LAPORAN PRAKTIKUM PERPETAAN TOPOGRAFI
PENGOLAHAN TOPOGRAFI
Oleh :
TATAN TURMUDZI 115.220.008 KELOMPOK 01
LABORATORIUM GEOFISIKA EKSPLORASI JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2023
HALAMAN PENGESAHAN PENGOLAHAN TOPOGRAFI
Laporan ini disusun sebagai syarat mengikuti acara Praktikum Perpetaan Topografi selanjutnya, tahun ajaran 2023/2024, Program Studi Teknik Geofisika, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Yogyakarta .
LABORATORIUM GEOFISIKA EKSPLORASI JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA 2023
Disusun Oleh : TATAN TURMUDZI
115.220.008
ACC 1
ACC 2
Haris Muhlisin Alfito Abdhul Ghoni
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpabkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, sehingga kita dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Perpetaan Topografi dengan judul “Pengolahan Topografi”
Dimana praktikum ini adalah suatu silabus mata kuliah yang harus clilaksanaka:n oleh mahasiswa/i Teknik Geofisika Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan “Veteran” Yogyakarta Tahun Ajaran 2023/2024. Dalam laporan praktikwn ini, saya menyadari masih banyak kekurangan baik dalam penulisan maupun dalam susunan kalimat yang mana saya mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan laporan ini.
Saya harap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi saya dan para pembaca, dan pada Allah SWT kami serahkan segalanya demi tercapainya keberhasilan yang sepenuhnya.
Yogyakarta, 8 Oktober 2023
TATAN TURMUDZI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………...……….i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Maksud dan Tujuan... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Geologi Regional ... 3
2.2 Geologi Lokal ... 4
BAB III DASAR TEORI ... 7
3.1. Konsep Dasar Alat ... 7
3.2. Perhitungan Dasar ... 7
3.3. Poligon ... 8
3.4. Koreksi Data ... 10
3.4.1. Koreksi Sudut Dalam ... 10
3.4.2. Koreksi Poligon ... 10
3.4.3. Koreksi Beda Tinggi ... 11
3.5 Kontur ... 11
3.6. Interpolasi ... 13
BAB IV METODOLOGI ... 16
4.1. Diagram Alir Pengolahan Data ... 16
4.2. Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data ... 17
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 18
5. 1. Tabel Perhitungan ... 18
5.1.1. Tabel Koreksi Poligon ... 18
5.1.2. Tabel Koreksi Sudut Dalam... 20
5.1.3 Tabel Koreksi Beda Tinggi ... 20
5. 2. Perhitungan ... 23
5.2.1. Koreksi Poligon ... 23
5.2.2 Koreksi Sudut Dalam ... 23
5.2.3 Koreksi Beda Tinggi ... 24
5.2.4 Perhitungan Titik Detil ... 24
5.2.5. Perhitungan Metode Interpolasi ... 24
5. 3. Peta Polygon Sistem Azimuth ... 25
5. 4 Peta Polygon Sistem Koordinat ... 26
5. 6. Peta Topografi ... 27
BAB VI PENUTUP ... 30
6.1. Kesimpulan ... 30
6.2. Saran ... 31
DAFTAR PUSTAKA ... 32 LAMPIRAN
LAMPIRAN A. Lembar Konsultasi
LAMPIRAN B. Peta Poligon Sistem Azimuth LAMPIRAN C. Peta Poligon Sistem Koordinat LAMPIRAN D. Peta Topografi
LAMPIRAN E. Perhitungan Koreksi Poligon LAMPIRAN F. Perhitungan Koreksi Sudut Dalam LAMPIRAN G. Perhitungan Koreksi Beda Tinggi LAMPIRAN H. Perhitungan Titik Detil
LAMPIRAN I. Perhitungan Metode Interpolasi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Stratigrafi Pegunungan Selatan Menurut Surono (2009)……...…...4
Gambar 2.2. Peta Geologi Kabupaten Bantul dan Sekitarnya (Modifikasi dari Rahardjo dkk, 1995 dan Surono dkk, 1992)………6
Gambar 3.1. Pengukuran menggunakan Total Station (Parseno, 2010)…………7
Gambar 3.2. Poligon Tertutup (Suhendra, 2011)………..9
Gambar 3.3. Poligon Terbuka ( Suhendra, 2011)……….10
Gambar 3.4. Garis Kontur (Sumber: Rostianingsih, dkk., 2004)……….12
Gambar 3.5. Sifat Garis Kontur (Rostianingsih, dkk., 2004)………...13
Gambar 3.6. Interpolasi dengan metode IDW dengan perubahan nilai power (Pramono, 2008)……….15
Gambar 4.1 Diagram Alir Pengolahan Data……….16
Gambar 5.1. Peta Poligon Sistem Azimuth………..……25
Gambar 5.2. Peta Poligon Sistem Koordinat………26
Gambar 5.3. Peta Topografi...………..………27
Gambar 5.4. Peta citra satelit daerah penelitian………...28
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1. Perhitungan Dasar Horizontal Azimut………..18
Tabel 5.2. Perhitungan Dasar Vertikal Azimuth………18
Tabel 5.3. Perhitungan Dasar α, SD, D dan D Rata-rata………...19
Tabel 5.4. Koreksi Poligon………19
Tabel 5.5. Titik Ploting………..19
Tabel 5.6. Koreksi Sudut Dalam………...20
Tabel 5.7. Perhitungan Dasar Y, Y Rata-rata, ∆H, ∆H Rata-rata, ∆H Koreksi, ∆H Terkoreksi………..20
Tabel 5.8. Koreksi Beda Tinggi………21
Tabel 5.9. Tabel Detil BM 1………..21
Tabel 5.10. Tabel Detil BM 2………22
Tabel 5.11. Tabel Detil BM 3………22
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Bukit Mengger merupakan Kawasan situs sesar opak, Pada lokasi ini dapat dijumpai bidang sesar mendatar dengan kemiringan bidang relatif tegak dengan arah relatif timur laut-barat daya. Sesar ini merupakan salah satu segmen Zona Sesar Opak yang tersingkap. Kedudukan bidang sesar yang memotong lapisan tanah dengan ketebalan sekitar 50 cm -5 m mengindikasikan bahwa sesar ini merupakan sesar aktif. Bukti -bukti sesar dapat diamati di beberapa wilayah Kapanewon/Kecamatan Jetis dan Pleret.
Perbukitan struktural yang pembentukannya sangat dipengaruhi oleh aktifitas sesar mendatar Sesar Opak. Selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi batuan dasar berupa batuan epiklastik gunungapi Formasi Semilir yang relatif keras.
Peta adalah gambaran dari permukaan bumi dengan ukuran yang lebih kecil biasanya dengan skala tertentu dan digambarkan di atas bidang datar dalam bentuk simbol-simbol yang sifatnya selektif serta melalui suatu sistem proyeksi tertentu. Sedangan definisi peta menurut I.C.A (International Cartographic Assosiation) ialah: ”Peta adalah gambaran konvensional dan selektif yang diperkecil, biasanya dibuat pada bidang datar, dapat meliputi perujudan-perujudan (features) dari pada permukaan bumi atau benda angkasa, letak maupun data yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda angkasa” (Utami,2019). Peta adalah suatu penyajian pada bidang datar dari seluruh atausebagian unsur permukaan bumi yang digambar dalam skala tertentu.Dapat pula diartikan sebagai proyeksi orthogonal dari suatu kenampakanbentang alam ke dalam bidang datar (Humaira, 2011)
Peta topografi yaitu peta yang menggamabrkan bentuk tinggirendahnya permukaan bumi. Dalam peta topograf digunakan gariskontur, yaitu garis yang menghubungkan tempat-tempat yangmempunyai ketinggian sama. (Humaira, 2011). Peta kontur adalah representasi grafis dari kontur atau perubahan ketinggian
permukaan tanah dalam bentuk garis-garis isobath. Isobath adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian yang sama di atas permukaan laut.
(Rahman, 2013).
1.2.Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum perpetaan topografi Pengolahan Topografi ini agar dapat memahami dan mengetahui cara penngolahan data untuk membuaat peta topografi, memahami cara mengolah data menngunakan exel, memahami cara membuaat peta Kontur dengan surfer, serta memehamai cara membuat peta topografi dengan metode interpolasi.
Tujuan dari praktikum pemetaan topografi ialah agar dapat mengolah data dengan benar dan mampu membuat peta topografi, peta polygon system azimuth dan peta polygon system koordinat dengan benar. Selain itu, praktikum ini juga bertujuan untuk mempelajari cara penggambaran garis kontur pada peta dan menerapkan interpolasi pada peta topografi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Geologi Regional
Umumnya, wilayah Pegunungan Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta disusun oleh batuan gunung api berumur Tersier. Batuan gunung api tersebut membentuk bentang alam hampir melingkar dan berelief kasar-sangat kasar. Di wilayah ini, kegiatan gunung apinya diawali oleh pembentukan batuan gunung api berkomposisi basal – andesit basal berupa lava bantal basal yang menyusun Formasi Kebo-Butak, Formasi Wonolelo, sedangkan Formasi Sindet, Formasi Semilir terdiri atas tuf coklat, tuf putih, breksi pumis berkomposisi basal – dasit.
Kemudian, di atasnya berkembang perselingan antara breksi, tuf, dan lava berkomposisi andesit sebagai penyusun Formasi Nglanggeran. (Hartono & Bronto, 2008).
Di daerah Pegunungan Selatan bagian barat dijumpai satuan batuan gunung api, yaitu Formasi Semilir dan Formasi Ngelanggeran. Formasi semilir tersusun oleh batuan klastika Gunung Api, yaitu breksi pumis dan tuf yang berwarna putih, sedangkkan Formasi Ngelanggeran tersusun atas batuan vulkanik, yaitu breksi , lava, dan batuan intrusi dangkal yang berkomposisi andesit dan basal (Bronto, Mulyaningsih, Hartono, & Astuti, 2008).
Menurut Surono (2009) Uurutan Stratigrafi Pegunungan Selatan dari tua ke muda yaitu batuan metamorf sebagai basement yang berumur Kapur-Pliosen Awal, kemudain Formasi Wungkal Gamping berumur Eosen Tengah-Eosen akhir, Formasi Kebo-Butak, Formasi Semilir, Formasi Nglanggran berumur Oligosen Akhir hingga Miosen, selanjutnya Formasi Sambipitu dan Formasi Oyo yang berumur Miosen Awal hingga Miosen Tengah, bagian atas dari formasi ini diendapkan formasi Wonosari yang merupkan daerah penelitian, pada Miosen Akhir Formasi Wonosari bagian Barat berkembang jadi Formasi Kepek.
Gambar 2.1. Stratigrafi Pegunungan Selatan Menurut Surono (2009)
2.2 Geologi Lokal
Lokasi daerah penelitian ini berada di Bukit Mengger Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, DIY. Kondisi geologi pada daerah ini ialah terdapatnya jejak patahan berupa sesaropak akibat dari gempa bumi. Jejak patahan ini membentang dari muara Sungai Opak di pantai Selatan hingga ke arah timur di kawasan candi Prambanan dengan panjang mencapai ± 40km.Di Daerah Bukit Mengger merupakan bagian dari Formasi Semilir, Formasi ini terbentuk dari peristiwa erupsi gunung api raksasa. Daerah ini memiliki endapan berkisar 300- 600m, hal tersebut dapat diketahui bahwa Formasi Semilir ini adalah serangkaian peristiwa letusan katastropik gunung api raksasa Semilir dalam 20-30 juta tahun lalu yang kekuatannya letusannya mendekati Supervolcano Toba di Sumatera 74.000 tahun lalu (Smyth, 2005).
Sesar Opak Bukit Mengger (SOBM) berada Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada koordinat 7° 53' 32" LS dan 110° 23' 44,1" BT. Jalan menuju kawasan ini dapat dilalui dengan motor maupun mobil dengan jarak ± 15 km dari Kota Yogyakarta. Jika akan ditempuh dengan kendaraan pribadi dari Yogyakarta, dapat dipilih rute melalui Jalan Imogiri Barat, lokasi situs berada di sekitar Kompleks Perumahan Pemda.
SOBM ini merupakan lokasi dijumpainya sesar di bukit mengger merupakan batuan sedimen Batupasir Tuff Formasi Semilir (Rahardjo, dkk. 1995). Batuan sedimen ini berupa perlapisan batu pasir berbutir kasar berwarna hitam, batu pasir berbutir kasar-sangat kasar, dan breksi batuapung berwarna abu-abu dimana setempat terdapat fragmen litik lempung hijau dengan tebal mencapai 50 m.
Gambar 2.2. Peta Geologi Kabupaten Bantul dan Sekitarnya (Modifikasi dari Rahardjo dkk, 1995 dan Surono dkk, 1992).
Struktur geologi yang berkembang di daerah Opak adalah sesar geser dan sesar normal. Sesar normal di sepanjang Sungai Opak berada di sepanjang hampir 40 km dari pantai selatan Jawa di mulut sungai ke arah Prambanan Kabupaten Klaten dengan arah 30 sampai 40 derajat (timur laut-barat daya) dengan bidang sesar mendatar dan kemiringan bidang relatif tegak. Sesar ini merupakan salah satu
segmen Zona Sesar Opak yang tersingkap. Kedudukan bidang sesar yang memotong lapisan tanah dengan ketebalan sekitar 50 cm - 5 m mengindikasikan bahwa sesar ini merupakan sesar aktif. Bukti-bukti sesar dapat diamati di beberapa wilayah Kapanewon/ Kecamatan Jetis dan Pleret.
Sesar Opak memotong Yogya Low dan Wonosari High dengan batuan andesit tua (OAF) sebagai penyusun struktur pemotongan sesar, sedangkan di timur Opak masih terdapat Formasi Semilir dan Nglanggran yang juga terlibat dalam sistem sesar (Nurwidyanto, dkk. 2007).
BAB III DASAR TEORI
3.1. Konsep Dasar Alat
Total station adalah alat ukur modern yang digunakan dalam topografi dan pemetaan untuk mengukur sudut horizontal dan vertikal, serta jarak dengan tingkat presisi yang tinggi. Alat ini telah menggantikan theodolite konvensionaL dalam banyak aplikasi survei dan topografi karena kemampuannya untuk mengukur sudut dan jarak secara simultan dengan cepat dan akurat. Total station memungkinkan pengguna untuk menentukan arah, kemiringan, dan jarak antara alat dan titik yang diukur dengan presisi tinggi, sambil menyediakan kemampuan penyimpanan data dan komunikasi untuk analisis dan pemrosesan data lebih lanjut (Ghilani, 2020).
Gambar 3.1. Pengukuran menggunakan Total Station (Parseno, 2010)
3.2. Perhitungan Dasar
Dalam hasil pengukuran alat total station, kita akan memperoleh Ha (Horizontal Angle), Va (Vertical Angle), dan SD (Slope Distance). Untuk menentukan nilai H (Horizontal Distance) dan D (Vertical Distance), kita mengaplikasikan rumus-rumus berikut:
𝛼 = 90⁰ − 𝑉𝐴 (3.1) 𝑌 = 𝑆𝐷 𝑆𝑖𝑛 (90⁰ − 𝑉𝐴) (3.2) 𝐷 (𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑟) = 𝑆𝐷 𝑐𝑜𝑠 𝛼 (3.3)
𝐻 = 𝑇 𝑎𝑙𝑎𝑡 + 𝑌 – 𝑇 𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 (3.4) Keterangan:
Ha : Pembacaan horizontal Va : Pembacaan vertikal Ta : Tinggi alat
Tta : Tinggi target SD : Jarak Miring H : Ketinggian D : Jarak sebenarnya
3.3. Poligon
Poligon adalah istilah yang digunakan dalam topografi dan survei untuk mengacu pada rangkaian titik-titik yang dihubungkan secara berurutan dengan garis lurus atau segmen garis. Poligon biasanya digunakan dalam survei tanah atau pemetaan untuk mengukur dan merekam batas-batas lahan atau wilayah tertentu.
Setiap titik dalam poligon diukur dalam hal koordinat geodetik, yang mencakup latitude, longitude, dan elevasi, dan dihubungkan dengan titik lain dalam poligon dengan segmen garis. Hasil dari poligon ini adalah rangkaian data yang mendefinisikan batas-batas suatu wilayah dan memungkinkan pembuatan peta atau perencanaan konstruksi yang akurat. Poligon dapat memiliki berbagai bentuk dan ukuran, tergantung pada tujuan survei atau pemetaan yang dilakukan (Sukiswo, 2009).
• Poligon Terbuka
Poligon tertutup adalah sebuah konsep dalam survei dan pemetaan yang merujuk kepada serangkaian titik sudut yang dihubungkan dengan garis lurus untuk membentuk suatu pola tertutup, seperti segi empat, segi lima, atau bentuk lain yang sesuai. Poligon ini memiliki ciri khas bahwa garis yang menghubungkan semua sudut kembali ke titik awal, membentuk suatu lingkaran tertutup. Dalam survei poligon tertutup, pengukuran sudut dan jarak antara titik sudut dilakukan dengan tingkat presisi yang tinggi. Data yang diperoleh dari poligon tertutup digunakan untuk menghitung koordinat
geodetik dari setiap titik sudut, termasuk latitude, longitude, dan elevasi.
Poligon tertutup sangat penting dalam survei lahan dan pemetaan karena memungkinkan pembuatan peta yang akurat serta penentuan batas-batas lahan yang tepat. Selain itu, alat survei canggih seperti total station sering digunakan untuk mengukur sudut dan jarak dengan akurasi yang tinggi dalam konteks poligon tertutup ini.
Gambar 3.2. Poligon Tertutup (Suhendra, 2011)
• Poligon Terbuka
Poligon terbuka adalah sebuah konsep dalam survei dan pemetaan yang mengacu pada rangkaian titik sudut yang diukur dan dihubungkan oleh segmen garis, tetapi tidak membentuk pola tertutup atau bentuk geometris yang lengkap. Dalam poligon terbuka, ada setidaknya satu sisi atau garis yang tidak terhubung dengan garis lainnya, sehingga poligon tidak membentuk suatu lingkaran tertutup. Karakteristik poligon terbuka ini sering kali muncul dalam situasi di mana ada keterbatasan akses atau pengukuran yang sulit di lapangan, yang membuat sulit untuk menghubungkan semua titik sudut secara lengkap. Dalam kasus poligon terbuka, perhitungan koordinat geodetik seperti latitude, longitude, dan elevasi dari titik sudut tetap bisa dilakukan, namun ada perhatian khusus yang diberikan pada garis-garis yang tidak terhubung.
Gambar 3.3. Poligon Terbuka ( Suhendra, 2011)
3.4. Koreksi Data
3.4.1. Koreksi Sudut Dalam
Koreksi poligon adalah proses yang digunakan dalam survei dan pemetaan untuk memperbaiki dan mengkoreksi pengukuran sudut dalam suatu poligon tertutup. Dalam koreksi poligon, perbedaan antara hasil pengukuran sudut lapangan dengan nilai sebenarnya yang diharapkan dihitung, dan koreksi tersebut diterapkan pada pengukuran lapangan untuk meminimalkan kesalahan dan distorsi. Koreksi ini penting untuk memastikan akurasi pengukuran sudut dan jarak dalam survei dan pemetaan, yang pada gilirannya memengaruhi akurasi peta dan analisis yang dibuat berdasarkan data tersebut. (Ghilani, 2018).
∆𝐻 𝐾𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖− ∆𝐻𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 ∑∆𝐻
|∑∆𝐻| (3.5)
3.4.2. Koreksi Poligon
Koreksi sudut dalam survei adalah proses untuk memperbaiki atau mengkoreksi hasil pengukuran sudut yang diperoleh dari alat-alat seperti theodolit atau total station. Koreksi sudut dilakukan untuk meminimalkan kesalahan dalam pengukuran sudut, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ketidaksempurnaan alat, kondisi cuaca, dan efek geodetik (Ghilani, 2018).
< 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 1 = (𝐵𝑀1 − 𝐵𝑀2) – (𝐵𝑀1 − 𝐵𝑀3) (3.6)
< 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 2 = (𝐵𝑀2 − 𝐵𝑀3) – (𝐵𝑀2 − 𝐵𝑀1) (3.7)
< 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 3 = (𝐵𝑀3 − 𝐵𝑀1)– (𝐵𝑀3 − 𝐵𝑀2) (3.8)
< 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 = < 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 − (∑ < 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 –180
3 ) (3.9)
3.4.3. Koreksi Beda Tinggi
Koreksi beda tinggi adalah proses dalam survei dan pemetaan yang digunakan untuk memperbaiki atau mengkoreksi perbedaan elevasi atau ketinggian antara dua titik di permukaan bumi. Koreksi beda tinggi penting dalam survei dan pemetaan karena elevasi yang tepat dari suatu daerah sangat penting untuk pemodelan topografi, pembuatan peta, perencanaan konstruksi, dan banyak aplikasi lainnya (Ghilani, 2018).
𝑇𝑖𝑡𝑖𝑘 2 = (𝐵𝑀2 − 𝐵𝑀1) + 𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 2 (3.10) 𝑇𝑖𝑡𝑖𝑘 3 = 𝑇𝑖𝑡𝑖𝑘 2 – 180 + 𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 3 (3.11) 𝑇𝑖𝑡𝑖𝑘 1 = 𝑇𝑖𝑡𝑖𝑘 3 – 180 + 𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 1 (3.12)
3.5 Kontur
Kontur adalah suatu garis yang digambarkan diatas bidang datar melalui titik –titik yang mempunyai ketinggian sama terhadap suatu bidang referensi tertentu. Garis ini merupakan tempat kedudukan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama terhadap suatu bidang referensi atau garis khayal yang menghubungkan titik – titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Penarikan garis kontur bertujuan untuk memberikan informasi relief (baik secara relative maupun absolute). Garis kontur pada peta topografi diperoleh dengan melakukan pengolahan interpolasi linier antara titik-titik ketinggian yang berdekatan (Yosanny, dkk., 2013). Menurut Senduk (2021), sifat-sifat garis kontur adalah sebagai berikut:
a) Berbentuk kurva tertutup b) Tidak bercabang
c) Tidak berpotongan
d) Jika melewati sungai menjorok kearah hulu
e) Jika melewati permukaan jalan menjorok kearah jalan menurun
f) Jika melewati bangunan tidak tergambar
g) Keadaan permukaan tanah yang terjal ditunjukan dengan garis kontur yang rapat
h) Keadaan permukaan yang landai ditunjukan dengan garis kontur yang jarang
i) Skala peta yang disajikan menentukan penyajian interval garis kontur, jika datar maka interval garis kontur adalah 1/1000 dikalikan dengan nilai skala peta, jika berbukit maka interval garis kontur adalah 1/500 dikalikan dengan nilai skala peta dan jika bergunung maka interval garis kontur adalah 1/200 dikalikan dengan nilai skala peta
j) Penyajian indeks garis kontur pada daerah berbukit adalah setiap selisih 4 garis kontur, pada daerah datar adalah setiap selisih 3 garis kontur, sedangkan pada daerah bergunung adalah setiap selisih 5 garis kontur k) Satu ketinggian tertentu diwakili satu garis kontur
l) Garis kontur yang lebih tinggi dikelilingi garis kontur berharga lebih rendah m) Punggungan gunung ditandai rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf
"U"
n) Lembah/jurang ditandai suatu rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf
"V".
Gambar 3.4. Garis Kontur (Sumber: Rostianingsih, dkk., 2004).
Gambar 3.5. Sifat Garis Kontur (Rostianingsih, dkk., 2004).
3.6. Interpolasi
Interpolasi merupakan proses estimasi nilai pada wilayah-wilayah yang tidak disampel atau diukur untuk keperluan penyusunan peta atau sebaran nilai pada seluruh wilayah yang dipetakan. Interpolasi spasial mempunyai dua asumsi yakni atribut data bersifat kontinu di dalam ruang (spsce) dan atribut tersebut saling berhubungan (dependence) secara spasial (Anderson, 2001).
Menurut Burrough and McDonell (1998), interpolasi adalah proses memprediksi nilai pada suatu titik yang bukan merupakan titik sampel, berdasarkan pada nilai- nilai dari titik- titik di sekitarnya yang berkedudukan sebagai sampel.
Penentuan nilai baru didasarkan pada data yang ada pada titik- titik sampel pengamatan. Tanpa adanya langkah interpolasi ini, maka analisis spasial tidak dapat dilakukan secara akurat.
Gambar 3.6. Interpolasi dengan metode IDW dengan perubahan nilai power (Pramono, 2008)
Salah satu metode yang menghubungkan garis kontur menjadi peta topografi adalah metode Interpolasi. Metode Interpolasi adalah metode yang digunakan untuk menentukan nilai ketinggian suatu titik dengan menganggap bahwa suatu titik tersebut berada pada suatu bidang yang beraturan. Dalam penentuan garis kontur terdapat empat cara perhitunganya yaitu (Pertiwi, 2011):
1. Bila ketinggian disesuaikan dengan interval kontur, maka rumus yang digunakan adalah :
𝑋 = 𝐼𝐾(𝑡2 − 𝑡1) 𝑥 𝑌……….………….(3.10) 2. Bila titik ketinggian tidak sesuai dengan batas atas maka rumus yang
digunakan yaitu :
𝑎 = (𝑡2 − 𝑡𝑎)(𝑡2 − 𝑡1) 𝑥 𝑌………..……….…(3.11) 𝑋 = 𝐼𝐾(𝑡𝑎 − 𝑡1) 𝑥 (𝑌 − 𝑎) ……….…….(3.12) 3. Bila titik yang tidak bersesuaian dengan batas bawah, maka rumus yang
digunakan yaitu :
𝑏 = (𝑡𝑏 − 𝑡1)(𝑡2 − 𝑡1) 𝑥 𝑌……….…....(3.13) 𝑋 = 𝐼𝐾𝑡2 − 𝑡𝑏 𝑥 𝑌 − 𝑏………..…(3.14)
4. Bila titik ketinggiannya tidak sesuai sama sekali maka dapat dicari dengan rumus
𝑎 = (𝑡2 − 𝑡𝑎)(𝑡2 − 𝑡1) 𝑥 𝑌……… (3.18) 𝑏 = 𝑡𝑏 − 𝑡1𝑡2 − 𝑡1 𝑥 𝑌 − 𝑎………..……….…..(3.19) 𝑋 = 𝐼𝐾𝑡𝑎 − 𝑡𝑏 𝑥 𝑌 − 𝑎 + 𝑏……...…...…(3.20)
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Diagram Alir Pengolahan Data
Gambar 4.1. Diagram Alir Pengolahan Data
4.2. Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data
1. Melakukan tinjuan Pustaka atau studi literatur mengenai daerah penelitian atau daerah yang akan dibuatkan dalam peta berdasarkan data yang diberikan.
2. Melakukan pengolahan data menggunakan exel, serta melakukan beberapa koreksi diantaranya yaitu koreksi HA, koreksi sudut dalam, dan koreksi beda tinggi.
3. Melakukan pengolahan data, nantinya akan mendapatkan output berupa koreksi HA, sudut poligon, koordinat polygon serta koordinat X,Y,Z dari masing masing detil.
4. Menyalin data yang sudah diolah diexel kemudian memasukan data tersebut kedalam surfer untuk membuat suatu peta topografi digital.
5. Membuat peta topografi secara digital dan peta topografi manual dengan metode interpolasi serta membuat peta poligon sistem koordinat, peta poligon sistem azimuth manual.
6. Membuat sayatan daan penampang pada peta topografi manual, untuk mengetahui bentuk dan perbedaan elevasi pada daerah sayatan tersebut.
7. Melakukan pembahasan menganeai peta yang sudah dibuat, pembahasan dilengkapi dengan beberapa tinjauan dari literatur yang sudah didapat sebelumnya.
8. Membuat kesimpulan mengenai pembahasan yang dibuat serta kesimpulan dari keseluruhan penelitian yang telah dilakukan dari awal sampai akhir.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5. 1. Tabel Perhitungan 5.1.1. Tabel Koreksi Poligon
Tabel 5.3. Perhitungan Dasar Horizontal Azimuth
Titik Tinggi
Alat Target Alat Target Degrees Minute Second Decimal BM1 BM2 1.51 1.29 184 41 4 184.6844444
BM2 BM1 1.34 1.58 6 59 42 6.995
BM2 BM3 1.34 1.45 335 15 8 335.2522222 BM3 BM2 1.46 1.35 153 56 17 153.9380556 BM3 BM1 1.46 1.26 44 20 22 44.33944444 BM1 BM3 1.51 1.46 222 42 23 222.7063889
Tabel 5.4. Perhitungan Dasar Vertikal Azimuth VA
Degrees Minute Degrees Minute
81 3 89 22
99 3 90 43
117 14 92 13
62 43 87 45
71 6 89 23
108 54 91 20
Tabel 5.3. Perhitungan Dasar α, SD, D dan D Rata-rata
α SD D D
Rata-rata 0.630 49.542 49.539 49.554 -0.725 49.573 49.569
-2.223 32.442 32.418 32.414 2.248 32.436 32.411
0.607 28.187 28.185 28.177 5.909 23.505 23.380
Tabel 5.4. Koreksi Poligon Koreksi Poligon
Absis Ordinat Absis Terkoreksi
Or Terkoreksi D terkoreksi Koreksi HA
-6.035 -49.185 -6.079 -49.208 49.58237415 187.042 -13.678 29.387 -13.779 29.373 32.44418222 334.869 20.004 19.845 19.858 19.835 28.06700339 45.032
0.291 0.046 0.000 0.000
39.717 98.417
Tabel 5.5. Titik Ploting Titik Plotting
Titik 1 433414.84 9127668.10 98.07 Titik 2 433408.76 9127618.90 98.89 Titik 3 433394.98 9127648.27 97.52
X Y Z
MIN 433394.98 9127618.90 97.52 MAX 433414.84 9127668.10 98.89
Selisih 19.86 49.21 1.37
S Skala
24.82187902 61.51038484 1.7152212
5.1.2. Tabel Koreksi Sudut Dalam
Tabel 5.6. Koreksi Sudut Dalam Koreksi Sudut Dalam
Sudut Terkoreksi
<1 38.022 38.234 186.995
<2 31.743 31.955 335.040
<3 109.599 109.811 45.229
∑ 179.363 180.000
│∑│ 0.212
5.1.3 Tabel Koreksi Beda Tinggi
Tabel 5.7. Perhitungan Dasar Y, Y Rata-rata, ∆H, ∆H Rata-rata, ∆H Koreksi, ∆H Terkoreksi
Y ∆H Y ∆H ∆H ∆H
Rata-rata Rata-rata Koreksi Terkoreksi 0.544491593 0.76 -0.042 0.816 0.002 0.818
- 0.627502329
-0.87
- 1.258107759
-1.37 0.007 -1.375 0.003 -1.372
1.272488586 1.38
0.29858435 0.50 -0.179 0.553 0.001 0.554
- 0.657561348
-0.61
-0.01 0.01 0.00 2.744
Tabel 5.8. Koreksi Beda Tinggi
5.1.4. Tabel Detil
Tabel 5.9. Tabel Detil BM 1 Koreksi Beda Tinggi
0.001851911 0.003121249 0.001255203
Tabel 5.10. Tabel Detil BM 2
Gambar 5.11 Tabel Detil BM 3
5.2. Perhitungan
5.2.1. Koreksi Poligon
(Perhitungan Sudut Dalam terlampir)
Pada koreksi poligon dihasilkan ouput berupa perhitungan nilai absis, nilai ordinat, absis terkoreksi, ordinat terkoreksi, distance terkoreksi, dan koreksi Ha.
Dalam perhitungan excel, rumus yang digunakan dalam perhitungan poligon yaitu:
• Menghitung nilai absis= Drata-rata*(SIN(RADIANS(HA TERKOREKSI)))
• Menghitung nilai ordinat= Drata-rata*(COS(RADIANS(HA TERKOREKSI)))
• Menghitung absis terkoreksi= ABS+KOREKSI ABSIS. Jika absis terkoreksi bernilai positif, maka tanda positif (+) diubah menjadi tanda (-).
Apabila jumlah total nilai absis terkoreksi adalah 0, maka perhitungan yang dilakukan sudah benar.
• Menghitung ordinat terkoreksi= ORDINAT + KOREKSI ORDINAT.
Jika nilai ordinat terkoreksi bernilai positif, maka tanda positif (+) diubah menjadi tanda (-) dan begitupun sebaliknya.
• Menghitung Distance terkoreksi= SQRT(ABSIS TERKOREKSI 1 ABSIS TERKOREKSI 2 + ORDINAT TERKOREKSI 1 ORDINAT TERKOREKSI 2).
5.2.2 Koreksi Sudut Dalam
(Perhitungan Sudut Dalam terlampir)
Dalam menghitung koreksi sudut dalam, hal pertama yang harus dilakukan yaitu dalam menghitung koreksi sudut dalam, hal pertama yang harus dilakukan yaitu pembuatan sketsa dari BM 1 ke BM 2, BM 2 ke BM 3 dan BM 3 ke BM 1, dan seterusnya berdasarkan titik tembak tiap benchmark. Setelah sketsa segitiganya digambar dan sudut digambar pada segitiga maka langkah selanjutnya sudut dalam bisa diukur dengan rumus segitiga itu sendiri, karena dalam pengukuran koreksi
sudut dalam ini tergantung pada segitiganya, jadi rumus ini tidak menentu, namun dalam penelitian ini menggunakan rumus (BM1-BM3)-(BM1-BM2) pada sudut 1, 360-(BM2-BM3)+(BM2-BM1) pada sudut kedua, dan pada sudut ketiga (BM 3- BM 2)-(BM3-BM1). Kemudian dicari nilai rata-rata dengan rumus =SUM (KETIGA NILAI SUDUT). Lalu, untuk nilai rata-rata mutlak digunakan rumus
=180-RATA-RATA/3.
5.2.3 Koreksi Beda Tinggi
(Perhitungan Beda Tinggi terlampir)
Untuk mendapatkan nilai koreksi beda tinggi, menggunakan rumus =ABS(H RATA-RATA* TOTAL RATA-RATA)/ NILAI H RATA-RATA MUTLAK.
5.2.4 Perhitungan Titik Detil
(Perhitungan Titik Detil terlampir)
Data detil didapatkan ketika sudah benar dalam mengolah data poligon.
Jadi nilai titik plotting pada perhitungan polygon harus sama dengan titik acuannya yaitu titik X,Y, dan Z. Titik BM sebagai titik ikat dari pengolahan detil. Cara pengolahan detil yaitu dengan desimalkan nilai Ha dan Va, rumusnya yaitu
=DEGREES+MINUTES+SECOND/3600
Selain menentukan rumus Ha dan Va, nilai lain seperti α, Distance dan nilai Y. Kemudian dihitung nilai rata-rata H, X dan Y. Setelah semua nilai didapatkan, lalu data BM diikat untuk menentukan nilai koordinat. Hasil koordinat yang didapatkan akan menjadi koordinat pengukuran di lapangan.
5.2.5. Perhitungan Metode Interpolasi
(Perhitungan Metode Interpolasi terlampir)
Interpolasi adalah suatu teknik mencari harga suatu fungsi pada suatu titik diantara 2 titik yang nilai fungsi pada ke-2 titik tersebut sudah diketahui. Interpolasi
sendiri terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan dengan fungsi dan cara penginterpolasiannya.
5.3. Peta Polygon Sistem Azimuth
Gambar 5.1. Peta poligon sistem azimuth
Peta ini merupakan peta poligonal dari sistem azimuth dengan tiga sudut dengan total nilai acuan yaitu BM 1, BM 2 dan BM 3. Nilai acuan yang ada yaitu Ha (Horizontal Azimuth) dan D (Distance/jarak). Nilai HA pada BM1 ke BM2 didapatkan 184°41'4" dengan nilai decimal 184.6844444, BM2 ke BM1 yaitu 6°59'42" dengan nilai decimal 6.995, BM2 ke BM3 yaitu 335°15'08" dengan nilai decimal 335.252222, BM 3 ke BM2 yaitu 153°56'17 dengan nilai decimal 335.252222, BM3 ke BM1 yaitu 44°20'22" dengan nilai decimal 44.33944444, BM1 ke BM3 yaitu 222°42'23" dengan nilai decimal 222.7063889. Pada peta sistem poligon azimuth ini menggunakan skala 1:80 dengan nilai Ha terkoreksi pada sudut 1 186.995°; Ha pada sudut 2 335.040°; dan Ha pada sudut 3 adalah 45.22934°.
Untuk setiap tembakan, jarak/kemiringan tiap titik acuan dari BM 1 ke 2 adalah 49.554 m; BM 2 sampai 3 adalah 32.414 m; BM dari 3 ke 1 adalah 28.177 m.
Dalam pembuatan peta poligon sistem azimuth ini yaitu di awali dengan melakukan koreksi pada nilai HA yang didapat sehingga bisa mendapat nilai HA terkoreksi. Setelah itu melakukan koreksi sudut dalam agar jumlah total ketiga sudut tersebut berjumlah 180°. Dan untuk data distance yang didapat kemudian dikonversi pada skala 1:80 sebelum dilakukan penggambaran. Setalah HA, sudut dalam telah dikoreksi dan distance telah diubah kemudian peta poligon azimuth dapat dibuat.
5.4 Peta Polygon Sistem Koordinat
Gambar 5.2. Peta poligon sistem koordinat
Peta ini adalah sistem koordinat yang ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu yaitu perpotongan garis tegak lurus yaitu. sumbu x dan y. Dari peta poligon sistem koordinat, didapatkan absis dan ordinat pada tiap titik pengamatannya. Pada BM 1 didapatkan absis, ordinat, dan ketinggian (433414.84 mE, 9127668.10 mN,
98.07 m). Pada BM 2 didapatkan absis, ordinat, dan ketinggian sebesar (433408.76 mE, 9127618.90 mN, 98.89 m), dan pada BM 3 didapatkan absis, ordinat, dan ketinggian (433394.98 mE, 9127648.27 mN, 97.52 m). Sehingga jarak tiap titik pengamatan pada peta poligon sistem koordinat adalah 73.62894117 dari BM 1- BM 2, 98.32879022 dari BM 2-BM 3, dan 40.91243166 dari BM 3-BM1. Skala yang digunakan pada peta poligon sistem azimuth ini adalah 1:80.
5.6. Peta Topografi
Gambar 5.3 Peta topografi
Peta topografi ini merupakan peta yang daerah penelitiannya berada di Bukit Mengger tepatnya di Kelurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam pembuatan peta topografi digunakan pengolahan data poligonal, pengolahan data detailnya dilakukan secara manual dengan metode interpolasi. Saat mengolah peta topografi, data Ha (ketinggian absolut), Va (ketinggian relatif) dan SD (sudut bidang) digunakan sebagai referensi. Data tersebut kemudian diolah hingga menghasilkan titik koordinat berupa x, y dan z.
Pada data lapangan ini didapatkan 116 titik detil dari tiga benchmark. Ke 116 titik ini tersebar diantara tiga BM, yaitu 30 titik berada di sekitar BM 1, 41 titik berada di sekitar BM2, dan 45 titik berada di sekitar BM3. Peta topografi ini dilakukan secara digital dan manual dengan IK 0,7. Berdasarkan hasilnya bisa dilihat pada bagian utara-barat laut-barat memiliki kontur yang rapat, menandakan daerah yang curam. Sedangkan pada bagian timur laut-timur-tenggara pada peta terlihat kontur yang renggang, menandakan daerah yang landai. Pada peta topografi ini terdapat ketinggian relatif paling tinggi yaitu 117.920 m yang terletak di BM 3 detil 95 dan titik terendah yang didapat terletak di BM 1 detil 1 sebesar 94.872426 m.
Gambar 5.4. Peta citra satelit daerah penelitian
Bentuk lahan daerah penelitian yaitu bentuk lahan struktural dan antropogenik. Bentuk lahan struktural bisa dilihat dari adanya sesar yang terdapat pada daerah tersebut akibat adanya aktivitas tektonik, dan di bagian timur berupa bentuk lahan antropogenik dikarenakan adanya daerah aktivitas manusia berupa daerah perumahan serta ada juga aktivitas pertambangan. Berdasarakan peta yang didapat dari citra satelit Gambar 5.4. bisa dilihat adanya tebing yang curam di
5.6. Peta Topografi
Gambar 5.3. Peta daerah penelitian
Penelitian yang dilakukan ini berada di Bukit Mengger tepatnya di Kelurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada Gambar 5.3. dijelaskan bahwa daerah penelitian ini bentuk lahan structural berupa Sesar Opak yang memotong Yogya Low dan Wonosari High dengan batuan andesit tua (OAF) sebagai penyusun struktur pemotongan sesar, sedangkan di timur Opak masih terdapat Formasi Semilir dan Nglanggran yang juga terlibat dalam sistem sesar (Nurwidyanto, dkk. 2007).
bagian barat-laut yang merupakan akibat dari sesar opak yang memotong Yogya Low dan Wonosari High dengan penyusun struktur pemotongan sesar tersebut berupa batuan andesit tua (OAF), sedangkan di timur Opak masih terdapat Formasi Semilir dan Nglanggran yang juga terlibat dalam sistem sesar. Karena adanya sesar dan tebing tersebut maka kontur yang dibuat juga menunjukan kontur yang sanagat rapat, di bagian barat-laut, dan kontur yang renggang di bagian timur.
Pada peta topografi manual dibuat dengan skala 1:250, pada peta ini digunakan sistem koordinat Universal Transverse Mercator (UTM). Koordinat 9127700 N-9127500 S dan koordinat 433420 E-433380 E sebagai titik tertinggi dan terendah pada sistem koordinat. Pada tampilan peta topografi Gambar 5.3 ini merupakan peta topografi digital dengan skala yang berbeda dengan skala peta manual yaitu sebesar 1:550 ini ditampilkan satu garis kontur secara terus menerus dengan indeks garis kontur pada kisaran 0,7. Pada peta kontur manual yang dibuat yang dibuat bisa dilihat terdapat kontur yang menunjukan adanya pola aliran pada bagian utara, ditunjukan dengan adanya pola kontur melengkung membetuk huruf V, yang artinya terdapat aliran dari utara ke bagian tengah daerah tersebut.
Dalam pembuatan peta topografi manual peneliti menggunakan metode triangulasi interpolasi, pada saat pembuatannya terdapat banyak titik detil yang diukur pada bagian tengah meskipun dengan ketinggian yang relatif sama, hal itu karena saat pengukurannya terdapat jalan dan perumahan yang diukur untuk melakukan digitasi pada peta kontur daerah tersebut.
BAB VI PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan peneitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
• Peta topografi ini merupakan peta yang daerah penelitiannya berada di Bukit Mengger tepatnya di Kelurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
• Dalam pengolahan data poligon, data utama yang diukur melibatkan Ha (tinggi antara titik tertentu), Va (sudut vertikal), dan SD (jarak horizontal).
• Hasil pengolahan ini menghasilkan beberapa output yang mencakup koreksi sudut dalam, koreksi poligon, koreksi beda tinggi, koreksi absis, koreksi ordinat, dan perhitungan interpolasi.
• Pada peta sistem poligon azimuth ini menggunakan skala 1:80 dengan nilai Ha terkoreksi pada sudut 1 186.995°; Ha pada sudut 2 335.040°; dan Ha pada sudut 3 adalah 45.22934°.
• Nilai jarak/kemiringan tiap titik acuan dari BM 1 ke 2 adalah 49.554 m; BM 2 sampai 3 adalah 32.414 m; BM dari 3 ke 1 adalah 28.177 m.
• Pada BM 1 didapatkan absis, ordinat, dan ketinggian (433414.84 mE, 9127668.10 mN, 98.07 m). Pada BM 2 didapatkan absis, ordinat, dan ketinggian sebesar (433408.76 mE, 9127618.90 mN, 98.89 m), dan pada BM 3 didapatkan absis, ordinat, dan ketinggian (433394.98 mE, 9127648.27 mN, 97.52 m).
• Pada peta topografi ini terdapat ketinggian relatif paling yaitu sebesar 117.920 m yang terletak di BM 3 detil 95 dan titik terendah yang didapat terletak di BM 1 detil 1 sebesar 94.872426 m dengan IK 0,7.
• Koordinat 9127700 N-9127500 S dan koordinat 433420 E-433380 E sebagai titik tertinggi dan terendah pada sistem koordinat peta topografi
• Daerah penelitian terdapat bagian dari sesar opak yang memanjang dari utara-selatan dicirikan dengan ketinggian tebing yang curam.
6.2. Saran
Pada saat melakukan penelitian terdapat beberapa saran yaitu peneliti harus lebih teliti dalam melakukan koreksi data karena perbedaan sedikit saja akan berpengaruh sangat besar pada hasil akhir, dalam melakukan penggambaran peta secara manual sebaiknya dilakukan secara teliti agar hasilnya sesuai dengan data yang diolah, dan dalam pembuatan peta manual lebih memperhatikan arah utara agar orientasi arah utara menghadap ke atas supaya lebih mudah dibaca bagi orang awam.
DAFTAR PUSTAKA
Aswant, I. A. (2016). Analisis Perbandingan Metode Interpolasi Untuk Pemetaan pH Air Pada Sumur Bor Di Kabupaten Aceh Besar Berbasis SIG. Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, Banda Aceh.
Bronto, Sutikno. 2014. Longsoran Raksasa Gunung Api Merapi Yogyakarta – Jawa Tengah. J.G.S.M. Vol. 15 No. 4 November 2014 hal. 165 – 183 Burrough, P. A., & McDonell, R. A. 1998. Principles of Geographical Information
Systems, 190 New York: Oxford University Press.
Ghilani, C., & Wolf, P. R. (2018). Adjustment Computations: Spatial Data Analysis. Wiley.
Ghilani, C., & Wolf, P. R. (2020). Elementary Surveying: An Introduction to Geomatics. Pearson.
Hartono, Gendoet. 2016.Gunung Api Purba Mujil, Kulonprogo, Yogyakarta:
Suatu Bukti Dan Pemikiran. Staf dosen Teknik Geologi STTNAS, Yogyakarta
Humaira, Anisa Utari. 2011. LAPORAN PRAKTIKUM GEOLOGI FISIK DAN DINAMIK. Laboratorium Geodinamik, Hidrogeologi dan Planologi.
Muhamadi, Mansur. 2004. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN (DIKLAT) TEKNIS PENGUKURAN DAN PEMETAAN KOTA. FAKULTAS TEKNIK SIPIL
DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH
NOPEMBER.
Nurwidyanto, M. I., Yulianto, T., & Widada, S. (2017). Estimation of Semarang Fault Zone Using Magnetic Method. Advanced Science Letters, 23(7), 6623-6626.
Pramono, G. H. (2008). AKURASI METODE IDW DAN KRIGING UNTUK INTERPOLASI. Forum Geografi, Vol. 22,, 150.
Pertiwi, A. (2011). METODA INTERPOLASI INVERSE DISTANCE. Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan.
Parseno, P., & Yulaikhah, Y. (2010). Pengaruh Sudut Vertikal Terhadap Hasil Ukuran Jarak dan Beda Tinggi Metode Trigonometris Menggunakan Total Station Nikon DTM 352. In Forum Teknik (Vol. 33, No. 3).
Rahardjo, W., Sukandarrumidi, dan H.M.D. Rosidi (1995) Peta Geologi Lembar
Yogyakarta, Jawa, edisi ke2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Rahman, abdur. 2013. Pengantar Kartografi & Sistim Informasi Geografis (Teori dan Praktik). Purworejo.
Rostianingsih, S., Handoyo, I., & Gunadi, K. (2004). Pemodelan peta topografi ke objek tiga dimensi. Jurnal Informatika, 5(1), 14-21.
Senduk, N. (2021). Penerapan Teknik Penggambaran Garis Kontur Menggunakan Auto Cad 3D. Jurnal Teknik Sipil Terapan, 3 (2), 90-100.
Smyth, H.R. 2005. Eocene to Miocene Basin History and Volcanic Activity in East Java, Indonesia. Ph. D. thesis, University of London.
Suhendra, A. (2011). Studi Perbandingan Hasil Pengukuran Alat Teodolit Digital dan Manual: Studi Kasus Pemetaan Situasi Kampus Kijang. ComTech:
Computer, Mathematics and Engineering Applications, 2(2), 1013-1022.
Sukiswo. (2009). Dasar-dasar Surveying. Graha Ilmu.
Surono. 2009. Litostratigrafi Pegunungan Selatan Bagian Timur Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Jurnal Sumber Daya Geologi. Vol 19 : 209 – 221. Pusat Survei Geologi, Bandung.
Utami, Westi. 2019. Modul KARTOGRAFI. MODUL TEORI PPK-1202.
SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL YOGYAKARTA Yosanny, A., Ismail, M., & Said, H. (2013). Perancangan Augmented Reality untuk
Peta Topografi. ComTech: Computer, Mathematics and Engineering Applications, 4(2), 1173-1178.