• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH FILSAFAT EPISTIMOLOGI SAINS THOMAS KHUN

N/A
N/A
Syafiera Azra

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH FILSAFAT EPISTIMOLOGI SAINS THOMAS KHUN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

FILSAFAT EPISTIMOLOGI SAINS THOMAS KHUN

Dosen Pengampu :

Dr. M. Bagus Sekar Alam, S.S., M.Si

Disusun Oleh :

Tanaya Putri Salsabila (C0722147) Tsania

Nur Auna (C0722149)

Vita Hadiana (C0722151)

DESAIN KOMUNIKASI VISUAL FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2023

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami sanggup menuntaskan makalah yang berjudul “Filsafat Epistimologi Sains Thomas Kuhn” guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Dasar dan Sejarah Pemikiran Modern. Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih pada seluruh pihak yg sudah turut serta membantu pada penyusunan karya ilmiah ini.

Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa masih masih ada kekurangan, baik menurut penyusunan juga tatanan bahasa penyampaian pada karya ilmiah ini. Oleh karena itu, kami dengan rendah hati mendapat saran dan kritik menurut pembaca supaya kami bisa memperbaiki makalah ini. Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini menaruh manfaat dan ide untuk pembaca.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB I PENDAHULUAN 4

1.1 LATAR BELAKANG 4

1.2 RUMUSAN MASALAH 5

1.3 TUJUAN 5

BAB II PEMBAHASAN 6

2.1 DEFINISI EPISTIMOLOGI 6

2.2 BIOGRAFI THOMAS KUHN. 6

2.3 KONSEP PARADIGMA THOMAS KUHN 7

2.4 REVOLUSI SAINTIFIK THOMAS KUHN 9

BAB III PENUTUP 12

3.1 KESIMPULAN 12

3.2 SARAN 12

DAFTAR PUSTAKA 13

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Penjelasan sejarah filosofis epistemologi dapat ditelusuri kembali ke zaman kuno, ketika para filsuf seperti Plato, Aristoteles, dan Descartes mengajukan pertanyaan mendasar tentang sifat pengetahuan dan cara memperolehnya. Pemikiran mereka menjadi dasar pemikiran filosofis epistemologis modern. Selama pencerahan abad ke-17 dan ke-18, tokoh-tokoh seperti René Descartes, John Locke, dan David Hume berfokus pada pemahaman rasionalisme, empirisme, dan kritik sebagai pendekatan konstruksi pengetahuan manusia.

Pada abad ke-20, filsafat epistemologi terus berkembang dengan kontribusi dari berbagai filsuf dan ilmuwan. Pada awal abad ke-20, filsuf Austria Karl Popper mengembangkan falsifikasionisme, menekankan pentingnya memeriksa teori-teori ilmiah secara kritis menggunakan metode pengujian objektif. Popper berargumen bahwa teori ilmiah dapat dianggap valid jika bertahan dari serangkaian tes objektif dan mudah dipalsukan. Namun pada tahun 1962, Thomas S. Kuhn menerbitkan bukunya yang kontroversial, The Structure of Scientific Revolutions, yang mengguncang dunia filsafat, epistemologi, dan sains. Buku ini menyajikan wawasan baru yang revolusioner tentang perkembangan ilmiah dan pergeseran paradigma. Kuhn menantang pandangan tradisional bahwa sains berkembang secara linier dan kumulatif. Dia mengusulkan bahwa sains berkembang melalui paradigma yang berbeda dan pergeseran paradigma ini terjadi melalui revolusi ilmiah. Paradigma adalah kerangka pengetahuan dan metode yang diadopsi oleh komunitas ilmiah pada waktu tertentu. Para ilmuwan bekerja dalam paradigma itu dan mengembangkan pengetahuan dalam batas-batas yang ditetapkan oleh paradigma itu.

Menurut Kuhn, perkembangan ilmu pengetahuan tidak terjadi secara terus menerus, melainkan dalam kurun waktu yang disebutnya “paradigmatis”. Paradigmatik adalah periode di mana paradigma tertentu mendominasi pemahaman dan praktik ilmiah. Dalam keadaan ini, sains mengikuti jalan yang ditentukan oleh paradigma dominan. Namun, krisis dalam sains tidak jarang terjadi ketika paradigma dominan tidak mampu menjawab pertanyaan yang muncul atau menangani anomali yang tidak sesuai dengan kerangka pemahaman saat ini.

(5)

Krisis ini membuka jalan bagi munculnya paradigma alternatif baru. Ketika terjadi pergeseran paradigma, terjadilah revolusi ilmiah, yang secara radikal mengubah pemahaman dan metode sains.

Kuhn menggambarkan proses revolusi ilmiah sebagai perubahan paradigmatik yang terjadi tidak hanya dalam teori dan konsep, tetapi juga dalam metodologi, keyakinan, dan nilai-nilai yang mendasari praktik ilmiah. Revolusi ilmiah ini tidak hanya menyebabkan perubahan cara ilmuwan memahami dunia, tetapi juga mempengaruhi cara masyarakat memandang sains. Dengan pemikiran revolusioner tersebut, Thomas S. Kuhn memicu perdebatan luas dan kontroversial dalam filsafat epistemologi. Pemikirannya mempengaruhi bidang-bidang lain, seperti sosiologi sains, sejarah sains, dan kajian perkembangan ilmu pengetahuan. Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang kontribusi Thomas S. Kuhn terhadap filsafat epistemologi, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang sifat dinamis sains dan dampak pergeseran paradigma pada pemahaman kita tentang realitas.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Siapakah itu Thomas Kuhn?

2. Apa itu epistemologi?

3. Seperti apa dan bagaimana konsep epistemologi Thomas Kuhn?

1.3 TUJUAN

1. Mengetahui latar belakang Thomas Kuhn 2. Mengetahui arti dari epistimologi

3. Mengetahui bagaimana filsafat epistimologi Thomas Kuhn 4. Mengetahui konsep epistimologi paradigma dan revolusi saintifik

Thomas Kuhn.

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI EPISTIMOLOGI

Definisi epistemologi berasal dari bahasa Yunani,epistemedanlogos.Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran dan logos diartikan pikiran, kata atau teori.

Dengan demikian epistemologi secara etimologi memiliki makna teori pengetahuan yang benar, dan biasanya hanya disebut teori pengetahuan, membahas secara mendalam seluruh yang terlihat dalam upaya untuk memperoleh pengetahuan.

Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat ilmu yang membicarakan tentang asal, sifat, karaktek, dan jenis pengetahuan. Dan juga membicarakan tentang hakikat dari ilmu pengetahuan, dasar-dasarnya, ruang lingkup, sumber-sumbernya dan bagaimana mempertanggung jawabkan kebenarannya.

Epistemologi sebagai cabang dari filsafat menjadi dilema bagi para filsuf dan cendikiawan. Menuai perdebatan panjang tentang menentukan ruang lingkup atau cakupan dari epsitemologi itu sendiri.

2.2 BIOGRAFI THOMAS KUHN

Thomas S. Kuhn lahir pada tanggal 18 Juli 1922 di Cincinnati Ohio, USA dari keluarga Yahudi. Kuhn memperoleh gelar sarjana di bidang ilmu fisika dari Universitas Harvard dengan summa cumlaude pada tahun 1943. Gelar master dalam ilmu fisika di Harvard univercity pada tahun 1946 dan Ph. D pada tahun 1949 dalam bidang yang sama ilmu fisika. Sebelum mendalami ilmu-ilmu sosial humaniora Kuhn terlebih dahulu tenggelam dalam pekatnya ilmu fisika. Setelah menjadi pakar dalam ilmu fisika Thomas Kuhn kemudian mempelajari sejarah ilmu dan filsafat ilmu.

Karya pertamanya ialah The Copernican Revolution (1957) dan karya lainnya dari Kuhn terdapat Black-Body Theory and the Quantum Discontinuity (1979). Namun, Thomas S. Kuhn dikenal oleh masyarakat akademis secara luas dengan karya fenomenalnya The Stucture of Scientific Revolutions (1962). Dengan karyanya tersebut, telah terjual berjuta ekstemplar dan menjadi salah satu topik utama tokoh yang paling kontroversial pada abad ke-20. Tahun 1983 Kuhn mendapat gelar Laurence S. Rockefeller profesor filsafat di MIT.

Thomas Samuel Kuhn wafat pada hari Senin, 17 Juni tahun 1996 karena kanker. Setelah kematiannya, The Road Since Structure, sebagai kumpulan tulisan Kuhn tahun 1970-1993, diterbitkan pada tahun 2000.

(7)

Buku Kuhn merevolusi sejarah dan filsafat sains, dan konsepnya tentang pergeseran paradigma diperluas ke disiplin ilmu seperti ilmu politik , ekonomi, sosiologi , dan bahkan manajemen bisnis.

Thomas Kuhn berpendapat bahwa paradigma menentukan berbagai macam percobaan yang dilakukan para ilmuwan, seperti apa atau jenis pertanyaan yang mereka pertanyakan, dan berbagai masalah yang mereka anggap penting. Pergeseran paradigma mengubah konsep fundamental yang mendasari penelitian dan menginspirasi standar baru tentang suatu bukti nyata, teknik baru penelitian, juga jalan dan atau cara baru teori dan eksperimen yang sama sekali tidak seimbang dengan yang lama.

2.3 KONSEP PARADIGMA THOMAS KUHN

Paradigma adalah kerangka pengetahuan dan metode yang diadopsi oleh komunitas ilmiah pada waktu tertentu. Para ilmuwan bekerja dalam paradigma itu dan mengembangkan pengetahuan dalam batas-batas yang ditetapkan oleh paradigma itu. Thomas Kuhn mengemukakan konsep paradigma sebagai pandangan dasar tentang pokok bahasan ilmu tentang apa yang harus diteliti dan dibahas, pertanyaan apa yang harus dimunculkan, bagaimana merumuskan pertanyaan, dan aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam mengintepretasikan jawaban. Paradigma adalah konsensus terluas dalam dunia ilmiah yang berfungsi membedakan satu komunitas ilmiah dengan komunitas lainnya. Paradigma berkaitan dengan pendefinisian, eksemplar ilmiah, teori, metode, serta instrumen yang tercakup di dalamnya. Thomas Kuhn membagi karateristik penelitian ilmiah menjadi 2 karakter yaitu :

1. Menawarkan aspek dan unsur yang baru atau keluar dari metode lama 2. Menawarkan persoalan baru yang masih baru dan belum terselesaikan.

Paradigma sifatnya tidak selalu terikat pada nilai kebenaran tetapi memiliki aspek yang bisa membuka paradigma yang baru. Menurut Kuhn objektivitas ilmu tidak bersifat otoritatif hanya sebatas sebuah justifikasi kebenaran. Jadi paradigma memiliki manfaat bagi manusia dan lingkungan sekitar. Hal ini memunculkan penyesuaian kondisi dan terus memunculkan persoalan-persoalan baru. Kebenaran keilmuan ilmiah terus berubah dan berkembang seiring berjalannya waktu. Thomas Kuhn membagi paradigma menjadi beberapa tipe yaitu:

1. Paradigma Metafisik

Paradigma metafisik merupakan paradigma yang membatasi suatu bidang kajian dengan bidang kajian lain yang membuat ilmuan akan lebih fokus dalam penelitiannya. Paradigma ini mengandung nilai-nilai, keyakinan, teknik-teknik, metode dan unsur Kuhn eksemplar (pengetahuan yang diterima secara umum) yang digunakan oleh kemunitas ilmuwan tertentu. Paradigma metafisik juga memiliki fungsi untuk menentukan masalah ontologi yang menjadi objek

(8)

penelitian, menemukan objek kajian yang menjadi fokus penelitiannya, dan menemukan teori ilmiah serta penjelasan objek yang diteliti.

2. Paradigma Sosiologi

Paradigma sosiologi ini menjadi konsep eksemplarnya Kuhn yang memiliki kaitan dengan kebiasaan secara terus menerus, keputusan, aturan umum, serta hasil penelitian yang dapat diterima oleh masyarakat.

3. Paradigma Konstruk

Paradigma konstruk merupakan konsep tersempit dibandingkan dengan konsep paradigma yang lain. Paradigma konstruk dalam memahami realitas social budaya memiliki sifat plural dan diskontruksi.

Thomas Kuhn membagi paradigma utama menjadi dua bagian yaitu paradigma ilmiah dan paradigma alamiah.

Paradigma ilmiah mencakup perilaku sosial dan fakta sosial. Paradigma fakta sosial mampu memaksa dirinya untuk melakukan suatu hal dengan tujuan dapat mengimbangi perilaku luar dirinya sehingga perilaku tersebut dapat dikontrol. Fakta sosial mencakup norma, nilai, adat istiadat, serta aturan yang bersifat mengikat dan memaksa. Perilaku sosial adalah perilaku atau perbuatan seseorang yang dipicu oleh suatu kondisi tertentu. Perilaku ini ditentukan oleh stimulus yang datang dari luar. Paradigma perilaku sosial mencakup tiga asumsi dasar yaitu perilaku manusia dapat dikontrol, kepribadian manusia tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme psikis id dan ego, perilaku manusia hanya dapat ditentukan oleh pilihan individual.

Paradigma alamiah mengarah pada definisi sosial yang dipelopori oleh Weber. Definisi sosial tidak mengacu pada fakta sosial yang dianggap objektif tetapi pada proses berpikir manusia. Weber lebih mengacu pada tindakan sosial dan interaksi sosial. Tindakan sosial berarti tindakan individu yang memiliki arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada orang lain. Sehingga tindakan sosial dan interaksi sosial terjadi akibat kemauan individu dan masyarakat sendiri.

2.4 REVOLUSI SAINTIFIK THOMAS KUHN

Revolusi ilmiah merupakan perubahan drastis yang terjadi dalam tahapan perkembangan ilmu pengetahuan. Revolusi sains muncul disebabkan ada anomali yang dirasakan semakin parah dalam riset dan paradigma yang dijadikan referensi riset tidak dapat menyelesaikan krisis. Munculnya revolusi sains tidak sebanding dengan diterima atau

(9)

tidaknya di kalangan para akademisi atau masyarakat sains. Sebab, kebenaran yang diterima itu ialah hasil kesepakatan masyarakat sains terhadap sebuah penemuan baru.

● Kegiatan ilmiah dalam sains normal dibimbing oleh paradigma yang memberikan kesempatan para ilmuwan untuk menjabarkan dan mengembangkannya secara terperinci dan mendalam. Selama menjalankan riset ilmuwan akan menemukan berbagai fenomena yang tidak dapat diterangkan dengan teorinya, hal inilah yang disebut dengan anomali.

Anomali-anomali ini apabila semakin menumpuk dan kualitasnya semakin meninggi maka akan menimbulkan krisis. Adanya krisi ini akan menimbulkan pertanyaan terhadap paradigma, karena di posisi ini ilmuwan sudah dinyatakan keluar dari sains normal. Solusi dari situasi ini biasanya para ilmuwan akan kembali pada cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara tersebut dan mengembangkan paradigma tandingan yang dapat memcahkan masalah dan dapat digunakan untuk riset berikutnya. Cara terakhir inilah yang jikalau berhasil akan melahirkan revolusi ilmiah.

Revolusi ilmiah merupakan konsep Thomas Kuhn yang didefinisikan sebagai perubahan drastis dalam tahap kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Cakupannya sederhananya yakni paradigma lama diganti seluruh atau sebagiannya oleh paradigma baru yang dianggap berseberangan atau bertentangan. Menurut Kuhn bahwa kemajuan ilmiah mempunyai sifat revolusioner, cepat dan drastis bukan maju secara komulatif. Dasar tersebut menunjukkan bahwa revolusi ilmiah non-kumulatif untuk menuju ke perkembangan episode baru yang mana sebuah paradigma yang lama diganti secara keseluruhan atau sebagian oleh yang baru dan menggantikannya, sehingga berefek adanya diferensiasi secara mendasar antara paradigma lama dan paradigma baru.

Rangkaian dari siklus revolusi saintifik terbagi menjadi empat fase yakni, fase sebelum paradigma (pre paradigmatic), fase sains normal (normal science), fase krisis, dan fase revolusi saintifik.

1. Fase Sebelum Paradigma

Pada masa Sebelum-Paradigma, tidak ada suatu cara pandang tertentu yang dimiliki oleh orang-orang secara seragam. Belum ada paradigma yang diakui dan digunakan secara masif oleh masyarakat ilmuwan. Pada fase

(10)

sebelum-paradigma, ilmu dilanda konflik antara mahzab atau alirannya.

Komunikasi antara mahzab secara intern dan dengan ilmu luarnya serta dengan awam dapat mendewasakan ilmu yang bersangkutan. Demikian proses ilmu mencapai tingkatan sebagainormal science.

2. Fase Ilmu Pengetahuan Normal

Fase ini juga bisa disebut normal science adalah masa ketika suatu paradigma sudah mapan. Karena sudah mapan sehingga orang-orang tidak mempertanyakan lagi kebenaran paradigma tersebut. Paradigma tersebut dipercaya begitu saja tanpa adanya gugatan. Bahkan menurut Feyerabend, pada tahap ini paradigma sudah menjadi seperti agama, sifatnya dogmatis.

3. Fase Krisis

Fase krisis adalah masa ketika paradigma lama sudah dianggap tidak sakti lagi.

Manusia merasa bahwa paradigma lama ini tidak lagi mampu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Seiring berjalannya waktu, muncul anomali-anomali lainnya dan kian menumpuk hingga pada akhirnya menimbulkan krisis kepercayaan para ilmuwan terhadap paradigma.

Paradigma mulai diperiksa dan dipertanyakan. Para ilmuwan mulai keluar dari jalur normal science. Anomali adalah suatu keadaan yang memperlihatkan adanya ketidakcocokan antara kenyataan (fenomena) dengan paradigma yang dipakai. Paradigma lama tumpul, dianggap tidak mampu lagi menghadapi persoalan-persoalan. Kemudian, kebuntuan-kebuntuan inilah yang akhirnya melahirkan suatu paradigma baru. Bersamaan dengan kelahiran paradigma baru ini, saat itu jugalah fase krisis sudah terlewati. Fase krisis ini contohnya bisa kita lihat contohnya dalam perlihan dari era modern kepost modern. Saat modernisme mencapai puncaknya, para pemikir menyadari bahwa paradigma modern yang antroposentris ternyata telah membawa manusia kepada jurang kehancuran, mereduksi kesejatian manusia sebagai manusia.

4. Fase Revolusi Saintifik

Fase ini adalah fase dimana suatu paradigma baru lahir dan menggantikan paradigma lama. Pada fase ini, para ilmuwan bisa kembali lagi pada cara-cara

(11)

ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma tandingan yang dipandang bisa memecahkan masalah dan membimbing aktivitas ilmiah berikutnya. Proses peralihan dari paradigma lama ke paradigma baru inilah yang dinamakan revolusi saintifik. Pada fase ini, paradigma lama diuji kesaktiannya, apakah dia masih efektif untuk menghadapi masalah-masalah yang dihadapi. Jika ternyata paradigma lama gagal, maka dia akan segera digeser oleh paradigma baru.

(12)

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Thomas Kuhn mengemukakan konsep paradigma sebagai pandangan dasar tentang pokok bahasan ilmu tentang apa yang harus diteliti dan dibahas, pertanyaan apa yang harus dimunculkan, bagaimana merumuskan pertanyaan, dan aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam mengintepretasikan jawaban.

Menurut Thomas Kuhn paradigma tidaklah terikat pada suatu kebenaran.

Paradigma memiliki aspek yang dapat membuka jembatan paradigma yang baru dan secara berkala mengalami revolusi atau pergeseran paradigma.

Revolusi ilmiah merupakan konsep Thomas Kuhn berupa perubahan drastis yang terjadi dalam tahapan perkembangan ilmu pengetahuan. Revolusi sains muncul disebabkan ada anomali yang dirasakan semakin parah dalam riset dan paradigma yang dijadikan referensi riset tidak dapat menyelesaikan krisis. Selama menjalankan riset ilmuwan akan menemukan berbagai fenomena yang tidak dapat diterangkan dengan teorinya, hal inilah yang disebut dengan anomali. Anomali-anomali ini apabila semakin menumpuk dan

kualitasnya semakin meninggi maka akan menimbulkan krisis. Rangkaian dari siklus revolusi saintifik ini terbagi menjadi empat fase yaitu fase sebelum paradigma(pre paradigmatic), fase sains normal (normal science), fase krisis, dan fase revolusi saintifik.

3.2 SARAN

Dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena banyak kesalahan dan kekurangan di dalamnya. Dengan ini, kami dengan senang hati menerima kritik dan saran pembaca terkait makalah ini supaya dapat menjadi evaluasi bagi kami untuk ke depannya.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Damayanti, S.N. & Ma’ruf, H.M. (2018).Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 1 No. 3 Ulya, I. & Abid, N. (2015).Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Vol 3

Digarizki, I. & Anang, A. (2020).Epistemologi Thomas S. Kuhn: Kajian Teori Pergeseran Paradigma dan Revolusi Ilmiah, 7(1), 23-34

Thomas S. Kuhn:American Philosopher & Historian (2022)The Editors of Encyclopaedia Britannica.Diakses pada 24 Mei 2023, dari https://www-britannica-com.translate.

goog/biography/Thomas-S-Kuhn

Referensi

Dokumen terkait