Lembaran Ilmu Kependidikan
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/LIK
PENGARUH PENERAPAN DESAIN PEMBELAJARAN ANIMALIA DENGAN MODEL EXPERIENTIAL JELAJAH ALAM SEKITAR DI SMA
Aulia Zulfatu Nisa1, Siti Alimah, Aditya Marianti 1
1Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Negeri Semarang, Indonesia Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan desain pemb- elajaran animalia dengan model Experiential Jelajah Alam Sekitar terhadap hasil belajar dan aktivitas siswa kelas X MIPA SMA Negeri 1 Ungaran. Peneli- tian ini merupakan penelitian quasi experimental design dengan pola posttest only control group design. Sampel yang digunakan adalah kelas X MIPA 6 (kelas eksperimen) dan X MIPA 7 (kelas kontrol), diambil melalui teknik cluster ran- dom sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah desain pembelajaran dengan model EJAS pada materi animalia, sedangkan variabel terikatnya ada- lah hasil belajar dan aktivitas siswa. Hasil uji t menunjukkan bahwa rata-rata nilai posttest kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol, dengan ketuntasan klasikal kelas eksperimen mencapai 92% (KKM ≥75). Berdasarkan hasil analisis aktivitas siswa pada kelas eksperimen menunjukkan bahwa nilai aktivitas siswa paling tinggi berdasarkan aspek yang diamati adalah aktivitas motorik (92,35%), aktivitas menulis (92,12%), aktivitas kerjasama (91,90%), aktivitas analisis (82,40%), dan aktivitas bicara (80,20%). Secara umum guru dan siswa memberi tanggapan positif terhadap pembelajaran yang diterapkan.
Simpulan dari penelitian ini adalah penerapan desain pembelajaran animalia dengan model EJAS berpengaruh positif terhadap hasil belajar dan aktivitas siswa kelas X MIPA di SMA Negeri 1 Ungaran.
Abstrak
This research aims to determine the effect of applied animalia learning design with the model of experiential jelajah alam sekitar* on learning outcomes and activities of students class X MIPA in senior high school 1 Ungaran. This research is quasi experimental design and it using posttest only control group design. Sample of this research were class X MIPA 6 (experimental class) and X MIPA 7 (control class), taken by cluster random sampling.
Independent variabel in this research is learning design with EJAS model on the topic of animalia, while depends variabel is learning outcomes and students activities. The result of t-test showed that mean posttest value of experimental class is higher than control class, with clasical completeness 92% (KKM ≥ 75). Based on the result the experimental class students activities analysis showed that highest activity is motor activities (92,35%), wri- ting activities (92,12%), cooperation activities (91,90%), analysis avtivities (82,40%), and oral avtivities (80,20%) . In general, teacher and students gave a positive response to applied learning. Conclusion from this research is applied animalia learning design with EJAS model positive effect on learning outcomes and students activities.
Info Artikel
Sejarah Artikel:
Diterima Januari 2016 Disetujui Agustus 2016 Dipublikasikan September 2016 Keywords:
experiential jelajah alam sekitar;
animalia; learning outcomes;
students activities
Corresponding author :
Address: Gedung D6 Lt.1 Jl. Raya Sekaran Gunungpati Semarang Indonesia 50229
Email :
© 2016 Semarang State University. All rights reserved p-ISSN 0216-0847 | e-ISSN 2460-7320 UNNES JOURNALS PENDAHULUAN
Materi biologi yang diajarkan kepada siswa SMA kelas X di semester genap salah satunya adalah animalia. Kingdom Animalia dibagi menjadi dua, yaitu invertebrata dan vertebrata. Invertebrata adalah istilah untuk hewan yang tidak bertulang belakang, sedangkan vertebrata adalah istilah untuk hewan yang bertulang belakang. Kebera-
daan hewan tersebut menempati hampir semua lingkungan di bumi dengan jumlah yang sangat banyak dan beragam.
Materi animalia tercantum dalam silabus pembelajaran SMA kurikulum 2013 yang diatur dalam Permendikbud No. 59 tahun 2014. Kom- petensi dasar yang harus dicapai pada materi tersebut yaitu siswa dapat menerapkan prinsip
bangkan oleh dosen Jurusan Biologi Universitas Negeri Semarang. Pendekatan JAS adalah salah satu inovasi pendekatan pembelajaran biologi yang bercirikan memanfaatkan lingkungan se- kitar dan simulasinya sebagai sumber belajar melalui kerja ilmiah, serta diikuti pelaksanaan belajar yang berpusat pada siswa (Mulyani et al.,2008). Pembelajaran JAS menekankan pada kegiatan pembelajaran yang dikaitkan dengan si- tuasi dunia nyata sehingga dapat membuka wa- wasan berpikir yang beragam dari seluruh siswa dan memungkinkan siswa dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya den- gan dunia nyata sehingga hasil belajarnya lebih berdaya guna. Pendekatan JAS memiliki 6 kom- ponen yaitu eksplorasi, konstruktivisme, proses sains, masyarakat belajar (learning community), bioedutainment, dan asesmen autentik.
Komponen yang ada di dalam pendekatan JAS hendaknya dilaksanakan secara terpadu da- lam pembelajaran. Salah satu contoh penelitian menunjukkan adanya beberapa komponen JAS kurang maksimal tercermin. Hasil penelitian Fitriyati (2011) tentang pengembangan bahan ajar berbentuk komik berpendekatan JAS, pada penilaian aspek JAS terhadap bahan ajar tersebut tiga komponen dalam pendekatan JAS kurang maksimal tercermin, komponen tersebut antara lain: konstruktivisme, proses sains, dan ases- men autentik. Oleh karena itu, diperlukan desain pembelajaran yang dapat mencerminkan secara maksimal seluruh komponen JAS dalam pembe- lajarannya.
Model pembelajaran Experien- tial Jelajah Alam Sekitar adalah model pembe- lajaran yang dibangun atas dasar format pen- dekatan JAS. Model pembelajaran EJAS yang dikembangkan oleh Alimah merupakan salah satu model pembelajaran yang memberikan pen- galaman langsung pada proses belajar siswa me- lalui proses investigasi dengan cara eksplorasi dan berinteraksi langsung dengan objek belajar yang berada di lingkungan sekitar siswa sebagai sumber belajar utama siswa dengan proses pem- belajaran baik secara indoor maupun outdoor untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai hasil belajarnya. Keenam kom- ponen JAS terintegrasi dalam 5 fase EJAS yaitu eksplorasi, interaksi, komunikasi, refleksi, dan evaluasi.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Penerapan Desain Pembelajaran Animalia den- gan Model Experiential Jelajah Alam Sekitar di SMA”. Penelitian ini diharapkan dapat berpen- garuh terhadap hasil belajar dan aktivitas siswa klasifikasi untuk menggolongkan hewan ke da-
lam filum berdasarkan pengamatan anatomi dan morfologi serta mengaitkan peranannya dalam kehidupan. Pembelajaran pada materi ini siswa diminta untuk mengamati berbagai macam he- wan yang ada di lingkungan sekitarnya. Pembe- lajaran yang mengajak siswa ke lingkungan seki- tar akan mempermudah siswa dalam mengamati langsung ciri-ciri karakteristik masing-masing hewan sehingga siswa lebih mudah menggolong- kan hewan tersebut ke dalam filumnya.
Hasil observasi dan wawancara dengan guru Biologi di SMA Negeri 1 Ungaran menun- jukkan bahwa metode pembelajaran yang di- terapkan pada materi animalia adalah metode ceramah, pengamatan, diskusi, dan presentasi.
Kegiatan pengamatan yang dilakukan siswa cen- derung mengamati gambar hewan daripada ob- jek nyata. Hasil observasi tersebut didukung oleh peneliti lain yang menyebutkan bahwa kegiatan belajar pada materi animalia lebih didominasi dengan metode ceramah, diskusi informasi ber- bantuan power point, dan pemberian tugas (Sho- lihah (2010), Sistriyati (2012), Arafah (2012), dan Lestari (2013)). Guru Biologi di sekolah da- lam menggunakan alam sekitar sebagai sumber belajar frekuensinya masih relatif rendah (Ali- mah &Marianti, 2015:15).
Pembelajaran biologi akan lebih baik jika siswa dapat berinteraksi langsung dengan ob- jek nyata yang ada di lingkungan sekitar siswa.
Menurut Alimah & Marianti (2015:50), biologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan den- gan objek kajian belajarnya berupa alam dan lingkungan sekitar sehingga proses pembelaja- ran biologi harus langsung berinteraksi dengan alam. Mengkaitkan biologi dengan alam dan ling- kungan sekitar diharapkan dapat mengembang- kan beragam potensi siswa.
Pengajaran yang mengaitkan biologi den- gan lingkungan adalah pengajaran alam sekitar.
Karakteristik pengajaran alam sekitar adalah dengan melibatkan langsung dengan alam, siswa aktif dalam pembelajaran, selain itu juga mem- beri kepada siswa bahan apersepsi intelektual dan apersepsi emosional. Jadi, alam sekitar da- pat dijadikan sebagai bahan ajar melalui kajian empirik seperti percobaan, studi banding atau pengamatan, dan sebagainya. Melalui pemanfaa- tan alam sekitar sebagai sumber belajar, siswa akan lebih menghargai, mencintai, dan melesta- rikan lingkungan di sekitarnya (Tirtarahardja &
Sulo, 2005:201-202).
Pendekatan pembelajaran yang men- dukung pengajaran alam sekitar adalah Pen- dekatan Jelajah Alam Sekitar yang telah dikem-
kelas X MIPA SMA Negeri 1 Ungaran.
METODE
Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Ungaran yang beralamat di Jl. Diponegoro No. 42 Ungaran, Kabupaten Semarang pada bulan April sampai Mei 2016. Penelitian ini merupakan jenis pene- litian quasi experimental design yang dirancang dengan desain posttest only control group design.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh sis- wa kelas X MIPA SMA Negeri 1 Ungaran tahun ajaran 2015/2016 yang terdiri dari 7 kelas. Sam- pel yang digunakan adalah siswa kelas X MIPA 6 sebagai kelas eksperimen dan kelas X MIPA 7 se- bagai kelas kontrol yang diambil dengan teknik cluster random sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah desain pembelajaran den- gan model EJAS pada materi animalia, sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar dan akti- vitas siswa.
Data yang diperoleh berupa hasil belajar kognitif, hasil belajar psikomotorik, hasil belajar afektif, aktivitas siswa, tanggapan siswa terha- dap pembelajaran, dan tanggapan guru terhadap pembelajaran yang diterapkan. Data hasil belajar kognitif diperoleh dari nilai posttest, hasil bela- jar psikomotorik diperoleh dari nilai tugas, hasil belajar afektif dan aktivitas siswa diperoleh dari lembar observasi, data tanggapan siswa terha- dap pembelajaran diperoleh melalui angket tang- gapan siswa, dan data tanggapan guru diperoleh melalui wawancara dengan guru mengenai pem- belajaran yang diterapkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil belajar kognitif diperoleh dari nilai posttest siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol yang dilakukan di akhir pembelajaran. Data nilai posttest siswa diuji statistik yaitu uji t untuk mengetahui nilai posttest siswa kelas eksperimen dengan pembelajaran model EJAS lebih tinggi di- bandingkan kelas kontrol. Sebelum melakukan uji t, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas un- tuk mengetahui data nilai posttest kedua sampel berdistribusi normal atau tidak (syarat uji t data
berdistribusi normal). Setelah kedua sampel diketahui berdistribusi normal, maka untuk uji selanjutnya menggunakan statistik parametrik.
Hasil analisis uji t nilai posttets siswa disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil uji t nilai posttest siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pembelajaran ani- malia di SMA Negeri 1 Ungaran
S12 S22 S n1 n2 thitung ttabel 89,5677,63110,27 90,75 10,0336 35 5.008 1,667
Hasil analisis menunjukkan bahwa ni- lai thitung yaitu 5,008 lebih besar dari ttabel (5%) 1,667, sehingga berada di daerah penolakan H0 yang berarti rata-rata nilai posttest kelas ekspe- rimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol.
Dengan demikian desain pembelajaran animalia yang diterapkan berpengaruh positif terhadap nilai posttest siswa. Hal tersebut karena dalam pembelajaran animalia dengan model EJAS sum- ber belajar yang digunakan berupa objek nyata yaitu berbagai macam hewan yang dekat dengan kehidupan siswa. Siswa diajak mengamati secara langsung hewan yang berasal dari lingkungan se- kitar sehingga memudahkan siswa dalam mema- hami materi. Pernyataan tersebut mendukung hasil penelitian Alimah & Susilo (2013) yang mengungkapkan bahwa desain pembelajaran dengan model EJAS yang diterapkan menjadikan siswa lebih paham karena siswa tidak hanya be- lajar dengan menggunakan sumber belajar teks book, melainkan juga mengamati objek yang di- pelajari dari lingkungan.
Penerapan desain pembelajaran anima- lia dengan model EJAS pada kelas eksperimen menunjukkan hasil belajar yang optimal yaitu ketuntasan klasikal hasil belajar siswa mencapai 92% siswa tuntas belajar. Hasil analisis ketunta- san klasikal hasil belajar siswa kelas eksperimen disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Hasil analisis ketuntasan klasikal hasil belajar siswa kelas eksperimen pembelajaran animalia dengan model EJAS di SMA Negeri 1 Ungaran
No. Subjek Kelas Eksperimen KKM
Jumlah Persentase
1. Jumlah siswa yang tuntas belajar 33 92%
≥75 2. Jumlah siswa yang tidak tuntas belajar 3 8%
3. Ketuntasan klasikal 92%
4. Nilai tertinggi 100
5. Nilai terendah 56
Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal hasil belajar siswa pada ke- las eksperimen telah mencapai target yang dite- tapkan yaitu ≥ 85% siswa tuntas belajar. Dengan demikian desain pembelajaran animalia dengan model EJAS yang diterapkan layak digunakan da- lam pembelajaran selanjutnya. Hasil belajar yang optimal disebabkan karena desain pembelajaran animalia dengan model EJAS mengajak siswa untuk aktif mengeksplor lingkungan sekitarnya untuk mencapa kecakapan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Lingkungan sebagai dasar pengajaran adalah faktor kondisional yang mem- pengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Abdul (2013), men- gungkapkan bahwa lingkungan sekitar sebagai sumber belajar mengarahkan siswa untuk me- maksimalkan kemampuan belajar dan memberi- kan pengalaman langsung kepada siswa.
Pemanfaatan objek nyata sebagai sumber belajar pada fase eksplorasi model EJAS meny- ediakan kesempatan bagi siswa untuk berin- teraksi langsung dengan objek yang dipelajari menggunakan panca inderanya. Penggunaan ob- jek nyata memberikan pengalaman logis karena melibatkan banyak alat indra. Siswa dapat me- nyentuh dan mengamati hewan secara langsung sehingga memberikan pengalaman nyata (konk- ret). Sedangkan pemanfaatan media gambar he- wan di kelas kontrol tidak dapat memberikan gambaran secara menyeluruh bagian morfologi hewan yang diamati. Media gambar merupakan simbol visual yang hanya mengandalkan indra penglihatan (abstrak). Menurut kerucut pengala- man Edgar Dale, semakin konkret siswa mempe- lajari bahan pelajaran maka semakin banyaklah pengalaman yang didapatkan. Dale menggam- barkan sebesar 90% materi lebih diingat siswa jika menggunaan objek nyata dibandingkan jika menggunakan gambar hanya sebesar 30%. Se- banyak 97,2% siswa menyatakan pembelajaran animalia dengan model EJAS lebih membekas dan berkesan dalam ingatan. Guru juga menyata- kan siswa lebih mengingat materi animalia kare- na mereka melihat objek hewan sesungguhnya.
Menurut Siswati (2012), siswa yang mengamati objek nyata mengingat informasi lebih lama.
Pembelajaran animalia dengan menggu- nakan objek nyata lebih mudah diterima siswa.
Siswa mudah memahami dan mencerna informa- si yang disampaikan guru. Informasi yang diteri- ma siswa melalui alat pengindraan sebagai hasil dari interaksi dengan objek nyata (hewan) ma- suk ke dalam sistem penampungan pengindraan jangka pendek. Interaksi dengan hewan secara langsung menimbulkan perhatian bagi siswa ka-
rena objek belajar yang digunakan belum pernah digunakan sebelumnya dalam pembelajaran. In- formasi yang diberi perhatian diproses lebih lan- jut ke dalam memori jangka pendek (Styles da- lam Julianto & Etsem, 2011). Informasi yang ada di dalam memori jangka pendek bila dilakukan pengulangan (rehearsal) atau pengkodean (en- coding) disimpan ke dalam memori jangka pan- jang. Pemanfaatan objek nyata adalah salah satu bentuk pengulangan atau pengkodean informasi di dalam memori jangka pendek. Semakin lama informasi berada di dalam memori jangka pen- dek, semakin besar peluangnya untuk dialihkan ke dalam memori jangka panjang (Rifa’i & Anni, 2012:111).
Keberhasilan penerapan desain pembela- jaran animalia dengan model EJAS dikarenakan selama pembelajaran siswa diberi stimulus- stimulus. Stimulus yang diberikan kepada siswa meliputi kegiatan mengamati video animalia, proyek membuat awetan hewan, mengamati ber- bagai awetan hewan hasil proyek siswa, mengko- munikasikan hasil pengamatan, membuat mind mapping klasifikasi hewan, membuat poster perbandingan kompleksitas lapisan penyusun tubuh hewan, dan exhibition (pameran karya).
Proses pembelajaran pada dasarnya merupa- kan pemberian stimulus-stimulus kepada siswa agar terjadi respon yang positif pada dirinya (Dianawati, 2013). Rangkaian stimulus yang di- berikan selama pembelajaran animalia dengan model EJAS merangsang kemampuan berpikir kritis siswa. Alimah (2012), mengungkapkan bahwa Model EJAS dapat digunakan untuk me- ningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Stimulus-stimulus tersebut diberikan agar siswa semakin memahami materi animalia.
Pemanfaatan video animalia di awal pem- belajaran adalah bentuk stimulus awal yang diberikan agar siswa termotivasi dan tertarik mengikuti pembelajaran karena video tersebut menampilkan berbagai macam hewan inver- tebrata dan vertebrata dari mulai habitat, cara hidup, cara reproduksi hingga peranannya. Vi- deo merupakan media audiovisual yang mem- punyai kemampuan menyampaikan informasi lebih baik karena mengandung unsur suara dan unsur gambar. Kegiatan mengamati video ani- malia membuat suasana kelas lebih aktif kare- na tampilannya yang menarik dan memberikan gambaran hewan secara nyata. Menurut Yusriya (2014), melalui media audiovisual siswa dapat mengetahui contoh objek hidup dan kehidupan nyata yang ditampilkan dalam pembelajaran di kelas sehingga siswa merasa seperti berada di tempat yang sama dengan tayangan dalam video.
Pemberian tugas proyek membuat awetan hewan mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran diantaranya ak- tif dalam kegiatan merancang proyek dan mem- buat awetan hewan. Tugas proyek menjadikan siswa mandiri, melatih tanggung jawab siswa ter- hadap tugas yang diberikan, dan mendorong sis- wa menerapkan pengetahuan yang dimilikinya dalam bentuk produk. Tugas proyek memacu keterampilan berfikir siswa dalam merancang proyek dan merencanakan eksplorasi lapangan untuk menemukan hewan yang diawetkan. Ke- giatan merancang proyek mengawetkan hewan dapat menjadikan siswa lebih memahami ma- teri sehingga hasil belajar yang didapat menjadi maksimal. Susilowati (2013), mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis proyek berpenga- ruh positif terhadap hasil belajar siswa.
Proyek membuat awetan hewan menja- dikan siswa antusias untuk terlibat aktif dalam serangkaian aktivitas fisik yang dilakukan dari mulai mematikan hewan hingga mengawetkan- nya sehingga terciptalah suasana belajar yang menyenangkan. Pernyataan tersebut didukung hasil tanggapan siswa menunjukkan 83,5% sis- wa menyatakan lebih aktif selama pembelaja- ran dan 92% siswa menyatakan pembelajaran animalia dengan model EJAS membuat suasana belajar lebih menyenangkan. Hasil wawancara guru juga menyatakan bahwa desain pembelaja- ran animalia dengan model EJAS membuat siswa lebih aktif, antusias, dan tertarik dalam pembe- lajaran karena dihadapkan langsung dengan he- wan yang diamati. Pembelajaran animalia yang didesain seperti ini mampu menciptakan suasa- na yang dinamis dan secara psikologis siswa ti- dak merasa tertekan. Pembelajaran biologi yang menyenangkan mampu membangkitkan minat siswa dan memberikan kebermaknaan pengeta- huan serta membuat mereka bersemangat untuk terlibat penuh selama proses pembelajaran (Ali- mah & Marianti, 2015:102).
Keaktifan siswa selama proses pembelaja- ran dapat dilihat dari aktivitas belajarnya. Akti- vitas belajar siswa yang diobservasi pada peneli- tian ini adalah aktivitas menulis, aktivitas bicara, aktivitas analisis, aktivitas motorik, dan aktivitas kerjasama. Persentase nilai aktivitas siswa ber- dasarkan aspek yang diamati dapat dilihat pada Tabel 3.
Kegiatan mengamati berbagai macam awetan hewan invertebrata dan vertebrata hasil proyek siswa memicu tingginya akivitas motorik (Tabel 3) ditunjukkan dengan keterlibatan aktif siswa dalam serangkaian proses mengamati he- wan. Alimah & Susilo (2013), mengungkap- kan
bahwa saat pembelajaran dengan model EJAS, siswa secara umum aktif mengikuti proses pem- belajaran. Kegiatan mengamati hewan menum- buhkan sikap tanggung jawab siswa dalam me- laksanakan pengamatan dan sikap teliti siswa dalam mengamati ciri karakteristik hewan yang diamati. Hewan invertebrata yang diamati misal- nya belalang diletakkan ke dalam cawan petri untuk memudahkan siswa dalam mengidentifi- kasi ciri karakteristik belalang dari mulai simet- ri tubuh, kondisi tubuh, bentuk tubuh, struktur tubuh, alat gerak, penutup/ penyusun tubuh, dan anatomi tubuhnya. Hasil mengidentifikasi ciri karakteristik belalang ditulis pada lembar kerja siswa sehingga mengakibatkan aktivitas menulis siswa juga tinggi (Tabel 3).
Tabel 3. Persentase nilai aktivitas siswa kelas eksperimen pembelajaran animalia dengan model EJAS di SMA Negeri 1 Ungaran
No. Jenis Aktivitas Kelas Eksperimen (%)
1. Menulis 92,12
2. Bicara 80,20
3. Analisis 82,40
4. Motorik 92,35
5. Kerjasama 91,90
Kegiatan mengamati hewan yang didesain secara berkelompok merupakan implementasi dari fase interaksi. Pembelajaran berkelompok mendorong aktivitas kerjasama siswa berada pada kriteria tinggi ketiga (Tabel 3). Pembela- jaran kelompok memfasilitasi siswa untuk sa- ling bekerjasama dan bertukar pikiran bersama anggota kelompoknya. Sikap toleransi siswa di- tunjukkan dengan terciptanya kerjasama, saling menghargai pendapat teman, dan tidak mendo- minasi dalam kelompok. Siswa menyatakan bah- wa desain pembelajaran animalia dengan model EJAS melatih mereka untuk bersosialisasi dan bekerjasama dengan teman yang lain. Kholina (2013), mengungkapkan bahwa dengan berke- lompok siswa dapat bertukar pikiran dan saling membantu.
Ketika siswa mengamati hewan maka proses sains atau proses kegiatan ilmiah dimu- lai. Kegiatan ilmiah yang dilakukan menerapkan metode ilmiah agar pengetahuan yang diperoleh rasional dan teruji. Kegiatan mengamati hewan secara langsung memberikan kesempatan ke- pada siswa bereksplorasi atau melakukan pe- nemuan. Hasil tanggapan siswa menunjukkan 83,4% siswa menyatakan terampil menemukan sendiri konsep animalia dengan tepat. Guru
juga menyatakan bahwa desain pembelajaran animalia dengan model EJAS melatih siswa da- lam menemukan sendiri konsep yang dipelajari karena siswa mengamati ciri hewannya secara langsung. Kegiatan mengamati hewan membuat siswa mendapatkan pengalaman langsung dan mendapatkan kesempatan untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa lebih bermakna. Teori kon- struktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan dan menstransformasikan informa- si kompleks ke dalam dirinya sendiri (Rifa’i &
Anni, 2012:115).
Kegiatan mengamati hewan mendorong aktivitas analisis siswa (Tabel 3). Siswa men- ganalisis dengan cara menghubungkan konsep pengetahuan baru yang diperoleh siswa setelah mengamati hewan dengan konsep relevan yang telah diperoleh siswa pada saat mengamati vi- deo animalia dan proyek membuat awetan he- wan, dengan demikian dapat terbentuk keber- maknaan logis. Hal tersebut sesuai dengan teori belajar bermakna (meaningful learning) oleh Au- subel menyatakan bahwa belajar bermakna me- rupakan suatu proses untuk mengaitkan infor- masi baru dengan konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa (Dahar dalam Rifa’i & Anni, 2012:174). Kegiatan menga- mati hewan secara langsung sesuai dengan prin- sip pembelajaran biologi yaitu learning by doing (belajar sambil berbuat). Siswa lebih memahami materi ketika belajar sambil berbuat. Pernyataan tersebut didukung tanggapan siswa menunjuk- kan 100% siswa menyatakan lebih mudah me- mahami materi animalia. Guru juga menyatakan bahwa siswa lebih mudah memahami materi animalia karena mereka melihat langsung objek belajarnya. Menurut Siswati (2012), mempelaja- ri objek asli membuat pembelajaran lebih ber- makna dan membantu siswa memahami materi.
Siswa perlu melaporkan hasil kegiatan mengamati hewan untuk membangun konsep pengetahuan yang sama dengan kelompok lain.
Kegiatan ini merupakan implementasi dari fase komunikasi. Kelompok penyaji mempresentasi- kan hasil pengamatan hewan dalam bentuk ko- munikasi lisan kepada guru dan siswa yang ter- gabung dalam kelompok lain. Kelompok penyaji memberikan kesempatan kepada siswa dalam kelompok lain untuk bertanya atau berpendapat sesuai dengan materi presentasi. Kegiatan ko- munikasi melatih keterampilan berkomunikasi siswa. Kegiatan ini mendorong aktivitas bicara siswa (Tabel 3) dalam mengajukan pertanyaan, menanggapi, atau mengemukakan pendapat. Si- kap responsif siswa terhadap pembelajaran ani-
malia model EJAS ditunjukkan dengan siswa aktif bertanya ketika ada materi yang belum mereka pahami. Siswa juga mengemukakan pendapat- nya dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Hasil tanggapan siswa menunjukkan 88,69% siswa menyatakan desain pembelajaran animalia dengan model EJAS memfasilitasi mere- ka dalam berpendapat dan berkomunikasi den- gan teman yang lain. Alimah (2014), mengung- kapkan bahwa fase komunikasi dalam model EJAS bertujuan untuk melatih dan membiasakan siswa untuk berkomunikasi dengan kata-kata santun dan penuh empati.
Refleksi dalam proses pembelajaran dila- kukan untuk mengetahui miskonsepsi siswa ten- tang konsep pengetahuan animalia. Fase refleksi dilakukan di akhir pembelajaran melalui perta- nyaan lisan yang diajukan oleh guru mengenai konsep pengetahuan animalia yang siswa te- mukan ketika siswa mengamati hewan. Irez dan Cakir dalam Fadllia (2012), menyatakan bahwa melalui refleksi seseorang dapat lebih menge- nali dirinya, mengetahui permasalahan, dan me- mikirkan solusi untuk permasalahan tersebut.
Selama kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari evaluasi. Evaluasi berlandaskan penilaian autentik dimana penilaian dilakukan sepanjang proses pembelajaran. Siswa dinilai dari aktivitas belajarnya dan sikapnya selama pembelajaran.
Jadi, kemajuan belajar siswa dinilai dari proses belajarnya, bukan semata-mata dari hasil tes di akhir pembelajaran.
Pemberian tugas membuat mind map- ping klasifikasi hewan mampu mengoptimalkan penguasaan materi. Siswa bebas menuangkan kreativitasnya dalam memetakan materi yang dipelajari dengan tampilan yang menarik dan lebih mudah dipahami. Mind mapping cocok di- gunakan pada materi pembelajaran yang bany- ak dan susah dipahami seperti materi animalia.
Mind mapping sangat baik untuk ringkasan ber- sifat memori sehingga membantu siswa dalam mengingat materi. Fauzia (2015), mengungkap- kan bahwa strategi mencatat kreatif mind map- ping berhasil meningkatkan daya ingat siswa.
Pemberian tugas membuat poster perban- dingan kompleksitas lapisan penyusun tubuh hewan mampu mengoptimalkan pembelajaran.
Tugas membuat poster dikerjakan secara ber- kelompok sehingga siswa dapat saling bertukar pikiran selama membuatnya. Siswa juga dapat mengembangkan ide dan kreativitasnya. Me- nurut Munawaroh (2013), kegiatan membuat poster membuat siswa lebih bebas dalam men- gapresiasikan seni. Poster mengombinasikan un- sur-unsur seperti garis, gambar, kata, dan warna
sehingga lebih menarik dalam mengkomunika- sikan informasi. Poster yang dibuat siswa meny- ajikan gambaran tentang kompleksitas lapisan penyusun tubuh hewan diploblastik dan triplob- lastik, simetri tubuh, rongga tubuh, reproduksi, dan dilengkapi dengan contoh hewannya. Poster yang dibuat siswa mempermudah dan memper- cepat pemahaman siswa dalam membandingan hewan yang satu dengan yang lain.
Desain pembelajaran dengan model EJAS menghasilkan produk berupa awetan hewan dan poster perbandingan kompleksitas lapisan penyusun tubuh hewan hasil karya siswa. Kedua produk tersebut di pamerkan di akhir pembe- lajaran melalui kegiatan exhibition (pameran karya). Kegiatan exhibition dirancang dalam bentuk stand-stand seperti gallery walk. Setiap stand dijaga oleh salah satu anggota kelompok, sedangkan anggota kelompok yang lain dapat berkunjung ke stand kelompok yang lain. Menu- rut Widarti (2013), pembelajaran gallery walk menuntut siswa untuk terlibat aktif dalam pem- belajaran. Pembelajaran yang dirancang memfa- silitasi siswa untuk aktif bergerak mencari atau mempelajari materi di stand pembelajaran yang lain. Siswa dapat saling belajar dan berbagi pen- getahuan dengan siswa lain mengenai hewan awetan beserta penyusun tubuhnya. Kemampu- an berbicara siswa juga dilatih dan dikembang- kan melalui kegiatan tanya jawab. Siswa juga menyatakan senang dan tertarik dalam kegiatan pembelajaran.
Serangkaian kegiatan pembelajaran ani- malia yang telah dilakukan tidak terlepas dari kompetensi inti dan kompetensi dasar yang menjadi acuan. Siswa memperoleh pengetahuan konseptual melalui kegiatan mengamati video animalia. Tugas proyek membuat awetan hewan yang diberikan kepada siswa dapat mendorong kemampuan berpikir siswa dalam membuat rancangan proyek secara prosedural dan mela- tih keterampilan siswa dalam membuat awetan hewan. Pengetahuan faktual siswa diperoleh ketika siswa mengamati langsung berbagai ma- cam awetan hewan invertebrata dan vertebrata hasil karya siswa. Kegiatan mengamati hewan menjadikan siswa lebih memahami materi kare- na objek yang dipelajari bersifat konkret. Mind map dan poster hasil karya siswa mempercepat pemahaman siswa dalam membandingan he- wan yang satu dengan yang lain. Dampak dari kegiatan pembelajaran animalia dengan model EJAS menjadikan siswa dapat menggolongkan hewan yang diamati ke dalam filum berdasarkan pengamatan anatomi dan morfologinya secara langsung.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disimpulkan bahwa penerapan desain pembela- jaran animalia dengan model EJAS berpengaruh positif terhadap hasil belajar dan aktivitas siswa kelas X MIPA di SMA Negeri 1 Ungaran.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, M. 2013. Penerapan Model Studi Lapangan pada Materi Keanekaragaman Hayati dengan Memanfaatkan Lingkungan Sekolah. Unnes Journal of Biology Education 2 (3) : 337-341.
Alimah, S. 2014. Model Pembelajaran Eksperiensial Je- lajah Alam Sekitar. Strategi untuk Meningkat- kan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa.
Jurnal Penelitian Pendidikan 31 (1) : 47-54.
Alimah, S & Susilo, H. 2013. Desain Pembelajaran Bi- ologi dengan Model Eksperiensial Jelajah Alam Sekitar Melalui Lesson Study. Prosiding Semi- nar Nasional X FKIP UNS: Biologi, Sains, Ling- kungan, dan Pembelajaran, 2013, ISBN: 978- 602-8580-94-6. hal 43-50.
Alimah, S & Marianti, A. 2015. Jelajah Alam Sekitar.
Pendekatan, Strategi, Model, dan Metode Be- lajar Biologi Berkarakter untuk Konservasi. Semarang: FMIPA Unnes.
Arafah, S.F. 2012. Pengembangan LKS Berpikir Kritis pada Materi Animalia.Unnes Journal of Biology Education 1 (1) : 47-53.
Dianawati, E.P. 2013. Pengguna Media Word Square dalam Memotivasi Belajar Siswa SMK. Jurnal Ilmiah Guru “COPE”, (1) : 21-19.c
Fadllia, A. 2012. Pengaruh Pembuatan Jurnal Belajar dalam Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Ekosistem. Skripsi. Semarang: Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.
Fauzia, M.Y. 2015. Efektivitas Strategi Mencatat Kre- atif Mind Mapping untuk Meningkatkan Daya Ingat Siswa SMP Islam Cepu pada Materi Ke- anekaragaman Makhluk Hidup. Unnes Journal of Biology Education 4 (2) : 215-219.
Fitriyati, N. 2011. Pengembangan Bahan Ajar Berben- tuk Komik Berpendekatan JAS pada Materi Sistem Hormon Di SMP 2 Mejobo Kudus. Skrip- si. Semarang: Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang.
Julianto, V & Etsem, M.B. 2011. The Effect of Reciting Holy Qur’an toward Short-term Memory Abil- ity Analysed trought the Changing Brain Wave.
Jurnal Psikologi 38 (1) : 17-29.
Kholina, N. 2013. Penerapan Investigasi Kelompok Berbantuan Multimedia Materi Identifikasi Bakteri. Unnes Journal of Biology Education 2 (1) : 27-33.
Lestari, A.H., Retnowati, R., Kurniasih, S. 2013. Pening- katan Hasil Belajar Biologi pada Materi King- dom Animalia Melalui Penerapan Model Teams Games Tournament dan Example Non Exam- ple. Skripsi. Bogor: Universitas Pakuan Bogor.
Munawaroh, A. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Hasil Be- lajar Sistem Pencernaan SMP. Unnes Journal of Biology Education 2 (1) : 92-98.
Mulyani, S., Marianti, A., Edi, N., Widianti, T., Saptono, S., Pukan, K., Harnina, S. 2008. Jelajah Alam Sekitar (JAS). Pendekatan Pembelajaran Biolo- gi. Semarang: Jurusan Biologi FMIPA UNNES.
Rifa’i, A & Anni C.T. 2012. Psikologi Pendidikan. Sema- rang: Pusat Pengembangan MKU-MKDK UNNES 2012, ISBN: 978-602-8467-02-5.
Sholihah, C. 2010. Efektivitas Penerapan Model Talk- ing Stick Dengan Pendekatan Reciprocal Teach- ingTerhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X Pada Materi Animalia. Skripsi. Semarang: Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Penge- tahuan Alam Universitas Negeri Semarang.
Sistriyati, D. 2012. Pengembangan Perangkat Pembela- jaran Materi Kingdom Animalia di SMA dengan Interactive Skill Station Supported By Informa- tion Technology (ISS-IT) untuk Meningkatkan
Aktivitas, Motivasi dan Hasil Belajar. Unnes Journal of Biology Education 1 (1) : 46-53.
Siswati, E.K. 2012. Model Hands On Minds dengan Bantuan Media Asli pada Materi Spermatophy- ta. Unnes Journal of Biology Education 1 (1) : 33-39.
Susilowati, I. 2013. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek terhadap Hasil Belajar Siswa Materi Sistem Pencernaan Manusia. Unnes Journal of Biology Education 2 (1) : 83-90.
Tirtarahardja & Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Ja- karta: PT Rineka Cipta.
Widarti, S. 2013. Pembelajaran Gallery Walk Ber- pendekatan Contextual Teaching Learning Ma- teri Sistem Pencernaan di SMA. Unnes Journal of Biology Education 2 (1) : 11-18.
Yusriya, A. 2014. Pengembangan Video Pembelajaran Materi Klasifikasi Hewan sebagai Suplemen Bahan Ajar Biologi SMP. Unnes Journal of Biol- ogy Education 3 (1) : 26-34