KL - 4282 IRIGASI TAMBAK PASANG SURUT DESAIN TAMBAK DI KABUPATEN TANGGERANG
untuk memenuhi tugas besar mata kuliah irigasi tambak pasang surut
Disusun Oleh :
Revie Aditia 120300001
Naomi Beatrice M Simangunsong 120300002
Nadia Subaimun 120300004
Dian Kusuma Wardini 120300007
Putri Ramadhani 120300008
Dwiyan Muhammad Ashif 120300009 Marliana Eka Lestari 120300011
Ridho Fadhila 120300012
Andreas Owen Hotman Nainggolan 120300014
Ulan Apriliyani 120300017
PROGRAM STUDI TEKNIK KELAUTAN
JURUSAN TEKNOLOGI INFRASTRUKTUR DAN KEWILAYAHAN INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
2023
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... 2
DAFTAR GAMBAR ... 4
DAFTAR TABEL ... 5
BAB I PENDAHULUAN ... 6
1.1. Latar Belakang ... 6
1.2. Rumusan Permasalahan ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II LANDASAN TEORI ... 8
2.1. Tambak ... 8
2.2. Jenis – Jenis Tambak ... 8
2.3. Layout Tambak ... 9
2.4. Kolam tambak ... 10
2.5. Saluran Tambak ... 10
BAB III METODE PELAKSANAAN ... 11
3.1. Data hidrologi – klimatologi ... 11
3.2. Data daerah aliran sungai (DAS) ... 11
3.3. Data pasang surut ... 11
3.4. Perancangan awal layout petak tambak ... 12
3.5. Analisis kebutuhan air ... 12
3.6. Elevasi tambak ... 12
3.7. Perencanaan detail saluran ... 13
3.8. Simulasi operasi tambak ... 13
3.9. Finishing akhir ... 13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 14
4.1. Data elevasi pasang surut ... 14
4.2. Data topografi area tambak ... 14
4.3. Hujan andalan R80 ... 14
4.4. Infiltrasi ... 17
4.5. Evapotranspirasi ... 18
4.6. Layout awal ... 19
4.7. Elevasi penting ... 20
4.8. Kebutuhan Air ... 21
4.9. Potongan melintang A-A ... 22
4.10. Desain Saluran ... 23
4.11. Sistem Operasi Tambak ... 24
4.12. Layout Detail ... 25
BAB V PENUTUP ... 26
5.1. Kesimpulan ... 26
5.2. Saran ... 26
DAFTAR PUSTAKA ... 27
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 DAS Area Tambak ... 11
Gambar 4.1 Grafik Hubungan R dan P Januari………..16
Gambar 4.2 Grafik Hubungan R dan P Februari... 16
Gambar 4.3 Grafik Hubungan R dan P Maret... 16
Gambar 4.4 Grafik Hubungan R dan P April ... 17
Gambar 4.5 Grafik Hubungan R dan P Mei ... 17
Gambar 4.6 Nilai P ... 18
Gambar 4.7 Layout Awal Tambak ... 19
Gambar 4.8 Elevasi Penting ... 20
Gambar 4.9 Grafik Hari Vs Kebutuhan Air ... 22
Gambar 4.10 Potongan Melintang A-A ... 22
Gambar 4.11 Detail Saluran ... 23
Gambar 4.12 Perhitungan Dimensi Saluran ... 23
Gambar 4.13 Detail Potongan Saluran ... 24
Gambar 4.14 Simulasi Operasi Tambak ... 24
Gambar 4.15 Layout Akhir Tambak ... 25
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Elevasi Penting Pasang Surut ... 14
Tabel 4.2 Properti DAS Sungai ... 14
Tabel 4.3 Hujan Andalan R80 Januari – Mei ... 15
Tabel 4.4 Nilai Infiltrasi (Januari – Mei) ... 17
Tabel 4.5 Evapotranspirasi (Januari – Mei) ... 18
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia memiliki kondisi geografis yang memungkinkan untuk melakukan budidaya udang di tambak. Negara ini memiliki garis pantai yang panjang serta banyaknya wilayah perairan yang cocok untuk budidaya udang. Hal ini membuat Indonesia menjadi salah satu produsen udang terbesar di dunia melalui tambak udang yang sudah tersebar sangat banyak di beberapa daerah di Indonesia dan menjadi salah satu sektor usaha yang potensial (Setiawan, 2022).
Luas tambak udang di Indonesia mencapai 562.000 hektare (ha). Dari jumlah tersebut, 93 persen di antaranya merupakan tambak udang tradisional dengan luas 522.600 ha dan 7 persen sisanya adalah tambak semi-intensif dan intensif seluas 52.698 ha (Rahman, 2021). Produksi budi daya udang di Indonesia terus meningkat dan menjadi peluang besar untuk terus mendorong peningkatan produksi udang di Indonesia (Setiawan, 2022), oleh karena itu perlu adanya peningkatan pembangunan tambak udang khususnya di beberapa daerah yang memiliki potensi yang kemudian akan menjadi contoh bagi beberapa daerah lainnya. Pembangunan tambak udang pada pantai di daerah Kabupaten Tanggerang juga dilakukan sebagai upaya dalam meningkatkan ekonomi di masyarakat sekitar.
1.2. Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka ada beberapa rumusan masalah pada laporan ini adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana proses perancangan tambak udang yang optimal dari segi biaya dan keberlanjutan lingkungan ?
b. Bagaimana cara memperhitungkan data hidrologi – klimatologi untuk kebutuhan desain, seperti data hujan, dan data temperatur ?
c. Bagaimana cara menentukan dimensi dari petak tambak ?
d. Bagaimana cara menentukan elevasi – elevasi penting pada bagian tambak seperti dasar petak tambak, dasar saluran, dan dasar pintu?
e. Bagaimana cara memperhatikan tambak udang dari pengaruh pasang surut dan kondisi banjir ?
1.3. Tujuan Penelitian
Melalui latar belakang dan rumusan masalah yang telah disimpulkan, maka dapat diambil beberapa tujuan pada penelitian ini sebagai berikut :
a. Mengetahui langkah-langkah dalam perancangan tambak udang.
b. Menganalisis data hidrologi – klimatologi sebagai kebutuhan desain tambak udang.
c. Menentukan dimensi petak tambak, pematang, dan saluran.
d. Menentukan layout tambak yang akan dirancang.
e. Menghitung kebutuhan air dari tahap awal hingga akhir.
f. Menentukan elevasi penting pada beberapa bagian tambak udang.
g. Mengetahui simulasi operasi tambak udang yang dirancang.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam laporan ini adalah sebagai berikut :
a. Melalui analisis dalam laporan ini dapat menjadi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang perancangan tambak dengan menggunakan pasang surut (tradisional).
b. Melalui analisis dalam laporan ini dapat digunakan sebagai pembanding untuk penelitian serta analisis selanjutnya.
c. Hasil analisis pada laporan ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan pertimbangan bagi para konsultan serta pihak terkait suatu proyek perancangan tambak selanjutnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Tambak
Tambak adalah suatu tempat yang dibuat untuk menampung air laut atau air tawar yang digunakan untuk budidaya ikan atau udang. Tambak biasanya dibuat dengan cara menggali tanah atau membuat tanggul di sekitar lahan yang akan dijadikan tambak. Menurut Martosudarmo dan Bambang 1992, tambak adalah kolam yang dibangun didaerah pasang surut dan digunakan untuk memelihara bandeng, udang laut, dan hewan lainnya yang biasanya hidup di air payau. Slamet Soesono (1984) menyatakan bahwa istilah “Tambak” berasal dari bahasa Jawa
“Nambak” yaitu membendung air dengan pematang, digunakan untuk menyatakan sebuah empang dekat pantai laut. Ia tidak dinamakan kolam karena istilah ini khusus digunakan bagi petakan berpematang yang berisi air tawar.
2.2. Jenis – Jenis Tambak
Tambak secara umum terbagi kedalam beberapa jenis diantaranya sebagai berikut :
a. Tambak Intensif
Merupakan tambak yang dilengkapi dengan kolam atau petak biasanya berukuran 0,2-0,5 ha/petak, yang terbuat dari beton atau tanah yang juga dilapisi oleh plastik mulsa yang menutupi semua bagian, bentuk dari tambak intensif biasanya berbentuk bujur sangkar dengan pintu pembuangan di bagian tengah dan juga pintu panen model monik di pematang saluran buangan. Kondisi lantai dasar jenis tambak ini biasanya dipadatkan hingga keras dengan lapisan pasir/kerikil, saluran pembuangannya terhubung melalui pipa yang membuang air hujan atau limbah lainnya menuju bagian sudut tambak (Fortuna, 2021).
b. Tambak Semi Intensif
Merupakan tambak yang memiliki padat tebar benih yang lebih besar daripada tambak tradisional. Oleh karena itu, dibutuhkan pompa dan kincir air yang jumlahnya disesuaikan dengan luas area tambak untuk mengelola aliran air tambak.
Teknologi seperti pompa dan kincir air namun dengan jumlah luas yang sedikit lebih kecil dari tambak intensif (Fortuna, 2021).
c. Tambak Tradisional
Merupakan tambak yang memiliki biasanya dibangun pada lahan yang masih terdapat pengaruh pasang surut seperti rawa-rawa bakau, atau rawa-rawa pasang surut bersemak dengan bentuk dan ukuran dari petakan tambak yang cenderung kurang teratur (Chairil, 2020). Setiap petak mempunyai saluran keliling (caren) yang lebarnya 5-10 m di sepanjang keliling petakan sebelah dalam. Di bagian tengah juga dibuat caren dari sudut ke sudut diagonal (Chairril, 2020).
2.3. Layout Tambak
Layout pada tambak merujuk pada tata letak atau susunan dari elemen-elemen penting pada tambak, seperti kolam, saluran, pintu air, dan jalan akses. Tata letak yang tepat dapat membantu mengoptimalkan produktivitas tambak dan mengurangi risiko kegagalan produksi. Selain itu, tata letak yang baik juga dapat membantu meminimalkan dampak negatif pada lingkungan sekitar tambak. Beirikut adalah beberapa tipe – tipe layout pada tambak:
a. Layout paralel
Layout pada tambak yang dimana pada saluran inlet dan outlet sudah dipisah dan pada tata letak ini petakan tambak ditempatkan secara berurutan sejajar dengan saluran air masuk dan keluar. Pada layout ini sangat efektif untuk mencegah terjadinya pencampuran antara air suplai melalui inlet dan air hasil pembuangan.
b. Layout seri
Layout seri berbeda dengan paralel, dimana suplai air pada petak tambak akan disatukan dengan kolam tambak, petakan tambak ditempatkan secara berurutan dari arah saluran air masuk ke arah saluran air keluar. Pada layout seri karena terjadinya pencampuran antara inlet dan outlet akan meningkatkan resiko penyebaran virus atau bakteri yang dapat menganggu budidaya pada tambak.
c. Layout radial
Layout radial adalah salah satu jenis tata letak tambak yang biasanya digunakan untuk tambak udang. Pada tata letak ini, petakan tambak ditempatkan dalam lingkaran dengan saluran air masuk dan keluar di tengah-tengah lingkaran.
Layout ini bagus jika fauna tambak didesain agar berpindah dari kolam kecil ke kolam besar.
2.4. Kolam tambak
Kolam tambak adalah wadah buatan yang digunakan sebagai tempat budidaya ikan atau fauna air payau lainnya (Susanto, 1992). Kolam sebagai wadah air akan dijaga agar tetap bersih dan baik untuk kehidupan hewan-hewan yang dibudidayakan di dalamnya. Pemeliharaan kolam tambak meliputi pemberian pakan, pengontrolan kualitas air, pengendalian penyakit, dan pemeliharaan infrastruktur tambak. Adapaun terdapat beberapa tipe kolam tambak sebagai berikut:
a. Tipe galian
Kolam tambak tipe galian adalah salah satu jenis kolam tambak yang biasanya digunakan untuk budidaya ikan atau udang. Kolam tambak tipe galian dibuat dengan cara menggali tanah sehingga membentuk kolam. Keuntungan dari kolam tambak tipe galian adalah memudahkan pengelolaan dan pengawasan tambak.
b. Tipe tanggul
Tanggul pada kolam tambak adalah dinding yang dibuat di sekeliling kolam untuk menahan air. Tipe tanggul pada kolam tambak dapat berbeda-beda tergantung dari bahan yang digunakan dan kondisi geografis. Beberapa tipe tanggul yang biasanya digunakan pada kolam tambak antara lain tanggul tanah, tanggul beton, dan tanggul kayu.
c. Tipe daerah tangkapan (watershed)
Pada kolam tipe ini nantinya akan menggunakan Daerah tangkapan (watershed) yang menjadi sumber air untuk kolam tambak. Daerah tangkapan dapat berupa sungai, danau, atau waduk. Pemilihan daerah tangkapan yang tepat sangat penting untuk keberhasilan budidaya ikan atau udang di kolam tambak.
2.5. Saluran Tambak
Jaringan saluran pada tambak berfungsi untuk mengalirkan air menuju atau keluar dari tambak. Saluran ini biasanya dibuat untuk mengatur ketersediaan air dan menjaga kualitas air di dalam tambak dan akan memastikan sirkulasi air yang baik dan membantu mencegah genangan air yang dapat mempengaruhi kualitas air dan pertumbuhan ikan atau udang di dalam tambak (Mustafa, 2008).
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1. Data hidrologi – klimatologi
Langkah yang pertama adalah melakukan penyediaan data hidrologi – klimatologi seperti data hujan, data temperatur, dan data kelembapan dari lokasi yang akan dipilih yaitu kabupaten tanggerang selama 10 tahun melalui BMKG.
Data ini nantinya akan menjadi parameter dalam melakukan analisis kebutuhan air.
3.2. Data daerah aliran sungai (DAS)
Langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data DAS Sungai dengan bersumber dari data DEMNAS yang kemudian diolah dengan menggunakan ArcGIS untuk mendapatkan kontur sesuai dengan lokasi rencana tambak yang akan di desain. Berikut adalah hasil dari data DAS sungai.
Gambar 3.1 DAS Area Tambak
3.3. Data pasang surut
Data selanjutnya adalah data pasang surut yang dimana akan berisi elevasi penting dari pasang surut seperti MSL, MLWL, MLWS, LWS, HWS, MHWS, MHWL, serta elvasi palem pasut. Data pasang surut nantinya akan menjadi panduan dalam menentukan elevasi penting dari beberapa bagian tambak seperti dasar petak tambak, dasar saluran, dasar pintu.
3.4. Perancangan awal layout petak tambak
Proses pra-desain pada layout tambak dilakukan dengan bertujuan untuk memperoleh ukuran, bentuk, jaringan saluran air, dan orientasi tambak yang optimal. Layout awal harus mempertimbangkan beberapa faktor penting seperti topografi lahan, kebutuhan air, kondisi tanah, iklim dan lainnya. dengan melakukan perancangan layout awal tambak yang baik, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas budidaya, serta meminimalkan dampak negatif pada lingkungan sekitar.
3.5. Analisis kebutuhan air
Setelah mengetahui dan memperoleh data pendukung seperti hidrologi – klimatologi, topografi, dan oseanografi maka selanjutnya dapat menentukan kebutuhan air dengan menghitung kebutuhan air per harinya dari tambak. Pada analisis kebutuhan air nantinya akan melibatkan beberapa proses hidrologi seperti evaporasi, presipitasi, infiltrasi hingga akhirnya akan memperoleh nilai dari kebutuhan air dengan menggunakan neraca air dengan persamaan sebagai berikut.
∆S = Qin + RO + BF + P - Qout - E – I Keterangan :
Qin : Discharge RO : Runoff BF : Baseflow P : Presipitasi Qout : Oulet flow E : Evaporasi I : Infiltrasi
3.6. Elevasi tambak
Pada penentuan elevasi dasar beberapa bagian pada tambak, nantinya akan menggunakan beberapa acuan sesuai dengan topografi dan juga elevasi pada pasang surut, hal ini bertujuan agar dapat menentukan elevasi dari petak tambak yang tidak melebihi dari elevasi tertinggi dari pasang surut. Pada umumnya penentuan elevasi dasar tambak dapat di dekati dengan MSL – 40 cm atau juga MHWS – 40 cm (PT.
ZIFA Engineering Consultant, 2016).
3.7. Perencanaan detail saluran
Langkah yang terakhir adalah melakukan perencanaan detail saluran pada tambak berupa dimensi saluran yang meliputi saluran inlet primer, sekunder dan tersier begitu juga dengan saluran outlet primer, sekunder dan tersier. Perhitungan dimensi saluran akan mempertimbangkan beberapa parameter penting yang ada pada tahap pra – desain saluran dan layout diawal yang nantinya melalui beberapa dimensi yang sudah ditentukan seperti lebar saluran (b), tinggi saluran (h), dan luas saluran (A2). Pada perhitungan detail saluran nantinya akan diperoleh hasil bahwa debit dari saluran pada perencanaan detail saluran harus lebih besar daripada debit saluran pra – desain diawal Q’ > Q.
3.8. Simulasi operasi tambak
Setelah seluruh tahap desain telah selesai dan melewati berbagai analisis maka selanjutnya pada tahap akhir akan dilakukan simulasi operasi pada tambak dengan melihat bagaimana proses air masuk dari saluran inlet primer menuju saluran sekunder dan tersier hingga masuk ke dalam petak tambak dan kemudian akan kembali mengalir menuju saluran outlet utama dan kembali menuju laut.
3.9. Finishing akhir
Pada tahap akhir nantinya seluruh desain akan dilengkapi dengan dimensi dalam bentuk gambar teknik dan juga beberapa hubungan yang sudah diterapkan sebelumnya. Dengan melakukan proses finishing pada tahap desain tambak, diharapkan desain yang dibuat dapat lebih optimal dan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang diinginkan. Hal ini akan berdampak pada efisiensi dan produktivitas budidaya yang lebih baik.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Data elevasi pasang surut
Adapun data pendukung berupa beberapa elevasi penting pada pasang surut adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Elevasi Penting Pasang Surut Komponen Pasang Surut Elevasi (m)
Highest Water Spring (HWS) 1.20
Mean High Water Spring (MHWS) 1.11
Mean High Water Level (MHWL) 0.94
Mean Sea Level (MSL) 0.68
Mean Low Water Level (MLWL) 0.42
Mean Low Water Spring (MLWS) 0.25
Lowest Water Spring (LWS) 0.25
Sumber : Data Pendukung
4.2. Data topografi area tambak
Selanjutnya adalah data topografi pada area tambak yang berupa daerah aliran sungai atau DAS sebagai berikut:
Tabel 4.2 Properti DAS Sungai
Properti DAS Sungai Nilai
Luas DAS 300 km2
Panjang sungai 25 km
Slope 0.05
Koefisien lahan (c) 0.6
Sumber : Data Pendukung
4.3. Hujan andalan R80
Pada proses analisis kebutuhan air diperlukan salah satunya adalah parameter presipitasi. Hujan andalan R80 juga dapat disebut sebagai hujan dengan probabilitas disamai atau terlampaui 80 %. Adapun probabilitas yang digunakan adalah probabilitas weibull dengan persamaan sebagai berikut:
P = m (n+1)
Pada laporan kali ini akan dilakukan analisis hujan andalan yang akan berisi data hujan maksimal dari bulan januari hingga mei selama 10 tahun sebagai berikut:
Tabel 4.3 Hujan Andalan R80 Januari – Mei
Bulan m R P Bulan m R P
Januari
1 86 0.09
Maret
1 85.5 0.09
2 82.8 0.18 2 78 0.18
3 64 0.27 3 67 0.27
4 57.7 0.36 4 66 0.36
5 56.5 0.45 5 66 0.45
6 45.9 0.55 6 48 0.55
7 40.7 0.64 7 46.1 0.64
8 40.5 0.73 8 46.1 0.73
9 38.3 0.82 9 44.1 0.82
10 19 0.91 10 31.1 0.91
Februari
1 112.5 0.09
April
1 120 0.09
2 89 0.18 2 89 0.18
3 65.7 0.27 3 86.7 0.27
4 63.4 0.36 4 66.5 0.36
5 59 0.45 5 62 0.45
6 57 0.55 6 59.5 0.55
7 53.2 0.64 7 52.5 0.64
8 47.5 0.73 8 49.5 0.73
9 45 0.82 9 29.5 0.82
10 37.1 0.91 10 21.7 0.91
Mei
1 127 0.09
2 81.8 0.18
3 79.5 0.27
4 61.1 0.36
5 55.5 0.45
6 49.5 0.55
7 47 0.64
8 43 0.73
9 42 0.82
10 24.6 0.91
Sumber : Data Hasil Perhitungan
Pada analisis hujan andalan R80 terdapat nilai dari R80 yang berada diantara urutan atau rank ke 9 dan 10 (cell kuning) yang kemudian untuk memperoleh nilai dari hujan andalan R80 akan dilanjutkan dengan melihat pada grafik hubungan antara data hujan dan probabilitas weibull dengan rincian sebagai berikut:
a. Januari
Gambar 4.1 Grafik Hubungan R dan P Januari
Pada bulan januari melalui grafik bahwa nilai dari R80 adalah sebesar 37.4 mm b. Februari
Gambar 4.2 Grafik Hubungan R dan P Februari
Pada bulan februari melalui grafik bahwa nilai dari R80 adalah sebesar 42.8 mm c. Maret
Gambar 4.3 Grafik Hubungan R dan P Maret
Pada bulan maret melalui grafik bahwa nilai dari R80 adalah sebesar 42.31 mm
0 20 40 60 80 100
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00
Januari
0 20 40 60 80 100 120
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00
Februari
0 20 40 60 80 100
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00
Maret
d. April
Gambar 4.4 Grafik Hubungan R dan P April
Pada bulan april melalui grafik bahwa nilai dari R80 adalah sebesar 27.67 mm e. Mei
Gambar 4.5 Grafik Hubungan R dan P Mei
Pada bulan mei melalui grafik bahwa nilai dari R80 adalah sebesar 40.8 mm Selanjutnya data hujan andalan R80 pada setiap bulannya akan digunakan pada presipitasi pada analisis kebutuhan air.
4.4. Infiltrasi
Pada laporan kali ini infiltrasi akan menggunakan asumsi nilai infiltrasi yang dipengaruhi oleh tanah sesuai dengan bulan sebagai berikut.
Tabel 4.4 Nilai Infiltrasi (Januari – Mei) Januari
1 mm
Februari Maret
3 mm
April
Mei 5 mm
0 20 40 60 80 100 120 140
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00
April
0 20 40 60 80 100 120 140
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00
Mei
4.5. Evapotranspirasi
Evapotranspirasi merupakan proses terjadinya penguapan air dari permukaan dan beberapa vegetasi menuju atmosfir sebagai uap air dan jatuh sebagai hujan, pada laporan ini evaporasi dan evapotranspirasi dianggap sama. Evaportranspirasi akan menggunakan metode braney – cradle yang sudah dimodifikasi dengan persamaan sebagai berikut.
ET = p x (0.46 Tmean+8)
EToadj = K x ET0 Keterangan :
Tmean : rata – rata temperature (oC) p : lama penyinaran (%)
nilai dari p akan menggunakan nilai pada tabel berdasarkan latitude sebagai berikut:
Gambar 4.6 Nilai P
berikut adalah hasil dari evapotranspirasi dari bulan januari hingga mei.
Tabel 4.5 Evapotranspirasi (Januari – Mei)
Bulan Rata-rata T/bulan p ET0 ET0 (Modifikasi)
Januari 26.16 0.27 5.4096 11.5636
Februari 26.79 0.27 5.4868 11.9740
Maret 27.12 0.27 5.5286 12.1995
April 27.95 0.28 5.8400 13.9410
Mei 26.44 0.28 5.6453 12.8390
Sumber : Data Hasil Perhitungan
4.6. Layout awal
Proses desain awal akan dilakukan sesuai dengan data yang telah di peroleh sebelumnya. tahap pra – desain nantinya akan menghasilkan layout awal pada tambak yang terdiri dari petak tambak, saluran inlet, dan saluran outlet dengan beberapa dimensi awal sebagai berikut.
Gambar 4.7 Layout Awal Tambak
Berdasarkan luas minimum area tambak, maka diperoleh desain awal layout tambak ukuran 547 x 501 m dengan beberapa rincian diantaranya ukuran petak tambak 50 x 50 m dengan jumlah sebanyak 36, ukuran lebar pematang pada petak tambak sebesar 7 m. Selain beberapa dimensi dari petak tambak, terdapat juga dimensi saluran diantaranya saluran inlet primer (A) dengan panjang 547 m dengan lebar 10 m, selanjutnya pada saluran sekunder yaitu A1 dengan panjang 435 m dengan lebar 5 m, A2 dengan panjang 463 m dengan lebar 5 m dan saluran tersier A1ka dan A2ka dengan panjang 7.5 m dengan lebar 5 m.
Pada tahap pra – desain ini nantinya akan kembali digunakan dalam perhitungan penentuan desain pada beberapa bagian tambak di akhir tahapan finalisasi desain untuk memperoleh perencanaan detail layout dan bangunan tambak.
4.7. Elevasi penting
Elevasi pada tambak akan disesuaikan dengan kondisi pasang surut yang ada pada daerah tambak. penentuan elevasi nantinya akan menggunakan selisih antara MSL (mean sea level) dengan 40 cm. pada elevasi dasar tambak terbagi menjadi tiga daerah yaitu pada titik tertinggi, menengah, dan terendah dan terdiri dari elevasi penting untuk dasar tambak, saluran inlet, dan pintu saluran sebagai berikut.
Gambar 4.8 Elevasi Penting
a. Pada titik tertinggi, elevasi dasar tambak diperoleh dari MSL – 0.4 m = 0.68 – 0.4 = 0.28 m, selanjutnya pada saluran inlet 0.28 + 0.3 = 0.58 m dan pada dasar pintu elevasi harus dibawah dari saluran inlet dan diatas dari dasar petak tambak agar air dapat mengalir dengan bantuan gravitasi yaitu 0.58 – 0.15 = 0.43 m.
b. Pada titik menengah, elevasi dasar tambak harus lebih rendah dari elevasi di titik tertinggi dengan selisih 0.07 yaitu 0.21 m, pada saluran inlet 0.21 + 0.3
= 0.51 dan untuk elevasi dasar pintu 0.51 - 0.15 = 0.36 m
c. Pada titik terendah, elevasi dasar tambak harus lebih kecil lagi dari dua titik sebelumnya karena lokasinya yang semakin dekat ke arah pantai. Elevasi dasar tambak 0.21 – 0.07 = 0.14 m, kemudian elevasi saluran 0.14 + 0.3 = 0.44 dan untuk yang terakhir elevasi dasar pintu sebesar 0.29 m.
4.8. Kebutuhan Air
Setelah nilai dari kebutuhan air per tambak, presipitasi, infiltrasi, dan evapotranspirasi maka selanjutnya akan mendapatkan nilai dari kebutuhan air sebagai berikut.
m3 L/s m3 L/s m3 L/s m3 L/s m3 L/s
0 Januari 15 0.0 0.0 ˗ ˗ ˗ ˗ 0 0 0 0
1 Januari 16 0.0 0.0 ˗ ˗ ˗ ˗ 0 0 0 0
2 Januari 17 0.0 0.0 ˗ ˗ ˗ ˗ 0 0 0 0
3 Januari 18 0.0 0.0 ˗ ˗ ˗ ˗ 0 0 0 0
4 Januari 19 0.0 0.0 ˗ ˗ ˗ ˗ 0 0 0 0
5 Januari 20 312.5 3.617 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 0.0 0.000
6 Januari 21 312.5 3.617 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 0.0 0.000
7 Januari 22 0.0 0.0 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 14.3 -0.719
8 januari 23 0.0 0.0 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 14.3 -0.719
9 januari 24 0.0 0.0 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 14.3 -0.719
10 Januari 25 50 0.579 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 64.3 -0.140
11 januari 26 50 0.579 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 64.3 -0.140
12 januari 27 50 0.579 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 64.3 -0.140
13 Januari 28 50 0.579 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 64.3 -0.140
14 januari 29 50 0.579 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 64.3 -0.140
15 januari 30 50 0.579 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 64.3 -0.140
16 Januari 31 50 0.579 28.9 0.33459 0.400 0.02894 14.96 1.0821759 64.3 -0.140
17 februari 1 50 0.579 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 63.2 -0.140
18 februari 2 50 0.579 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 63.2 -0.140
19 februari 3 50 0.579 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 63.2 -0.140
20 Isi air 10 cm (muka air menjadi + 30 cm) februari 4 250 2.894 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 263.2 2.175
21 Penebaran benih udang februari 5 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
22 februari 6 250 2.894 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 263.2 2.175
23 februari 7 250 2.894 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 263.2 2.175
24 februari 8 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
25 februari 9 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
26 februari 10 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
27 februari 11 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
28 februari 12 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
29 februari 13 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
30 februari 14 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
31 februari 15 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
32 februari 16 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
33 februari 17 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
34 februari 18 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
35 februari 19 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
36 februari 20 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
37 februari 21 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
38 februari 22 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
39 februari 23 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
40 februari 24 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
41 februari 25 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
42 februari 26 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
43 februari 27 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
44 februari 28 0.0 0.0 29.9 0.33459 0.400 0.02894 17.12 1.0821759 13.2 -0.719
45 Maret 1 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
46 Maret 2 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
47 Maret 3 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
48 Maret 4 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
49 Maret 5 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
50 Maret 6 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
51 Maret 7 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
52 Maret 8 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
53 Maret 9 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
54 Maret 10 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
55 Maret 11 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
56 Maret 12 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
57 Maret 13 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
58 Maret 14 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
59 Maret 15 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
60 Maret 16 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
61 Maret 17 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
62 Maret 18 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
63 Maret 19 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
64 Maret 20 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
65 Maret 21 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
66 Maret 22 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
67 Maret 23 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
68 Maret 24 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
69 Maret 25 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
70 Maret 26 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
71 Maret 27 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
72 Maret 28 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
73 Maret 29 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
74 Maret 30 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
75 Maret 31 0.0 0.0 30.5 0.33459 1.200 0.02894 16.924 1.0821759 14.8 -0.719
76 April 1 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
77 April 2 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
78 April 3 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
79 April 4 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
80 April 5 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
81 April 6 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
82 April 7 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
83 April 8 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
84 April 9 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
85 April 10 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
86 April 11 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
87 April 12 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
88 April 13 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
89 April 14 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
90 April 15 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
91 April 16 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
92 April 17 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
93 April 18 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
94 April 19 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
95 April 20 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
96 April 21 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
97 April 22 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
98 April 23 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
99 April 24 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
100 April 25 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
101 April 26 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
102 April 27 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
103 April 28 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
104 April 29 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
105 April 30 0.0 0.0 34.9 0.33459 1.200 0.02894 11.068 1.0821759 25.0 -0.719
106 Mei 1 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
107 Mei 2 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
108 Mei 3 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
109 Mei 5 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
110 Mei 6 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
111 Mei 7 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
112 Mei 8 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
113 Mei 9 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
114 Mei 10 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
115 Mei 11 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
116 Mei 12 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
117 Mei 13 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
118 Mei 14 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
119 Mei 15 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
120 Mei 16 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
121 Mei 17 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
122 Mei 18 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
123 Mei 19 0.0 0.0 32.1 0.33459 2.000 0.02894 16.32 1.0821759 17.8 -0.719
124 Panen Udang Mei 20 0.0 0.0 0.0 0.000
Pencucian dan perbaikan dasar kolam
Pengisian Air Bertahap (isi 20 cm), 10 hari
Isi air 20 cm (muka air menjadi + 50 cm)
Mempertahankan muka air + 50 cm
Infiltrasi (mm/day) Hujan (mm/day) k total
Persiapan (kuras dan keringkan)
Kebutuhan air Evaporasi (mm/day)
Isi air 25 cm dalam 2 hari, di drain 20 cm (untuk pencucian)
Hari ke Kegiatan Bulan Tanggal
Gambar 4.9 Grafik Hari Vs Kebutuhan Air
Pada grafik hubungan antara hari dengan kebutuhan air dapat dilihat bahwa kebutuhan air paling banyak ada pada saat proses pengisian air sebanyak 10 cm dengan nilai kebutuhan air sebanyak 263.2 m3 dan pada saat kegiatan mempertahankan muka air pada + 50 cm nilai dari kebutuhan air mengalami perubahan namun tidak terlalu signifikan, hal ini dipengaruhi oleh perbedaan presipitasi, infiltrasi, dan evapotranspirasi di setiap bulannya.
4.9. Potongan melintang A-A
Potongan melintang A-A akan memperlihatkan bidang yang di bentuk oleh potongan melintang sebuah benda pada arah yang tegak lurus dengan sumbu panjangnya (A-A). berikut adalah potongan melintang A-A dari petak tambak.
Gambar 4.10 Potongan Melintang A-A
0 50 100 150 200 250 300
0 20 40 60 80 100 120 140
Kebutuhan Air (m3)
Hari
Hari Vs Kebutuhan Air
Gambar 4.12 Perhitungan Dimensi Saluran
b h A P R V b' h' Fb d
(l/s) m3/s m m m2 m m (m/s) (m) (m) (m) (m)
1 Primer A 0.9 0.0014 225.0 0.225 10 29 5 0.500 5 15 0.332 0.5128 2.564 0.09 5 0.5 0.170 0.67
2 Tersier Aka 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
3 Sekunder A1 0.9 0.0018 37.5 0.038 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.05 2 0.5 0.170 0.67
4 Tersier A1ka 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
4 Tersier A1ki 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
5 Sekunder A2 0.9 0.0018 37.5 0.038 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.05 2 0.5 0.170 0.67
6 Tersier A2ka 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
7 Tersier A2ki 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
8 Sekunder A3 0.9 0.0018 37.5 0.038 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.05 2 0.5 0.170 0.67
9 Tersier A3ka 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
10 Tersier A3ki 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
11 Sekunder A4 0.9 0.0018 37.5 0.038 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.05 2 0.5 0.170 0.67
12 Tersier A4ka 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
13 Tersier A4ki 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
14 Sekunder A5 0.9 0.0018 37.5 0.038 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.05 2 0.5 0.170 0.67
15 Tersier A5ka 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
16 Tersier A5ki 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
17 Sekunder A6 0.9 0.0018 37.5 0.038 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.05 2 0.5 0.170 0.67
18 Tersier A6ka 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
19 Tersier A6ki 15 0.8 0.0018 18.8 0.019 5 29 2 0.400 1.6 6 0.263 0.4978 0.797 0.02 2 0.5 0.170 0.67
Kemiringan saluran (l)
No Jenis Nama Saluran Q lahan (l/s) Efisiensi Saluran Q Saluran m 1/n Q' Q/Q'
4.10. Desain Saluran
Proses desain selanjutnya adalah pada saluran tambak, saluran yang akan didesain meliputi saluran primer, saluran sekunder, dan saluran tersier. Pada tambak nantinya akan digunakan satu saluran yang sudah mencakup dari ketiga jenis saluran yang akan didesain sebagai berikut.
Gambar 4.11 Detail Saluran
Saluran yang akan ditentukan dimensinya yaitu saluran primer, sekunder, dan tersier, namun pada proses perhitungan nantinya hanya akan dilakukan pada satu dari tiga saluran sekunder inlet namun tetap mewakili saluran primer dan tersier.
Melalui perhitungan dimensi saluran dapat dilihat bahwa nilai dari Q’ > Q dan perbandingan antara Q/Q’ bernilai kurang dari satu. Selain itu diperoleh juga lebar saluran untuk saluran inlet primer adalah 5 m, tinggi muka air (h) adalah 0.5 m dan untuk saluran sekunder dan tersier memiliki lebar saluran 2 m dan tinggi muka air 0.5 m. Berikut adalah potongan melintang dimensi dari saluran tambak.