• Tidak ada hasil yang ditemukan

LOMBA ARTIKEL

N/A
N/A
CINDY SISKA SARI

Academic year: 2025

Membagikan "LOMBA ARTIKEL"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Judul Artikel : Polusi Parah Berharap Hujan, Pajak Karbon Solusi Pembangunan Berkelanjutan Nama Penulis : Cindy Siska Sari

Kota/Kabupaten Tempat Tinggal

: Blora

Berita Buruk Polusi di Jakarta

Belakangan ini, Indonesia dikabarkan tidak baik-baik saja dengan berita polusi udara di Jakarta yang sudah dalam kondisi menghawatirkan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkapkan beberapa faktor penyebab polusi udara di Jakarta. Beberapa faktor diantaranya adalah musim dan kecepatan angin, sektor transportasi, industri, kegiatan rumah tangga serta pembakaran sampah. Setiap sektor memiliki kontribusi emisinya masing-masing. Terlepas dari perdebatan sektor apa yang menjadi penyumbang terbesar buruknya udara di Jakarta, semua faktor penyebab ini harus diatasi bersama agar tidak menimbulkan eksternalitas negatif. Menurut Aryanti, S.

(2019). Pencemaran udara berdampak terhadap kesehatan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Gangguan kesehatan ini antara lain pada saluran pernapasan, gangguan penyakit jantung, kanker, gangguan reproduksi dan hipertensi.

Pengertian Eksternalitas

Dalam ilmu ekonomi, eksternalitas diartikan sebagai pembebanan biaya pada suatu pihak sebagai efek tidak langsung dari pihak lain. Eksternalitas ini timbul ketika satu pihak membuat pihak lain menjadi lebih buruk tetapi tidak menanggung biaya dari tindakan tersebut. Dalam ekonomi lingkungan, eksternalitas ini ditunjukkan oleh polusi yang merupakan biaya yang ditanggung oleh pihak luar atau terdampak. Contohnya adalah sebuah pabrik yang melepaskan polusi udara ke lingkungan, menimbulkan biaya sosial yang tidak ditanggung oleh pemilik pabrik maupun konsumen produk yang dihasilkan dari pabrik tersebut. Selanjutnya jenis lain dari eksternalitas adalah eksternalitas konsumsi.

Jika di contoh sebelumnya pabrik berperan sebagai produsen, dalam eksternalitas konsumsi negatif, konsumen yang mengonsumsi suatu barang mengurangi kesejahteraan orang lain yang tidak mendapatkan kompensasi atas kerugian tersebut. Contohnya adalah bahaya kesehatan yang dtimbulkan akibat penggunaan kendaraan bermotor. Permasalahan polusi udara di Jakarta dengan segala faktor penyebabnya tentunya memerlukan solusi yang berkelanjutan sehingga tidak hanya menyelamatkan generasi saat ini tetapi juga memikirkan nasib generasi yang mendatang.

Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan Berkelanjutan atau dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan sebuah istilah yang luas untuk menggambarkan kebijakan, proyek, dan investasi yang memberikan manfaat saat ini tanpa mengorbankan lingkungan, sosial dan kesehatan di masa depan. Kebijakan ini bisa disebut sebagai kebijakan ramah lingkungan karena fokus pada pembatasan dampak pembangunan terhadap lingkungan. Akan tetapi manfaat pembangunan berkelanjutan tidak hanya terbatas pada lingkungan melainkan juga dirasakan di bagian kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. SDGs merupakan rencana aksi global dengan 17 tujuan dan 165 target yang mengusung tema “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”. Dasar hukum pelaksanaan SDGs di Indonesia tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pemerintah sebagai pengendali kebijakan fiskal memiliki kewenangan dalam mewujudkan SDGs di Indonesia. Salah satu instrument kebijakan fiskal yang dapat digunakan untuk mencapapai SDGs adalah kebijakan perpajakan.

(2)

Peran Pajak Mengatasi Eksternalitas Negatif

Seorang ekonom Inggris, Arthur Pigou meyakini bahwa intervensi pemerintah harus mengoreksi eksternalitas melalui perpajakan. Pajak akan meningkatkan harga pasar agar setara dengan biaya sosial sehingga para pelaku kegiatan ekonomi akan mengurangi jumlah produksi atau konsumsinya sampai optimal secara sosial, yang mana manfaat marjinalnya setara dengan biaya marjinal sosial. Pajak ini akan mendorong efisiensi pasar dengan memasukkan biaya tambahan yang timbul akibat eksternalitas negatif. Selain itu pajak juga mengurangi kegiatan yang menimbulkan eksternalitas negatif. Bahkan, pajak menghasilkan pendapatan yang tidak kecil bagi pemerintah yang selanjutnya dapat digunakan untuk kegiatan subsidi yang juga dapat menjadi solusi eksternalitas negatif. Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi eksternalitas. Apabila biaya yang ditimbulkan rendah, teorema coase dapat menjadi solusi dengan distribusi biasa eksternalitas negatf yang dinegosiasikan oleh pihak terkena dampak dengan pihak yang melanggar secara langsung. Akan tetapi, kasus polusi udara di Jakarta menimbulkan biaya yang tinggi baik biaya pengobatan 200.000 orang yang dilaporkan Menteri Kesehatan terkena penyakit ISPA maupun biaya lain-lainnya. Permasalahan polusi di Jakarta tidak relevan jika diatasi dengan teorema coase. Permasalahan ini memerlukan sebuah kebijakan yang memiliki solusi jangka panjang bagi pembagunan berkelanjutan. Eksternalitas seperti ini memerlukan intervensi pemerintah. Pemerintah dapat mengatur transaksi secara langsung, menetapkan regulasi perizinan hingga melarang operasional. Sebuah kebijakan diambil dengan melihat akar permasalahannya. Dari Vital Statistic Jakarta, terdapat lima polutan yang mendominasi seperti SO2, NOX, CO, PM 10 dan PM 2,5. Polutan utamanya adalah Particulate Matter (PM2,5) yang 67%

disumbang oleh sektor transportasi, 26,8% sektor industri dan 5,7% sektor PLTU yang berbasis batu bara. Eksternalitas yang berdampak besar bagi lingkungan memerlukan kebijakan yang berbasis pembangunan berkelanjutan. Pajak memiliki peran penting dalam pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Salah satu terobosan kebijakan perpajakan guna keberlangsungan lingkungan adalah pajak karbon. Berdasarkan data World Bank per 1 April 2022, terdapat 28 negara yang sudah menerapkan pajak karbon. Indonesia sudah memiliki dasar hukum untuk penerapan pajak karbon yaitu Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, meskipun penerapannya baru akan dilaksanakan pada tahun 2025 mendatang setelah penundaannya di tahun 2023 ini. Dengan posisi sektor transportasi sebagai penyumbang terbesar polusi udara di Jakarta, pajak karbon merpakan solusi yang tepat. Sebagaimana definisi pajak karbon itu sendiri yang tertulis dalam Tax Glossary (2015), pajak karbon secara umum adalah pajak yang dikenakan pada bahan bakar fosil.

Pengamat Pajak Danny Darussalam Tax Center (DDTC) menilai penerapan pajak karbon cocok diterapkan di Indonesia dengan tiga peran besar. Pertama, sumber pendanaan. Kedua, sebagai mitigasi perubahan iklim dan menjadi instrument yang melindungi lingkungan. Ketiga, berhasil mengurangi emisi di banyak negara yang sudah menerapkannya. Dengan demikian pajak karbon menjadi PR Pemerintah yang harus segera diimplementasikan di Indonesia. Jangan sampai menunggu keadaan Ibu Pertiwi semakin parah baru menerapkan kebijakan yang sifatnya mitigasi.

Referensi

Dokumen terkait