TUGAS LAPORAN PROJECT-BASED LEARNING SALURAN DRAINASE DAN STREET INLET DI JALAN SOEKARNO HATTA
KOTA MALANG
Disusun oleh:
Kelompok 3
1. FRANSISCO YOHANES SINURAT (215060100111002) 2. HASYR THAWAF SYAHRISTANY R. (215060100111006)
3. AMOS FRANS MARCO N (215060100111018)
4. JEHEZKIEL DYERO (215060100111009)
5. MAHARANI APRILIA PUTRI (215060107111048)
Dibimbing Oleh :
Dr. Eng. Ir. Indradi Wijatmiko, ST., M.Eng. (Prac) NIP. 19810220 200604 1 002
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan petunjuknya, kami dapat menyelesaikan laporan Case Based Study Drainase ini dengan lancr serta tepat pada waktunya. Tidak lupa, shalawat beriring salam dipesembahkan kepada Nabi Muhamamad SAW yang telah berjuang membawa umat manusia dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Penyusunan laporan ini merupakan proses pembelajaran bagi kami untuk dapat lebih bisa mengaplikasikan teori Drainase dan Penyaluran Air dan merencanakan sistem drainase perkotaan yang disajikan dalam sebuah laporan.
Penyusunan laporan ini sangat efektif bagi kami dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan untuk merencanakan sistem drainase.
Dalam proses penyelesaian laporan ini terdapat banyak kendala sehingga penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing bapak Dr. Eng. Ir.
Indradi Wijatmiko, ST., M.Eng. (Prac) atas segala bantuannya untuk menyelasaikan laporan ini.
Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga laporan ini berikutnya menjadi lebih baik. Semoga laporan Drainase ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Malang, April 2023
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 2
DAFTAR TABEL ... 5
DAFTAR GAMBAR ... 6
BAB I ... 7
1.1 Latar Belakang ... 7
1.2 Tujuan ... 8
1.3 Manfaat ... 8
BAB II ... 9
2.1 Lokasi ... 9
2.2 Luas Area Tangkapan ... 9
2.3 Topografi ... 10
2.4 Tata Guna Lahan ... 12
2.5 Iklim Cuaca dan Curah Hujan ... 13
BAB III ... 19
TINJAUAN PUSTAKA ... 19
3.1 Drainase ... 19
3.1.1 Drainase Jalan Raya ... 20
3.1.2 Saluran Pembawa (Gutter) ... 21
3.1.3 Saluran Penangkap Berkisi (Grate Inlet) ... 21
3.2 Analisa Hidrologi ... 22
3.2.1 Distribusi Curah Hujan Wilayah ... 22
3.2.2 Uji Outlier Data ... 25
3.2.3 Uji Konsistensi Data Curah Hujan ... 26
3.2.4 Analisis Frekuensi Curah Hujan ... 26
3.2.5 Uji Kesesuaian Distribusi ... 27
3.3 Debit Hujan Rancangan ... 30
3.3.1 Intensitas Hujan (I) ... 30
3.3.2 Koefisien Pengaliran (C) ... 31
3.3.3 Daerah Layanan Saluran Drainase (A) ... 31
3.4 Perencanaan Dimensi Saluran Drainase ... 31
3.4.1 Kapasitas Saluran Drainase ... 31
3.4.2 Bentuk Penampang Saluran Drainase ... 32
3.4.3 Tinggi Jagaan Penampang (W) ... 34
BAB IV ... 35
4.1 Analisis Permasalahan ... 35
4.2. Strategi Penyelesaian ... 39
BAB V ... 42
5.1 Analisis Permasalahan ... 42
5.2. Strategi Penyelesaian ... 43
DAFTAR PUSTAKA ... 44
LAMPIRAN ... 46
DAFTAR TABEL
TABEL 2.1 KOEFISIEN PENGALIRAN BERDASARKAN JENIS PERMUKAAN DAN TATA GUNA LAHAN ... 13 TABEL 2.2 DATA CURAH HUJAN HARIAN MAKSIMAL TAHUNAN ... 14 TABEL 3.PEMILIHAN METODE DISTRIBUSI CURAH HUJAN WILAYAH MENURUT
FAKTOR JARING-JARING POS PENAKAR HUJAN. ... 23 TABEL 4 PEMILIHAN METODE DISTRIBUSI CURAH HUJAN WILAYAH MENURUT
FAKTOR LUAS DAS ... 23 TABEL 5 PEMILIHAN METODE DISTRIBUSI CURAH HUJAN WILAYAH MENURUT
FAKTOR TOPOGRAFI DAS ... 23
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Peta wilayah penelitian ... 9
Gambar 2. 2 Peta Arah Aliran Air... 10
Gambar 2. 3 Visualisasi Elevasi Jalan Soekarno Hatta ... 12
Gambar 2. 4 Drainase Lokasi Depan Politeknik Negeri Malang ... 15
Gambar 2. 5 Drainase Lokasi seberang jalan Rumah Makan Kakkoii ... 15
Gambar 2. 6 Detail Kondisi Fisik Saluran ... 15
Gambar 2.7 Kemiringan Saluran... 16
Gambar 2.8 Kapasitas Saluran Air yang Berkurang ... 17
Gambar 2.9 Street Inlet yang Tidak Optimal ... 17
Gambar 2.10 Kemiringan Lubang Saluran Tidak Sesuai ... 17
Gambar 3.1 Penampang Melintang Jalan ... 20
Gambar 3.2 Bentuk Inlet ... 20
Gambar 3. 3 Saluran penangkap Berkisi (Grate Inlet) ... 22
Gambar 3. 4 Metode Isohiet ... 25
Gambar 3. 5 Bentuk Penampang persegi ... 33
Gambar 3. 6 Bentuk Penampang Trapesium ... 33
Gambar 3. 7 Tinggi Jagaan Saluran ... 34
1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN
Banjir merupakan ancaman serius bagi banyak wilayah di seluruh dunia, yang dapat menyebabkan kerugian besar baik dalam hal kerusakan properti maupun hilangnya nyawa manusia. Indonesia sebagai negara dengan topografi yang beragam dan curah hujan yang tinggi rentan terhadap risiko banjir yang seringkali disebabkan oleh sistem drainase yang tidak memadai. Oleh karena itu, perencanaan drainase yang tepat merupakan bentuk upaya pencegahan dan mitigasi banjir yang efektif dan efisien.
Perencanaan drainase yang efektif memerlukan pemahaman mendalam terhadap berbagai faktor, termasuk topografi daerah, pola curah hujan, kepadatan populasi, penggunaan lahan, infrastruktur eksisting, dan dampak perubahan iklim.
Topografi yang curam atau dataran rendah cenderung rentan terhadap banjir jika tidak didukung oleh sistem drainase yang memadai. Selain itu, pola curah hujan yang ekstrem dapat menyebabkan aliran air permukaan yang cepat dan meningkatkan risiko banjir.
Wilayah dengan kepadatan populasi tinggi, contohnya adalah Kota Malang seringkali mengalami tekanan tambahan pada sistem drainase akibat pembangunan perkotaan yang tidak terkendali.
Dulu, sawojajar merupakan kecamatan yang memiliki lahan hijau yang cukup luas. Namun, kini lahan hijau tersebut sudah banyak yang beralih menjadi pemukiman. Saat ini, Sawojajar sendiri terkenal dengan luasnya kawasan permukiman yang banyak dikenal dengan perumahan Sawojajar 1,2 dan 3. Yang mana wilayah perumahan Sawojajar 1 sendiri meliputi 3 kelurahan yaitu kelurahan Sawojajar yang mayoritas wilayahnya menjadi perumahan Sawojajar 1 dan ada sebagian kecil dari kelurahan Madyopuro dan Les. Hal tersebut tentunya menimbulkan semakin sempitnya daerah resapan air yang ada di Sawojajar
1.2 Tujuan
1. Bagaimana kondisi saluran drainase di ruas Jl. Danau Kerinci Raya?
2. Bagaimana permasalahan dan solusi di saluran drainase di ruas Jl. Danau Kerinci Raya?
3. Bagaimana perencanaan saluran drainase di ruas Jl. Danau Kerinci Raya?
4. Bagaimana cara mencegah banjir dengan kondisi saluran saat ini?
1.3 Manfaat
1. Mendapatkan perencanaan yang tepat, efektif dan efisien dalam mencegah banjir 2. Mendapatkan solusi dan langkah yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang
terjadi pada saluran drainase
3. Mencegah terjadinya banjir terutama pada saat hujan ekstrem
BAB II
IDENTIFIKASI MASALAH DAN
RENCANA PENYELESAIAN MASALAH 2.1 Lokasi
Penelitian ini dilaksanakan di saluran drainase Jalan Danau Kerinci yang terletak di Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang. Sawojajar memiliki topografi datar dengan sedikit kemiringan ke arah selatan.
Ketinggian rata-rata Sawojajar sekitar 450 meter di atas permukaan laut.
Sawojajar memiliki sedikit kemiringan ke arah selatan. Hal ini dapat dilihat dari aliran air di Sawojajar yang mengalir ke arah selatan. Secara geografis, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang terletak antara 112036’14” – 112040’42” Bujur Timur dan 077036’38” – 008001’57” Lintang Selatan.
Kecamatan Kedungkandang terletak pada ketinggian 440 – 460 meter diatas permukaan laut (dpl).
Di sebelah timur wilayah Kecamatan Kedungkandang terdapat daerah perbukitan Gunung Buring yang memanjang dari utara ke selatan yang meliputi Kelurahan Cemorokandang, Kelurahan Madyopuro, Kelurahan Lesanpuro, Kelurahan Kedungkandang, Kelurahan Buring, Kelurahan Wonokoyo, Kelurahan Tlogowaru dan Kelurahan Cemorokandang. Luas wilayah Kecamatan Kedungkandang adalah 3.989 Ha atau 39,89 Km2 dengan batas wilayah sebagai berikut :
• Sebelah Utara : Kecamatan Pakis Kabupaten Malang
• Sebelah Timur : Kecamatan Tumpang dan Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang
• Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang
• Sebelah Barat : Kecamatan Sukun, Kecamatan Klojen dan Kecamatan Blimbing Kota Malang
Gambar 2.1 Peta wilayah penelitian
2.2 Permasalahan
Saat melakukan penilitian ada beberapa permasalahan yang ditemui pada saluran yang ditinjau. Berikut adalah contohnya :
1. Kapasitas Saluran Air yang berkurang karena adanya sampah yang menyumbat
Gambar 2.2 Kapasitas Saluran Air yang Berkurang
2. Terjadi sedimentasi pada saluran
Gambar 2.3 Terjadinya Sedimentasi
3. Dimensi saluran kemungkinan kurang terhadap kala ulang terkini.
Gambar 2.4 Dimensi saluran yang tidak sesuai
2.3 Topik Terkait
Permasalahan – permasalahan yang ada diatas memiliki kaitan dengan beberapa topik pembelajaran, sebagai berikut :
• Penumpukan sampah pada drainase yang menyebabkan penyumbatan saluran
• Elevasi Lubang masuknya air berada diatas elevasi jalan
• Erosi yang mengakibatkan sedimentasi
• Dimensi saluran kemungkinan besar sudah tidak sesuai dengan kala ulang terkini
2.4 Rencana Kerja dan Metode
Rencana kerja dan metode yang dapat dilakukan untuk menghadapi permasalahan diatas, yaitu :
1. Melakukan normalisasi secara berkala 2. Pelebaran/pendalaman saluran
3. Pembangunan saluran drainase baru
3.1 Drainase
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
Drainase (drainage) yang berasal dari kata kerja ‘to drain’ yang berarti mengeringkan atau mengalirkan air, adalah termologi yang dipergunakan untuk menyatakan sistem-sistem yang berkaitan dengan penanganan masalah kelebihan air, baik diatas maupun dibawah permukaan tanah. Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan kota (perencanaan insfrastruktur khususnya).
Menurut (Dr. Ir. Suripin, M.Eng. 2004;7) drainase mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang atau mengalirkan air Saat ini, sistem drainase telah menjadi salah satu infrastruktur yang sangat penting dalam konteks perkotaan.
Drainase merupakan infrastuktur yang sangat penting bagi suatu wilayah. Secara umum, drainase didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan tertentu. Sedangkan drainase perkotaan adalah ilmu drainase yang mengkhususkan pegkajian pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi Lingkungan Fisik dan Lingkungan Sosial Budaya yang ada di kawasan kota tersebut.
Di lingkungan pemukiman, drainase berfungsi sebagai sarana sanitasi untuk mencegah menggenangnya air yang mengganggu kenyamanan dan kesehatan lingkungan, sekaligus sebagai sarana untuk mencegah banjir. Banjir yang terjadi di wilayah pemukiman sering kali disebabkan oleh gagalnya saluran drainase membuang kelebihan air tersebut. Di mana curah hujan yang tinggi tidak diimbangi dengan kapasitas saluran yang memadai atau bahkan tertutup oleh sampah.
3.1.1 Drainase Jalan Raya
Pada umumnya saluran drainase jalan (side ditch) terletak disamping kiri dan atau kanan sepanjang jalan. Inlet atau yang dikenal dengan nama street inlet (Inlet jalan) merupakan saluran yang digunakan untuk mengalirkan air hujan yang mengalir di jalan raya agar masuk ke saluran drainase. Lebar jalan akan terbagi menjadi dua kemiringan tepat dari tengah badan jalan (centre line) pada jalan dengan geometri lurus.
Penampang melintang jalan raya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 3. 1 Penampang Melintang Jalan
Gambar 3.2 Bentuk Inlet
Sebagian besar aliran permukaan yang mengair dijalan raya dengan kondisi terhalang, akan dialirkan menuju saluran pembuang melalui lubang-lubang Inlet yang biasanya diletakan di bahu jalan maupun median jalan. Terdapat beberapa macam jenis Inlet, seperti Grate Inlet, Crub Opening Inlet, Combination Inlet, Slotted Drain Inlet.
Empat jenis inlet yang berbeda ini dapat ditunjukan pada Gambar 2, Bentuk Inlet yang sering digunakan ialah berupa inlet datar (Grate Inlet).
Inlet datar ialah Inlet yang posisinya sejajar permukaan jalan atau dekat krab, sehingga lubang Inlet menghadap keatas.
3.1.2 Saluran Pembawa (Gutter)
Perhitungan saluran pembawa (Gutter) dilakukan untuk menentukan kedalaman air dari tepi jalan. Debit yang mengalir pada saluran pembawa umumnya dihitung dengan rumus yang didasarkan pada kaidah hidrolika. Untuk menurunkan lebar genangan ini, maka diperlukan Inlet agar air di saluran pembawa dapat masuk ke saluran drainase. Bila lebar genangan diinginkan tidak ada sama sekali (0), maka nilai T= 0.
dimana:
Q = Debit di saluran pembawa (Gutter) Kn = konstanta 1,0 m1/3 /det.)
T = Lebar genangan (atas saluran) n = Kekasaran Manning's
Sx = Kemiringan melintang bahu jalan SL = Kemiringan memanjang jalan
3.1.3 Saluran Penangkap Berkisi (Grate Inlet)
Saluran penangkap berkisi ini diletakan tegak lurus arah aliran, sehingga air hujan jatuh akan mengalir ke bawah. Untuk menjaga fungsi dan kenyamanan jalan maka permukaan Inlet ini diberi kisi. Mengingat tinggi genangan yang terjadi pada aliran permukaan relatif kecil sehingga kehilangan energi dapat diabaikan, Untuk keamanan, lebar kisi minimal harus lebih dari 2,5 cm.
Gambar 3. 3 Saluran penangkap Berkisi (Grate Inlet)
dengan :
Qg = kapasitas tangkapan grate inlet (m^3/dtk) dg = kedalaman genangan rerata (m)
= Sx . T
Ag = luas ruang terbuka kisi (m²), total luas inlet dikurangi luas kisi g = percepatan gravitasi (m/dtk²)
T = Lebar genangan (atas saluran) Sx = Kemiringan melintang bahu jalan 3.2 Analisa Hidrologi
Data curah hujan yang digunakan untuk analisa hidrologi adalah data yang didapatkan dari stasiun Klimatologi di Kota Malang data yang digunakan adalah data 8 tahun mulai tahun 2014 – 2021. Dari data tersebut dilakukan analisis dengan Log Pearson III didapatkan hasil curah hujan rancangan 8 tahun 174,9 mm dan besarnya curah hujan rancangan untuk kala ulang 25 tahun yaitu 36,447 mm.
3.2.1 Distribusi Curah Hujan Wilayah
Dalam penyusunan rancangan pemanfaatan air dan pengendalian banjir, diperlukan data curah hujan rata-rata di seluruh wilayah yang terkait.
Data curah hujan ini dikenal sebagai curah hujan wilayah atau daerah, dan diukur dalam milimeter (mm). Pemilihan metode yang tepat untuk mendistribusikan curah hujan wilayah dari metode aljabar, Poligon Thiessen, atau Garis Isohyet dalam suatu daerah atau DAS (Daerah Aliran Sungai) dapat ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor.
Faktor-faktor tersebut meliputi jaring-jaring pos penakar hujan dalam DAS, luas DAS, dan topografi DAS (Suripin, 2004).
Tabel 3.Pemilihan Metode Distribusi Curah Hujan Wilayah Menurut Faktor Jaring-jaring Pos Penakar Hujan.
Sumber: Suripin, 2004
Tabel 4 Pemilihan Metode Distribusi Curah Hujan Wilayah Menurut Faktor Luas DAS
Sumber: Suripin, 2004
Tabel 5 Pemilihan Metode Distribusi Curah Hujan Wilayah Menurut Faktor Topografi DAS
Sumber: Suripin, 2004
Curah hujan daerah ini harus diperkirakan dari beberapa titik pengamatan curah hujan. Metode yang digunakan untuk menghitung curah hujan daerah dari pengamatan curah hujan di beberapa titik adalah metode aljabar, metode poligon thiessen, dan metode garis isohyet (Sosrodarsono, 2006).
3.2.1.1 Metode Aljabar
Metode Rata-rata Aljabar merupakan metode yang paling sederhana dalam perhitungan hujan kawasan. Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa semua penakaran hujan mempunyai pengaruh yang setara. Cara ini cocok untuk kawasan dengan topografi rata atau datar, dan harga individual curah hujan tidak terlalu jauh dari harga rata-ratanya (Suripin, 2004). Hujan kawasan dengan menggunakan Metode Rata-rata Aljabar diperoleh dari persamaan berikut :
Dengan :
P1 ,P2, ..., Pn = curah hujan yang tercatat di pos penakaran hujan n = jumlah pos penakaran hujan
3.2.1.2 Metode Poligon Thiessen
Metode Poligon Thiessen digunakan jika titik-titik pengamatan di dalam daerah itu tidak tersebar merata, maka cara perhitungan curah hujan rata-rata itu dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh tiap titik pengamatan. Curah hujan daerah itu dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
Dimana:
d =curah hujan daerah rata-rata area
A = luas area
d1, d2, ..., dn = curah hujan di tiap titik pengamatan dan n adalah jumlah titik-titik pengamatan
A1, A2, .... , An = bagian daerah yang mewakili tiap titik pengamatan Cara Thiessen ini memberikan hasil yang lebih teliti daripada cara aljabar rata-rata. Akan tetapi menentukan titik-titik pengamatan dan pemilihan ketinggian akan mempengaruhi ketelitian hasil yang didapat.
3.2.1.3 Metode Garis Isohyet
Metode Isohyet merupakan metode yang paling akurat untuk menentukan hujan rata-rata hujan. Metode ini memperhitungkan secara aktual pengaruh tiap- tiap pos penakaran hujan, metode ini menunjukkan tempat-tempat yang mempunyai kedalaman curah hujan yang sama. Hujan kawasan dengan menggunakan Metode Isohyet diperoleh dari persamaan berikut:
Dengan :
P1,P2, = curah hujan yang tercatat di pos penakaran hujan A = luas areal polygon masing masing pos penakaran hujan
Gambar 3. 4 Metode Isohiet 3.2.2 Uji Outlier Data
Uji outlier data curah hujan digunakan untuk mengetahui apakah data maksimum dan minimum dari rangkaian data yang ada layak digunakan atau tidak. Langkah-langkah perhitungannya dimulai dengan menggunakan data dari terbesar ke terkecil atau sebaliknya, kemudian menghitung nilai Log dari data dan menghitung reratanya, lalu menghitung nilai standar deviasi dan menentukan nilai Kn sesuai dengan jumlah data (Irawan, 2008). Nilai Kn untuk uji outlier dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 3. 4 Nilai Kn untuk Uji Outlier
Sumber: Irawan, 2008
3.2.3 Uji Konsistensi Data Curah Hujan
Dari data curah hujan yang didapatkan, terlebih dahulu diuji konsistensinya untuk menentukan apakah dan tersebut mengalami penyimpangan atau tidak (Indardi,2009). Apabila mengalami penyimpangan maka data curah hujan tersebut perlu dikalikan dengan angka koreksi sebelum menghitung curah hujan maksimumnya.
3.2.4 Analisis Frekuensi Curah Hujan
Dalam bidang hidrologi, analisis frekuensi curah hujan dapat dilakukan menggunakan metode statistik. Ada beberapa jenis distribusi frekuensi yang umum digunakan dalam analisis tersebut (Wicaksono, 2014). Beberapa metode distribusi yang sering digunakan meliputi distribusi normal, distribusi Gumble, dan distribusi Log Pearson III (Fitria, 2008). Dalam perhitungan kalli ini akan digunakan distribusi Log Pearson III
3.2.4.1. Metode Distribusi Log Pearson III
Parameter-parameter statistik yang diperlukan oleh distribusi Log Pearson III adalah nilai tengah (mean), standar deviasi dan koefisien kemencengan. Untuk menghitung, pertama kali yang dilakukan adalah mentransformasi data ke
nilai-nilai logaritmanya, kemudian menghitung parameter- parameter statistiknya. Karena mentransformasi tersebut, maka cara ini disebut Log Pearson III (Soemarto, 1999).
Berikut langkah-langkah penggunakaan distribusi Log Pearson III:
● Mengubah data ke dalam bentuk logaritmis, X = log X
● Menghitung harga rata-rata
● Menghitung harga simpangan baku
● Menghitung koefisien kemencengan
● Menghitung logaritma hujan atau banjir dengan periode
ulang T dengan rumus
Dimana:
Xi = curah hujan maksimum tahunan rerata (mm) Xt = curah hujan rancangan (mm)
S = simpangan baku (mm)
G = faktor frekuensi untuk distribusi Log-Pearson III n = jumlah stasiun
3.2.5 Uji Kesesuaian Distribusi
Ada dua macam pengujian yaitu Uji cara Uji Chi – Kuadrat dan Smirnov – Kolmogorov. Uji Chi – Kuadrat membandingkan antara X2 dengan X2 kritis, jika X2 < X2 kritis maka distribusi data yang kita lakukan sudah sesuai, jika tidak maka harus digunakan
distribusi data yang lain. Uji Smirnov – Kolmogorov membandingkan antara Δmaks dengan Δkritis, jika Δmaks lebih kecil dari Δkritis maka distribusi data yang kita lakukan sudah sesuai, jika tidak maka harus digunakan distribusi data yang lain (Suripin,2004).
3.2.5.1 Uji Chi - Kuadrat
Uji Chi - Kuadrat dimaksud untuk menentukan apakah persamaan distribusi yang telah di pilih dapat mewakili distribusi statistik sempel data yang di analisis.
Tahapan pengujian distribusi dengan adalah sebagai berikut:
● Mengelompokkan data kedalam kelas (K) dengan rumus:
K = 1+ 3,322 log n
● Menghitung derajat Kebebasan (DK) dengan rumus : DK = K - (P+1)
● Menghitung nilai Frekuensi (EF)
EF = n / K
● Menghitung Chi - Kuadrat
Dimana :
K = Jumlah kelas
n = Banyaknya data
DK = Derajat Kebebasan
P = Jumlah parameter ( untuk sebaran Chi - Kuadrat, P = 2)
EF = Frekuensi yang diharapkan
X 2 = Parameter Chi - kuadrat OF = Frekuensi Yang diamati
● Membandingkan X2 dengan X2 kritis Cara membandingkan antara X2 dangan X2 kritis adalah jika X2 < X2 kritis maka distribusi data yang dilakukan
sudah sesuai, jika tidak maka harus digunakan distribusu data yang lain.
3.2.5.2 Uji Smirnov - Kolmogorov
Dilakukan dengan membandingkan peluang paling maksimum antara distribusi empiri dengan distribusi teoritis yang disebut △max berikut adalah tahapan pengujian distribusi dengan cara Smirnov - Kolmogrov (Soetopo dalam Wicaksono, 2014 ) :
Menghitung dengan empiris Pe = m / ( n + 1 )
Menghitung koefisien frekuensi G untuk setiap data dengan persamaan :
Menentukan nilai G sesuai presentasi peluangnya
Menghitung nilai P dengan cara nilai G yang sudah di hitung diinterpolasi dengan nilai G yang sudah di tentukan
Menghitung selisih absolut antara Pt dan Pe yaitu △max
△max = | Pt - Pe | Dimana :
Pt = peluang teoritis Pe = peluang empiris
ΔPmax = selisih Pt dan Pe yang dimutlakkan Membandingkan △max dengan △kritis
Cara membandingkan antar △max dengan △ kritis adalah jika △max lebih kecil dari △kritis maka distribusi data yang kita lakukan sudah sesuai jika tidak maka harus digunakan distribusi data yang lain. Nilai
△kritis menurut Smirnov- Klomogorov.
3.3 Debit Hujan Rancangan
Debit adalah jumlah air (volume) yang mengalir melalui penampang dalam waktu tertentu, umumnya dinyatakan dalam satuan volume yaitu( m3 / detik ). Metode untuk memperkirakan debit rancangan yang umum di pakai adalah metode rasional. Model rasional merupakan model kotak hitam, maka tidak dapat menerangkan hubungan curah hujan dan aliran permukaan dalam bentuk hidrograf. Persamaan matematik metode rasional dinyatakan dalam bentuk berikut ( Suripin, 2004):
Q = C I A Dimana :
Q = debit air hujan (m3/s) C = Koefisien Pengaliran I = Intensitas curah hujan (m/s) A = Luas Wilayah pengaliran (m2)
Menetukan besarnya debit kapasitas saluran berdasarkan curah hujan yang terjadi perlu ditinjau terlebih dahulu hubungan antar debit hujan yang ada dengan topografi dan tata guna lahan pada kawasan yang di tinjau .
3.3.1 Intensitas Hujan (I)
Perencanaan teknis bangunan air yang pertama harus ditentukan adalah berapa debit yang diperhitungkan. Pada umumnya semakin besar waktu t intensitas hujannya semakin kecil. Jika tidak ada waktu mengamati, maka ditempuh dengan cara empiris dengan menggunakan rumus-rumus seperti rumus Talbolt, Rumus Sherman, Rumus Ishiguro, dan Rumus Mononobe.
Dimana :
I = intensitas hujan (mm/jam) t = waktu atau durasi hujan (jam)
R24 = curah hujan maksimum dalam sehari (mm)
3.3.2 Koefisien Pengaliran (C)
Koefisien pengaliran merupakan perbandingan antara jumlah air yang mengalir akibat turunnya hujan disuatu daerah dengan jumlah air hujan yang turun pada daerah tersebut. Besarnya koefisien pengaliran berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan pemanfaatan lahan dari aliran sungai (Wicaksono, 2004). Adapun cara perhitungannya dengan mengunakan rumus sebagai berikut (Suharjono dalam Wicaksono, 2014) :
Dimana :
C = koefisien pengaliran rata-rata
Ai = Luas daerah masing-masing tata guna lahan
Ci = Koefisien pengaliran masing - masing tata guna lahan
3.3.3 Daerah Layanan Saluran Drainase (A)
Daerah layanan saluran drainase adalah suatu daerah yang memiliki jaringan drainase mulai dari hulu hingga satu muara pembuangan tersendiri sehingga jaringan drainasenya terpisah dengan jaringan drainase daerah pelayanan lainnya. Daerah aliran adalah daerah yang dibatasi oleh batas - batas topografi sehingga air menggenanginya tidak membebani daerah aliran lainnya .
3.4 Perencanaan Dimensi Saluran Drainase
Menurut pedoman perencanaan drainase jalan tahun 2006, untuk menentukan dimensi saluran yang pertama dilakukan adalah memperkirakan dimensi saluran sesuai dengan ruang yang tersedia dan koefisien manningnya.
Kemudian menentukan kecepatan saluran dan tinggi jagaan.
3.4.1 Kapasitas Saluran Drainase
Saluran drainase dapat terbuka atau tertutup menurut keadaan, meskipun tertutup alirannya bukan merupakan aliran tekanan,
sehingga rumus aliran seragamnya tetap berlaku (Chow dalam Umar, 2011)
Q = A . V
V = 1/n x R2/3x S1/2 Dimana :
Q = kapasitas saluran ( m3/s) A = luas penampang (m2) V = kecepatan aliran (m/s) R = jari - jari hidrolis saluran (m) S = kemiringan saluran
n = Koefisien kekasaran manning
Tabel 3.5 Kekerasan Manning untuk saluran
3.4.2 Bentuk Penampang Saluran Drainase
Penampang saluran drainase memiliki berbagai macam bentuk, diantaranya penampang persegi dan penampang trapesium.
Gambar penampang sebagai berikut : a. Bentuk penampang persegi
Gambar 3. 5 Bentuk Penampang persegi b. Bentuk penampang trapesium
Gambar 3. 6 Bentuk Penampang Trapesium
Rumus yang digunakan untuk menghitung kapasitas saluran drainase dengan penampang segi empat adalah :
A = b.h P = b + 2h R = A / P
Rumus yang digunakan untuk menghitung kapasitas saluran dengan penampang trapesium adalah :
A = ( b + zh ) h P = b + 2h R = A / P Dimana :
A = luas penampang (m2) P = keliling basahm (m) R = jari - jari hidrolis (m) b = lebar dasar saluran (m) h = tinggi saluran (m)
z = kemiringan dinding saluran (m)
3.4.3 Tinggi Jagaan Penampang (W)
Tinggi jagaan penampang untuk suatu aliran adalah jarak vertikal dari puncak tanggul sampai permukaan air pada kondisi perencanaan. Jarak tersebut ditentukan berdasarkan pertimbangan untuk mencegah peluapan air. Tinggi jagaan dapat direncanakan berdasarkan debit pada saluran tersebut seperti terlihat pada tabel tersebut : ( Wicoksono, 2014).
Tabel 3. 5 Tinggi jagaan berdasarkan Debit
Gambar 3. 7 Tinggi Jagaan Saluran
BAB IV
ANALISIS PERMASALAHAN DAN STRATEGI PENYELESAIAN
4.1 Analisis Permasalahan
Dari Pemantauan yang kami lakukan pada hari Selasa, 19 Maret 2024 kami menemukan beberapa permasalahn utama yang dapat dijadikan beberapa alasan mengapa banjir masih sering terjadi di area Jalan Soekarno Hatta terutama pada kawasan Politeknik Negeri Malang Hingga kawasan di depan Pizza Hut Soekarno Hatta. Beberapa permasalahan yang ditemukan antara lain :
1. Kapasitas Drainase yang berkurang
Drainase tentunya sangat penting. Oleh karena itu, harus dilakukan pemeliharaan yang baik agar kapasitas drainase tidak berkurang.
Berkurangnya kapasitas drainase bisa disebabkan oleh beberapa hal. Dari hasil pemantauan di lapangan penyebab dari berkurangnya kapasitas adalah :
a. Adanya struktur dibagian atas drainase yang akhirnya mengurangi volume drainase yang sudah direncanakan.
Pada kasus ini, seperti yang tertera pada gambar di bawah terlihat bahwa struktur yang dibangun di atas drainase menyebabkan pengurangan volume drainase yang berimbas terhadap berkurangnya kapasitas drainase menampung limpasan air. Hal ini bila dibiarkan tentunya akan menyebabkan drainase lebih mudah terisi penuh dan mengakibatkan drainase meluap dan terjadi banjir. Oleh karena itu, seharusnya memang tidak diperbolehkan mendirikan bangunan apapun diatas drainase bila kebutuhan mendesak seperti jalan keluar masuk bangunan haruslah tetap memperhatikan kapasitas drainase yang tidak boleh mengecil/berkurang akibat bangunan tersebut.
b. Adanya sedimentasi yang menyebabkan volume drainase berkurang.
Sedimentasi merupakan progres penumpukan partikel padat di dasar air atau cairan. Penumpukan ini terjadi akibat limbah rumah tangga. Hal ini juga harus diperhatikan lebih lanjut sebab sedimentasi benar-benar mengurangi kapasitas drainase. Oleh karena itu, sedimentasi juga harus dihindari agar drainase bisa menampung limpasan air agar sesuai dengan perencanaan di awal.
c. Penumpukan Sampah
Sama seperti sedimentasi dan Struktur atas yang menyebabkan berkurangnya volume. Seharusnya sampah tidak berada di drainase, namun hal ini masih banyak ditemui di malang terutama pada ruas jalan Soekarno Hatta. Hal ini dapat dicegah bila pemeliharaan drainase selalu dilakukan untuk mengurangi volume drainase.
2. Street Inlet yang tidak bekerja maksimal
Street inlet merupakan Street inlet adalah bangunan pelengkap pada system drainase yang merupakan lubang atau bukaan pada sisi – sisi jalan yang berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan yang berada di sepanjang ruas jalan menuju ke dalam saluran drainase . Sesuai dengan definisi di atas, Street Inlet memiliki peran vital dalam penanganan masalah banjir. Namun, yang ditemukan di lapangan adalah Street Inlet rusak hingga tak terawat dengan baik. Dari Gambar yang ada di bawah dapat dilihat bahwa saluran inlet tertutup sampah, rusak, digantikan dengan penutup kayu, dan saluran inlet yang tidak memiliki jalur ke dalam drainase.
Street Inlet tertutup dedaunan Street Inlet mengalami kerusakan
Steet Inlet diganti dengan penutup kayu yang membuat air limpasan hujan tidak bisa
masuk ke dalam drainase
Street Inlet yang tidak memiliki saluran yang mengalirkan ke dalam drainase.
3. Kemiringan Jalan
Kondisi ideal antara jalan dan street inlet adalah posisi drainase berada di bawah atau elevasinya lebih rendah daripada jalan. Namun dari hasil pemantauan yang kami dapatkan kondisi yang terjadi pada jalan Soekarno Hatta adalah letak Street Inlet berada pada ketinggian yang lebih
tinggi daripada jalan. Seperti pada gambar yang ada di bawah, terlihat bahwa lokasi Street Inlet yang terlalu tinggi dibandingkan jalanan.
4.2. Strategi Penyelesaian
Setelah mengamati masalah-masalah pada Sistem Drainase Jalan Soekarno Hatta, kami mencoba mendiskusikan beberapa alternatif penyelesaian untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Poin permasalahan pertama yang kami amati pada sistem drainase tersebut adalah berkurangnya kapasitas saluran drainase.
Alternatif penyelesaian untuk mengatasi hal ini adalah sebagai berikut :
a. Adanya struktur dibagian atas drainase yang akhirnya mengurangi volume drainase yang sudah direncanakan.
Melalui analisa yang kami lakukan, berkurangnya kapasitas saluran drainase tersebut diakibatkan oleh adanya struktur penghubung di atas saluran yang menghalangi jalur mengalirnya air. Struktur penghubung ini merupakan jalur yang dibuat untuk dapat memberikan akses dari jalan ke bangunan yang ada di pinggir jalan. Namun, dimensi dari struktur penghubung ini malah mengurangi dimensi dari saluran drainase yang ada dibawahnya.
Strategi penyelesaian yang cocok untuk masalah ini dapat dilaksanakan dengan :
1. Memeriksa kembali apakah dimensi struktur ini signifikan terhadap debit air pada saluran dan berpotensi mengakibatkan banjir.
2. Jika dimensi struktur tidak berpotensi mengakibatkan banjir, maka struktur ini dapat dibiarkan berfungsi seperti biasanya.
3. Sebaliknya, jika dimensi struktur ternyata berpotensi mengakibatkan banjir, maka diperlukan pembongkaran dan pembangunan kembali struktur dengan dimensi yang sesuai.
Dengan begitu, dapat dipastikan bahwa keberadaan struktur penghubung ini tidak mengganggu debit air pada saluran drainase.
b. Adanya sedimentasi yang menyebabkan volume drainase berkurang.
Sumber aliran air pada saluran drainase Jalan Soekarno Hatta salah satunya berasal dari pemukiman sekitar. Aliran air ini didominasi oleh limbah-limbah rumah tangga yang dapat mengendap di dasar saluran.
Seiring berjalannya waktu, sedimentasi dari limbah-limbah ini akan semakin menebal dan memberikan pengaruh terhadap berkurangnya dimensi saluran yang pada akhirnya mengurangi kapasitas saluran.
Alternatif solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan dilaksanakannya pengerukan sedimentasi untuk mengembalikan kapasitas saluran. Limbah-limbah rumah tangga akan terus-menerus mengisi saluran dan mengendap di dasar saluran. Maka dari itu, perlunya pengerukan sedimentasi secara berkala agar kapasitas saluran tetap terjaga.
c. Penumpukan Sampah
Sampah yang ada pada saluran dapat berasal dari daun-daun kering maupun ranting pohon. Namun, selain itu sampah yang ada pada saluran juga berasal dari perilaku pembuangan sampah secara sembarangan oleh masyarakat sekitar. Jika dibiarkan begitu saja, sampah-sampah ini dapat menyumbat aliran air dan mengurangi kapasitas saluran.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membersihkan saluran dari sampah-sampah secara berkala. Untuk kasus pembuangan sampah secara sembarangan, dapat diatasi dengan pemberian tindakan yang tegas terhadap pelaku dengan harapan
memunculkan rasa jera pada pelaku. Selain itu, tindakan pembuangan sampah secara sembarangan dapat dicegah dengan peletakan papan peringatan di area sekitar saluran.
Poin kedua yang menjadi perhatian kami pada sistem drainase Jalan Soekarno Hatta adalah masalah pada Street Inlet. Street Inlet yang ada pada sisi jalan Soekarno Hatta masih belum dapat bekerja semestinya. Diperlukan beberapa tindakan dalam mengembalikan fungsi Street Inlet, mengingat betapa pentingnya peran Street Inlet ini dalam mencegah banjir. Beberapa solusi dapat dilakukan, seperti :
1. Membersihkan sampah-sampah yang menyumbat Street Inlet agar air yang ada di sisi jalan dapat masuk ke saluran melalui Street Inlet.
2. Memperbaiki Street Inlet yang rusak.
3. Memastikan air dapat mengalir dengan baik ke saluran drainase melalui Street Inlet tanpa mengganggu aktivitas di sekitar.
Poin permasalahan terakhir yang ada di Sistem Drainase ini adalah kemiringan jalan yang membuat elevasi Street Inlet lebih tinggi daripada elevasi jalan. Hal ini tentu saja menimbulkan masalah karena air dari sisi jalan tidak akan bisa masuk ke dalam Street Inlet. Perilaku ini pada akhirnya akan membuat air menggenang di sisi jalan dan berujung pada terjadinya banjir. Untuk mengatasi masalah ini, strategi yang dapat dilakukan adalah :
1. Melakukan pengerukan tanah di sisi jalan untuk memastikan elevasi jalan lebih tinggi daripada elevasi sisi jalan.
2. Membongkar Street Inlet yang memiliki elevasi lebih tinggi dari jalan.
3. Membangun kembali Street Inlet yang ideal dengan elevasi sesuai dengan elevasi sisi jalan yang sudah dikeruk guna memastikan air dapat masuk ke dalam Street Inlet.
Dengan memastikan air dapat masuk ke dalam saluran drainase melalui street inlet, maka genangan-genangan air dapat dicegah dan mengurangi potensi terjadinya banjir.
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan analisis data yang dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Saluran drainase yang diamati pada dua arah yaitu arah dari jembatan soekarno hatta ke patung pesawat dan dari arah patung pesawat ke jembatan soekarno hatta. Dimensi dari drainase pada kedua lokasi dijabarkan sebagai berikut :
• Lokasi drainase di depan Politeknik Negeri Malang dengan dimensi tinggi drainase 135 cm ; lebar drainase 86,5 cm.
• Lokasi drainase di sebrang jalan Rumah Makan Kakkoii dengan dimensi tinggi drainase 90 cm ; lebar drainase 80 cm
Saluran drainase yang ada di Soekarno Hatta memiliki kemiringan sebesar 5 derajat.
2. Kondisi saluran drainase di Jalan Soekarno Hatta antara lain terdapat penyumbatan saluran street inlet oleh sampah, baik sampah bekas kemasan maupun dedaunan kering, terdapat banyak sedimentasi pada saluran drainase, tertutupnya street inlet dengan paving dan beton, adannya kerusakan pada komponen bangunan drainase jalan, saluran street inlet yang tidak dapat mengalirkan air akibat perbedaan kemiringan, adanya struktur di bagian atas drainase yang mengakibatkan kurangnya kapasitas drainase yang direncanakan.
3. Dari hasil analisa dan data yang didapatkan maka perlu dilakukan upaya dan solusi yang ditawarkan agar saluran drainase dapat berfungsi dengan optimum dalam melakukan tugasnya. Pembersihan sampah pada saluran inlet perlu dilakukan agar dapat mengalirkan air ke saluran drainase, perencanaan ulang pada street inlet perlu dilakukan agar limpasan air hujan yang berada di sepanjang ruas jalan dapat menuju ke saluran drainase.
Penggerukan perlu dilakukan secara berkala untuk menghilangkan sedimentasi sehingga drainase mampu maksimal dalam menampung volume air yang telah direncanakan. Masih banyak lagi solusi yang
ditawarkan sebagai upaya dalam meminimalisir terjadinya banjir khususnya di Kota Malang.
5.2 Rekomendasi
Berdasarkan hasil dan analisis data yang dilakukan, maka penulis dapat merekomendasikan :
1. Perlu dilakukan pembersihan sampah pada saluran inlet agar saluran tersebut mampu mengalirkan air hujan yang berada di sepanjang ruas jalan ke saluran drainase.
2. Perlu dilakukan perencanaan ulang pada street inlet baik terhadap kemiringan saluran maupun kondisi saluran inlet yang tertutup beton agar mampu mengalirkan air hujan di sepanjang ruas jalan menuju saluran drainase.
3. Perlu dilakukan sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga lingkungan serta menghindari buang sampah sembarangan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustian D, dkk. 2020. Analisis Dimensi Street Inlet pada Ruas Jalan Simpang Gajayana Kota
Malang. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Industri, Lingkungan dan Infrastruktur. Universitas Tribhuwana Tunggadewi.
Apriadi R, dkk. 2016. Tinjauan Kinerja Inlet Jalan Untuk Mengurangi Genangan Akibat Limpasan
Hujan. Naskah Seminar Tugas Akhir. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Das, Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat. 2014. Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Republik Indonesia Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan, Badan Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta.
Jifa, Azarine Nabila. 2015.Evaluasi Saluran Drainase Jalan Gajayana dan Jalan Sumbersari Kota
Malang http://repository.ub.ac.id/id/eprint/150229/
Kementerian Pekerjaan Umum. 2009. Pedoman Operasi dan Pemilihan Prasarana dan Sarana
Drainase Perkotaan. Direktorat Jendral Cipta Karya. Jakarta.
Soemarto, C.D. 1999. Hidrologi Teknik. Erlangga. Jakarta.
Sosrodarsono, S & Takeda, Kensuka. (1978). Hidrologi Untuk Pengairan. Editor Sosrodarsono,
S. PT Pradnya Paramita: Jakarta
Suharyanto, A. (2014). Desain Street Inlet Berdasarkan Geometri Jalan Raya.
Rekayasa Sipil, 7(3), 239-247.
Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan Yang Berkelanjutan. Penerbit Andi.
Yogyakarta.
Syarifudin, A. 2018. Drainase Perkotaan Berwawasan Lingkungan
Tokan, B. A., Khaerudin, D. N., Arifianto, A. K. 2018.Studi Perencanaan Jaringan Drainase
Permukiman Di Perumahan Pegawai Negeri Sipil Kepanjen Kabupaten Malang. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang
Triatmodjo, Bambang. 2008. Hidrologi Terapan. Beta Offset. Yogyakarta.
LAMPIRAN
• Foto dan Dokumentasi Tinjauan Lapangan
1. Kapasitas Saluran Air yang berkurang baik akibat tambahan struktur diatasnya maupun pada sisi dinding salurannyaa
2. Street Inlet yang tertutupi oleh sampah dedaunan
3. Street Inlet yang rusak sehingga menyebabkan bongkahan sisanya menutupi jalan masuk air
4. Street Inlet yang seharusnya ada diganti dengan penutup kayu yang mengubah fungsi Street inlet itu sendiri
5. Jalur Street Inlet yang tidak ada pada drainase
6. Tidak efisiensinya lubang air dikarenakan kemiringan lubang di arah jalan lebih rendah daripada yang menuju saluran air
7. Banyaknya sampah yang menumpuk pada saluran
8. Banyaknya sedimentasi pada saluran
9. Berbeda-bedanya dimensi saluran disepanjang trase jalan
10. Tidak adanya lubang air yang menjadi tempat pembungan air dari jalan raya ke saluran air
• Foto dan Dokumentasi Diskusi 1.
2.
3.
Isu embeta·a!Jn I. Kapasita
bert..
berkaitan den an saluran air yang
akibat tambahan struktur dipsnya maupun pada
isi dinding salurunnya.
KEMENTERIAN PENDIOIKAN, KEBVDA YAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI
lVER JTA BRAWUAYA FAKULTA TEKNlK
J R SA TEKNIKSJPIL
JI. Mayjcnd. llaryono No. 167, Malang, 65145, Indonesia Tclp. : +62-341-580120; Fax : +62-341-580120
http: s1p1l.ub ac.1d E-mail : [email protected]
Kclompok 03
Borang Pemantauan Pcndefinisian Masaiah tO(\.'t.:·\
Paraf: ...
Mata Ajarn.n : Droinase Tanggal : 19 Maret 2024
Judul Pemicu : Adanya Genangan Air pada Jalan Soekamo Hatta ama-nama anggota kelompok :
1. Jehezkiel Dyero
2. Fran isco Yohanes Sinurat 3. HasyrThawafS. R.
4. Maharani Aprilia Putri 5. Amos Frans Marco N.
Dcfcnisi Masalab :
Adanya gcnangan air di scpanjang ruas jalan Sockamo Hatta yang discbabkan olch lubang air vang 1idak dapat bcrfuogsi dengan baik dalam mengalirkan air ke saluran drainase.
KEMENTERIAN PENDiDiKAN, KEBUDAYMN, RISET, DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNlK JURUSA TEKNIKSIPIL
JI. Mayjcnd. Haryono No. 167, Malang, 65145, Indonesia Telp.: +62-341-580120; Fax : +62-341-580120
htt ://si ii.uh ac.id E-mail : c1v1I II ub ac.1d 2. Street Inlet yang terturupi oleh
sa1npahdedaunan.
·••
""'- , ...,=--'"·'
3. Street Inlet yang rusak, sehingga menycbabkan sisa bongkahannya mcnutupi jalan masuk air.
4. Street Inlet yang sebarusnya ada diganti dengan penutup kayu yang mengubah fungsi Street inlet itu sendiri.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDA YAAN, RISET, DAN TEK OLOGI
UNlYERSITAS BRAWIJAYA FAKULTA TEKNIK JURUSA TEK 'IKSJPIL
JI. MayJcnd. Haryono No. 167, Malang, 65145, Indonesia Tclp.: 62-341-580120, Fax : 62-341-580120
htt ://\I 1I ub ,tc id E-mail : c1\il(a ub ac 1d
5. Jalur Street /11/e/ tidak tcrhubung dengan saluran drainase.
6. Tidak efektifnya lubang air dikarenakan kemiringan lubang di arah jalan lebih rendah daripada yang menuju saluran air.
7. Banyaknya sampah yang mcnumpuk pada saluran.
E-mail : 1,1vil a ub ac.1d
KEME TERIA PE DlDIKAN, KEBUD YA N, RISET, DAN TEKNOLOGI
U IVER ITA BRAWIJAYA FAKULT TEKNll<
JURUSAN TEKNIK SirIL
JI. 1ayjcnd. Haryono o. 167, Malang, 65145, Indonesia Tclp. : +62-341-580120; Fax : t62-34l-580120
hit ://s1 ii.uh .ac id
I
8. Bnnyaknya sed11nenta i pada saluran.
9. Berbeda-bedanya dimensi saluran disepanjang Lrase jalan.
/
r-"7::-= :-- - :-: -- =.h:i.t i";'/.s1.1;lu.b=.a=c.1=d-wr-E,-mail : c1vil(t,ub.ac 1d 10. Tidak adnnya lubang air yang
menjadi tempat pembungan air dari jalan raya ke saluran air.
K ME TERIAN PENDiDiKAN, KEBUDAYMN,
r
RISET, DAN TEKNOLOGJIVER ITASBRAWJJAYA FAJ(ULTAS TEKNrK JURUSA TEK JK s,rrL
JI.Mayjcnd. Haryono o. 167, Malang, 65145, Indonesia Telp. : +62-341-580120; Fax : +62-341-580120
KEMENTERIAN PENDIDIKAN KEBUDAYAAN, RISET, DAN TE K N O'
LOGI
U fVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEK IK JURUSAN TEKNIK rrrL
JI. Mayjend. Haryono o. 167, Malang, 65145, Indonesia Tclp. : +62-341-580120; Fax : +62-341-580120 http:. 's1p1l.ub ac.1d E-mail : c1v1l@;ub.ac.1d Bahan ajar umuk scsi saling ajar dalam kelompok Dipcrsiapkan oleh
a. Fransisco dnn Jchczkicl b. Amos clan Maharani c. Maharani
a. Maharani
b. Amos dan Maharani c. Fransiso dan Jchczkicl d. Ha.-.yr
a. Maharani
a. Maharani
a. Maharani
a. Mahar.mi
b. Fransisco dan Jehezkiel c. Amos dan Maharani
a. Hasyr b. Maharani
a. Fransisco dan Jehczkiel b. Amos dan Maharani
a. Fransisco dan Jehezkiel b. Amos dan Maharani c. Maharani
a. Maharani
b. Fransisco dan Jchczkicl c. Amos dan Maharnni I. Bahan ajar untuk isu nomor I :
a. Hidrolika b. llidrologi
c. Peraturan (baik itu Pcraturan Memeri maupun Pcraturan Dacrah)
2. Bahan ajar untuk isu nomor 2:
a. Peraturan (ba1k itu Peraturan Menleri maupun Peraturan Daerah)
b. Hidrologi c. Hidrolika d. DAL
3. Bahan ajar unruk isu nomor 3 :
a. Pcraruran (baik iru Pcraturan Menreri maupun Peraruran Dacrah)
4. Bahan ajar untuk isu nomor 4 :
a. Peraturan (baik itu Peraturan Menteri maupun Pcraruran Oacrah)
5. Bahan ajar untuk isu nomor 5 :
a. Pcraturan (baik iru Pcraruran Menleri maupun Peraturan Daerah)
6. Bahan ajar untuk isu nomor 6 :
a. Pcraruran (baik iru Pcraturan Mcntcri maupun Pcraturan Daerah)
b. Hidrolika
C. Hidrologi
7. Bahan ajar untuk isu nomor 7 : a. SDAL
b. Pcraruran (baik iru Pcraturan Mcatcri maupun Pcraturan Dacrah)
8. Rahan ajar untuk isu nomor 8 : a. Hidrolika
b. Hidrologi
9. Bahan ajar unruk isu nomor 9 : a. !Jidrolika
b. Hidrologi
c. Pcraruran (baik itu Pcraturan Mcnteri maupun Pcraruran Daerah)
I 0. Rahan ajar untuk isu nomor IO :
a. Peraturan (baik iru Peraturan Memeri maupun Pcraturan Dacrah)
b. Hidrolika
C. Hidrologi
Tunjukkan borang kepada dosen untuk diparaf pada akhir sesi pendefinisian masalah. Borang ini d1perlukan scbelum sesi prescntasi dllaksanakan. S1mpan borang 1111 unnik d1kumpulkan bcrsama laporan kclompok
Pnaw
M
._
l,
T,_
M,t
>I--c·,· 9
0
Q
0
Loka i • urvcy
Lokasi Uf\C) yang digunakan dalam pem1asalahan im adalah Jalan Soekamo Hatta. Seperti ) ang terhhat pada gambar dibawah Jalan ini terbentang sepanjang 2 Km. dengan lokasi drainase) ang kami uk.ur berada pada lokasi sebagai berikut yaitu, area depan Politeknik
egen Malang dan d1seberang Kakkou.
• Untuk Lokasi Depan Politeknik Negeri Malang Memiliki Dimensi Drainase sebagai benkut :
I
1 86,5 anI1_
90 cm..
• Untuk Lokasi eberang Jalan Rumah Makan Kakko,i Memiliki Dimensi Drainase sebagai berikut :
\
l
l. scom ,Selanjutnya dari hasil survey yang sudah kami lakukan, kami juga memetakan peta arah drainase untuk kedua ruas jalan.
• Ruas Jalan Arah Politeknik Negeri Malang ke Patung Pesawat
• Ru:lS Jalan Amh Pmung Pcsawat 1-e I:,·eryday Smar/ Hole/ Malang
.,. •
...
., ,. CoC.
'
/
9
I
Q
D
/
..
..
I
0
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
Jl. Mayjend. Haryono No. 167, Malang, 65145, Indonesia Telp. : +62-341-580120; Fax : +62-341-580120
http://sipil.ub.ac.id E-mail : [email protected]
Borang Pemantauan Diskusi Kelompok
Kelompok : 3 Paraf:………….
Mata Ajaran : Drainase Tanggal : 27 April 2024
Judul Pemicu : Adanya Genangan Air pada Jalan Soekarno Hatta Nama-nama anggota kelompok:
1. Jehezkiel Dyero 4. Maharani Aprilia Putri
2. Fransisco Yohanes Sinurat 5. Hasyr Thawaf S. R.
3. Amos Frans Marco N
Penilaian kelompok: Nilailah kinerja anda dengan menuliskan angka yang sesuai, dalam skala 1-6. (1=tidak ada, 2=kurang sekali, 3=kurang, 4=cukup, 5=baik, 6=baik sekali) dalam hal:
• Pengaturan diskusi: 6
• Perimbangan & saling menghormati: 6
• Kekompakan & saling menghormati: 6
• Mendengarkan untuk memahami: 6
• Menilai suatu gagasan: 6
Topik pembelajaran yang belum dipelajari dengan jelas dan rinci
= Merencanakan kapasitas saluran drainase
Apa yang akan dilakukan oleh kelompok terkait dengan topik yang belum jelas dan rinci?
= Mencari sumber refrensi perhitungan dan mendiskusikan dengan dosen pengampu
Pertanyaan/masalah yang belum ada solusinya
= Apakah Elevasi kemiringan jalan Soekarno Hatta lebih miring ke arah drainase atau ke arah median jalan
Apa yang akan dilakukan oleh kelompok terkait pertanyaan yang belum ada solusi?
= Melakukan survey ke lokasi lapangan dan melakukan cek terhadap kemiringan jalan
[Borang ini ditandatangani dosen sebelum kelas usai, dan disisikan didalam laporan kelompok.]
• Data/dokumen lain terkait topik
Data Hujan Tahun 2004
Data Hujan Tahun 2005
Data Hujan Tahun 2006
Data Hujan Tahun 2007
Data Hujan Tahun 2008
Data Hujan Tahun 2009
Data Hujan Tahun 2010
Data Hujan Tahun 2011
Data Hujan Tahun 2012
Data Hujan Tahun 2013