• Tidak ada hasil yang ditemukan

LITBANG PERDAGANGAN - e-Journal Ministry of Trade

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "LITBANG PERDAGANGAN - e-Journal Ministry of Trade"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

Liberalisasi perdagangan di sektor pertanian (kerangka multilateral/kerangka WTO) akan mempengaruhi pola perdagangan pertanian di berbagai wilayah. Dasar pemikiran untuk menganalisis dampak liberalisasi perdagangan sektor pertanian terhadap perekonomian makro dan sektoral Indonesia disusun dengan menggunakan skema seperti terlihat pada Gambar 4. Liberalisasi perdagangan sektor pertanian di berbagai negara diharapkan terjadi melalui pengurangan bea masuk. dalam kerangka WTO.

Simulasi pertama dilakukan dengan pengurangan bea masuk sektor pertanian di negara berkembang dan negara maju masing-masing sebesar 36% dan 70% (Simulasi 2). Dampak liberalisasi perdagangan sektor pertanian terhadap kondisi makroekonomi di negara produsen dan pengimpor komoditas pertanian. Dampak liberalisasi perdagangan pada sektor pertanian (dengan luasnya pertanian pada masing-masing sektor di Indonesia) yang dapat dilihat melalui outputnya menunjukkan bahwa sektor gandum, minyak dan lemak4 (termasuk CPO), pertanian Tabel 3.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebijakan liberalisasi perdagangan di sektor pertanian mampu meningkatkan laju pertumbuhan impor lebih cepat dibandingkan ekspor.

Gambar 1. Neraca Perdagangan Produk-Produk Pertanian Dunia  dan Indonesia, 1961-2008
Gambar 1. Neraca Perdagangan Produk-Produk Pertanian Dunia dan Indonesia, 1961-2008

DAMPAK LIBERALISASI WTO TERhADAP KETAHANAN PANGAN BERAS DAN GULA

Perubahan pada beras dan tebu Indikasi penting perubahan produksi beras dan gula nasional dapat dilihat pada perubahan harga beras dan tebu. Konsumsi beras dan gula tebu Konsumsi beras dan gula tebu menunjukkan pola yang sama dengan produksi beras dan gula tebu pada Gambar 4. Sayangnya, angka konsumsi beras dan gula tebu merupakan angka perhitungan yang diperoleh dengan menjumlahkan produksi pada impor dikurangi ekspor.

Simulasi liberalisasi WTO dan dampaknya terhadap produksi, konsumsi dan impor beras dan produk gula nasional. Tarif yang dikenakan oleh Indonesia terhadap Tiongkok telah menurun secara signifikan sejak tahun 2009, dan akan menjadi nol pada tahun 2012, kecuali untuk beras dan gula yang tidak berubah. Kondisi ini disebabkan Indonesia kurang memiliki daya saing beras dan gula serta sektor jasa dibandingkan negara lain, sehingga memilih melakukan impor karena harganya lebih murah.

Berdasarkan simulasi B, apabila Indonesia meratifikasi liberalisasi WTO setelah diberlakukannya perjanjian liberalisasi dengan ASEAN, Korea dan Jepang, maka hasil simulasi menunjukkan bahwa surplus perdagangan beras dan gula serta produk jasa akan semakin menurun dibandingkan dengan kondisi pada simulasi A. Hasil simulasi A menunjukkan impor produk sensitif akan meningkat. Indonesia khususnya beras dan gula sebagian besar berasal dari negara ASEAN lainnya, termasuk Thailand dan Vietnam. Namun jika Indonesia ikut serta dalam liberalisasi WTO, diharapkan akan mengurangi total impor beras dan gula nasional.

Selain itu, data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa liberalisasi WTO akan menurunkan impor Indonesia dari ASEAN, namun sebaliknya akan meningkatkan impor beras dan gula dari kawasan lain. Hasil ini menunjukkan bahwa liberalisasi WTO akan mengurangi ketergantungan nasional terhadap pasokan beras dan gula impor dari ASEAN. Kedua, liberalisasi WTO mengurangi ketergantungan impor nasional terhadap beras dan gula dari ASEAN, sehingga membantu memperbaiki neraca perdagangan.

Namun demikian, mengingat peran beras dan produk gula terhadap kepentingan nasional, maka partisipasi Indonesia dalam liberalisasi direkomendasikan untuk dibarengi dengan upaya peningkatan produktivitas beras dan gula nasional. Pemerintah Indonesia harus meluncurkan kebijakan yang dapat menggunakan “risalah pertemuan yang telah disetujui untuk lebih memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan”.

Gambar  1  menunjukkan  per- per-ubahan  hambatan  tarif  semenjak  negosiasi  Uruguay  Round  sampai  negosiasi  Doha  Development  Agenda  saat  ini
Gambar 1 menunjukkan per- per-ubahan hambatan tarif semenjak negosiasi Uruguay Round sampai negosiasi Doha Development Agenda saat ini

PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG JAWAB MUTLAK (STRiCT LiABiLiTy) DALAM RANGKA PERLINDUNGAN KONSUMEN

  • Perlindungan Konsumen dalam Era Consumerism-wise di Indonesia
  • hak dan Kewajiban Konsumen Hak dan kewajiban secara
  • Perlindungan hukum Bagi Kon- sumen di Indonesia
  • Lemahnya Kedudukan Konsu- men di Indonesia
  • Kasus Ledakan Tabung Gas LPG Maraknya kasus ledakan tabung
  • Kasus Susu Mengandung Mela- mine Berita mengenai racun di bahan
  • Kasus Kosmetik Mengandung Merkuri
  • Kasus Bahan Bakar Premium Bermasalah

Dengan memasukkan prinsip tanggung jawab langsung (strict tanggung jawab) kepada produsen, maka UUPK akan lebih efektif. Asas tanggung jawab mutlak (strictibility) sendiri dapat diartikan bahwa pelaku usaha harus bertanggung jawab atas kerugian konsumen tanpa harus membuktikan kesalahannya. Selain itu, analisis komparatif dilakukan melalui studi literatur dan studi lapangan dimana prinsip tanggung jawab produsen mutlak diterapkan di Belanda.

7 Inosentius Samsul, “Disertasi Abstrak Asas Tanggung Jawab Mutlak”, dalam Hukum Perlindungan Konsumen, Universitas Indonesia, Fakultas Hukum, Pascasarjana, 2003, hal. 22. Dikatakan bahwa tujuan utama dari asas tanggung jawab mutlak adalah untuk menjamin akibat atau akibat hukum suatu produk menimbulkan kerugian bagi konsumen8. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan tidak dapat menghilangkan pertanggungjawaban pidana dari alinea ketiga Pasal 45.

8 Inosentius Samsul, Hukum Perlindungan Konsumen Kemungkinan Penerapan Tanggung Jawab Mutlak, Universitas Indonesia, Fakultas Hukum, Pascasarjana, Cetak 1 – Jakarta, 2004, hal-227 9 Heri Tjandrasari, Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dan Upaya Perlindungan Hukum. Sedangkan pandangan yang paling progresif memandang bahwa pengaturan pertanggungjawaban produk sebaiknya diatur dalam undang-undang tersendiri yaitu. Di Indonesia, seperti halnya negara-negara kodifikasi hukum, tanggung jawab produk merupakan bagian dari hukum perikatan.

Selain itu, produsen skala konglomerat merupakan kelompok produsen yang mutlak harus menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak. Prinsip tanggung jawab mutlak perlu ditegaskan kembali. pertanggungjawaban ketat) merupakan pasal yang sangat sulit untuk diterapkan, karena adanya implikasi hukum yang akan diterima oleh produsen. Alternatif solusi yang dapat diusulkan adalah amandemen UUPK yang memungkinkan penerapan prinsip tanggung jawab mutlak (strict tanggung jawab).

Tabel 1. Kasus Ledakan Tabung Gas LPGrusak.
Tabel 1. Kasus Ledakan Tabung Gas LPGrusak.

PENGEMBANGAN SUSU SEGAR DALAM NEGERI UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN SUSU NASIONAL

Impor Susu

Dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007), secara garis besar terdapat dua klasifikasi utama jenis susu yang boleh diimpor, yaitu: (i) susu dan krim yang tidak pekat atau tidak mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya; dan (ii) susu dan produk susu yang dipekatkan atau mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya. Dalam bentuk bubuk, butiran atau bentuk padat lainnya, dengan kandungan lemak tidak melebihi 1,5% menurut beratnya, dalam kemasan dengan berat kotor 20 kg atau lebih (HS. Pada saat terjadinya krisis global yaitu pada tahun 2008, internasional Harga susu yang melonjak tajam menyebabkan impor susu jenis tertentu menurun.

Dilihat dari neraca perdagangan tahun ini pada tabel 3), defisit terbesar terjadi pada tahun 2007, dan pada tahun 2008 dan 2009 defisit perdagangan susu semakin menurun.

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agustus Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agustus Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agustus Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Perkembangan harga susu kental manis juga mengalami tren positif yang berarti mengalami peningkatan sepanjang tahun. Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agustus Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr

KEBIJAKAN PERUSAHAAN NASIONAL Beberapa kebijakan terkait pengembangan susu nasional dan implementasinya masih perlu dioptimalkan. Undang-Undang N0.18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, dalam pasal-pasalnya antara lain menyatakan: 1) Pasal 35, mengamanatkan. pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memfasilitasi pengembangan unit pascapanen produk hewan skala kecil dan menengah. Peraturan Presiden RI N0 62 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Atas Penanaman Modal pada Bidang Usaha Tertentu dan/atau Di Daerah Tertentu.

Pasal 2 menyebutkan Menteri yang bertanggung jawab di bidang perindustrian menyusun dan menetapkan peta jalan pengembangan klaster industri prioritas, termasuk industri berbasis agro (susu). Beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain: (1) Usaha pembibitan pohon memerlukan tenggang waktu dan omzet yang cukup lama (minimal satu tahun), sehingga dengan tingkat bunga modal 5%/tahun masih belum dapat ditutupi oleh IRR ( tingkat pengembalian internal); (2) Peternakan yang akan memperoleh manfaat program kredit KUPS salah satu syaratnya adalah harus bekerjasama dan membina peternak kecil melalui sistem gaduh; (3) Petani kecil yang ingin memanfaatkan skema kredit KUPS sering kali menemui kendala terhadap persyaratan yang ditetapkan oleh bank peserta KUPS. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha Tertutup dan Bidang Usaha Terbuka dengan Persyaratan Penanaman Modal.

Berdasarkan kebijakan di atas, investasi pada industri pengolahan susu bubuk dan susu kental manis terbuka dengan syarat kemitraan. Oleh karena itu, pemetaan peluang dan tantangan merupakan tahapan penting dalam penyusunan strategi pengembangan peternakan sapi perah nasional. Jika diasumsikan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1% maka konsumsi susu/kapita/tahun akan meningkat sebesar 10,75 kg sehingga kebutuhan susu dalam negeri meningkat >2 juta ton.

Gambar 2. harga Susu Internasional (Oceania Area)
Gambar 2. harga Susu Internasional (Oceania Area)

Kondisi Yang Diharapkan

Permintaan/kebutuhan susu segar dan produk turunannya diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan tingkat pendidikan, kesadaran gizi dan perubahan gaya hidup. Program ini mendorong konsumsi susu segar atau susu pasteurisasi, sterilisasi (UHT) secara langsung (tanpa pengolahan berteknologi tinggi) kepada konsumen (anak sekolah, pegawai industri, pejabat pemerintah, ABRI).

Strategi Pengembangan Per- susuan Nasional

  • Peningkatan Populasi Sapi Perah Peningkatan populasi sapi
  • Fasilitasi Kebutuhan Lahan Upaya pengembangan sapi
  • Pengembangan Kemampuan Peternak
  • Fasilitasi Kebutuhan Modal Diantara pelaku agribisnis
  • Meningkatkan Serapan Susu Segar Peningkatan daya serap SSDN
  • Memperkuat Pasar Susu Domestik Kerjasama regional RRT-
  • Program Utama
  • Program Pendukung

Terdapat 95 pos tarif untuk produk yang bea masuknya dikurangi atau dinaikkan berdasarkan Undang-Undang Peningkatan Manufaktur AS tahun 2010, yang tercakup dalam Bab 99 Buku Tarif Impor AS. Dari 95 item tarif, 82 item tarif mengalami penurunan bea masuk dan sisanya 13 item tarif mengalami kenaikan bea masuk. Berdasarkan kinerja ekspor Indonesia ke Amerika Serikat, dari 50 pos tarif yang diturunkan bea masuknya, hanya 29 pos tarif yang diekspor ke Amerika Serikat.

Demikian pula dari empat item tarif yang dikenakan kenaikan bea masuk, hanya tiga item tarif yang ditujukan untuk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Bagian Indonesia dari Amerika Serikat untuk pos tarif 2934.99 (Asam nukleat dan garamnya, mempunyai rumus kimia tertentu maupun tidak, nes; senyawa heterosiklik lainnya, nes) adalah 0,06% pada tahun 2008 (posisi ke-22), meningkat menjadi 0,14% pada tahun 2009 (posisi ke-18). posisi) dengan pesaing utamanya Irlandia. Untuk pos tarif 3917.40 (alat kelengkapan pipa, pipa dan selang berbahan plastik), pangsa Indonesia di Amerika Serikat pada tahun 2008 kurang dari 0,01%.

Sedangkan untuk pos tarif 4016.99 (barang karet vulkanisasi selain karet keras, nesoi), pangsa Indonesia terhadap AS pada tahun 2008 sebesar 0,47% dan meningkat menjadi 0,58%. Rincian ekspor Indonesia ke AS pada tahun penurunan tarif impor dapat dilihat pada Tabel 1. Data ekspor (29 item tarif) Indonesia ke AS (Januari – Juli) saat penurunan tarif impor.

Dengan demikian, kenaikan tarif pada 3 pos tarif tersebut tidak akan berdampak besar terhadap ekspor Indonesia (Tabel 2). Untuk pos tarif 2934.99 (Asam nukleat dan garamnya, secara kimia/tidak ditentukan, d.d.; . senyawa heterosiklik lainnya, d.d.) pangsa ekspor Indonesia ke Amerika pada tahun 2009 adalah 0,14%, dan pesaing utamanya adalah Irlandia, Belgia, Inggris, Jepang dan Perancis. Untuk pos tarif 3907.99, pangsa pasar Indonesia di Amerika Serikat turun menjadi kurang dari 0,01% (peringkat 106) pada tahun 2009, dengan Jerman, Jepang, Inggris, Kanada dan Belanda sebagai pesaing utama, dan untuk pos tarif 3917.40 (alat kelengkapan pipa , tabung dan pipa dari bahan plastik), pangsa pasar Indonesia di Amerika Serikat pada tahun 2008 kurang dari 0,01.

Sedangkan untuk pos tarif 4016.99 (produk karet vulkanisasi, selain karet keras, nesoi), pangsa Indonesia di Amerika meningkat menjadi 0,58% pada tahun 2009, dan pos tarif 4202.92 (tas kontainer, kotak, peti dan ransel, nesoi, dengan permukaan luar dari lembaran plastik atau bahan tekstil), pangsa Indonesia di Amerika tumbuh menjadi 0,51% pada tahun 2009. Indonesia dapat memanfaatkan keringanan bea masuk yang tertuang dalam US Manufacturing Improvement Act tahun 2010 untuk meningkatkan ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat dan memanfaatkan pasar Amerika Serikat yang hingga saat ini masih sedikit pangsa pasarnya bagi Indonesia.

Gambar 5. Contoh Mekanisme School milk
Gambar 5. Contoh Mekanisme School milk

Gambar

Gambar 1. Neraca Perdagangan Produk-Produk Pertanian Dunia  dan Indonesia, 1961-2008
Gambar 2. Neraca Perdagangan Beras, Gandum, dan Jagung Dunia  dan Indonesia, 1961-2008
Tabel 1. Agregasi Sektor dan Negara
Tabel 2. Dampak Liberalisasi Perdagangan Sektor Pertanian terhadap Makroekonomi Negara produsen dan importir komoditas pertanian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Here, the 232Th-233U composition to guarantee ten years of operation without refueling, conversion ratio, medical isotopes production levels, and reactor kinetic parameters were