HIPERKES & KK Bagi Dokter PT. Bina Okupasi - Direktorat Bina K3
Kementerian Ketenagakerjaan RI
Laporan Studi Kasus PT. ITI
HYGIENE INDUSTRI KELOMPOK B-1
23-27 NOVEMBER 2020
ANGGOTA
KELOMPOK
dr. Achmad Basir Rachman
dr. Ahmad Rifqi Yusuf
dr. Ahmad Syawqie Zakkiyuddin
dr. Albert Nego Androw Medha Sitepu
dr. Alinda Bella Fazrina
dr. Andri Irfan
dr. Anita Purnama Sari
dr. Annisa Fitri Bumantari
dr. Arti Febriyani Hutasuhut, M.Kes
dr. Astrid A. Nurhamzah
dr. Bisana Aris Wiyatna
dr. Daniel Amos S
dr. David Christian
dr. Durrah Fararesa
dr. Eka Rahmawati
dr. Elsiana Laurencia
dr. Fadilla Wanda Nassero
Identitas Perusahaan
Bidang industri telekomunikasi,
elektronika, informatika, kelistrikan atau energi, pertahanan,
serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya
perusahaan
JAWA BARAT
• Karyawan Tetap 485
• Karyawan Tidak Tetap 73
• Direksi, Dewan Komisiaris,
• Staff Dewan Komisiaris 9
• Jam Kerja: Jam Kerja: 07.30 -
15.30
• Asuransi: BPJS Ketenagakerjaan
PT. ITI
You can simply
impress your audience and add a unique zing and appeal to your Presentations.
Contents Title
You can simply
impress your audience and add a unique zing and appeal to your Presentations.
Contents Title
2020
2017 2019
Sertifikasi
Alur Produksi Tabung Gas LPG
1 1 2 2
3 3 4 4
5 5
10 10 11 11
9 9 8 8
7 7 6 6
Pressing 200 Ton
Dan Pressing
250 Ton Flanching
Footring Welding
Handguard Welding
Neckring Welding
Cyrcumferenti al Welding
Hydrostatik Test
Shotblasting
Pasang Valve
Leak Test Numerator
BISING
PENCAHAYAAN
VIBRASI
KERJA IKLIM
Faktor Fisik
RADIASI
Faktor Bising
No Unit Kerja Hasil Pengamatan Dampak yang Terjadi Upaya
Perusahaan Standar/PP Pemecahan Masalah
1. Bising Dari hasil
pengamatan,terdapat bising terus menerus dari mesin pressing dan
flanching yang digunakan.
Bising yang melebihi intensitas normal .Dalam jangka waktu yang cepat dapat menganggu
keseimbangan dan Dalam jangka waktu yang lama, bising kontinyu dapat memicu PAK NIHL.
Belum tampak adanya usaha untuk mencegah gangguan
pendengaran seperti
menggunakan APD penutup telinga
Permenaker no, 5 tahun 2018
1. Mengukur intensitas bising yang timbul dari mesin produksi
2. Menjauhkan mesin atau
menyediakan mesin yang kedap suara.
3. Pengendalian secara administratif dengan mengatur rotasi kerja 4. Pekerja dapat menggunakan APD
penutup telinga seperti earplug atau earmuff
5. Melakukan pemeriksaan secara berkala fungsi pendengarannya Mengukur intensitas bising yang
timbul dari mesin produksi
Faktor Pencahayaan
no
Unit Kerja HasilPengamatan Dampak yang
terjadi Upaya
Perusahaan Standar/ PP Pemecahan Masalah
2
Pencahayaan Dari hasilpengamatan, didapatkan adanya
pencegahan penvahayaan pada proses produksi masih kurang.
Pada proses pengelasan (Welding), vahaya yang ditimbulkan oleh bunga api
berada pada intensitas cahaya yang tinggi.
Selama proses pengelasan akan mengakibatkan kelelahan pada mata,
penglihatan kabur, fotofobia, konjungtuva kemotik,
kekeruhan pada lensa, katarak dan mata terasa sakit.
Penggunaan kacamata las yang lama dapat menyebabkan penurunan visus.
Perusahaan sudah
menyediakan kacamata las
Permenaker no.
5 tahun 2018 1. Dilakukan pengukuran, pengujian dan
pengawasa n berkala untuk intensitas pencahayaa n
2. Pengendalia n secara administratif dengan mengatur rotasi kerja.
Faktor Vibrasi
No Unit Kerja Hasil pengamatan Dampak Yang
terjadi Upaya
Perusahan Standar
/PP Pemecahan
Masalah
3 Vibrasi Dari hasil
Pengamatan di dapatkan getaran yang di hasilkan saat melakukan Gerakan pada Peralatan “Hand Arm Vibration” seperti alat bor dan alat
pemotong.
Jangka pendek menyebabkan kelelahan, rasa tidak nyaman, produktivitas kerja berkurang.
Untuk jangka panjang dpt menyebabkan Raynaud’s sindrome, degenerasi saraf,hilangnya indera peraba,CTS
- Menggunakan peralatan yg rendah
getarannya
- Memakai APD spt sarung tangan anti vibrasi
- Membuat
handle pada alat dengan tep
peredam getaran
Permenaker trans Nomor Permenaker no.05 tahun 2018
tentang K3 lingkungan kerja
Menghindari pemaparan terus menerus dengan melakukan
istrirahat 15 mnt tiap melakukan pekerjaan selama 1 jam
Gerakan peregangan / Olah raga jari tangan untuk melancarkan aliran darah Melakukan pengukuran berkala pada getaran yg dihasilkan
Faktor Iklim Kerja
No Unit
Kerja Hasil Pengamatan Dampak yang Terjadi Upaya
Perusahaan Standar/
PP Pemecahan Masalah
4. Iklim
kerja - Proses pembuatan LPG melalui proses pengelasan sehingga suhu di tempat kerja cukup panas.
- Ventilasi di ruang pabrik jumlahnya minim
- Para pekerja tidak disedikan minuman (air mineral) saat bekerja.
- Faktor iklim lain tidak dapat diukur
- Suhu yang terlalu tinggi dapat
mengakibatkan kelelahan pada pekerja.
- Suhu yang panas pada saat produksi juga dapat
mengakibatkan
pekerja rentan terjadi dehidrasi.
- Pada pekerja
dengan faktor resiko dapat terjadi heat stroke, heat cramp, gangguan ginjal.
-Pekerja dapat diberi kipas angin, dan ventilasi
udara yang cukup.
-Pekerja disediakan minuman (air mineral) ditempat yang aman dan mudah dijangkau oleh pekerja.
Permenak er no. 5 tahun 2018
-Melakukan perawatan rutin pada kipas angin, serta
menambah ventilasi udara di ruangan tersebut.
-Melakukan pengecekan berkala pada kebersihan tempat dan air minum untuk para pekerja.
Faktor Radiasi
No Unit Kerja Hasil Pengamatan Dampak yang Terjadi
Upaya Perusahaan
Standar/ PP Pemecahan Masalah
5. Radiasi Dari hasil
pengamatan dapat diamati pada
proses
pengelasan muncul cahaya dengan intensitas tinggi, yang dapat mengandung
radiasi sinar ultraviolet dan
radiasi inframerah.
1. Dapat
menyebabkan kelelahan,
ketidaknyaman pada mata, pencahayaan kurang dan kesilauan (glare).
2. Pada
pajanan dalam jangka
panjang, dapat memicu kanker kulit maupun katarak.
Pekerja diwajibkan menggunakan kaca mata hitam untuk mengurangi dampak cahaya
Permenaker no. 5 tahun 2018
1. Melakukan rotasi dan pembagian jam kerja untuk mengurangi pajanan yang
berlebihan.
2. Mewajibkan
penggunaan kacamata hitam, merotasi
pekerja dengan
gangguan penglihatan
Faktor Kimia
No Unit kerja Faktor kimia Hasil pengamatan Penyakit Akibat Kerja
1. Hexavalen Chrome Pekerja terpapar
saat proses welding steinless steal
Toksik (target organ) : Paru, ginjal, darah Kronik : Karsinogen dan teratogen
Inhalasi : Iritasi mukosa membran dan traktus respiratorius bagian atas
2. Nickel Pekerja terpapar
saat proses welding steinless steal
Inhalasi
Metallic fume fever (flu-like fever with metallic taste)
Nyeri dan perforasi septum, demam, batuk Kronik & kulit
Dermatitis
3. Cadmium oxide Pekerja terpapar
saat proses welding steinless steal
Inhalasi : pulmonary edema (wheezing, batuk, sesak), nyeri pada tenggorokan, karsinogen
Mutagenic effect, dan toksik terhadap ginjal
No Unit kerja
Faktor kimia Hasil pengamatan Penyakit Akibat Kerja
4. Vanadium Pekerja terpapar saat proses
welding steinless steal Menyebabkan iritasi pada mata, kulit, saluran pernapasan
5. Gas, asap, dan uap Pada proses welding
(pengelasan) para pekerja terpapar berbagai macam zat kimia
Standar/pp:
Permenaker no. 5 tahun 2018
PAK yang terjadi tergantung dari jenis zat kimia 1. Akut : zat kimia menyebabkan iritasi pada mata dan ggn traktus respiratorius (batuk, sesak, pulmonary edem)
2. Kronik : kerusakan paru, cancer, dan
kerusakan target organ lainnya (tergantung
jenis zat kimia)
Pemecahan masalah
• Substitusi alat pengelasan dengan alat yang menghasilkan debu lebih rendah.
• Membuat ventilasi /exhaust van yang sesuai dengan ukuran ruangan
• Pemakaian APD : masker khusus (welding Mask), welding Gloves,safety shoes, Apron berbahan khusus,helm/topeng Las,welding goggles.
• Pemeriksaan kesehatan pekerja minimal 1 kali per tahun.meliputi anamnesis,pemeriksaan fisik lengkap,laboratorium lengkap,spirometri,rontgen,pemeriksaan khusus mata,
• Rotasi atau rolling berkala antar pekerja untuk mengurangi/mempersingkat pajanan pekerja terhadap bahaya faktor kimia.
• Memberikan label/lembar data keselamatan pada bahan kimia yang berbahaya.
• Brainstorming kepada pekerja terkait bahaya dan resiko pekerjaan.
Faktor Biologi
Unit Kerja Hasil Pengamatan Dampak yg dapat terjadi Upaya Perusahaan Standar/PP Pemecahan Masalah Pada proses hydrostatic dan leak
test menggunakan bak air yang dapat menjadi media sumber penularan vektor
Genangan air dapat menimbulkan penyakit seperti DBD, Malaria, akibatnya berdampak pada Kesehatan dan
Produktivitas
Kemungkinan dilakukan penggantian air, namun tidak ada informasi kapan penggantian dilakukan
Permenaker 5 Tahun 2018
Air harus diganti dan wadah dibersihkan secara rutin setiap hari untuk mencegah
perkembangbiakan vektor
Tidak seluruh pekerja menggunakan masker
Dapat meningkatkan kasus penyakit paru (bronkitis, pneumonia, TB, dll)
Kemungkinan masker sudah diberikan, namun kesadaran pekerja belum baik
Permenaker 5 Tahun 2018;
Permenaker 7 Tahun 2019
Seuluruh pekerja wajib menggunakan APD sesuai SOP untuk mencegah penularan penyakit dan upaya pencegahan COVID-19
Dilakukan edukasi untuk meningkatkan kesadaran pekerja tentang pentingnya penggunaan masker
Kebersihan ruangan dilakukan secara rutin Ventilasi diperbaiki agar sirkulasi udara baik Media peringatan tentang pentingnya kebersihan diri dan lingkungan kerja
Tempat cuci tangan dengan handsoap disediakan Sosial distancing selama masa pandemi COVID-19 FAKTOR BIOLOGI
Permenaker 5 Tahun 2018, Permenaker 7 Tahun 2019 Ruang sempit dan gelap, barang
bertumpuk meningkatkan jumlah tikus untuk berada diruangan
Kemungkinan sudah dilakukan pembersihan oleh perusahaan namun
tidak optimal Ruang sempit dan banyak barang
bertumpuk Virus dan
Bakteri
Kebersihan Umum
Dampak Yang Terjadi
• Lingkungan kerja yang kotor
• Tabung gas tidak bersih
• Akibat sarung tangan yang rusak dapat berdampak dengan
terpaparnya tangan pekerja dengan percikan api
Dasar Hukum
Permenkes No. 70 Th. 2016
Hasil Pengamatan
• Kurangnya kebersihan lingkungan kerja
• Dinding dan lantai tempat kerja kotor
• Sarung tangan dan masker yang sudah kotor dan tidak layak pakai tidak diganti
Upaya Perusahaan
• Mengimbau untuk selalu menjaga kebersihan
• Mengimbau pekerja untuk memperhatikan masker dan sarung tangan yang dikenakan
Pemecahan Masalah
• Menambah jumlah cleaning service
• Memberikan sarung tangan dan masker yang layak pakai
Pengelolaan Kebersihan Bangunan
Upaya Perusahaan Standar/PP Pemecahan Masalah Permenkes No. 70 Th.
2016 Menyediakan tempat sampah induk dan melengkapi tempat yang belum memiliki
tempat sampah
Bekerjasama dengan perusaahan bangunan
untuk memperbaiki kondisi fisik bangunan
dan kerja sama
dengan instalasi listrik
Ketersediaan
Fasilitas Kebersihan
Unit Kerja Hasil Pengamatan Dampak yang Terjadi Upaya Perusahaan Standar/PP Pemecahan Masalah Sirkulasi Udara di dalam
pabrik kurang baik
Ventilasi tampak terbatas
Pertukaran udara dan cahaya yang masuk ke ruangan kurang atau minim sehingga dapat menyebabkan suhu terlalu tinggi
mengakibatkan kelelahan pada TK.
Tidak bisa di evaluasi karena tidak dilakukan wawancara langsung terhadap pihak perusahaan dan menurut pengamatan darii video belum ada upaya dengan memberi tambahan pendingin ruangan seperti kipas atau dengan menambah jumlah ventilasi.
Permenkes No.70 Tahun 2016
- Pihak perusahaan memberi tambahan pendingin ruangan seperti kipas serta menambah
ventilasi udara di ruangan tersebut
Kebersihan Umum Terlihat kebersihan
masih kurang terjaga. Lingkungan kerja menjadi kotor dan bisa berpotensi menjadi tempat persembunyian nyamuk, kecoa, dan tikus.
Tidak bisa di evaluasi karena tidak dilakukan wawancara langsung dengan pihak
perusahaan.
Permenaker No. 5 tahun 2018
- Meningkatkan kesadaran masing-masing TK mengenai kebersihan melalui penyuluhan atau sosialisasi kebersihan.
- Memperbanyak dan mendistribusikan secara merata tempat
pembuangan sampah di lingkungan kerja agar lebih mudah terjangkau oleh TK.
Ketersediaan
Fasilitas Kebersihan
Unit Kerja Hasil
Pengamatan Dampak yang
Terjadi Upaya
Perusahaan Standar/PP Pemecahan Masalah Sanitasi
Kebersihan toilet Tidak dapat di nilai Lingkungan kerja
menjadi kotor. Tidak bisa di evaluasi karena tidak dilakukan wawancara
langsung dengan pihak perusahaan.
Permenaker No. 5 tahun 2018
- Rutin melakukan pembersihan toilet.
- Memastikan bak penampung air dan saluran pembuangan air dapat mengalir dengan baik
- Membuat sirkulasi udara di dalam toilet dengan baik.
Loker dan ruang ganti pakaian
Tidak dapat dinilai Lingkungan kerja menjadi kotor.
Tidak bisa di evaluasi karena tidak dilakukan wawancara
langsung dengan pihak perusahaan
Permenaker N0.5 tahun 2018
- Rutin membersihkan ruang ganti pakaian.
- Menyediakan ruang ganti terpisah antara laki-laki dan
perempuan.
Petugas Higiene Industri
01
Kepmenaker No. 209 th 2019, penerapan SKKNI di bidang Hygiene perusahaan Mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam hygiene industri berdasarkan prosedur kerja di bawah pengawasan atasan langsung.
Mampu melaksanakan tugas mandiri untuk proses analisa, memecahkan persoalan dan mengajukan gagasan.
02 UU No. 14 th 1969 Pasal 10
Pemberian pengobatan
Perawatan tenaga kerja yang sakit.
Mengatur persediaan tempat, cara dan syarat kerja sesuai aturan hygiene perusahaan.
03 UU No. 11 th 1962 Pasal 5
Penerangan dan pendidikan mengenai hygiene.
Bimbingan bidang Hygiene.
Pengawasan dan pemeriksaan hygiene lingkungan.
Pengawasan dan pemeriksaan proses dan hasil produksi air, makanan &
minuman.
Pengawasan dan pemeriksaan benda, alat yang dapat membahayakan
kesehatan.
Pengelolaan Limbah
Limbah Padat
Unit Kerja
Pressing Welding
Hasil pengamatan
Pelapisan logam yang akan dipress dengan lembaran
plastik tipis
Sisa potongan/ lempengan logam yang tidak terpakai saat
proses produksi
Dampak
-Menambah jumlah limbah
plastik yang sulit terurai -Pencemaran Lingkungan -Pencemaran Lingkungan -Dapat mencederai pekerja
apabila sisa logam berbentuk tajam dan terletak tersebar
disekitar pekerja Standard/PP Permenaker no. 5 tahun
2018
Permenaker no. 5 tahun 2019 UU no. 1 tahun 1970
Rekomendasi / Saran untuk Perusahaan
-Recycle (daur ulang) -Reuse (penggunaan ulang)
-Incinerator -Recycle (daur ulang)
Pengelolaan Limbah
Limbah Cair
Unit Kerja
Pengecatan Leak test Hidrostatic test
Hasil pengama-
tan Terdapat potensi limbah dari wadah cat , pelarut dan partikel cat
Air yang dipakai tercampur dengan bahan sisa proses produksi
Air tercampur dengan bahan sisa proses welding Dampak
• Paparan dari zat kimia cat secara terus menerus menyebabkan dermatitis kontak iritan, alergi,
iritasi mata, kerusakan mukosa, mual, sesak napas, kerusakan paru, kanker, kerusakan SSP
•Kulit yang terpapar terus menerus terhadap cairan yang terkontaminasi dapat
menyebabkan berbagai macam penyakit seperti dermatitis, dsb
• Kulit yang terpapar terus menerus terhadap cairan yang terkontaminasi dapat menyebabkan berbagai
macam penyakit seperti dermatitis, dsb
• Pencemaran lingkungan Standard/
PP Permenaker No. 5 tahun 2018, pasal 20 Permenaker No. 5 tahun 2018 Permenaker No. 5 tahun 2018
Rekomendasi / Saran untuk Perusahaan
• Primary treatment pada limbah cair - Filter
- Ditambahkan tangki sedimentasi - Koagulator
• Penggunaan alat pengecatan yang lebih hemat bahan cat
• Penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan
• Primary treatment pada limbah cair - Filter
- Penambahan tangki sedimentasi - Koagulator
• Penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan
• Primary treatment pada limbah cair - Filter
- Penambahantangki sedimentasi - Koagulator
• Penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan
Pengelolaan Limbah
Limbah Inhalan
Unit Kerja
Shotblasting Flanching Welding
Hasil
Pengamatan Menghasilkan limbah debu logam, silika dan partikel-partikel zat kimia cat
Menghasilkan limbah
debu logam Menghasilkan gas karbon monoksida (CO)
Dampak Paparan terhadap partikel seperti debu dapat menyebabkan masalah penafasan, alergi, konjungtivitis
Paparan terhadap partikel seperti debu dapat
menyebabkan masalah penafasan, alergi,
konjungtivitis
Timbulnya masalah pernafasan seperti asfiksia
Standard Permenaker No. 5 tahun 2018 Permenaker No. 5 tahun
2018, pasal 20 Rekomendasi/Sa
ran
• Menggunakan masker dengan benar
• Menambahkan Ventilasi Lokal Setempat untuk mengeluarkan udara yang mengandung
debu logam tanpa memberi kesempatan bagi kontaminan berdifusi dengan udara di
tempat kerja
TABEL IDENTIFIKASI BAHAYA
No Proses
Kerja Fisika Kimia Biologi Ergonomi Psikolog
i Kemungkinan
PAK Kemungkinan KK 1. Welding Bising, vibrasi,
panas, radiasi
Choren, pb, fume, nikel, gas (CO, NO, NO2)
Jamur Repetitif awkward, position:
twisting, over reaching
Target produksi
Ca, NIHL, Heat cramps, heat sycope, heat exhaustion, heat stroke, dehidrasi, GGK, stress kerja
Trauma suhu, trauma mata ec corpal/cahaya, keracunan gas, dehidrasi
2. Pressing/
pembuatan tabung
Bising, panas,
vibrasi - Jamur Berdiri
lama, gerakan repetitif
NIHL, heat
syncope, tinitus , neuropati, LBP, penutunan konsentrasi, stress kerja
Tertindih alat berat, vulnus
3. Hidrostatik Bising, panas, Gas , uap, aerosol
(debu,asap), kabut, logam
Bakteri, virus, protozo a, jamur
Posisi berdiri, ruangan terbatas/
sempit
Pneumoconiosi;
asbestosis, metal fume fever, H2S CO gas anestesi, amalgam(mercuri ), eye strain, dermatitis, tinea
Tangan terjepit , tertimpa produk, terjadi kebakaran
TABEL IDENTIFIKASI BAHAYA
No Proses
Kerja Fisika Kimia Biologi Ergonomi Psikologi Kemungki
nan PAK Kemungkinan KK
4. Shot-
blasting Bising, panas - Jamur Mengangkat
barang, posisi berdiri dan
membungkuk saat mengambil tabung gas
Target Produksi
LBP Cedera tangan
5. Pasang
valve Bising - Jamur Gerakan sama dan
berulang, posisi berdiri
Trauma
injury Terjepit alat
6. Leak test/
pencelu- pan
Bising - Jamur,
bakteri - Dermatitis
akibat kerja
-
7. Numerator Bising - Jamur Gerakan sama dan
berulang CTS Tertimpa
produk
Kesimpulan Dan Saran
KESIMPULAN
Menciptakan lingkungan kerja yang bersih merupakan dasar untuk
mendapatkan hasil produk dan kinerja yang
maksimal. Terdapat faktor-faktor yang dapat
menyebabkan penyakit akibat kerja, antara lain faktor fisik, kimia dan biologi. Untuk itu, perlu
dilakukan pemecahan masalah dan upaya dari
perusahaan untuk mencapai lingkungan kerja yang bersih dan
sehat.
SARAN
• Pencegahan dan pengendalian terhadap faktor fisik,
kimia dan biologi.
• Memberikan alat pelindung diri yang aman dan nyaman.
• Melakukan pengenalan potensi
bahaya sejak dini.
Thank You