EVALUASI SOP/PROTAP TRANSPORT PASIEN DI PT EMERGENCY RESPONSE INDONESIA
LAPORAN KEGIATAN MAGANG
Disusun oleh :
Fachrul Shidiq : 1073231006
FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS MOHAMMAD HUSNI THAMRIN PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN
MASYARAKAT TAHUN
2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga Laporan Magang ini dapat diselesaikan dengan baik. Laporan Magang ini disusun untuk memenuhi kewajiban bagi penulis yang telah melaksanakan magang yang diselenggarakan oleh program studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas MH.Thamrin.Adapun maksud dan tujuan penulis disini dalam menyusun Laporan Magang ini ialah sebagai bukti tertulis dari hasil pelaksanaan Magang yang telah dilaksanakan pada tanggal 17 Februari – 17 Mei 2025 bertempat di PT Emergency Response Indonesia. Pada kesempatan ini tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT yang telah memberi kehidupan serta segala berkah dan anugerah sehingga memungkinkan penulis untuk melakukan hal-hal luar biasa dan berguna bagi orang lain.
2. Dr. Daeng Mohammad Faqih, SH, MH, Rektor Universitas MH. Thamrin.
3. Atna Permana, M.Biomed., Ph.D selaku Dekan Fakultas Kesehatan Universitas MH. Thamrin.
4. Dwi Wahyuni, SKM, MKM, Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas MH. Thamrin.
5. Yuyun Kurniawati,SKM.,MKM selaku Dosen Pembimbing Akademik yang memberikan arahan dan bimbingan serta ilmunya sehingga Laporan Magang
ini dapat terselesaikan.
6. Epan Varasi Sianturi, SKM selaku Pembimbing lapangan sekaligus Head Division di PT Emergency Response Indonesia yang telah memberikan arahan dan masukan sehingga Laporan Magang ini dapat terselesaikan.
7. Seluruh pegawai dan tim operasional di PT Emergency Response Indonesia yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.
8. Orang Tua dan keluarga besar yang senantiasa memberikan semangat, dukungan, perhatian serta doa kepada penulis.
9. Teman-teman Non Reguler 19 Universitas MH Thamrin yang selalu memberi dukungan kepada penulis.
10. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam proses penyelesaian Laporan Magang ini.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelayanan kesehatan di rumah sakit berlangsung sebelum pasien tiba di rumah sakit, saat berada di rumah sakit dan sampai pulang dari rumah sakit.
Pelayanan diluar rumah sakit salah satunya adalah pelayanan transportasi pasien. Alat transportasi tersebut berupa mobil ambulans yang harus dapat menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan pasien sampai ketempat tujuan. Penaggung jawab operasional pelayanan ambulans dilakukan oleh Instalasi Gawat Darurat (IGD). Transportasi pasien sangat penting bagi prioritas keselamatan pasien menuju rumah sakit atau sarana yang memadai, maka dari itu dibutuhkan peralatan yang menunjang untuk pasien serta koordinasi yang yang baik terjalin antara perawat dan dokter mengenai situasi medis pasien. (Kemenkes, 2001).
Ambulans adalah kendaraan yang dilengkapi peralatan medis untuk mengangkut orang sakit atau korban kecelakaan. Fungsi ambulans menurut NHS United Kingdown (National Health Service) mempunyai dua fungsi, yang pertama fungsi bantuan kecelakaan dan paramedis kegawatdaruratan, yang kedua fungsi pasien transportasi dari dan kepelayanan kesehatan yang dituju (rujukan).
Pelayanan transportasi yang dilakukan oleh driver ambulans harus bisa menjaga rasa aman dan nyaman bagi penumpang ambulans yang tentunya akan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Agar tercipta pelayanan ambulans
yang aman dan nyaman maka driver ambulans perlu di bekali pengetahuan atau Pendidikan bagaimana agar mengemudi ambulan secara aman (safety driving).
Menurut Sugiharto (2016) Safety driving merupakan pelatihan dasar mengemudi lebih lanjut yang lebih memperhatikan keselamatan bagi pengemudi dan penumpang, safety driving didesign untuk memperhatikan alertness (kewaspadaan), awareness (kesadaran), attitude (tingkah laku) dan anticipation (pengharapan).
Di Rumah Sakit banyak terjadi pemandangan yang sering kita lihat seperti pengangkatan pasien yang darurat atau kiritis, karena itu pengangkatan penderita membutuhkan cara-cara tersendiri. Setiap hari banyak penderita diangkat dan dipindahkan dan banyak pula petugas paramedik/penolong yang cedera karena salah mengangkat.
Pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit, pasti akan mengalamai proses pemindahan dari ruang perawatan ke ruang lain seperti untuk keperluan medical check up, ruang operasi, dll. Hal ini akan mengakibatkan resiko low back pain baik bagi pasien maupun bagi paramedik.
Menurut WHO dan ILO bahwa kesehatan tenaga kerja merupakan hal yang sangat penting dan terutama karna menyangkut kedalam tingkat produktivitas tenaga kerja. Dalam hal ini maka perlu dilakukan pemeriksaan.
Medical Check Up (MCU) untuk setiap tenaga kerja sebagai penyaringan terhadap status kesehatan mereka dan untuk mengetahui tingkat produktivitas mereka. Terutama bagi paramedic yang bertugas mengangkat dan
memindahkan pasien yang rentan mengalami cedera seperti mengalami penyakit Low Back pain, penyakit syaraf kejepit (HNP) di kemudian hari.
Dari penjelasan diatas terlihat jelas bahwa SOP/ Protap transport pasien sangat penting diterapkan guna meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana Pelaksanaan Evaluasi SOP/Protap Transport Pasien pada PT Emergency Response Indonesia.
1.2 Tujuan Umum
Adapun tujuan utama dari magang ini adalah mengetahui Pelaksanaan Evaluasi SOP/Protap Transport Pasien pada PT Emergency Response Indonesia.
1.3 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari magang ini mengetahui manajemen tim operasional ER untuk mempersiapkan dan meningkatkan kualitas pelayanan evakuasi medis, yang meliputi:
Mahasiswa mengetahui gambaran alur dan SOP permintaan ambulance.
Mahasiswa mengetahui pentingnya driver ambulance bersertifikat safety driving/defensive driving.
Mahasiswa mengetahui ketidaktepatan dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar ambulance.
Mengetahui tidak adanya program MCU secara berkala bagi Tim Operasional
Menetapkan Masalah dan menentukan Prioritas Masalah dengan
menggunakan metode Bryant
Menetapkan alternatif pemecahan masalah dan menentukan prioritas alternatif pemecahan masalah.
1.4 Manfaat Magang
1.4.1 Manfaat Untuk Mahasiswa
Menambah wawasan dan pengetahuan sebagai sarana untuk melatih diri melakukan dan menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dalam perkuliahan.
Hasil magang ini dapat menjadi bahan acuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa.
1.4.2 Manfaat Untuk Instansi Magang
Instansi dapat memanfaatkan mahasiswa untuk membantu penyelesaian tugas- tugas lapangan serta memberikan masukan alternatif pemecahan bagi setiap permasalahan yang terjadi.
Dapat mengembangkan kemitraan antara Prodi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Universitas MH. Thamrin dengan PT Emergency Response yang terlibat dalam kegiatan magang baik untuk kegiatan penelitian maupun pengembangan.
Laporan hasil magang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber informasi mengenai situasi umum di instansi tempat magang dilaksanakan.
1.4.3 Manfaat Untuk Universitas MH Thamrin
Terbinanya suatu jaringan kerjasama yang berkelanjutan antara Prodi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Universitas MH. Thamrin dengan instansi PT Emergency Response dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan antara substansi akademik dengan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan.
Mendapatkan masukan yang berguna untuk penyempurnaan kurikulum dan pengembangan silabus mata ajar sesuai dengan kondisi sebenarnya di PT Emergency Response.
Meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan dengan melibatkan tenaga lapangan dalam kegiatan Magang.
1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup Magang ini adalah Tim Operasional PT Emergency Response Indonesia.
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI MAGANG
2.1 Sejarah Singkat PT Emergency Response Indonesia
PT. Emergency Response Indonesia adalah suatu Perseroan Terbatas yang didirikan berdasarkan ketentuan hukum Negara Republik Indonesia, sesuai dengan akta pendirian No. 42 tanggal 5 Oktober 2007 dihadapan Notaris Ingrid Lannywaty, SH., Notaris di Jakarta, yang telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asai Manusia Republik Indonesia No. C-964. HT. 03 02 – Th 2002 tanggal 5 Agustus 2002 dan berikut perubahan-perubahannya; yang berkedudukan RSU Bunda Jakarta, Lt.8, Jl. Teuku Cik Ditiro No.21. Menteng – Jakarta Pusat, 10350. (Perseroan Terbatas) Emergency Response Indonesia.
Emergency Response (ER) Indonesia merupakan bagian dari Bunda Medik Healthcare System Group Jakarta yang memberikan layanan terkait dengan kegawatdaruratan (emergency service). Kami memiliki tenaga medis operasional yang cepat tanggap untuk setiap permintaan gawat darurat selama 24/7.
Tim medis dan paramedis ER Indonesia dipastikan sudah berpengalaman dalam berbagai misi evakuasi medis baik melalui mode transportasi darat, udara dan laut. ER Indonesia juga memiliki dokter pelaksana yang ahli dalam memberikan rekomendasi medis.
Setiap evakuasi pasien berjalan sesuai standar operasional prosedur dan terus diawasi dengan maksimal oleh tim keselamatan kerja. Kami selalu menjaga
integritas dalam menjalankan setiap misi evakuasi untuk memberikan kepuasan pelayanan kepada pasien.
Layanan kami antara lain;
• Neonatal & Children Emergency Transport (NICU/PICU)
• Medical Evacuation (Ground Ambulance and Air Ambulance)
• Medical Escort
• Ambulance & Medical Team Standby
• Home Service
• Doctor and Paramedic on Site
• Repatriation of Mortal Remain
2.2 Visi, Misi PT Emergency Response Indonesia
Visi
Menjadi penyedia layanan Evakuasi Medis dengan standar tertinggi di setiap situasi darurat.
Misi
Keselamatan pasien adalah prinsip kami untuk memberikan kualitas terbaik dan disiplin perawatan kesehatan juga diterapkan di PT Emergency Response Indonesia yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi resiko, kesalahan, dan bahaya yang terjadi pada pasien selama menyediakan perawatan kesehatan.
2.3 Struktur Organisasi PT Emergency Response Indonesia
Bagan struktur organisasi PT Emergency Response Indonesia (terlampir).
2.4 Tim Operasional PT Emergency Response Indonesia
Tim Operasional merupakan salah satu substansi fungsional di PT Emergency Response Indonesia. Tim Operasional bertanggung jawab kepada Managing Director dan Head Division. Tugas utama dari Tim Operasional adalah melaksanakan dengan baik jobdesk yang sudah ditetapkan seperti sebagai berikut :
Melakukan pengecekan ambulance sesuai dengan checklist ambulance.
Memastikan untuk peralatan medivac siap untukdigunakan dan terkalibrasi.
Memastikan obat-obatan siap dan digantikan sebelum 3 bulan masa expired.
Melakukan pengecekan tabung oksigen, supaya selalu siap di pakai.
Persiapan Pre Medivac (quotation,Equipment,Documentation and Personil team)
Menjadi escort pasien baik medivac mengunakan Ground ambulance dan air ambulance.
2.5 Alur Permintaan Layanan Evakuasi PT Emergency Response Indonesia
BAB III
RENCANA KERJA
3.1 Tempat dan Waktu Magang
Pelaksanaan magang dilaksanakan selama 3 bulan dimulai pada tanggal 17 Februari sampai 17 Mei 2025. Berikut informasi terkait tempat dan waktu instansi tempat magang:
Nama Instansi : PT Emergency Response Indonesia
Alamat : RSU Bunda Jakarta Lt.8 Jl. Teuku Cikditiro No 21 Kec. Menteng Jakarta Pusat 10350
Telepon/Fax : (021)3106886
Website/Media Sosial : https://er-indonesia.co.id/
Unit Magang : Tim Operasional
Tabel 3.1 Waktu Magang
3.2 Uraian Kegiatan Tim Operasioanl
Berikut merupakan kegiatan yang dilaksanakan di Tim Operasional PT Emergency Response Indonesia, yaitu:
1. Tugas Pokok
Hari Jam Operasional Kegiatan
Senin-Minggu Shift 1 : 08.00 – 20.00 Shift 2 : 20.00 – 08.00
-
- Melakukan pengecekan ambulance yang ada di BOP.
- Memastikan untuk peralatan medivac siap untuk digunakan dan terkalibrasi.
- Memastikan obat-obatan siap dan digantikan sebelum 3 bulan masa expired.
- Melakukan pengecekan Oxigen, supaya selalu siap di pakai.
- Persiapan Pre Medivac (Quotation, Equipment, Documentation and Personil team).
- Menjadi escort pasien baik medivac mengunakan Ground ambulance dan air ambulance.
- Membuat jadwal dan rencana kerja harian, mingguan dan bulanan untuk staff.
- Menerima, merencanakan, mempersiapkan, mengawasi, dan menjalankan setiap permintaan event.
- Mempersiapkan, dan menjalankan setiap permintaan house call visit.
- Mempersiapkan, dan menjalankan setiap permintaan misi medivac.
- Membuat laporan medivac.
- Membuat laporan petty cash.
- Membuat proses bisnis tetap berjalan setelah selesainya misi, permintaan PR, SO sampai pembayaran vendor.
2. Tanggung Jawab
- Bertanggung jawab dalam pengumpulan daily checklist ambulance setiap bulan.
- Bertanggung jawab dalam melakukan permintaan perbaikan ambulance jika akan melakukan service dan jika terjadi kerusakan.
- Bertanggung jawab dalam pemeliharaan alat-alat medis medivac.
- Bertanggung jawab dalam ketersediaan obat-obatan, disposable, baju pasien, selimut, dan bantal.
- Bertanggung jawab dalam kelancaran setiap event, house call visit dan misi evakuasi medis.
- Bertanggung jawab dalam laporan petty cash medivac setiap bulan.
- Bertanggung jawab dalam penyelesaian laporan event, house call visit, medivac, paling lambat H+3.
- Bartanggung jawab dalam penanganan keluhan klien 3. Wewenang
- Menjadi driver paramedic ambulance.
- Mengunakan petty cash medivac, sesuai kebutuhan Medivac.
- Pengajuan uang yang keluar dari biaya medivac (permintaan SO dan PR).
- Melakukan costing medivac (approve Dr. Adi dan Evan Sianturi).
- Melakukan pengumpulan daily ceklist, kilometer ambulance dan kerusakan ambulance di masing-masing site.
- Berwenang pengisian kembali bahan bakar ambulance.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil pengamatan,di temukan 3 permasalahan yang ada di Tim Operasional PT Emergency Response Indonesia, yaitu :
1. Terdapat beberapa driver ambulance yang belum bersertifikat safety driving/defensive driving
2. Ketidaktepatan dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar ambulance
3. Tidak adanya program MCU secara berkala bagi Tim Operasional
Setelah diketahui permasalahan yang ada, selanjutnya permasalahan diidentifikasi dengan menggunakan tabel identifikasi masalah 5W+1H.
Tabel 4.1.1 Identifikasi Masalah 5W+1H
What Where When Who Why
Terdapat beberapa driver ambulance
yang belum
bersertifikat safety driving/defensive driving
Tim Operasional
Selama penulis melaksanakan magang
Tim
Operasional, Manajemen
Dalam pelaksanaan SOP/Protap Transfer Pasien, Sebagian kecil driver ambulance tidak mempunyai lisensi Safety Driving/Defensive Driving
How
Manajemen baru masih dalam transisi sehingga masih dalam proses pembenahan dan perbaikan system manajemen SDM terdahulu
Tabel 4.1.2 Identifikasi Masalah 5W+1H
Tabel 4.1.3 Identifikasi Masalah 5W+1H
Berdasarkan tabel diatas. Yang dianalisis dengan menggunakan Tabel 5W+H1, ditemukan 3 gambaran identifikasi permasalahan yang kemudian akan dilanjutkan ke dalam tahap berikutnya yaitu penentuan prioritas masalah.
What Where When Who Why
Ketidaktepatan dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar ambulan
Tim Operasional
Selama penulis melaksanakan magang
Tim
Operasional Dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar Sebagian besar tidak menggunakan alat bantu seperti easy move/spine board sehingga rentan mengalami cedera seperti LBP, HNP.
How
Kurangnya pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya penggunaan teknik pemindahan pasien secara tepat
What Where When Who Why
Tidak adanya
program MCU
secara berkala bagi Tim Operasional
Tim Operasional
Selama penulis melaksanakan magang
Tim
Operasional, Manajemen
Dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar Sebagian besar tidak menggunakan alat bantu seperti easy move/spine board How
Belum dianggarkannya biaya MCU perorangan bagi tim operasional secara berkala
4.2 Prioritas Masalah
Dalam penetapan prioritas masalah, metode yang digunakan oleh penulis adalah metode Bryant yang dipergunakan indikator-indikator berikut:
1. Community Concern atau Public Concern (C)
Besarnya keprihatinan akan masalah yang dihadapi. Masalah dengan keprihatinan karyawan yang besar untuk mengatasinya mendapat prioritas tertinggi.
SKOR:
1 = Tidak mendapat perhatian 2 = Kurang mendapat perhatian 3 = Cukup mendapat perhatian 4 = Sangat mendapat perhatian 2. Prevalence (P)
Jumlah individu yang terkena dampak. Prioritas yang tertinggi diberikan kepada suatu masalah yang menyebar luas dalam wilayah tersebut.
SKOR:
1 = Jumlah yang terkena sangat sedikit 2 = Jumlah yang terkena sedikit 3 = Jumlah yang terkena cukup besar 4 = Jumlah yang terkena sangat besar 3. Seriousness atau Severity (S)
Berat ringannya masalah yang ditimbulkan oleh masalah tersebut. SKOR:
1 = Masalah yang ditimbulkan tidak berat 2 = Masalah yang ditimbulkan cukup berat
3 = Masalah yang ditimbulkan berat
4 = Masalah yang ditimbulkan sangat berat 4. Manageability (M)
Tersedianya mutu dengan pembiayaan, kemungkinan hambatan pelaksanaan, keadaan ekonomi rumah sakit dan keikutsertaan pihak yang berwenang.
SKOR:
1 = Tidak dapat dikelola dan diatasi 2 = Cukup dikelola dan diatasi 3 = Dapat dikelola dan diatasi 4 = Sangat dapat dikelola dan diatasi
Untuk menghitung nilai total menggunakan rumus :
Tabel 4.2.1 Penentuan Prioritas Masalah Menggunakan Metode Bryant
Terkait Masalah Yang Ditemukan
No Masalah C P S M
Total (C x P x S x M)
Skala Prioritas 1. Terdapat beberapa driver ambulance
yang belum bersertifikat safety driving/defensive driving
3 3 3 3 81 II
2. Ketidaktepatan dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar ambulan
4 3 3 3 108 I
3. Tidak adanya program MCU secara berkala bagi Tim Operasional
3 2 2 3 36 III
Nilai skor pada tabel diatas diperoleh melalui diskusi dengan Pembimbing Lapangan. Nilai skor diatas sudah merupakan keputusan bersama. Berikut penjelasannya:
1. Penjelasan skor mengenai masalah “Terdapat beberapa driver ambulance yang belum bersertifikat safety driving/defensive driving” yaitu untuk indikator Community Concern (C) skor 3, artinya permasalahan ini cukup mendapat perhatian. Untuk indikator Prevalence (P) skor 3, artinya yang t erkena dampak cukup besar. Seriousness (S) skor 3, artinya masalah yang ditimbulkan berat. Manageability (M) skor 3, artinya permasalahan yang terjadi dapat dikelola dan diatasi.
2. Penjelasan skor mengenai “Ketidaktepatan dalam pelaksanaan pemindahan pasien dari bed ke brankar ambulan” yaitu untuk indikator Community Concern (C) skor 4, artinya permasalahan ini sangat mendapat perhatian. Prevalence (P) skor 3, artinya yang terkena dampak cukup besar. Seriousness (S) skor 3, artinya masalah yang ditimbulkan cukup berat. Manageability (M) skor 3, artinya permasalahan yang terjadi dapat di kelola dan diatasi.
3. Penjelasan skor mengenai “Tidak adanya program MCU secara berkala bagi Tim Operasional” yaitu untuk indikator Community Concern (C) skor 3, artinya cukup mendapat perhatian. Prevalence (P) skor 2, artinya yang terkena dampak sedikit. Seriousness (S) skor 2, artinya masalah yang ditimbulkan cukup berat. Manageability (M) skor 3, artinya permasalahan yang terjadi dapat di kelola dan diatasi.
4.3 Penetapan Penyebab Masalah
Berdasarkan pada prioritas masalah di atas, maka tahap selanjutnya adalah menetapkan penyebab masalah dengan menganalisis faktor-faktor yang menjadi penyebab masalah tersebut dengan analisis Pohon Masalah. Pada tabel diatas, terdapat penetapan masalah yaitu Ketidaktepatan dalam pelaksanaan pemindahan
pasien dari bed ke brankar ambulan. Penulis berkesimpulan bahwa penyebab dari masalah tersebut adalah Kurangnya pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya penggunaan teknik pemindahan pasien secara tepat.
Dari diagram fishbone penetapan isu tentang Ketidaktepatan dalam Pelaksanaan Pemindahan Pasien dari Bed Ke Brankar Ambulan yang disebabkan oleh beberapa penyebab. Penyebab utamanya adalah Kurangnya pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya penggunaan teknik pemindahan pasien secara tepat sehingga perlu dilakukannya Review dan Recall tentang teknik pemindahan pasien.