LAPORAN PENDAHULUAN INTRANATAL CARE
Dosen Koordinator : Monna Maharani Hidayat, M.Kep., Ns.Sp.Kep.Mat.
Dosen Pembimbing : Siti Nurbayanti A., M.Kep., Ns.Sp.Kep.Mat.
Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas
OLEH :
Yogi Agustian Mudzakkar 2450321029
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI
2025
LAPORAN PENDAHULUAN INTRANATAL CARE Rumah
Sakit
Tgl:
Nilai Tgl:
Nilai Rata-rata Ttd CI + Stempel Paraf Dosen
A. KONSEP TEORI
1. PENGERTIAN INTRANATAL CARE
Periode intranatal atau disebut juga persalinan, merupakan suatu proses pengeluaran janin dan plasenta dari uterus, dengan ditandai meningkatnya aktivitas otot rahim (intensitas dan frekuensi kontraksi) yang mengakibatkan penipisan dan pembukaan serviks serta keluarnya lendir darah (bloody show) dari vagina (Eni, 2023).
Intranatal adalah suatu proses yang dimulai dengan adanya kontraksi uterus yang menyebabkan terjadinya dilatasi progresif dari serviks, kelahiran bayi dan plasenta, dan proses tersebut merupakan proses alamiah (Nida, 2021).
Persalinan merupakan proses ketika bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal apabila prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai sejak uterus berkontraksi dan mengakibatkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) serta berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap (Fauziah, 2019).
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa intranatal atau persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari rahim ibu untuk siap hidup diluar kandungan.
2. KALA PERSALINAN
Kala dalam persalinan: (Eni, 2023) a. Kala 1
Kala 1 sering disebut juga fase pembukaan. Pada fase ini ditandai dengan kontraksi yang semakin lama semakin meningkat baik frekuensi, durasi dan intensitasnya. Selain itu pada kala 1 juga ditandai dengan melunaknya serviks. Kala 1
berlangsung selama pembukaan 0 sampai pembukaan servik lengkap (10 cm). Untuk primigravida membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam dan untuk multigravida kurang lebih 8 jam.
Selaput membran amnion atau selaput janin biasanya pecah pada tahap ini.
Peningkatan curah jantung ibu dan denyut jantung janin dapat meningkat. Penurunan motilitas/gerakan gastrointestinal, sehingga terjadinya peningkatan waktu pengosongan lambung Ibu mengalami rasa nyeri yang berhubungan dengan kontraksi uterus saat serviks membuka dan menipis.
Dalam kala 1 dibagi menjadi 2 fase yaitu fase laten dan fase aktif 1) Fase laten
Fase laten adalah tahapan awal dari kala 1. Fase laten dimulai dari pembukaan 0 (awal kontraksi) sampai pembukaan 4. Fase laten membutuhkan waktu umumnya 8 jam.
2) Fase aktif
Fase aktif terjadi setelah melalui fase laten yaitu pembukaan 4 sampai 10 atau lengkap. Rata-rata kecepatan 1 cm/jam (primigravida) dan 1- 2 cm/jam (multipara).
Dalam fase aktif, frekuensi dan lama kontraksi uterus akan terus meningkat secara bertahap. Fase aktif dibagi menjadi 3 yaitu:
a) Fase akselerasi merupakan fase dimana pembukaan 3 menjadi 4 cm. waktu yang dibutuhkan dalam fase ini adalah 2 jam
b) Fase dilatasi maksimal merupakan fase dimana pembukaan servik terjadi secara cepat yaitu dari pembukaan 4 sampai pembukaan 9 dalam waktu 2 jam
c) Fase deselerasi merupakan fase dimana terjadi perlambatan pembukaan servik dari pembukaan 9 sampai pembukaan lengkap. Dalam fase ini membutuhkan waktu 2 jam.
b. Kala II
Kala II persalinan merupakan salah satu faktor penentu kelahiran, maka dari itu kala II sering disebut dengan kala pengeluaran bayi. Kala II dimulai setelah terjadi pembukaan lengkap sampai bayi dilahirkan. Dalam fase kala II lendir darah yang dikeluarkan akan menjadi lebih banyak. Selama fase kala II kontraksi yang terjadi akan
semakin meningkat, sehingga pasien akan merasa ingin terus mengejan.
Ketuban yang pecah akan menimbulkan keluaran cairan yang mendadak, hal ini menjadi tanda pembukaan lengkap. Ketuban pecah akan diikuti dengan rasa ingin mengejan terus-menerus karena tertekannya fleksus frankenhauser. Gejala utama kala II adalah:
1) Adanya pembukaan lengkap
2) Ibu merasakan keinginan meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi 3) Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginanya.
4) Perineum terlihat menonjol
5) Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka 6) Peningkatan pengeluaran lender dan darah
2) His semakin kuat dengan interval 2-3 menit dengan durasi 50 sampai 100 detik 3) Menjelang akhir kala I ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran
cairan secara mendadak
4) Ketuban pecah pada pembukaan mendeteksi lengkap diikuti keinginan utuk mengejan karena tertekannya fleksus frankenhauser
5) Kedua kekuatan his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi:
kepala membuka pintu, subocciput bertindak sebagai hipomoglion berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung dan muka serta kepala seluruhnya
6) Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putaran paksi luar yaitu penyesuaian kepala pada panggul
7) Persalinan yang ditolong
8) Pada primigravida kala II berlangsung umumnya 1,5 jam dan pada multipara umumnya 0,5 jam
c. Kala III
Kala II disebut juga kala pengeluaran uri atau plasenta. Kala III dimulai segera setelah bayi dilahirkan sampai lahirnya plasenta lengkap. Rata-rata waktu yang dibutuhkan pada kala III adalah 15-20 menit untuk multipara dan 30 menit untuk nulipara. Hal yang harus diperhatikan pada kala ini adalah mempertahankan adanya
kontraksi.
Dalam kala III dibagi menjadi 2 fase yaitu pelepasan plasenta dan pengeluaran plasenta. Mekanisme pelepasan plasenta dimulai dari bagian tengah hingga terjadi bekuan retroplasenta. Tanda pelepasan dari tengah ini mengakibatkan tidak ada perdarahan sebelum plasenta tersebut benar- benar lahir. Setelah plasenta lepas dan menempati segmen bawah rahim, kemudian melalui servik dan vagina dikeluarkan ke introitus vaginal.
Tanda pelepasan plasenta:
1) Uterus atau fundus berubah 2) Tali pusar memanjang 3) Semburan darah Cara lepas plasenta:
1) Schultze: lepas seperti kita menutup paying, cara yang paling sering terjadi. Yang lepas duluan adalah bagian tengah lalu terjadi retroplasental hematoma yang menolak uri mula-mula pada bagian tengah kemudian seluruhnya. Menurut cara ini perdarahan ini biasanya tidak ada sebelum uri lahir
2) Duncan: lepasnya plasenta mulai dari pinggir, jadi pinggir plasenta lahir duluan.
Darah akan mengalir keluar antara selaput ketuban. Atau serempak dari tengah dan pinggir plasenta
Cara pengeluaran plasenta
1) Kunstner: dengan meletakan tangan disertai tekanan pada atau di atas simfisis. Tali pusat ditegangkan maka bila tali pusat masuk artinya belum lepas, bila diam atau maju atinya sudah lepas
2) Klein: sewaktu ada his, Rahim kita dorong, bila tali pusat kembali artinya belum lepas. Diam atau turun artinya lepas
3) Strassman: tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus, bila tali pusat bergetar artinya belum lepas. Tak bergetar artinya sudah lepas
4) Jika plasenta tidak keluar selama 30 menit setelah kelahiran bayi maka dilakukan eksplorasi
d. Kala IV
Kala IV terjadi setelah plasenta lahir lengkap dan berakhir setelah 2 jam plasenta lahir. Hal yang harus diperhatikan selama kala IV adalah observasi adanya perdarahan primer postpartum pada 2 jam pertama. 1 jam pertama obs setiap 15 menit dan 1 jam kedua tiap 30 menit. Hal yang di obs adalah ttv, tinggi fundus, kontraksi, darah yang keluar, kandung kemih. Perdarahan yang memungkinkan terjadi berasal dari plasenta rest, lupa episiotomi maupun perlukaan pada serviks. Dikatakan perdarahan abnormal bila melebihi 400 -500 cc.
3. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN
Dalam persalinan ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi kelancaran persalinan tersebut. Faktor – faktor tersebut dikenal dengan istilah 5P diantaranya yaitu: (Nida, 2021)
a. Passanger (bayi dan plasenta)
Penumpang dalam hal ini adalah bayi dan plasenta. Plasenta disebut penumpang karena juga harus melalui jalan lahir, yang dianggap sebagai penumpang penyerta bayi.
1) Ukuran kepala janin
2) Bagian terbawah janin: normalnya kepala
3) Letak janin: vertical (presentasi kepala atau sacrum) horizontal
4) Sikap janin: normalnya kepala fleksi sempurna supaya sukoksipitobregmatika (diameter terkecil kepala) memasuki panggul dengan mudah
5) Posisi janin: hubungan antara presentasi dengan 4 kuadran panggul ibu b. Passageway (jalan lahir)
Passageway adalah keadaan jalan lahir, jalan lahir mempunyai kedudukan penting dalam proses persalinan untuk mencapai kelahiran bayi. Dengan demikian evaluasi jalan lahir merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah persalinan dapat berlangsung pervaginam atau sectio sesaria. Bentuk panggul umumnya ginekoid, ada juga android (panggul pria), anthropoid (segitiga), platipelloid (pipih).
Pada jalan lahir lunak yang berperan pada persalinan adalah segmen bawah rahim, servik uteri dan vagina. Disamping itu otot - otot jaringan ikat dan ligamen yang menyokong alat - alat urogenital juga sangat berperan pada persalinan. Kontraksi
menyebabkan korpus uteri menjadi 2, yaitu bagian atas tebal berotot dan bagian bawah berotot pasif dan tipis. Kontraksi korpus menyebabkan janin tertekan kebawah terdorong ke serviks, serviks menipis dan berdilatasi sehingga memungkinkan presentasi janin masuk ke vagina, vagina mengembang memungkinkan janin keluar.
c. Power (kekuatan)
Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi dari ligament. Jenis kekuatan yang dimaksud ada 2 yaitu :
1) Primary Power His (kontraksi uterus)
Kontraksi uterus, penurunan bayi, serviks membuka. His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang di mulai dari daerah fundus uteri.
Pada waktu berkontraksi, otot – otot rahim menguncup sehingga menjadi menebal dan lebih pendek. Kafum uteri menjadi lebih kecil serta mendorong janin dan kantong amnion ke arah segmen bawah rahim dan cervik. His memiliki sifat :
a) Involutir b) Intermiten c) Terasa sakit d) Terkoordinasi
e) Serta kadang dipengaruhi oleh fisik, kimia, psikis f) Durasi 30-90 detik, rata-rata 1 menit
g) Diantara kontraksi terdapat fase istirahat h) Fase istirahat: 10 – 3 mnt
i) Fase istirahat akan semakin memendek
j) Keuntungan fase istirahat: peningkatan aliran darah pada otot uterus dan Peningkatan aliran darah pd janin
k) Kekuatan/ intensitas: satuannya mmHg l) 20 – 75 mmHg
m) Rata Rata 60 mmHg
n) 20 mmHg: tidak akan menimbulkan dilatasi serviks 2) Secondary Power (mengejan)
Segera setelah bagian presentasi mencapai dasar panggul, sifat kontraksi berubah, yakni bersifat mendorong keluar, wanita merasa ingin mengedan atau usaha untuk mendorong kebawah (kekuatan skunder).
a) Menghasilkan peningkatan tekanan intraabdomen b) Ada rangsang utk mengedan yg tdk tertahankan
c) Rangsang berasal dari kepala janin/ bagian presentasi janin mencapai dasar panggul dan dilatasi serviks lengkap
d) Nafas dalam
e) Kontraksi otot abd dengan glotis tertutup f) Mengedan bersamaan dengan kontraksi
g) Mengedan dilakukan ketika dilatasi serviks lengkap
h) Dampak negative: Mengedan yang dilakukan sebelum pembukaan serviks lengkap dapat menyebabkan edema serviks sehingga menghambat persalinan.
d. Position (posisi ibu melahirkan)
Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologis persalinan. Posisi tegak memberi sejumlah keuntungan mengubah posisi membuat rasa letih hilang, memberi rasa nyaman dan memperbaiki sirkulasi. Posisi tegak meliputi posisi berdiri , berjalan, duduk , dan jongkok.
Posisi berdiri:
1) Gaya gravitasi membantu penurunan janin 2) Mengurangi penekanan tali pusat
3) Mengurangi penekanan aorta desenden dan vena kava asenden shg suplai darah baik
= kontraksi uterus kuat dan efisien= penipisan & dilatasi serviks baik Duduk dan jongkok:
1) Otot otot abdomen bekerja lebih sinkron dengan kontraksi uterus
= saling menguatkan
e. Psychologic (psikologi ibu)
Persiapan psikologis ibu menjadi satu hal yang penting dalam menjalani persalinan. Semakin ibu memahami bahwa proses persalinan adalah suatu yang normal dan dijalani oleh setiap wanita maka ibu akan menjadi mudah bekerja samaa dengan petugas kesehatan yang menolong persalinannya. Ibu harus tenang jangan cemas atau takut. Nanti sekresi katekolamin meningkat, penurunan aliran darah panggul dan peningkatan tegangan otot yang akan merangsang rasa neyri ke otak sehingga kontraksi uterus menurun dan terjadi penghambatan kemajuan persalinan.
4. KEBUTUHAN INTRANATAL CARE
Menurut Lesser & Keane ada 5 kebutuhan dasar bagi ibu bersalin diantaranya:
a. Asuhan fisik dan psikologis
b. Kehadiran pendamping secara terus menerus c. Pengurangan rasa sakit
d. Penerimaan atas sikap dan perilakunya
e. Informasi dan kepastian tentang hasil persalinan yang aman.
5. MANAJEMEN NYERI PERSALINAN
Tahap nyeri persalinan: (Asmara et al., 2022)
a. Tahap 1 (pembukaan) nyeri diakibatkan oleh kontraksi rahim dan peregangan mulut rahim
b. Tahap 2 (pengeluaran bayi) nyeri akibat peregangan dasar panggul dan tidak jarang sebagai akibat pengguntingan episiotomy jika diperlukan
c. Tahap 3 (pelepasan plasenta) memberikan sensasi nyeri yang sangat minimal d. Tahap 4 nyeri timbul lebih merupakan akibat penjahitan luka perineum akibat robekan
dengan atau tanpa episiotomy Manajemen nyeri ada 2:
a. Farmakologi (obat)
1) Analgetik non opioid OAINS (nyeri ringan) 2) Analgesic opioid (nyeri sedang)
3) Adjuvant/koanalgetik b. Non Farmakologi
1) Distraksi 2) Massase 3) Aromaterapi
4) Relaksasi pernapasan dalam 5) Kompres hangat
6. KOMPLIKASI / PENYULIT INTRANATAL
Komplikasi yang dapat terjadi diantaranya: (Dewi, 2021) a. Komplikasi kala I
1) Partus lama, biasanya terkait kondisi uterus yang tidak adekuat atau dilatasi serviks yang tidak sempurna
2) Ketuban pecah dini (KPD), yaitu pecahnya ketuban sebelum ada tanda-tanda impartu
3) Asfiksia, yang dapat menyebabkan intrauterine fetal death (IUFD) 4) Sepsis neonatorum, dapat terjadi karena infeksi akibat KPD b. Komplikasi kala II
Komplikasi pada ibu melahirkan kala II adalah distosia atau persalinan kala II yang memanjang. Di mana waktu persalinan pada primipara lebih dari 2 jam, atau pada multipara lebih dari 1 jam, tanpa anestesi epidural anestesi. Kondisi ini dapat menyebabkan risiko korioamnionitis, endometritis, infeksi saluran kemih, dan retensi urin.
Distosia dapat terjadi akibat lilitan tali pusat atau bayi besar/makrosomia.
Setelah lahir, kepala bayi perlu diperiksa apakah ada lilitan tali pusat di leher, karena dapat menyebabkan komplikasi pada janin seperti hipovolemia, anemia, syok hipoksik- iskemik, bahkan ensefalopati. Janin makrosomia dapat menyebabkan distosia bahu.
c. Komplikasi kala III
Pada kala III, komplikasi yang dapat terjadi adalah retensio plasenta, yaitu
plasenta tidak lahir spontan dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir. Pada keadaan ini, perlu dilakukan tindakan manual plasenta. Retensio plasenta dapat menyebabkan perdarahan postpartum.
d. Komplikasi kala IV
Pada kala IV, komplikasi yang paling sering terjadi adalah perdarahan postpartum, yaitu jumlah perdarahan pervaginam setelah bayi lahir lebih dari 500 cc atau dapat mempengaruhi hemodinamik pasien. Penyebab perdarahan postpartum terdiri dari 4T, yaitu tone (atonia uteri), tissue (sisa jaringan plasenta), trauma (ruptur uteri, serviks, atau vagina), dan thrombin (gangguan faktor koagulopati).
1) Atonia Uteri
Atonia uteri akan segera terlihat segera setelah bayi lahir. Tanda kontraksi uterus tidak baik adalah uterus teraba lembek. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan masif sehingga pasien mengalami syok hipovolemik.
2) Sisa Jaringan Plasenta, Plasenta yang dikeluarkan tidak lengkap dan tertinggal di dalam uterus, dapat menyebabkan perdarahan pervaginam hingga 6-10 hari setelah partus.
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang pada periode persalinan diantaranya: (Eni, 2023) a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan urine protein (Albumin)
2) Untuk mengetahui adanya risiko pada keadaan preeklamsi maupun adanya gangguan pada ginjal dilakukan pada trimester II dan III.
3) Pemeriksaan urin gula
4) Pemeriksaan darah (Hb, leukosist, trombosit dll)
b. Ultrasonografi (USG): Alat yang menggunakan gelombang ultrasound untuk mendapatkan gambaran dari janin, plasenta dan uterus.
c. Stetoskop Monokuler: Mendengar denyut jantung janin, daerah yang paling jelas terdengar DJJ, daerah tersebut disebut fungtum maksimum.
d. Memakai alat Kardiotokografi (KTG): Kardiotokografi adalah gelombang ultrasound
untuk mendeteksi frekuensi jantung janin dan tokodynomometer untuk mendeteksi kontraksi uterus kemudian keduanya direkam pada kertas yang sama sehingga terlihat gambaran keadaan jantung janin dan kontraksi uterus pada saat yang sama
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN
a. Identitas Pasien: Nama, jenis kelamin, suku/budaya, agama, tingkat pendidikan, dll.
b. Riwayat Obstetri
1) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
2) Riwayat kehamilan sekarang, meliputi: keadaan waktu hamil keluhan yang di rasakan selama hamil, imunisasi dan pemeriksaan selama, kehamilan (ANC), hamil ke berapa
3) Riwayat Ginekologi
a) Riwayat menstruasi: Menarche, siklus haid, lama haid, banyak haid, dismenorhoe, HPHT, HPL
b) Riwayat pernikahan: Usia pernikahan suami-istri, pernikahan
c) Riwayat KB: Apakah klien mengikuti program KB/tidak, Jenis KB yang di gunakan
4) Riwayat Kesehatan Keluarga: Apakah dalam keluarga terdapat penyakit keturunan, ataupun penyakit menular.
c. Pemeriksaan Fisik
1) Penampilan atau keadaan umum
2) Tingkat kesadaran: umumnya sadar penuh 3) Tanda-tanda vital
4) Kepala: warna rambut, kebersihan, keluhan nyeri atau tidak, lesi ada atau tidak, edema ada atau tidak
5) Mata: fungsi penglihatan, tanda-tanda anemis ada atau tidak, warna kornea, sklera ikterik atau tidak
6) Hidung: fungsi penciuman, adanya nyeri tekan ada atau tidak, kesimetrisan, kebersihan, kesimetrisan, kebersihan
d. Pengkajian 1) Kala I
a) Memeriksa tanda-tanda vital.
b) Mengkaji kontraksi tekanan uterus dilatasi serviks dan penurunan karakteristitik yang mengambarkan kontraksi uterus: frekuensi, internal, intensitas, durasi, tonus.
c) Penipisan serviks, evasemen mendahului dilatasi serviks pada kehamilan pertama dan sering diikuti pembukaan dalam kehamilan berikutnya.
d) Pembukaan serviks adalah sebagian besar tanda-tanda yang menentukan bahwa kekuatan kontraksi uterus yang efektif dan kemajuan persalinan.
e) Palpasi abdomen (Leopold) untuk memberikan informasi jumlah fetus, letrak janin, penurunan janin.
f) Pemeriksaan Vagina: membran, serviks, foetus, station.
2) Kala II
a) Tanda yang menyertai kala II: Keringat terlihat tiba-tiba diatas bibir, adanya mual, bertambahnya perdarahan, gerakan ekstremitas, pembukaan serviks, his lebih kuat dan sering, ibu merasakan tekanan pada rektum, merasa ingin BAB, ketuban +/-
, perineum menonjol, anus dan vulva membuka, gelisah mengatakan saya ingin BA, pada waktu his kepala janin tampak di vulva.
b) Melakukan monitoring terhadap: His (frekuensi, kekuatan, jarak, intensitas), keadaan janin (penurunan janin melalui vagina), kandung kemih penuh/tidak, nadi dan tekanan darah.
c) Durasi kala II → kemajuan pada kala II: Primigravida berlangsung 45– 60 menit, multipara berlangsung 15 – 30 menit.
3) Kala III
a) Pelepasan plasenta ditandai oleh tanda-tanda berikut:
(1) Adanya kontraksi fundus yang kuat
(2) Perubahan pada bentuk uterus dari bentuk lonjong ke bentuk bulat pipih sehingga plasenta bergerak kebagian bawah
(3) Keluarnya darah hitam dari introuterus
(4) Terjadinya perpanjangan tali pusat sebagai akibat plasenta akan keluar.
(5) Penuhnya vagina (plasenta diketahui pada pemeriksaan vagina atau rektal, atau membran poetus terlihat pada introitus).
b) Status Fisik mental
Perubahan secara psikologi setelah melahirkan akan dijumpai, curah jantung meningkat dengan cepat pada saat sirkulasi maternal ke plasenta berhenti.
didapatkan melalui pemeriksaan: Suhu, nadi, dan pernafasan, pemeriksaan terhadap perdarahan (warna darah dan jumlah darah)
c) Tanda-tanda masalah potensial: Saat praktisi keperawatan primer mengeluarkan plasenta perawat mengobservasi tanda-tanda dari ibu, perubahan tingkat kesadaran atau perubahan pernafasan
4) Kala IV
a) Tanda tanada vital: Vital sign dapat memberikan data dasar untuk diagnosa potensial, komplikasi seperti perdarahan dan hipertermia. Pada kala IV observasi vital sign sangat penting untuk mengetahui perubahan setelah melahirkan seperti: pulse biasanya stabil sebelum bersalin selama 1 jam pertama dan mengalami perubahan setelah terjadi persalinan yaitu dari cardiovaskuler.
b) Kandung kemih: Dengan observasi dan palpasi kandung kemih. Jika kandung kemih menengang akan mencapai ketinggian suprapubik dan redup pada perkusi. Kateterisasi mungkin diperlukan mencegah peregangan kandung kemih dan retensi kandung kencing jika klien tidak bisa kencing.
c) Lochea: Jumlah dan jenis lochea dikaji melalui observasi perineum ibu dan kain dibawah bokong ibu. Jumlah dan ukuran gumpalan darah jika dilihat dicatat hasil dan bekuannya.
d) Perinium: Perawat menanyakan kepada ibu atau menganjurkan untuk
mengiring dan melenturkan kembali otot otot panggul atas dan dengan perlahan- lahan mengangkat bokong untuk melihat perineum.
e) Temperatur: Temperatur ibu diukur saat satu jam pertama dan sesuaikan dengan keadaan temperatur ruangan. Temperatur biasanya dalam batas normal selama rentang waktu satu jam pertama, kenaikan pada periode ini mungkin berhubungan dengan dehidrasi atau kelelahan.
f) Kenyamanan: Kenyamannan ibu dikaji dan jenis analgetik yang didapatkan selama persalinan akan berpengaruh terhadap persepsi ketidaknyamanannya.
g) Tanda-tanda potensial masalah: Karena pendarahan dapat menyebabkan potensial masalah komplikasi, perawat harus waspada adanya potensial komplikasi.
2. ANALISA DATA
No Data Etiologi Masalah
Keperawatan 1. DS:
a. Pasien mengeluh nyeri
DO:
a. Tampak meringis b. Tampak gelisah a. Berfokus pada diri
sendiri
Proses persalinan
↓
Kontraksi uterus partum
↓
Bagian bawah janin menurun
↓
Peregangan otot jalan lahir
↓ Dilatasi serviks
↓
Perangsangan saraf sensori
↓
Proses transmisi, transduksi, modulasi, persepsi
↓ Nyeri
Nyeri Melahirkan
3. DS:
DO:
a. Faktor risiko:
pelepasan plasenta
Proses persalinan
↓
Pelepasan plasenta
↓
Risiko perdarahan
Risiko perdarahan
4. DS:
b. Mengeluh lelah DO:
a. Tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin b. Tampak lesu
Proses persalinan
↓
Peningkatan metabolisme
↓
Energy berkurang
↓ Keletihan
Keletihan
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Kala I: Nyeri melahirkan bd dilatasi serviks dd mengeluh nyeri, meringis, gelisah berfokus pada diri sendiri (D.0077)
b. Kala II: Nyeri melahirkan bd pengeluaran janin dd ekspresi wajah meringis nadi meningkat, ketegangan otot meningkat (D.0079)
c. Kala III: Risiko perdarahan dd pelepasan plasenta (D.0012)
d. Kala IV: Keletihan bd kondisi fisiologis (persalinan) dd pasien mengeluh lelah, tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin, tampak lesu (D.0057)
4. INTERVENSI Kala I
No Diagnosa Tujuan Intervensi
1. Nyeri akut bd agen pencedera fisiologis (persalinan) dd pasien mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah, berfokus pada diri sendiri, bersikap protektif (D.0077)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil: (L.08066)
a. Keluhan nyeri menurun
b. Meringis menurun c. Gelisah menurun d. Berfokus pada diri
sendiri menurun
Manajemen Nyeri (I.08238) Observasi:
a. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
b. Identifikasi skala nyeri.
c. Identifikasi respons nyeri nonverbal.
d. Identifikasi faktor yang
memperberat dan
memperingan nyeri.
e. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup.
f. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan.
g. Monitor efek samping penggunaan analgetik.
Terapeutik:
a. Berikan teknik
nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis:
TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain), teknik distraksi dan teknik relaksasi.
b. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan).
c. Fasilitasi istirahat & tidur Edukasi:
a. Jelaskan penyebab, metode, dan pemicu nyeri.
b. Jelaskan strategi meredakan nyeri.
c. Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri.
d. Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat.
e. Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
Kolaborasi:
a. Kolaborasi pemberian analgetic, jika perlu
Kala II
No Diagnosa Tujuan Intervensi
2. Nyeri melahirkan bd pengeluaran janin dd ekspresi wajah meringis nadi meningkat, ketegangan otot meningkat (D.0079)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil: (L.08066)
a. Meringis menurun b. Ketegangan otot
menurun c. Nadi membaik
Terapi Relaksasi (I.09326) Observasi
a. Identifikasi penurunan tingkat energy
b. Identifikasi teknik relaksasi yang pernah digunakan c. Monitor respon terhadap
relaksasi Terapeutik
a. Ciptakan lingkungan tenang tanpa gangguan
b. Gunakan nada suara lembut c. Gunakan relaksasi sebagai
strategi penunjang Edukasi
a. Anjurkan mengambil posisi nyaman
b. Anjurkan relaks dan merasakan sensasi relaksasi
Kala III
No Diagnosa Tujuan Intervensi
3. Risiko perdarahan dd pelepasan plasenta (D.0012)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan tingkat perdarahan menurun dengan kriteria hasil:
(L.02017)
a. Perdarahan vagina menurun
b. Hemoglobin membaik
c. Suhu tubuh membaik
Pencegahan Perdarahan (I.02067)
Observasi:
a. Monitor tanda dan gejala perdarahan
b. Monitor nilai
hematocrit/Hb sebelum dan sesudah kehilangan darah c. Monitor tanda-tanda vital
ortostatik
d. Monitor koagulasi Terapeutik
Pertahankan bed rest
b. Batasi tindakan invasive c. Gunakan Kasur pencegah
decubitus Edukasi
a. Jelaskan tanda dan gejala perdarahan
b. Anjurkan meningkatkan cairan, makanan dan vitamin k
c. Anjurkan segera melapor jika terjadi perdarahan Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian obat pengontrol darah
b. Kolaborasi pemberian produk darah
c. Kolaorasi pemberia pelunak tinja
Kala IV
No Diagnosa Tujuan Intervensi
4. Keletihan bd kondisi fisiologis (persalinan) dd pasien mengeluh lelah, tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin, tampak lesu (D.0057)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam diharapkan tingkat keletihan membaik dengan kriteria hasil:
(L.05046))
a. Lesu menurun b. Verbalisasi lelah
menurun c. Kemampuan
melakukan
aktivitas rutin meningkat
Manajemen Energi (I. 05178) Observasi:
a. Monitor kelelahan fisik dan emosional
b. Monitor pola dan jam tidur c. Monitor lokasi dan
ketidaknyamanan selama aktivitas
Terapeutik:
a. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulasi
b. Lakukan latihan rentan gerak pasif/aktif
c. Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur
Edukasi:
a. Anjurkan tirah baring b. Anjurkan beraktivitas
secara bertahap Kolaborasi:
a. Kolaborasi dengan ahli gizi cara meningkatkan asupan makanan
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, R. S. (2013). Asuhan Keperawatan Pada Ny K Dengan Intranatal.
Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Asmara, R., Iskandar, S., Djusmalinar, & Nawani, Y. (2022). Asuhan Keperawatan Dengan Tindakan Terapi Su-Jok (Telapak Tangan dan Kaki) Untuk Menurunkan Rasa Nyeri Persalinan Kala 1 Pada Ibu Intranatal.
Jurnal Ilmu Kesehatan, 1(2), 1–5.
Dewi, K. L. (2021). Asuhan Keperawatan Intranatal Pada Ny. N Dengan Ketuban Pecah Dini Di Ruang Vk Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Journal of Midwifery and Reproduction, 1–131.
Eni. (2023). Konsep Persalinan. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., Mi, 5–24.
Fauziah, A. (2019). Penerapan Aromaterapi Inhalasi. Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 8–33.
Nida, F. M. (2021). Asuhan Keperawatan Intranatal Normal Pada Ny. R di Ruang VK RSI Sultan Agung Semarang. Karya Tulis Ilmiah Program Studi Diploma III Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang 2021, 1–110.
Patricia, C. O. S. (2021). ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF ANTENATAL CARE TRIMESTER III PADA Ny “Y” G1P0A0 di WILAYAH KERJA PMB “A” KABUPATEN JEMBER. Jurnal Ilmiah
Obsgin, 3(2), 6.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.
TIM Pokja SLKI DPPPPNI. 2018. Satandar Luaran Keperawatana Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.