• Tidak ada hasil yang ditemukan

LITERASI PEMBELAJARAN ONLINE BERKEARIFAN LOKAL

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "LITERASI PEMBELAJARAN ONLINE BERKEARIFAN LOKAL"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

4th International Conference on Education September 25-26, 2019

“Innovation in Islamic Education: Challenges and Readiness in Society 5.0”

245

LITERASI PEMBELAJARAN ONLINE BERKEARIFAN LOKAL

Syaiful Marwan Dosen IAIN Batusangkar [email protected]

ABSTRACT

Education is important and becomes an individual's need as a citizen. However, the development of technology that can not be avoided, making challenges in the global era is a serious concern to be discussed.

While the most important thing to do is the process of the times by continuing to improve themselves through learning. However, in the development of culture, technological development should not eliminate or eliminate culture itself. Therefore, if it is important to maintain culture, it is also necessary to habituate learning without reducing the existing cultural values and become a tradition in social life, as well as educational goals that can support optimally.

Keywords: Literacy, Online Learning, Local Wisdom

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap warga negara. setiap warga negara Indonesia memiliki identitas nasional yang sama sebagai masyarakat yang multikultural. Namun disisi lain, individu sebagai kelompok dalam masyarakat yang majemuk, memiliki ciri khas sebagai manusia yang berkebudayaan lokal dan berkearifan. Sebagai masyarakat yang melek dengan kebudayaan lokal, individu haruslah selalu belajar dan mengenali kebudayaannya sendiri dalam setiap perkembangannya. Untuk itu, butuh ada pembelajaran bagi setiap individu untuk memahami dirinya dan lingkungan kebudayaannya.

Seiring dengan kebutuhan individu untuk belajar mengenali kebudayaannnya sendiri, dibutuhkan semangat dan tekad belajar terlebih dahulu. Hal ini tertuang dalam bentuk adanya motivasi belajar. Pembelajaran peserta didik di saat ini, sering terbenturkan dengan adanya kurangnya minat dan motivasi belajar. Hal ini, disebabkan karena adanya berbagai persoalan yang mempengaruhi kebiasaan setiap individu dalam beraktivitas sehari-hari. Berbagai persoalan yang muncul memberikan masukan kepada praktisi pendidikan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Adapun masukan yang baik untuk menjaga kebudayaan masyarakat adalah dengan menanamkan motivasi peserta didik untuk belajar hasil yang mampu membuatnya berprestasi.

Pembelajaran yang dilakukan saat sekarang ini dihambat oleh adanya media internet yang mengarahkan peserta didik untuk melakukan aktivitas lain selain belajar. Dengan demikian, sangatlah penting sebaiknya media online digunakan dalam proses pembelajaran dalam konteks literasi pembelajaran. Kegiatan literasi pembelajran ini, jangan seserorang melupakan keadaan lingkungan yang menjadikan lunturnya nilai-nilai kebudayaan. Nilai-nilai kebudayaan ini adalah suatu hal yang berharga yang dihasilkan manusia yang menjadi kebiasaan hidup yang menjadi identitas dan pembangun integritas bangsa.

Kebudayaan masyarakat Indonesia menjadikan Indonesia dikenal yang terus berkembang dan dipakai secara turun-temurun dari nenek moyang sampai ke anak cucunya. Hal ini seperti ini terus dipelihara dan dipakai oleh masyarakat. Sebagai identitas bersama, maka pendidikan kebudayaan melalui literasi pembelajaran yang mengikuti perkembangan teknologi perlu dilakukan. Studi kebudayaan menjadi dipelajari agar tidak terbawa oleh arus teknologi dan informasi. Menurut Denzim (Ritzer, 2010: 413), Studi kebudayaan (cultural study), memusatkan perhatiannya pada 3 masalah yang terkait satu denga lainnya, diantaranya: (1) Produksi makna kultural, (2) Analisis tekstual makna-makna ini, serta (3) studi kebudayaan yang dijalani dan pengalaman yang dijalani. Dalam pelaksanaanya interaksionisme simbolis memainkan peranan penting dalam cultural study ini.

Penjelasan tersebut, dapat dipahami sebagi bentuk pembelajaran yang bersifat kearifan lokal yang menjadi perhatian dalam konteks pembicaraan yang akan dibahas secara lebih lanjut dengan

(2)

4th International Conference on Education September 25-26, 2019

“Innovation in Islamic Education: Challenges and Readiness in Society 5.0”

246

mengkuti sarana perkembangan IT. Untuk mengiringi dinamika perkembangan IT ini butuh menjadi literasi pembelajaran online yang berkearifan lokal.

PEMBAHASAN

1. Literasi Pembelajaran Online (Literasi Digital)

Pada saat ini pembelajaran online banyak dilakukan oleh remaja yang menggunakan berbagai media IT. Istilah literasi pembelajaran online ini, orang-orang saat ini mengenal dengan literasi digital. Literasi digital atau media adalah kemampuan pengguna media sosial yang secara kritis dan kreatif dapat menyaring informasi yang beredar diberbagai media (Menurut Stefany dkk dalam Silvana)

Literasi digital juga mencakup kemampuan untuk membaca, memahami dan menghargai secara kritis berbagai bentuk komunikasi termasuk bahasa lisan, teks tercetak, media penyiaran, dan media digital. Literasi digital atau literasi media sangat dibutuhkan karena untuk berpartisipasi dalam dunia baru dalam kaitannya dengan masalah sosial (Jenkins dalam Sujana, 2019). Masalah sosial tersebut, adalah yang terkait pada masa sekarang adalah kebiasaan hidup masyarakat. Hal ini terkait dengan kebudayaan masyarakat.

2. Kearifan Lokal

Banyaknya pengaruh negatif berkembangnya IPTEK membuat sifat kebudayaan yang menjadi kearifan lokal menjadi pudar. Dalam hal ini kearifan lokal yang dimaksud adalah sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya (Sartini dalam Sakban: 2018). Dalam artian dimaksudkan bahwa kearifan adalah penutan perilaku yang tertuang dalam kebiasaan bersama menjadi pendoman dalam masyarakat. Lokal sendiri bermakna lingkungan sekitar yang menjadi tempat tinggal. Jadi kearifan local diartikan sebagai perilaku yang menjadi acuan dalam berperilaku sesuai dengan kebudayaan yang ada disekita lingkungan.

Jika dikategorikan karakteristik kearifan lokal ini adalah: (1) terbangun dan terbentuk berdasarkan pengalaman, (2) teruji sesudah digunakan selama berabad-abad, (3) dapat disesuaikan dengan budaya saat sekarang, (4) lazim dilakukan oleh individu dan masyarakat, (5) bersifat dinamis, dan (6) sangat terkait dengan sistem kepercayaan masyarakat. Kearifan lokal berwujud dalam bentuk tata aturan yang menyangkut hal: (1) hubungan sesama manusia, seperti perkawinan;

(2) hubungan manusia dengan alam, sebagai upaya konservasi alam, seperti hutan milik adat; dan (3) hubungan dengan yang gaib, seperti Tuhan dan roh gaib. Kemudian juga, kearifan lokal dapat berupa adat istiadat, institusi, kata-kata bijak, dan pepatah (Jati dalam Sakban:2018). Kearifan lokal yang tidak dipedomani dalam proses pembelajaran akan mengakibatkan degradasi nilai moral dalam masyarakat.

Dapat dipahami juga mengenai karakterisik kearifan lokal tersebut, yang pertama bahwa kearifan lokal terbangin dari pengalaman yang dilalui. Hal ini berarti, pengalaman yang buruk akan diperbaiki pada tindakan berikutnya agar tidak terulag kembali dan dilaksanakan dengan perbaikan-perbaikan yang berguna untuk diri sendiri dan lingkungan. Yang kedua terkait dengan teruji selama lama yang memberikan pesan bahwa hal tersebut adalah baik untuk selalu digunakan.

Ketiga, mengikuti kebudayaan yang dilalui saat ini, yang mana bias digunakan kapan saja dan tidak bertentangan nilai-nilai yang berkembang. Keempat, lazim yang berarti sesuai dengan nilai-nilai positif. Selanjutnya kelima, bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman, dalam perkembangan IPTEK kearifan lokal berjalan mengikuti proses IPTEK itu sendiri. Terkahir terkait dengan system kepercayaan masyarakat, yang berarti menjaga nilai-nilai luhur yang ada dalam masyarakat luas yang mengedepankan nilai-nilai moral bermasyarakat.

Memaknai terkait wujud kearifan lokal mengenai tata aturan, maka dapat ditangkap kehidan manusia tidak bisa terlepas dari hubungannya dengan manusia lain. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bias hidup sendiri. Hidupnya harus berhubungan dengan manusia lainnya. Hal ini bisa terwujud dalam bentuk pertemanan dan perkawinan sehingga memunculkan kekerabatan yang lebih luas terbentukya masyarakat. Selanjutnya bagaiamana manusia mampu menjaga lingkungannya dan menghormati alam sebagai ekosistem temapat manusia hidup dan berkembang

(3)

4th International Conference on Education September 25-26, 2019

“Innovation in Islamic Education: Challenges and Readiness in Society 5.0”

247

yang juga memiliki aturan tersendiri yang terkait dengan kehidupan manusia. Kemudian juga menjalan berbagai aturan sebagai insan ciptaan Allah SWT yang harus menjalankan hidup sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada dalam norma-norma agama.

Tidak terlepas dari hal tersebut, bahwa pada saat ini yang sebagai peserta didik yang belajar di sekolah dan hidup bermasyarakat mengikuti dari perkembangan IPTEK. Mereka menggunakan media literasi yang dikenal dengan Gadget. Media ini menjadi hal yang tidak dapat ditinggalkan.

Penggunaan media ini, menjadi budaya ketergantungan yang tidak bisa ditinggalkan oleh mereka.

Sehingga berbagai perilaku yang muncul terkait dengan literasi media yang mereka lakukan. Hal yang terpenting dalam literasi pembelajaran online yang dibahas, adalah penting kiranya masyarakat tidak meninggalkan nilai-nilai luhur yang terbangun sejak dahulu yang menjadi kearifan lokal. Namun, yang menjadi kemunduran adalah karena litersi digital yang tidak dmaksimalkan dengan baik penggunaannya.

Literasi media digital adalah bentuk kegiatan masyarakat yang melek akan IT. Tidak terlepas dari itu, kearifan lokal juga jangan sampai ditinggalkan. Begitu petingnya nilai-nilai budaya kearifan yang perlu dijaga menjadikan tanggung jawab bersama individu dalam masyarakat sebagai pembelajar. Pembelajar yang baik adalah pembelajar yang selalu menjaga etika dan estetika dalam tulisannya. Maka dari itu, pembiasaan membaca dan menulis harus mengedepankan estetika utama yaitu nilai-nilai budaya.

3. Mengedepankan Tujuan Utama Pendidikan

Mengedepankan tujuan utama pendidikan adalah hal yang paling penting dalam proses pembelajaran. Sehingga banyak hal-hal yang tidak diinginkan dapat ditanggulangi. Belajar yang mengikuti perkembangan zaman harus tetap mengingat hal yang terpenting dalam pendidikan itu sendiri yang terkait kompetensi diri dan bagaimana mempraktekkan kompetensi tersebut. Hal sesuai dengan tujuan pendidikan menurut Bloom (Widyastono, 2014:25), yang dapat digolongkan dalam tiga domain, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.

Terkait dengan pembelajaran online yang berkearifan lokal, analisis tujuan pendidikan ini adalah literasi haruslah meningkatkan kemampuan kognitif dalam mengidentifikasi dan mengintegrasikan konsep pemahaman dalam mengaitkan konsep budaya dalam pembelajaran terutama menulis dan membaca. Yang kedua, literasi haruslah membentuk sikap siap berbuat mengahasilakn karya inovatif terkait menampilkan sikap-sikap positif yang menjadi kebiasaan hidup masyarakat Indonesia. Kemudian, literasi pembelajaran yang dilakukan haruslah menjadikan individu mampu berbuat baik dengan tindakan spontan dalam pengembangan keterampilan yang berkearifan lokal.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan materi tersebut, maka dapat dimabil kesimpulan bahwa pendidikan merupakan hal yang tidak bisa begitu saja dikembangkan tanpa mengikuti perkembangan zaman dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah menjadi tradisi masyarakat. Berbagai usaha dilakukan agar proses pendidikan berjalan selaras dengan perkembangan zaman dan tradisi masyarakat lokal.

Kegiatan literasi merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Kegiatan literasi pembelajaran, pada era modern selain dilakukan dengan cara manual dalam kegiatan tulis baca aja dengan menggunakan pena dan buku, namun juga bisa dilakukan menggunakan media pembelajaran online yaitu seperti komputer. Dengan menggunkan alat literasi ini, menjadikan masyarakat mampu mengikuti perkembangan zaman. Selain itu semua, yang tidak bisa ditinggalkan adalah tetap menjaga budaya dan tradisi yang adalah di lingkungan sekitar dan berarti tetap menjaga kearifan lokal sebagai bagian dari konten literasi dalam pembelajaran online.

(4)

4th International Conference on Education September 25-26, 2019

“Innovation in Islamic Education: Challenges and Readiness in Society 5.0”

248

DAFTAR REFERENSI

Akbar, N.F dan Anggraini F.D. (2017). Teknologi Dalam Pendidikan : Literasi Digital Dan Selfdirected Learning Pada Mahasiswa Skripsi. Jurnal Indigenous . Vol. 2. No. 1. Hal: 28-38

Bernadib, I, (1990). Filsafat Pendidikan. Yayasan Penerbutan Fakultas Pendidikan IKIP.

Yogyakarta.

Gina, F & Ambar, W.L.(2018). Pembudayaan Gerakan Literasi Informasi Siswa Tingkat Sekolah Dasar di Tangerang Selatan. Jurnal EduLIB Vol. 8, No, hlm.167-179.

Hikamudin, M.K, dkk. (2019). Peningkatan Literasi Perpustakaan Digital Melalui Pembelajaran Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Di Sekolah Dasar. Jurnal UPI.EDU. Vol.9. No. 1.

Hal: 12-25

Pattah, S.H. (2014). Literasi Informasi: Peningkatan Kompetensi Informasi Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Kearsipan Khizanah Al Hikmah. Vol. 2. No. 2.

Hal: 117-128.

Putranti, N. (2013). Cara Membuat Media Pembelajaran Online Menggunakan Edmodo. Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains. Vol. 2, No. 2, Hal: 139-147.

Ritzer, George dan Barry Smart. 2011. Handbook Teori Sosial diterjemahkan oleh Muttaqien dkk.

Bandung: Nusamedia

Sujana, A dan Dewi. R. (2019). Literasi digital abad 21 bagi mahasiswa PGSD: apa, mengapa, dan bagaimana. Current Research in Education: Conference Series Journal. Vol. 1. No. 1.

Paper 003. Hlm: 1-7

Sakban, A dan Wayan. R. (2018). Kearifan Lokal (Sasambo) sebagai Pedoman Hidup Masyarakat Multikultural dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 di Indonesia. Diseminarkan pada Sabtu, 29 September 2018 di LPP Mandala di UMM. Mataram

Silvana, H dan Cecep. (2018). Pendidikan Literasi Digital Di Kalangan Usia Muda Di Kota Bandung. PEDAGOGIA : Jurnal Ilmu Pendidikan. UPI. Hal: 146-156

Setemen, K. (2010). Pengembangan Evaluasi Pembelajaran Online. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jilid 43, Nomor 3, Oktober , hlm.207-214

Widyastono, K. (2014) Pengembangan Kurikulum di Era Otonomi Daerah dari Kurikulum 2004,2006, ke Kurikulum 2013. PT Bumi Aksara. Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

It focused on the following objectives: A search module that will allow guests to easily search for a specific keyword regarding tourism in Antique, a page that will view specific