Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penulisan
Manfaat Penulisan
Pengertian Sukuk
Sukuk berasal dari kata Arab “sak” (tunggal) dan “sukuk” (jama’), yang mempunyai arti mirip dengan sertifikat atau nota. Dalam fatwa DSN-MUI no.32 atau DSN-MUI atau IX/2012, DSN masih menggunakan istilah obligasi syariah dan belum menggunakan istilah sukuk. Yang dimaksud dengan sukuk jika mengacu pada fatwa tersebut adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang diterbitkan oleh penerbit kepada pemegang sukuk, yang mengharuskan penerbit membayar pendapatan kepada pemegang sukuk berupa bagi hasil dan membayar kembali dana sukuk tersebut. perjanjian tersebut pada saat habis masa berlakunya. .
Sukuk atau Obligasi Syariah merupakan sertifikat investasi yang tidak dapat diuangkan (bukti kepemilikan), jadi inilah perbedaan Obligasi Syariah dengan Obligasi Konvensional.
Jenis-jenis sukuk
Sukuk ijarah adalah sukuk yang diterbitkan atas dasar akad atau akad ijarah, yaitu peralihan hak pakai atas suatu barang atau jasa tanpa diikuti dengan perpindahan kepemilikan atas barang atau jasa itu sendiri. Sukuk istishna adalah sukuk yang diterbitkan atas dasar suatu perjanjian (akad istishna), dimana kedua belah pihak menyepakati suatu jual beli untuk membiayai suatu proyek/barang yang telah ditentukan berdasarkan suatu perjanjian. Sukuk murabahah adalah sukuk yang diterbitkan berdasarkan akad jual beli, penerbit sukuk adalah penjual komoditi sedangkan investor adalah pembeli komoditi tersebut.
Sukuk salam ini mengandung nilai yang sama yang dikeluarkan untuk mobilisasi modal saham dan barang yang akan diserahkan berdasarkan kontrak salam adalah milik pemegang sukuk salam. Sukuk negara merupakan sukuk yang diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Berdasarkan keterangan Direktorat Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), sukuk negara adalah sukuk syariah negara yang diterbitkan pada dasar prinsip syariah sebagai bukti penyertaan pada aset sukuk, baik dalam mata uang rupiah maupun mata uang asing. Ada dua jenis sukuk negara yang diterbitkan kepada investor perorangan, yaitu sukuk negara ritel (SR) dan sukuk negara (ST).
Rukun transaksi sukuk
Dasar hukum atau ketentuan syariah sukuk
Maksudnya: "Jika kamu dalam perjalanan (dan tidak membayar tunai) dan kamu tidak mempunyai penulis, maka hendaklah disimpan barang tanggungan (oleh orang yang berhutang). Akan tetapi, jika sebahagian kamu mempercayai sebahagian yang lain, hendaklah yang dipercayai miliknya. amanat (hutang) telah ditunaikan dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan kesaksianmu. Apabila seseorang diberi amanah, maka diharapkan ia akan menunaikan amanatnya atau membayar hutangnya dengan ikhlas.
Pengawasan syariah untuk transaksi sukuk
Akuntansi sukuk (PSAK 110)
Perusahaan ABC menerbitkan sukuk ijarah senilai Rp100 miliar pada tanggal 1 Oktober 20X0 untuk jangka waktu 5 tahun (menghitung 1 tahun = 360 hari). Karena dalam hal ini tidak terdapat premi dan diskonto, maka amortisasi hanya dilakukan terhadap biaya penerbitan sukuk. Dana investor akan disajikan sebagai liabilitas secara bersih setelah dikurangi premi atau diskon dan biaya transaksi yang belum diamortisasi.
Perusahaan ABC menerbitkan jangka waktu mudharabe dengan nilai Rp 100 miliar pada tanggal 1 Oktober 2020 untuk jangka waktu 5 tahun dengan perhitungan 1 tahun = 360 hari. GFA Bank membeli 10% dari total suku bunga. ditawarkan oleh PT ABC dengan tujuan pembelian ini untuk memperoleh arus kas kontraktual. GFA Bank diukur pada biaya perolehan karena tujuannya adalah memperoleh arus kas kontraktual sehingga biaya tersebut mencakup biaya transaksi.
Untuk sukuk Ijarah diukur pada biaya perolehan dan nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain (termasuk biaya), sedangkan jika diukur pada nilai wajar, laba rugi tidak termasuk biaya transaksi. Perusahaan ZRA menerbitkan bunga ijarah senilai Rp 100 miliar pada tanggal 1 Oktober 2020 untuk jangka waktu 5 tahun dengan perhitungan 1 tahun = 360 hari. 10.010 ZFA Bank diukur pada biaya perolehan karena tujuannya adalah memperoleh arus kas kontraktual sehingga biaya tersebut mencakup biaya transaksi.
Imbal hasil debet piutang kredit.. a) Jika menggunakan biaya, jika terdapat indikasi penurunan nilai, entitas membandingkan jumlah tercatat dan jumlah terpulihkan.
Pengertian Wa’d
tidak. 27 menyatakan bahawa wa'd itu tidak mengikat, fatwa ini adalah pendapat jumhur ulama fiqh Malikiyyah, Shafiyyah dan Hanabila. Dalam fatwa DSN MUI no. 85 juga merupakan peruntukan bahawa wa'd mesti ditulis dalam perjanjian bersama dan perjanjian itu tidak boleh bercanggah dengan perjanjian Syariah. Wujudnya fatwa DSN MUI no. 85 boleh menjadi asas kepada semua fatwa DSN lain yang menggunakan wa'd, termasuk fatwa DSN MUI no. 94 mengenai Pajakan Sekuriti Syariah (SBS) berdasarkan prinsip Syariah dan fatwa DSN MUI no. 96 mengenai urus niaga perlindungan nilai Syariah atau kadar pertukaran.
Rukun Wa’d dan Ketentuan Syariah Wa’d
- Transaksi Repo SBS
Transaksi repo syariah adalah suatu transaksi dimana SBS dijual oleh pihak pertama kepada pihak kedua dengan adanya janji (wa'd) dari pihak pertama untuk membeli kembali SBS tersebut dari pihak kedua, dan adanya janji dari pihak kedua untuk menjual kembali SBS. kepada pihak pertama di kemudian hari dengan harga yang disepakati. Mengacu pada pengertian transaksi repo syariah yang telah dijelaskan sebelumnya, transaksi repo syariah secara materiil tidak berbeda dengan transaksi bai' al wafa yang dilarang oleh syariah. Bai' al-wafa adalah jual beli yang dilakukan dengan syarat barang yang dijual dapat dibeli kembali oleh penjual pada waktu yang disepakati bersama.
Transaksi repo SBS diperbolehkan sesuai dengan fatwa DSN MUI no. 94 dengan ketentuan transaksi penjualan SBS dilakukan oleh lembaga keuangan syariah ke lembaga keuangan syariah lainnya. Dalam transaksi SBS Repo terdapat syarat berupa janji pihak kedua untuk menjual kembali SBS kepada pihak pertama di kemudian hari dengan harga yang telah disepakati sebelumnya. Hal ini bertentangan dengan konsep jual beli yaitu peralihan seluruh hak milik dari penjual kepada pembeli.
Dalam membuat akad, seorang muslim hendaklah memastikan tidak ada perkara dalam perjanjian yang menyalahi syariat. Perjanjian boleh dibuat antara orang Islam, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau syarat yang menghalalkan yang haram.” (HR. Al-Tirmidzi).
Tinjauan Syariah atas Transaksi Lindung Nilai Syariah
Transaksi lindung nilai syariah terhadap nilai tukar tidak boleh dilakukan untuk tujuan yang tidak pasti atau sewenang-wenang. Dalam lindung nilai nilai tukar syariah, bentuk lindung nilai dilakukan dengan janji (wa'd) untuk membeli atau menjual suatu mata uang untuk mata uang lain di masa depan dengan nilai yang ditentukan pada saat akad wa'd atau pengikatan. Di sini para pihak saling berjanji untuk melakukan satu atau lebih transaksi spot di masa depan, yang mencakup kesepakatan mengenai mata uang yang dipertukarkan, jumlah nominal, nilai tukar atau perhitungan nilai tukar dan waktu pelaksanaannya.
Akuntansi Transaksi Wa’d
Berikut teknis perhitungan, pencatatan, penyajian dan publikasi akuntansi wa’d, penjelasan mekanismenya diatas. PT Indra Ahmad memiliki sukuk dengan nilai buku Rp. 500 (nilai nominal Rp 500), sukuk tersebut jatuh tempo pada tanggal 31 Desember 20X2 dengan imbal hasil sebesar Rp. 5 per jangka waktu pembayaran kembali. Kemudian PT Indra Ahmad dan PT Aji Sejahtera melakukan transaksi repo atas sukuk tersebut dengan kesepakatan, PT Indra menjual sukuk tersebut kepada PT Aji pada tanggal 1 Juli 20X0 dengan harga kesepakatan sebesar Rp 490.
PT Indra berjanji untuk membeli kembali sukuk tersebut kepada PT Aji pada tanggal 15 Agustus 20X0 dengan harga yang disepakati sebesar Rp 500. PT Aji mencatat investasi sukuk pada nilai wajar yaitu (Rp 506), dalam kondisi normal dan umumnya harga perolehan berada pada nilai wajar pada tanggal transaksi. Namun karena dibeli seharga Rp 500 sedangkan nilai wajarnya Rp 506, berarti ada untung Rp 16.
Selain itu, PT Aji juga membuat jurnal penyesuaian untuk menyajikan nilai investasi pada nilai wajar (yaitu Rp 715). Jurnal akuntansi SBS Repo untuk PT Aji (nilai investasi pada nilai wajar). 3) Akuntansi jual beli kedua (second leg). Pada tanggal 15 Agustus 20X0, PT Indra membeli sukuk tersebut dari PT Aji dengan harga kontrak sebesar Rp 500.
Rp 25 dengan membeli sukuk tersebut karena nilai wajar sukuk tersebut adalah Rp 525 dan sebaiknya PT Aji membelinya dengan harga Rp 500 sesuai kesepakatan awal. Sedangkan Aji mengalami kerugian sebesar Rp15 karena nilai buku investasi ukuk sebesar Rp515 dan dijual seharga Rp500. Selain itu, Aji akan menutup akun pendapatan komprehensif lain atas investasi sukuk terkait di akun laba rugi sebesar Rp9,2.
Pengungkapan REPO SBS
Risiko nilai tukar merupakan suatu bentuk risiko yang timbul akibat perubahan nilai tukar suatu mata uang ke mata uang lainnya. Lindung nilai nilai tukar syariah merupakan kegiatan lindung nilai yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah, dimana transaksi diakui pada saat penukaran mata uang menjadi uang tunai, bukan pada saat wa'd dilaksanakan. Transaksi lindung nilai sederhana adalah transaksi lindung nilai dengan skema perjanjian forward yang diikuti dengan transaksi spot pada saat jatuh tempo, dan penyelesaiannya berupa transfer mata uang.
Transaksi lindung nilai yang kompleks adalah transaksi lindung nilai dengan skema berupa serangkaian transaksi spot dan perjanjian forward yang diikuti dengan transaksi spot pada saat jatuh tempo, dan penyelesaiannya berupa transfer mata uang. PT Abadi mengadakan perjanjian pertukaran valuta asing dengan Bank Zaid (BZ) dimana PT Abadi berjanji akan menyerahkan Rp 14,5 miliar, dan Bank Zaid berjanji akan menyerahkan USD 1 juta pada tanggal 5 Mei 20X0. Pada saat wa'd (1 Mei 20X0) baik PT Abadi maupun Bank AZ tidak melakukan pencatatan, demikian pula transaksi pada tanggal 3 Mei 20X0 tidak dimasukkan karena peristiwa tersebut bukan merupakan transaksi.
Semua pihak, baik yang menerima maupun yang memberikan devisa, mengakui devisa yang diterima atau diserahkan dalam rupiah dengan menggunakan kurs spot pada tanggal pelaksanaan. Penukaran mata uang dengan penyerahan USD 1 juta diterima Rp 13,8 miliar (sesuai kurs spot) dari Bank BZ. PT Abadi akan menyerahkan Rp 14,5 miliar dan Bank Bz berjanji akan menyerahkan USD 1 juta pada tanggal 5 Juni 20X0.
Pada saat wa'd, PT Abadi tidak melakukan pencatatan dan Bank BZ harus melakukan konversi mata uang asing dengan menggunakan kurs spot pada tanggal laporan/akhir bulan yaitu Rp13.900 karena BZ memegang mata uang asing. Pihak tersebut melakukan transaksi spot pada harga yang disepakati, diikuti dengan penyerahan mata uang yang dipertukarkan. Sesuai perjanjian, PT Abadi akan menyerahkan Rp 14,5 miliar dan menerima USD 1 juta dari BZ.
BZ akan membuat jurnal untuk mengupdate nilai mata uang ke kurs spot (dari Rp 13.900 pada tanggal 31 Mei menjadi Rp 14.000 pada tanggal 5 Juni).