Meskipun penulis memaparkan berbagai gaya bahasa majiz yang terdapat dalam Al-Qur'an, namun penelitian dalam skripsi ini mencoba melihat majiz lebih dari sisi kognitifnya dibandingkan dari sisi estetikanya. Setelah menemukan judul yang dirasa cocok, bukan berarti selesai permasalahannya, karena permasalahan selanjutnya adalah ke mana arah kajian majiz dalam Al-Qur'an. Namun MPA (Dewan Pembina Akademik) tidak sependapat, dan menyarankan agar persoalan gaya bahasa majiz dibatasi hanya pada: majiiz dalam Al-Qur'an.
Penulis menggunakan majiiz sebagai pendekatan untuk memahami pluraliti makna yang terkandung dalam al-Quran. Dengan pendekatan ini, penulis cuba meluaskan kandungan makna al-Quran yang dijadikan panduan umat manusia dalam kehidupannya yang sentiasa berkembang secara dinamik. Al-Qur'an, firman Allah yang diturunkan dalam bentuk suara (bentuk verbal), merujuk kepada bentuk batin atau nafsa (meminjam istilah al-Ash' ary5).
Terlepas dari asumsi-asumsi di atas, maka dapat dikatakan bahwa makna Al-Qur’an juga bersifat mutlak. Al-Qur'an diturunkan secara lisan (tahap Jaf:p), dihafal oleh para sahabat dan segera dituliskan, meskipun mendalam. Permasalahan-permasalahan inilah yang menjadi latar belakang penulis meneliti masalah majiz dalam Al-Qur’an.
Maka diperlukan suatu pendekatan yang dapat menangkap makna Al-Qur’an secara dinamis sesuai dengan dinamika pembelajaran manusia.
Batasan dan Pennnman Masalah
4. Permasalahan apa saja yang akan timbul terkait penerapan konsep majiz pada Al-Qur'an? 5. Bagaimana mengembangkan konsep majiz yang dapat dijadikan pendekatan untuk memahami keragaman makna dalam Al-Qur'an. Sebelum penelitian ini dilakukan, telah banyak penelitian yang dilakukan terhadap Al-Qur’an, baik yang berkaitan dengan gaya bahasanya, diantaranya i.
Kedua, memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur'an Ketiga, penafsiran teks, termasuk kitab suci Al-Qur'an. Dengan demikian, tidak mudah menafsirkan bahasa gaya majiz dengan satu makna tertentu tanpa mempertimbangkan makna yang lain.21 2. Memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur'an. Redaksi Al-Qur'an yang indah penuh makna yang berbeda-beda dan sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan pembacanya.
Al-Qur'an merupakan kitab suci yang patut dipahami sebagai pedoman hidup manusia yang mengarahkan hidupnya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, seperti yang dikatakan M Abduh. Sebagai pedoman, maka makna atau gagasan yang terkandung dalam Al-Qur’an dapat digunakan oleh seluruh lapisan umat manusia dimanapun dan kapanpun mereka mencari petunjuk darinya. Jadi isi Al-Qur'an, sebagaimana dikemukakan Arkoun, terbuka terhadap kemungkinan makna atau gagasan yang berbeda-beda.
Oleh karena itu penafsiran Al-Qur'an tidak pernah kering seperti yang dikemukakan oleh Bintu Syati dan Quraish Shihab. Konsep majiz yang lebih luas dan kompleks dapat dibahas, meskipun sangat perlu ditelusuri makna atau gagasan yang terkandung dalam Al-Qur'an. Kajian ma’iz dalam Al-Qur’an merupakan kajian makna yang dibalut gaya kebahasaan ma’iz.
Jika majizi dikaitkan dengan persoalan makna, maka untuk mendalami makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an digunakan pola pikir kontekstual yang melihat keterkaitan makna pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dari sini gaya bahasa Majiz dalam Al-Qur’an dipandang secara kontekstual, yaitu sebagai cara mengungkapkan makna yang dapat dipahami sepanjang waktu, karena adanya keterkaitan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan,34 atau kontekstual dalam arti sempit. Konsekuensinya, makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an harus relevan dengan situasi dan kondisi yang berkembang, termasuk saat ini.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan konsep makna secara umum dan makna majizi secara khusus guna memahami dunia makna Al-Qur'an. Jadi manfaat teoritis yang diharapkan adalah dapat digunakan untuk menggali makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur'an dan menyusunnya sedemikian rupa sesuai dengan fungsi Al-Qur'an sebagai pedoman (hudan).
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Abu 'Ubai4ah Mu'ammar al-Mu8anni (w. 207H) menggunakan istilah majiz untuk maksud yang lebih luas, seperti yang disebutkan di atas, manakala al-Farra' (w. 209H) ahli bahasa kontemporarinya menggunakan istilah tajawwuzjusteru lebib yang hampir dengan gaya . bahasa yang kemudiannya dikenali sebagai istilah Majiz. Pertama, mesti ada hubungan semantik ('a/ikah) antara makna baru dan makna lama (makna asal). Ar-Rummini (Abu al-Hasan 'Ali bin 'Isa d. 386H) sedikit berbeza dengan ulama terdahulu, beliau mempelajari gaya bahasa Majizini dari sudut keindahannya, walaupun beliau tidak meninggalkan masalah maksudnya. atau mesej yang dibawanya.
Al-Jurjani (w. 471 H) membahagikan majiz dari segi hubungan antara makna asal dan makna baharu kepada dua. ada yang berkaca mata kuat) dan ada yang lemah. Pertama secara majiz, di mana hubungan antara makna asal dan makna baru adalah dalam bentuk persamaan (musyibabab). Membandingkan kecerahan malam dengan kecerahan siang, yang pertama mempunyai kualiti bercahaya samar dan yang kedua mempunyai.
Fungsi ta’kld adalah untuk mempertegas makna atau gagasan yang ingin disampaikan, dengan cara membandingkannya seperti di atas. Fungsi tawassu' terlihat jelas pada majiz yang penulis sebut dengan majiz khifibi, karena yang dimaksud dengan 1118jizi di sini bukanlah kata demi kata atau kalimat demi kalimat, melainkan wacana. Menurut penulis, gaya bahasa majiz tidak hanya digunakan untuk mempercantik bahasa tetapi lebih penting lagi untuk menyampaikan makna atau gagasan karena gagasan yang ingin diungkapkan tidak terbatas sedangkan bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan tersebut tercetak terbatas.
Dari pengembangan konsep majiz sebagaimana disebutkan di atas, penulis menawarkan sebuah konsep majiz yang belum pernah penulis temukan sebelumnya. Untuk melakukan ta'wll pada majiz kbifibiyang. Penulis menawarkan hal ini dapat dilakukan dengan mengangkat wacana-wacana tertentu yang terdapat dalam kisah-kisah Al-Qur’an atau sketsa-sketsa kehidupan yang digambarkannya ke dalam tataran konseptual yang abstrak sehingga dapat diterapkan pada berbagai situasi dan kondisi kehidupan yang tidak terikat. oleh waktu dan ruang. Jika majiz adalah cara mengungkapkan makna atau gagasan, maka ta, wll adalah cara memahami makna atau gagasan yang tersembunyi dalam ungkapan tersebut.
Ta’wll secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: ta’wll babyni dan ta’wll ‘irfini. Perbedaan utama antara kedua jenis ta’wil di atas adalah: yang pertama sangat terikat pada kaidah kebahasaan sehingga dalam mengalihkan makna makna asal ke makna baru harus didasarkan pada alasan (qarlnab) yang menjadi landasannya. untuk menyampaikan arti kata tersebut. Meskipun peristiwa kasyaf ini menurut penulis sangat mungkin terjadi berdasarkan Al-Qur'an, namun dalam menelaah ta'wll 'irfi akibat proses pengalaman unik yang disebut kasyaf tetap harus kritis.
Daftar Pustaka
Ta,bir fl al-Lughah al-Arabiyyah. al-Mu'jam al-Mufassal fl Uliim al-Baligah: al-Badi. HjjaZi, Mal)mlid al-Wihdab al-Maut/Uiyyab fl al-Qur, i al-Karim.. al-Munazarab wa al-Mu]Jiwarab fi Qissat al-JbRs. dalam al-'Alam. al-Islami. Sukamto Said." al-majiz fi al-Qur,in, Dirisab 'an Musyki/ab al-Mlli!ala/.)iyyab wa al-Lugbawiyyab,; dalam AljimFah, tidsskrift for islamiske studier, nr. 60, Th 1997.
RIWAYATHIDUP
Anggota Pusat Pengembangan Staf Pengajar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atau CTSD (Pusat Pengembangan Staf Pengajar).