• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lathifah Nur Lailiyah - Jurnal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Lathifah Nur Lailiyah - Jurnal"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

HUBUNGAN AGAMA DENGAN COPING IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTISME DI SLB-B & AUTISME TPA JEMBER. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan religiusitas dengan coping ibu yang memiliki anak autis di SLB-B & TPA Autisme Jember.

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
    • Tujuan Umum
    • Tujuan Khusus
  • Manfaat Penelitian
    • Manfaat bagi ibu yang memiliki anak autis
    • Manfaat bagi profesi keperawatan
    • Manfaat bagi masyarakat
    • Manfaat bagi institusi pendidikan
  • Keaslian Penelitian

Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan religiusitas dengan coping ibu yang mempunyai anak autis di SLB-B & Autisme TPA Jember. Analisis hubungan religiusitas dengan coping ibu yang mempunyai anak autis di SLB-B & TPA Autisme Jember.

Tabel 1.1 Perbedaan Penelitian
Tabel 1.1 Perbedaan Penelitian

TINJAUAN TEORI

Konsep Religiusitas

  • Pengertian Religiusitas
  • Dimensi Religiusitas
  • Fungsi Religiusitas
  • Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Religiusitas
  • Karakteristik Individu yang Memiliki Religiusitas
  • Pengukuran Religiusitas
  • Religiusitas dalam Keperawatan
  • Pandangan Religiusitas dalam Agama Islam

Hal ini terlihat dari kehadiran seseorang di masjid bagi umat yang menganut agama Islam dan di gereja bagi umat yang menganut agama Nasrani. Dimensi ini mengacu pada harapan masyarakat, dimana seseorang yang beragama dapat dilihat dari bagaimana individu tersebut menjalani kehidupannya. Individu yang beragama akan bergabung dalam organisasi keagamaan dimana individu tersebut akan berinteraksi dengan individu beragama lainnya sehingga mengurangi risiko isolasi sosial.

Organisasi yang diikuti oleh umat beragama akan mengurangi stres yang dialami individu dengan cara berinteraksi dan tertawa bersama anggota lainnya. Individu yang memiliki religiusitas tinggi tidak akan menutupi kesalahan atau kebohongannya dan mengungkapkannya dengan jujur. Individu dengan religiusitas tinggi relatif tidak menghakimi status dan mencintai individu yang sedang mengalami permasalahan.

RCI-10 merupakan instrumen penelitian yang bertujuan untuk mengukur derajat komitmen terhadap agama pada individu beragama dan tidak beragama.

Konsep Autis

  • Definisi Autis
  • Gejala Autis
  • Penyebab Autis
  • Jenis-Jenis Autis
  • Dampak Autis

Gejala menonjol yang terlihat adalah pandangan mata anak yang kurang terfokus (Yusuf dkk menyebutkan beberapa gejala pada anak autis sebagai berikut. Anak autis minim kontak mata dengan orang disekitarnya dan sering menyendiri, sehingga menyebabkan anak autis kurang fokus. memiliki kecenderungan untuk hidup di dunianya sendiri dan hubungannya dengan orang lain terganggu (Siegel, 2008) Orang tua yang memiliki anak autis seringkali menghadapi tantangan dimana orang tua tersebut akan menghadapi berbagai perilaku anak, seperti agresi fisik, melukai diri sendiri, kemarahan, dan ketidaktaatan (Simmons, 2006).

Tantangan bagi orang tua yang memiliki anak autis terletak pada cara merawat anak autis itu sendiri, yaitu anak autis mengalami kesulitan dalam pengaturan diri, sehingga anak autis cenderung memiliki emosi negatif dan gangguan komunikasi menjadi tantangan dalam merawat anak autis (Mohammadi, 2011). Namun tingkat stres ibu yang memiliki anak autis lebih tinggi dibandingkan ibu yang memiliki anak dengan gangguan perkembangan lain seperti Down Syndrome, Fragile X Syndrome dan cacat mental berat lainnya (Mohammadi, 2011). Tomanik, Harris, dan Hawkins (2004) dalam Mohammadi (2011) menemukan bahwa dua pertiga ibu yang memiliki anak autis menunjukkan peningkatan tingkat stres.

Fakta lain yang terungkap adalah bahwa orang tua sendiri sering menggunakan kata “stres” ketika berbicara tentang membesarkan anak autis (Mohammadi, 2011).

Konsep Koping

  • Definisi Koping
  • Strategi Koping
  • Koping Ibu yang Memiliki Anak Autis

Individu mencari aspek positif dari permasalahan yang dihadapinya dengan berdoa kepada sumber kekuatan yang lebih tinggi dari dirinya. Individu mulai memikirkan apa yang dapat diambil hikmahnya dari permasalahan yang dihadapinya agar individu dapat menjadi lebih kuat dan menerima segala sesuatunya dengan mudah. Individu tidak terlalu memikirkan keseriusan masalah yang dihadapinya, individu hanya terus beranggapan bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang mudah dan bukan masalah yang besar untuk diatasi.

Keuntungan dari strategi coping adalah individu dapat melanjutkan kehidupannya walaupun mempunyai masalah, yaitu menjaga keseimbangan emosi, menjaga citra diri yang positif, mengurangi tekanan lingkungan atau beradaptasi dengan pikiran negatif dan mempunyai hubungan yang memuaskan dengan orang lain untuk melanjutkan hidup (Firdaus , 2004 dalam Wardani, 2009). Ibu akan marah, tahap ini disebut tahap marah dan dilanjutkan dengan tahap tawar menawar. Semua orang tua mengalami dan mengungkapkan emosi atau perasaan dalam menanggapi diagnosis anaknya, karena setiap individu memproses perasaannya dengan cara dan waktunya masing-masing.

Coping yang dilakukan orang tua anak autis merupakan berbagai upaya mental dan perilaku yang dilakukan orang tua anak autis untuk mampu menguasai, menoleransi, mengurangi atau meminimalkan suatu situasi atau peristiwa yang menimbulkan stres (Wardani, 2009).

Keterkaitan Religiusitas dengan Koping Ibu yang Memiliki Anak Autis

Beberapa upaya untuk mengelola stres atau coping pada ibu yang mempunyai anak autis dapat berupa coping aktif-menghindari, coping fokus masalah, coping positif, dan coping berupa penolakan atau coping keagamaan (Hastings et al., 2005 dalam Mohammadi, 2011). . Ketika orang tua pertama kali mendengar bahwa anaknya didiagnosis menderita autisme, sebagian besar dari mereka diberikan informasi atau nasehat tentang berbagai alternatif pengobatan pada anaknya, namun tidak satupun dari mereka yang menasihatinya tentang bagaimana cara menenangkan diri dan bagaimana mendukung keadaannya (Simmons, 2006). ). Orang tua akan lupa bahwa mereka adalah individu juga, sehingga hampir seluruh energi yang mereka gunakan akan terfokus pada kebutuhan anak dan sedikit energi pada diri mereka sendiri, pernikahan mereka, dan persahabatan mereka dengan orang lain (Simmons, 2006).

Beberapa upaya untuk mengendalikan stres atau coping pada ibu yang mempunyai anak autis dapat berupa active-avoidant, coping-focused coping. Coping keagamaan seringkali menjadi penghalang pada saat stres dan memberikan kenyamanan bagi individu yang beragama (Taylor, 2012). Agama dapat memberikan bimbingan, dukungan dan harapan dalam melaksanakan coping berupa manajemen stres (Taylor, 2012).

Ritual dan kepercayaan dapat membantu individu untuk mengatasi stres hidup melalui doa, karena terdapat harapan dan kenyamanan dalam berdoa (Taylor, 2012).

Kerangka Teori

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

Kerangka Konseptual

Hipotesis

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Populasi dan Sampel Penelitian

  • Populasi Penelitian
  • Sampel Penelitian
  • Teknik Sampling
  • Kriteria Subjek Penelitian

Kriteria inklusi merupakan kriteria yang ditentukan peneliti dengan menentukan ciri-ciri umum subjek yang dijadikan sampel penelitian (Nursalam, 2014). Kriteria eksklusi adalah dikeluarkannya subjek atau objek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi, namun karena satu dan lain hal tidak dapat dilanjutkan sebagai responden (Nursalam, 2014).

Lokasi Penelitian

Waktu Penelitian

Definisi Operasional

Dalam penelitian ini coping ibu yang memiliki anak autis dinilai berdasarkan dua indikator coping, antara lain:

Teknik Pengumpulan Data

  • Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Alat Pengumpulan Data
  • Uji Validitas dan Reliabilitas

Data pertama yang dikumpulkan adalah data terkait karakteristik responden, data kedua terkait religiusitas, dan data ketiga terkait coping ibu. Peneliti menggunakan alat pengumpul data berupa kuisioner A yaitu The Centrality of Religiosity Scale (CRS-15) dan kuisioner B yaitu koping ibu. Kuesioner B menggunakan kuesioner coping ibu sebanyak 45 item yang digunakan oleh Safitri (2017) dalam penelitiannya mengenai coping ibu yang memiliki anak tunagrahita, namun peneliti mengubah kata tunagrahita menjadi autis.

Kuesioner B terdapat 10 pernyataan yang tidak valid dari 45 pernyataan, sehingga Kuesioner B terdapat 35 pernyataan terkait coping ibu yang fokus pada masalah dan coping ibu yang fokus pada emosi. Uji validitas penelitian ini dengan menggunakan Pearson Product Moment (r) dengan melihat nilai r hitung > r tabel maka valid sedangkan jika r hitung < r tabel maka tidak valid. Peneliti kembali melakukan uji validitas karena adanya perubahan bahasa pada Kuesioner A yaitu dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Uji reliabilitas (reliabilitas) merupakan pengujian yang menguji apakah alat ukur yang digunakan dapat memberikan hasil yang sama meskipun dilakukan oleh orang yang berbeda atau pada waktu yang berbeda (Nursalam, 2014).

Tabel 4.2 Blue Print Kuesioner A (Religiusitas CRS-15)
Tabel 4.2 Blue Print Kuesioner A (Religiusitas CRS-15)

Pengolahan Data

  • Editing
  • Coding
  • Entry
  • Cleaning

Item instrumen survei yang valid dilanjutkan dengan uji reliabilitas dengan menggunakan rumus Cronbach alpha yaitu membandingkan nilai r (alpha) yang dihasilkan dengan nilai r tabel. Hal ini menunjukkan bahwa kuesioner A dan kuesioner B dapat diandalkan oleh karena itu digunakan sebagai instrumen pengukuran penelitian.

Analisis Data

  • Analisis Deskriptif
  • Analisis Statistik

Kategorisasi coping outcome ibu yang memiliki anak autis terbagi menjadi dua kategori, yaitu coping efektif dan coping tidak efektif. Pada penelitian ini titik potong data menggunakan mean (Me) karena sebaran datanya tidak normal. Kategorisasi hasil penilaian variabel coping pada ibu yang memiliki anak autis disajikan pada Tabel 4.6 berikut ini.

Tujuan analisis statistik adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara religiusitas dengan coping skill pada ibu yang memiliki anak autis. Peneliti menggunakan uji software SPSS sehingga nilai Ho diterima dan Ha ditolak jika nilai signifikansi diatas 0,05.

Tabel 4.4 Pengkategorisasian Hasil Skoring Variabel Religiusitas
Tabel 4.4 Pengkategorisasian Hasil Skoring Variabel Religiusitas

Etika Penelitian

  • Lembar Persetujuan Penelitian (Informed Concent)
  • Kerahasiaan (Confidentially)
  • Kejujuran (Veracity)
  • Asas Kemanfaatan

Kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan hubungan religiusitas dengan coping ibu yang mempunyai anak autis di SLB-B & TPA Autisme Jember dapat disimpulkan sebagai berikut. Rata-rata ibu yang memiliki anak autis di SLB-B & TPA Autisme Jember berusia paruh baya, sebagian besar berpendidikan perguruan tinggi, tidak bekerja atau menjadi ibu rumah tangga, dan beragama Islam. Ibu-ibu yang memiliki anak autis di SLB-B & TPA Autisme Jember terbanyak adalah ibu yang sangat religius yaitu 16 orang, sedangkan sisanya 15 orang cukup religius.

Ibu yang mempunyai anak autis di SLB-B & TPA Autisme Jember mayoritas mempunyai coping efektif yaitu 16 orang dan sisanya 15 orang mempunyai coping tidak efektif. Terdapat hubungan antara religiusitas dengan coping ibu yang mempunyai anak autis di SLB-B & Autisme TPA Jember dengan hasil p value = 0,000 dan kekuatan koefisien korelasinya kuat dengan nilai hasil (r) = 0,613. Maksudnya adalah untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan Religiusitas dengan Coping Ibu Anak Autis di SLB-B & TPA Autis Jember.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan religiusitas dengan penanganan ibu yang mempunyai anak autis di SLB-B & Autisme TPA Jember yaitu ada hubungan atau tidak. Populasi dalam penelitian ini adalah total populasi yaitu seluruh ibu yang mempunyai anak autis di SLB-B & TPA Autisme Jember sebanyak 31 orang dengan jumlah sampel sebanyak 31 orang. Judul Penelitian : Hubungan Religiusitas Dengan Coping Ibu Yang Mempunyai Anak Autis Di SLB-B & TPA Autis Jember.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

  • Gambaran Umum
  • Analisis Univariat
  • Analisis Bivariat

Pembahasan

  • Karakteristik Responden
  • Religiusitas
  • Koping Ibu yang Memiliki Anak Autis

Hubungan Religiusitas dengan Koping Ibu yang Memiliki Anak Autis

Keterbatasan Penelitian

Implikasi Keperawatan

PENUTUP

Simpulan

Saran

  • Bagi ibu yang memiliki anak autis
  • Bagi profesi keperawatan
  • Bagi masyarakat
  • Bagi institusi pendidikan

Masyarakat diharapkan bisa bergaul dengan ibu-ibu dan anak autis, memuji anak autis jika berbuat baik, tidak melakukan perundungan jika anak autis melakukan hal-hal yang terkesan aneh, dan mengajak ibu-ibu yang memiliki anak autis ke acara keagamaan atau lainnya. kegiatan yang dikembangkan oleh komunitas.. SLB-B & TPA Autisme Jember dapat mengembangkan kegiatan khusus untuk orang tua, misalnya mengadakan kelas parenting sebulan sekali atau dua kali semester dan membuat peer group untuk ibu-ibu yang memiliki anak autis. Strategi penanggulangan, beban pengasuhan, dan gejala depresi ibu Taiwan yang memiliki remaja dengan gangguan spektrum autisme.

Dukungan keluarga, pengetahuan dan persepsi ibu serta hubungannya dengan strategi coping ibu pada anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD). Penelitian gangguan spektrum autisme Harapan dan kekhawatiran ibu dari anak dengan gangguan spektrum autisme atau sindrom Down. Hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan strategi coping pada ibu yang mempunyai anak tunagrahita di SDLB-C TPA JEMBER.

Research in Autism Spectrum Disorders The grateful thought: A thematic analysis of letters of gratitude from mothers of children with autism spectrum disorder. The influence of personal and social resources on parenting stress in mothers of children with autism spectrum disorder. The Relationship Between Coping, Sleep, and Posttraumatic Growth in Mothers of Children with Autism Spectrum Disorders.

Referensi

Dokumen terkait