• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Observasi Psikodiagnostika Perilaku Delinkuensi pada Anak Sekolah Menengah Pertama

N/A
N/A
4PA18@Bunga Cantika Sephia Cahaya

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan Observasi Psikodiagnostika Perilaku Delinkuensi pada Anak Sekolah Menengah Pertama"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PSIKODIAGNOSTIKA 2 : OBSERVASI SETTING PSIKOLOGI KLNIS, PIO, SOSIAL, PERKEMBANGAN, PENDIDIKAN

PERILAKU DELINQUENCY PADA ANAK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA LABORATORIUM DASAR PSIKOLOGI

Disusun Oleh:

2PA18

NO NAMA MAHASISWA NPM TANDA TANGAN

1 Assyifa Dewina Salsabilla 10521250 2 Auliya Maurel Azzahra Hanafi 10521276

3 Aulya Aprilianti 10521278

4 Ikrimah Athaya Putri 11521663 5 Mohammad Wira Dwi Arsyad 10521859

6 Muhammad Harits 10521894

7 Muhammad Hilmi Amanullah A 10521897 8 Nidia Chandra Qanitah 11521031

9 Rayhan Hanif 10521830

10 Widad Zalfa Khairunnissa 11521508 DEPOK

FEBRUARI 2023

(2)

I. PENDAHULUAN

A. Observasi Awal

Observer 1 (Muhammad Hilmi Amanullah Al Ayyubi 10521897) Pada tanggal 3 Mei 2023 kelompok tim observer melakukan observasi terhadap subjek yang merupakan adik kandung dari salah satu anggota kelompok tim observer. Subjek adalah seorang anak remaja yang berumur 15 tahun dan baru saja lulus dari bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tim observer melakukan observasi pada pukul 16.05 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Tim observer melakukan observasi di jam tersebut dimana subjek sedang aktif melakukan kegiatan di rumahnya. Tepat pukul 16.05, tim observer sampai di rumah subjek. Saat tim observer masuk ke rumah, terlihat subjek sedang berada di depan televisi. Subjek sedang bersantai sambil bermain handphone dengan volume televisi yang cukup nyaring. Saat tim observer datang, subjek cukup terkejut karena kedatangan tim observer, sontak subjek pun langsung berpindah ke kamarnya dengan muka murung, alis tertarik ke bawah dan bibir tertutup rapat seolah tidak ingin berbicara kepada tim observer. Subjek menutup kamarnya dengan cukup keras, tim observer menanyakan kira-kira apa penyebab perilaku tersebut kepada kakaknya. Ternyata, tempat yang tim observer duduki merupakan tempat kesukaan subjek yang biasa digunakan untuk bersantai.

Kemudian, sang ibu menghampiri kamar subjek dengan maksud meminta subjek untuk menyapa tim observer terlebih dahulu. Sang ibu mengetuk kamar subjek sambil berkata “Dek, ini salim dulu sama temen-temen kakak,” dengan nada tinggi subjek pun menjawab “Iya, sabar anjing.”

Mendengar hal itu, tim observer pun cukup kaget dan saling menatap selama beberapa saat, seolah-olah tim observer mempunyai pemikiran yang sama.

Setelah beberapa saat subjek pun keluar dari kamarnya dengan wajah yang cemberut. Subjek menyapa tim observer satu persatu dan kemudian mengambil charger handphone yang letaknya persis di sebelah observer tanpa meminta tolong atau mengatakan apapun. Saat subjek hendak kembali

(3)

ke kamarnya, ibunya pun meminta tolong untuk mengambil minuman di kulkas untuk disajikan kepada tim observer, dengan nada tinggi subjek pun menjawab “Ambil aja sendiri” dan langsung masuk ke dalam kamarnya.

Karena pintu kamar subjek tidak terlalu menutup dengan rapat, sayup-sayup terdengar beberapa kali subjek mengatakan kata-kata kasar seperti anjing, bangsat, ngentot, anjir dan goblok. Subjek terlihat memegang ponsel dan sedang bermain game mobile legend yang mengakibatkan kata-kata tersebut keluar dari mulut subjek. Tak berapa lama, Ibu dari subjek menghampiri kamar subjek untuk mengingatkan sholat ashar. Saat diingatkan, subjek pun menjawab “Iya, sebentar”. Lalu sang Ibu pun menutup rapat pintu kamar subjek dan kembali ke kamarnya. Setelah itu, subjek tidak terdengar ataupun melakukan suatu aktivitas tertentu karena sedang berada di kamarnya.

Observer 2 (Mohammad Wira Dwi Arsyad 10521859)

Pada pukul 16.35 WIB, observer melanjutkan observasi. Observer dan tim observer sedang berada di ruang tamu. Setelah itu, observer melihat subjek baru saja keluar dari kamarnya dan berjalan dari kamar menuju teras rumah. Subjek melewati observer dan tim observer sambil tersenyum tipis dan sedikit menunduk kepada tim observer. Sebelum subjek keluar dari kamarnya, beberapa saat yang lalu kakak subjek keluar rumah untuk membeli makan makanan. Tidak lama kemudian, ponsel subjek berdering.

Subjek menjawab telepon tersebut dengan loudspeaker. Observer dan tim observer mendengar bahwa subjek diajak pergi oleh temannya untuk bermain di luar, subjek setuju dan mengiyakan untuk ikut bergabung bermain di luar nantinya. Setelah berbincang-bincang dengan teman- temannya melalui telepon, subjek tiba-tiba memanggil kakak nya dan mencarinya, tetapi kakak subjek tidak menyahut dikarenakan kakak subjek sedang pergi keluar. Lalu ibu dari subjek keluar dan berbicara dengan nada lemah lembut. Ibu subjek memberi penjelasan kepada subjek bahwa sang

(4)

kakak sedang pergi keluar untuk membeli makanan. Tidak berselang lama, sang kakak sampai di rumah. Setelah kakak dari subjek bergabung dengan observer dan tim observer, observer mengabarkan kepada sang kakak bahwa adiknya tadi sedang mencari dirinya. Kakak dari subjek langsung menemui subjek yang berada di teras rumah, lalu menanyakan kepada subjek mengenai kenapa tadi subjek memanggilnya. Spontan subjek langsung menjawab dengan nada tinggi dan berkata, "Apa, sih? gak jelas anjing!

Goblok? Siapa yang nyariin lu, sat!", dengan muncul kerutan pada dahi atas, bibir terbuka dan kelihatan gigi. Kakak dari subjek spontan kaget ketika subjek berkata kasar dengan nada tinggi. Kakak dari subjek pun memberitahu adiknya, "Dek, lu kalo ngomong itu dijaga. Ada temen - temen gua disini" Seolah tidak peduli dengan kakaknya, subjek merespon dengan wajah kesal dengan kerutan tipis di atas dahi. Mata membesar seperti melotot, bibir terbuka dengan gigi terlihat sedikit. Tidak berselang lama dari kejadian tadi, subjek mengabari teman - teman nya menanyakan jadi pergi bermain di luar atau tidak. Setelah itu, subjek bersiap - siap untuk pergi ke luar.

Observer 3 (Assyifa Dewina Salsabilla 10521250)

Pada pukul 16.50 WIB, observer (kakak subjek) sedang berbincang- bincang dengan tim observer yang lain. Observer melihat subjek sedang mencari pakaiannya yang akan dikenakan untuk pergi keluar. Kemudian, subjek berkata kepada ibunya, "Ibu, bajunya dimana? mau gua pake nih!"

terlihat dari mimik wajahnya dengan alis dan dahi mengerut. Lalu ibu subjek menghampiri subjek dan menyuruhnya untuk mencari perlahan- lahan dengan tutur kata yang lembut. Subjek pun menjawab "Udah gua cari ga ketemu. Gimana sih ini laundry an kontol!" dengan nada yang cukup tinggi. Tampak kerutan di dahi, bibir terbuka dan gigi yang terlihat. Tim observer sontak terkejut ketika mendengar dan melihat hal itu.

(5)

Tim observer pun lanjut meminum dan memakan cemilan yang dihidangkan oleh observer. Tidak lama, terdengar subjek memanggil observer dengan lantang dari dalam kamarnya dan mengatakan "Mbak, gua minjem topi lu dong yang warna item. Gua mau main nih." dengan alis berkerut dan mulut terbuka. Namun, observer menolak permintaan subjek dikarenakan topi yang hendak dipinjam ingin dipakai oleh observer yang berencana pergi seusai observasi. Observer pun menyarankan agar subjek memakai topi milik subjek itu sendiri saja. Subjek menghampiri observer dan berkata "Sini ah gua pake, pelit banget lu jadi orang. Anjing!" sembari merampas topi tersebut di dalam tas observer dengan bibir mengangkat lebih tinggi dan alis mengangkat di satu sisi. Observer pun meminta subjek untuk bersikap dan berbicara lebih sopan dengan nada bicara memohon sembari mengernyitkan alis karena merasa malu kepada tim observer yang lainnya. Subjek melengos tanpa memperdulikan perkataan observer lalu pergi kembali ke kamarnya. Observer yang tidak nyaman dengan keadaan seperti itu terpaksa merelakan topinya dipinjam oleh subjek.

Observer 4 (Ikrimah Athaya Putri 11521663)

Tepat pada pukul 17.00 WIB tim observer sedang makan siomay.

Pada saat itu, subjek keluar dari kamarnya dan pergi keluar rumahnya.

Selang beberapa menit, subjek tergesa-gesa mencari benda di atas meja dekat dapur. Setelah itu subjek pergi menghampiri kakaknya lalu bertanya

“Lu liat kunci motor gua ga?”. Kakak subjek lalu menjawab dengan nada tinggi serta perkataan yang kurang enak didengar. Subjek pun menghiraukan perkataan kakak subjek. Setelah mengambil helm dan jaket, dengan nada lembut dan bahasa yang sopan subjek berpamitan kepada Ibunya. Mata subjek menyipit dan sudut bibirnya terangkat sembari meminta uang kepada Ibunya. Kemudian subjek meminta kakak subjek untuk membuka pagar rumah. Tanpa basa basi, kakak subjek langsung

(6)

membukakan pintu pagar. Subjek pun langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada kakaknya.

Setelah tim observer selesai makan siomay, tim observer berbincang mengenai tugas kuliah sambil menunggu adzan maghrib. Saat itu, hujan turun dengan deras. Tidak lama kemudian, dengan keadaan basah kuyup subjek kembali ke rumah. Subjek masuk ke rumah dengan jidat mengkerut, kelopak mata seperti hampir menutup dan bibir tertutup rapat sambil membanting helm. Kakak subjek melihat tingkah subjek seperti itu langsung memarahi subjek. Mendengar keributan tersebut, Ibu subjek keluar dari kamar dan melerainya agar tidak terjadi keributan. Tim observer hanya terdiam dengan melihat tingkah subjek tersebut dan subjek pun langsung masuk ke kamar sambil membanting pintu kamarnya.

Observer 5 (Rayhan Hanif 10521830)

Pada pukul 17.20 observer dan tim observer sedang bersantai di ruang tamu.Tidak lama, pintu kamar subjek terbuka dan subjek berjalan menuju jemuran untuk mengambil handuk, lalu subjek berjalan kembali menuju ke kamar dan menutup rapat pintu kamarnya. 2 menit kemudian, subjek keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk sambil membawa sebuah handphone, subjek langsung berjalan menuju kamar mandi dengan langkah kaki yang cukup cepat dan terlihat subjek menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras.

Terdengar, subjek menyalakan keran lalu memutar musik. Setelah cukup lama berada di kamar mandi, subjek pun langsung bergegas menuju kamar.

Lalu, pintu kamar pun terbuka kembali, subjek berjalan keluar dari kamar sambil membawa handuk basah menuju jemuran untuk menjemur handuknya.

Setelah menjemur handuk subjek langsung menuju dapur, terlihat subjek mengambil sebuah gelas dan kopi saset. Saat subjek menyeduh kopi

(7)

tersebut terdengar subjek berteriak dan berkata “Anjing, panass!!” Setelah selesai membuat kopi, subjek kembali ke kamarnya untuk mengambil handphone dan juga earphone lalu membawa barang dan kopi tersebut menuju teras rumahnya. Subjek menaruh kopi dimeja, lalu menyambungkan earphone ke handphone nya. Subjek juga menyalakan sebatang rokok, lalu menghisapnya dan menyeruput kopi yang telah dibuat oleh subjek tadi.

Sambil termenung, subjek memetikkan gitar dan bersenandung, terlihat subjek menunjukkan muka riang dengan bibir yang tersenyum lebar, mata yang hampir menutup dengan rapat seolah subjek sangat menikmati keadaan sore itu.

Observer 6 (Muhammad Harits 10521894)

Pada pukul 17.50, hujan telah reda dan subjek pergi untuk keluar menggunakan motor. Ketika pulang kembali ternyata subjek membawa kekasihnya untuk datang ke rumah. Kakak subjek kemudian menyuruh subjek dan kekasihnya untuk salim kepada tim observer, dan mereka melakukannya dengan wajah tersenyum senang. Setelah itu, subjek masuk ke kamar dan menyuruh kekasihnya untuk masak di dapur. Ketika kekasihnya sudah selesai masak, subjek mengajak kekasihnya untuk makan di kamar subjek. Setelah itu, tim observer memutuskan untuk pulang karena merasa cukup untuk kegiatan observasi hari ini. Tim observer berterima kasih kepada kakak subjek karena mengizinkan tim observer untuk melakukan observasi terhadap subjek. Tim observer juga sangat menghargai kesempatan tersebut karena dapat melihat perilaku subjek dalam berperilaku dengan keadaan sekitar.

Sebelum pulang, tim observer berbincang mengenai rencana yang akan dilanjutkan untuk melakukan observasi di hari berikutnya. Tim observer berencana untuk mengamati lebih banyak interaksi subjek terhadap keluarga dan mencatat perubahan suasana seiring waktu. Tim

(8)

observer juga berencana untuk mengajukan beberapa pertanyaan lebih mendalam kepada anggota keluarga subjek untuk bisa lebih memahami keluarganya. Tim observer saling mengingatkan pentingnya untuk menjaga kerahasiaan dan privasi subjek selama kegiatan observasi berlangsung.

Setelah itu, tim observer mengakhiri pembicaraan tersebut dan berpamitan kepada kakak dan ibu subjek untuk pulang ke rumah. Tim observer berharap pada hari berikutnya dapat melakukan kegiatan observasi dengan lebih baik.

Observer 7 (Aulya Aprilianti 10521278)

Kegiatan observasi dilanjutkan di hari kedua pada tanggal 4 Mei 2023. Setelah tim observer mengikuti dan menyelesaikan kelas, tim observer langsung berangkat ke rumah subjek untuk melanjutkan observasi.

Tim observer tiba di rumah subjek pada pukul 13.00 WIB. Saat tim observer tiba di rumah subjek, tim observer melihat subjek sedang bermain kartu poker bersama teman-temannya di teras rumah. Saat itu, subjek duduk di lantai dengan menyilakan kakinya. Subjek mengenakan kaos hitam serta celana pendek berwarna abu-abu. Sebelum masuk ke dalam ruang tamu, tim observer menyapa subjek dan teman-temannya. Subjek dan teman- temannya menyambut ramah dengan senyuman dan menyalami tim observer satu per satu. Tim observer pun memasuki rumah dan duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari pintu masuk sehingga tetap dapat mengamati subjek. Beberapa menit kemudian, ibu subjek mendatangi tim observer dan menyajikan minuman dan cemilan.

Tim observer melanjutkan melakukan observasi sembari berbincang, makan, dan minum yang sudah diberikan oleh ibu subjek. Tidak lama, tim observer mendengar subjek mengucapkan “Hahahaha, kalah lu anjing, cupu kontol”. Subjek tertawa lepas dengan posisi mengangkat kaki kirinya sementara kaki kanannya ditekuk. Beberapa menit kemudian, terdengar kembali subjek mengucapkan kata-kata kasar sambil memukul

(9)

pundak salah satu temannya. Lalu Ibu subjek memanggil subjek untuk mengantarkan baju laundry. Subjek pun menghampiri Ibu subjek dengan satu tangan menolak pinggang dan dahi yang mengernyit, seraya berkata

“Gak liat apa gua lagi main? Anjing!”. Subjek pun berkata kepada kakak subjek dengan nada tinggi sembari menunjuk-nunjuk, “Lu aja Goy yang anter laudry nya. Lu liat sendiri kan gua lagi main? Lagian lu juga lagi gak ngapa-ngapain. Kenapa harus gua yang disuruh-suruh? Anjing!”.

Kemudian Ibu subjek melerai mereka lalu subjek menuju teras rumah sambil menghentakkan kaki dengan muka masam dan mata yang terbuka lebar.

Observer 8 (Auliya Maurel Azzahra Hanafi 10521276)

Pada pukul 14.00 WIB, observer dan kakak subjek hendak pergi ke minimarket dengan mengendarai motor untuk membeli minuman. Saat kakak subjek sedang mengeluarkan motor dari garasi, subjek menghampiri dan berkata ingin memesan cemilan untuk subjek dan teman-temannya.

Ketika kakak subjek meminta uangnya kepada subjek, subjek mengatakan untuk memakai uang kakaknya terlebih dahulu. Kakak subjek pun berdecak dan segera pergi dengan membonceng observer. Beberapa waktu kemudian, observer dan kakak subjek sudah tiba kembali di rumah. Tim observer mendengar subjek berbicara kepada temannya sembari tertawa terbahak- bahak dan mengatakan “Anjing! Gini aja lu kalah, nyet!”. Temannya pun menggebrak meja yang ada di dekatnya dengan wajah murung karena kalah dari permainan dan berkata kepada subjek “Diem lu! Bangsat!”.

Saat observer hendak masuk ke dalam rumah, subjek memanggil kakaknya untuk meminta cemilan yang sudah subjek pesan. Kakak subjek mengatakan tidak bisa membelikan pesanan subjek karena uang yang dibawa tidak cukup, lalu menyuruh subjek untuk membelinya sendiri.

Subjek berdecak kesal dan mengatakan, “Tolol!” sambil memicingkan

(10)

matanya. Kakak subjek hanya diam menghiraukan perkataan subjek dan segera masuk ke dalam rumah menghampiri tim observer lainnya. Subjek tampak berjalan menuju kamar Ibunya yang terletak di dekat sofa tempat tim observer berkumpul dan terdengar subjek ingin meminta uang. Setelah mendapatkan uang, subjek bergegas pergi dari rumah dengan membawa motor yang sebelumnya telah digunakan oleh kakak subjek dan observer.

Beberapa menit kemudian ketika tim observer sedang berbincang-bincang, subjek tiba kembali ke rumah dengan membawa jajanan. Tidak lama kemudian datang dua orang teman subjek dengan mengendarai sebuah motor yang bunyinya sangat bising. Subjek beranjak untuk membukakan pagar agar kedua temannya dapat memasukkan motor ke dalam garasi.

Subjek bersalaman dengan kedua temannya dan mengajak untuk duduk bergabung bersama teman yang lain di teras. Mereka pun mengobrol dengan disertai kata-kata kasar dan diselingi tertawaan.

Terdengar subjek mendapat telepon dari seseorang. Subjek mengangkat telepon dengan ponsel digenggam di tangan kanan dan diarahkan ke telinga kanan subjek. Tampak wajah subjek yang semula tanpa ekspresi berubah menjadi terkejut dengan mulut sedikit terbuka, mata terbelalak, dan tubuh menegak. Tidak lama subjek mematikan telepon dan mengabarkan bahwa salah satu teman subjek jatuh dari motor saat perjalanan menuju ke rumah subjek. Subjek dan teman-temannya pun panik dan segera beranjak pergi. Tidak lama kemudian, subjek datang kembali.

Subjek berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada kakak subjek mengenai letak kotak P3K. Kakak subjek mengatakan bahwa kotaknya ada di laci dapur berwarna putih, lalu subjek beranjak untuk mengambilnya. Tim observer melihat subjek memberikan obat luka dan perban kepada temannya yang jatuh. Subjek juga memberikan air kepada temannya tersebut untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu yang terdapat di kaki dan siku. Setelah mengobati luka temannya, terdengar subjek mengatakan “Kok bisa jatoh, sih? Tolol!”. Kemudian temannya pun menceritakan kronologi kecelakaannya.

(11)

Observer 9 (Widad Zalfa Khairunnissa 11521508)

Pada pukul 15.18 WIB observasi kembali dilanjutkan. Subjek dan teman-temannya masih mengobrol di teras rumah sambil mengejek dan bercanda dengan temannya yang terjatuh dari motor. Setelah itu, subjek tampak memegang ponsel dengan kedua tangan secara horizontal untuk bermain game online bersama teman-temannya. Setelah melakukan beberapa kali permainan, subjek berkata “Ah udahan, deh! Gua capek ngalahin orang-orang idiot” sambil tertawa dengan posisi kepala miring ke belakang serta gigi, dan lidah yang terlihat. Lalu subjek meninggalkan teman-temannya dan berjalan menuju kandang kucing yang ada di sebelah kanan rumahnya. Kucing-kucing itu terlihat bersih dan terawat. Subjek mulai mengajak salah satu kucing bercanda menggunakan tangannya, sesekali subjek tertawa senang karena berhasil membuat kucing itu melompat-lompat lincah di dalam kandangnya. Seperti yang dikatakan kaka subjek, subjek memang menyukai binatang kucing sehingga subjek cukup lihai berinteraksi dengan binatang lucu itu. Bahkan, subjek juga memberikan nama untuk kucing-kucingnya, yaitu Dava, Rangga, dan Bleki.

Tiba-tiba terdengar suara teriak kencang dari luar, ternyata subjek mendapat gigitan di jari telunjuknya, lalu subjek berkata “Anjing! Perih banget jari gua digigit”. Kemudian kakak subjek langsung menghampiri dan bertanya keadaan jarinya. Subjek yang tidak menghiraukan pertanyaan kakaknya, langsung menuju ke arah dapur yang terdapat laci berwarna putih dan mengambil perban untuk menutupi lukanya.

Subjek kembali keluar menuju teras rumahnya untuk bergabung bersama teman-temannya yang sedang asik mengobrol. Salah satu teman subjek tiba-tiba bertanya kepada subjek mengenai SMA incarannya, subjek langsung menjawab “Yaelah masih liburan, ga usah mikirin sekolah dulu.

Dimana aja yang penting sekolah dah, nyet!”. Subjek dan teman-temannya kembali melanjutkan obrolannya sembari bercanda. Kemudian, teman-

(12)

teman subjek terlihat bersiap-siap untuk pulang, dilanjutkan dengan subjek yang mulai berdiri dan membuka pintu gerbang. Teman-teman subjek mulai berpamitan dengan subjek sambil melakukan tos andalan mereka satu per satu dengan subjek. Setelah teman-temannya pergi, subjek menutup pintu gerbangnya lalu masuk ke dalam rumah untuk makan. Subjek bertanya kepada Ibunya ada makanan atau tidak, Ibu subjek menjawab bahwa makanannya sudah habis sehingga subjek harus membeli keluar. Subjek langsung berkata dengan dahi mengernyit “Anjing! Lagian beli makanan dikit banget, sih! Gua udah laper banget” sambil berjalan masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Ditengah-tengah tim observer bersenda gurau, subjek terdengar memutar beberapa lagu dengan volume tinggi. Tidak lama kemudian, subjek keluar dari kamarnya dan menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum lalu kembali ke dalam kamarnya.

Observer 10 (Nidia Chandra Qanitah 11521031)

Pada pukul 16.53 WIB, subjek duduk sendiri di teras rumah. Kedua kakinya menyila di atas kursi dengan memegang sebatang rokok di sela-sela antara jari telunjuk dan tengah. Sesekali kepalanya menengadah ke atas sembari menyemburkan asap rokok lalu membuang abunya pada asbak yang terletak di atas meja. Tangan kirinya bersandar pada pegangan kursi yang berada di samping subjek. Tergambar sedikit garis senyuman pada wajahnya. Kemudian, tangan kiri subjek meraih ponsel yang berada di samping asbak. Subjek memainkan ponselnya dengan posisi siku tangan bertumpu pada kaki kiri. Lalu subjek memutar beberapa lagu yang bertempo dan berirama lambat. Lagu yang diputar diantaranya berjudul “Rumah ke Rumah” oleh Hindia, “Sampai Jadi Debu” oleh Banda Neira, dan “Anything You Want” oleh Reality Club. Tidak lama, salah satu kucing peliharaan subjek yang berwarna oranye menghampiri subjek. Subjek tersenyum lebar dengan ujung mata menyipit dan langsung menggendong kucing oranye tersebut. Subjek meletakkan dan membelai kucing tersebut menggunakan

(13)

tangan kirinya dengan lemah lembut sembari tetap memegang rokok di tangan kanan. Setelah batang rokok pertama habis, subjek mengambil kembali batang rokok di hadapannya. Kemudian subjek memasukkan rokok ke dalam mulut dengan tangan kiri lalu menyalakan geretan pada ujung rokok. Subjek pun kembali menghisap dan menyemburkan asap rokok.

Beberapa saat kemudian, Ibu subjek keluar dari kamar dan menuju teras. Dengan posisi berdiri, Ibu subjek bertanya kepada subjek ingin dibelikan makanan atau tidak. Subjek menjawab dengan muka masam disertai dahi yang mengerut, “Gua udah ga laper lagi”. Kemudian subjek membuang muka dan menghiraukan keberadaan Ibu subjek. Ibu subjek pun tampak tidak menanggapi persoalan tersebut dan membahas persoalan lain.

Ibu subjek mengingatkan jika setelah merokok, puntung rokok dan abu pada asbak dibuang pada tempat sampah agar kebersihan rumah tetap terjaga.

Mendengar hal itu, subjek langsung menatap Ibunya seraya berkata, “Iya, nanti gua bersihin. Ganggu aja gua lagi santai. Bacot banget, sih!”. Setelah mendengar itu, Ibu subjek meninggalkan subjek dan menuju arah dapur.

Sementara itu, subjek kembali melanjutkan aktivitasnya.

Setelah batang rokok kedua habis, subjek berjalan menuju kamarnya dengan pandangan lurus ke depan. Kemudian subjek masuk dan menutup pintu kamarnya. Subjek cukup lama berada di dalam kamarnya dan observer tidak mendengar suara apapun dari kamar subjek. Sekitar dua puluh lima menit, subjek keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek berwarna hitam. Kemudian subjek mengambil gelas kecil dan membuka pintu kulkas. Subjek mengambil air dingin dan meminumnya sebanyak dua gelas. Bersamaan dengan hal itu, rekan observer di hari pertama datang menemui tim observer di hari kedua. Tim observer hari pertama hanya sekedar berkunjung saja untuk melihat keadaan secara langsung. Observer pun memutuskan untuk menyelesaikan observasi dikarenakan hari mulai gelap. Untuk menandakan usai sudah observasi awal ini, tim observer mengambil foto bersama-sama. Awalnya, tim observer

(14)

berfoto menggunakan kamera depan. Tiba-tiba subjek menghampiri tim observer dan menawarkan ingin dibantu untuk mengambil foto atau tidak.

Tim observer pun mengiyakan dan memberikan ponsel kepada subjek.

Subjek memegang ponsel secara vertikal dengan menggunakan kedua tangannya. Badan subjek tegak sembari menghitung mundur untuk mengambil foto. Setelah memotret beberapa foto, subjek memberikan ponsel kepada kakak subjek menggunakan tangan kanan. Tim observer pun mengucapkan terima kasih karena telah difoto. Kemudian subjek tersenyum dan bergegas kembali ke kamarnya.

B. Tujuan

Untuk mengetahui perilaku delinquency pada anak Sekolah Menengah Pertama.

II. LANDASAN TEORI A. Definisi

Menurut Santrock (2007), kenakalan remaja (juvenile delinquency) merujuk pada berbagai perilaku, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti berbuat onar di sekolah), status pelanggaran (melarikan diri dari rumah), hingga tindakan kriminal (seperti pencurian).

Kenakalan remaja melibatkan tindakan ilegal yang dilakukan oleh anak di bawah umur; di sebagian besar negara bagian, anak di bawah umur adalah orang yang berusia di bawah 18 tahun. Tindakannya bisa sama seriusnya dengan pembunuhan atau hal sepele seperti mengutil. Beberapa tindakan ilegal pada usia berapa pun; yang lain ilegal hanya jika dilakukan oleh remaja (Cobb, 2000).

Juvenile delinquency ialah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah- laku menyimpang (Kartono, 2006).

(15)

Menurut Sarkar (dalam Pal, 2011) menyatakan bahwa juvenile delinquency merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh individu- individu di bawah umur tertentu sebagaimana ditentukan dalam hukum negara. Meskipun usia bisa bervariasi dari satu masyakat ke masyarakat lain, dan bahkan di antara strata yang berbeda dari masyarakat yang sama, sebagaimana yang telah diketahui bahwa mayoritas negara di dunia menetapkan usia, dengan sedikit variasi, kira-kira delapan belas tahun.

Dengan demikian, konsep ‘juvenile’ dapat mencakup anak-anak dan remaja.

Sehingga, secara singkat kecenderungan atau perbuatan kenakalan anak- anak maupun remaja dianggap sebagai ‘juvenile delinquency’.

Kenakalan remaja adalah tahapan menuju gangguan kepribadian anti sosial dewasa, kriminalitas, penyalahgunaan obat-obatan, dan konflik, kekerasan dan terhadap peran perkawinan dan orang tua yang tidak stabil bagi lebih dari setengah semua anak remaja dengan gangguan perilaku.

Farrington (dalam Carr, 2005).

Gold & Petronio (dalam Sarwono, 2010) menyatakan kenakalan anak adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman.

B. Ciri-ciri Delinquency

Menurut Kartono (2009), ciri-ciri juvenile delinquency antara lain adalah:

1. Mereka itu tidak memiliki kesadaran-sosial dan kesadaran-moral. Tidak ada pembentukan super-ego, karena hidupnya berlandaskan pada basis- instiktif yang primitif. Sebab itu mentalnya lemah, labil tidak terbentuk, dan tidak terkendalikan.

2. Ada disharmoni dan disfungsi dari macam-macam dorongan, volusi (kemauan) dan sub-volusi, sehingga pribadinya tidak bisa diintegrasikan, dan menjurus pada sifat psikotis. Selalu ada disequilibrium, yaitu pribadinya selalu tidak imbang. Sehimgga anak

(16)

selalu bertingkah laku berlebih-lebihan (overacting), dan impulsnya jadi liar tidak bisa dikemudikan.

3. Pada kelompok amentia yang punya ciri-ciri jasmaniah, sering timbul rasa “berbeda-beda” atau rasa-defek, sehingga timbul rasa-rasa inferior, frustasi dan dendam. Maka untuk menghaspuskan rasa-rasa minder ini, mereka melakukan kompensasi dengan perbuatan-perbuatan kekerasan.

Bersifat agresif, destruktif dan kriminal, yang secara tidak sadar semuanya dipakai untuk mempertahankan harga dirinya, dan untuk memperoleh atensi serta prestige sosial.

C. Karakteristik Delinquency

Erikson (dalam Santrock, 2004) menyatakan bahwa kenakalan lebih dicirikan oleh kegagalan remaja untuk mencapai integrasi jenis kedua, yang melibatkan aspek identitas peran. Ia berpendapat bahwa remaja yang masih bayi, masa kanak-kanak atau pengalaman remaja entah bagaimana membatasi mereka dari peran sosial yang dapat diterima atau membuat mereka merasa bahwa mereka tidak dapat memenuhi tuntutan yang diberikan pada mereka dapat memilih jalur negatif pengembangan identitas.

beberapa dari remaja ini mungkin mengambil peran nakal, menjerat diri mereka sendiri dalam arus palin negatif dari budaya remaja yang tersedia bagi mereka. jadi menurut Erikson, kenakalan adalah upaya untuk membangun identitas, meskipun itu adalah hal yang negatif.

D. Faktor-Faktor yang Menyebabkan

Philip Graham (dalam Masdudi, 2015) membagi faktor-faktor kenakalan remaja ke dalam 2 golongan, yaitu:

1. Faktor Lingkungan

a. Malnutrisi (kekurangan gizi) b. Kemiskinan di kota0kota besar

c. Gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, dan lain-lain)

d. Migrasi (urbanisasi, pengungsian karena perang, dan lain-lain) e. Faktor sekolah (kesalahan mendidik, faktor kurikulum dan lain-lain)

(17)

f. Keluarga yang bercerai-berai (perceraian, perpisahan yang terlalu lama, dan lain-lain)

g. Gangguan dalam pengasuhan oleh keluarga 2. Faktor Pribadi

a. Faktor bakat yang mempengaruhi temperamen (menjadi pemarah, hiperaktif, dan lain-lain)

b. Cacat tubuh

c. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan diri ‘Sarwono (dalam Masdudi, 2015)’.

Menurut Cobb (2000), faktor-faktor kenakalan remaja melibatkan:

1. Keterampilan Akademik

Anak-anak nakal biasanya tertinggal dari rekan-rekannya dalam prestasi di sekolah. Di sekolah yang memiliki lebih dari satu jalur, mereka cenderung berada di jalur akademik, lebih cenderung putus sekolah, dan cenderung tidak terlibat dalam kegiatan sekolah. Banyak yang tidak mampu belajar, tertinggal dua atau lebih nilai di belakang teman sebayanya, dan banyak yang memiliki keterampilan verbal yang buruk ‘Perlmutter & Quay (Cobb, 2000)’.

2. Harga Diri

Anak nakal biasanya memiliki harga diri yang rendah dan citra diri yang buruk. Mereka kurang tepat dibandingkan rekan-rekan mereka untuk melihat diri mereka kompeten dan sukses ‘Arbuthnut, Gordon, &

Jurkovic (Cobb, 2000)’. Kurangnya keberhasilan di sekolah dan di bidang lain dalam kehidupan mereka—hubungan keluarga, misalnya—

mungkin berkontribusi pada hubungan antara harga diri rendah dan kenakalan ‘Henggeler (Cobb, 2000)’. Kenakalan juga dapat meningkatkan harga diri, terutama bagi mereka yang berada di kelompok berpenghasilan rendah, jika tindakan tersebut mendapat persetujuan rekan ‘Rosenberg, Schooler, & Schoenbach (Cobb, 2000)’.

(18)

3. Hubungan Keluarga

Anak nakal berasal dari rumah yang bercirikan kekerasan, dan banyak yang menjadi korban kekerasan, penelantaran, atau keduanya.

Komunikasi yang buruk, hukuman yang terlalu keras, dan perselisihan orang tua adalah hal biasa ‘Cernkovichs & Giordano; Henggeler;

Huesmann, Lefkowitz, Eron, & Walder (Cobb, 2000)’. Penolakan orang tua, yang dialami sebagai kurangnya kehangatan, kasih sayang, atau cinta, secara konsisten berhubungan dengan kenakalan ‘Simons, Robertson, & Downs (Cobb, 2000)’.

4. Keterampilan Sosial

Anak nakal lebih agresif daripada teman sebayanya dan lebih cenderung mengandalkan fisik daripada sarana verbal untuk menyelesaikan perselisihan ‘Goldstein, Sprafkin, Gershaw, & Klein (Cobb, 2000)’. Di antara sekelompok siswa kelas lima yang mengikuti hingga akhir sekolah menengah, agresi terhadap teman sebaya secara signifikan memprediksi kenakalan remaja ‘Kupersmidt & Coie (Cobb, 2000)’. Studi yang sama menemukan bahwa anak-anak yang ditolak oleh teman sebayanya juga lebih mungkin memiliki kontak polisi atau masalah dengan sekolah, seperti membolos, skorsing, atau putus sekolah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penjahat memiliki keterampilan pemecahan masalah yang lebih buruk daripada teman sebayanya, meskipun ‘Hains dan Ryan (Cobb, 2000)’ telah menyarankan bahwa perbedaan ini mungkin mencerminkan kegagalan untuk melihat perlunya mempertimbangkan solusi alternatif daripada kurangnya kemampuan untuk menghasilkan mereka.

5. Kontrol Diri

Delinquency lebih impulsif dan cenderung tidak bergantung pada batasan perilaku yang terinternalisasi daripada rekan-rekan mereka.

Mereka cenderung menilai situasi dalam hal kebutuhan mereka dan mengevaluasi tindakan mereka dalam hal seberapa besar kemungkinan mereka lolos dari sesuatu. Banyak yang mengungkapkan sedikit rasa

(19)

bersalah atas tindakan mereka, dan beberapa tampaknya percaya bahwa mereka dihukum bukan karena apa yang mereka lakukan, tetapi karena mereka tertangkap ‘Arbuthnut, Gordon, & Jurkovic (Cobb, 2000)’.

Sebagai individu, remaja nakal dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi orang lain dan diri mereka sendiri. Sebagai sebuah kelompok, kehadiran mereka dalam sebuah komunitas bisa menjadi malapetaka.

E. Aspek-aspek atau Jenis Delinquency

Menurut Jensen (dalam Santrock, 2010) kenalakan dibagi menjadi empat jenis:

1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain:

perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain- lain.

2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain.

3. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain: pelacuran, penyalahgunaan obat.

4. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka, dan sebagainya. Pada usia mereka, perilaku- perilaku mereka memang belum melanggar hukum dalam arti yang sesungguhnya karena yang dilanggar adalah status-status dalam lingkungan primer (keluarga) dan sekunder (sekolah) yang memang tidak diatur oleh hukum secara terinci. Akan tetapi, kalau kelak remaja ini dewasa, pelanggaran status ini dapat dilakukannya terhadap atasannya di kantor atau petugas hukum di dalam masyarakat. Karena itulah pelanggaran status ini oleh Jensen digolongkan juga sebagai kenakalan dan bukan sekadar perilaku menyimpang.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian tentang Prevalensi Skoliosis Tingkat Pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas pada Sekolah Dasar Negeri Sumber

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (Studi Kasus pada di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Jumantono). Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

Berdasarkan tabel 1 dapat disimpulakan bahwa responden yang merupakan pelajar Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) mempunyai usia rata-rata pada usia 11 sampai 16 tahun,

Pembiayaan yang dimulai dari kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan laporan pertanggungjawaban dalam pembiayaan Sekolah Menengah Pertama berbasis Pesantren.?. Bagaimana

Berdasarkan tabel 1 dapat disimpulakan bahwa responden yang merupakan pelajar Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) mempunyai usia rata-rata pada usia 11 sampai 16 tahun,

Berdasarkan penelitian tentang Prevalensi Skoliosis Tingkat Pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas pada Sekolah Dasar Negeri Sumber

Dokumen ini berisi pernyataan lulus dari Sekolah Menengah Pertama dengan tanggal

Panduan akreditasi untuk sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas di