Judul penelitian: Deskripsi status gizi, pengetahuan gizi dan keamanan pangan, kebiasaan sarapan pagi dan kebiasaan jajan pada anak sekolah dasar di Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur Jawa Barat 2. Target temuan: gambaran status gizi dan variabel yang diduga mempengaruhi status gizi anak anak usia sekolah. Untuk mencapai status gizi yang baik pada anak sekolah diperlukan pola makan yang baik sesuai dengan prinsip gizi modern.
Meskipun persentase anak sekolah dasar di Indonesia mengalami penurunan dari 35,8% (Riskesdas 2010) menjadi 30,7% (Riskesdas, 2013), namun persentase tersebut masih sangat tinggi dan merupakan masalah gizi masyarakat yang tentunya memprihatinkan. Meskipun persentase anak sekolah dasar di Indonesia mengalami penurunan dari 35,8% (Riskesdas 2010) menjadi 30,7% (Riskesdas, 2013), persentase tersebut masih sangat tinggi dan merupakan masalah gizi masyarakat. Untuk mencapai status gizi yang baik pada anak sekolah, harus dilakukan upaya nyata untuk memenuhi kebutuhan gizinya.
Oleh karena itu perlu diketahui bagaimana gambaran status gizi, pengetahuan gizi dan ketahanan pangan, kebiasaan sarapan dan jajan anak sekolah dasar di Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Pengetahuan gambaran status gizi, pengetahuan gizi dan keamanan pangan, kebiasaan makan pagi dan jajan anak sekolah dasar di Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Beberapa alasan mendasari pentingnya penelitian untuk mengetahui bagaimana pengetahuan gizi dan keamanan pangan, sarapan dan kebiasaan jajan mempengaruhi status gizi anak sekolah dasar di Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur Jawa Barat.
Meskipun persentase anak SD pendek di Indonesia mengalami penurunan dari 35,8% (Riskesdas 2010) menjadi 30,7%. Riskesdas, 2013), namun persentase ini masih sangat tinggi dan menjadi masalah gizi masyarakat.
Status Gizi
Masalah status gizi yang dialami anak sekolah akan mengakibatkan penurunan stamina, peningkatan morbiditas, pertumbuhan abnormal, kecerdasan rendah, produktivitas menurun dan pertumbuhan organ reproduksi terhambat (Epridawati, 2012). Menurut Worthtington-Robert (2000), faktor yang mempengaruhi konsumsi di kalangan remaja terbagi menjadi faktor eksternal dan faktor internal Faktor eksternal merupakan faktor yang dapat mempengaruhi status gizi yang berasal dari luar diri manusia, sedangkan faktor internal merupakan faktor yang dapat mempengaruhi status gizi orang itu sendiri. Bagi manusia, makanan tidak hanya berfungsi untuk mengenyangkan kita, namun yang lebih penting adalah fungsinya dalam menjaga kesehatan tubuh melalui manfaat nutrisi yang dikandungnya.
Tingkat pengetahuan gizi mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang karena berkaitan dengan penalaran, pengalaman dan kejelasan konsep mengenai objek tertentu. Setiap orang hanya akan tercukupi gizinya jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan energi tubuh yang optimal. Tingkat pengetahuan gizi seseorang mempengaruhi sikap dan perilaku saat memilih makanan yang pada akhirnya akan mempengaruhi status gizi orang tersebut.
Semakin tinggi tingkat pengetahuan gizi seseorang diharapkan akan semakin baik status gizinya (Irawati et al. 1992). Menunda sarapan pagi dapat menyebabkan kekurangan zat gizi pada tubuh di pagi hari dan meningkatkan resiko malnutrisi (Kleinman et al. 2002). Konsumsi, ketersediaan pangan serta kecukupan energi dan zat gizi dapat dipengaruhi oleh status sosial ekonomi keluarga.
Penelitian Kurnia Noviani, 2015 tentang kebiasaan jajan dan pola makan serta hubungannya dengan status gizi anak usia sekolah di SDN Sonosewu Bantul Yogyakarta diketahui responden yang memiliki kebiasaan jajan sering dengan status gizi normal sebanyak 27 responden. (81%), dan yang jarang jajan dengan status gizi kurus sebanyak 7 responden (21,9%). Responden dengan pola makan baik >80% AKG dengan status gizi buruk sebanyak 9 responden (75%) dan responden yang memiliki pola makan kurang baik dengan status gizi normal sebanyak 34 responden (66%). Hubungan antara pengetahuan gizi, ketahanan pangan dan kebiasaan jajan dan sarapan terhadap status gizi diduga dipengaruhi oleh karakteristik anak dan karakteristik keluarga.
Konsumsi jajanan di lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku kebiasaan jajan anak. Hal ini diduga dipengaruhi oleh faktor kesukaan anak dan pengaruh teman sebaya sehingga frekuensi jajan anak semakin meningkat. Kebiasaan jajan anak dapat dilihat dari jenis jajanan dan frekuensi jajan yang diyakini mempengaruhi asupan gizi yang dikonsumsi anak. Selain itu, dapat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga terutama terkait dengan kondisi sosial ekonomi keluarga yang diyakini dapat mempengaruhi kebiasaan jajan anak.
Keluarga berpenghasilan rendah cenderung membeli makanan yang lebih murah, sedangkan keluarga berpenghasilan tinggi akan menggunakan pendapatannya untuk membeli lebih banyak makanan atau makanan yang lebih mahal. Tingkat pengetahuan gizi yang baik seharusnya mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam memilih dan mengkonsumsi makanan.
JenisPenelitian
Tempat dan Waktu Penelitian
Populasi dan Sampel Penelitian
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur berat badan menggunakan timbangan kaki dengan ketelitian 0,1 kg dan tinggi badan dengan alat ukur tinggi badan (microtoise) dengan ketelitian 0,1 cm.
PengolahanData
Tinggi jika skor total pengetahuan ≥ nilai median Rendah jika skor total pengetahuan < median nilai b, Kebiasaan makan pagi. Contoh kebiasaan ngemil meliputi jenis dan frekuensi ngemil serta tingkat preferensi untuk belanja ngemil. Analisis univariat adalah analisis dengan menggunakan satu variabel, yang dilakukan dengan menggunakan tabel-tabel dengan penjelasan tambahan berupa narasi, analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik variabel dependen dan variabel independen (Hastono, 2007). penelitian akan diterapkan pada beberapa variabel yang terdapat dalam penelitian.
Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan terhadap dua variabel. Analisis ini digunakan untuk mengetahui besarnya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat atau untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara 2 kelompok atau lebih. Untuk mengetahui adanya hubungan antara dua variabel bebas dan terikat, peneliti menggunakan metode Chi-Square yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Pada prinsipnya uji Chi-Square dilakukan untuk membandingkan nilai-nilai yang diperoleh pada saat pengamatan dengan nilai yang diharapkan atau nilai yang diharapkan (Hastono, 2007).
Karakteristik Responden
Kebiasaan jajan siswa dalam kategori sering yaitu 38 responden (60,3), dan kebiasaan siswa dalam kategori jarang yaitu 25 siswa (39,7). Tingkat pengetahuan gizi dan makanan jajanan siswa di SD Sukamanah dan Sukaasih terdistribusi dengan skor minimal 35 dan skor maksimal 75, dengan nilai mean dan median 50. Setelah dilakukan pengelompokan berdasarkan nilai yang diperoleh ≤ 50 dan > 50, ternyata siswa yang memiliki pengetahuan rendah sebanyak 35 responden (55,6%) dibandingkan dengan siswa yang memiliki pengetahuan tinggi yaitu 28 (44,4%).
Pengukuran status gizi (IMT/U) responden dikelompokkan menjadi 3 kelompok dan sebagian besar responden (44,4%) berstatus gizi normal.
Analisis Bivariat
Hal ini dimungkinkan paling tidak sampel yang digunakan dari masing-masing sekolah. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurnia N, 2015 di SD Wonosewu, Bantul, Jogjakarta. Dari tabel di atas terlihat bahwa dari 38 siswa yang memiliki kebiasaan sering jajan terdapat 21 orang (55,3%) yang memiliki status gizi tidak normal, dan responden yang jarang jajan dengan status gizi normal sebanyak 11 orang. responden (44) %). Hasil analisis chi-square hubungan kebiasaan jajan dengan status gizi diperoleh p 0,954 (p>0,05), yang berarti tidak ada hubungan antara kebiasaan jajan dengan status gizi. diselenggarakan oleh Kurnia N, 2015 di SD Wonosewu, Bantul, Jogjakarta.
Hasil analisis chi-square hubungan kebiasaan jajan dengan status gizi diperoleh p 0,781 (p>0,05), yang artinya tidak ada hubungan antara kebiasaan jajan dengan status gizi. Begitu juga dengan hasil penelitian Trini Maudi, 2016 pada anak sekolah dasar di Kota Bogor. Tidak ada hubungan bermakna (p>0,05) antara kebiasaan sarapan dengan status gizi. Penelitian Syaidatul, Lisma, 2016 pada anak sekolah dasar SD Sukabagus kelas 4, 5 dan 6 Tasikmalaya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang gizi dengan status gizi. Hasil tersebut memungkinkan penelitian ini mengambil jumlah sampel yang sedikit dan karena variabel tersebut merupakan penyebab tidak langsung yang mempengaruhi status gizi anak sekolah dasar.
Sehingga ada variabel lain yang lebih dominan mempengaruhi status gizi seperti asupan makanan, pola makan.
Kesimpulan
Hubungan antara karakteristik keluarga dan konsumsi pangan dengan status gizi dan prestasi pendidikan anak sekolah dasar pendek dan normal [thesis]. 2009. Pengetahuan tentang pola makan, olah raga, konsumsi jajanan dan makanan lainnya pada siswa sekolah dasar di Bogor dengan status gizi normal dan berlemak. 2013 Pengetahuan gizi dan keamanan pangan serta kebiasaan jajan pada anak di SD Negeri Sukadunia 03 Bogor dan SD Negeri Situgede 04 Bogor (Skripsi), Institut Pertanian Bogor.
Fariza Yulia Kartika Sari, 2015 Menghubungkan pengetahuan, Perilaku hidup bersih sehat, status gizi dengan status kesehatan anak sekolah dasar (Skripsi), Institut Pertanian Bogor. Pengetahuan gizi ibu dan kebiasaan makan makanan siswa serta hubungannya dengan status gizi siswa SDN Cipicung 01 Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor [Skripsi]. Bogor: Gigizi Pangan Indonesia, PT Kraft Food Indonesia dan Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Hasil penelitian kebiasaan jajan dan pola makan serta hubungannya dengan status gizi anak usia sekolah di SD Sonosewu Bantul Yogyakarta, Jurnal Gizi dan Diet Indonesia, volume 4, nomor 2, Mei 2016. Maudi Trini Kusprasetia, 2016 Hubungan antara Kebiasaan Makan Pagi dan Pembelajaran Status Gizi dan Prestasi Anak Sekolah Dasar di Kota Bogor Skripsi Ipb. Hubungan konsumsi jajanan, higiene dan sanitasi dengan angka kesakitan dan status gizi anak di SD Negeri Serua 3 Tangerang Selatan dan Negeri Parakan 1 Tangerang Selatan [disertasi].
Syaidatul, Lisma, 205) Hubungan pengetahuan gizi dan pola makan dengan status gizi keluarga pada anak sekolah dasar di Sukafun Tasikmalaya, (Tulisan Karya), D III Gizi Kementerian Kesehatan Tasikmalaya RI. Hubungan pengetahuan gizi dengan persepsi keamanan pangan jajanan pada guru sekolah dasar di Bogor [Disertasi]. Kebiasaan jajan dan kontribusi energi dan zat gizi makanan jajanan terhadap kecukupan gizi siswa SDN Pajeleran 01 Kabupaten Bogor [Disertasi].
Faktor-faktor yang berhubungan dengan status anemia anak usia sekolah di SDN Palasari 02 Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor [Disertasi]. Perilaku pemasok makanan jajanan anak sekolah terkait gizi dan keamanan pangan di Jakarta dan Sukabumi. Yuni Yanti Mariza, 2012 Hubungan Kebiasaan Sarapan Dan Kebiasaan Jajan Dengan Status Gizi Anak Sekolah Dasar Di Kelurahan Pedurungan Kota Semarang Skripsi Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.