• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Keuangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Laporan Keuangan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENETAPAN LABA RUGI MELALUI LAPORAN ARUS KAS PADA PERUSAHAAN UMUM DAERAH AIR MINUM (PERUMDA) KOTA MAKASSAR

Elfrida Trifosa Jelahi1, Sukardi2, Dyan Fauziah Suryadi3

1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

ABSTRACT

The purpose of this study is to analyze the determination of profit and loss through cash flow statements at the Makassar City Public Drinking Water Company (PERUMDA) from 2017-2019. This research uses quantitative research methods, the data source used is secondary data. Data collection techniques in this study were documentation and literature study. The variables used in the study were dependent variables.

Researchers use profitability ratio analysis techniques. The results of the study show that the income statement through the cash flow statement of the Makassar city public drinking water company (PERUMDA) has decreased from 2017-2019. The results show that the 2017 Gross Profit Margin is 39.22%, in 2018 it is 36.62% , and in 2019 amounted to 38.10%. Profit margin in 2017 was 24.78%, in 2018 it was 12.92%, and in 2019 it was 12.19%. Operating profit margin in 2017 was 32.95%, 2018 was 17.19% and 2019 was 16.35%. Return on assets in 2017 amounted to 17.53%, in 2018 it was 9.69% and in 2019 it was 8.82%, which means that all profitability ratios have decreased which furthermore the company's performance in generating net profit is less than optimal.

Keywords: profit and loss, cash flow statement, and profitability ratio.

PENDAHULUAN

Keberhasilan suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan sangat tergantung pada kemampuan manajemen perusahaan dalam membuat perencanaan laba di masa yang akan datang. Oleh karena itu manajemen membutuhkan informasi yang tepat sebagai dasar pembuatan perencanaan untuk mengambil keputusan. Salah satu informasi yang dapat membantu manajemen dalam mengambil keputusan dapat di peroleh melalui analisis laba rugi. Laporan laba rugi terdapat di dalam laporan keuangan. Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu proses akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan tentang laporan keuangan.

Tahun Laba Rugi (Rp) Laporan Arus Kas (Rp) 2017 76.620.119.371 142.907.476.970 2018 40.490.733.784 104.877.160.927 2019 38.036.447.453 84.582.776.219

Tabel 1. Laporan Laba Rugi Dan arus Kas

Sumber: Data Primer Diolah (2020)

Pada tabel.1 dapat dilihat bahwa Laporan Laba Rugi dari tahun 2017 sebesar Rp.76.620.119.371, Sedangkan laporan arus kas membukukan sebesar Rp.142.907.476.970.

Pada tahun 2018 laporan laba rugi mengalami penurunan sebesar Rp.36.129.385.587 menjadi Rp. 40.490.733.784, sedangkan laporan arus kas juga mengalami penurunan sebesar Rp.38.030.316.043.

Pada tahun 2019 laporan laba rugi mengalami penurunan kembali sebesar Rp.2.454.286.331 menjadi Rp.38.036.447.453, sedangkan laporan arus kasnya kembali menurun sebesar Rp.20.294.384.708 menjadi Rp. 84.582.776.219. Penurunan ini disebabkan oleh banyaknya penggeluaran dan beban-beban seperti beban pajak dan beban lainnya. Berdasarkan latar belakang masalah maka peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan judul “ Pengaruh Penetapan Laba Rugi Melalui Laporan Arus Kas Pada Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PERUMDA) Kota Makassar.

Sehubungan dengan latar belakang yang telah dikemukakan, adapun masalah yang akan di bahas pada penelitian ini adalah Apakah Penetapan Laba Rugi Melalui Laporan Arus Kas Pada Perusahaan Umum Daerah Air

(2)

Minum (PERUMDA) Kota Makassar Pada Tahun 2017-2019?

Adapun tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui laba (keuntungan) perusahaan dan mengetahui seberapa besar keuntungan ataupun kerugian perusahaan setiap tahunnya melalui laporan arus kas dan mengetahui cara mengukur tingkat profitabilitas perusahaan

TINJAUAN LITERATUR

Menurut Horne dalam Kasmir (2019) laporan laba rugi merupakan ringkasan dari pendapatan dan biaya perusahaan selama periode tertentu, diakhiri dengan laba atau kerugian bersih untuk periode tersebut.

Laporan laba rugi adalah mengukur kinerja keuangan perusahaan selama satu periode tertentu. Laporan laba rugi juga berisi jumlah pendapatan yang diperoleh dan jumlah biaya yang dikeluarkan. Dengan kata lain laporan laba rugi merupakan laporan yang menunjukan jumlah pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dan biaya-biaya yang dikeluarkan dan laba rugi dalam suatu periode tertentu.

Laporan laba rugi memuat jenis-jenis pendapatan yang diperoleh perusahaan di samping jumlah (nilai uangnya) dalam satu periode. Kemudian melaporkan jenis-jenis biaya yang dikeluarkan berikut jumlahnya (nilai uangnya) dalam periode yang sama.

Dari jumlah pendapatan dan biaya ini akan terdapat selisih, jika dikurangkan selisih dari jumlah pendapatan dan biaya ini kita sebut laba atau rugi . Namun jika jumlah pendapatan lebih besar dari jumlah biaya, maka dikatakan perusahaan dalam kondisi laba (untung), namun jika sebaliknya, jika pendapatan lebih kecil dari jumlah biaya, maka dikatakan perusahaan dikatakan dalam kondisi rugi.

Menurut Kasmir (2018) menyatakan bahwa laporan laba rugi merupakan laporan yang menunjukan jumlah pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dan biaya-biaya yang dikeluarkan dan laba rugi dalam suatu periode tertentu. Laporan laba rugi juga memuat jenis-jenis pendapatan yang peroleh oleh perusahaan disamping jumlahnya (nilai uangnya) dalam satu periode. Kemudian, laporan laba rugi juga melaporkan jenis-jenis biaya yang dikeluarkan berikut jumlahnya (nilai uangnya) dalam periode yang sama.

Namun, jika sebaliknya,yaitu jumlah

pendapatan lebih kecil dari jumlah biaya, perusahaan dalam kondisi rugi.

Menurut Graham dalam Lasmy (2017), ada tiga jenis laporan rugi laba ,yaitu sebagai berikut: (a) Laporan Laba rugi (profit and loss account), digunakan oleh semua perseroaan terbatas dan perusahaan jasa lain yang motif labanya nyata. (b) Laporan pendapatan (revenue account), dipakai oleh pemerintah daerah (local authority) dan beberapa lembaga kemasyarakatan. (c) Laporan pendapatan dan pengeluaran (income and Expenditure account) digunakan oleh yayasan, yang motif labanya bukan merupakan yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya.

Menurut Slamet dan Bogat dalam Ardi (2018) menyatakan bahwa manfaat laporan laba rugi adalah : (a) Laporan laba merupakan tolak ukur keberhasilan perusahaan. dengan menganalisis laporan laba rugi, para pengguna dapat menilai kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber-sumber ekonomi perusahaan agar berhasil guna dan berdaya guna. (b) Laporan laba rugi merupakan titik pangkal penaksiran keberhasilan perusahaan pada periode berikutnya. (c) Laporan laba rugi merupakan media untuk menilai tingkat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

Menurut J.P Sitanggang dalam Yusfa (2018) ada beberapa unsur laporan laba rugi:

a) Penjualan Bersih (Net Sales) yaitu hasil penjualan/penerimaan perusahaan setelah dikurangi potongan dan retur penjualan. b) Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold) yaitu biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam rangka pengadaan barang yang di jual.

Untuk perusahaan manufaktur, biaya tersebut dapat juga terdiri dari harga pokok produksi.

Tujuan menyusun laporan laba rugi untuk sebuah perusahaan yaitu: (1) Untuk mengetahui jumlah pajak yang sedang ditanggung oleh sebuah perusahaan.(2) Agar dapat melakukan evaluasi dari perolehan laba berdasarkan kurun waktu tertentu. (3) Supaya dapat melihat sekaligus menilai efektivitas serta efisiensi usaha sesuai dengan biayanya.

Laporan laba rugi ini memiliki dua bentuk yang biasanya digunakan dalam aktivitas pelaporan keuangan perusahaan yaitu single step dan multiple step Yahya dalam T.I.

Kodong dan Sabijono (2019) (1) Bentuk Single Step. Bentuk ini dengan menggabungkan semua pendapatan dalam satu

(3)

kelompok, sehingga untuk menghitung laba atau rugi hanya memerlukan satu langkah yaitu mengurangkan total pendapatan terhadap total beban. (2). Bentuk Multiple Step, yaitu dengan pengelompokan yang lebih teliti sesuai dengan prinsip yang digunakan secara umum.

Penjualan dikurangi retur penjualan diperoleh penjualan bersih yang kemudian dikurangi dengan harga pokok penjualan, sehingga diperoleh laba kotor. Lalu laba kotor dikurangi beban operasi dan diperoleh laba usaha.

Menurut Bachtiar dan Nurfadila (2019) menyatakan Laporan Arus Kas (cash flow statement) Merupakan Laporan Arus kas perusahaan selama periode tertentu yang diklasifikasikan dalam aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.

Penyususnan laporan arus kas berdasarkan neraca comparative, laporan laba atau rugi tahun berjalan dan informasi relevan lain sehingga tidak ada perkiraan khusus yaitu metode langsung atau metode tak langsung.

Menurut Syafi’i dalam Simangunsong (2018) metode langsung pelaporan arus kas dari aktivitas operasi dilakukan dengan cara melaporkan penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto kegiatan operasional perusahaan. Perbedaan antara penerimaan kas dan pengeluaran kas dari kegiatan ini akan dilaporkan sebagai arus kas bersih dari aktivitas operasi.

Menurut Darminto (2019), menyatakan bahwa metode tak langsung merupakan untuk menentukan da mnyajikan jumlah arus kas bersih yang sama dari aktivitas operasi dapat dilakukan dengan menyesuaikan laba bersih berbasis akrual denga perubahan aset atau liabilitas lancar yang berkaitan. Metode ini menentukan kategori utama dari arus kas operasi seperti halnya pada metode langsung.

Penyesuaian yang dilakukan pada metode ini dimaksudkan untuk mengeluarkan:

(a) Pengaruh transaksi bukan kas, seperti depresiasi, amortisasi, penyisihan, pajak ditangguhkan, keuntungan atau kerugia valas yang belum direalisir. (b) Pengaruh diferel arus kas masa lalu (perubahan saldo persediaan) dan akrual, arus kas yang diharapkan dimasa datang (misalnya perubahan piutang atau utag). (c) Pengaruh semua unsur pendapatan dan beban yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan, seperti laba atau rugi penjualan aset tetap.

Menurut IAI dalam PSAK (2018) menyatakan bahwa tujuan laporan arus kas merupakan mensyaratkan ketentuan atas informasi mengenai perubahan historis dalam arus kas dan setara kas suatu entitas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan dalam periode.

Menurut Hery (2017), menyatakan bahwa manfaat laporan arus kas digunakan oleh manajemen untuk mengevaluasi kegiatan operasional yang telah berlangsung dan merencanakan aktivitas investasi dan pembiayaan di masa yang akan datang.

Menurut Widyatuti (2017) Menyatakan Kegunaan Laporan Arus Kas Adalah: (1) Kemampuan Perusahaan merencanakan, mengontrol arus kas masuk dan arus kas keluar Perusahaan pada masa lalu. (2) Kemungkinan keadaan arus kas masuk, arus kas keluar, arus kas bersih perusaan, termasuk kemampuan membayar defiden dimasa yang akan datang. (3) Informasi bagi investor, kreditor, memproyeksikan retrun dari sumber kekayaan perusahaan. (4) Kemampuan perusahaan untuk memsaukan kas keperusahaan dimasa yang akan datang. (5) Alasan perbedaan antara laba bersih dibandingkan dengan penerimaan dan pengeluaran kas.

Menurut Kawatu (2019) menyatakan bahwa Laporan arus kas diklasifikasikan dalam empat komponen aktivitas yaitu: (a) Aktivitas operasional (operating) adalah kelompok yang meliputi seluruh transaksi dan kegiatan lain yang tidak termasuk dalam kegiatan lain yang tidak termasuk dalam kegiatan investasi ataupun pembiayaan perusahaan. (b) Aktivitas investasi (investing) adalah kelompok yang meliputi pembelian dan penagihan piutang, pengembalian persediaan barang dagang, pembayaran pinjaman, pengadaan serta penjualan ekuitas dan harta kekayaan perusahaan (tanah), bangunan ,dan peralatan serta aktiva-aktiva produktif lainya.

Pembagian laporan arus kas merupakan laporan keuangan yang bersumber dananya dari penggunaan kas (uang simpanan perusahaan/organisasi/ instansi terkait). Ada tiga bagian laporan arus kas yaitu: (a) Kas dari aktivitas operasi merupakan laporan kas yang terdiri atas kegiatan utama sebuah perusahaan yang secara langsung berimbas pada kas, seperti pembayaran dan pendapatan piutang, pembayaran gaji, pengeluaran operasional, dan

(4)

lain-lain.(b) Kas dari aktivitas investasi merupakan laporan kas keuangan yang berkaitan dengan perolehan penjualan dan pembelian aktiva tetap. (c) Kas dari aktivitas pendanaan merupakan laporan kas keuangan yang berhubungan dengan pengurangan dan penambahan modal.

Menurut Hery (2015), menyatakan bahwa menilai kinerja laporan arus kas merupakan analisis finansial yang sangat penting bagi seorang manajemen keuangan suatu perusahaan disamping alat-alat finansial lainya, dengan melakukan analisis laporan arus kas, manajer keuangan dapat melaksanakan salah satu fungsinya yaitu fungsi perencanaan.

Syafri dalam Botutihe (2016) menytakan bahwa Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya.

Menurut Sitanggang dalam Yusfa (2018) rasio profitabilitas dibagi menjadi 4 jenis, yaitu: (a) Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin) yaitu, rasio yang mengukur seberapa besar tingkat keuntungan kotor perusahaan dari setiap penjualaannya artinya disini belum memperhitungkan biaya operasi perusahaan. (b) Rasio Margin Laba Bersih (Net Profit Margin) yaitu, rasio yang mengukur seberapa tingkat keuntungan bersih perusahaan dari setiap penjualannya artinya di sini telah memperhatikan biaya operasi, bunga dan pajak perusahaan.

Menurut Kasmir dalam Rizky (2018) tujuan penggunaan rasio proftabilitas bagi perusahaan, maupun bagi pihak luar perusahaan yaitu: (1) Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu. (2) Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang. (3) Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu (4) Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.

Berdasarkan landasan teori diatas maka penulis mengajukan hipotesis yaitu diduga dalam penelitian ini bahwa penetapan laba rugi pada laporan Arus kas perusahaan umum daerah air minum (PERUMDA) kota Makassar tahun 2017 sampai tahun 2019 mengalami penurunan.

METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menganalisa data berupa angka dari hasil angket yang digunakan, kemudian angka tersebut dideskripsikan sebagaimana adanya. Sugiyono (2016)

Menurut Sujarweni dalam Rustiani (2017) penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahui. Objek penelitian ini berlokasi di Jln.Dr.Ratulangi No.3 Mangkura Ujung Pandang Kota Makassar Sulawesi Selatan 90245. Jenis data yang digunakan dalam peneiltian ini adalah: (a) kuantitatif (b) skunder.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi.Variabel dalam penelitian ini adalah variabel dependen yaitu laba rugi dan laporan arus kas. Teknik analisis data dengan menggunakan metode kuantitatif.

Adapun rumus untuk menganalisis data tersebut menggunakan rasio profitabilitas (Kasmir 2018) yaitu:

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gross Profit Margin (Laba Kotor) Rasio ini mengukur efisiensi pengendalian harga pokok (biaya produksi), mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien. Adapun rumus untuk mengukur rasio gross profit margin sebagai berikut:

Tabel 3 Gross Profit Margin Tahun Tahun Tahun

2017 2018 2019 Laba

Kotor Rp119.687.938.982 Rp114.753.070.738 Rp118.832.706.392 Penjualan Rp305.134.812.462 Rp313.353.675.050 Rp311.839.783.522 Laporan

Kuangan

Sumber: Data Primer diolah (2020) 1. Gross Profit Margin (GPM) 2017 =

2. Gross Profit Margin (GPM) 2018 =

3. Gross Profit Margin (GPM) 2019 =

Net Profit Margin Rasio ini digunakan untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dibandingkan dengan volume penjualan.

Adapun rumus untuk menghitung rasio ini yaitu:

Tabel.4 Net Profit margin

Tahun Tahun Tahun

2017 2018 2019

Laba

Bersih Rp75.620.119.370 Rp40.490.733.785 Rp38.036.447.453 Penjualan Rp305.134.812.462 Rp313.353.675.050 Rp311.839.783.522

Laporan Keuangan

Sumber: Data Primer diolah (2020) 1. Net Profit Margin Tahun 2017 =

2. Net Profit Margin Tahun 2018 =

3. Net Profit Margin Tahun 2019 =

OperatingProfit Margin (laba operasional) Rasio yang mengukur seberapa besar tingkat keuntungan operasional/usaha perusahaan dari setiap penjualannya, artinya disini belum memperhitungkan biaya bunga dan pajak perusahaan.Adapun rumus untuk menghitung rasio ini adalah sebagai berikut:

Tabel 5 Operating Profit Margin

Laporan Tahun Tahun Tahun

2017 2018 2019

Laba Bersih Sebelum

Pajak

Rp100.560.598.162 Rp53.875.605.448 Rp50.997.665.531

Penjualan Rp305.134.812.462 Rp313.353.675.050 Rp311.839.783.522 Sumber : Data Primer diolah (2020) 1. Operating Profit Margin Tahun 2017

=

2. Operating Profit Margin Tahun 2018

=

3. Operating Profiit Margin Tahun 2019=

Return on Assets (ROA) Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba bersih dari jumlah dana yang di investasikan perusahaan atau total aset perusahaan untuk menentukan jumlah dana yang di investasikan. Adapun rumus untuk menghitung rasio ini yaitu:

(6)

Tabel 6 Return On Assets

Laporan Tahun Tahun Tahun

2017 2018 2019

Laba

Bersih Rp75.620.119.370 Rp40.490.733.785 Rp38.036.447.453 Total

Assets Rp431.244.514.860 Rp417.526.541.681 Rp431.026.661.067 Sumber: Data Primer diolah (2020) 1. Return on assets Tahun 2017=

2. Return On Assets Tahun 2018 =

3. Return On Assets Tahun 2019 =

Hasil analisis Rasio Gross Profit Margin (biaya produksi) pada tabel 4.3, jika di perhatikan pada tahun 2017 terlihat bahwa laba kotor perusahaan 39,22% dari hasil penjualan. Untuk tahun 2018 rasio margin laba turun menjadi 2,6% dengan nilai sebesar 36,62%. Sedangkan pada tahun 2019 rasio margin laba mengalami kenaikan 1,48%

dengan nilai sebesar 38,10%. Setiap tahunnya Gross Profit Margin (biaya produksi) perusahaan ini mengalami ketidakstabilan biaya peroduksi. Pada umumnya semakin rendah rasio ini terjadi akan menunjukkan bahwasannya perusahaan ini mampu untuk menghemat biaya produksi.

Standar industri Gross Profit Margin Menurut (Kasmir, 2018) adalah 24,90%. Jika rata-rata perusahaan untuk Gross Profit Margin pada rasio profitabilitas 24,90% maka keadaan perusahaan lebih menunjukkan bahwasannya perusahaan ini tidak mampu untuk menghemat biaya produksi yang terjadi dan di lihat dari perhitungan Gross Profit Margin diatas terjadinya penurunan yang semakin pesat perusahaan mendapatkan laba yang kurang baik.

Peneliti menilai bahwa kinerja perusahaan terhadap rasio ini kurang baik, dan setelah di analisis menurut peneliti penurunan rasio ini terjadi menandakan bahwa perusahaan dan pimpinan perusahaan tidak berhasil dalam menekan biaya produksi dan memperbesar biaya penjualan.

Net Profit Margin tahun 2017 menghasilkan Net Profit Margin perusahaan Umum Daerah Air Minum Kota Makassar sebesar 24,78%, maka pada tahun 2018 terjadi penurunan sebesar 11,86% maka nilainya yaitu 12,92%. Sedangkan pada tahun 2019 terjadi penurunan kembali sebesar 0,73% yang di sebabkan oleh penurunan laba bersih dari tahun 2018 ke tahun 2019, maka nilainya yaitu 12,19%.

Setelah di analisis peneliti menilai bahwa kinerja perusahaan terhadap rasio ini kurang baik. Karena laba yang di dapat masih kurang mampu menghasilkan laba bersih yang tinggi. Jika suatu perusahaan menurunkan beban-beban yang berkaitan dengan penjualan maka perusahaan tentu akan mempunyai lebih banyak dana untuk kegiatan-kegiatan usaha lainnya.

Standar industri Net Profit Margin menurut (Kasmir, 2018) adalah 20%. Keadaan perusahaan ini tidak mampu menghasilkan laba bersih yang tinggi untuk perusahaan. Jika semakin tinggi Net Profit Margin maka semakin baik operasi perusahaan. Sedangkan hasil dari hitungan di atas nilai laba bersihnya naik turun yang menyebabkan pengembalian bersihnya tidak seimbang.

Dari Analisis Operating Profit Margin (biaya operasi) pada table 4.5, Jika di perhatikan pada tahun 2017 terlihat bahwa laba operasi mampu menghasilkan sebesar 32,95% dibandingkan tahun 2018 terjadi penurunan secara signifikan sebesar 15,76%

sehingga menjadi 17,19%. Sedangkan pada tahun 2019 juga mengalami penurunan kembali sebesar 0,84% sehingga menjadi 16,35% yang disebabkan oleh kenaikan biaya operasi.

Setiap tahunnya Operating Profit Margin (biaya operasi) perusahaan ini mengalami penurunan. Pada umumnya semakin besar rasio ini maka semakin baik bagi perusahaan. Meskipun Operating Profit Margin setiap tahunnya menurun tetapi masih berada diatas rata-rata industri. Setelah di analisis, peneliti menilai bahwa rasio ini masih diatas standar industri yang berarti kinerja perusahaan terhadap rasio ini cukup baik, sehingga kinerja penjualan bersih mampu menghasilkan laba operasi yang optimal pada perusahaan untuk meningkatkan pendapatan.

Standar industri Operating Profit Margin menurut (Kasmir, 2018) adalah 10,80% maka keadaan perusahaan lebih

(7)

menunjukkan bahwasannya perusahaan ini mampu menghasilkan laba operasi yang optimal walaupun dan masih diatas rata-rata standar industri, hal ini karena kinerja penjualan bersih mampu meningkatkan laba operasi terhadap perusahaan. Pada tabel 4.6, tahun 2017 ROA menghasilkan sebesar , pada tahun 2018 turun sebesar 7,84%

dengan nilai 9,69%. Sedangkan pada tahun 2019 turun lagi sebesar 0,87% dengan nilai 8,82%. Tingkat pengembalian investasi (ROA) pada tahun 2017 sebesar

mencerminkan bahwa setiap aktiva mampu menghasilkan laba bersih 17,53% Tingkat pembelian investasi (ROA) pada tahun 2018 mencerminkan bahwa setiap aktiva mampu menghasilkan laba bersih sebesar 9,69%.

Dibandingkan dengan tahun 2019 terjadi penurunan sebesar 7,84% yang di sebabkan oleh kenaikan aktiva dari tahun 2017 ke tahun 2018 serta ke tahun 2019. Dari hasil analisis, peneliti menilai bahwa kinerja perusahaan terhadap rasio ini tidak baik, dimana kinerja aktiva tidak optimal karena semakin kurang efektif dalam menghasilkan laba bersih dan berdampak kepada pendapatan perusahaan nantinya.

Standar industri Return on Assets menurut Kasmir (2018) adalah 30%. Semakin tinggi rasio ini maka baik untuk perusahaan, Karena perusahaan dianggap mampu dalam menggunakan aset yang dimilikinya secara efektif untuk menghasilkan laba. Tetapi sebaliknya jika semakin rendah rasio ini maka perusahaan dianggap tidak baik dalam mengunakan aset yang telah dimiliki.

PENUTUP

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Gross Profit Margin perusahaan ini mengalami penurunan, peneliti menilai bahwa kinerja perusahaan terhadap rasio ini kurang baik dan penurunan rasio ini menandakan bahwa perusahaan dan pimpinan perusahaan tidak berhasil dalam menekan biaya produksi. 2) Net Profit Margin Peneliti menilai bahwa kinerja perusahaan terhadap rasio ini kurang baik.

karena laba masih kurang mampu menghasilkan laba bersih yang tinggi untuk perusahaan dan memperbesar jumlah penjualan. 3) Operating Profit Margin Peneliti menilai bahwa rasio ini masih diatas Standar

Industri yang berarti kinerja perusahaan terhadap rasio ini cukup baik, sehingga kinerja penjualan bersih mampu menghasilkan laba operasi yang optimal pada perusahaan untuk meningkatkan pendapatan. Return On Assets (ROA) peneliti menilai bahwa kinerja perusahaan terhadap rasio ini tidak baik, dimana kinerja aktiva tidak optimal karena semakin kurang efektif dalam menghasilkan laba bersih dan berdampak kepada pendapatan perusahaan nantinya.

Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : Secara keseluruhan dari hasil rasio profitabilitas diketahui bahwa kemampuan menghasilkan laba dari PERUMDA masih sangat rendah. Oleh sebab itu manajemen perlu melakukan evaluasi terhadap biaya operasional perusahaan, dengan cara menekan jumlah pengeluran serta meningkatkan jumlah pendapatan di sektor penjualan dan penggunaan biaya yang seefisien mungkin sangat diperlukan untuk kelangsungan untuk meningkatakan laba di tahun selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ardi. (2018). Analisis Laba Kotor Sebagai Alat Untuk Menentukan Naik Turunnya Harga Jual Pada Qmart Superstore Kota Gorontalo.

Botutihe. (2016). Analisis Rasio Profitabilitas Laporan Laba Rugi Pada Home Industri Cita Rasa Pagimana Kabupaten Banggai.

Darminto, P. (2019). Analisis Laporan Keuangan Yogyakarta UPP STIM YKPN.

Hery. (2017). Teori Akuntansi (Pendekatan Konsep dan Analisis). Jakarta: PT.

Grasindo.

IAI. (2018). standar akuntansi keuangan.

Jakarta, Salemba Empat.

Kawatu, S. F. (2019). Analisis Laporan Keuangan Sektor Publik. Yogyakarta: CV.

Budi Utama.

Kodong, I. T., Sabijono, H., & Meily. (2019).

Analisis Pengakuan Pendapatan Dan Beban Dalam Penyajian Laporan Laba Rugi Pada Pt Sederhana Karya Jaya.

Lasmy, M. (2017). Analisis Laporan Keuangan. Bandung : CV. Pustaka Setia Jl.

BKR (Lingkar Selatan) .

Nurfadilah, I. H. (2019). Akuntansi Dasar.

Yogyakarta: CV. Budi utama.

Rusti’ani, E. M., & Wiyani, N. (2017). Rasio Keuangan Sebagai Indikator Untuk

(8)

Mengukur Kinerja Keuangan Perusahaan Semen.

Sanjaya, S., & Rizky, F. M. (2018). Analisis Profitabilitas Dalam Menilai Kinerja Keuangan Pada PT. Taspen (Persero) .Medan.

Simangunsong, T. N., Ilat, V., & Elim, I.

(2018). Analisis Laporan Arus Kas Sebagai Alat Dalam Pengambilan Keputusan Manajemen Pada Pt. Bpr Prisma Dana Manado.

Sugiyono. (2016). Statistika Untuk Penelitian.

Bandung: CV. Afabeta.

Widyatuti, M. (2017). Analisa kritis laporan keuangan. Surabaya: CV. Jakat Media Nusantara.

Yusfa, P. (2018). Analisis Laporan Laba Rugi pada PT. Matahari Department Store Tbk Periode 2015 – 2017.

Referensi

Dokumen terkait

Với các nghiên cứu trên có nhược điểm là thiếu tính linh động về khoảng thời gian theo dõi lũ lụt; tập trung phạm vi vào khu vực nhất định tại Việt Nam; tính ứng dụng của nghiên cứu