PELAKSANAAN FUNGSI LEGISLASI DPR DI
INDONESIA
MHD. YUSRIZAL ADI S, SH.MH FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MEDAN AREA MEDAN
2020
TINJAUAN UMUM
• Badan legislatif dalam sistem ketatanegaraan disebut dengan parlemen
• Anggota parlemen dipilih oleh rakyat
• Parlemen merupakan lembaga
perwakilan politik yang menjadi
salah satu unsur kekuasaan dalam
suatu pemerintahan modern.
• Parlemen atau DPR di Eropa dikenal dengan sebutan “parliament” yang memiliki makna pembicaraan masalah kenegaraan.
• Di Amerika Parlemen disebut
“legislature” yaitu badan pembuat undang-undang (law making body)
• Sejarah kelahiran Parlemen berasal dari Inggris pada abad pertengahan pada waktu yang berkuasa adalah raja-raja/kaum feodal.
• Kaum feodal bergelar Lord yang menguasai tanah
• Pada waktu raja berkeinginan melakukan penambahan tentara dan pajak, maka raja mengirimkan utusan kepada lord untuk menyampaikan maksud tersebut, tetapi kemudian hal tersebut dirasa kurang efektif, maka kemudian raja membentuk sebuah lembaga yang anggotanya terdiri dari para lord ditambah dengan para pemuka gereja/pendeta-pendeta yang berada dipusat/dekat dengan raja.
• Lembaga tersebut berfungsi sebagai pemberi nasihat dan petunjuk kepada raja yang berkaitan dengan soal politik,administrasi kerajaan, pemungutan pajak apabila diminta oleh raja demi masa depan kerajaan.
• Lembaga ini kemudian menjadi lembaga permanen disebut dengan “luria regis”
dan kemudian menjadi “house of lords”
• Pada perjalanan waktu kekuasaan house of lords semakin besar maka raja berkinginan mengurangi hak-hak house of lords yang mengakibatkan pertikaian dengan raja dgn kaum ningrat.
• Kemudian kaum menengah dan rakyat menginginkan untuk terlibat dalam pembicaraan pemungutan pajak dan anggaran kerajaan. Agar tidak terjadi pertentangan dengan raja, maka raja inggris pada waktu itu mengalah dan membentuk lembaga baru yang anggotanya terdiri dari kaum menengah dan rakyat disebut
“magnum consillium” yang kemudian disebut dengan house of commons”
• House of lord dan house of commons disebut dengan parliamentum “lembaga parlemen “pertama dengan modern
• Anggota House of lord adalah kaum bangsawan yang permanen sifatnya sedangkan house of commons terdiri kaum menengah dan rakyat yang merupakan pilihan rakyat di daerah masing-masing
• Kedudukan parlemen dengan sistem
parlementer sangat kuat, bahkan
dapat disebut lebih kuat dari
eksekutif karena parlemenlah yang
membentuk eksekutif.dmana setiap
anggota kabinet harus menjadi
anggota parlemen
• Kedudukan lembaga parlemen pada negara sistem presidensial yang murni adalah sejajar dengan presiden, hubungan kedua lemaga tersebut adlaah hubungan fungsional dalam arti keduanya berhubungan sesuai dengan fungsi konstitusionallnya.
• Parlemen dan presiden dipilih secara
langsung oleh rakyat dalam suatu
pemilihan umum dan dengan masa
jabatan tertentu
FUNGSI PARLEMEN
• FUNGSI PARLEMEN secara umum ada 3 a. Fungsi Legislasi
yaitu membentuk undang-undang b. Fungsi Anggaran
yaitu menentukan anggaran belanja negara c. Fungsi Pengawasan
yaitu mengaswasi kinerja dari
pemerintah/pelaksanaan pemerintahan
Kemudian terdapat fungsi tambahan yaitu fungsi penjaringan aspirasi yang berarti memperjuangan kepentingan masyarakat yang kemudian dibahas diparlemen untuk direalisikan dalam pemerintahan
HAK-HAK PARLEMEN
- Hak bertanya - Hak interpelasi
(meminta keterangan)
hak anggota parlemen untuk meminta keterangan dari pemerintah terkait pelaksananaan kebijakan dan kebijaksanaan yg dilakukan oleh pemerintah dlm berbagai bidang.
- Hak angket (hak
mengadakan penyelidikan) - Hak mosi
• Hak angket merupakan hak anggota badan legislatif untuk mengadakan penyelidikan sendiri, dengan membentuk panitia angket, kemudian panitia melaporkan hasil penyelidikannya kepada badan legislatif
• Hak mosi merupakan hak kontrol parlemen/hak ketidakpercayaan parlemen kepada kebijakan pemerintah dalam menjalankan pemerintahan, hak ini biasanya dilaksanakan dinegara sistem parlementer
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
UU No 17 Tahun 2014 Jo UU No. 2 Tahun 2018
DPR berwenang:
a. Membentuk undang-undang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama;
b. Memberikan persetujuan atau tidak
memberikan persetujuan terhadap
peraturan pemerintah pengganti
undang-undang yang diajukan oleh
Presiden untuk menjadi undang-
undang;
c. membahas rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden atau DPR yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah, dengan mengikutsertakan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden;
d. memperhatikan pertimbangan DPD atas rancangan undang-undang tentang APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama;
e. membahas bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan memberikan persetujuan atas rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden;
f. membahas dan menindaklanjuti hasil pengawasan yang disampaikan oleh DPD atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama
g. memberikan persetujuan kepada Presiden untuk menyatakan perang dan membuat perdamaian dengan negara lain;
h. memberikan persetujuan atas perjanjian internasional tertentu yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang;
i. memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pemberian amnesti dan abolisi;
j. memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam hal mengangkat duta besar dan menerima penempatan duta besar negara lain;
k. memilih anggota BPK dengan memperhatikan pertimbangan DPD;
l. memberikan persetujuan kepada
Presiden atas pengangkatan dan
pemberhentian anggota Komisi
Yudisial;
m.memberikan persetujuan calon hakim agung yang diusulkan Komisi Yudisial untuk ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden;
n. memilih 3 (tiga) orang hakim
konstitusi dan mengajukannya
kepada Presiden untuk
diresmikan dengan keputusan
Presiden
TUGAS DPR
DPR bertugas:
a. menyusun, membahas,
menetapkan, dan menyebarluaskan program legislasi nasional;
b. menyusun, membahas, dan menyebarluaskan rancangan undang-undang;
c. menerima rancangan undang- undang yang diajukan oleh DPD berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah;
d. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, APBN, dan kebijakan pemerintah;
e. Membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang disampaikan oleh BPK;
f. Memberikan persetujuan terhadap pemindahtanganan aset negara yang menjadi kewenangannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan dan terhadap perjanjian yang berakibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara
g.menyerap, menghimpun,
menampung, dan
menindaklanjuti aspirasi masyarakat; dan
h. melaksanakan tugas lain
yang diatur dalam undang-
undang.
KEANGGOTAAN DPR
a. Anggota DPR berjumlah 560 (lima ratus enam puluh) orang.
b. Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan Presiden.
c. Anggota DPR berdomisili di ibu kota negara Republik Indonesia.
d. Masa jabatan anggota DPR adalah 5 (lima) tahun dan berakhir pada saat anggota DPR yang baru mengucapkan sumpah/janji.
• Setiap anggota, kecuali pimpinan MPR dan pimpinan DPR, harus menjadi anggota salah satu komisi.
• Setiap anggota hanya dapat merangkap
sebagai anggota salah satu alat
kelengkapan lainnya yang bersifat tetap,
kecuali sebagai anggota Badan
Musyawarah.
ANGGOTA HAK DPR
Anggota DPR berhak:
1. mengajukan usul rancangan undang- undang;
2. mengajukan pertanyaan;
3. menyampaikan
usul dan pendapat;
4. memilih dan dipilih;
5. membela diri;
6. imunitas;
7. protokoler;
8. keuangan dan administratif;
9. pengawasan;
10.mengusulkan dan
memperjuangkan program
pembangunan daerah
pemilihan; dan
11.melakukan sosialiasi undang-
undang
FRAKSI DI DPR
• Fraksi merupakan
pengelompokkan anggota berdasarkan konfigurasi partai politik berdasarkan hasil pemilihan umum.
• Setiap anggota DPR harus menjadi anggota fraksi.
• Fraksi dibentuk oleh partai politik yang memenuhi ambang batas perolehan suara dalam penentuan perolehan kursi DPR
• Fraksi dibentuk untuk mengoptimalkan pelaksanaan fungsi, wewenang, tugas DPR, serta hak dan kewajiban anggota DPR.
• Fraksi didukung oleh sekretariat dan tenaga ahli.
• Sekretariat Jenderal DPR menyediakan sarana, anggaran, dan tenaga ahli guna kelancaran pelaksanaan tugas fraksi.
• Ketentuan lebih lanjut mengenai sarana dan tenaga ahli fraksi sebagaimana dimaksud diatur dalam peraturan DPR
ALAT KELENGKAPAN DPR
Alat kelengkapan dpr terdiri atas:
A. Pimpinan;
B. Badan musyawarah;
C. Komisi;
D. Badan legislasi;
E. Badan anggaran;
f. Badan Kerja Sama Antar- Parlemen;
g. Mahkamah Kehormatan Dewan;
h. Badan Urusan Rumah Tangga;
i. panitia khusus; dan
j. alat kelengkapan lain yang
diperlukan dan dibentuk oleh
rapat paripurna.
SISTEM PARLEMEN
UNIKAMERAL
a) SISTEM UNIKAMERAL (SATU KAMAR)
Dilaksanakan dinegara homogen dengan luas wilayah yang kecil. Pemilihan anggota parlemen melalui pemilihan umum
• Tidak dikenal adanya dua badan yang terpisah seperti Majelis Tinggi dan Majelis Rendah.
• Di Asia, sistem unikameral ini misalnya dianut oleh Vietnam, Singapura, Laos, Lebanon, Syiria, Kuwait.
• Legislatif terpusat pada satu badan legislatif tertinggi dalam struktur negara
BIKAMERAL
b) SISTEM BIKAMERAL (DUA KAMAR)
Parlemen terdiri dari dua kamar,
yang di inggris terdiri dari house of
lord (bangsawan) dan house of
commons (rakyat), di Amerika
Serikat terdiri dari house of
representative terdiri dari 435 orang
dan Senate terdiri dari perwakilan 50
negara bagian yang gabungan
keduanya disebut KONGRRES
• Parlemen juga biasa di isi oleh majelis tinggi dan majelis rendah
• Majelis Rendah adalah tempat wakil rakyat yang mewakili kepentingan partai politik atas dasar ideologi dengan skala nasional, dalam praktiknya terkadang oposisi ataupun pro terhadap kebijakan pemerintah
• Majelis Tinggi adalah lembaga yang mewakili kepentingan kewilayahan.
Anggotanya disebut senator. Berfungsi untuk memperjuangkan kepentingan wilayah
• Bikameralisme adalah komponen yang esensial pada separation of power
• Terdiri dari Majelis Tinggi (Upper House ) atau kamar kedua (Second chamber ) dan Majelis Rendah (Lower House ) atau kamar pertama (First chamber ).
• Mejelis Tinggi dikenal dengan variasi nama, contoh di Inggris : House Of Lords; di Switzerland : Council Of State (Standerat); di Jerman : Bundesrat; di Malaysia : Dewan Negara, dan sebagian besar seperti di Australia, Amerika Serikat, Canada, Perancis, masing-masing dinamakan dengan Senate.
a.Strong Bicameralism
Pembuatan undang-undang biasanya dimulai dari majelis manapun, dan harus dipertimbangkan oleh kedua majelis dalam forum yang sama sebelum bisa disahkan.
Australia, Jerman, Swiss, Amerika Serikat, Kolumbia
b.Soft Bicameralism
Majelis yang satu memiliki status yang lebih tinggi. misalnya, majelis pertama dapat mengesampingkan RUU yang diajukan oleh majelis kedua.
C) SISTEM TRIKAMERAL
Dalam sistem trikameral, parlemen terdiri dari 3 badan yang memiliki tugas masing-masing.
Misalnya negara taiwan, RRC yang
terdiri dari National assembly (majelis
rakyat), yuan legislatif (DPR), dan
Dewan Pengawas
PELAKSANAAN FUNGSI
LEGISLASI DPR DI INDONESIA
Pasal 20 UUD 1945
1. Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang.*) 2. Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan
Presiden untuk mendapat persetujuan bersama.*
3. Jika rancangan undang-undang itu tidak mendapat persetujuan bersama, rancangan undang-undang itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa itu.*
4. Presiden mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi undang-undang.*
5. Dalam hal rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu tiga puluh hari semenjak rancangan undang-undang tersebut
Pelaksanaan
fungsi legislasi di DPR
dilaksanakan dengan
membentuk Badan
Legislasi DPR yang disebut BALEG
Pasal 102 UU No.17 tahun 2014
• Badan Legislasi dibentuk oleh DPR dan merupakan alat kelengkapan DPR yang bersifat tetap.
Pelaksanaan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dilakukan
oleh DPR bersama
dengan Pemerintah
Badan Legislasi bertugas
:a. Menyusun rancangan program legislasi nasional yang memuat daftar urutan rancangan undang-undang beserta alasannya untuk 5 (lima) tahun dan prioritas tahunan di lingkungan DPR;
b. Mengoordinasikan penyusunan program legislasi nasional yang memuat daftar urutan rancangan undang-undang beserta alasannya untuk 5 (lima) tahun dan prioritas tahunan antara DPR, Pemerintah, dan DPD;
c. Melakukan pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsep rancangan undang-undang yang diajukan anggota, komisi, atau gabungan komisi sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan kepada Pimpinan DPR;
d. Memberikan pertimbangan terhadap rancangan undang-undang yang diajukan oleh anggota DPR, komisi, atau gabungan komisi di luar prioritas rancangan undang-undang atau di luar rancangan undang-undang yang terdaftar dalam program legislasi nasional;
e. Melakukan pembahasan, pengubahan, dan/atau penyempurnaan rancangan undang-undang yang secara khusus ditugasi oleh Badan Musyawarah;
f. Melakukan pemantauan dan peninjauan terhadap undang-undang;
g. Menyusun, melakukan evaluasi, dan penyempurnaan peraturan DPR;
h. Mengikuti perkembangan dan melakukan evaluasi terhadap pembahasan materi muatan rancangan undang-undang melalui koordinasi dengan komisi dan/atau panitia khusus;
i. Melakukan sosialisasi program legislasi nasional;
dan
j. Membuat laporan kinerja dan inventarisasi masalah di bidang perundang-undangan pada akhir masa keanggotaan DPR untuk dapat digunakan oleh Badan Legislasi pada masa keanggotaan berikutnya.
Program Legislasi Nasional Tahun 2015-2019
• Program Legislasi Nasional 2015-2019 (Prolegnas 2015- 2019) adalah Instrumen perencanaan program pembentukan Undang-Undang yang disusun secara terencana, terpadu, dan sistematis untuk periode 2015- 2019.
• Prolegnas 2015-2019 disusun oleh anggota DPR 2014-2019 Berama dengan Pemerintah.
• Penyusunan Prolegnas di lingkungan DPR dilakukan dengan mempertimbangkan usulan dari fraksi, komisi, anggota DPR, DPD, dan/atau masyarakat
• Pada awalnya total RUU yang masuk dalam Prolegnas periode 2015-2019 berjumlah 159 RUU, Namun jumlah itu direvisi menjadi 160 RUU dan akhirnya disepakati menjadi 189 Rancangan Undang-Undang dalam Prolegnas 2015- 2019.
Prolegnas bertujuan
untuk
mewujudka n sitem
hukum nasional
Dalam penyusunan Prolegnas penyusunan daftar Rancangan Undang-Undang didasarkan atas:
a. Perintah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Perintah Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Perintah Undang-Undang lainnya;
d. Sistem perencanaan pembangunan nasional;
e. Rencana pembangunan jangka panjang nasional;
f. Rencana pembangunan jangka menengah;
g. Rencana kerja pemerintah dan rencana strategis DPR; dan
h. Aspirasi dan kebutuhan hukum masyarakat.
• Prolegnas memuat program pembentukan Undang-Undang dengan judul Rancangan Undang-Undang, materi yang diatur, dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang- undangan lainnya Materi yang diatur dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya
• Keterangan mengenai konsepsi Rancangan Undang-Undang yang meliputi:
a. Latar belakang dan tujuan penyusunan;
b. Sasaran yang ingin diwujudkan; dan c. Jangkauan dan arah pengaturan.
• Materi yang diatur dalam konsepsi RUU sebelumnya harus telah melalui pengkajian dan penyelarasan dituangkan dalam Naskah Akademik.
• Penyusunan Prolegnas antara DPR dan Pemerintah dikoordinasikan oleh DPR melalui alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi.
• Penyusunan Prolegnas di lingkungan DPR dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi.
• Penyusunan Prolegnas di lingkungan DPR dilakukan dengan mempertimbangkan usulan dari fraksi, komisi, anggota DPR, DPD, dan/atau masyarakat.
• Penyusunan Prolegnas di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum.
• Hasil penyusunan Prolegnas antara DPR dan Pemerintah disepakati menjadi Prolegnas dan ditetapkan dalam
Rapat Paripurna DPR
Dalam Prolegnas dimuat daftar kumulatif terbuka yang terdiri atas:
a. Pengesahan perjanjian internasional tertentu;
b. Akibat putusan Mahkamah Konstitusi;
c. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
d. Pembentukan, pemekaran, dan
penggabungan daerah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota; dan
e. Penetapan/Pencabutan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang.
Dalam keadaan tertentu, DPR atau Presiden dapat mengajukan Rancangan Undang-Undang di luar Prolegnas mencakup:
a. Untuk mengatasi keadaan luar biasa, keadaan konflik, atau bencana alam; dan
b. Keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi nasional atas suatu Rancangan Undang-Undang yang dapat disetujui bersama oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum.