MAKALAH APLIKASI AKSL PASIEN KEBUTUHAN KHUSUS
“KONVERSI AGAMA”
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Asuhan Keperawatan Spiritual Lanjutan (AKSL)
Dengan Dosen Pengampu Bapak Riandi Alfin, M.Kep
Disusun Oleh : Kelompok 3
1. Abdul Majid 312023001
2. Alysha Miraj 312023005
3. Annisa Anggun 312023007
4. Asep Safarudin 312023013
5. Asmila Kosum 312023014
6. Dhenisa Nur Zakiah 312023023
7. Eneng Lisda 312023029
8. Irfani Hakim 312023040
9. Isma Yunita 312023043
10. Joko Dwiono 312023045
11. Lani Septiani 312023047
12. Neneng Maesaroh 312023057 13. Shakila Ayustina 312023069 14. Tati Edios Triwati 312023076 15. Tiara Budi Kusuma 312023077 16. Vicky Salman Fauzi 312023080 17. Wulan Nurazizah 312023082 18. Yogi Agustian Mudzakkar 312023084
19. Yuli Rosiana 312023087
20. Fahmi Muhamad 312023091
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN RPL FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS `AISYIYAH BANDUNG
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan Makalah tentang “ Aplikasi AKSL Pasien Kebutuhan Khusus Konversi Agama”. Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut memberikan kontribusi dalam penyusunan Makalah ini. Tentunya, tidak akan bisa maksimal jika tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari penyusunan maupun tata bahasa penyampaian dalam makalah ini.
Oleh karena itu, kami dengan rendah hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini memberikan manfaat dan juga inspirasi untuk pembaca.
Bandung, 12 Maret 2024
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Konversi agama secara umum dapat diartikan sebuah perubahan agama dari suatu agama ke agama lain. Dalam pindah keyakinan atau agama merupakan sebuah dasar yang sensitif yang jarang dibahas. Proses terjadinya konversi agama tidak terlepas dari diri seseorang yang mempunyai permasalahan yang berbeda, dengan mempunyai alasan tersendiri dalam merubah kepercayaan lamanya. Konversi agama menyangkut pada perubahan kejiwaan seseorang secara mendasar serta pada pengaruh lingkungan. Terjadinya konversi agama tidak membatasi usia ataupun suatu kalangan yang ingin merubah keyakinan yang dianut dengan adanya gelaja sosial yang dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang.
Di Indonesia, konversi agama banyak dilakukan seseorang yang mengalami terjadinya konversi agama maka sampai saat ini tidak sulit untuk ditemukan. Pada umumnya konversi agama dilakukan oleh agama manapun yang dialami seseorang untuk merubah agama seperti adanya perubahan pemeluk agama Kristen menjadi agama Islam dan begitu pula sebaliknya.
Dengan adanya berbagai agama yang ada di Indonesia tidak terlepas dari diri masing-masing yang sesuai dengan kepercayaan yang dianut.
Hal ini tercantum dalam Undang-Undang yakni UUD 1945 Pasal 28E ayat (1) jelas menegaskan akan jaminan kebebasan beragama yang berbunyi
“setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut ajarannya”.
Dijelaskan juga dalam pasal 28E ayat (2) berbunyi “setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiraan dan sikap sesuai dengan hati nuraninya”.
Pasal-pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa hak agama dan beribadat menurut agamanya merupakan sebuah hak asasi dalam setiap manusia. Bahwa hal ini termasuk ke dalam hak atas kebebasan meyakini kepercayaan seseorang.
Adapun faktor-laktor yang mempengaruhi terjadinya konversi agama adalah sebagai berikut: (1) Faktor keluarga; keretakan keluarga, ketidakserasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat lainnya. Kondisi yang demikian menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin yang menimpa dirinya, (2) Faktor lingkungan tempat tinggal; orang yang merasa terlempar dari lingkungan tempat tinggalnya atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat, merasa dirinya hidup sebatang kara. Keadaan yang demikian menyebabkan seseorang mendambakan ketenangan dan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahan batinnya hilang, (3) Faktor perubahan status; perubahan status terutama yang berlangsung secara mendadak, akan banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama, misalnya; perceraian, keluar dari sekolah ataupun perkumpulan, perubahan pekerjaan, kawin dengan orang yang berlainan agama dan sebagainya, (4) Faktor kemiskinan;
kondisi sosial ekonomi yang sulit juga merupakan faktor yang mendorong dan mempengaruhi terjadinya konversi agama. Masyarakat awam yang
miskin cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik. Kebutuhan mendesak akan sandang dan pangan dapat mempengaruhi, dan (5) Faktor pendidikan; dalam hal ini literatur ilmu sosial menampilkan argumentasi, bahwa pendidikan memainkan peranan lebih kuat atas terbentuknya disposisi religius yang lebih kuat bagi kaum wanita dari pada kaum pria. Lebih lanjut ditemukan fakta dari pendirian sekolah- sekolah keagamaan yang dipimpin oleh yayasan-yayasan berbagai agama.
Kenyataan menunjukkan, sebagian kecil saja dari seluruh jumlah anak didik dari sekolah tersebut masuk agama yang dipeluk pendirinya. Hanya sejauh itu dapat dibenarkan sistem pendidikan lewat persekolahan termasuk faktor pendorong masuk agama.
Selain itu, interaksi antara aspek-aspek keagamaan sulit dipisahkan dengan aktivitas-aktivitas sosial yang lain, sehingga aspek-aspek keagamaan tersebut, dapat melahirkan makna sosial tertentu dalam manivestasinya, di mana salah satu wujud dari perkembangan agama pada seseorang di antaranya adalah terjadinya tindakan konversi agama. Menurut Ahli pendidikan, kondisi pendidikan juga bisa mempengaruhi terjadinya konversi agama. Hal ini terjadi pada sebagian masyarakat, dengan adanya anak didik yang disekolahkan dalam naungan yayasan milik agama tertentu, tidak harus menganut agama yang sama. Walaupun hal ini belum terbukti, tetapi tidak secara langsung tujuan yang hendak dicapai sangat besar dalam mempengaruhi pola pikirnya, karena kondisi pendidikan kembali menjadi faktor yang cukup efisien dapat mempengaruhi pola pikir seseorang, sebagai
dari adanya akibat interaksi berkepanjangan dengan keyakinan yang berlainan. Pengalaman keagamaan bersikap harapan-harapan, perasaan- perasaan, dan persepsi-persepsi pemeluknya, ketika berkomunikasi dengan Tuhan sebagai supranatural Yang Maha Suci, sebagai pengalaman objektif dan tanda keagamaan individual. Pengalaman keagamaan seseorang, sebab pengalaman keagamaan sekaligus dapat merupakan pengetahuan keagamaan yang mengacu pada harapan, bahwa orang beragama minimal mempunyai pengetahuan tentang prinsip keyakinan, kitab suci, tata cara dan tradisi keagamaan.
Hal ini terkait dengan konversi agama, yang dijelaskan pada ayat AlQuran surah Al-Qasas : 56
B. Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam makalah ini adalah
1. Ada berapa jenis kebutuhan khusus berdasarkan kasus?
2. Mengapa masing-masing orang tersebut mengalami hal tersebut?
3. Selaku perawat apa yang sebaiknya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psiko dan spiritual pada kasus tersebut?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui fenomena terjadinya konversi agama pada Pasien kebutuhan khusus
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui jenis kebutuhan khusus berdasarkan kasus?
b. Untuk mengetahui mengapa masing-masing orang tersebut mengalami hal tersebut?
c. Untuk mengetahui tugas perawat apa yang sebaiknya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psiko dan spiritual pada kasus tersebut?
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi Konversi Agama
Konversi agama (religious convertion) secara umum dapat diartikan dengan berubah agama ataupun masuk agama yang lain (Mulyadi, 2019). Untuk memberikan gambaran yang lebih mengena tentang maksud kata- kata tersebut perlu dijelaskan melalui urain yang dilatarbelakangi oleh pengertian secara etimologis. Dengan pengertian berdasarkan asal kata tergambar ungkapan kata secara jelas.
Pengertian agama menurut etimologi yaitu konversi (berasal dari kata
“conversio “ yang berarti tobat, pindah, dan berubah serta bisa juga penyesuaian) (Mandjarreki, 2019). Selanjutnya kata tersebut dipakai dalam kata Inggris Conversion yang mengandung pengertian : Berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama atau keyakinan ke agama lain atau keyakinan lain ( change from one state, or from one religion, to another ).
Berdasarkan arti kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian : Bertobat , berubah agama , berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama (menjadi paderi ) (Hamali, 2018).
Pengertian konversi agama menurut terminologi Max Henrich mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan dimana seorang atau kelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya (Khairiyah,
2018).
B. Faktor yang menyebabkan terjadinya Konversi Agama
Para ahli agama menyatakan, bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supernatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversiagaam pada diri seseorang atau kelompok (Al-Ghazali, n.d.).
Menurut Mukti Ali dalam Ilahi dkk (2017), menyatakan faktor-laktor yang mempengaruhi terjadinya konversi agama mencakup lima faktor sebagai berikut:
1. Faktor keluarga; keretakan keluarga, ketidakserasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat lainnya. Kondisi yang demikian menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin yang menimpa dirinya 2. Faktor lingkungan tempat tinggal; orang yang merasa terlempar dari
lingkungan tempat tinggal atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat merasa dirinya hidup sebatang kara. Keadaan yang demikian menyebabkan seseorang mendambakan ketenangan dan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahan batinnya hilang.
3. Faktor perubahan status; perubahan status terutama yang berlangsung secara mendadak akan banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama, misalnya; perceraian, keluar dari sekolah
ataupun perkumpulan, perubahan pekerjaan, kawin dengan orang yang berlainan agama dan sebagainya
4. Faktor kemiskinan; kondisi sosial ekonomi yang sulit juga merupakan faktor yang mendorong dan mempengaruhi terjadinya konversi agama. Masyarakat awam yang miskin cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik.
Kebutuhan mendesak akan sandang dan pangan dapat mempengaruhi
5. Faktor pendidikan; dalam hal ini literatur ilmu sosial menampilkan argumentasi bahwa pendidikan memainkan peranan lebih kuat atas terbentuknya disposisi religius yang lebih kuat bagai kaum wanita dari pada kaum pria. Lebih lanjut ditemukan fakta dari pendirian sekolah-sekolah keagamaan yang dipimpin oleh Yayasan-yayasan berbagai agama. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian kecil saja dari seluruh jumlah anak didik dari sekolah tersebut masuk agama yang dipeluk pendirinya. Hanya sejauh itu dapat dibenarkan sistem pendidikan lewat per- sekolahan termasuk faktor pendorong masuk agama (Ilahi et al., 2017)
C. Proses Konversi Agama
Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar, segala bentuk kehidupan batinnya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan yang dianut nya (agama), setelah terjadi
konversi agama pada dirinya secara spontan pula yang lama ditinggalkan lama sekali (Hidayat, 2016). Segala bentuk perasaan batin terhadap kepercayaan lama, seperti: harapan, rasa bahagia, keselamatan, dan kemantapan berubah menjadi berlawanan arah. Timbulah gejala-gejala baru berupa, perasaan tidak lengkap dan tidak sempurna. Gejala ini menunjukkan adanya hal yang timbul berupa proses kejiwaan dalam bentuk merenung, timbulnya tekanan batin, penyesalan diri, rasa berdosa, cemas terhadapmasa depan, dan perasaan susah yang ditimbulkan oleh kebimbangan.
Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Penindo (dalam Jalaluddin, 2010) berpendapat bahwa konversi agama mengandung dua unsur yaitu:
a. Unsur dari dalam diri (endogenus origin) yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu informasi yang disebabkan oleh krisis yang terjadi di dalam keputusan yang diambil oleh seseorang berdasarkan pertimbangan pribadi.
b. Unsur dari luar (exogenous origin) yaitu proses perubahan yang berasal dari laur diri atau kelompok, sehingga mampu meorang nguasai kesadaran orang atau kelompok orang yang bersangkutan.
Kedua unsur tersebut kemudian mempengaruhi kehidupan batin seseorang sehingga dapat memilih penyelesaian yang mampu memberikan
ketenangan batin. Kerangka proses pentahapan konversi agama, juga dijelaskan oleh H. Carrier (dalam Jalaluddin, 2010) adalah sebagai berikut:
a. Terjadi diintegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami.
b. Reintegrasi kepribadian berdasarkan konversi agama yang baru. Dengan adanya reintegrasi ini maka terciptalah kepribadian baru yang berlawanan dengan struktur lama.
c. Tumbuh sikap menerima konsepsi agama baru serta peranan yang dianut oleh ajarannya.
d. Tumbuh kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.
Darajat (dalam Jalaluddin, 2010) juga memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses kejiwaan yang terjadi melalui lima tahap, yaitu:
a. Masa tenang
Disaat ini kondisi jiwa seseorang berada dalam keadaan tenang, karena masalah agama belum mempengaruhi sikapnya. Terjadi semacam sikap apriori terhadap agama. Keadaan yang demikian dengan sendirinya tidak akan mengganggu keimbangan batinnya, sehingga ia berada dalam keadaan tenang dan tentram.
b. Masa ketidaktenangan
Tahap ini berlangsung jika masalah agama telah mempengaruhi batinnya. Mungkin dikarenakan suatu krisis, musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya. Hal ini menimbulkan semacam goncangan yang berkecamuk dalam bentuk rasa gelisah, panic, putus asa, ragu, dan bimbang.
c. Masa konversi
Tahap ketiga ini terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan, karena kemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan menetapkan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa pasrah. Keputusan ini memberikan makna dalam menyelesaikan pertentangan batin yang terjadi. Sehingga terciptalah ketenangan dalam bentuk menerima kondisi yang dialami sebagai petunjuk Ilahi.
d. Masa tenang dan tentram
Masa tenang dan tentram yang kedua ini berbeda dari sebelumnya. Jika pada tahap pertama keadaan itu dialami karena sikap acuh tak acuh, maka ketenangan dan ketentraman pada tahap ketiga ini ditimbulkan oleh kepuasan terhadap keputusan yang telah diambil.
e. Masa ekspresi konversi
Sebagai ungkapan dari sikap menerima terhadap konsep baru dari ajaran agama yang telah diyakininya, maka tindak tanduk dan sikap hidupnya diselaraskan dengan ajaran dan peraturan agama yang dipilih tersebut. Pencerminan amalan dalam bentuk amal perbuatan yang serasi
dan relevan sekaligus merupakan pernyataan konversi agama itu dalam kehidupan
D. Dampak Sosial Konversi Agama
Agama merupakan fenomena sosial yang memiliki dimensi indi- vidual, di samping yang bersifat sosial. Dalam rangka aktivitas mencapai tujuan hidup beragama adalah tujuan mencapai kese- lamatan hidup seperti yang diajarkan oleh sistem keyakinan, norma lingkungan atau komunitas keagamaan dan pemahaman keagamaan mereka. Agama mempunyai makna atau fungsi dalam kehidupan manusia, maka agama merupakan suatu kebutuhan hidup yang dalam pemenuhan kebutuhannya melalui suatu interaksi dalam suatu sistem yang terbuka dalam diri individu maupun dalam suatu struktur sosial yang plural, yang bisa melahirkan terjadinya suatu tindakan konversi agama, sebagai konsekuensi suatu pilihan rasional.
Tetapi beberapa pengetahuan yang menurut rasionalitas tertentu memiliki dasar yang rapuh, karena akan mengakibatkan masalah keberagaman dalam masyarakat di antaranya selain perilaku menyimpang yaitu konversi agama.
Beberapa Dampak Konversi agama :
1. Dampak Konversi Agama terhadap Aqidah dan Ibadah
Orang yang sudah memeluk suatu agama tertentu kemudian pindah ke agama lain (konversi) menjadi lebih tekun untuk mempelajari agama dan syari’at-syari’atnya. Dengan yakin agama yang
dipeluknya dapat menciptakan rasa kebahagiaan serta mempunyai rasa optimisme untuk mampu dalam menjalankan hidup. Dampak konversi dapat memberi ketenangan dalam menyelesaikan masalah, berperilaku dan budi pekerti dalam pergaulan, cara bertutur kata dan berpakaian.
2. Dampak Konversi Agama terhadap Bidang Muamalah
Pengaruh agama dalam kehidupan seseorang adalah memberi kemantapan batin, rasa bahagia, rasa terlindung dan rasa puas.
Agama berpengaruh dalam mendorong seseorang untuk melakukan suatu aktifitas, karena perbuatan yang dilakukan dengan latar belakang keyakinan agama dinilai mempunyai ketaatan. Agama mendorong seseorang untuk berkreasi, berbuat kebajikan maupun berkorban.
3. Dampak Konversi Agama terhadap Kehidupan Rumah Tangga Konversi agama dalam keluarga dapat membawa pengaruh yang besar karena seseorang yang mengalami konversi agama, segala bentuk kehidupan batinnya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutnya (agama) maka setelah mengalami konversi agama akan timbul gejala-gejala baru yang bisa menjadikan seseorang tersebut mempunyai perasaan yang serba tidak sempurna, yaitu rasa penyesalan diri, rasa berdosa, cemas terhadap masa depan dan bisa menimbulkan tekanan batin karena disebabkan oleh tidak diakuinya sebagai keluarga merasa tersingkir
dari ling- kungan. Kondisi yang demikian itu secara psikologis kehidupan batin seseorang menjadi kosong dan tidak berdaya sehingga mencari perlindungan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang tenang dan tenteram (Ilahi et al., 2017).
BAB III
KASUS DAN PEMBAHASAN
A. Kasus
Seorang mahasiswa, Nn. I, usia 20 tahun, saat ini sedang menanti giliran ujian praktikum di kampusnya. la terlihat gelisah karena merasa tidak mampu melakukan tindakan seperti yang ia lihat dari teman-temannya. Saat namanya dipanggil oleh penguji, tiba-tiba, ia menjerit histeris sambil memukul-mukul kepalanya, hingga terjatuh. Mata Nn. I tampak membelalak ke atas, tangan dan kaki terasa kaku, dengan mulut mengeluarkan kata-kata kasar. Teman-teman dan orang-orang yang menyaksikan tampak heran dan ketakutan melihat kondisi Nn. I Tampak dua orang penguji kemudian berusaha menenangkan Nn. I, dengan membacakan do'a-do'a ruqyah, namun respon Nn I semakin sulit dikendalikan dan tatapan matanya semakin kosong. Salah satu penguji menyarakan teman-teman yang menyaksikannya ikut melantunkan al-fatihah, surat an-Nas, al-Falag dan al- ikhlas. Setelah hampir setengah jam dilakukan ruqyah syariah, Nn kembali sadar dan menangis. Menurut penuturan salah satu teman dekatnya, Nn 1, sering terlihat melamun dan lebih pendiam, sejak perceraian kedua orang tuanya, keadaan ini juga terlihat saat menjelang ujian praktikum.
Pertanyaan ;
1. Sebutkan jenis Kebutuhan Khusus pada kasus diatas ?
2. Mengapa masing masing orang tersebut bosa mengalami hal tersebut ?
3. Selaku perawat apa uang sebaiknya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
psiko dan spiritual klien pada kasus tersebut ? B. Pembahasan
Jenis kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar setiap individu untuk mendapatkan keyakinan, harapan, dan makna hidup. Pemenuhan kebutuhan spiritual yang baik dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang. Perhatian terhadap kebutuhan spiritual juga dapat dimanfaatkan oleh setiap orang baik sehat maupun sakit.
Kebutuhan spiritual dibutuhkan oleh setiap individu di dunia ini karena merupakan elemen penting untuk membentuk suatu karakter dari individu itu sendiri. Jika seseorang kehilangan kebutuhan spiritualnya maka dikhawatirkan dia akan mengalami distres spiritual. Distress spiritual merupakan keadaan ketika individu atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami gangguan dalam kepercayaan atau sistem nilai yang memberikannya kekuatan, harapan dan arti kehidupan. Bahwa tidak semua penyakit dapat disembuhkan namun selalu ada ruang untuk penyembuhan. Penyembuhan dapat dimaknai sebagai penerimaan terhadap penyakit, ketentraman dalam kehidupan, dan spiritual menjadi inti dari penyembuhan atau ketika ada di fase kehilangan. Penyembuhan mengacu pada kemampuan seseorang mendapatkan kebahagiaan, kenyamanan, koneksi, makna, dan tujuan hidup dalam penderitaan maupun rasa sakit yang dialami dan kehilangan. Menurut Potter dan Perry 2005 dalam (Aulia, 2021) distress spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. di dalam hidup ini setiap orang akan dihadapkan pada suatu aktivitas yang penuh tantangan, banyak orang tidak menyadarinya ketika menghadapi tantangan hidup, ia mengahadapi hambatan berat yang berasal dari dirinya sendiri, seperti adanya pikiran- pikiran negatif dalam bentuk kemauan yang lemah, sikap pesimis, ketergantungan pada orang lain. Maka dengan berpikir positif masalah tersebut dapat diatasi, karena pikiran
positif akan mengarahkan seseorang pada sikap opitimis, menyukai tantangan, mencari solusi, dan punya kemauan yang kuat.
Dengan demikian kebutuhan spiritual pasien harus terus dikelola dan ditingkatkan dengan cara memberikan pasien motivasi akan keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa, membantu pasien menerima keadaan kehilangan, menjadi pendengar yang aktif sehingga pasien mempunyai harapan untuk sembuh dan terhindar dari distess spiritual. Manusia sebagai makhluk holistik memiliki makna bahwa manusia adalah makhluk yang utuh atau menyeluruh yang terdiri atas unsur biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien merupakan bagian dari peran dan fungsi perawat dalam pemberian asuhan keperawatan.
pendampingan spiritual merupakan kompetensi mandiri perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara holistik.
Mengacu pada peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan yang komprehensif meliputi bio-psiko-sosio-spiritual maka pelaksanaan pemberian bimbingan spiritual pada pasien dengan kondisi sakit teramatlah penting. Mengingat kondisi fase kehilangan dapat mengakibatkan pasien mengalami distress spiritual, sementara kegiatan spiritual seperti berdo’a terbukti mampu menenangkan klien dalam menghadapi kenyataan tentang dirinya, karena kebanyakan penderita tersebut akan merasa frustasi dan menyerah pada kondisinya sehingga terapi yang diperoleh dari luar seperti obat-obatan tak mampu menyembuhkan oleh karena itu keyakinan dan kepercayaan sangat mempengaruhi keberhasilan penatalaksanaan. Apabila kondisi tersebut tidak ditangani dan berlangsung terus menerus dapat menyebabkan distress spiritual yang membuat pasien kehilangan kekuatan dan harapan hidup. Peran para petugas kesehatan khususnya perawat harus memberikan pelayanan paliatif secara optimal khususnya dalam aspek kebutuhan spiritualitas, supaya pasien dapat merasa damai dan tentram (Westlake, 2008)
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali. (n.d.). Peran Muallaf Center dalam Pembinaan Keagamaan Muallaf di Yogyakarta. 2018, I(1).
Hamali, S. (2018). 58101-ID-dampak-konversi-agama-terhadap-sikap-dan. 21–40.
Hidayat, I. (2016). Konversi Agama Dan Permasalahannya Dalam Kehidupan Modern.
Al-Murshalah, 2(1), 66–73.
Ilahi, K., Rabain, J., & Sarifandi, S. (2017). KONVERSI AGAMA Kajian Teoritis dan Empiris terhadap Fenomena, Faktor, dan Dampak Sosial di Minangkabau (Cetakan 1). Kalimetro Inteligensia Media . https://repository.uin-
suska.ac.id/11864/1/KONVERSI%20AGAMA.pdf
Khairiyah. (2018). FENOMENA KONVERSI AGAMA DI KOTA PEKANBARU (KAJIAN TENTANG POLA DAN MAKNA). 10(2).
Mandjarreki, S. (2019). Konversi Keyakinan (Studi Pada Lima Penganut Kepercayaan Tolotang Yang Berpindah Keyakinan Menjadi Muslim). Jurnal Jurnalisa : Jurnal Jurusan Jurnalistik, 5(2), 223.
Mulyadi. (2019). Konversi Agama. Tarbiyah Dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang |, 29(29), 29–36.
Aulia, T. (2021). Kebutuhan Spiritual Yang Dibutuhkan Manusia Sebagai Makhluk Biologis, Psikologis, Sosial dan Spirirtual. 1–2.