• Tidak ada hasil yang ditemukan

MONOGRAF Pesona Kearifan Budaya Megalitik Masyarakat Etnik Kaili Sebagai Sumber Belajar Sejarah

N/A
N/A
Abdul Hamzah

Academic year: 2023

Membagikan "MONOGRAF Pesona Kearifan Budaya Megalitik Masyarakat Etnik Kaili Sebagai Sumber Belajar Sejarah"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

Pesona Kearifan Budaya Megalitik pada Masyarakat Etnis Kaili Sulawesi Tengah menjadi kajian menarik sebagai sumber pembelajaran sejarah di Sulawesi Tengah. Masalah Pesona Kearifan Budaya Megalitik Provinsi Sulawesi Tengah mempunyai peradaban budaya berupa peninggalan zaman para arkeolog berupa kota megalitik yang identik dengan nama Vatu Nonju (lumpang Batu), sebagai wujud kebudayaan pada masa lalu yang memberikan gambaran tentang kehidupan dan aktivitas masyarakat daerah Sigi pada masa lampau. Tinggalan Megalitikum di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah yang menjadi sarana penelitian terletak di 2 (dua) wilayah Kabupaten Sigi Kota yaitu Desa Watunonju dan Kecamatan Sigi Biromaru yaitu Desa Loru.

Desa Watunonju terletak di Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, yang mempunyai penduduk asli Watunonju yang berasal dari Sigimpu (sebenarnya Sigi), yaitu suatu wilayah di Divisi Palolo, sekitar 28 km dari Desa Watunonju. Terletak di 2 (dua) desa, megalit merupakan peninggalan unik berupa nilai tradisi lisan yang masih bertahan hingga saat ini, yaitu menurut legenda peninggalan megalitik ini mempunyai kekuatan sakral yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam beraktivitas. .agama pada zaman dahulu sebelum masuknya kepercayaan atau agama di wilayah Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Menyikapi hal tersebut untuk mendorong kecintaan terhadap budaya di kalangan generasi muda, maka kajian penelitian ini menarik untuk menelusuri dokumentasi dan inventarisasi peninggalan megalitik berupa budaya megalitik atau lesung batu di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. .

Mengingat wilayah Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah termasuk wilayah zona merah, maka peninggalan budaya megalitik tersebut penting untuk difoto dan dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah di Sulawesi Tengah. Khusus masyarakat Sulawesi Tengah yang pertama kali menelitinya adalah Masyudin Masyuda (seorang budayawan Sulawesi Tengah) pada tahun 1972.

Inventarisasi Situs Megalith Desa Loru

Inventarisasi Situs Lumpang Batu di Desa Vatu Nonju

Mortar Batu pada Gambar 16 merupakan mortar baru yang mempunyai ciri-ciri dan dimensi yaitu panjang 57 cm, lebar 45 cm, tinggi 20 cm dan kedalaman lubang 5 cm dengan diameter lubang 13 cm. Lumpang batu pada gambar 17 mempunyai dimensi i dengan panjang 75 cm, lebar 54 cm, tinggi 25 cm dan kedalaman lubang 10 dengan diameter lubang 14 cm. Lumpang batu ini berukuran panjang 64 cm, lebar 58 cm, tinggi 58 cm dan kedalaman lubang 12 cm dengan diameter lubang 17 cm.

Lumpang batu ini berukuran panjang 101cm, lebar 81cm, tinggi 38cm dan mempunyai kedalaman lubang 13cm dengan diameter lubang 19cm. Lumpang batu (rusak) ini berukuran panjang 60cm, lebar 38cm, tinggi 39cm dan mempunyai kedalaman lubang 13cm dengan diameter lubang 18cm. Lumpang batu ini berukuran panjang 112cm, lebar 95cm, tinggi 36cm dan kedalaman 14cm dengan diameter lubang 8cm.

Lumpang batu (rusak) ini berukuran panjang 72cm, lebar 55cm, tinggi 15cm dan kedalaman 10cm dengan diameter lubang 16cm. Lumpang batu ini berukuran panjang 118cm, lebar 69cm, tinggi 48cm dan kedalaman 14cm dengan diameter lubang 19cm. Lumpang batu (tanpa lubang) ini berukuran panjang 76 cm, lebar 45 cm, dan tinggi 28 cm.

Lumpang batu ini berukuran panjang 140cm, lebar 91cm, tinggi 41cm dan kedalaman 11,2cm dengan diameter lubang 17cm. Lumpang batu ini berukuran panjang 95cm, lebar 78cm, tinggi 64cm dan mempunyai kedalaman lubang 13cm dengan diameter lubang 13cm. Lumpang batu (rusak) ini berukuran panjang 75cm, lebar 84cm, tinggi 47cm dan kedalaman 12cm dengan diameter lubang 17cm.

Lumpang batu ini berukuran panjang 55 cm, lebar 40 cm, tinggi 25 cm dan kedalaman lubang 5 cm dengan diameter lubang 9 cm. Lumpang batu ini berukuran panjang 34 cm, lebar 63 cm, tinggi 40 cm dan kedalaman lubang 10 cm dengan diameter lubang 16 cm. Lumpang batu ini berukuran panjang 87 cm, lebar 55 cm, tinggi 36 cm dan mempunyai kedalaman lubang 12 cm dengan diameter lubang 18 cm.

Gambar 13. Bentuk asli Vatu Nonju dengan model  yang berbeda (Dokumentasi Misnah  2022)
Gambar 13. Bentuk asli Vatu Nonju dengan model yang berbeda (Dokumentasi Misnah 2022)

Fungsi Megalith di Desa Loru

Fungsi Megalith di Desa Vatu Nonju

Situs megalit batu lesung di desa Vatu Nonju saat ini menjadi situs batu lesung di desa Watunonju kecamatan Sigi Kota. Situs Megalit Taman Purbakala di Desa Vatu Nonju merupakan kawasan atraksi budaya megalitik di kawasan taman purbakala yang berupa tinggalan lesung batu. Peninggalan lesung batu megalitikum ini merupakan salah satu bentuk peninggalan yang digunakan oleh masyarakat pendukung budaya ini sebagai alat untuk mengolah berbagai makanan, dan digunakan oleh masyarakat pendukung budaya ini untuk menggiling bahan makanan.

Fungsi lain yang ditemukan melalui hasil wawancara dengan tokoh adat Desa Bora menjelaskan bahwa peninggalan lumpnag batu yang terletak di desa Vatu Nonju merupakan tempat masyarakat mengadakan pesta panen hasil pertanian, sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat pada masa lampau. Kawasan yang digunakan masyarakat untuk situs lumpnag batu adalah masyarakat untuk melakukan upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil yang diperoleh. Berdasarkan penjelasan di atas dapat memberikan gambaran bahwa peninggalan budaya megalit Lumpang Batu yang terletak di Desa Vatu Nonju menggambarkan tingginya tingkat peradaban masyarakat pendukung budaya tersebut pada masa lalu, dan dari hasil tradisi lisan yang ada. telah diberitahu. oleh para informan memberikan gambaran tentang peradaban masyarakat tersebut. Sangat terlihat bahwa kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan interaksi antara masyarakat dengan alam sangat terjalin dengan baik, yaitu melalui upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, sebagai wujud rasa syukur yang mendalam. bagi masyarakat yang mendukung budaya tersebut melalui upacara adat yang dilakukan.Di kawasan situs megalitikum dan hasil pertanian diolah menjadi bahan makanan yang berguna bagi penduduk setempat dengan menggunakan lesung batu atau Vatu Nonju untuk mengolahnya. Orang-orang mengolah makanan dengan menumbuk biji-bijian, beras, atau tanaman lainnya di dalam Vatu Nonju atau lesung batu.

Provinsi Sulawesi Tengah khususnya di Kabupaten Sigi Biromaru merupakan daerah yang mempunyai bentuk peninggalan sejarah yang mempunyai nilai sejarah dan keanekaragaman yang unik yaitu lesung batu (Vatu = Batu, Nonju = Benturan) Batu untuk pemukul hasil pertanian yang tersebar di beberapa wilayah. yaitu Desa Loru, Desa Bangga dan Desa Watunonju. Bentuk peninggalan ini penting sebagai sumber belajar bagi pelajar, mahasiswa yang akan memanfaatkannya sebagai sumber belajar sejarah lokal di Sulawesi Tengah untuk pengembangan akademik dan pendidikan berbasis budaya daerah. Menggunakan situs peninggalan budaya megalitik sebagai sumber pembelajaran yang dapat menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat pada masa lampau dikaitkan dengan suatu peristiwa terkait fungsi lesung batu pada situs megalit pada masa itu.

Situs megalitikum di Kabupaten Sigi ini juga merupakan potret masa lalu yang dapat dijadikan sebagai tempat wisata yang mempunyai nilai pendidikan, ilmu pengetahuan, seni dan warisan leluhur yang mempunyai nilai berharga dalam aktivitas kehidupan masyarakat pendukungnya. . budaya. Melalui situs peninggalan megalitikum di Kabupaten Sigi dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menarik bagi siswa serta mengajarkan mereka tentang benda cagar budaya yang ada di daerah atau tempat tinggal siswa dan siswi. Pemanfaatan peninggalan megalitikum yang terletak di Kabupaten Sigi dengan cara mengenalkan kepada pelajar dan mahasiswa kekayaan produk budaya daerah sebagai aset daerah yang patut dilestarikan kelestariannya sebagai bentuk warisan budaya generasi baru.

Hal ini dikarenakan siswa dapat melihat secara langsung hasil peninggalan budaya megalitik yang awalnya hanya mereka bayangkan, dan melalui kunjungan ke situs sejarah siswa dapat merasakan proses pembelajaran yang kontekstual.

Gambar 31.  Pemanfaatan Vatu Nonju Sebagai Sumber  Belajar (Dokumentasi Misnah 2022)
Gambar 31. Pemanfaatan Vatu Nonju Sebagai Sumber Belajar (Dokumentasi Misnah 2022)

Kesimpulan

Saran – Saran

Misnah, S.Pd.M.Pd, merupakan calon guru besar di Kampus Universitas Tadulako, Provinsi Sulawesi Tengah, dan anak pertama dari pasangan Djufri Potabuga (almarhum) dan Mariati Marahudo. Penulis merupakan dosen tetap pada Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (P.IPS) pada mata kuliah sejarah Universitas Tadulako (Untad) Sulawesi Tengah. Penulis saat ini menjabat pada tahun 2021-2025 sebagai ketua program studi Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (P.IPS) dan Magister Pendidikan Sejarah Universitas Tadulako, serta ketua Persatuan Ahli Sejarah Sulawesi periode 2022-2026 .

Penulis juga saat ini menjabat sebagai Ketua Persatuan Penulis Guru Indonesia Wilayah Sulawesi Tengah. Keahlian penulis dalam mengembangkan kearifan lokal dalam pengajaran sejarah dan IPS di Sulawesi Tengah. Universitas Negeri Makassar ((UNM), dan pada tahun 2014 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Pascasarjana Jenjang Doktor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, pada Program Studi Pendidikan Ilmu Sosial (P.IPS) dan meraih gelar Doktor pada tahun 1018.

Selain aktif dalam kegiatan akademik di Universitas Tadulako, penulis juga menjadi pembicara di berbagai seminar, workshop, dan narasumber nasional dan internasional dalam pengembangan pembelajaran sejarah lokal. Beberapa karya yang dihasilkan antara lain Seminar International Expo Pendidikan IPS dalam Menanggapi Permasalahan Ekologis 18 Agustus 2014, Seminar Etnhopedagogi Kearifan Lokal Sebagai Sumber Pembelajaran Tentang Sejarah Lokal 14 November 2015 Banjarmasin, International Comprence On Education Keguruan dan Fakultas Kependidikan pimpinan Universitas Tadulako “Filosofi Hintuwu dan Katuwua Sebagai Sumber Belajar dalam Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Kalangan Masyarakat Adat Kulawi”, Mei 2017 dan Mempromosikan Kearifan Budaya Nosialampale Melalui Pendekatan Etno-Pedagogis dalam Pengajaran Sejarah, Surat Ilmiah Tingkat Lanjut 2017 dan Pelestarian Lingkungan Hidup Melalui Hukum Adat Setempat Givu Hikmah Etnis Kaili Sulawesi Tengah 2018. Karya terbaru penulis dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, penulis mempunyai makalah jurnal dan prosiding internasional yang terindeks Scopus. Terdapat 15 makalah dan prosiding jurnal yang terindeks Scopus, terdaftar di scopus.com, selain karya penulis dan humas tahun 2018, yaitu sebagai berikut: (1), Jurnal terakreditasi Jurnal Sinta 1 Paramitha dengan judul Mengintegrasikan Nilai-Nilai Nosampesuvu ​Dalam Pembelajaran Sejarah Sebagai Resolusi Konflik di Sulawesi Tengah Tahun 2021.

3 Desember Filsafat Sintuwu dan Katuwu sebagai sumber belajar dalam pengajaran IPS di kalangan penduduk asli Kulawi. Dalam Ilmu Pengetahuan Sosial, Jilid Melestarikan Kearifan Budaya Nosialampale Melalui Pendekatan Etno Pedagogik Dalam Pengajaran Sejarah. 4), memegang hak cipta poster beasiswa PhD yang berjudul Nilai-Nilai Kearifan Lokal Etnis Kaili Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Lokal di Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Sigi. Karya tersedia di akun Misnah.

Karya-karya yang dilakukan pada tahun 2019 adalah (1) Pelestarian lingkungan melalui hukum adat Givu setempat dalam kearifan Erhnic Kaili Sulawesi Tengah.

Gambar

Gambar 2. Bentuk asli Vatu Nonju atau lumping batu  daerah Loru (Dokumentasi Misnah 2022)
Gambar 3. Bentuk asli Vatu Nonju atau Lumpang Batu  (Dokumenatsi Misnah 2022)
Gambar 4. Bentuk asli Vatu Nonju dengan ukuran yang   berbeda (Dokumentasi Misnah 2022)
Gambar 5. Bentuk asli Vatu Nonju dengan model yang  berbeda (Dokumentasi Misnah 2022)
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait