• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN PENELITIAN DOSEN PEMULA

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN PENELITIAN DOSEN PEMULA"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

Tujuan penelitian adalah mengukur efektivitas model edukasi pada pasien PMO dan diabetes tipe 2 serta menentukan model edukasi yang paling efektif dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes tipe 2 di Puskesmas Kabupaten Makasar dan Dinas Kesehatan Kelurahan Kebon Pala. Pusat di Jakarta Timur. . Model edukasi berupa ceramah dan pembagian booklet kepada pasien diabetes tipe 2 di Puskesmas Makasar dan Puskesmas Kelurahan Kebon Pala efektif meningkatkan kepatuhan pasien dengan menurunkan skor HbA1c dan MMAS-8. Ansari Saleh Banjarmasin menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pengobatan penderita diabetes adalah rendah (42,7%), sedang (39,1%) dan tinggi (18,2%).

Intervensi diberikan kepada kelompok PMO dan pasien DM tipe 2 dan kelompok pasien DM tipe 2 tanpa PMO yang bersedia menjadi responden. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien DM tipe 2 rawat jalan yang dirawat selama masa penelitian di Puskesmas Kabupaten Makassar dan Puskesmas Kelurahan Kebon Pala Jakarta Timur.

Gambar 3.1 Rancangan Penelitian
Gambar 3.1 Rancangan Penelitian

Karakteristik Pasien

Karakteristik Sosio-demografi

Berdasarkan kriteria penerimaan, ditentukan bahwa 30 pasien menyelesaikan 3 sesi pendidikan dengan pra dan pasca tes untuk skrining HbA1c dan menyelesaikan kuesioner MMAS-8. Presetiawati (2014) menunjukkan hasil yang sama dengan prevalensi penderita DM tipe 2 lebih besar dibandingkan perempuan. Responden yang masuk dalam kriteria inklusi penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 yang berobat ke Puskesmas Kabupaten Makassar dan Puskesmas Kelurahan Kebon Pala dengan kelompok usia di atas 18 tahun.

Pemilihan rentang usia tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa menurut pendataan yang dilakukan Kementerian Kesehatan, untuk penyakit degeneratif mulai usia 18 tahun (Riskesdas 2013). Hal ini terjadi karena risiko berkembangnya DM tipe 2 meningkat seiring bertambahnya usia (Perkeni 2006). Hal ini dikarenakan sebagian besar responden adalah ibu rumah tangga dan sebagian pensiunan karena usia responden sama dengan atau lebih dari 60 tahun atau berada pada kelompok usia yang lebih tua.

Karakteristik Klinik

Responden sebesar 13,3% mengalami efek samping berupa lemas, pusing dan tremor setelah menggunakan glibenclamide serta mual dan kembung setelah menggunakan metformin. Kelemahan dan tremor merupakan gejala hipoglikemia yang dapat terjadi setelah penggunaan sulfonilurea antidiabetes seperti glibenklamid tanpa asupan kalori yang cukup atau setelah aktivitas fisik yang berat (Lacy et al. 2011). Gejala hipoglikemia biasanya terjadi bila kadar glukosa darah kurang dari 60 mg/dl, pengobatannya dengan minum air putih dengan gula (teh manis, sirup, dll) tetapi tidak dengan pemanis buatan, kemudian makan nasi seperti biasa (Soegondo et al. 2011). ).

Obat herbal yang digunakan responden seperti daun insulin, daun salam, daun sambiloto dan kulit manggis dipercaya dapat membantu mengontrol kadar gula darah. Sebagian besar tanaman ini telah dinyatakan memiliki sifat hipoglikemik, namun sebagian besar klaim ini hanya dugaan dan hanya sebagian kecil yang telah diuji secara medis dan ilmiah. Belum ada cukup bukti untuk menarik kesimpulan tegas tentang efek tanaman obat pada penderita diabetes (Yeh et al. 2003).

Tabel 4.2 Karakteristik Klinik
Tabel 4.2 Karakteristik Klinik

Karakteristik Gaya Hidup

Penekanan pada tujuan terapi nutrisi medis pada DM tipe 2 seharusnya untuk mengontrol glukosa, lipid dan hipertensi. Perencanaan makan harus mengandung nutrisi yang cukup dan disertai dengan pengurangan lemak total, terutama lemak jenuh (Soegondo et al. 2011). Berdasarkan aktivitas fisik, dalam “The Canadian Diabetes Association (CDA) 2003 Clinical Practice Guidelines” merekomendasikan penderita DM tipe 2 untuk melakukan aktivitas fisik intensitas sedang seperti jalan cepat dan bersepeda minimal 150 menit per minggu, minimal 3 kali seminggu. hari berturut-turut (Plotnikoff, 2004) ).

Pengaruh Edukasi terhadap Tingkat Kepatuhan berdasarkan Nilai HbA1c dan Skor MMAS-8

Penurunan nilai mean HbA1c ini menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan pada pasien DM tipe 2 setelah penyuluhan tentang HbA1c sebagai variabel pengukuran. Tingkat kepatuhan responden pada awal penelitian baik berdasarkan MMAS-8 maupun HbA1C sama dengan hasil analisis review yang dilakukan oleh Cramer (2004) yang menyatakan bahwa tingkat kepatuhan pasien diabetes melitus tipe 2 penderita diabetes umumnya berkisar antara 36-93% pada pasien yang menerima obat antidiabetes oral dengan ADO. Beberapa studi intervensi pendidikan oleh apoteker telah menunjukkan bahwa mereka meningkatkan kontrol dan kepatuhan pada pasien dengan diabetes tipe 2.

Intervensi pendidikan yang diberikan oleh apotek juga dapat meningkatkan kontrol dan kepatuhan glukosa darah pada pasien dengan DM tipe 2 (Jennings et al. 2007). Prinsip pengobatan diabetes tipe 2 tidak hanya mencakup penggunaan ADO, tetapi juga penyesuaian pola makan dan olahraga. Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Kravitz yang menyatakan bahwa tingkat kepatuhan pasien DM tipe 2 terhadap modifikasi diet berkisar antara 30-87%.

Alasan paling umum terkait ketidakpatuhan pasien DM tipe 2 terhadap pola makan atau pola makan adalah faktor situasional jika pasien makan di luar rumah, seperti makan di restoran atau saat menghadiri acara undangan tertentu (Ary et al. 1986). Sama halnya dengan hasil penelitian Hernández-Ronquillo yang menyatakan bahwa angka ketidakpatuhan pasien DM tipe 2 dalam berolahraga sebesar 85% (Ronquillo et al. 2003). Secara umum berdasarkan hasil penelitian randomized survey juga dinyatakan bahwa kepatuhan diet dan olahraga pada pasien DM tipe 2 umumnya kurang optimal (Adisa, et al. 2009).

Secara umum berdasarkan hasil penelitian randomized survey juga dinyatakan bahwa kepatuhan diet dan olahraga pada pasien DM tipe 2 umumnya kurang optimal (Adisa, et al. 2009).

Tabel 4.4 menunjukkan rata-rata pengukuran HbA1c sebelum dan setelah  intervensi.
Tabel 4.4 menunjukkan rata-rata pengukuran HbA1c sebelum dan setelah intervensi.

Korelasi Nilai HbA1c dengan Skor MMAS-8

Pada penelitian ini hanya 20% (6 responden) yang berolahraga sesuai anjuran Perkeni yaitu lebih dari 3 kali dalam seminggu selama 30 menit. Penelitian yang dilakukan oleh Kravitz juga melaporkan bahwa kepatuhan pasien DM sebesar 19%. Pada umumnya responden dalam penelitian ini tidak berolahraga karena malas atau tidak terbiasa dengan kebiasaan berolahraga.

Alasan tersebut senada dengan hasil survei yang dilakukan Kamiya terhadap 570 pasien diabetes yang menyebutkan bahwa alasan utama pasien tidak berolahraga adalah pasien tidak sempat berolahraga, pasien tidak memiliki kebiasaan berolahraga, dan pasien tidak memiliki keinginan untuk berolahraga (Ronquillo et al. 2003). Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien yang memiliki tingkat kepatuhan tinggi dapat digambarkan dengan skor MMAS-8 yang rendah dan kadar HbA1c yang rendah. Pernyataan ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Krapek et al (2004) bahwa pasien dengan skor MMAS rendah memiliki kadar HbA1c yang rendah.

Kesimpulan

Saran

Alfian R., 2015, Hubungan antara kepatuhan dengan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus rawat jalan di RSUD Dr. Analisis efektivitas pemberian booklet obat terhadap tingkat kepatuhan ditinjau dari kadar hemoglobin terglikasi (HbA1C) dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS)-8 pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Bakti Jaya Kota Depok. Hubungan antara koping, pengetahuan diabetes, kepatuhan pengobatan dan perilaku perawatan diri pada orang dewasa dengan diabetes tipe 2.

Revisi Skala Kepatuhan Obat Morisky empat item (MMAS-4) dan Skala Kepatuhan Obat Morisky delapan item (MMAS-8). Penilaian kepatuhan pasien DM tipe 2 melalui leaflet. dihimpun dengan pasien di Puskesmas Beji dan Pancoran Mas. Fakultas Farmasi dan Sains Universitas Muhammadiyah Prof. Melakukan edukasi pada kelompok sampel penderita DM tipe 2 - analisis data.

Fakultas Farmasi dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Muhammadiyah Prof. Berikan pre-test dan post-test dengan kuesioner MMAS-8 pada sampel pasien DM tipe 2 - analisis data.

Identitas diri

Pengalaman Penelitian dalam 5 tahun terakhir

Risiko usia terhadap efek samping obat pada pasien hipertensi, diabetes, dislipidemia di Puskesmas Kota Depok.

Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 tahun terakhir

Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 tahun terakhir

1 Ya Batasi makan Batasi makan Tidak ada 1-2 kali seminggu 2 Tidak ada Batasi gula Batasi gula Tidak ada 1-2 kali seminggu 3 Tidak ada Batasi gula Batasi makan 1-2 kali seminggu 1-2 kali seminggu 4 Tidak ada Tidak ada Batasi makan Tidak 1-2 kali seminggu. 6 Tidak ada Batasi makan Batasi makan Tidak ada Tidak ada 7 Hipoglikemia Tidak ada Batasi makan Tidak ada 2-3 kali seminggu 8 Tidak ada Tidak ada Batasi gula Tidak ada 2-3 kali seminggu. 10 Tidak ada Batasi makan Batasi gula 1-2 kali seminggu 1-2 kali seminggu 11 Mual Batasi makan Batasi makan >3 kali 1-2 kali seminggu 12 Tidak ada Tidak ada Batasi gula 1-2 kali seminggu 1-2 kali seminggu 13 Tidak ada Batas makan Batas makan >3 kali 1-2 kali seminggu 14 Tidak ada Batas makan Batas makan Tidak ada 1-2 kali seminggu 15 Tidak ada Tidak ada Batas makan 1-2 kali seminggu 1-2 kali seminggu 16 Tidak ada Batas batas gula gula 1-2 kali seminggu 1-2 kali seminggu 17 Tidak ada Batas makan Batas makan 2-3 kali seminggu 1-2 kali seminggu 18 Tidak ada Batas makan Batas gula >3 kali >3 kali 19 Tidak ada Batas makan Batas makan Tidak ada Tidak ada 20 Tidak ada Tidak ada Batasi makan Tidak ada Tidak ada 21 Kocok tidak ada Batasi gula 1-2 kali seminggu 2-3 kali seminggu 22 Tidak ada batas gula Batasi makan 1-2 kali seminggu 1-2 kali seminggu 23 Tidak ada Tidak ada Batasi gula Tidak ada Tidak ada 24 Tidak ada Batasi gula Batasi makan 1-2 kali seminggu 2-3 kali seminggu 25 Tidak ada Tidak ada Batasi gula >3 kali >3 kali 26 Tidak ada Batasi gula Batasi makan >3 kali >3 kali 27 Tidak ada batasan gula Batasi makan 2 -3 kali seminggu 1-2 kali seminggu 28 Tidak ada Batasi makan Tidak ada >3 kali >3 kali 29 Tidak ada Batasi gula Batasi gula 1-2 kali seminggu 1-2 kali seminggu 30 Tidak ada Batasi makan Batasi makan Tidak ada 1- 2 kali seminggu.

Lama DM Jumlah penyakit penyerta Jumlah obat Efek samping 1 = > 5 tahun 1 = tidak ada penyakit penyerta; 1= 1 ADO tipe 1 = tidak ada;. Tujuan: untuk mengetahui apakah ada perbedaan kadar HbA1c sebelum dan sesudah pendidikan dengan memberikan brosur dan ceramah. Paired t-test kadar HbA1c sebelum dan sesudah edukasi pemberian brosur dan ceramah.

Tujuan: untuk melihat apakah ada perbedaan nilai HbA1c sebelum dan sesudah pendidikan dengan memberikan booklet dan ceramah. Ho : Tidak ada perbedaan nilai HbA1c sebelum dan sesudah pendidikan melalui booklet dan perkuliahan. Kesimpulan: ada perbedaan yang signifikan antara nilai HbA1c sebelum dan sesudah pendidikan melalui booklet dan ceramah.

Ho : Tidak ada perbedaan nilai MMAS8 sebelum dan sesudah mengajar dengan pemberian booklet dan ceramah. Tujuan: untuk melihat hubungan kadar HbA1c dengan skor MMAS-8 sebelum dan sesudah pendidikan dengan pemberian booklet dan ceramah. Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara kadar HbA1c dengan skor MMAS-8 sebelum dan sesudah pengajaran dengan pemberian booklet dan ceramah.

Gambar

Gambar 3.1 Rancangan Penelitian
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
Gambar 3.2 Kerangka Konsep
Gambar 4.1 Alur Pendapatan Sampel Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

In its development, Pangandaran Beach became the main tourist area of Pangandaran Regency, even West Java, which was able to be used as a source of

Berdasarkan hasil tingkat kepatuhan responden dalam penelitian ini, Tingkat kepatuhan Patuh pasien sebanyak 32 responden (91,42%) dengan skor 8, tingkat kepatuhan