UNIVERSITAS INDONESIA
MATA KULIAH HIDROLIKA AIR TANAH
YEMIMA GABERIELLA PARHUSIP 2106665395
FAKULTAS TEKNIK PROGRAM PASCASARJANA S2
DEPOK 2021
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 1
1.3 Tujuan Penulisan ... 1
1.4 Manfaat Penulisan ... 2
1.5 Sistematika Penulisan ... 2
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Lokasi Studi ... 3
2.2 Pengumpulan Data ... 4
2.2.1 Kebutuhan Air Sumur ... 5
BAB III PEMBAHASAN 3.1 Pemodelan MODFLOW ... 7
3.1.1 Langkah dan Proses Konseptualisasi ... 7
3.1.2 Analisa Hasil ... 10
3.2 Pemodelan SEEP2D ... 11
3.2.1 Langkah dan Proses Konseptualisasi ... 12
3.2.2 Analisa Hasil ... 15
3.3 Usulan Tata Guna Lahan ... 16
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 18
4.2 Saran ... 18 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Cekungan Air Tanah (CAT) Sumbawa Besar ... 3
Gambar 2. Peta Tutupan Lahan CAT Sumbawa Besar ... 4
Gambar 3. Gambar Hasil Pemodelan MODFLOW ... 10
Gambar 4. Gambar Potongan Melintang CAT ... 12
Gambar 5. Hasil Pemodelan SEEP2D Potongan 1 ... 14
Gambar 6. Hasil Pemodelan SEEP2D Potongan 2 ... 14
Gambar 7. Hasil Pemodelan SEEP2D Potongan 3 ... 15
Gambar 8. Kontur Muka Air Tanah CAT Sumbawa Besar ... 16
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Parameter CAT ... 4
Tabel 2. Tabel Drain MODFLOW ... 5
Tabel 3. Tabel Well MODFLOW ... 5
Tabel 4. Tabel Material SEEP2D ... 5
Tabel 5. Kebutuhan Air Penduduk ... 6
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring maju dan berkembangnya suatu daerah maka kebutuhan air semakin meningkat. Salah satu cara memenuhi kebutuhan air adalah dengan memanfaatkan air tanah. Dalam upaya pemanfaatan air tanah diperlukan kajian terkait kuantitas dan kualitas air tanah yang terdapat pada akuifer. Air tanah sebagai sumber daya air yang dewasa ini semakin dibutuhkan mengingat air permukaan sering tidak memadai dan mudah tercemar.
Secara teknis, penerapan konsep dasar pengelolaan air tanah secara total harus diterapkan secara nyata, yaitu dengan memadukan konsep pengelolaan air permukaan yang berbasis daerah aliran sungai dan konsep pengelolaan air tanah berbasis cekungan air tanah, yang mendasarkan pada analisis sistem aliran air tanah regional, menengah dan lokal, guna memecahkan permasalahan kuantitas dan kualitas air tanah secara lebih nyata (Hendrayana, H. 2015).
Oleh karena itu, pemodelan tentang potensi air tanah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat di Cekungan Air Tanah (CAT) Sumbawa Besar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasar pada latar belakang yang sudah dijabarkan, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana peta kontur hydraulic head/muka air tanah tersebut pada kondisi steady di cekungan air tanah Sumbawa Besar dengan penggunaan modern tool?
2. Bagaimana alternatif tata guna lahan berdasarkan simulasi pemodelan CAT Sumbawa Besar?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini, yaitu:
1. Mengetahui potongan melintang dari CAT Sumbawa Besar.
2. Menganalisis tata guna lahan yang tepat untuk CAT Sumbawa Besar.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis, untuk pengembangan ilmu pengetahuan di bidang teknik sipil sesuai dengan pembelajaran teori khususnya mengenai mata kuliah Hidrolika Air Tanah serta solusi permasalahan tersebut.
2. Secara praktis, diharapkan dapat memberikan usulan/infomasi kepada pembaca dalam hal kondisi air tanah dan perencanaan tata guna lahan pada lokasi tersebut.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam penulisan tugas besar ini terdiri dari 4 (empat) BAB, yang secara umum terdiri sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang dilakukannya penelitian ini, rumusan masalah yang ada terkait penelitian ini, tujuan dari penelitian ini, manfaat yang dapat diambil dari membaca laporan ini, dan sistematika penulisan laporan ini.
BAB II GAMBARAN UMUM
Bab ini berisi tentang informasi umum Cekungan Air Tanah Sumbawa Besar dan data-data yang terkait pemodelan simulasi.
BAB III PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang langkah pemodelan modern tools, pembahasan dari analisis karakteristik air tanah melalui lokasi discharge dan recharge serta analisis tata guna lahan di daerah CAT Sumbawa Besar.
BAB IV PENUTUP
Bab ini berisi tentang saran dan kesimpulan dari hasil pembahasan.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Lokasi Studi
Gambar 1. Peta Cekungan Air Tanah (CAT) Sumbawa Besar
Menurut Permen ESDM nomor 02 Tahun 2017, Cekungan Air Tanah Sumbawa Besar merupakan cekungan air tanah dalam provinsi yang berlokasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat dengan luas CAT 1404 km2 yang terletak 116o52’46.69”-117o34’9.84” BT dan -8o21’58.25”- (- 8o46’14.28”) LS dari koordinat UTM 50S. Dengan tambahan BWS Nusa Tenggara I, tahun 2013 terdapat besar air tanah bebas 183 jtm3/th dan air tanah tertekan 25 jtm3/th dalam CAT Sumbawa Besar.
Gambar 2. Peta Tutupan Lahan CAT Sumbawa Besar
Berdasarkan peta tutupan lahan sesuai data dari Kementerian Kehutanan sebagian besar daerah CAT didominasi tegalan/ladang, semak belukar dan sawah ditunjang dengan kondisi topografi bahwa CAT Sumbawa Besar didominasi oleh gugusan perbukitan/pegunungan.
2.2 Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data dan informasi yang berkaitan untuk simulasi pemodelan GMS MODFLOW dan SEEP2D mengacu pada soal UAS Hidrolika Air Tanah 2021, modul tutorial dan data asumsi sebagai percobaan.
Tabel 1. Parameter CAT
CAT Parameter Lapisan 1 (Phreatic) Lapisan 2 Lapisan 3
Sumbawa Besar
Ketebalan Lapisan
(meter) 130 80 60
Hydraulic Conductivity
(m/d)
8 2 6
Vertical
Anisotropy 10 5 5
Recharge (m/d) 0.0009
Dengan mengasumsi kondisi aliran steady balance, di mana:
1. Recharge dianggap sama dengan hujan rencana kala ulang 2 tahunan 2. Drain (m3/s), berdasarkan conductances C modul, dengan C = 7430 m2/d
Tabel 2. Tabel Drain MODFLOW
I J K Elevation (m) Conductance (m2/d) Conductance Factor
3 12 1 0.0 7430.0 1.0
4 12 1 10.0 7430.0 1.0
4 16 1 0.0 7430.0 1.0
5 12 1 0.0 7430.0 1.0
5 16 1 3.0 7430.0 1.0
6 11 1 12.0 7430.0 1.0
6 12 1 20.0 7430.0 1.0
6 16 1 0.0 7430.0 1.0
7 16 1 0.0 7430.0 1.0
7 23 1 6.0 7430.0 1.0
8 6 1 15.0 7430.0 1.0
8 16 1 27.0 7430.0 1.0
8 23 1 0.0 7430.0 1.0
9 6 1 0.0 7430.0 1.0
9 23 1 35.0 7430.0 1.0
Tabel 3. Tabel Well MODFLOW
I J K Q (Flow) (m3/d) Q Factor
5 13 1 -9186.84 1.0
7 24 1 -1348.44 1.0
8 24 1 -10459.8 1.0
9 7 1 -4815.24 1.0
Tabel 4. Tabel Material SEEP2D
Name K1 K2 ho Kro
Material_1 10.0 3.13 -1.0 0.0001
Material_2 2.0 1.25 -1.0 0.0001
Material_3 12.0 2.75 -1.0 0.0001
2.2.1 Kebutuhan Air Sumur
Perhitungan kebutuhan air didapat dari banyaknya penduduk di sekitar CAT Sumbawa Besar yang menggunakan air per harinya. Jumlah penduduk didapat dari basedata Dukcapil Indonesia berdasarkan kabupaten yang terdapat padat penduduk, yaitu kabupaten Alas Barat, Alas, Buer, Utan, Unter Iwes, Sumbawa, Moyo Utara dan Moyohilir. Masing-masing jumlah penduduk dikalikan dengan kebutuhan air per orang berdasarkan SNI 03:7065:2005 yaitu sebesar 120 l/org/hari.
Untuk memenuhi kebutuhan air di beberapa kabupaten tersebut, maka dibuat 4 (empat) sumber sumur, terdapat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kebutuhan Air Penduduk
Su- mur
Kebutuhan Air Nama
Kabupaten
Jumlah Penduduk
Kebutuhan Air
Kebu- tuhan
Air
Flow rate
Flow rate
(org) (l/org/hr) (l/hr) (l/hr) (m3/hr)
1
Alas Barat 25566
120
(Sumber: SNI: 03- 7065-2005)
3067920
9186840 9186.84
Alas 33706 4044720
Buer 17285 2074200
2 Utan 11237 1348440 1348440 1348.44
3 Unter Iwes 23883 2865960
10459800 10459.8
Sumbawa 63282 7593840
4 Moyo Utara 11837 1420440
4815240 4815.24
Moyohilir 28290 3394800
Sumber: Pengolaha Penulis, 2021
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Pemodelan MODFLOW
Data yang sudah ditetapkan pada parameter, maka dapat dilakukan pemodelan simulasi aliran air tanah CAT Sumbawa Besar dengan menggunakan aplikasi Groundwater Modelling System (GMS) MODFLOW. Pada tugas besar ini dilakukan dengan menggunakan metode Grid Approach.
3.1.1 Langkah dan Proses Konseptualisasi
1. Membuka aplikasi GMS 7.1, lalu pilih File | New baru dengan mengklik command File/New.
2. Untuk menyamakan unit satuan yang digunakan dalam simulasi pemodelan, maka harus dilakukan perubahan satuan unit bawaan aplikasi. Pilih Edit | Units.
Untuk panjang (Length) gunakan satuan m (untuk meter) dan waktu (Time) gunakan d (untuk hari). Untuk satuan yang lainnya diabaikan karena tidak berpengaruh pada pemodelan ini. Setelah itu pilih tombol OK.
3. Langkah pertama dalam menyiapkan pemodelan adalah memasukkan gambar digital dari peta CAT. Gambar ini dibuat dengan mendigitasi peta menggunakan ArcMap. Pilih Open, lalu pilih gambar peta yang akan digunakan.
4. Lakukan penyimpanan pada project. Pilih File | Save As, atur tempat penyimpanan agar mudah saat kembali dibuka.
5. Selanjutnya dalam melakukan simulasi pemodelan 3D finite difference grid:
a. Klik kanan pada bagian kosong pada Project Explorer, dari tampilan yang muncul, pilih New | 3D Grid.
b. Di bagian yang berjudul X-dimension, masukkan nilai koordinat X 482884.225 untuk nilai Origin, 83683.05 untuk nilai panjang (Length) dan 31 untuk nilai sel angka.
c. Di bagian yang berjudul Y-dimension, masukkan koordinat Y 9028220.39 untuk nilai Origin, 49337.42 untuk nilai panjang (Length) dan 18 untuk nilai sel angka.
d. Di bagian yang berjudul Z-dimension, masukkan 130 untuk nilai panjang (Length) dan 3 untuk nilai sel angka yang akan menjadi banyaknya layer.
e. Pilih OK. Maka akan muncul Mini-Grid Plot pada layar.
6. Selanjutnya, memasukkan simulasi MODFLOW. klik kanan Grid pada Project Explorer, setelah muncul menu pop-up pilih New MODFLOW.
7. Masukkan data untuk MODFLOW dibagi lagi menjadi bagian (packages).
Beberapa bersifat opsional dan beberapa diperlukan. Salah satu bagian yang dibutuhkan adalah Global Package.
a. pada MODFLOW Global/Basic Package dialog, pilih Packages.
b. Bagian Point Sources/Sinks, aktifkan Drain (DRN1) dan Well (WEL1).
c. Bagian Areal Sources/Sinks, aktifkan Recharge (RCH1).
d. Bagian Solver, pilih Strongly Impl. Procedure (SIP1).
e. Setelah selesai, pilih OK untuk keluar dari Packages dialog.
f. Pilih IBOUND untuk membentuk grid/cell sesuai dengan gambar digital CAT, dilakukan perubahan pada IBOUND Array. Untuk cell yang aktif (IBOUND > 0), tidak aktif (IBOUND = 0) dan untuk constant head (IBOUND < 0). Lakukan juga untuk layer selanjutnya. Pilih OK.
g. Selanjutnya, pilih Starting Head. Karena CAT berbatasan langsung dengan laut, maka semua starting head tiap layer masukkan nol. Pilih OK.
h. Menentukan elevasi tiap lapisannya, seperti yang sudah ditentukan pada Tabel 1. Pilih Top Elevasi, pastikan sudah berada pada Layer 1. Pilih Constant→Layer, masukkan angka 130 dan pilih OK. Klik OK untuk keluar dari Top Elevations dialog.
i. Pilih Bottom Elevation, pastikan sudah pada Layer 1. Pilih Constant→Layer, masukkan angka -80 dan pilih OK.
j. Ubah Layer 2. Pilih Constant→Layer, masukkan angka -140 dan pilih OK.
k. Ubah Layer 3. Pilih Constant→Layer, masukkan angka -210 dan pilih OK.
Klik OK untuk keluar dari Bottom Elevations dialog.
l. Klik OK untuk keluar dari MODFLOW Global/Basic Package dialog.
8. Untuk membuat cell menjadi lapisan permeable, maka dilakukan perubahan jenis cell dari active menjadi specific head. Ada 2 cara untuk melakukan perubahan ini yang nantinya akan berpengaruh pada IBOUND Array. Yang pertama melalui langkah 7.f dengan merubah cell active (1) menjadi constant head (-1) pada array permeable dan yang kedua dengan langsung pada cell di layar dengan cara klik Grid, lalu pilih Select Cells pilih kotak cell permeable dibantu dengan
tombol ctrl. Setelah sudah terblok, klik kanan pada salah satu cell terblok. Pilih Properties, ubah pilihan IBOUND dari Active ke Specified Head. Pilih OK untuk keluar dari 3D Grid Cells Properties dialog. Lakukan untuk Layer 2. Ada perubahan pada cell permeable.
9. Selanjutnya, masukkan data untuk MODFLOW adalah Layer Property Flow (LPF) Package. LPF Package akan menghitung konduksi antar masing-masing cell dan persamaan finite difference dan untuk aliran tiap cell.
a. Pilih MODFLOW | LPF Package.
b. Untuk tugas besar ini, menggunakan tipe layer Convertible dikarenakan pada lapisan atas adalah unconfined dan kedua lapisan di bawahnya confined.
c. Menentukan K (m/d) tiap lapisannya, seperti yang sudah ditentukan pada Tabel 1. Pilih Horizontal Hydraulic Conductivity, pastikan sudah berada pada Layer 1. Pilih Constant→Layer, masukkan angka 8 dan pilih OK.
Ubah Layer 2. Pilih Constant→Layer, masukkan angka 2 dan pilih OK.
Ubah Layer 3. Pilih Constant→Layer, masukkan angka 3 dan pilih OK.
Klik OK untuk keluar dari Horizontal Hydraulic Conductivity.
d. Menentukan Vertical Anisotropy tiap lapisannya, seperti yang sudah ditentukan pada Tabel 1. Pilih Vertical Anisotropy (Kh/Kv), pastikan sudah berada pada Layer 1. Pilih Constant→Layer, masukkan angka 10 dan pilih OK. Ubah Layer 2. Pilih Constant→Layer, masukkan angka 5 dan pilih OK. Ubah Layer 3. Pilih Constant→Layer, masukkan angka 5 dan pilih OK. Klik OK untuk keluar dari Vertical Anisotropy (Kh/Kv).
e. Klik OK untuk keluar dari LPF Package dialog.
10. Selanjutnya, masukkan data untuk MODFLOW adalah Recharge Package.
Seperti nilai yang sudah ditentukan pada Tabel XX. Pilih MODFLOW | Source/Sink Packages | Recharge (RCH) Package. Pilih Constant→Layer, masukkan angka 0.0009 dan pilih OK. Klik OK untuk keluar dari Recharge Package dialog.
11. Hanya pada lapisan atas terdapat sungai (drains) dan sumus (wells).
a. Untuk membuat sungai (drains), pilih cell dengan Select Cells. Blok semua cell yang akan menjadi sungai (drains) dibantu dengan ctrl. Klik
kanan pada cell yang dipilih dan akan muncul menu pop-up Sources/Sinks.
Pilih tab Drains, klik New. Isi dengan mengikuti tabel dibawah ini.
b. Pilih OK. Unselect cell dengan klik bagian diluar grid.
c. Untuk membuat sumur (wells), pilih cell dengan Select Cells. Pilih cell yang didapati pemukiman atau wilayah industri. Klik kanan pada cell yang dipilih dan akan muncul menu pop-up Sources/Sinks. Pilih tab Well, klik New. Isi dengan mengikuti Tabel 2.
d. Pilih OK. Unselect cell dengan klik bagian diluar grid.
12. Melakukan checking simulasi dengan memilih MODFLOW | Check Simulation dan pilih Run Check. Pilih Done untuk keluar dari Model Checker.
13. Menyimpan simulasi dengan klik File | Save.
14. Setelah sudah disimpan, simulasi siap di running. Pilih MODFLOW | Run MODFLOW. Check Read Solution on Exit. Ketika MODFLOW selesai, pilih Close.
15. Simpan file kembali.
Gambar 3. Gambar Hasil Pemodelan MODFLOW 3.1.2 Analisa Hasil
Berdasarkan hasil luaran aplikasi GMS pada Gambar 3, didapat kontur air tanah pada CAT Sumbawa Besar. Diketahui tinggi (head) aliran air tanah tertinggi pada 170.38 meter dan tinggi (head) aliran air tanah terendah pada 11.36 meter. Dapat dijelaskan bahwa bagian yang berwarna ungu merupakan batasan specific head
yang merupakan lapisan permeable yaitu berupa laut. Garis kontur akan berwarna semakin terang pada bagian yang memiliki elevasi lebih tinggi dan impermeable maka dapat diartikan bahwa arah aliran akan menuju laut (permeable) dan mengikuti arah aliran sungai yang ada. Pada bagian titik kuning atau sumur, akan terlihat garis membentuk lengkungan, itu diakibatkan flow rate / proses pengambilan air. cell yang terdapat simbol segitiga biru artinya flooded area, dimana pada bagian kontur tinggi masukkan muka air tanahnya melebihi elevasi ketinggian. Itu bisa dikarenakan intensitas curah hujan yang tinggi. Pada lapisan 2 hanya ada batasan specific head dan lapisan ketiga tidak ada pengaruh apa-apa sehingga untuk lapisan ke 2 dan 3 sama dengan pengaruh dari lapisan 1 dimana terdapat masukkan sungai dan sumur.
3.2 Pemodelan SEEP2D
Dari kontur muka air tanah yang didapat dari analisis simulasi pemodelan MODFLOW, maka dapat dilanjutkan dengan simulasi pemodelan SEEP2D yaitu untuk mengetahui potongan melintang dari kontur tersebut. Penggunaan aplikasi SEEP2D adalah untuk mengetahui daerah recharge dan discharge di CAT Sumbawa Besar. Untuk mengetahui daerah recharge dan discharge, maka lakukan arah potongan melintang pada daerah dengan yang padat penduduk atau terdapat lokasi industri, seperti pada gambar.
Gambar 4. Gambar Potongan Melintang CAT
Terdapat 3 (tiga) garis potong melintang, dengan masing-masing lapisan diasumsi kan seperti pada Tabel 1.
3.2.1 Langkah dan Proses Konseptualisasi
1. Membuka aplikasi GMS 7.1, lalu pilih File | New.
2. Untuk menyamakan unit satuan yang digunakan dalam simulasi pemodelan, maka harus dilakukan perubahan satuan unit bawaan aplikasi. Pilih Edit | Units. Untuk panjang (Length) gunakan satuan m (untuk meter), waktu (Time) gunakan yr (untuk tahun), kg untuk massa dan N untuk gaya. Satuan yang lainnya diabaikan karena tidak berpengaruh pada pemodelan ini. Setelah itu pilih tombol OK.
3. Langkah pertama dalam menyiapkan pemodelan adalah selanjutnya dalam melakukan simulasi pemodelan 2D finite element mesh:
a. Klik kanan pada bagian kosong pada Project Explorer, dari tampilan yang muncul, pilih New | Conceptual Model.
b. Ubah Name menjadi “Confined”.
c. Ubah Type ke SEEP2D/UTEXAS.
d. Non-aktifkan kotak UTEXAS.
e. Klik OK.
4. Selanjutnya, klik kanan pada Confined dan pilih New Coverage pada menu pop-up.
5. Ubah nama menjadi Boundary. Pada kolom Sources/Sinks/BCs pilih Refinement dan Head lalu pada Areal Properties pilih Meshing Options. Klik OK.
6. Selanjutnya, membuat titik koordinat untuk masing-masing model sesuai dengan elevasi yang sudah didapat. Klik kanan pada Boundary dan pilih Attribute Table. Aktifkan Show Point Coordinates. Masukkan jarak sebagai X dan elevasi sebagai Y. Klik OK.
7. Sambungkan tiap titik koordinat dengan Create Arc.
8. Setelah selesai menyambungkan setiap nodes, pilih Select Arcs Tool, Edit | Select All. Pilih Feature Objects | Redistribute Vertices. Pada Arc Redistribution, pilih Specify menjadi Specified Spacing dan masukkan Spacing 10 untuk jarak antar nodes. Klik OK.
9. Sebelum membuat Mesh, kita harus membuat poligonnya dengan memilih Feature Objects | Build Polygons. Setelah sudah terbentuk poligonnya, maka pilih Feature Objects | Map→ 2D Mesh.
10. Lalu, membuat tipe material untuk tiap lapisannya. Pilih Edit | Materials, buat material baru dengan klik New . Ubah nama menjadi Material L1, L2 dan L3.
Klik OK.
11. Pilih Select Polygons, klik dua kali pada tiap layer dan masukkan tipe material sesuai lapisan.
12. Selanjutnya, memasukkan simulasi SEEP 2D. Klik SEEP 2D | New Simulation, pastikan Model Type adalah Saturated/Unsaturated with linear front. Untuk massa jenis air gunakan 9810 N/m3. Klik OK.
13. Pilih Edit | Materials, untuk tiap material masukkan seperti Tabel 4.
14. Langkah terakhir dalam input SEEP 2D adalah membuat boundary condition dimana terdapat 2 tipe batasan yaitu constant head dan no-flow. Pada tugas besar ini constant head (tinggi tekanan air) berada pada lapisan atas. Pilih folder Map Data pada Project Explorer, klik Select Arcs, klik dua kali pada lapisan atas lalu ubah Type menjadi Head dan isi ketinggian head sama seperti pada MODFLOW.
Klik OK.
15. Klik kanan pada Confined di Project Explorer, pilih Map to → SEEP2D 16. Menyimpan simulasi dengan klik File | Save.
17. Setelah sudah disimpan, simulasi siap di running. Pilih SEEP2D | Run SEEP2D.
Check Read Solution on Exit. Ketika SEEP2D selesai, pilih Close.
18. Untuk menampilkan judul dan total flow rate, pilih Display Options. klik 2D Mesh Data | SEEP2D, aktifkan Title dan Total Flow Rate.
19. Simpan file kembali.
Gambar 5. Hasil Pemodelan SEEP2D Potongan 1
Gambar 6. Hasil Pemodelan SEEP2D Potongan 2
Gambar 7. Hasil Pemodelan SEEP2D Potongan 3 3.2.2 Analisa Hasil
Berdasarkan hasil luaran simulasi pemodelan SEEP2D pada Gambar 5, terbentuk flowline yang berwarna biru pada potongan melintang. Dapat diketahui bahwa garis recharge adalah flowline yang menuju kedalam lapisan dan discharge adalah flowline yang menuju luar lapisan. area recharge adalah batas dari recharge menuju batas discharge dan area discharge adalah batas dari discharge menuju batas recharge.
Daerah recharge adalah daerah yang memiliki karakteristik pergerakan aliran air tanah vertikal ke bawah yang dipengaruhi oleh gravitasi atau aliran ari tanah yang mengikuti kemiringan akuifer dan area discharge adalah daerah yang memiliki karakteristik pergerakan aliran air tanah vertikal ke atas sesuai dengan kondisi kemiringan akuifer. Maka didapat kontur area recharge dan discharge CAT Sumbawa Besar pada gambar dibawah.
Gambar 8. Kontur Muka Air Tanah CAT Sumbawa Besar
Pada gambar, dijelaskan bahwa kontur berwarna merah adalah wilayah recharge sedangkan kontur berwarna biru adalah daerah discharge. Metode penentuan area recharge dan discharge air tanah pada cekungan air tanah dengan menggunakan data kedalaman muka air tanah. Berdasarkan kedudukan muka air tanah dan arah aliran air tanahnya maka daerah recharge merupakan bagian dari cekungan yang dicirikan dengan aliran air tanah pada lapisan jenuh mengalir menjauhi muka air tanah. Dan untuk area discharge merupakan bagian dari cekungan yang dicirikan dengan aliran air tanah pada lapisan jenuh mengalir menuju muka air tanah. Untuk membuktikan akurasi daerah dari CAT Sumbawa Besar maka dapat dilakukan analisa melalui pemodelan MODFLOW.
3.3 Usulan Tata Guna Lahan
Tata guna lahan pada Cekungan Air Tanah Sumbawa Besar didominasi tegalan/ladang, semak belukar dan sawah. Dan berdasarkan penelitian tata guna lahan di daerah recharge masih dapat meresap air dengan baik untuk mengisi akuifer menjadi air tanah, karena masih banyak lahan-lahan terbuka. Permasalahan terkait tata guna lahan yang dominan hutan rimba dan banyak lahan kosong.
Dari lahan yang ada dapat dilakukan pemanfaatan lahan, dengan memperluas daerah pemukiman dan penambahan daerah industri pada daerah utara, sehingga air dapat termanfaatkan dengan baik. Dan untuk pemanfaatan air tanah yang jatuh di hutan rimba, dapat dilakukan konservasi air tanah untuk menjaga pertahanan di daerah CAT Sumbawa Besar dengan tujuan untuk menurunkan tingkat erosi lahan akibat hujan yang jatuh.
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil analisis pada daerah Cekungan Air Tanah Sumbawa Besar, dapat disimpulkan, bahwa:
1. Pada lapisan 1 pemodelan MODFLOW dengan asumsi lapisan phreatic terbentuk arah aliran air berdasarkan pengaruh dari sungai, lapisan permeable, sumur dan beberapa parameter lain. Pada lapisan 2 hanya ada batasan specific head dan lapisan ketiga tidak ada pengaruh apa-apa dikarenakan semua pengaruh ada pada lapisan 1.
2. Pada kontur muka air tanah, menujukkan pola aliran dari 3 cross section yang menjadi panduan untuk keseluruhan lokasi Cekungan Air Tanah. Diketahui daerah yang berpengaruh sebagai recharge (muka air lebih tinggi) dan discharge (muka air lebih rendah).
3. Ketersediaan air tanah di Cekungan Air Tanah Sumbawa Besar berada dalam kondisi surplus. Sehingga dilakukan pemanfaatan lahan dan konservasi air tanah.
4.2 Saran
1. Penelitian lebih lanjut terhadap sifat fisik air tanah karena sudah didapat peta area recharge dan discharge.
2. Penelitian selanjutnya melihat potensi air tanah berdasarkan satuan hidromorfologi CAT.
DAFTAR PUSTAKA
gis.dukcapil.kemendagri.go.id
Hendrayana, H. 2015. “Pengelolaan Sumberdaya AirTanah Di Indonesia”. DOI 10.13140/RG.2.1.1258.4485.
Listyani T.R.A. & Putranto. T. T. 2020. “Studi Potensi Airtanah pada Cekungan Airtanah (CAT) Banyumudal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah” dalam Jurnal Ilmu Lingkugan, Volume 18 Issue 3 (2020): 531-544.
Zeffitni. 2013. “Potensi Air Tanah di Cekungan Airtanah (CAT) Palu Berdasarkan Satuan Hidromorofologi dan Hidrogeologi” dalam Jurnal Geografi, Volume 11 Nomor 22 Desember 2013: 97-106.