• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Etika Komunikasi Cyber

Bayu Putra

Academic year: 2023

Membagikan "Makalah Etika Komunikasi Cyber"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS INDIVIDU MATAKULIAH FILSAFAT KOMUNIKASI

ETIKA KOMUNIKASI CYBER

DOSEN PENGAMPU:

Dr. NURJANAH, M.Si

DISUSUN OLEH:

BAYU PUTRA NIM: 2310246550

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS RIAU 2023

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alikum Warahmatullahi Wabarakuh.

Puji syukur penulis sanjungkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, rahmat, karunia, dan hidayah yang di berikan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Individu Filsafat Komunikasi dengan sebaik-baiknya. Shalawat dan salam tidak lupa pula penulis ucapkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, dengan mengucapkan “Allahumma shalli ala saidina Muhammad, wa’ala alihisaidini Muhammad”.

Penulis atau penyusun Tugas Individu Filsafat Komunikasi ini tidak terlepas dengan adanya bantuan dari berbagai pihak yang telah memberikan masukan-masukan kepada penulis sehingga menjadi seperti saat ini. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Ibuk Dr. Nurjanah, M.Si, selaku Dosen Pengampu Filsafat Komunikasi.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari tugas ini, baik dari materi maupun teknik seperti penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman dari penulis.

Untuk itu penulis sangat menerima segala bentuk kritik dan saran guna membangun laporan ini agar lebih baik dan dapat memenuhi syarat, serta bermanfaat bagi siapa saja yang membancanya.

Akhir kata penulis ucapkan terimakasi, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pekanbaru, 31 Oktober 2023 Hormat Penulis,

Bayu Putra

ii

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB 1 PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...1

1.3 Tujuan...2

BAB 2 PEMBAHASAN...3

1.1 Pengertian Etika Komunikasi...3

3.2 Etika Komunikasi Cyber...4

3.3 Perkembangan dan Evolusi Etika Komunikasi Dalam Lingkungan Cyber...5

3.4 Perubahan Norma dan Nilai Seiring Perkembangan Teknologi Digital...6

3.5 Upaya Perbaikan Norma dan Etika Komunikasi Cyber...7

3.6 Analisis Penelitian Terkait...9

BAB 3 KESIMPULAN...14

3.1 Kesimpulan...14

3.2 Saran...14 DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di era digital yang terus berkembang, komunikasi melalui platform online telah menjadi bagian integral dari kehidupan kita. Sosial media, email, pesan instan, dan berbagai platform digital lainnya memungkinkan individu untuk terhubung, berbagi informasi, dan berinteraksi dengan orang lain di seluruh dunia. Namun, dengan kemajuan teknologi ini, muncul pula berbagai tantangan etika yang perlu diatasi.

Etika komunikasi cyber adalah kajian tentang perilaku komunikasi yang benar dan salah dalam dunia online (Junaedi, 2022). Hal ini melibatkan pertimbangan etika dalam berbicara, menulis, berbagi informasi, dan berinteraksi dengan orang lain di lingkungan digital. Etika komunikasi cyber menjadi semakin penting karena dampak komunikasi online dapat berdampak besar pada individu dan masyarakat (Spinello, 2010).

Dalam lingkungan komunikasi cyber, masalah seperti privasi, penyebaran informasi palsu, pelecehan online, dan perundungan cyber semakin meningkat. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan menghormati prinsip-prinsip etika yang berkaitan dengan komunikasi online. Ini melibatkan pemahaman tentang bagaimana berkomunikasi secara aman, menghormati privasi orang lain, memastikan kebenaran informasi, dan mempromosikan interaksi yang sehat dan positif (Tavani, 2016).

Selain itu, etika komunikasi cyber juga berkaitan dengan tanggung jawab sosial dalam dunia online. Individu, perusahaan, dan pemerintah perlu mempertimbangkan dampak etika dari tindakan dan kebijakan mereka dalam lingkungan digital. Kebebasan berbicara dan hak untuk berkomunikasi harus diselaraskan dengan tanggung jawab untuk tidak merugikan atau merugikan orang lain.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yaitu bagaimana perubahan dinamika komunikasi dalam lingkungan digital telah memengaruhi norma dan prinsip etika dalam berinteraksi secara online, serta bagaimana masyarakat menghadapi tantangan etis

1

(5)

seperti privasi, penyebaran disinformasi, ujaran kebencian, dan pengaruh teknologi dalam membentuk norma-norma komunikasi dalam dunia cyber saat ini?.

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini antara lain:

1. Untuk melihat perkembangan dan evolusi etika komunikasi dalam lingkungan cyber, mengidentifikasi perubahan norma dan nilai-nilai etis dalam komunikasi online seiring perkembangan teknologi digital.

2. Untuk mengevaluasi dampak dari perilaku tidak etis dalam komunikasi cyber terhadap individu dan komunitas online.

3. Untuk menyusun rekomendasi dan pedoman yang dapat mendukung upaya perbaikan perilaku komunikasi online dan pendidikan masyarakat dalam menghormati norma dan etika komunikasi cyber.

(6)

BAB 2 PEMBAHASAN

3. Pengertian Etika Komunikasi

Secara etimologis, kata Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos”. Kata yang berbentuk tunggal ini berarti “adat atau kebiasaan”. Tetapi dalam bentuk jamaknya “ta etha” yang artinya adat kebiasaan, Oleh karena itu, etika adalah suatu teori tentang tindakan manusia, yang didasarkan pada kebaikan dan kejahatan, atau ilmu yang mempelajari apa yang baik dan apa yang buruk dengan memperhatikan akal (Sandra & Dewi, 2019).

Etika sangat dibutuhkan dan penting dalam kehidupan kita bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan di tingkat internasional, semua perilaku kita akan diatur oleh etika. Etika merupakan sebuah sistem pengaturan pergaulan sehingga menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler, dan lain-lain. Tujuan kita beretika dalam pergaulan yaitu, untuk menjaga kepentingan masing-masing, dan hidup dengan tenang, damai, tentram, dan menjamin perbuatan seseorang sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan (Prasanti & Indriani, 2017).

Etika menjadi sangat penting dalam hal berkomunikasi, baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak. Etika dapat diartikan juga dari bahasa latin yaitu ethicus yang artinya kebiasaan. Biasanya sesuatu yang dianggap baik akan menjadi sebuah kebiasaan dalam suatu masyarakat. Etika memang sangat mempengaruhi kehidupan manusia, etika dapat membuat orientasi manusia terpengaruh selama perjalanan hidupnya. Etika dalam kehidupan manusia dapat juga membantu dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang perlu dilakukan dengan menerapkan konsep etika tersebut dengan baik, sehingga kehidupan dapat berjalan dengan lancar dan damai (Mufid, 2009).

Indriani dan Prasanti (2017) mengatakan bahwa etika komunikasi memperhatikan kejujuran dan terus terang, keharmonisan hubungan, pesan yang tepat, menghindari kecurangan, konsistensi antara pesan verbal maupun nonverbalserta memperhatikan komunikator memotong pembicaraan atau tidak.

(7)

Etika Komunikasi secara lebih detail merupakan ilmu yang membahas moralitas atau manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Penyelidikan tingkah laku moral dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Ridwan, 2013):

1. Etika Deskriptif

Mendekskripsikan tingkah laku moral dalam arti luas, seperti adat kebiasaan, anggapan baik dan buruk, tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Objek penyelidikannya adalah individu dan kebudayaan.

2. Etika Normatif

Dalam hal ini, seseorang dapat dikatakan sebagai participation approach karena yang bersangkutan telah melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia. la tidak netral karena berhak untuk mengatakan atau menolak etika tertentu.

3. Metaetika

Awalan meta (Yunani) berarti “melebihi”, “melampaui”. Metaetika bergerak seolah-olah bergerak pada taraf lebih tinggi daripada perilaku etis, yaitu pada taraf “bahasa etis” atau bahasa yang digunakan di bidang moral.

Dari beberapa definisi di atas, tampak jelas bahwa kajian tentang etika sangat dekat dengan kajian moral. Etika merupakan sistem moral dan prinsip-prinsip dari suatu perilaku manusia yang kemudian dijadikan sebagai standardisasi baik-buruk, salah-benar, serta sesuatu yang bermoral atau tidak bermoral.

4. Etika Komunikasi Cyber

Etika Komunikasi Cyber merujuk pada seperangkat norma, prinsip, dan nilai-nilai yang mengatur perilaku dan interaksi individu dalam dunia digital, terutama melalui media sosial, platform online, dan saluran komunikasi elektronik lainnya (Himawan et al., 2022). Etika Komunikasi Cyber menyoroti tindakan dan perilaku yang dianggap pantas dan tidak pantas dalam lingkungan digital, serta bertujuan untuk mempromosikan interaksi online yang bermartabat, menghormati privasi, dan menghindari perilaku yang merugikan individu atau kelompok.

Beberapa aspek utama dari Etika Komunikasi Cyber meliputi:

1. Privasi dan Keamanan Data: Menjaga privasi informasi pribadi dan data dalam komunikasi online serta menghormati hak privasi individu.

(8)

2. Penggunaan Anonimitas: Memahami batasan dan tanggung jawab yang terkait dengan penggunaan anonimitas dalam berkomunikasi online.

3. Pencegahan Cyberbullying: Mencegah dan mengatasi tindakan cyberbullying dan pelecehan online.

4. Penyebaran Disinformasi: Menyadari dampak penyebaran disinformasi dan upaya untuk memerangi penyebaran berita palsu dan informasi yang tidak benar.

5. Ujaran Kebencian dan Kekerasan Online: Menolak tindakan ujaran kebencian, ancaman, atau perilaku agresif lainnya dalam komunikasi cyber.

6. Respek terhadap Keanekaragaman dan Inklusi: Menghormati keberagaman individu, kelompok, budaya, dan pandangan dalam interaksi online.

7. Etika dalam Bisnis dan Pemasaran Online: Mengikuti pedoman etika dalam praktik bisnis dan pemasaran online, termasuk menghindari penipuan atau manipulasi.

8. Penghormatan Hak Cipta: Mematuhi hak cipta dan melindungi karya intelektual orang lain dalam konten yang dibagikan atau digunakan online.

Etika Komunikasi Cyber menjadi semakin penting seiring dengan pertumbuhan penggunaan internet dan media sosial, karena berkontribusi pada menciptakan lingkungan online yang positif, aman, dan bermartabat. Etika ini membantu mengatur perilaku dalam dunia digital dan menghadapi tantangan yang muncul seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi.

5. Perkembangan dan Evolusi Etika Komunikasi Dalam Lingkungan Cyber

Perkembangan dan evolusi etika komunikasi dalam lingkungan cyber merupakan subjek penting yang tercermin dalam perubahan norma, nilai-nilai, dan perilaku dalam komunikasi online seiring dengan perkembangan teknologi dan evolusi media sosial. Berikut adalah beberapa poin kunci yang menggambarkan perkembangan dan evolusi etika komunikasi dalam lingkungan cyber:

1. Mengubah Cara Berkomunikasi: Perkembangan teknologi komunikasi, seperti media sosial, pesan instan, dan platform berbagi video, telah mengubah cara orang berkomunikasi. Ini telah memengaruhi norma etika komunikasi, seperti penggunaan emotikon, emoji, atau singkatan yang menjadi bahasa komunikasi yang diterima secara luas di dunia digital.

5

(9)

2. Penggunaan Anonimitas: Lingkungan cyber memungkinkan pengguna untuk tetap anonim atau menggunakan pseudonim dalam berkomunikasi. Hal ini telah memunculkan pertanyaan etika tentang tanggung jawab dan akuntabilitas dalam interaksi anonim.

3. Peningkatan Disinformasi dan Hoaks: Media sosial telah menjadi tempat utama penyebaran disinformasi, hoaks, dan berita palsu. Ini telah memaksa perubahan dalam etika komunikasi untuk memerangi penyebaran informasi yang tidak benar dan mengajak pengguna untuk lebih kritis dalam menilai informasi yang mereka terima.

4. Penyebaran Ujaran Kebencian dan Intoleransi: Internet juga menyaksikan peningkatan ujaran kebencian dan perilaku intoleransi. Ini telah mendorong perkembangan etika yang mengedepankan penghargaan terhadap keragaman dan mendorong diskusi yang beradab dan inklusif.

5. Isu Privasi dan Keamanan: Perkembangan dalam pengumpulan dan penggunaan data online telah menimbulkan isu etika tentang privasi dan keamanan data. Hal ini telah mendorong penggunaan regulasi dan hukum yang lebih ketat dalam melindungi privasi individu.

6. Pendidikan Etika Komunikasi: Kesadaran akan pentingnya etika komunikasi dalam lingkungan cyber telah mendorong upaya pendidikan dan kesadaran yang lebih besar tentang cara berkomunikasi secara etis online. Sekolah, perusahaan, dan lembaga lainnya semakin mengintegrasikan pelajaran etika komunikasi dalam program mereka.

7. Perubahan dalam Bisnis dan Pemasaran Online: Etika komunikasi juga relevan dalam bisnis dan pemasaran online. Perusahaan semakin fokus pada praktik yang etis dalam iklan, pengumpulan data pelanggan, dan perlindungan hak konsumen.

Perkembangan dan evolusi etika komunikasi dalam lingkungan cyber mencerminkan perubahan konstan dalam dunia digital. Untuk menjaga lingkungan online yang positif dan aman, penting untuk terus memantau, mendiskusikan, dan memperbarui norma etika yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan perubahan sosial.

6. Perubahan Norma dan Nilai Seiring Perkembangan Teknologi Digital

Perubahan norma dan nilai seiring perkembangan teknologi digital adalah fenomena yang terus berkembang dalam masyarakat modern. Teknologi digital telah memengaruhi cara kita

(10)

berinteraksi, bekerja, dan hidup. Berikut adalah beberapa contoh perubahan norma dan nilai yang dapat diidentifikasi seiring dengan perkembangan teknologi digital:

1. Privasi dan Keamanan Data: Dulu, privasi terutama terkait dengan hak pribadi seseorang untuk menjaga informasi pribadi. Namun, dengan pengumpulan dan berbagi data secara online, perubahan norma privasi terjadi. Nilai-nilai yang berkaitan dengan keamanan data dan perlindungan privasi semakin dihargai dan menjadi perhatian utama.

2. Keterbukaan dan Transparansi: Teknologi digital telah mendorong norma keterbukaan dan transparansi. Individu dan perusahaan diharapkan untuk lebih terbuka dalam berkomunikasi dan berbagi informasi, terutama dalam konteks bisnis dan pemerintahan.

3. Etika dalam Penggunaan Teknologi: Nilai etika dalam penggunaan teknologi semakin penting. Perusahaan dan individu diharapkan untuk menggunakan teknologi dengan cara yang bertanggung jawab dan etis, termasuk menghindari penggunaan teknologi untuk tujuan manipulatif atau merusak.

4. Penghormatan Terhadap Keragaman: Teknologi digital telah memungkinkan kolaborasi dan interaksi lintas budaya. Oleh karena itu, penghormatan terhadap keragaman dan inklusivitas semakin menjadi nilai yang dihargai dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara online.

5. Pendidikan Digital dan Literasi: Pendidikan digital dan literasi menjadi penting dalam masyarakat yang semakin terkoneksi. Nilai-nilai ini mencakup kemampuan untuk memahami, menilai, dan menggunakan teknologi digital dengan bijaksana.

6. Kewaspadaan Terhadap Disinformasi dan Hoaks: Teknologi digital telah memunculkan perhatian terhadap disinformasi dan hoaks. Nilai-nilai kewaspadaan dan kritis dalam mengkonsumsi informasi online semakin ditekankan.

Perubahan norma dan nilai-nilai ini mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap perubahan teknologi. Sementara teknologi terus berkembang, norma dan nilai-nilai etis akan terus berubah dan beradaptasi untuk mengatasi tantangan baru yang muncul dalam dunia digital.

Pemahaman dan penghargaan terhadap perubahan ini merupakan langkah penting dalam menjaga lingkungan digital yang positif dan etis.

7

(11)

7. Upaya Perbaikan Norma dan Etika Komunikasi Cyber

Upaya perbaikan norma dan etika komunikasi cyber adalah langkah yang penting untuk menciptakan lingkungan online yang lebih etis, aman, dan bermartabat. Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan:

1. Pendidikan dan Kesadaran: Pendidikan tentang etika komunikasi cyber harus dimulai sejak usia dini. Sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan lainnya dapat mengintegrasikan pelajaran tentang etika komunikasi dalam kurikulum mereka.

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya etika komunikasi juga dapat ditingkatkan melalui kampanye informasi dan workshop.

2. Pengembangan Kode Etik dan Pedoman: Komunitas online, perusahaan teknologi, dan organisasi lainnya dapat mengembangkan kode etik dan pedoman perilaku yang mengatur komunikasi cyber. Pedoman ini harus menekankan nilai-nilai seperti penghormatan terhadap privasi, toleransi, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi online.

3. Moderasi Konten: Platform media sosial dan komunikasi online harus mengadopsi kebijakan moderasi konten yang ketat. Ini termasuk menghapus konten yang mengandung ujaran kebencian, ancaman, atau disinformasi.

4. Pelaporan dan Penanganan Pelanggaran: Masyarakat harus diberikan mekanisme untuk melaporkan perilaku tidak etis atau pelanggaran etika komunikasi. Platform online juga harus memiliki prosedur penanganan yang efektif untuk mengatasi pelanggaran ini.

5. Pengawasan Orang Tua dan Pengasuhan Digital: Orang tua perlu terlibat dalam pengawasan dan pendidikan anak-anak tentang etika komunikasi. Mereka dapat memastikan anak-anak memahami cara berkomunikasi secara etis dan aman online.

6. Peraturan dan Hukum yang Tepat: Pemerintah dapat mengeluarkan peraturan dan undang-undang yang mengatur etika komunikasi cyber, termasuk perlindungan privasi dan penyebaran informasi yang salah. Regulasi yang tepat dapat memberikan kerangka kerja yang kuat untuk melindungi individu dan menghukum pelanggaran etika.

7. Kesadaran dan Tanggung Jawab Individu: Pada akhirnya, tanggung jawab individu adalah kunci utama dalam memperbaiki etika komunikasi cyber. Setiap individu harus bertanggung jawab atas perilaku mereka online dan sadar akan dampak dari tindakan mereka dalam lingkungan digital.

(12)

Upaya perbaikan etika komunikasi cyber harus melibatkan kerja sama semua pemangku kepentingan, dari individu hingga perusahaan teknologi, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan online yang lebih etis, aman, dan positif.

8. Analisis Penelitian Terkait Penelitian 1

Judul Penelitian Framing Categorization of Domestic Violence on Hulondalo.id Nama Peneliti Noval Sufriyanto Talani , Rahmatiah , Ferdinand Kerebungu3 ,

Dondik W. Wiroto (2023)

Publikasi Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi Terindex SINTA 2 Tujuan/Objek Kajian Untuk mengetahui konstruksi pemberitaan KDRT di media siber

Hulondalo.id, pola kategorisasi yang muncul, dan posisi ideologis media dalam menyikapi kasus KDRT.

Teori/Model Teori framing Murray Edelman digunakan dalam analisis data.

Metode kajian Pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis Sampel/Subjek Kajian

+Lokasi Kajian (+N)

KDRT di Gorontalo dan pemberitaan yang khusus dikaji di salah satu media siber lokal yaitu Hulondalo.id.

Hasil kajian Berdasarkan temuan, berita KDRT di Hulondalo.id tergolong Headline dan Crime. Kekerasan fisik, seksual, dan ekonomi merupakan tiga jenis kekerasan dalam konstruksi berita. Pola kategorisasi berita membentuk cara pandang yang berlawanan antara pelaku dan korban KDRT. Subkategori tersebut meliputi subkategori agresif (memaksa), tidak berdaya (memaksa), persaingan antara pelaku (penantang) versus korban (penuduh), pemabuk, sadis dan biadab, pelit, dan subkategori suami- perempuan miskin yang nakal. Faktor konten berita KDRT yang diproduksi oleh media siber lokal Hulondalo.id dipengaruhi oleh individu awak media, rutinitas media, dan organisasi media.

Kesimpulan KDRT dalam Hulondalo.id digolongkan menjadi tiga bentuk kekerasan, yaitu kekerasan fisik, seksual, dan ekonomi yang kemudian mencakup kategorisasi. Faktor individu awak media, rutinitas media, dan organisasi media cenderung mempengaruhi konten berita kekerasan dalam rumah tangga yang diproduksi

9

(13)

oleh media siber lokal Hulondalo.id, sesuai dengan pola kategorisasi yang terbentuk. Pendirian ideologis media siber Hulondalo.id bersifat ambigu. Di satu sisi media terkesan membela korban, namun di sisi lain justru menunjukkan sikap yang berbeda. Media siber lokal Hulondalo.id nampaknya melanggengkan ideologi patriarki sebagai institusi sosial. Hal ini terlihat dalam teks, dimana identitas korban dieksploitasi, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki mendapat legitimasi, dan perempuan dibenarkan menerima kekerasan.

Penelitian 2

Judul Penelitian Aktivisme Tagar #Percumalaporpolisi Sebagai Zeitgeist Demokrasi Siber Di Indonesia

Nama Peneliti Nur Indah Wuriani (2021)

Publikasi WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Terindex SINTA 3 Tujuan/Objek Kajian Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa aktivisme

tagar seperti #PercumaLaporPolisi telah memenuhi empat elemen properti formal sebagai zeitgeist demokrasi siber khususnya di Indonesia.

Teori/Model

Metode kajian Melalui metode netnografi peneliti menelaah elemen properti formal zeitgeist pada penggunaan tagar di Twitter. Berdasarkan Sampel/Subjek Kajian

+Lokasi Kajian (+N)

Peneliti memfokuskan analisis pada penggunaan tagar

#PercumaLaporPolis di Twitter. Sample data yang diambil oleh software Talkwalker merupakan analisis pada keseluruhan cuitan di Twitter yang mengandung tagar #PercumaLaporPolisi pada periode 1-7 November 2021 dan 1-7 Desember 2021.

Hasil kajian Berdasarkan hasil analisis linimasa Twitter dan data yang diperoleh dari software Talkwalker terkait tagar

#PercumaLaporPolisi, ditemukan bahwa aktivisme tagar telah memenuhi empat properti formal zeitgeist sebagai bagian dari demokrasi siber yakni duration, scope, course serta media and carrier.

(14)

Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat kita simpulkan bahwa aktivisme tagar telah memenuhi keseluruhan properti formal sebagai zeitgeist demokrasi siber di Indonesia.

Penelitian 3

Judul Penelitian Hubungan Antara Cyber Public Relations Dalam Mengkomunikasikan Etika Bisnis Dan Citra Burgreens Nama Peneliti Jovita Dwijayanti, Yatri Indah Kusumastuti (2018)

Publikasi Jurnal Kmp (Jurnal Komunikasi Pembangunan) Terindex SINTA 4

Tujuan/Objek Kajian Untuk menganalisis hubungan antara cyber PR dalam mengkomunikasikan etika bisnis dan citra Burgreens.

Teori/Model Cyber Public Relations

Metode kajian Metode yang digunakan adalah metode accidental sampling.

Penelitian ini mengasilkan dua jenis data, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner yang kemudian diolah dengan Microsoft Exel 2016. Software SPSS version 24.0 digunaka untuk menguji statistic yang akan menggunakan uji korelasi. Statistik deskriptif dugunakan untuk menggambarkan data-data mengenai penilaian terhadap publikasi online, akses pada sosial media, serta komunitas online.

Sampel/Subjek Kajian +Lokasi Kajian (+N)

Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu yang aktif pada dunia digital, dengan usia 25 tahun ke atas, dan dianggap telah memiliki kesadaran akan pentingnya hidup sehat.

Hasil kajian Penelitian ini membuktikan bahwa pengimplementasian cyber PR dalam mengkomunikasikan etika bisnis mampu menghasilkan citra positif bagi Burgreens.

Kesimpulan Pengimplementasian cyber public relations pada Burgreens berdasarkan Website, Instagram, dan Facebook-nya dapat dikatakan efektif dalam membagikan informasi mengenai etika bisnis maupun produk Burgreens. Hal tersebut, dinyatakan berdasarkan dengan hasil penilaian terhadap cyber public

11

(15)

relations yang dilakukan oleh Burgreens dari responden yang masuk ke dalam kategori publik Burgreens masuk kedalam kategori tinggi, yaitu sebanyak 60 persen.

Penelitian 4

Judul Penelitian Fenomena Netflix Platform Premium Video Streaming Membangun Kesadaran Cyber Etik Dalam Perspektif Ilmu Komunikasi

Nama Peneliti (Djamzuri & Mulyana, 2022)

Publikasi Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Terindex SINTA 6 Tujuan/Objek Kajian Peneliti mencoba memahami Netflix sebagai entitas yang ada di

internet sebagai bentuk platform yang menaungi film-film dan sensor film sebagai cara pemerintah untuk meregulasi film di masyarakat.

Teori/Model Richard A. Spinello mengenai Etika Maya (cyber-ethics) dan argumen Richard A. Spinello terkait Governing and Regulating the Internet.

Metode kajian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif tentang konsep Etika maya/cyber-ethics

Sampel/Subjek Kajian +Lokasi Kajian (+N)

Netflix

Hasil kajian Berdasarkan Excerpt From CyberEthics: Morality and Law in Cyberspace ada solusi yang ditawarkan oleh Richard A. Spinello (2014) adalah Internet Governance/ Tata Kelola Internet. Selain melakukan Direct State Intervention, negara juga bisa membuat literasi terhadap membangun kesadaran cyber-ethics.

Pemahaman Cyber-ethics dapat ditumbuhkan dengan memahami cyber wellness.

Kesimpulan Pendekatan Ilmu Komunikasi dalam memahami fenomena Netflix sebagai platform video streaming sangat diperlukan untuk memperkaya khasanah penelitian teknologi media baru.

Dengan memahami konsep cyber etik diharapkan dapat menjawab bagaimana menerapkan konsep tersebut terhadap

(16)

regulasi yang ditentukan oleh stakeholder industri perfilman, penyiaran di Indonesia.

13

(17)

BAB 3 KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Dalam kesimpulan makalah tentang "Etika Komunikasi Cyber," dapat diidentifikasi tiga poin utama:

1. Pentingnya Kesadaran dan Tanggung Jawab: Etika komunikasi cyber memerlukan kesadaran yang tinggi dari pengguna internet tentang dampak tindakan dan kata-kata mereka online. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa komunikasi mereka menghormati nilai-nilai moral, menghindari cyberbullying, hatespeech, dan penyebaran informasi palsu, serta menjaga privasi pribadi dan orang lain.

2. Peran Pendidikan dan Pemberdayaan: Pendidikan adalah kunci untuk memahami dan mengamalkan etika komunikasi cyber. Pendidikan yang kuat dalam hal ini perlu diintegrasikan dalam kurikulum sekolah dan program pelatihan, sehingga individu dapat mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang perilaku online yang etis.

3. Peran Platform Digital dan Regulasi: Perusahaan teknologi dan platform digital memiliki tanggung jawab dalam menjaga lingkungan online yang etis. Mereka perlu menerapkan kebijakan dan praktik yang mendukung etika komunikasi cyber, serta bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mengatasi masalah seperti penyebaran disinformasi, privasi data, dan penyalahgunaan platform mereka. Regulasi juga dapat menjadi instrumen penting dalam memastikan etika komunikasi cyber dipatuhi.

Kesimpulan ini menekankan pentingnya peran individu, pendidikan, dan regulasi dalam membentuk lingkungan online yang lebih etis, aman, dan beradab. Etika komunikasi cyber adalah landasan penting untuk memastikan hubungan dan interaksi online yang sehat dan positif.

3.2 Saran

Dalam rangka memajukan pemahaman dan implementasi etika komunikasi cyber, ada beberapa saran yang dapat diambil. Pertama, diperlukan upaya lebih lanjut dalam meningkatkan kesadaran publik mengenai isu-isu etika komunikasi cyber melalui kampanye pendidikan dan sosialisasi. Kedua, perusahaan teknologi harus aktif dalam mengevaluasi dan memperbarui

(18)

kebijakan mereka untuk memastikan perlindungan privasi dan keamanan data pengguna, serta pencegahan cyberbullying dan hatespeech. Ketiga, pemerintah perlu mempertimbangkan regulasi yang lebih ketat untuk mengendalikan penyebaran informasi palsu dan tindakan cyberbullying.

Terakhir, kerja sama antara sektor publik dan swasta sangat penting untuk menciptakan ekosistem internet yang etis dan aman. Dengan upaya bersama, kita dapat memastikan bahwa etika komunikasi cyber menjadi inti dari interaksi online yang positif dan bermanfaat.

15

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Djamzuri, M. I., & Mulyana, A. P. (2022). Fenomena Netflix Platform Premium Video Streaming Membangun Kesadaran Cyber Etik Dalam Perspektif Ilmu Komunikasi. Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan (JISIP), 6(1), 2247–2254.

Dwijayanti, J., & Kusumastuti, Y. I. (2018). Hubungan Antara Cyber Public Relations Dalam Mengkomunikasikan Etika Bisnis Dan Citra Burgreens. JURNAL KMP (JURNAL KOMUNIKASI PEMBANGUNAN), 16(2), 186–203.

Himawan, I. S., Wahyuni, S., Hamidin, D., Andriani, A. D., Meidelfi, D., & Khairunisa, Y.

(2022). Etika Profesi Teknologi Informasi Dan Komunikasi. TOHAR MEDIA.

Junaedi, F. (2022). Etika Komunikasi di Era Siber: Teori dan Praktik (1st ed.). Rajawali Pers.

Mufid, M. (2009). Etika dan Filsafat Komunikasi (1st ed.). Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Prasanti, D., & Indriani, S. S. (2017). Etika komunikasi dalam media sosial bagi ibu-ibu PKK di Desa Mekarmukti Kab. Bandung Barat (studi deskriptif kualitatif tentang etika komunikasi dalam media sosial bagi ibu-ibu PKK di Desa Mekarmukti Kab. Bandung Barat). Profetik:

Jurnal Komunikasi, 10(1), 21–34.

Ridwan, A. (2013). Filsafat Komunikasi. CV. Pustaka Setia.

Sandra, M., & Dewi, R. (2019). Islam dan Etika Bermedia (Kajian Etika Komunikasi Netizen di Media Sosial Instagram Dalam Perspektif Islam ). Research Fair Unisri, 3(1).

Spinello, R. (2010). Cyberethics: Morality and law in cyberspace. Jones & Bartlett Publishers.

Talani, N. S., Rahmatiah, R., Kerebungu, F., & Wiroto, D. W. (2023). Framing Categorization of Domestic Violence on Hulondalo.id. Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, 7(1), 43–64.

https://doi.org/10.15575/cjik.v7i1.19946

Tavani, H. T. (2016). Ethics and technology: Controversies, questions, and strategies for ethical computing. John Wiley & Sons.

Wuriani, N. I. (2021). Aktivisme Tagar #Percumalaporpolisi Sebagai Zeitgeist Demokrasi Siber Di Indonesia. WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 20(2), 171–183.

https://doi.org/10.32509/wacana.v20i2.1702

Referensi

Dokumen terkait

Pentingnya etika dapat dilihat jika seseorang berkomunikasi, kita tentu lebih menghargai orang yang berbicara dengan sopan ketimbang orang yang berbicara dengan kasar atau tidak

Komunikasi bisnis lintas budaya adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis baik komunikasi verbal maupun nonverbal dengan memperhatikan

Etika Komunikasi Dalam Islam. Disusun

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan etika komunikasi dalam masyarakat Jawa yang dikaitkan dengan nilai etika atau moral.. Bahasa Jawa sebagai sarana komunikasi layak

Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta,

Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta,

Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta,

Etika komunikasi dalam memberikan layanan konseling online berbasis teks sendiri menjadi hal yang dapat menimbulkan perdebatan, karena belum ada pedoman atau kode etik yang secara