MAKALAH FARMAKOGNOSI KASUS 3
ALKALOID
DISUSUN OLEH KELOMPOK B
PROGRAM STUDI S1 FARMASI STIKES KARYA PUTRA BANGSA TULUNGAGUNG
2024
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Alkaloid” dengan lancar.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan para pembaca mengenai karakter senyawa, prosedur umum, prosedur khusus isolasi target, hasil dan kesimpulan dari senyawa alkaloid.
Penyusun juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan- kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, penyusun mengharapkan adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang , mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Melalui kata pengantar ini penyusun terlebih dahulu meminta maaf dan memohon pemakluman bila mana terdapat kesalahan pada makalah ini. Dan dengan ini penulis mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya.
Tulungagung,20 Januari 2024 Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...2
BAB I...4
PENDAHULUAN...4
1.1. Latar Belakang...4
1.2. Rumusan Masalah...6
1.3. Tujuan...6
BAB II...7
PEMBAHASAN...7
2.1. Karaketristik Alkaloid...7
2.2. Klasifikasi Alkaloid...8
2.3. Fungsi Alkaloid...8
2.4. Tanaman Penghasil Alkaloid...11
2.5. Klasifikasi dan Kandungan Bunga Melati...13
2.6. Prosedur Pengambilan Ekstrak Bunga Melati...13
2.7. Prosedur Pembuatan Parfum Dari Ekstrak Bunga Melati...14
BAB III...15
PENUTUP...15
3.1. Kesimpulan...15
3.2. Saran...15
DAFTAR PUSTAKA...16
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Keanekaragaman flora (biodiversity) berarti keanekaragaman senyawa kimia (chemodiversity) yang kemungkinan terkandung di dalamnya baik yang berupa metabolisme primer (metabolit primer) seperti protein, karbohidrat, dan lemak yang digunakan oleh tumbuhan itu sendiri untuk pertumbuhannya ataupun senyawa kimia dari hasil metabolisme sekunder (metabolit sekunder) seperti terpenoid, steroid, kumarin, flavonoid, dan alkaloid. Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktivitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya. Hal ini memacu dilakukannya penelitian dan penelusuran senyawa kimia terutama metabolit sekunder yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti teknik pemisahan, metode analisis, dan uji farmakologi. Senyawa hasil isolasi atau senyawa semi sintetik yang diperoleh dari tumbuhan sebagai obat atau bahan baku obat.
Metabolisme sekunder juga disebut metabolisme khusus adalah istilah untuk jalur dan molekul kecil produk dari metabolisme yang tidak mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup organisme. Senyawa kimia sebagai hasil metabolit sekunder telah banyak digunakan untuk zat warna, racun, aroma makanan, obat-obatan dan sebagainya. Serta banyak jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat-obatan, dikenal sebagai obat tradisional sehingga perlu dilakukan penelitian tentang penggunaan tumbuh-tumbuhan berkhasiat dan mengetahui senyawa kimia yang bermanfaat sebagai obat. ndonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang kaya sumber alam terutama tumbuh-tumbuhan yang sangat beraneka ragam.
Beberapa jenis tumbuhan digunakan sebagai ramuan obat yang penggunaanya didasarkan secara turun-temurun maka para peneliti kimia telah melakukan penyelidikan terhadap kandungan kimia tanaman tersebut. Ilmu yang mempelajari zat yang berkhasiat dalam tumbuhan meliputi identifikasi, isolasi serta penetapan kadarnya dikenal dengan ilmu fitokimia.
Sejarah alkaloid hampir setua peradaban manusia. Manusia telah menggunakan obat-obatan yang mengandung alkaloid dalam minuman, kedokteran, teh dan racun.
Obat-obat yang pertama ditemukan secara kimia adalah opium, getah kering Apium Papaver somniferum. Opium telah digunakan sebagai obat- obatan dan sifatnya sebagai analgetik dan narkotik sudah diketahui. Pada tahun 1803, Derosne mengisolasi alkaloid semi murni dari opium dan diberi nama narkotin. Seturner pada tahun 1805 mengadakan penelitian lebih lanjut terhadap opium dapat berhasil mengisolasi morfin. Selain itu, pada tahun 1817- 1820 di Laboratorium Pelletier dan Caventon di Fakultas Farmasi di Paris, melanjutkan penelitian dibidang kimia alkaloid yang menakjubkan. Diantara alkaloid yang diperoleh dalam waktu singkat tersebut adalah Stikhnin, Emetin, Brusin, Piperin, kaffein, Quinin, Sinkhonin dan Kolkhisin.
Menurut Cordell (1981), sebagian besar sumber alkaloid adalah tanaman berbunga (angiospermae) salah satunya adalah bunga melati.
Kebanyakan famili tanaman yang mengandung alkaloid adalah liliaceae, solamae, solanace dan rubiacea. Karena alkaloid sebagai suatu kelompok senyawa yang terdapat sebagian besar pada tanaman berbunga, maka para ilmuwan sangat tertarik pada sistematika aturan tanaman. Kelompok tertentu alkaloid dihubungkan dengan famili tanaman tertentu.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Apa yang dimaksud dengan alkaloid?
1.2.2. Apa saja karakteristik alkaloid?
1.2.3. Apa saja klasifikasi dari senyawa alkaloid?
1.2.4. Apa saja fungsi dari alkaloid?
1.2.5. Apa saja tanaman yang mengandung senyawa alkaloid?
1.2.6. Apa saja klasifikasi dan kandungan dari bunga melati?
1.2.7. Bagaimana prosedur pengambilan ekstrak dari bunga melati?
1.2.8. Bagaimana prosedur pembuatan parfum dari ekstrak bunga melati?
1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui pengertian dari alkaloid.
1.3.2. Untuk mengetahui karakteristik dari alkaloid.
1.3.3. Untuk mengetahui klasifikasi dari alkaloid.
1.3.4. Untuk mengetahui fungsi dari alkaloid.
1.3.5. Untuk mengetahui tanaman yang mengandung senyawa alkaloid.
1.3.6. Untuk mengetahui klasifikasi dan kandungan dari bunga melati.
1.3.7. Untuk mengetahui cara pengambilan ekstrak dari bunga melati.
1.3.8. Untuk mengetahui cara pembuatan parfum dari ekstrak bunga melati.
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Karaketristik Alkaloid
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan tingkat tinggi. Sebagian besar
alkaloid terdapat pada tumbuhan dikotil sedangkan untuk tumbuhan monokotil dan pteridofita mengandung alkaloid dengan kadar yang sedikit. Pengertian lain Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa atau alkali dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia dan hewan. Sebagai contoh, morfina sebagai pereda rasa sakit, reserfina sebagai obat penenang, atrofina berfungsi sebagai antispamodia, kokain sebagai anestetik lokal, dan strisina sebagai stimulan syaraf (Ikan, 1969). Selain itu ada beberapa pengecualian, dimana termasuk golongan alkaloid tapi atom N (Nitrogen) terdapat di dalam rantai lurus atau alifatis.
Meyer’s Conversation Lexicons tahun 1896 dinyatakan bahwa alkaloid terjadi secara karakteristik di dalam tumbuh- tumbuhan, dan sering dibedakan berdasarkan kereaktifan fisiologi yang khas. Senyawa ini terdiri atas karbon, hidrogen, dan nitrogen, sebagian besar diantaranya mengandung oksigen. Sesuai dengan namanya yang mirip dengan alkali (bersifat basa) dikarenakan adanya sepasang elektron bebas yang dimiliki oleh nitrogen sehingga dapat mendonorkan sepasang elektronnya. Kesulitan mendefinisikan alkaloid sudah berjalan bertahun-tahun.
Definisi tunggal untuk alkaloid belum juga ditentukan. Trier menyatakan bahwa sebagai hasil kemajuan ilmu pengetahuan, istilah yang beragam senyawa alkaloid akhirnya harus ditinggalkan (Hesse, 1981). Garam alkaloid dan alkaloid bebas biasanya berupa senyawa padat, berbentuk kristal tidak berwarna (berberina dan serpentina berwarna kuning). Alkaloid sering kali optik aktif, dan biasanya hanya satu dari isomer optik yang dijumpai di alam, meskipun dalam beberapa kasus dikenal campuran rasemat, dan pada kasus lain satu tumbuhan mengandung satu isomer sementara tumbuhan lain mengandung enantiomernya (Gritter, 1995).
2.2. Klasifikasi Alkaloid
Metode klasifikasi alkaloid yang paling banyak digunakan adalah berdasarkan struktur nitrogen yang dikandungnya, yaitu :
1. Alkaloid heterosiklis, merupakan alkaloid yang atom nitrogennya berada dalam cincin heterosiklis. Alkaloid ini dibagi menjadi alkaloid pirolidin, alkaloid indol, alkaloid piperidin, alkaloid piridin, alkaloid tropan, alkaloid histamin, imidazol dan guanidin, alkaloid isokuinolin, alkaloid kuinolin, alkaloid akridin, alkaloid kuinazolin, alkaloid izidin.
2. Alkaloid dengan nitrogen eksosiklis dan amina alifatis, seperti efedrina.
3. Alkaloid putressin, spermin dan spermidin, misalnya pausina.
4. Alkaloid peptida merupakan alkaloid yang mengandung ikatan peptida.
5. Alkaloid terpena dan steroidal, contohnya funtumina.(Widi, 2007) 2.3. Fungsi Alkaloid
Alkaloid telah dikenal selama bertahun-tahun dan telah menarik perhatian terutama karena pengaruh fisiologinya terhadap mamalia dan pemakaiannya di bidang farmasi, tetapi fungsinya dalam tumbuhan hampir sama sekali kabur. Beberapa pendapat mengenai kemungkinan perannya dalam tumbuhan sebagai berikut (Gritter, 1995):
a. Alkaloid berfungsi sebagai hasil buangan nitrogen seperti urea dan asam urat dalam hewan (salah satu pendapat yang dikemukan pertama kali, sekarang tidak dianut lagi).
b. Beberapa alkaloid mungkin bertindak sebagai tandon penyimpanan nitrogen meskipun banyak alkaloid ditimbun dan tidak mengalami metabolisme lebih lanjut meskipun sangat kekurangan nitrogen.
c. Pada beberapa kasus, alkaloid dapat melindungi tumbuhan dari serangan parasit atau pemangsa tumbuhan. Meskipun dalam beberapa peristiwa bukti yang mendukung fungsi ini tidak dikemukakan, mungkin merupakan konsep yang direka-reka dan bersifat ‘manusia sentris’.
d. Alkaloid dapat berlaku sebagai pengatur tumbuh, karena dari segi struktur, beberapa alkaloid menyerupai pengatur tumbuh. Beberapa alkaloid merangasang perkecambahan yang lainnya menghambat.
e. Semula disarankan oleh Liebig bahwa alkaloid, karena sebagian besar bersifat basa, dapat mengganti basa mineral dalam mempertahankan kesetimbangan ion dalam tumbuhan.
Salah satu contoh alkaloid yang pertama sekali bermanfaat dalam bidang medis adalah morfin yang diisolasi tahun 1805. Alkaloid diterpenoid yang diisolasi dari tanaman memiliki sifat antimikroba. Solamargine, suatu glikoalkoid dari tanaman berri solanum khasianum mungkin bermanfaat terhadap infeksi HIV dan infeksi intestinal yang berhubungan dengan AIDS.
Ketika alkaloid ditemukan memiliki efek antimikroba temasuk terhadap Giarde dan Entamoeba, efek anti diare utama mereka kemungkinan disebabkan oleh efek mereka pada usus kecil. Berberin merupakan satu contoh penting alkaloid yang potensial efektif terhadap typanosoma dan plasmodia.
Mekanisme kerja dari alkaloid kuartener planar aromatik seperti berberin dan harman dihubungkan dengan kemampuan mereka untuk berinterkalasi dengan DNA.
Berikut adalah beberapa contoh senyawa alkaloid yang telah umum dikenal dalam bidang farmakologi :
Senyawa Alkaloid
(Nama Trivial) Aktivitas Biologi
Nikotin Stimulan pada syaraf otonom
Morfin Analgesik
Kodein Analgesik, obat batuk Atropin Obat tetes mata
Skopolamin Sedatif menjelang operasi
Kokain Analgesik
Piperin Antifeedant (bioinsektisida)
Quinin Obat malaria
Vinkristin Obat kanker
Ergotamin Analgesik pada migraine
Reserpin Pengobatan simptomatis disfungsi ereksi Mitraginin Analgesik dan antitusif
Vinblastin Anti neoplastik, obat kanker Saponin Antibakteri
2.4. Tanaman Penghasil Alkaloid
Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik, daun-daunan yang berasa sepat dan pahit, biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu.
Alkaloid dihasilkan oleh banyak organisme, mulai dari bakteria, fungi (jamur), tumbuhan, dan hewan. Ekstraksi secara kasar biasanya dengan mudah dapat dilakukan melalui teknik ekstraksi asam-basa. Rasa pahit atau getir yang dirasakan lidah dapat disebabkan oleh alkaloid. Istilah "alkaloid" (berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa) pertama kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang apoteker dari Halle (Jerman) untuk
menyebut berbagai senyawa yang diperoleh dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah dikenal, misalnya, morfina, striknina, serta solanina). Hingga sekarang dikenal sekitar 10.000 senyawa yang tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam, sehingga hingga sekarang tidak ada batasan yang jelas untuknya.
Cokelat adalah makanan yang diolah dari biji kakao. Cokelat mengandung alkaloid-alkaloid seperti teobromin, fenetilamina, dan anandamida yang memiliki efek fisiologis untuk tubuh. Kandungan-kandungan ini banyak dihubungkan dengan tingkat serotonin dalam otak. Menurut ilmuwan, cokelat jika dimakan dalam jumlah normal secara teratur dapat menurunkan tekanan darah.
Tembakau mengandung senyawa alkaloid, diantaranya adalah nikotin.
Nikotin termasuk dalam golongan alkaloiod yang terdapat dalam famili Solanaceae. Nikotin dalam jumlah banyak terdapat dalam tanaman tembakau, sedang dalam jumlah kecil terdapat pada tomat, kentang dan terung. Nikotin dan kokain dapat pula ditemukan pada daun tanaman kota. Kadar nikotin berkisar antara 0,6-3,0 % dari berat kering tembakau, dimana proses biosintesisnya terjadi di akar dan terakumulasi pada daun tembakau. Nikotin terjadi dari biosintesis unsur N pada akar dan terakumulasi pada daun. Fungsi nikotin adalah sebagai bahan kimia antiherbivora dan adanya kandungan neurotoxin yang sangat sensitif bagi serangga, sehingga nikotin digunakan sebagai insektisida pada masa lalu.
Kecubung adalah tumbuhan penghasil bahan obat-obatan yang telah dikenal sejak ribuan tahun,di antaranya Datura Stramonium, Datura tatura, dan Brugmansia suaviolens, namun daya khasiat masing-masing jenis kecubung, berbeda-beda. Penyalahgunaan kecubung memang sering terjadi, sehingga bukan obat yang didapat malah racun (menyebabkan pusing) yang sangat berbahaya. Hampir seluruh bagian tanaman kecubung dapat dimanfaatkan sebagai obat. Hal ini disebabkan seluruh bagiannya mengandung alkaoida atau
disebut hiosamin (atropin) dan scopolamin, seperti pada tanaman Atropa belladona.Alkahoid ini bersifat racun sehingga pemakaiannya terbatas pada bagian luar. Biji kecubung mengandung hiosin dan lemak, sedangkan daunnya mengandung kalsium oksalat. Berkhasiat mengobati rematik, sembelit, asma, sakit pinggang, bengkak, encok, eksim, dan radang anak telinga.
Bunga melati memiliki zat alkaloid, flavonoid, minyak atsiri,tanin, dan saponin. Senyawa kimia tersebut yang memiliki sifat larvasida. Zat aktif ini memiliki kadar yang tinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya sehingga sangat efektif jika digunakan sebagai larvasida. Uji fitokimia bunga melati (Jasminum sambac L.) menunjukan bahwa zat aktif yang digunakan sebagai larvasida memiliki kadar yang tinggi dibandingkan zat larvasida yang terdapat di tanaman lainnya. Sehingga bunga melati (Jasminum sambac L.) memiliki potensi yang sangat besar jika digunakan sebagai larvasida alami.Zat aktif bunga melati (Jasminum sambac L.) bersifat neurotoksik pada serangga, sehingga timbul kelemahan gerak otot-otot pernapasan dan akhirnya menimbulkan kematian serangga(Hidayah et al., 2019). Melati merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi, kegunaannya tidak hanya sebagai tanaman hias pot dan taman tetapi juga sebagai pengharum teh, bahan baku industri parfum, kosmetik, obat tradisional,bunga tabur pusara, penghias ruangan, dekorasi pelaminan, dan pelengkap dalam upacara adat(Ningsih and Pujawati, 2016).
2.5. Klasifikasi dan Kandungan Bunga Melati
Nama latin:Jasminum sambac L. (Kristiyani, 2013)
Klasifikasi bunga melati:
Kingdom : Plantae Divisinya : Tracheophyta Sub divisi : Spermatophytina Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Lamiales Famili : Oleaceae Genus :Jasminum L.
Spesiesnya : Jasminum sambac (L.) Aiton.
Kandungan dari bunga melati
Kandungan senyawa aktif seperti alkaloid,flavonoid, saponin dan tanin pada (Jasminum Sambac)dapat berfungsi sebagai antiseptik sehingga dapat digunakan sebagai antibakteri khususnya untuk mengobati penyakit diare.
2.6. Prosedur Pengambilan Ekstrak Bunga Melati Alat dan Bahan yang digunakan:
Alat destilasi
Pipa T
Kondensor
Pipa alonga
Statif
Klem
Beaker glass
Selang
Bunga melati segar
Aquades
Na2SO4
Cara destilasi bunga melati:
1) Mencuci bunga melati dengan air mengalir sebanyak tiga kali sampai terpiah dari kotoran-kotoran yang menempel.
2) Menimbang bunga melati sebanyak 250 gram untuk isolasi.
3) Memasukkan bunga melati ke dalam labu alas bulat.
4) Melakukan distilasi dengan menggunakan pelarut aquades 500 ml selama
±3 jam.
5) Menampung hasil destilasi kedalam Erlenmeyer yang sudah ditimbang.
6) Mencatat pada suhu berapa destilasi pertama kali menetes.
7) Memindahkan hasil destilasi kedalam corong pisah,jangan digojog.
8) Menambahkan Na2SO4 untuk mengikat air yang mungkin masih tersisa dalam destilasi.
9) Memisahkan antara fase air dan fase minyak.
10) Menampung fase minyak dalam vial yang sudah ditimbang.
11) Menghitung rendemen.
1.7. Prosedur Pembuatan Parfum Dari Ekstrak Bunga Melati 1) Masukkan ekstrak bunga melati ke dalam botol parfum.
2) Tambahkan aquades dan sedikit alkohol ke dalam botol.
3) Tutup botol parfum.
4) Kemudian kocok sampai homogeny.
5) Parfum sederhana dari melati siap dipakai.
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktivitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa atau alkali dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia dan hewan. Salah satu sumber dari alkaloid adalah
bunga melati. Bunga melati merupakan bunga yang sering digunakan sebagai hiasan pernikahan. Karena bunga melati memiliki aroma yang sangat wangi jadi bunga melati dapat diambil ekstraknya dan dapat dibuat menjadi suatu produk parfum dari ekstrak daun melati.
3.2. Saran
Kami sangat menyadari banhwa masih banyaknya kekurangan dan kesalahan dalam mengerjakan penulisan tugas makalah ini oleh karena itu kami selaku penyusun makalah ini sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca baik secara lisan maupun tulisan guna untuk memperbaiki dan penyempurnaan hasil penulisan makalah yang kami buat berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Cordell, Geoffrey A. 1981. Introduction to Alkaloids. John Wiley & Sons : New York Manfred Hesse. 1986. Alkaloid Chemistry, A Wiley-Intersciance Publicatin. John
Wiley & Sons : New York.
Gritter, R. J. 1991. Pengantar Kromatografi Terbitan ke-2. ITB : Bandung.
Widi, Restu Kartiko. 2007. Penjaringan dan Identifikasi Senyawa Alkaloid dalam Batang Kayu Kuning (Arcangelisia Flava Merr) (Screening and Identification of Alkaloid Compounds in Kayu Kuning Stem (Arcangelisia Flava Merr)). Jurnal ILMU DASAR, Vol. 8 No. 1.
Hidayah, N., Herawati, A., & Habibi, A. (2020). IDENTIFIKASI KANDUNGAN
FITOKIMIA EKSTRAK BUNGA MELATI (Jasminum sambac (L.)ai)
KOMODITAS LOKAL YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTILARVASIDA.
Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan, 10(1), 476–483.
https://doi.org/10.33859/dksm.v10i1.450