AGENDA : Analisis Gender dan Anak , Vol. 5 (2), 2023, (Desember) ISSN Print: 2615-1502 ISSN Online: 2723-3278 Tersedia online di https://ejournal.uinmybatusangkar.ac.id/
The Role of Literacy in Addressing Media Exposure for 6th Grade Female Students at SD N 16 in Nagari Supayang
Peran Literasi Dalam Menanggulangi Media Exposure Bagi Siswi Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 16 Di Nagari Supayang
Yuliati
Universitas Negeri Bengkulu Indonesia
E-mail: [email protected]
Refika Mastanora *)
UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Sumatera Barat, Indonesia E-mail:
Yulia Arsa
UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Sumatera Barat, Indonesia E-mail:
Lili Rahminda
UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Sumatera Barat, Indonesia E-mail:
Abstract :
This research was conducted to identify the role of literacy in reducing Media Exposure among female students, especially in the 6th grade at SD N 16 Nagari Supayang. Considering that 6th- grade female students are transitioning into the Teenage Girls level, they are often a vulnerable group impacted by the media and need protection from cybercrimes. The research method employed by the researcher is qualitative descriptive research, aimed at describing the role of literacy for female students. The results obtained from this research indicate that literacy plays a role in educating students to choose information and create positive written content. Literacy is also effective in reducing media exposure, including psychological impacts due to bullying on social media and the tendency to imitate vulgar movements found on social media, which can lead to criminal activities in the virtual world.
Abstrak:
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi peran literasi dalam rangka mengurangi terjadinya Media Exposure pada Siswi khususnya kelas 6 di SD N 16 Nagari Supayang. Mengingat Siswi Kelas 6 menuju level Remaja Perempuan sering yang merupakan kelompok rentan terdampak media dan perlu dilindungi dari kejahatan di dunia siber. Metode Penelitian yang dilakukan peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan peran literasi bagi Siswi. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah literasi berperan memberikan edukasi kepada siswi dalam memilih informasi dan membuat tulisan dalam hal yang
positif, literasi juga mampu mengurangi terpaan media (media exposure) diantaranya dampak psikologis akibat bullying di media social, dan kecenderungan meniru gerakan vulgar yang ada di media social yang dapat mengundang tindak criminal di dunia maya
Kata Kunci: Literasi, Media Exposure, Siswi
PENDAHULUAN:
Berdasarkan sejumlah penelitian literasi yang dilakukan oleh lembaga- lembaga nasional dan internasional, baik pemerintah maupun non- pemerintah, terlihat bahwa indeks minat baca dan tingkat literasi masyarakat kita masih sangat mengkhawatirkan. Data yang dirilis oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengungkapkan fakta tersebut. Menurut data dari UNESCO, indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001 persen (https://kompas.id). Hal ini dapat diartikan bahwa hanya satu dari seribu orang yang menunjukkan minat baca. Namun, perlu dicatat bahwa laporan ini hanya fokus pada aspek "minat baca" dan belum mencakup aspek literasi lainnya. Oleh karena itu, meskipun seseorang tercatat memiliki minat baca, hal tersebut belum tentu berarti bahwa orang tersebut juga gemar membaca. Selain itu, ketertarikan seseorang pada membaca belum tentu mencerminkan pilihan bacaan yang berkualitas. (Budi Setyanta, 2020)
Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini
literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacam macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy). Seorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut (Napsitul Mutmainnah, 2014)
Literasi Media sering dikaitkan tentang pemahaman sesorang dalam membaca dan menulis informasi di media online yang menggunakan akses Internet. Internet terus menghadirkan fungsionalitas baru secara terus- menerus. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyedia Layanan Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016, pengguna internet di Indonesia terus bertambah, mencapai 132,7 juta dari total populasi penduduk sebesar 256,2 juta orang, dengan pertumbuhan yang signifikan dari tahun 1998 hingga 2016. Fenomena kecanduan gadget juga mulai muncul, seperti kasus anak-anak yang mengisolasi diri di kamar untuk bermain game atau menghabiskan uang
jajan untuk membeli paket internet.
Beberapa kasus serius bahkan melibatkan dampak psikologis, seperti kasus seorang remaja di Bondowoso, Jawa Timur, yang sampai harus dirawat di RSUD dr. Koesnadi karena mengalami guncangan jiwa. Remaja ini menunjukkan perilaku tidak stabil dan menolak untuk sekolah apabila gadgetnya diambil. Selain masalah kecanduan gadget, internet juga menjadi sumber masalah lainnya, seperti kasus pornografi yang semakin meresahkan, di mana banyak anak- anak saat ini terpapar pada konten yang tidak sesuai untuk usia mereka.
(Pinariya & Lemona, 2019)
Meskipun beragam definisi tentang literasi media telah dikemukakan oleh banyak pihak, namun secara garis besar menyebutkan bahwa literasi media berhubungan dengan bagaimana khalayak dapat mengambil kontrol atas media. Literasi media merupakan skill untuk menilai makna dalam setiap jenis pesan, mengorganisasikan makna itu sehingga berguna, dan kemudian membangun pesan untuk disampaikan kepada orang lain.
Intinya adalah literasi media berusaha memberikan kesadaran kritis bagi khalayak ketika berhadapan dengan media. Kesadaran kritis menjadi kata kunci bagi gerakan literasi media. Literasi media sendiri bertujuan untuk, terutama, memberikan kesadaran kritis terhadap khalayak sehingga lebih berdaya di hadapan media.
Art Silverblatt menekankan pengertian literasi media pada beberapa elemen, di antaranya: (1) kesadaran akan pengaruh media terhadap individu dan sosial; (2) pemahaman akan proses
komunikasi massa; (3) pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media; (4) kesadaran bahwa isi media adalah teks yang menggambarkan kebudayaan dan diri kita sendiri pada saat ini; dan (5) mengembangkan kesenangan, pemahaman, dan penghargaan terhadap isi media. Kelima elemen Silverblatt ini kemudian dilengkapi oleh Baran dengan pemahaman akan etika dan kewajiban moral dari praktisi media;
serta pengembangan kemampuan produksi yang tepat dan efektif.
Sementara produser juga mengkonstruksikan isi media. Media memengaruhi khalayak dalam level sosial dan individual. Meski demikian, khalayak memiliki kemampuan untuk meng-handle media. Kemampuan tersebut berkaitan dengan bagaimana memilih media yang tepat, mengatur penggunaan media, kemampuan untuk memobilisasi media, serta bagaimana menginterpretasikan isi media. Literasi media bergerak dalam keempat hubungan di atas.
Menurut James Potter, ada 7 keterampilan (skill) yang dibutuhkan untuk meraih kesadaran kritis bermedia melalui literasi media. Ketujuh keterampilan atau kecakapan tersebut adalah: 1). Kemampuan analisis menuntut kita untuk mengurai pesan yang kita terima ke dalam elemen- elemen yang berarti. 2). Evaluasi adalah membuat penilaian atas makna elemen-elemen tersebut. 3).
Pengelompokan (grouping) adalah menentukan elemen-elemen yang memiliki kemiripan dan elemen- elemen yang berbeda untuk dikelompokkan ke dalam kategori- kategori yang berbeda. 4). Induksi
adalah mengambil kesimpulan atas pengelompokan di atas kemudian melakukan generalisasi atas pola-pola elemen tersebut ke dalam pesan yang lebih besar. 5). Deduksi menggunakan prinsip-prinsip umum untuk menjelaskan sesuatu yang spesifik. 6).
Sintesis adalah mengumpulkan elemen- elemen tersebut menjadi satu struktur baru. 7). Abstracting adalah menciptakan deskripsi yang singkat, jelas, dan akurat untuk menggambarkan esensi pesan secara lebih singkat dari pesan aslinya.
Sementara itu di Nagari Supayang, berdasarkan data awal observasi peneliti ditemukan bahwa sebagian besar Siswa dan Siswi kelas VI SD N 16 Nagari Supayang memiliki akses yang lumayan bebas dalam menggunakan smartphone, dengan jumlah yang mayoritas siswi (siswa perempuan), maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada Siswi Kelas VI SD N 16 Nagari Supayang, hal ini juga dikarenakan pada level kelas VI SD saat seorang anak beranjak Remaja lebih intens dalam berinteraksi dengan social media, disamping itu kelompok siswi ini juga merupakan kelompok rentan menjadi korban criminal di dunia maya (online).
Maka perlu di identifikasi bagaimana peran literasi dalam menanggulangi media exposure bagi Siswi Kelas VI SDN 16 Nagari Supayang.
Mengingat Remaja Perempuan sering dijelaskan sebagai makhluk yang perlu dilindungi, kurang mandiri, kurang rasional, hanya mengandalkan perasaan, dan sejenisnya. Akibatnya, tercipta batasan- batasan yang mengikat perempuan dalam norma- norma yang ketat yang harus diikuti.
Padahal, ada banyak sisi positif dari
perempuan yang membedakannya dari laki-laki namun jarang mendapat eksposur, seperti watak dan karakter unik, seperti kemampuan pengendalian diri, kekuatan emosi, dan kepekaan sosial. (Mastanora & Sari, 2023)
Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan media dengan bijak. Penerapan literasi media bagi siswi sekolah dasar (SD) sangat penting mengingat penggunaan media semakin merajalela di era digital saat ini. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan literasi pemanfaatan media bagi siswi SD.
1). Pendidikan Literasi Media: a).
Siswi perlu diberikan pemahaman dasar tentang jenis-jenis media, seperti buku, televisi, internet, dan lainnya. b).
Ajarkan mereka bagaimana membedakan antara informasi yang benar dan palsu. c). Berikan pemahaman tentang hak cipta dan etika penggunaan media.
2) Pengenalan Berbagai Media: a).
Ajarkan siswi untuk mengenali berbagai jenis media, seperti buku, majalah, surat kabar, televisi, radio, dan internet. b). Diskusikan kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis media.
3) Pemahaman Konten Media: a).
Dorong siswi untuk membaca, menonton, atau mendengarkan berbagai konten media. b). Bimbing mereka untuk mengidentifikasi tujuan, pesan, dan sudut pandang dari suatu konten.
4) Keterampilan Analisis: a) Ajarkan siswi untuk menganalisis informasi yang diperoleh dari media. b) Latih mereka mengajukan pertanyaan
kritis tentang kebenaran, kredibilitas, dan niat pembuat konten media.
5) Kemampuan Berpikir Kritis: a) Melatih siswi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi informasi yang diperoleh dari media. b) Ajarkan mereka untuk tidak langsung percaya begitu saja pada informasi tanpa melakukan verifikasi.
6) Penggunaan Teknologi dengan Bijak: a) Berikan pemahaman tentang cara menggunakan teknologi dengan bijak dan sehat. b) Dorong siswi untuk mengelola waktu penggunaan media dan mengetahui batasan-batasan yang seharusnya ada.
7) Keterlibatan Orang Tua dan Guru: a) Melibatkan orang tua dalam pendidikan literasi media siswi dengan memberikan informasi dan sumber daya.b). Guru dapat mengintegrasikan literasi media ke dalam kurikulum dan memberikan contoh penggunaan media yang positif.
8) Proyek Pembelajaran Kolaboratif: a) Ajak siswi untuk bekerja sama dalam proyek-proyek pembelajaran yang melibatkan media, seperti membuat presentasi, video, atau blog sederhana. b) Dorong mereka untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka.
Maka, dengan menerapkan pendekatan holistik terhadap literasi media, siswi sekolah dasar dapat mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menggunakan media secara bijak dan efektif.
METODE:
Penelitian yang dilakukan peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif untuk memberikan gambaran, mendeskripsikan, dan mengunggkapkan gambaran- gambaran
dengan melihat bagaimana Peran Literasi dalam menanggulangi Media Exposure (terpaan media) bagi siswi Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 16 di Nagari Supayang.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research), untuk mendapatkan data- data dari permasalahan yang diteliti, teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, yang dilakukan pada siswi kelas VI sekolah dasar negeri 16 nagari supayang sebagai media informasi, pemberi identitas pribadi, interaksi sosial dan integrasi. (Rahminda & Mastanora, 2023)
HASIL DAN PEMBAHASAN:
Remaja dan Anak-anak seringkali mengikuti tindakan dan perkataan yang berasal dari para tokoh teladan.
Perilaku yang sering menjadi objek tiruan oleh generasi muda ini biasanya didasarkan pada persepsi bahwa hal tersebut dianggap 'keren', tanpa memandang apakah dampaknya positif atau negatif. Bahkan, ada kasus di mana peniruan tersebut dapat membahayakan nyawa, baik bagi pelakunya maupun orang lain. Sebagai contoh, kita masih memori kasus kecelakaan anak-anak yang terjadi akibat meniru aksi dalam acara 'Smack Down' di televisi, yang menyebabkan banyak korban mengalami cedera hingga kematian. (Alip Kunandar, n.d.)
Terpaan media merujuk pada kondisi ketika seseorang mendapat paparan dari isi media atau bagaimana isi media berinteraksi dengan audiens.
Ini mencakup perilaku individu atau audiens dalam mengonsumsi media massa. Menurut Blumler seperti yang dijelaskan oleh Littlejohn (Rahayu, 2009: 28), perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: 1).
Surveillance, yakni kebutuhan individu untuk memahami lingkungan sekitarnya. 2). Curiosity, yakni kebutuhan individu untuk mengetahui peristiwa-peristiwa menonjol dalam lingkungan mereka. 3). Diversion, yakni kebutuhan individu untuk menghindari perasaan tertekan, tidak aman, atau untuk melepaskan ketegangan jiwa. 4). Personal identity, yakni kebutuhan individu untuk mengenali diri sendiri dan memahami posisi mereka dalam masyarakat. (Sari
& Mastanora, 2022)
Melalui kegiatan pengenalan literasi media ini, target audience akan memahami cara menjadi lebih mandiri dalam mengelola konsumsi media dan mengatur jadwal akses media dengan lebih baik. Ini dapat menjadi modal sosial bagi anak-anak, memungkinkan mereka berinteraksi di masyarakat dengan lebih banyak niat baik, rasa simpati, perasaan persahabatan, dan hubungan sosial yang lebih baik dengan sesama. Meskipun begitu, pendampingan dari orang tua dan guru tetap memiliki peran signifikan dalam mencegah konflik sosial pada anak- anak yang mungkin timbul akibat kurangnya literasi media. (Raturahmi et al., 2021)
Dalam rangka menanggulangi besarnya ancaman terhadap ketahanan psikologis keluarga pada era digital akibat dari konten-konten negatif di internet, hendaknya perlu diberikan pelatihan literasi media digital yang dapat membentuk kemampuan bagi orangtua dalam mengoperasikan perangkat digital, agar dapat mendampingi anak-anaknya yang beranjak remaja dalam meminimalisir akibat dari media exposure. Selain itu, pelatihan ini juga akan membentuk kemampuan orangtua dalam memantau aktifitas berbahaya anak remaja di dunia digital. (Limilia & Pratamawaty, 2017)
Berdasarkan gambar dapat di deskripsikan tahapan dalam melaksanakan literasi di Sekolah, diantaranya : Pembelajaran yang menerapkan strategi literasi penting untuk menumbuhkan pembaca yang baik dan kritis dalam bidang apa pun.
Berdasarkan beberapa sumber, dapat disarikan tujuh karakteristik pembelajaran yang menerapkan strategi literasi yang dapat mengembangkan kemampuan metakognitif yaitu: (1) pemantauan pemahaman teks (siswa merekam pemahamannya sebelum, ketika, dan setelah membaca), (2)
penggunaan berbagai moda selama pembelajaran (literasi multimoda), (3) instruksi yang jelas dan eksplisit, (4) pemanfaatan alat bantu seperti pengatur grafis dan daftar cek, (5) respon terhadap berbagai jenis pertanyaan, (6) membuat pertanyaan, (7) analisis, sintesis, dan evaluasi teks, (8) meringkas isi teks. (Witdianti, 2018)
Beberapa dampak negatif media sosial yang mungkin mempengaruhi siswi termasuk:
1). Perbandingan Sosial: Siswa mungkin merasa tertekan untuk menyesuaikan diri dengan gambaran ideal tubuh atau gaya hidup yang dipromosikan di media sosial. 2) Tekanan Teman Sebaya: Paparan terhadap pola pikir, tren, atau norma dari teman sebaya di media sosial dapat menciptakan tekanan bagi siswa untuk mengikuti arus tersebut. 3) Bullying atau Pelecehan: Media sosial dapat menjadi platform untuk perilaku bullying atau pelecehan, yang dapat berdampak buruk pada kesejahteraan emosional dan psikologis siswi. 4) Gangguan Kesehatan Mental:
Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat berkontribusi pada gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, atau merasa terasing.
5) Ketergantungan: a) Siswa mungkin mengalami ketergantungan terhadap media sosial, yang dapat memengaruhi waktu belajar, tidur, dan
aktivitas fisik. 6) Ketidakamanan Privasi: Kurangnya pemahaman tentang privasi online dapat membuat siswa rentan terhadap pengungkapan informasi pribadi yang seharusnya tidak dibagikan. 7) Kurangnya Aktivitas Fisik: Siswa dapat lebih cenderung menghabiskan waktu di depan layar daripada terlibat dalam kegiatan fisik yang sehat.
Mengatasi dampak negatif media sosial pada siswi sekolah dasar, diperlukan beberapa strategi yaitu : 1) Pendidikan Literasi Digital: Ajarkan siswi tentang pentingnya literasi digital dan bagaimana berinteraksi secara positif di dunia maya. 2) Pemantauan Orang Tua dan Guru: Orang tua dan guru perlu memantau aktivitas online siswi dan memberikan bimbingan terkait penggunaan media sosial. 3).
Pembicaraan Terbuka: Mendorong siswi untuk berbicara terbuka tentang pengalaman online mereka, baik positif maupun negatif. 4) Promosi Kesadaran Emosional: Memberikan pelatihan keterampilan sosial dan emosional untuk membantu siswi mengelola tekanan dan perasaan negatif yang mungkin muncul. 5) Pengaturan Waktu: Menetapkan batasan waktu penggunaan media sosial untuk memastikan siswi memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas fisik, belajar, dan beristirahat.
6) Mendorong Aktivitas Luar Ruangan: Mendorong partisipasi dalam kegiatan fisik dan kegiatan sosial di dunia nyata untuk menciptakan
keseimbangan antara kehidupan online dan offline. 7). Model Perilaku Positif:
Menunjukkan kepada siswi contoh perilaku positif di dunia maya dan betapa pentingnya untuk membangun hubungan yang sehat online dan offline.
Beberapa cara melindungi siswi perempuan dari dampak negatif media:
1) Pendidikan Literasi Media dan Digital: Memberikan pelatihan literasi media dan digital untuk membantu siswa memahami dan mengevaluasi konten media dengan kritis. 2) Promosi Citra Tubuh Positif: Mengedukasi siswa perempuan tentang pentingnya menghargai dan merayakan keunikan tubuh mereka sendiri dan mengenali kecantikan yang bervariasi. 3) Pendekatan Kesadaran Emosional:
Mendorong siswa untuk
mengembangkan keterampilan kesadaran emosional, membantu mereka mengelola tekanan dan perasaan negatif yang mungkin muncul dari media. 4) Keterlibatan Orang Tua dan Guru: Melibatkan orang tua dan guru dalam mendukung siswa dalam mengatasi dampak negatif media dan memberikan bimbingan yang diperlukan. 5). Mendorong Diskusi Terbuka: Menciptakan lingkungan di mana siswa merasa nyaman membahas pengalaman mereka dengan media dan mendukung satu sama lain.
6) Melakukan Perlindungan Terhadap Pelecehan Online dapat dilakukan dengan cara mengajarkan siswa tentang praktik keamanan online,
melibatkan penanganan privasi, dan memberikan dukungan dalam menghadapi pelecehan atau ancaman.
Perlu dikembangkan di sekolah strategi literasi pemanfaatan media yang efektif untuk siswi perempuan melibatkan serangkaian pendekatan yang holistik. Berikut beberapa strategi yang dapat membantu siswa perempuan mengembangkan literasi media dan menggunakan media secara positif dengan cara : 1) Pendidikan Literasi Media: Implementasikan program pendidikan literasi media yang mencakup pemahaman konsep media, keterampilan analisis, dan kemampuan kritis dalam mengonsumsi informasi media. Fokus pada aspek- aspek khusus yang relevan bagi siswa perempuan, seperti citra tubuh, representasi gender, dan konsep kecantikan. 2) Sosialisasi tentang Citra Tubuh Positif: Sertakan materi pendidikan yang mempromosikan citra tubuh positif dan membantu siswa perempuan mengembangkan rasa percaya diri yang tidak bergantung pada standar kecantikan yang tidak realistis. 3) Pelatihan Keterampilan Kritis: mengajarkan siswa perempuan untuk mengembangkan keterampilan analisis kritis terhadap konten media, termasuk mengidentifikasi stereotip gender dan memahami dampaknya.
4) Pengembangan Keterampilan Kesadaran Emosional: Fokus pada pengembangan keterampilan kesadaran emosional untuk membantu siswa perempuan mengelola tekanan sosial
dan emosional yang mungkin muncul dari penggunaan media. 5) Pendekatan Berbasis Proyek: Gunakan pendekatan berbasis proyek yang melibatkan siswa perempuan dalam menciptakan konten media mereka sendiri, seperti blog, video, atau podcast, untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang proses media. 6) Diskusi Terbuka: memfasilitasi diskusi terbuka tentang isu-isu gender, peran perempuan dalam media, dan bagaimana media mempengaruhi persepsi diri siswa perempuan.
Mendorong siswa untuk berbagi pengalaman mereka dan saling mendukung satu sama lain.
Pemberdayaan Digital:
Berikan siswa perempuan keterampilan digital yang kuat, termasuk pengetahuan tentang keamanan online, manajemen privasi, dan cara berpartisipasi secara positif di dunia maya.
Kolaborasi dengan Orang Tua dan Komunitas:
Libatkan orang tua dalam upaya pendidikan literasi media, memberikan mereka sumber daya dan informasi untuk mendukung siswa perempuan di rumah.
Kolaborasi dengan komunitas untuk memberikan dukungan yang lebih luas dan beragam.
Model Perilaku Positif:
Menunjukkan kepada siswa perempuan contoh-perilaku positif melalui peran model yang menekankan nilai-nilai positif, keterampilan kepemimpinan, dan keberagaman.
Penggunaan Teknologi sebagai Alat Pendidikan:
Integrasikan teknologi dan media dalam kegiatan pembelajaran yang mendukung literasi media dan pengembangan keterampilan siswa perempuan.
Evaluasi dan Umpan Balik:
Terus melakukan evaluasi dan mendapatkan umpan balik dari siswa perempuan untuk memastikan bahwa pendekatan yang diadopsi efektif dan relevan dengan kebutuhan mereka.
Dengan menerapkan strategi ini, siswa perempuan dapat memperoleh keterampilan literasi media yang kokoh, membantu mereka menggunakan media secara bijak dan mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang dampak media terhadap diri mereka dan masyarakat secara keseluruhan.
Literasi memainkan peran yang sangat penting dalam menanggulangi dampak negatif dari media exposure.
Dengan memiliki literasi yang baik, individu dapat lebih efektif dalam memahami, menganalisis, dan merespons informasi yang diperoleh dari berbagai jenis media. Berikut
adalah beberapa peran literasi dalam menanggulangi media exposure:
Pemahaman yang Mendalam:
Literasi membantu individu memahami informasi dengan lebih mendalam. Dengan pemahaman yang baik, mereka dapat menilai kebenaran, kredibilitas, dan relevansi suatu informasi.
Kemampuan Analisis Kritis:
Literasi mengembangkan kemampuan analisis kritis, memungkinkan individu untuk menilai sudut pandang, motivasi, dan tujuan di balik suatu informasi atau narasi media.
Pilihan Konsumsi Media yang Bijak:
Individu yang memiliki literasi media yang baik cenderung membuat pilihan yang lebih bijak dalam mengonsumsi konten media. Mereka mampu memilih informasi yang memberikan nilai dan relevansi positif.
Pencegahan Penyebaran Informasi Palsu:
Literasi media membantu dalam mengidentifikasi dan mencegah penyebaran informasi palsu atau disinformasi. Individu yang literat dapat memberikan kontribusi dalam memerangi penyebaran berita palsu dengan berbagi informasi yang akurat.
Pemberdayaan Individu:
Literasi memberdayakan individu untuk menjadi konsumen media yang kritis dan aktif. Mereka tidak hanya menerima informasi begitu saja, tetapi juga bertindak sebagai bagian dari dialog yang lebih besar.
Mengelola Dampak Psikologis:
Literasi membantu individu dalam mengelola dampak psikologis dari media exposure. Mereka dapat lebih baik memproses informasi yang mungkin memiliki dampak emosional dan mengembangkan keterampilan kesadaran emosional.
Pemahaman Etika dan Privasi:
Literasi media melibatkan pemahaman tentang etika penggunaan media dan privasi online. Individu yang literat akan lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan media secara online dan menjaga privasi mereka.
Mendorong Partisipasi Aktif:
Literasi tidak hanya tentang konsumsi, tetapi juga tentang partisipasi aktif. Individu yang literat cenderung berkontribusi secara positif dalam menciptakan konten media atau berpartisipasi dalam diskusi yang konstruktif.
Membangun Kritisisme Terhadap Stereotip dan Bias:
Literasi membantu dalam mengidentifikasi dan mengkritisi stereotip dan bias yang mungkin
muncul dalam media. Individu yang literat lebih mampu menyuarakan keberagaman dan inklusivitas.
Kesadaran terhadap Dampak Sosial dan Budaya:
Literasi membantu individu memahami dampak sosial dan budaya dari media exposure. Mereka dapat mengenali bagaimana media dapat memengaruhi norma-norma dan nilai- nilai dalam masyarakat.
Mendorong Literasi Media Generasi Berikutnya:
Literasi media yang baik dapat diwariskan kepada generasi berikutnya, menciptakan siklus positif dalam memahami dan menanggulangi dampak media exposure.
Melalui pendekatan literasi yang holistik, individu dapat lebih baik memanfaatkan media dengan bijak, mengurangi risiko dampak negatif, dan berkontribusi pada masyarakat yang lebih berpengetahuan dan responsif terhadap media
Penggunaan gadget oleh siswi perempuan tingkat Sekolah Dasar (SD) memerlukan perhatian khusus terkait etika, keamanan, dan pengembangan kesehatan mental. Berikut adalah beberapa aspek etika yang perlu diperhatikan dalam menggunakan gadget bagi siswi perempuan tingkat SD : 1) Pembatasan Waktu Penggunaan: Tetapkan batasan waktu yang wajar untuk penggunaan gadget,
baik untuk keperluan belajar maupun hiburan. Hal ini penting agar siswi tetap seimbang antara kegiatan online dan offline. 2) Pemilihan Konten yang Sesuai: Bimbing siswi untuk memilih konten yang sesuai dengan usia dan konteks belajar. Pastikan bahwa konten yang diakses bersifat edukatif dan mendukung perkembangan positif. 3) Pentingnya Kreativitas dan Aktivitas Fisik: Dorong penggunaan gadget untuk kegiatan kreatif dan pembelajaran yang interaktif. Selain itu, tetapkan waktu untuk aktivitas fisik yang tidak melibatkan gadget, seperti bermain di luar atau membaca buku fisik. 4) Kesadaran Privasi dan Keamanan: Ajarkan siswi mengenai pentingnya menjaga privasi dan keamanan online. Beritahu mereka untuk tidak membagikan informasi pribadi secara sembarangan dan selalu memahami risiko yang terkait dengan berbagi informasi secara daring. 5) Model Perilaku Positif: Berperilaku sebagai model positif dalam penggunaan gadget. Pastikan bahwa siswi melihat contoh yang baik terkait penggunaan gadget, termasuk pengelolaan waktu dan jenis konten yang diakses. 6) Pendidikan Literasi Digital: Ajarkan literasi digital, yang mencakup keterampilan pemahaman tentang dunia maya, pemilihan informasi, dan pengelolaan risiko online.
Batasan Akses ke Aplikasi dan Situs Web: Terapkan pengaturan keamanan pada gadget dan aplikasi yang digunakan untuk membatasi akses
ke konten yang tidak sesuai atau berbahaya.
Diskusi Terbuka:
Buka saluran komunikasi terbuka dengan siswi. Diskusikan penggunaan gadget, tanyakan pendapat mereka, dan dorong mereka untuk berbagi pengalaman atau pertanyaan yang mereka miliki.
Pentingnya Istirahat:
Tekankan pentingnya istirahat dari penggunaan gadget. Berikan waktu untuk menjauh dari layar, terutama sebelum tidur, untuk mendukung tidur yang berkualitas.
Pentingnya Interaksi Sosial:
Dorong siswi untuk tetap terlibat dalam interaksi sosial di dunia nyata.
Pertahankan keseimbangan antara hubungan online dan offline.
Pemantauan Orang Tua dan Guru:
Libatkan orang tua dan guru dalam pemantauan penggunaan gadget.
Kolaborasi antara sekolah dan keluarga dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung dan memastikan keseimbangan yang sehat.
Pelatihan Etika Online:
Berikan pelatihan tentang etika online, termasuk perilaku yang baik dan sopan dalam interaksi daring.
Ajarkan pentingnya menghormati orang lain dalam lingkungan digital.
Kontrol terhadap Konten yang Menyakitkan:
Ajarkan siswi untuk mengenali dan menghindari konten yang mungkin menyakitkan atau merugikan baik secara emosional maupun fisik.
Dengan memperhatikan aspek- aspek etika ini, siswi perempuan tingkat SD dapat belajar menggunakan gadget dengan bijak, aman, dan produktif untuk mendukung pembelajaran dan perkembangan positif mereka.
KESIMPULAN
Tujuan utama penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran adalah untuk membangun pemahaman siswa, keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi secara menyeluruh. Tiga hal ini akan bermuara pada pengembangan karakter dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Selama ini berkembang pendapat bahwa literasi hanya ada dalam pembelajaran bahasa atau di kelas bahasa. Pendapat ini tentu saja tidak tepat karena literasi berkembang rimbun dalam bidang matematika, sains, ilmu sosial, teknik, seni, olahraga, kesehatan, ekonomi, agama, prakarya dll. (cf. Robb, L dalam kemdikbud 2017:13)
Maka dari sekian banyak bahasan tentang literasi dan perannya, dapat disimpulkan bahwa literasi berperan penting dalam memberikan informasi
yang edukatif bagi siswi sekolah dasar, terutama SD N 16 Nagari Supayang untuk meminimalisir bahaya yang ditimbulkan akibat terpaan media yang sasaran selalu anak- anak perempuan yang bersekolah. Edukasi terkait pelecehan perempuan dalam bentuk bullying atau bentuk lainnya juga penting dilakukan guna mengelola emosi dan psikologis siswi SD N 16 yang gampang terpapar media.
REFERENSI:
Buku
James Potter. 2011. Media Literacy, Fifth Edition. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore, Washington DC:
Sage Publication
Kemdikbud. 2017. Strategi Literasi dalam Pembelajaran di sekolah Menengah Pertama:
Materi Penyegaran Instruktur Kurikulum 2013
Jurnal
Alip Kunandar. (n.d.). Model Literasi Media Pada Anak Dalam
Mencegah Konflik Sosial. 87–99.
Budi Setyanta, Y. (2020). Literasi Sekolah: Tantangan Dan Strategi Pelaksanaan. Jurnal Guru Dikmen Dan Diksus, 2(2), 105–118.
https://doi.org/10.47239/jgdd.v1i2 .30
Limilia, P., & Pratamawaty, B. B.
(2017). Pelatihan Literasi Media Digital sebagai Penanggulangan Dampak Negatif Internet pada Ketahanan Keluarga. Jurnal Abdi
MOESTOPO, 01(01), 1–6.
Mastanora, R., & Sari, E. M. (2023).
Superficial Characteristics of Women in Online Media Tiktok.
AGENDA: Jurnal Analisis Gender Dan Agama, 5(1), 78.
https://doi.org/10.31958/agenda.v 5i1.10246
Napsitul Mutmainnah, M. (2014).
Literasi Media Sosial pada
…(Mimin Rahmatia, Hasbi) LITERASI MEDIA SOSIAL PADA PEMUDA DI DESA SORO
KABUPATEN BIMA. 149–160.
Pinariya, J. M., & Lemona, M. (2019).
Literasi dan Sosialisasi Internet Ramah Anak. Jurnal Abdi MOESTOPO, 2(2), 50–56.
https://doi.org/10.32509/am.v2i02 .860
Rahminda, L., & Mastanora, R. (2023).
Pemanfaatan Media Smartphone pada Siswa/I Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 16 di Nagari Supayang. KINEMA: Jurnal Komunikasi Dan Penyiaran, 2(1), 95–106.
Raturahmi, L., Febrina, R. I., & Dewi SY, R. U. (2021). Pengenalan literasi media untuk pencegahan konflik sosial pada siswa sekolah dasar di wilayah perdesaan. Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian
Masyarakat (JIPEMAS), 4(3), 465.
https://doi.org/10.33474/jipemas.v 4i3.11438
Sari, E. M., & Mastanora, R. (2022).
Solutions for Preventing Media Exposure to Vulnerable Groups and Marginalized Groups on Social Media. AGENDA: Jurnal
Analisis Gender …, 4(2), 169–
178.
https://ojs.iainbatusangkar.ac.id/oj s/index.php/agenda/article/view/8 113%0Ahttps://ojs.iainbatusangka r.ac.id/ojs/index.php/agenda/articl e/download/8113/3104
Witdianti, Y. (2018). Strategi Literasi Dalam Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia Berbasis
Kearifan Lokal Program
Kemitraan Unicef. Prosiding Pekan Seminar Nasional (Pesona), 100–109.
Https://Diskominfo.Badungkab.Go.Id/
Artikel/17916-Pengertian- Literasi-Media