• Tidak ada hasil yang ditemukan

Literature Review: Relationship of Chronic Disease Management Program (Prolanis) To Blood Pressure of Hypertension Patients

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Literature Review: Relationship of Chronic Disease Management Program (Prolanis) To Blood Pressure of Hypertension Patients"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia, Vol. 8 No. 2, Agustus 2021 42

LITERATURE REVIEW: HUBUNGAN PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) TERHADAP TEKANAN DARAH

PENDERITA PENYAKIT HIPERTENSI

Lisa Fitriani, Muhammad Irwan Setiawan, Anggun Wulandari, Meitria Syahadatina Noor, Nita Pujianti

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Email korespodensi: [email protected]

ABSTRAK

Prolanis merupakan program untuk meningkatkan kualitas hidup, status kesehatan, serta harapan hidup optimal. Program dikatakan baik bila dapat meningkatan kualitas hidup dan status kesehatan peserta prolanis, kegiatan program yakni konsultasi medis/edukasi, home visit, reminder, dan senam prolanis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan program pengelolaan penyakit kronis (prolanis) terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi. Penelitian ini berbasis literature review dengan metode Scoping Review. Pencarian artikel melalui Google Schoolar dan DOAJ dengan hasil 10 artikel yang sesuai dengan topik penelitian, dimana pada kata kunci konsutasi medis/edukasi ditemukan artikel sebanyak 5 (50%) artikel, home visit sebanyak 4 (40%) artikel, reminder sebanyak 4 (40%) artikel dan aktivitas klub (senam prolanis) sebanyak 8 (80%) artikel. Berdasarkan hasil telaah 10 artikel penelitian, terdapat 4 (80%) artikel konsultasi medis/edukasi, 3 (75%) artikel home visit, 3 (75%) artikel reminder, dan 8 (100%) artikel aktivitas klub (senam prolanis) yang berhubungan dengan tekanan darah penderita penyakit hipertensi.

Sedangkan, terdapat 1 (20%) artikel konsultasi medis/edukasi, 1 (25%) artikel reminder dan 1 (25%) artikel home visit tidak berhubungan dengan tekanan darah penderita penyakit hipertensi.

Berdasarkan hasil telaah didapatkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan konsultasi medis/edukasi, home visit, reminder, dan senam prolanis terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi.

Kata kunci: Konsultasi medis/edukasi, kunjungan rumah, pengingat, senam prolanis, tekanan darah penderita hipertensi

ABSTRACT

Prolanis is a program to improve the quality of life, health status, and optimal life expectancy.

The program is to be good if it can improve the quality of life and health status of the prolanis participants, the program activities are medical/educational consultations, home visits, reminders, and prolanis gymnastics. This study aims to explain the relationship of chronic disease management program (prolanis) on blood pressure of patients with hypertension. This research is based on literature review with Scoping Review method. Search articles through Google Schoolar and DOAJ with the results of 10 articles that match the research topic, where in the medical/educational consultation keywords found 5 (50%) articles, 4 (40%) home visits, 4 (40%) reminders articles and (prolanis gymnastics) as many as 8 (80%) articles. Based on the results of a review of 10 research articles, there were 4 (80%) articles on medical/educational consultations, 3 (75%) articles on home visits, 3 (75%) articles on reminders, and 8 (100%) articles on prolanis gymnastic). associated with blood pressure in patients with hypertension. Meanwhile, there are 1 (20%) articles on medical/educational consultations, 1 (25%) reminder articles and 1 (25%) articles on home visits that are not related to blood pressure of patients with hypertension. Based on the results of the study, it was concluded that there was a relationship between medical/educational consultations, home visits, reminders, and prolanis exercise on the blood pressure of patients with hypertension.

Keywords: Medical consultation/education, home visit, reminder, prolanis gymnastics, blood pressure in patients with hypertension

(2)

PENDAHULUAN

Penyakit kronis atau Non Communicable Diseases (NCD) saat ini menjadi perhatian karena penyakit kronis merupakan permasalahan kesehatan serius dan penyebab kematian terbesar di dunia. Menurut data dari WHO di tahun 2018, diperkirakan sebanyak 41 juta orang yang meninggal dunia karena penyakit tidak menular setiap tahunnya. Data tersebut menunjukkan bahwa hampir 71% angka kematian di seluruh dunia disebabkan oleh penyakit tidak menular. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, diperkirakan sedikitnya ada 1,4 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit tidak menular. Kebanyakan penyakit tidak menular bersifat menahun atau disebut penyakit kronis (1).

Tingginya angka penyakit kronis tersebut disebabkan oleh salah satu faktor risiko, yaitu peningkatan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Penyakit tekanan darah tinggi sendiri merupakan masalah kesehatan serius karena kedatangannya yang tanpa disadari dapat menimbulkan penyakit stroke, jantung dan kegagalan fungsi ginjal yang dapat menyebabkan kematian. Penyakit hipertensi menurut World Health Organization tahun 2013 merupakan suatu kondisi dimana pembuluh darah memiliki tekanan darah tinggi dimana tekanan darah sistolik sebesar ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar ≥90 mmHg (2).

Menurut data dari W HO, sekitar 972 juta orang atau 26,4% orang di seluruh dunia mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025 (3). Menurut data Riskesdas tahun 2018 di Indonesia prevalensi hipertensi yang didapat melalui pengukuran pada umur

≥ 18 tahun sebesar 34,1% dan prevalensi hipertensi tertinggi di provinsi pada tahun 2018 ada di Kalimantan Selatan sebesar 44,1%. Komplikasi hipertensi menurut Depkes 2017, sebanyak 51%

stroke, 45% penyakit jantung koroner, dan 4% lainnya menderita komplikasi gagal ginjal dan kebutaan. Data Riskesdas 2013 juga menunjukkan prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10,9% di tahun 2018. Sekitar 60% penderita hipertensi berakhir pada stroke dan penyakit ini hampir diderita sekitar 25% penduduk dunia dewasa (4).

Berdasarkan data yang menunjukan masih tingginya masalah hipertensi, pemerintah turut merencanakan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan penderita hipertensi dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan penderita hipertensi. Pelayanan kesehatan seperti posyandu lansia dalam dalam bentuk kegiatan senam lansia merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencegahan penyakit tidak menular seperti jantung, kolesterol, diabetes melitus, hipertensi dan sebagainya. Kegiatan ini juga disertai dengan edukasi terkait penyakit tidak menular pada lansia, faktor risiko penyakit tidak menular, pencegahan serta pengendaliannya melalui senam lansia. Namun, menurut penelitian yang dilakukan oleh Afandi A dkk, tahun 2019 kegiatan posyandu lansia di beberapa puskesmas masih bergabung dengan pelaksanaan posyandu balita, sehingga kesehatan lansia belum menjadi fokus utama. Selain itu, sasaran langsung program ini juga hanya ditunjukan untuk lansia baik kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun), kelompok usia lanjut (60 tahun keatas) dan kelompok usia lanjut dengan risiko tinggi (70 tahun ke atas). Penyakit hipertensi yang dulunya sering diidentikkan sebagai penyakit orang tua. Namun, konsep ini telah berubah, hipertensi tidak lagi memandang usia karena orang belasan tahun dan orang dewasa juga bisa menderita hipertensi (5).

Pemerintah melalui BPJS Kesehatan mengupayakan program untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) yang ditujukan

kepada seluruh peserta BPJS Kesehatan dengan penyakit kronis seperti diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi. Prolanis merupakan salah satu strategi promotif dan preventif yang dilakukan BPJS Kesehatan yang bertujuan untuk mengurangi atau mencegah komplikasi penyakit kronis yang diderita peserta serta mengendalikan biaya pelayanan kesehatan. Aktivitas dalam prolanis meliputi aktivitas

konsultasi medis/edukasi, home visit, reminder, dan aktivitas klub (senam prolanis) (6).

Prolanis adalah program pelayanan kesehatan bagi seseorang yang menderita penyakit kronis khususnya hipertensi untuk meningkatkan kualitas hidup, status kesehatan, serta harapan hidup optimal. Diharapkan dengan indikator sebanyak 75% peserta terdaftar yang mengunjungi fasilitas tingkat pertama memiliki hasil “baik” pada pemeriksaan spesifik terhadap diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi sesuai buku panduan klinis prolanis sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi penyakit (6).

Suatu program dikatakan baik apabila dapat meningkatkan kualitas hidup peserta program prolanis. Cara untuk mengetahui dan menentukan hasil pengukuran status kesehatan penderita hipertensi adalah dengan memantau tekanan darah. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui risiko kesehatan setiap orang. Menurut teori Blum (1981), faktor-faktor yang

(3)

mempengaruhi status kesehatan seseorang ditentukan oleh 4 faktor, salah satunya adalah faktor pelayanan kesehatan, antara lain promotif, preventif, perawatan, pengobatan, pencegahan kecacatan, dan rehabilitasi (7). Sedangkan prolanis merupakan salah satu pelayanan kesehatan dalam bentuk strategi promotif dan preventif untuk menurunkan atau mencegah komplikasi penyakit kronis yang diderita oleh peserta prolanis (6).

Prolanis adalah salah satu program pengendalian penyakit kronis dapat dikatakan cukup efektif dan efisien, tetapi masih banyak masyarakat yang belum memanfaatkan pelayanan tersebut.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ginting R dkk, tahun 2020 menyebutkan bahwa berdasarkan pemanfaatan prolanis, responden yang tidak memanfaatkan prolanis adalah sebanyak 52 orang (56,5%) dan responden yang memanfaatkan prolanis sebanyak 40 orang (43,5%) (6).

Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan suatu literature review untuk mengetahui hubungan program pengelolaan penyakit kronis (prolanis) terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi.

METODE

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan program pengelolaan penyakit kronis (prolanis) terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review yang berjenis scoping review. Temuan dari beberapa database dibatasi oleh kriteria inklusi dan eksklusi. Kata kunci yang digunakan yaitu konsultasi medis/edukasi, home visit, reminder, senam prolanis, tekanan darah penderita hipertensi, prolanis gymnastics, blood pressure in patients with hypertension, medical consultation.

Hasil identifikasi dari search method pada Google Scholar dan DOAJ didapatkan sebanyak

1.333 data penelusuran artikel dan hasil pencarian. Pada kriteria inklusi jangka waktu didapatkan

1.222 jurnal. Pada kriteria inklusi jenis dan kualitas jurnal didapatkan 72 jurnal dilakukan kelayanan, karena terdapat duplikasi jurnal sebanyak 43 jurnal, tidak sesuai variabel sebanyak 561 jurnal, tidak tersedia full paper sebanyak 250 jurnal dan jurnal tidak terakreditasi sebanyak 296 jurnal. Setelah jurnal disaring karena tidak sesuai topik dan sasaran, didapatkan 10 artikel yang sesuai untuk dilakukan review.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Artikel penelitian berdasarkan desain observasional analitik a. Cross-sectional

Artikel yang menggunakan desain penelitian cross-sectional sebanyak 6 (60%) studi.

Berdasarkan penelitian I Ketut Indra W iguna dkk pada tahun 2018 (14), penelitian Pohan A pada tahun 2019 (15), penelitian I Dayanti pada tahun 2019 (9), penelitian Andi Ipaljri Saputra pada tahun

2019 (16), penelitian Meilani N dkk pada tahun 2020 (17), dan penelitian Niken Larasati dan Nadia Husna pada tahun 2019 (18) yang membahas tentang senam prolanis menggunakan desain penelitian cross-sectional. Penelitian cross-sectional bertujuan untuk mengetahui korelasi antara variabel independen dengan variabel dependen, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat. Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap variabel subjek pada saat pemeriksaan. Pada artikel ini mengamati hubungan antara variabel independen yaitu berupa senam prolanis dengan variabel dependen berupa tekanan darah penderita penyakit hipertensi dalam waktu bersamaan.

Lalu dilakukan pengolahan dan analisis data dengan cara membandingkan senam prolanis dengan tekanan darah penderita hipertensi. Sehingga dari analisis artikel yang ditemukan maka akan diperoleh bukti adanya atau tidak adanya hubungan senam prolanis dengan tekanan darah (9,14,15,16, 17, 18).

b. Cohort

Artikel yang menggunakan desain penelitian cohort sebanyak 3 (30%) studi.

Berdasarkan

penelitian Emi Demiyanti, Ardini S. Raksanagara, dan Irvan Afriandi pada tahun 2018 yang membahas tentang konsultasi medis/edukasi menggunakan desain penelitian cohort. Studi cohort ini bersifat retrospektif yaitu paparan telah terjadi sebelum peneliti memulai penelitian. Penelitian ini menggunakan studi cohort retrospektif karena edukasi kelompok ini telah dilakukan di Klub Prolanis Klinik Vita Medika Banjar sebelum dilakukan penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan

(4)

melihat data dari catatan medikal rekord (data sekunder) dari Oktober 2011 sampai dengan Oktober 2015. Sedangkan penelitian ini dilakukan di Klinik Pratama Vita Medika Banjar Jawa Barat pada tanggal 2

Januari 2017 sampai dengan 25 Januari 2017 (13).

c. Case control

Artikel yang menggunakan desain penelitian case control sebanyak 2 (10%) studi.

Berdasarkan penelitian Frieska Dyanneza, Didik Tamtomo dan Sugiarto pada tahun 2017 yang membahas tentang konsultasi medis/edukasi, home visit, reminder, dan senam prolanis menggunakan desain penelitian case control. Sampel sebanyak 120 pasien hipertensi, terdiri dari 60 pasien hipertensi terkontrol yang merupakan kelompok kontrol dan 60 pasien hipertensi tidak terkontrol yang merupakan kelompok studi. Penelitian kuantitatif dengan desain case control retrospektif ini merupakan penelitian kuantitatif yang membandingkan yaitu pasien hipertensi terkontrol yang merupakan kelompok kontrol dan pasien hipertensi tidak terkontrol yang merupakan kelompok studi. Lalu dilakukan pengukuran secara retrospektif dalam hal ini tekanan darah penderita penyakit hipertensi yang sudah diketahui lebih dahulu. Setelah dilakukan pengukuran, dilakukan pengolahan dan analisis data dengan cara membandingkan rutin mengikuti prolanis dan yang tidak rutin mengikuti prolanis pada kelompok studi dengan proporsi yang sama pada kelompok kontrol.

Dari sini diperoleh bukti ada dan tidaknya hubungan prolanis dengan tekanan darah penderita hipertensi (11).

2. Faktor-faktor yang berikaitan dengan hubungan program pengelolaan penyakit kronis (prolanis) terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi

a. Konsultasi medis/edukasi

Berdasarkan hasil penelitian Frieska Dyanneza, Didik Tamtomo dan Sugiarto pada tahun 2017 menyatakan bahwa terdapat hubungan antara konsultasi medis/edukasi terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi yang mengikuti prolanis dengan nilai (p-value=0,020) untuk edukasi pola makan dan (p-value=0,001) untuk edukasi aktivitas jasmani, dengan menggunakan metode penelitian case control. Secara statistik, pemberian edukasi pola makan DASH terhadap tekanan darah sistolik pasien hipertensi memiliki tekanan darah sistolik 4 mmHg lebih rendah dibandingkan dengan pasien hipertensi yang memiliki pola makan DASH rendah.

Selain itu, secara statistik pemberian edukasi aktivitas fisik terhadap tekanan darah sistolik pasien hipertensi yang memiliki aktivitas fisik tinggi memiliki tekanan darah sistolik 0,40 mmHg lebih rendah dibandingkan dengan pasien hipertensi yang memiliki aktivitas fisik rendah (11).

Disisi lain, terdapat 1 artikel penelitian tidak menyatakan hubungan antara konsultasi medis/edukasi terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi yang mengikuti prolanis. Studi oleh Niken Larasati dan Nadia Husna pada tahun 2019 dengan nilai (p-value=0,111), dengan menggunakan metode penelitian cross-sectional (18).

Berdasarkan 4 artikel penelitian yang ditelaah, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara konsultasi medis/edukasi terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi yang mengikuti prolanis. Manfaat pemberian konsultasi medis/edukasi bagi peserta prolanis antara lain meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakitnya yang pada akhirnya akan meningkatkan derajat kesehatannya. Hal ini sesuai dengan teori Notoatmodjo S tahun 2003 yang menyatakan bahwa manfaat pemberian edukasi bagi pasien antara lain meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan ketrampilan pasien dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan dan mencegah komplikasi penyakit (9).

b. Home visit

Berdasarkan 3 artikel penelitian yang ditelaah, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara home visit terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi yang mengikuti prolanis.

Hal ini dikarenakan pasien yang mendapat kunjungan rumah dari tenaga medis 2,15 kali lebih patuh untuk mengambil obat-obatan mereka. Dalam kegiatan kunjungan rumah, petugas kesehatan akan melakukan pemantauan kesehatan, seperti melakukan pemeriksaan tekanan darah, edukasi dan konsultasi kesehatan dengan petugas kesehatan, serta memberikan terapi. Partisipan yang mendapatkan kunjungan rumah secara rutin lebih terkontrol tekanan darahnya dibandingkan dengan partisipan yang tidak mendapatkan kunjungan rumah secara rutin dan terdapat perbedaan tekanan darah sistolik dan diastolik antara partisipan yang pernah mendapatkan home visit dan partisipan yang tidak mendapatkan home visit (11).

c. Reminder

Berdasarkan 3 dari 4 artikel penelitian yang ditelaah, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara reminder terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi yang mengikuti prolanis. Reminder adalah kegiatan prolanis yang paling maksimal untuk dilakukan, agar masyarakat paham dan mengerti kapan jadwal kegiatan prolanis diadakan. Reminder dapat menunjukkan bahwa petugas layanan kesehatan memperhatikan atau peduli terhadap peningkatan

(5)

status kesehatan dan kualitas hidup pasien. Penggunaan pesan singkat pengingat lebih mudah untuk meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan dan pengelolaan hipertensi. Mengirim pesan singkat sebagai pengingat dan motivasi bagi pasien hipertensi memiliki pengaruh positif terhadap perubahan perilaku pasien hipertensi untuk meningkatkan kepatuhan dan kontrol tekanan darah sistolik dan diastolik (18).

d. Aktivitas klub (senam prolanis)

Berdasarkan 8 artikel penelitian yang ditelaah, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara terhadap aktivitas klub (senam prolanis) terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi yang mengikuti prolanis. Hal ini karena olahraga dikaitkan dengan pengelolaan hipertensi, olahraga secara teratur dapat mengurangi beban perifer yang akan menurunkan tekanan darah.

Kegiatan senam prolanis menimbulkan respon fisiologis yang akan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh dan merelaksasikan tubuh sehingga otot-otot tubuh rileks dan meningkatkan kualitas kesehatan pada penderita hipertensi (11).

PENUTUP

Berdasarkan hasil telaah dari 10 artikel yang dilakukan, terdapat hubungan program pengelolaan penyakit kronis (prolanis) terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi yang mana hasil dari review ini menunjukan bahwa terdapat hubungan konsultasi medis/edukai, home visit, reminder, dan senam prolanis terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi.

Saran yang dapat diajukan oleh penulis bagi penderita hipertensi diharapkan dapat menjadi pengetahuan mengenai hubungan prolanis terhadap status kesehatan penderita hipertensi serta lebih rutin dalam mengikuti program agar mencapai status kesehatan yang lebih baik. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai literature dan melanjutkan penelitian ini lebih baik lagi dengan variabel, jenis dan metode yang berbeda serta membahas keseluruhan dari program ini. Bagi program studi kesehatan masyarakat diharapkan dilakukan penelitian selanjutnya untuk mengembangkan dan mengetahui lebih jelas mengenai mekanisme kausalitas hubungan prolanis terhadap tekanan darah penderita penyakit hipertensi.

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan studi yang bermanfaat pada proses belajar dan mengajar. Bagi pemegang program prolanis diharapkan dapat meningkatkan dan mempertahankan perannya sebagai motivator, edukator, konselor serta fasilitator dan lebih inovator dalam mengelola program untuk peserta agar tercapai tujuan menjadikan peserta program yang menderita hipertensi mendapatkan status kesehatan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kemenkes. Riset Kesehatan Dasar RI. Jakarta: Kemenkes RI; 2018.

2. Setyawan AB, dkk. Gambaran tingkat pengetahuan tentang hipertensi dan tingkat stres pada klien hipertensi di Klinik Islamic Center Samarinda. Husada Mahakam. Husada Mahakam:

Jurnal Kesehatan. 2017; 4(4):181-94.

3. Kemenkes. Hipertensi penyakit paling banyak diidap masyarakat [Internet]. 2019. Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/19051700002/hipertensi-penyakit-paling-banyak- diidapmasyarakat.html

4. Kementerian Kesehatan Republik. Hipertensi. Jakarta: Kementerian Kesehatan; 2018.

5. Afandi A, Pertiwi KD, Siswanto Y. Inisiasi program kegiatan senam lansia sebagai upaya pencegahan dan pengendalian terhadap penyakit tidak menular. Indonesian Journal Of Community Empowerment (IJCE). 2019; 1(1): 30-35.

6. Ginting R, dkk. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) pada lansia di Puskesmas Darussalam Medan. Jurnal Prima Medika Sains 2020; 2(2): 24-31.

7. HL Blum. Planning for health 2nd Edition. Human Sciences Press; 1981.

8. Idris F. Panduan praktis prolanis hipertensi BPJS kesehatan. Jakarta; 2014.

9. Dayanti I. Hubungan senam prolanis terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi di UPTD Puskemas Lompoe kota Parepare. JIKI Jurnal Ilmiah Kesehatan 2019; 7(2):

53-7.

10. Mulfianda R, Tahlil T, Mulyadi M. Pengaruh senam prolanis terhadap tekanan darah dan gula darah sewaktu pada lansia. Jurnal Ilmu Keperawatan. 2018; 6(2): 65-72.

11. Dyanneza F, Tamtomo D, Sugiarto S. The effectiveness of chronic disease management program in blood pressure control among hypertensive patients. Indonesian Journal Medicine.

2017; 2(1): 52-62.

(6)

12. Dewi M, Sari IP, Probosuseno. The influence of the pharmacists counseling on patient adherence and hypertension control on patient of prolanis at mitra husada clinics. Indonesian Journal Clinical Pharmacy. 2015; 4(4): 242-9.

13. Demiyanti E, Raksanagara AS, Afriandi I. Pengaruh edukasi kelompok pada pengendalian tekanan darah di anggota klub prolanis Klinik Pratama. Jurnal Sistem Kesehatan 2018; 4(2):47- 51.

14. Cakera IKI, Nopiyani NMS, Wirawan IMA. Association between participation in a chronic disease management program, medication adherence and decrease of blood pressure. Public Health Preventive Medicine Archive. 2018; 6(2): 119-123.

15. Pohan A. Hubungan senam lansia dengan penurunan tekanan darah pada lansia di Puskesmas Hessa Air Genting Kabupaten Asahan. Jurnal Centle Birth. 2019; 2(2): 1-5.

16. Saputra AI, Isramilda. Hubungan keikutsertaan senam prolanis dengan keterkontrolan tekanan darah pada pasien BPJS di Klinik Batam Sehat. Zona Kedokteran: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Batam. 2020; 9(2): 17-25.

17. Meilani N, dkk. Hubungan program prolanis dengan pengendalian penyakit hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Betoambari Kota BauBau. CORE (Community Research of Epidemiology) Journal. 2020; 1(2): 74-82.

18. Larasati N, Husna N. Pengaruh prolanis dan kepatuhan minum obat terhadap tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas Gamping 1. Media Ilmu Kesehatan 2020; 8(2): 87–93.

19. Murti FS, Josef HK, Istiono W. Prolanis Influence on Decreasing Blood Pressure of Hypertension Patients in Puskesmas Pandak II Bantul 2017. Review of Primary Care Practice and Education (Kajian Praktik dan Pendidikan Layanan Primer). 2019; 2(2): 54-59.

20. Alkaff FF, dkk. Effectivity of Indonesia chronic disease management program (Prolanis) to control hypertension and its comorbidities at primary health care. Open Access Macedonian Journal of Medical Sciences. 2020; 8(1): 224-227.

Referensi

Dokumen terkait

With the differing opinions held by researchers on how vocabulary is learned and with the increasing preferences for online reading, this research aimed to study the efficacy of an