rai

Ground patrol adalah jenis pekerjaan pemantauan / pemeriksaan secara berkala / periodik terhadap jalur transmisi (SUTT / SUTET) tanpa memanjat tower, yang dilakukan oleh Line walker (Petugas Ground Patrol). Hasil pemeriksaan Ground patrol merupakan input yang dijadikan acuan tindak lanjut untuk Planned Corrective Maintenance.

1.3 Tujuan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui kegiatan Inspeksi Pengujian Arus Bocor Mingguan yang di lakukan pada Transformator yang ada di GIS Bandara.

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari kerja praktek yang dilaksanakan di PT. PLN ( PERSERO ) Gas Insulated Swichgear (GIS) adalah sebagai berikut :

1. Mampu mengetahui kegiatan Inspeksi Pengujian Arus Bocor Mingguan yang di lakukan pada Transformator yang ada

2. Meningkatkan pengalaman dan pemahaman tentang proses pemeliharaan transformator distribusi.

(12)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Sistem Distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik.

Sistem distribusi ini berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik besar (Bulk Power Source) sampai ke konsumen. Jadi fungsi distribusi tenaga listrik adalah sebagai berikut (Suhadi & dkk, 2011).

1. Pembagian atau penyaluran tenaga listrik ke beberapa tempat (pelanggan), dan

2. Merupakan sub sistem tenaga listrik yang berlangsung berhubungan dengan pelanggan karena catu daya pada pusat- pusat beban (pelanggan) dilayani langsung melalui jaringan distribusi.

Tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit tenaga listrik besar dengan tegangan dari 11 kV sampai 24 kV dinaikkan tegangannya olehgardu induk dengan transformator penaik tegangan menjadi 70 kV ,154 kV, 220 kV atau 500 kV kemudian disalurkan melalui saluran transmisi.

Tujuan menaikkan tegangan ialah untuk memperkecil kerugian daya listrik pada saluran transmisi, dimana dalam hal ini kerugian daya adalah sebanding dengan kuadrat arus yang mengalir (I2�). Dengan daya yang sama bila nilai tegangannya diperbesar, maka arus yang mengalir semakin kecil sehingga kerugian daya juga akan kecil pula. Dari saluran transmisi, tegangan diturunkan lagi menjadi 20 kV dengan transformator penurun tegangan pada

14 gardu induk distribusi, kemudian dengan sistem tegangan tersebut penyaluran tenaga listrik dilakukan oleh saluran distribusi primer.Dari saluran distribusi primer inilah gardu-gardu distribusi mengambil tegangan untuk diturunkan tegangannya dengan trafo distribusi menjadi sistem tegangan rendah, yaitu 220/380 Volt. Selanjutnya disalurkan oleh saluran distribusi sekunderke konsumen-konsumen. Dengan ini jelas bahwa sistem distribusi merupakan bagian yang penting dalam sistem tenaga listrik secara

(13)

keseluruhan. Pada sistem penyaluran daya jarak jauh, selalu digunakan tegangan setinggi mungkin, dengan menggunakan trafo-trafo step-up. Nilai tegangan yang sangat tinggi ini (HV,UHV,EHV) menimbulkan beberapa konsekuensi antara lain: berbahaya bagi lingkungan dan mahalnya harga perlengkapan perlengkapannya, selain menjadi tidak cocok dengan nilai tegangan yang dibutuhkan pada sisi beban. Maka, pada daerah-daerah pusat beban tegangan saluran yang tinggi ini diturunkan kembali dengan menggunakan trafo-trafo step-down. Akibatnya, bila ditinjau nilai tegangannya, maka mulai dari titik sumber hingga di titik beban, terdapat bagian- bagian saluran yang memiliki nilai tegangan berbeda-beda ( Hadi, 1994).

Gambar 2. 1 Sistem Penyaluran Tenaga Listrik (Sumber : Hassan, 2020)

1.1 Pengelompokan Jaringan Distribusi Tenaga Listrik

Sistem penyaluran energi listrik terbagi dalam beberapa bagian yang disebut dengan Sistem Tenaga Listrik (STL), sistem tenaga listrik adalah rangkaian instalasi penyaluran listrik yang terbagi menjadi :

1.1.1 Pembangkit

Pembangkitan adalah proses dimana listrik dibangkitkan, listrik adalah suatu energi dimana energi hanya bisa dirubah, maka energi listrik berasal dari pengubahan energi, bisa dari energi apapun contohnya diantara lain adalah PLTA (Pusat Listrik Tenaga Air) dari energi air, PLTU (Pusat Listrik Tenaga Uap) dari uap panas, PLTD (Pusat Listrik Tenaga Diesel) yang memakai bahan bakar minyak,dan masih banyak lagi. Prinsip pembangkitan

(14)

energi listrik pada dasarnya energi awal (yang akan dirubah menjadi energi listrik) dipakai untuk memutar turbin yangterhubung dengan generator, dalam generator ada kumparan dan magnet digerakkan oleh turbin yang bergerak oleh energi primer, menghasilkan elektromagnetik yang akan menghasilkan listrik. Tegangan listrik yang dihasilkan oleh generator pembangkit listrik sekitar 12 kV – 20 kV dan disalurkan ke Transmisi, sebelum masuk ke Transmisi tegangan di naikkan (Step-up) oleh Trafo Step Up (Artema, 2020).

1.1.2 Saluran Transmisi/Penyaluran

Transmisi adalah proses penyaluran listrik dari pembangkitan, tegangan dari pembangkitan di naikkan menjadi tegangan standar transmisi di Indonesia yaitu ada 70 kV, 150 kV yang diklasifikasikan sebagai Tegangan Tinggi (TT) dan 500 kV, yang diklasifikasikan sebagai Tegangan Ekstra Tinggi (TET). Tujuan tegangan dinaikkan agar mengurangi rugi-rugi daya akibat panjangnya saluran, makin tinggi tegangannya maka makin berkurang rugi daya yang terjadi. Tegangan yang akan diturunkan pada Distribusi biasanya tegangan 150 kV dan 70 kV, sedangkan 500 kV dipakai untuk penyaluran. Saluran transmisi terdiri dari saluranudara yang biasa disebut SUTT / SUTET dan kabel bawah tanah yang biasa disebut SKTT.

Untuk saluran udara biasanya terlihat dari tower-tower listrik yang besar, makin tinggi tegangannya makin besar struktur towernya (Febriana, 2018).

1.1.3 Saluran Distribusi

Distribusi adalah proses penyaluran dari transmisi hingga ke konsumen, Distribusi terbagi menjadi distribusi primer dan distribusi sekunder. Distribusi primer adalah penyaluran listrik dari transmisi yang telah diturunkan tegangannya oleh trafo step-down menjadi 20 kV yang diklasifikasikan sebagai tegangan menengah (TM), dan disalurkan melalui penyulang-penyulang (feeder). Sama seperti transmisi, saluran distribusi primer ada yang saluran udara (SUTM) dan kabel bawah tanah (SKTM).

Pada SUTM biasanya kita melihat di pinggir jalan adatiang dengan tiga kawat konduktor di atasnya. Sebelum masuk ke Distribusi sekunder listrik akan

(15)

diturunkan lagi tegangannya oleh trafo step-down menjadi tegangan pakai.

Distribusi sekunder adalah saluran dari trafo step-down distribusi hingga ke kWh pelanggan, tegangan pada distribusi sekunder adalah tegangan pakaiyaitu 380/220 Volt yang diklasifikasikan sebagai tegangan rendah (Artema, 2020).

1.1.4 Konsumen

Konsumen adalah pemakain jasa tenaga listrik, konsumen terbagi menjadibeberapa bagian tergantung tegangan yang dipakai oleh konsumen tersebut. Konsumen biasa (untuk rumah tinggal atau kantor) biasanya memakai tegangan rendah yang disebut Konsumen TR dengan tegangan pakai 380/220 Volt, konsumen TR ini menerima suplai listrik dari Saluran Distribusi Sekunder. Pemakaian listrik untuk bisnis seperti mall, hotel dan lain-lain, maupun industri menengah biasanya menggunakan listrik tegangan menengah yang disebut dengan konsumen TM, konsumen TM ini mendapat supply listrik langsung dari penyulang Distribusi Primer. Untuk konsumen Industri besar seperti pabrik semen dan lain- lain yang membutuhkan daya listrik besar biasanya berlangganan listrik tegangan tinggi yang disebut konsumen TT, supply listrik biasanya langsung didapatkan dari saluran transmisi tegangan tinggi (Artema, 2020).

Adapun yang menjadi ruang lingkup pada jaringan distribusi adalah

a. SUTM, terdiri dari : Tiang dan peralatan kelengkapannya, konduktor danperalatan perlengkapannya, serta peralatan pengaman dan pemutus.

b. SKTM, terdiri dari : Kabel tanah, indoor dan outdoor termination, batu bata, pasir dan lain-lain.

c. Gardu Trafo terdiri dari : Transformator, tiang, pondasi tiang, rangka tempat trafo, LV panel, pipa-pipa pelindung, Arrester, kabel-kabel, transformer band, peralatan grounding, dan lain-lain.

d. SUTR dan SKTR terdiri dari: sama dengan perlengkapan/ material pada SUTM dan SKTM. Yang membedakan hanya dimensinya.

(Nugraha & Desnanjaya, 2021)

(16)

Gambar 2. 2 Pembagian/Pengelompokan Tegangan Sistem Tenaga Listrik (Sumber : Dabukke, 2019)

1.2 Jaringan Sistem Distribusi Sekunder

Sistem distribusi sekunder berfungsi sebagai penyalur energi listrik dari suatu gardu distribusi hingga sampai kepada beban-beban yang ada di konsumen. Pada sistem distribusi sekunder bentuk saluran yang paling banyak digunakan adalah sistem radial. Sistem ini biasanya menggunakan suatu kabel yang berisolasi atau konduktor yang tidak berisolasi. Komponen saluran distribusi sekunder seperti ditunjukkan pada Gambar 2.3 berikut ini.

Gambar 2. 3 Komponen Sistem Distribusi (Sumber : Hendra, 2013)

(17)

1.1.1 Transformator

Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindah-kan dan mengubah energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain tanpa merubah frekuensi dari sistem, melalui suatu gandengan magnet danberdasarkan prinsip induksi elektromagnet. Fungsi transformator distribusi untuk menurunkan tegangan transmisi menjadi tegangan distribusi. Sebuah transformator terdiri atas sebuah inti, yang terbuat dari besi berlapis dan dua buah kumparan, yaitu kumparan primer dan sekunder. Rasio perubahan tegangan akan tergantung dari rasio jumlah lilitan pada kedua kumparan. Biasanya kumparan terbuat dari kawat tembaga yang dibelit seputar

“kaki“ inti transformator (Luase, 2015).

1.1.1.1 Komponen Utama Transformator

Komponen utama transformator tenaga terdiri dari bagian-bagian diantaranya: inti besi, kumparan transformator, minyak transformator, bushing, tangki konservator, peralatana Bantu pendinginan transformator, tap changer dan alat pernapasan (dehydrating breather).

1. Inti Besi

Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluksi magnetik yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempengan- lempengan besi tipis yang berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugi- rugi besi) yang ditimbulkan oleh Eddy Current

(Sumber : Fajar, 2015

(18)

2. Kumparan Transformator

Kumparan transformator adalah beberapa lilitan kawat berisolasi yang membentuk suatu kumparan atau gulungan. Kumparan tersebut terdiri dari kumparan primer dan kumparan sekunder yang diisolasi baik terhadap inti besi maupun terhadap antar kumparan dengan isolasi padat seperti karton, pertinak danlain-lain. Kumparan tersebut sebagai alat transformasi tegangan dan arus

1. Minyak Transformator

Minyak Transformator merupakan salah satu bahan isolasi cair yang dipergunakan sebagai isolasi dan pendingin pada transformator.

Sebagai bagian dari bahan isolasi, minyak harus memiliki kemampuan untuk menahan tegangan tembus, sedangkan sebagai pendingin minyak transformator harus mampu meredam panas yang ditimbulkan, sehingga dengan kedua kemampuan ini maka minyak diharapkan akan mampu melindungi transformator dari gangguan (Badaruddin, 2016).

2. Bushing

Bushing yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator merupakanalat penghubung antara kumparan transformator dengan jaringan luar. Bushing sekaligus berfungsi sebagai penyekat/isolator antara konduktor tersebut dengan tangki transformator (Sopyandi, 2011).

3. Tangki Konservator

Tangki Konservator berfungsi untuk menampung minyak cadangan dan uap/udara akibat pemanasan trafo karena arus beban. Diantara tangki dan trafo dipasangkan relai bucholzt yang akan meyerap gas produksi akibat kerusakan minyak (Okdiansyah, 2017). Untuk menjaga agar minyak tidak terkontaminasi dengan air, ujung masuk saluran udara melalui saluran pelepasan/venting dilengkapi media penyerap uap air pada udara, sering disebut dengan silica gel dan dia tidak keluar mencemari udara disekitarnya.

4. Peralatan Bantu Pendinginan Transformator

Peralatan Bantu Pendinginan Transformator berfungsi untuk menjaga agartransformator bekerja pada suhu rendah. Pada inti besi dan kumparan – kumparan akan timbul panas akibat rugi-rugi tembaga. Maka panas tersebut mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, ini akan merusak isolasi, maka untuk mengurangi kenaikan suhu yang berlebihan tersebut transformator perlu dilengkapi dengan alat atau sistem pendingin untuk

(19)

menyalurkan panas keluar transformator. Secara alamiah media pendingin (minyak isolasi) mengalir karena perbedaan suhu tangki minyak dan sirip- sirip transformator (Radiator). Untuk mempercepat pendinginan transformator dilengkapi dengan kipas yang dipasang di radiator transformator dan pompa minyak agar sirkulasi minyak lebih cepat dan pendinginan lebih optimal. (Okdiansyah, 2017).

5. Tap Changer

Tap Changer berfungsi untuk menjaga tegangan keluaran yang diinginkan dengan input tegangan yang berubah-ubah. Kualitas operasi tenaga listrik jika tegangan nominalnya sesuai ketentuan, tapi pada saat operasi dapat saja terjadi penurunan tegangan sehingga kualitasnya menurun, untuk itu perlu alat pengatur tegangan agar tegangan selalu pada kondisi terbaik, konstan dan berkelanjutan. Ditinjau dari cara pengoperasiannya, tap changer terdiri dari dua tipe yaitu onload yang bekerja secara otomatis jika merasakan tegangan kurang/lebih dan off-load yang dapat dipindah tap hanya jika trafo tidak berbeban/bertegangan.

6. Alat pernapasan (Dehydrating Breather).

Sebagai tempat penampungan pemuaian minyak isolasi akibat panas yang timbul, maka minyak ditampung pada tangki yang sering disebut sebagai konservator. Pada konservator ini permukaan minyak diusahakan tidak bolehbersinggungan dengan udara, karena kelembaban udara yang mengandung uap air akan mengkontaminasi minyak walaupun proses pengkontaminasinya berlangsung cukup lama. Untuk mengatasi hal tersebut, udara yang masuk kedalam tangki konservator pada saat minyak menjadi dingin memerlukan suatu media penghisap kelembaban, yang digunakan biasanya adalah silica gel. Kebalikan jika trafo panas maka pada saat menyusut maka akan menghisap udara dari luar masuk kedalam tangki dan untuk menghindari terkontaminasi oleh kelembaban udara maka diperlukan suatu media penghisap kelembaban yang digunakan biasanya adalah silica gell, yang secara khusus dirancang untuk maksud tersebut diatas.

(20)

1.1.1 Transformator distribusi 3 fasa

Transformator distribusi yaitu suatu bagian terpenting pada penyaluransistem tenaga listrik yang berada di gardu distribusi dengan kegunaan sebagaipenyaluran tegangan listrik agar jumlah energi yang tercecer pada setiap penyaluran tidak hilang terlalu banyak. Transformator distribusi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yang terdiri dari: transfomator konvensional dimana transformator ini mempunyai sistem pengaman yang ada diluar dari transformator, kemudian transformator lengkap dengan pengaman sendiri yang mana mempunyai sistem pengaman yang terdapat di dalam transformator sehingga transformator tersebut dapat disebut Transformator Berpengaman Sendiri (BPS), dan transformator selanjutnya yaitu transformator yang lengkap dengan pengaman pada sisi sekunder.

Transformator distribusi juga mempunyai fungsi dimana transformator inidapat menurunkan tegangan listrik yang bersumber dari jaringan listrik tegangan tinggi sehingga transformator tersebut merupakan suatu transformator step-down. Sedangkan untuk menaikan tegangan listrik transformator yang digunakan merupakan transformator step-up. Transformator step-up ini biasa digunakan pada setiap pusat-pusat dari pembangkit tenaga listrik dikarenakan pendistribusian pada tegangan pada suatu jaringan panjang tidak terjadi jatuh tegangan (Drop voltage) dengan ketentuan bahwa jatuh tegangan hanya diperkenankan 5% dari tegangan semula. Jenis penggunaan transformator distribusi dibedakan menjadi 2 yaitu transformator satu phasa dan transformator tiga phasa. Untuk transformator tiga phasa sendiri memiliki tiga buah transformator satu phasa yang saling terhubung dengan (hubungan wye) Y atau (hubungan delta) Δ untuk menyalurkan beban tiga phasa. Transformator tiga phasa merupakan transformator yang selalu digunakanpada jaringan listrik tegangan tinggi yang terdiri dari tiga transformator satu phasayang terhubung dan dipasang dalam satu kerangka pada tiga buah teras besi. Dan dihubungkan secara berpasangan pada masing- masing kumparan yaitu kumparan dari sisi primer dan kumparan dari sisi sekunder.

Yang kemudian kumparan pada masingmasing sisi terhubungkan secara hubungan (wye) Y dan (delta) Δ (Okdiansyah, 2017).

(21)

Gambar 2. 14 Rangkaian Transformator 3 Phase (Sumber : Febriana, 2016)

1.1.2 Pembebanan Transformator

Beban yang dilayani oleh transformator sangat mempengaruhi terhadap umur pemakaian serta efisiensinya pada suatu transformator. Maka dari itu, pada transfomator akan mengakibatkan terjadinya pemanasan pada kumparan akibat adanya pembebanan transformator. Dan sudah selayaknya pembebanan tersebut melayani jumlah pembebanan transformator sesuai dengan rating pada nameplate transformator itu sendiri. Apabila beban terlalu melebihi rating pada nameplate transformator tentunya transformator tersebut akan mempunyai tingkat resiko yang besar ketika transformator tersebut dialiri daya listrik serta terbebani dengan suhu yang sesuai dengan lingkungan sekitar dengan hilangnya daya yang penyebabnya melainkan dari rugi-rugi transformator seperti rugi-rugi kumparan, rugi-rugi inti dan rugi- rugi bocor yang dimana rugi-rugi tersebut menyebabkan terjadinya kenaikan suhu pada kumparan dan minyak pada transformator karena menghasilkan sumber panas yang berlebihan. Pengaruh pada rugi-rugi bocor akan dapat menimbulkan adanya hot-spot pada keseluruhan rating yang dimana ketika arus yang teraliri menjadi berlebihan yang akan berdampak pada kinerja dari

(22)

suatu transformator. Hot-spot adalah suatu kondisi pemanasan kumparan pada suatu transformator.

Melihat dari ketentuan standar PLN, pembebanan terhadap transformator distribusi tidak boleh lebih dari 80% . Bila transformator tersebut terlalu besar maka penanggulangan nya dengan cara uprating transformator, penyisipan gardu atau mutasi transformator (SPLN 17 : 1979).

1.1.3 Rugi Rugi Daya Transformator

Pada dasarnya energi listrik yang dimasukan ke transformator tidak sama dengan energi listrik yang dikeluarkan dari transformator tersebut, hal ini dikarenakan adanya rugi-rugi yaitu adanya arus yang hilang saat melewati trafo tersebut, rugi-rugi daya dapat dibagi menjadi dua yaitu rugi inti (�) dan rugi tembaga (�𝐶�). Pada kondisi beban nol, rugi-rugi yang terjadi hanyalah rugi inti, rugi inti tidak berpengaruh dengan adanya perubahan beban, besarnya rugi inti daribeban nol sampai beban penuh nilainya sama, dengan asumsi tegangan primer tidak berubah atau konstan.

PLN memiliki standart yang digunakan untuk rugi daya dari transformator tidak boleh melebihi 10% (SPLN 17 :1979).

a. Rugi Rugi Inti (Besi)

Rugi-rugi inti (�) dapat di golongkan kepada dua bagian yaitu rugi histerisis dan rugi eddy current.

1. Rugi Histerisis

Rugi histerisis adalah rugi yang disebabkan oleh fluks bolak-balik pada inti besi. Pada besi yang mendapat fluks bolak-balik, rugi histerisis per- cycle berbanding dengan luas lup (jerat) histerisis.

2. Rugi Eddy Current

Rugi ini disebabkan oleh arus yang terinduksi di inti. Adapun arus pusat ini ditentukan oleh tegangan induksi pada inti yang menghasilkan perubahan fluksmagnetic, pada dasarnya induksi tegangan di besi ini sama seperti pada transformator (dapat dianggap bahwa tiap lempeng besi adalah sekunder yangterhubung singkat), maka EMF induksi di inti akan berbanding

(23)

dengan fluks.

b. Rugi Rugi Tembaga

Rugi ini disebabkan oleh arus yang terinduksi di inti. Adapun arus pusat ini ditentukan oleh tegangan induksi pada inti yang menghasilkan perubahan fluks magnetic, pada dasarnya induksi tegangan di besi ini sama seperti pada transformator (dapat dianggap bahwa tiap lempeng besi adalah sekunder yang terhubung singkat), maka EMF induksi di inti akan berbanding dengan fluks.

1.1.4 Efisiensi Transformator

Setiap mesin atau peralatan listrik, efisiensi ditentukan oleh besarnya rugi- rugi yang selama operasi normal. Efisiensi dari mesin-mesin berputar/bergerak umumnya antara 50-60% karena ada rugi gesek dan angina. Transformator tidak memiliki bagian yang bergerak/berputar, maka rugi-rugi ini tidak muncul. Transformator tidak bergerak, tetapi tetap memiliki rugi-rugi walaupun tidak sebesar pada peralatan listrik seperti mesin-mesin atau peralatan bergerak lainnya, transformator daya saat ini rata- rata dirancang dengan besar efisiensi minimal 95%.

1.1.5 Overload Pada Transformator

Suatu transformator daya akan bekerja secara kontinyu apabila transformator berada pada beban nominalnya. Menurut SPLN, transformator dikatakan overload apabila beban transformator melebihi 80% dari kapasitas transformator atau arus nominal nya (SPLN 17 :1979). Maka transformator akan mengalami suatu pemanasan yang berlebih dan nantinya pada transformator akan lebih mempersingkat umur isolasi karena keadaan beban lebih (overload). Beban lebih (overload) sendiri adalah suatu keadaan dimana beban listrik melebihi kapasitas yang tersedia semakin meningkat dalam lingkup masyarakat atau adanya gangguan dalam penyaluran terhadap pembebanan yang menyebabkan transformator menghasilkan panas yang

(24)

berlebih. Dengan meningkatnya beban yang terjadi makadari itu di perlukan adanya tindakan penambahan kapasitas daya pada transformatordistribusi.

Proses penambahan kapasitas transformator dapat berpengaruh terhadap suatu keandalan pada sistem tenaga listrik yang akan mempengaruhi kinerja dari sistem proteksi tenaga listrik itu sendiri.

Untuk mengetahui persentase rata-rata pembebanan gangguan transformator jika mengalami keadaan overload (beban lebih) diatas 80%, menurut Standar PLN dalam perbaikan pembebanan pada transformator untuk semua jumlah transformator yang mengalami overload.

Dapat menggunakan persamaan di bawah ini :

% �𝑒𝑚𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛𝑎𝑛 = 𝐷𝑎𝑦𝑎

𝑇𝑜𝑡𝑎� 𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛

× 100%...(2.1)

𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠�𝑡𝑎𝑠 𝑇𝑟𝑎𝑛𝑠𝑓𝑜𝑟𝑚 𝑎𝑡𝑜𝑟

Dalam menentukan kapasitas daya yang dibutuhkan pada transformator distribusi yang didasarkan pada pembebanan yang dilayani.

Dimana persentase pembebanan transformator distribusi tidak lebih dari 80%. Bila pembebanan transformator terlalu besar, maka dapat ditanggulangi dengan cara pergantian transformator, penyisipan transformator ataupun mutasi transformator. Persamaan yang dapat digunakan untuk perhitungan rating transformator yang dipilih.

�𝑎𝑡�𝑛� 𝑇𝑟𝑎𝑛𝑠𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎𝑡𝑜𝑟 𝐷�𝑠𝑡𝑟�𝑏𝑢𝑠� = 𝐾𝑉� 𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛...(2.2) 0,8

Dimana :

KVA Beban : Kapasitas Beban Transformator (KVA)

Transformator bisa dikatakan mengalami keadaan bebeban lebih (Overload) dapat terjadi dikarenakan ada beberapa faktor, diantaranya : 1. Tidak dilakukannya secara rutin pengukuran beban transformator

untuk mengetahui berapa besar beban sebenarnya pada transformator.

2. Tidak adanya petugas yang memonitor apabila transformator dalam keadaan overload dan merencanakan agar mengurangi terjadinya pembebanan berlebih.

(25)

Terdapat beberapa solusi penanganan transformator apabila mengalami keadaan beban lebih (overload), yang dimana adalah sebagai berikut :

1. Konfigurasi Jaringan

Rekonfigurasi jaringan adalah salah satu penindakan pengelolaan transformator distribusi yang mengalami overload dengan melayani beban kecil dimutasikan ke beban yang lebih besar ataupun sebaliknya dengan membagi beban ke jurusan lain atau bisa dengan penambahan line jurusan JTR dari jurusan yangbelum mengalami pembebanan lebih.

2. Pemasangan Gardu Sisip

Pemasangan gardu sisip merupakan metode penambahan gardu di samping gardu utama yang mengalami overload yang ada dengan mempertimbangkan adanya transformator dalam keadaan drop tegangan dan overload, dimana tegangan tidak seimbang dan kapasitas maksimum gardu 315 KVA di gardu portal. Dengan pembagian beban pada gardu sisip maka diharapkan beban dapat berkurang.

(26)

BAB III

LAPORAN KEGIATAN KERJA PRAKTEK 1.1 Kegiatan Kerja Praktek

Kegiatan kerja praktek di lakukan [ada tanggal 15 september 2023 sampai 15 november 2023 di PT. PLN (Persero) Gas Insulated Swicher (GIS) Bandara. Pada hari pertama penulis bertemu dengan pihak SDM untuk membereskan administrasi serta mendapatkan arahan mengenai apa saja yang diperlukan selama kegiatan kerja praktek praktek berlangsung, di Minggu selanjutnya penulis mendapatkan penjelasan mengenai sistem Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja (K3) serta penjelasan mengenai tata tertib yang berlaku di PT. PLN (Persero) Gas Insulated Swichgear (GIS) Bandara, dan di tanggal 20 September penulis dikenalkan lingkungan kantor yang ada di PT. PLN (Persero) Gas Insulated Swichgear (GIS) Bandara.

Pada Minggu Pertama penulis hanya bertemu dengan pihak SDM untuk membereskan administrasi serta mendapatkan arahan mengenai apa saja yang diperlukan selama kegiatan kerja praktek praktek berlangsung.

Pada minggu, kedua penulis diajak untuk datang ke PT PLN (PERSERO) ULTG Bali Selatan & Gardu Induk Pemecutan Kelod untuk mendengarkan penjelasan tentang sistem Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja (K3) kemudian, di tanggal 20 september penulis sudah berada di Tempat Kerja Praktek yang berada di GIS Bandara. Disana penulis diajak untuk berkeliling dan mengenal ruangan-ruangan yang ada disana dan penulis di kenalkan pada aplikasi Smartness PLN yang berfungsi untuk menggunggah laporan Inspeksi harian yang ada di GIS Bandara Ngurah Rai secara realtime. Di minggu ini juga penulis mengikuti kegiatan perbaikan kebocoran minyak pendingin pada tutup main hole trafo 1 yang berada di GIS bandara tetapi hanya dilakukan perbaikan sementara dikarenakan pada minggu tersebut sedang dilakukan persiapan untuk KTT AIS, sehingga pemadaman tidak bisa dilakukan.

(27)

Pada minggu ketiga, Penulis melakukan inspeksi level 2 SUTT yang ada di kawasan GIS Bandara Manggunakan Termofisi.lalu pada minggu ini penulis juga melakukan Inspeksi Mingguan yang berada di Ruang Kontrol GIS bandara menggunakan Termofisi, Inspeksi Mingguan menghitung Arus Baterai yang ada di GIS Bandara Serta, inspeksi harian menggunakan aplikasi Smartness PLN. Kemudian, pada minggu ini juga penulis mengikuti Inspeksi kebocoran Hydran yang ada di GIS Pecatu.. Pada minggu ini penulis ada penambahan hari kerja di hari sabtu dikarenakan adanya Persiapan KTT AIS, di hari sabtu penulis diberi tugas pemasangan jaring pada trafo 20kv, inspeksi Inspeksi level 2 Thermovisi di Ruang kubikel dan pengukuran arus bocor pada trafo.

Pada minggu keempat, tidak banyak melakukan pekerjaan dikarenakan adanya acara KTT AIS jadi penulis hanya bersiaga di kantor.

saat KTT AIS berlangsung (8 oktober-13 oktober) inspeksi menggunakan Termofisi berlangsung setiap hari pada jam 09.00 dan 19.00.

Pada minggu kelima penulis hanya melakukan kegiatan inspeksi harian menggunakan aplikasi Smartness PLN dan membantu pemasangan pagar di GIS Bandara Ngurah Rai.

Pada minggu keenam diajak untuk melakukan pemeliharaan penggantian isolator dan pembersihan pada cable head yang berada di bay pass Bandara Ngurah Rai. Di hari berikutnya, penulis melakukan kunjungan ke GI Nusa dua.

Pada minggu ketujuh penulis diajak untuk melakukan inspeksi Partial Discarge pada Ruang kubikel 20kv GIS Bandara Ngurah Rai dan inspeksi harian beban dan tegangan Smartness PLN.

Pada minggu kedelapan tidak banyak hal yang di kerjakan di minggu ini hanya melakukan inspeksi harian beban dan tegangan yang ada di aplikasi Smartness PLN.

Pada minggu kesembilan penulis melakukan simulasi penggunaan hydran yang di hadiri oleh polisi dan pemadam kebakaran.diminggu ini juga penulis melakukan arus bocor pada trafo,assasment trafo dan pemeliharaan pemangkasan pohon pada sekitar SUTT. Seperti biasa penulis juga melakukan inspeksi harian di GIS bandara dan GIS pecatu menggunakan aplikasi Smartness PLN.

(28)

Pada minggu kesepuluh penulis mengikuti kegiatan modifikasi dudukan isolator pada NGR trafo 1 dan trafo 2.kemudian, penulis juga melakukan termovisi pada SUTT dan Cable Heat,pengukuran baterai di GIS bandara dan pecatu , penulis juga melakukan termovisi pada GIS dan trafo yang ada di GIS bandara Ngurah Rai. Dihari terakhir, penulis melakukan inspeksi arus bocor dan assasment trafo di GIS Bandara Ngurah Rai.

No. Tanggal Kegiatan Paraf

1. 18 September 2023 -Mengurus administrasi Kerja Praktek

2. 19 September 2023 -Pengenalan K3 di ULTG Pemecutan Kelod

3. 20 September 2023 -Pengenalan Lingkungan GIS Bandara

4. 22 September 2023 -Inspeksi Level 2 Menggunakan Thermovisi Ruang Kontrol,GIS

-Pengukuran Arus baterai -Perbaikan sementara kebocoran hydran di GIS Pecatu

-Inspeksi harian SMARTNES 6. 25 September 2023 -Inspeksi Level 2 menggunakan

Thermovisi pada SUTT - Inspeksi harian SMARTNES 7. 26 September 2023 -Perbaikan Kebocoran minyak pada

Trafo

- Inspeksi harian SMARTNES 8. 27 September 2023 -Inspeksi Level 2 menggunakan

Thermovisi pada SUTT - Inspeksi harian SMARTNES 9. 3 Oktober 2023 -Pengecekan Pemasangan Hydran di

GIS Bandara

- Inspeksi harian SMARTNES 10 4 Oktober 2023 -Pengukuran arus baterai

-pengukuran Kontak Relay pada trafo -pengukuran arus Bocor pada trafo - Inspeksi harian SMARTNES 11. 6 Oktober 2023 -Penjelasan tentang SKTT

- Inspeksi harian SMARTNES

12. 7 Oktober 2023 -Inspeksi level 2 Thermovisi di Ruang kubikel

-pengukuran arus bocor pada trafo -pemasangan Kawat jaring pada Trafo GIS-Siaga KTT di GIS Bandara dan GIS

Pecatu

(29)

13. 9 Oktober 2023 -Siaga KTT di GIS Bandara dan GIS Pecatu

(30)

14 10 Oktober 2023 Siaga KTT di GIS Bandara dan GIS Pecatu

15 11 Oktober 2023 Siaga KTT di GIS Bandara dan GIS Pecatu

16 12 Oktober 2023 Siaga KTT di GIS Bandara dan GIS Pecatu

17 13 Oktober 2023 Siaga KTT di GIS Bandara dan GIS Pecatu

18 14 Oktober 2023 Siaga KTT di GIS Bandara dan GIS Pecatu

19 17 Oktober 2023 - Inspeksi harian SMARTNES

20 20 Oktober 2023 -Membantu pemasangan Pagar di GIS Bandara

- Inspeksi harian SMARTNES 21 25 Oktober 2023 Pemeliharaan cable head

Inspeksi harian SMARTNES 22 27 Oktober 203 Kunjungan ke GI Nusa Dua 23 31 Oktober 2023 Inspeksi Partial Discarge di GIS

Bandara

Inspeksi harian SMARTNES 24 01 November 2023 Inspeksi harian SMARTNES 25 06 November 2023 Inspeksi harian SMARTNES 26 07 November 2023 Inspeksi harian SMARTNES 27 08 November2023 Inspeksi harian SMARTNES 28 13 November 2023 Simulasi penggunaan Hydran

Inspeksi harian SMARTNES 29 14 November 2023 Mengurus keperluan Kp

Inspeksi harian SMARTNES 30 15 November 2023 Mengurus keperluan Kp

Inspeksi harian SMARTNES

31 16 November 2023 -Pengukuran Arus Bocor pada Trafo -Melakukan Assesment pada

Transformator

-Melakukan Inspeksi harian SMARTNES

-Melakukan Pemangkasan Pohon di Bawah SUTT

32 17 November 2023 -Melakukan Inspeksi harian SMARTNES di GIS Bandara dan GIS Pecatu

(31)

-Melakukan Bersih Bersih di Kantor GIS Bandara

33 20 November 2023 -Melakukan Pemadaman Trafo satu dikarenakan adanya pekerjaan

Inspeksi harian SMARTNES Modifikas Ventilasi dan Perkuatan isolasi pada NGR trafo satu

-Melakukan thermovisi pada SUTT dan cable head

34 21 November 2023 -Melakukan Pemadaman Trafo dua dikarenakan adanya pekerjaan Modifikas Ventilasi dan Perkuatan isolasi pada NGR trafo dua

Inspeksi harian SMARTNES 35 22 November 2023 -Melakukan Pengukuran Baterai di

GIS Pecatu dan Bandara

-Melakukan Termovisi pada Body GIS Inspeksi harian SMARTNES

36 23 November 2023 -Melakukan Assessment Pada Trafo - Inspeksi harian SMARTNES -Melakukan Inspeksi Arus Bocor

(32)

BAB IV PEMBAHASAN

Dalam melaksanakan kegiatan Kerja Praktek (KP), laporan difokuskan pada Inspeksi mingguan Arus Bocor pada Transformator 150 KV dengan menggunakan Clamp Meter di GIS(Gas Insulated Swichgear) Bandara Ngurah Rai .

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian dilakuakan di PT PLN (Persero) Gas Insulated Swichgear (GIS) Bandara Ngurah Rai di jalan Taman Sari No.250, Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Dengan pembimbing lapangan penelitian berhasil dilakukan dan mendapatkan data berupa pengukuran Arus Bocor pada Transformator 150 KV.

4.2 Transformator 150KV GIS Bandara Ngurah Rai

GIS (Gas Insulated Swichgear Bandara) mempunyai 2 transformator 150KV yang terletak di luar Gedung. Transformator mendapat 2 supply energi Listrik yaitu dari GI pesanggaran dan GI Pemecutan Kelod.Transformator GIS bandara juga mensupply energi Listrik ke Pecatu.

4.3 Inspeksi Arus Bocor Isolasi Transformator

Arus bocor yaitu arus yang mengalir menembus atau melalui permukaan isolasi.

Isolasi berfungsi untuk memisahkan secara elektrik dua buah penghantar atau lebih yang saling berdekatan, sehingga tidak terjadi kebocoran arus.

Tujuan dari Inspeksi arus bocor ini adalah untuk mendeteksi secara dini peningkatan arus bocor kabel tegangan menengah sehingga dapat meminimalisir adanya gangguan yang menyebabkan terputusnya aliran listrik ke konsumen yang mengakibatkan terhentinya produktifitas serta menimbulkan kerugian bagi perusahaan atau Industri dikarenakan adanya peralatan yang rusak

GIS Bandara Ngurah Rai melakukan Inspeksi arus bocor 1 kali dalam seminggu oleh pihak karyawan menggunakan Clamp Ampere Meter. Hasil dari Pengukuran tersebut akan diunggah ke dalam aplikasi yang bernama Smartness PLN. Penggungahan data hasil pengukuran tersebut dilakukan secara realtime.

(33)

4.4 Alat Pengukuran Arus bocor

Alat yang digunakan untuk mengukur arus bocor pada permukaan isolasi adalah Tang Ampere Meter.Tang meter, atau lebih dikenal sebagai tang amperemeter, merupakan istilah umum untuk alat pengukur arus listrik yang menggunakan prinsip tang (clamp) untuk mengukur arus tanpa memerlukan penyisipan langsung ke dalam sirkuit listrik. Alat ini juga disebut sebagai ampere clamp atau amp meter clamp.

Berikut adalah beberapa komponen dan konsep dasar terkait tang meter:

1. Clamp atau Jaw: Seperti yang disebutkan sebelumnya, tang meter memiliki bagian yang dapat dibuka dan ditutup yang disebut "clamp" atau "jaw." Jaw ini ditempatkan di sekitar kabel atau konduktor listrik yang ingin diukur. Ketika jaw ditutup, alat ini dapat mendeteksi dan mengukur arus listrik yang mengalir melalui konduktor tersebut.

2. Sensor Hall Effect: Di dalam jaw clamp terdapat sensor Hall Effect. Prinsip efek Hall digunakan untuk menghasilkan tegangan yang berkaitan dengan kuat arus listrik yang melewati konduktor. Sensor ini mengonversi sinyal tersebut menjadi nilai arus yang dapat dibaca.

3. Display: Tang meter dilengkapi dengan layar digital untuk menampilkan nilai arus listrik dalam satuan ampere atau milliampere. Beberapa model juga dapat menampilkan nilai tegangan atau fungsi-fungsi tambahan tergantung pada jenis dan fitur alat tersebut.

4. Mode Pengukuran: Seperti halnya dengan clamp ammeter, tang meter juga memiliki mode pengukuran yang dapat diatur tergantung pada jenis arus yang diukur, seperti mode AC atau DC.

5. Rentang Pengukuran: Tang meter biasanya memiliki beberapa rentang pengukuran agar dapat menangani berbagai tingkat arus listrik. Pengguna dapat memilih rentang yang sesuai dengan besaran arus yang diharapkan.

4.5 Cara Pengukuran

Cara menggunakan Tang Ampere Meter:

 Menekan tombol hold [induksi].

 Memutar switch ke arah A [ampere].

 Menekan tombol di sebelah kanan untuk membuka magnet yang berbentuk seperti tang.

 Mengalungkan tang ampere pada kabel.

 Kabel hitam jika pada kwh dan kabeli kuning jika pada panel biasa.

 Membaca nilai arus yang ada pada layar display

(34)

 Kemudian hasil pengukuran dicatat dan diupload ke aplikasi SMARTNESS PLN Tang meter umumnya digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk di bidang listrik, elektronik, dan pemeliharaan peralatan. Keuntungan utamanya adalah kemudahan penggunaan dan kemampuan untuk mengukur arus tanpa memutus sirkuit atau menyentuh konduktor listrik secara langsung.

4.6 Analisa Hasil Monitoring Pengukuran Arus Bocor padaTraformator 150KV

No. R S T

1 7 3 7

2 7 6 9

3 5 5 5

4 3 6 4

NGR 10

No. R S T

1 5 3 5

2 7 3 3

3 5 4 4

4 3 3 4

NGR 4

No. R S T

1 8 9 10

2 7 8 9

3 7 8 9

4 7 7 10

NGR 15

(35)

No. R S T

1 9 6 9

2 6 5 9

3 5 6 9

4 5 6 8

NGR 11

No. R S T

1 8 8 6

2 7 6 7

3 7 6 6

4 6 7 8

NGR 7

(36)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN

Dalam kerja praktek yang telah di lakukan dapat disimpulkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur arus bocor pada isolasi kabel sekunder Transformator di GIS Bandara Ngurah Rai adalah Clamp Ampere Meter.

2. Dengan adanya pengukuran arus bocor pada transformator di kabel sekunder dapat mendeteksi sejak dini jika adanya peningkatan arus bocor yang signifikan agar meminimalisir terjadinya breakdown di kemudian hari sehingga dapat memaksimalkan dalam penyaluran energi listrik ke konsumen dan peralatan listrik yang ada di GIS Bandara Ngurah Rai

3. Pengujian tahanan isolasi pada transformator dilakukan untuk mengetahui kualitas isolasi yang ada di bagian-bagian transformator apakah dalam keadaan yang baik atau mengalami suatu masalah. Pengujian tahanan isolasi sangat penting karena untuk mencegah terjadinya arus bocor pada belitan yang dapat menyebabkan gangguan pada transformator sehingga dapat membuat

tranformator mengalami kerusakan, pengujian ini dilakukan dengan mengukur nilai tahanan isolasi.

5.2 SARAN

Ada pun saran yang dapat digunakan diberikan pada lapora kerja praktek yang telah dilaksanakan ini:

Perlunya dilakukan pemeliharaan/pergantian alat yang digunakan pada pengukuran Arus bocor dikarenakan adanya kegagalan alat saat pengukuran menggunakan clamp ampere meter yang membuat alat tersebut harus di riset terlebih dahulu.

Gambar

Gambar 1.5 Bagan Struktur GIS (Gas Insulated Swichgear) Bandara Ngurah Rai Bali
Gambar 2. 1 Sistem Penyaluran Tenaga Listrik (Sumber : Hassan, 2020)
Gambar 2. 2 Pembagian/Pengelompokan Tegangan Sistem Tenaga Listrik (Sumber : Dabukke, 2019)
Gambar 2. 3 Komponen Sistem Distribusi (Sumber : Hendra, 2013)
+2

Referensi

Dokumen terkait