• Tidak ada hasil yang ditemukan

Legenda, mitos, dan dongeng di Banda Aceh

N/A
N/A
Khalisa

Academic year: 2024

Membagikan " Legenda, mitos, dan dongeng di Banda Aceh"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Legenda, Mitos, dan Dongeng Banda Aceh 1. Legenda alue naga

Dahulu di tanah Aceh, di sebuah desa dekat KutaRaja hidup seorang sultan yang bernama Meurah. Sultan tersebut terkenal baik dan bijak. Ia juga seringkali berkeliling berkunjung ke pedesaan untuk mendengar keluh kesah rakyat yang jauh dari jangkauannya.

Kali ini, ketika kunjungan dilakukan, rakyat di suatu desa di Aceh mengeluh tentang hewan ternaknya yang tiba – tiba saja hilang.

Salah satu warga berkata, “Sultan, sapi saya hilang tadi dini hari. Kemarin juga 2 kambing tetangga saya hilang entah kemana”.

Selain keluhan tersebut, warga lain yang juga ada di kerumunan mengaku sering merasakan gempa. Menurutnya, gempa yang dirasakan berasal dari sebuah bukit. Sultan pun akhirnya memerintahkan sahabatnya yaitu Renggali untuk mencari tahu keluhan masyarakat tersebut.

Renggali sendiri adalah anak Sultan Alam. Mendengar dirinya mendapat perintah, Renggali segera bergegas menuju puncak bukit. Sesampainya di sana, ia melihat ada genangan air yang sangat luas.

Kemudian suara menggelegar yang meminta maaf terdengar memekakkan telinga.

“Ku mohon, maafkan aku!”

Bersamaan dengan suara itu, gempa terjadi. Renggali tentu mencari sumber suara itu.

Ternyata, ia melihat seekor naga besar yang tertutup Semak belukar. Renggali tentu terkejut.

“Siapa kamu?” tanya Renggali.

“Aku adalah naga yang dahulu merupakan sahabat dari ayahmu” ungkap sang naga.

Naga tersebut juga meminta kepada Renggali agar Sultan Alam dipanggilnya. Namun ayah dari Renggali tersebut sudah tiada.

Mendengar permintaan sang naga, seseorang di sana bernama Sultan Meurah mencoba mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Sultan Meurah juga bertanya. “Apa yang sebenarnya membuatmu lumpuh?”

Ya, naga tersebut lumpuh dan tidak bisa berjalan. Sang naga pun mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Dulu, hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar pedang ke sahabatnya.

Sahabatnya tersebut adalah Tuan Tapa dan Raja Linge. Sebagai ganti atas kerja hamba, Tuan Tapa memberi 6 ekor kerbau. Sementara Raja Linge, ia ingin menemui Sultan Alam. Raja Linge yang memiliki keinginan tersebut pun pergi bersama hamba menemui Sultan Alam dengan 2 anak buahnya.”

“Di perjalanan, hamba tergiur untuk memakan 2 ekor kerbau. Hamba pun memfitnah satu anak buah dari Raja Linge. Raja Linge pun membunuh anak buahnya itu. Lalu hamba

(2)

memakan dua ekor kerbau lagi dan memfitnah satu anak buah Raja Linge yang tersisa dan Raja Linge lagi – lagi membunuhnya. Sebenarnya hamba merasa bersalah.” Cerita naga sambil terisak.

Naga melanjutkan, “Hamba masih makan dua ekor lagi dan Raja Linge tersadar bahwa hamba yang memakannya. Raja Linge yang tahu pun menusukkan pedangnya kepada hamba sampai membuat hamba lumpuh seperti sekarang. Tapi sungguh, atas kesalahan hamba, hamba sangat menyesal”.

Mendengar pengakuan tersebut, Sultan Meurah dan Renggali mencabut pedang yang selama ini membuat naga lumpuh. Setelah pedang tersebut lepas, sang naga diminta untuk kembali ke tempatnya berasal yaitu di laut.

Sambil menangis, naga itu pun menggeser tubuhnya mengikuti perintah dan secara perlahan bergerak menuju laut.

Dari sana terbentuk sebuah sungai kecil karena pergerakan naga tersebut dan pada akhirnya sungai kecil tersebut dinamakan sebagai Sungai Alue Naga.

2. Legenda Gajah Puteh

Dikisahkan bahwa pada zaman dulu di Nanggroe Aceh Darussalam, terdapat seorang raja yang dicintai oleh rakyatnya.Raja ini juga memiliki permaisuri sebagai pendamping hidupnya dan suatu ketika sang permaisuri hamil dan hendak melahirkan. Saat ketika bayinya hendak lahir ini bersamaan ketika sang raja sedang berburu ke hutan. Namun nahas, ketika di tengah perburuannya ia tidak bisa melihat rupa dari anak laki-lakinya, terjadi kecelakaan yang membuat kedua matanya tercolok ranting tidak bisa melihat lagi.

Anak laki-laki itu dinamai Banta Seudang.

Sejak kejadian itu, sementara adik kandung sang rajalah yang kemudian memegang takhta kerajaan. Sementara adik raja ini berkuasa, Banta Seudang pun terus tumbuh menjadi anak yang cerdas.

Kemudian, Banta Seudang terpikirkan sesuatu mengenai siapa yang membiayai kehidupan mereka. Karena sejak kecil ia mengetahui sang ayah matanya sudah buta dan tidak bisa bekerja. Lalu, ibunya pun memberitahu bahwa si pakcik atau adik sang ayahnya yang membiayai kehidupan mereka.

Banta Seudang pun memahaminya dan menganggap sang pakcik sebagai raja adalah orang yang baik hati.

Singkat cerita, Banta Seudang dan ibunya pergi untuk menghadap sang raja. Tujuannya adalah untuk meminta agar Banta Seudang bisa bersekolah. Namun, permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh sang raja sambil mencibir mereka sebagai orang yang tidak tahu diri.

Mendengar respon sang raja yang demikian, ibunya pun teramat sedih karena sudah seharusnya Banta Seudang bersekolah karena umurnya sudah cukup. Banta Seudang

(3)

kemudian menenangkannya dan sejak saat itu ia bertekad untuk mencari obat untuk menyembuhkan penyakit ayahnya.

Kemudian, Banta Seudang pun berkelana melintasi alam selama berbulan-bulan. Suatu ketika, ia sampai di hutan lebat dan menemukan sebuah balai. Kemudian, ia beristirahat.

Tetapi, ia juga berpikir bagaimana bisa ada balai di tengah hutan yang lebat.

Tak lama, ada orang-orang dengan jubah putih datang ke balai untuk melakukan salat Ashar berjamaah. Usai salat, mereka pun menghilang dengan sekejap. Ternyata mereka adalah arwah waliyullah, namun Banta belum mengetahuinya.

Supaya mereka tidak menghilang, ia pun memutuskan menunggu sampai maghrib untuk memegang tangan sang imam ketika mereka datang. Rencananya pun ia jalankan hingga sang imam memahami apa tujuan dari Banta Seudang. Akhirnya, Banta pun diperintahkan untuk mengikuti seekor gajah putih dan menaikinya.

Lalu, ia bertemu dengan Mak Toyo, juru kunci dari taman milik raja yang berkuasa. Yang mana, sang raja punya 7 anak gadis yang hobi mandi di kolam yang ada di taman tersebut.

Katanya, di kolam itu ada bunga bengkawali yang bisa menyembuhkan kebutaan.

Ketika hari Jumat tiba, semua putri raja datang ke taman tersebut untuk mandi. Setelah mereka selesai, Mak Toyo segera menepukkan tangannya di air kolam selama tiga kali.

Tak lama, bunga bengkawali pun muncul dan diberikan ke Banta Seudang.

Namun, tanpa diketahui Mak Toyo, Banta Seudang sebelumnya telah menyelinap ke taman dan mengambil baju terbang salah satu putri raja sehingga ia tidak bisa pulang dan harus menginap di rumah Mak Toyo.

Ketika menginap, ternyata putri raja ini jatuh suka dengan Banta dan akhirnya mereka pun menikah. Kemudian, mereka pun kembali bersama-sama untuk kembali ke kediaman Banta Seudang untuk memberikan bunga bengkawali.

Setelah sampai, Banta kemudian merendam bunga tersebut di semangkuk air dan air rendamannya diusapkan ke wajah sang ayah

Secara ajaib, ayahnya pun bisa melihat kembali dan akhirnya kekuasaan kerajaan kembali ke tangannya. Seluruh warga pun turut senang karena raja yang mereka cintai bisa kembali berkuasa.

3. Mitos Kultilanak dan Burong

Fonomena wanita dan kuntilanak di Aceh. Hal ini menjadi hal yang akan di bahas secara terus menerus yang menjadi perbincangan hangat disetiap musim yang silih berganti.

Mitos tersebut seakan terbayang sesosok perempuan yang telah menjelma menjadi makhluk halus.

(4)

Perbincanagan kuntilanak yang dianggap orang Aceh sebagai hantu yang berasal dari perempuan yang meninggal akibat persalinan ketika melahirkan anaknya ataupun bayinya yang belum sempat dilahirkan.

Penampakkan kuntilanak ini biasanya ditemui pada malam hari dalam wujud sesosok tubuh yang terbungkus kain putih atau nama dengan sebutan masyarakat Aceh "burung punjot".

Kuntilanak berasal dari perempuan yang sudah meninggal karena melahirkan dan lupa melepaskan tali pengikat kafannya ketika hendak di tutup kuburnya.

Disamping itu, ada juga mitos yang berkembang di Aceh yang tidak terlepas dari kaum perempuan, mitos yang sering disebut Burong Tujoh misalnya. Sebutan burong tujoh selalu saja digambarkan berbentuk dalam wujud perempuan dengan sebuah lubang besar di punggungnya, sekilas kalau kita bayangkan tidak beda jauh dengan bentuk kuntilanak, konon dalam sejarahnya makhluk halus tersebut hidupnya tidak terlalu bersih dan benar dan mengalami ajal kematiannya yang dianggap tidak wajar.

Burung tujoh yang diakui keberadannya oleh sebagian orang yang berbentuk mayat hidup terbungkus kain kafan. Bila ia berjalan kakinya di menginjak ke tanah.

Suaranya terdengar seperti suara burung yang perempuan menangis sedih bersenandung irama yang begitu menyengat ketika di dengar (di aceh suara itu dikenal dengan suara bunyi "me 'i-'i'', yang menagis tersendu sendu senda) sesuai dengan suasana dan waktu ia berperan

Perkembangan mitos ini berkembang dengan begitu cepatnya dikalangan masyarakat Aceh, seirng dengan perkembangan mitos ini lama kelamaan seolah pudar ditelan era globalisasi, mereka tidak mempercayai adanya mitos kuntilanak dan burung tujoh terebut, anggapan mereka saat ini hal mitos ini halyang tidak masuk akal dan bersifat takhayyul kalau dilihat keberadaan yang sebenarnya.

Akan tetapi, tidak berlaku terhadap masyarakat yang tinggal di daerah pendalaman yang jauh dari kota serta yang jauh dari perkembangan moderen yang tetap meyakini mitos ini.

4. Mitos larangan berada diluar di waktu magrib

Mitos larangan berada diluar rumah saat magrib atau senja ini sangat melegenda, bakan tidak hanya dikalangan masyarakat Aceh saja. Biasanya anak-anak akan mendapat teguran dari para orang tua apabila masih berkeliaran pada jam-jam matahari mulai terbenam. Dan ketika larangan itu diacuhkan, maka tidak jarang para orang tua akan menakut-nakuti anak-anaknya dengan menceritakan sosok makhluk misterius Geunteut yang muncul dikala senja mengawasai dan menculik mereka yang suka berkeliaran disaat magrib. Genteuet menurut kepercayaan masyarakat Aceh adalah sejenis makhluk halus yang memeiliki

(5)

tubuh yang tinggi, beberapa orang pernah mengalami dibawa bersama geunteut untuk disembunyikan kedalam pepohonan (tempat tinggal geunteut).

5. Dongeng cut caya dan cut cani

Dahulu kala, di Aceh ada seorang janda yang hidup bersama putri semata wayangnya bernama Cut Cani. Mereka berdua bertahan hidup dari kebun peninggalan ayahnya yang terlebih dahulu meninggalkan mereka. Kebun tersebut diolah oleh ibu Cut Cani sehingga mampu menghasilkan aneka buah segar. Sementara itu, Cut Cani suka bermain sendirian.

Ketika berangkat bermain, Cut Cani selalu membawa bekal buah-buahan. Ketika lelah bermain, Cut Cani akan memakan bekal buahnya. Seketika rasa lelah akan hilang setelah memakan buah-buahan. Sementara di tempat lain. hiduplah seorang duda yang tinggal bersama putrinya bernama Cut Caya. Sehari-hari ayah Cut Caya pergi ke hutan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Biasanya ayah Cut Caya berburu berburu rusa atau kelinci

Sama seperti Cut Cani, Cut Caya selalu bermain sendirian sambil membawa bekal hasil buruan ayahnya. Setiap kali kelelahan, Cut Caya akan memakan daging bekalnya tersebut.

Menjadi teman Suatu hari, ketika sedang bermain, Cut Cani bertemu dengan Cut Caya.

Mereka lalu berkenalan dan saling berbagi bekal dan bertukar cerita. Cut Cani bercerita ingin memiliki ayah seperti Cut Caya. Begitu juga sebaliknya, Cut Caya ingin memiliki ibu seperti Cut Cani. Setelah mereka akrab, mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing. Cut Cani menceritakan perkenalannya dengan Cut Caya kepada ibunya. Begitu juga Cut Caya, ia menceritakan perkenalannya dengan Cut Cani kepada ayahnya.

Mereka berdua kemudian saling mengenalkan orangtua masing-masing. Cut Cani dan Cut Caya juga membicarakan keinginan mereka untuk selalu bersama-sama kepada orangtua mereka. Kebetulan, kedua orangtua mereka setuju. Akhirnya, ibu Cut Cani dan ayah Cut Caya menikah. Mereka berdua kemudian tinggal di dalam satu rumah dan hidup bahagia.

Referensi

Dokumen terkait