• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH HUKUM ACARA SENGKETA KEWENANGAN KONSTITUSIONAL LEMBAGA NEGARA

N/A
N/A
PUTRI WINDA SARI

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH HUKUM ACARA SENGKETA KEWENANGAN KONSTITUSIONAL LEMBAGA NEGARA "

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

MAKALAH

HUKUM ACARA SENGKETA KEWENANGAN KONSTITUSIONAL LEMBAGA NEGARA

DOSEN PENGAMPU

Dr. HADI ISKANDAR S.H., M.H., CPM., CP., Arb.

DISUSUN OLEH:

LUTHFI ABDIKA 220510104 RUKIAH 220510243

PUTRI TIARA KHAIRANI 220510177 NAILA SALSABILA 220510289

HUKUM ACARA MAHKAMAH KONSTITUSI (IV-D) FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS MALIKUSSALEH LHOKSEUMAWE

2024

(2)

i

KATA PENGANTAR

Assalamualikum Wr.Wb

Puji syukur senantiasa selalu kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan Rahmat,Taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Salawat serta salam tak lupa kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukan jalan kebaikan dan kebenaran di dunia dan akhirat kepada umat manusia.

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah dan juga untuk khalayak ramai sebagai bahan penambah ilmu pengetahuan serta informasi yang bermanfaat.

Makalah ini penulis susun dengan segala kemampuan penulis dan semaksimal mungkin. Namun, penulis menyadiri bahwa dalam penyusunan makalah ini tentu tidaklah sempurna dan masih banyak kesalahan serta kekurangan.

Maka dari itu penulis sebagai penyusun makalah ini mohon kritik, saran dan pesan dari semua yang membaca makalah

Lhokseumawe, 25 Maret 2024

Penyusun

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penulisan ... 3

BAB II PEMBAHASAN ... 4

2.1 Pengaturan Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Memutus Sengketa kewenangan Antarlembaga Negara ... 4

2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Sengketa Kewenangan Antarlembaga Negara ... 5

2.3 Pedoman Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara ... 6

BAB III PENUTUP... 11

3.1 Kesimpulan ... 11

3.2 Saran ... 11

DAFTAR PUSTAKA... 12

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mengapa lembaga-lembaga negara itu dapat bersengketa? menurut Jimly Ashiddiqie dalam sistem ketatanegaraan yang diadopsikan dalam ketentuan UUD 1945 sesudah Perubahan Pertama (1999), Kedua (2000), ketiga (2001), dan Kempat (2002), mekanisme hubungan antar lembaga negara bersifat horisontal, tidak lagi bersifat vertikal. Jika sebelumnya kita mengenal adanya lembaga tinggi negara dan lembaga tertinggi negara, maka sekarang tidak ada lembaga tertinggi negara. MPR bukan lagi lembaga yang paling tinggi kedudukannya dalam bangunan struktur ketatanegaraan Indonesia, melainkan sederajat dengan lembaga-lembaga konstitusional lainnya, yaitu Presiden, DPR,DPD, MK, MA dan BPK.

Kehadiran Mahkamah Konstitusi sebagai pengawal konstitusi diharapkan mampu memecahkan berbagai problem ketatanegaraan Indonesia. Dalam berbagai sengketa kewenangan lembaga negara yang diprediksi akan sering terjadi, di sinilah peran Mahkamah Konstitusi sangat diperlukan. Tidak jelasnya konsepsi tentang lembaga negara menjadi kompetensi Mahkamah Konstitusi dapat menimbulkan penafsiran yang beragam.

Berrasarkan sudut pandang sejarah ketatanegaraan di Indonesia, tata cara penyelesaian atas sengketa kewenangan antara organ atau badan negara belum pernah dirumuskan. Sejak keberlakuan beberapa konstitusi yang pernah diterapkan di Indonesia, baik Undang-Undang Dasar 1945, sampai kembali menerapkan Undang-Undang Dasar 1945, tata cara penyelesaian permasalahan sengketa kewenangan antar lembaga atau badan negara belum diterapkan sebagai sebuah cara baku yang memiliki dasar hukum sendiri. Diciptakannya tata cara penyelesaian atas sengketa kewenangan konstitusional antara badan atau lembaga negara lewat MK mengindikasikan bahwa perumus amandemen Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945 menginginkan agar dalam melaksanakan fungsi kewenangan antar

(5)

2 badan atau lembaga negara dapat timbul gesekan pemahaman tentang kewenangan badan masing-masing.

Dalam pemikiran sebelumnya, tidak terbayangkan bahwa sesama organ negara dapat timbul sengketa kewenangan. Andaikan muncul perselisihan antara satu lembaga dengan lembaga lain, maka permasalahan tersebut diselesaikan begitu saja melalui proses-proses politik oleh lembaga atau instansi atasan yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi dari lembaga yang terlibat persengketaan.

Penyelesaian politis dan melalui mekanisme pengambilan keputusan yang bersifat vertikal itulah yang mewarnai corak penyelesaian masalah ketatanegaraan selama ini.1

Mekanisme untuk menyelesaikan perselisihan tentang otoritas lembaga negara melalui saluran peradilan diyakini memiliki nilai kebenaran dan keadilan yang dapat dipertanggungjawabkan secara konstitusional, mengingat prinsip independensi dan netralitas yang melekat dalam peradilan itu sendiri. Hanya saja dalam praktiknya, ternyata otoritas pengatur atas sengketa kewenangan lembaga negara yang ditempatkan di bawah kewenangan Mahkamah Konstitusi tidak secara otomatis mampu menjawab berbagai kebuntuan terkait masalah konstitusi yang ada, khususnya terkait sengketa institusi negara wewenang.

Selain itu, masalah selanjutnya terkait dengan tidak adanya makna dari diksi

"kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar" sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Apakah definisi wewenang yang diberikan oleh Konstitusi merupakan kewenangan yang secara eksplisit dinyatakan dalam Konstitusi atau termasuk wewenang tersirat, juga tidak ada formulasi definitif yang ditemukan. Kasus seperti

1 Jimly Asshiddiqie, Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara, (Jakarta: Konpres, 2005), 9

(6)

3 itu tentu akan sangat rentan melahirkan masalah hukum dalam konteks penyelesaian sengketa kewenangan lembaga negara di Mahkamah Konstitusi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dapat dirumuskan permasalah yang perlu dicari jawabannya adalah:

1. Bagaimana pengaturan kewenangan MK dalam memutus sengketa kewenangan antarlembaga negara?

2.

Bagaimana Faktor penyebab terjadinya sengketa kewenangan antarlembaga negara?

3.

Bagaimana pedoman beracara dalam sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara?

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Menjelaskan pengaturan kewenangan MK dalam memutus sengketa kewenangan antarlembaga negara.

2. Menjelaskan Faktor penyebab terjadinya sengketa kewenangan antarlembaga negara.

3. Menjelaskan pedoman beracara dalam sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara.

(7)

4 BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengaturan Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Memutus Sengketa kewenangan Antarlembaga Negara

Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia sebelum Perubahan Ketiga Undang- Undang Dasar 1945 pada tahun 2001, belum ada aturan mengenai mekanisme penyelesaian sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara. Lembaga yang memiliki kewenangan untuk memberi putusan terhadap sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara tersebut juga belum ada. Karena itu, selama masa tersebut belum ada preseden dalam praktik ketatanegaraan Indonesia mengenai penanganan sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara. Barulah setelah adanya Perubahan Ketiga UUD 1945, yang mengadopsi pembentukan lembaga negara Mahkamah Konstitusi yang salah satu kewenangannya adalah memutus sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945, sistem ketatanegaraan Indonesia memiliki mekanisme penyelesaian jika terjadi sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara.2

Perkara sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara merupakan perkara yang pemohonnya adalah lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945 yang mempunyai kepentingan langsung terhadap kewenangan yang dipersengketakan. Kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk memutus sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945, di samping melakukan

2 Jimly Asshiddiqie, 2016, Sengketa Kewenangan Antarlembaga Negara, Cetakan Kedua. Jakarta:

KonPress, hlm. 2

(8)

5 pengujian undang-undang terhadap UUD NRI Tahun 1945, pada dasarnya merupakan kewenangan konstitusional yang dibentuk dengan tujuan untuk menegakkan ketentuan yang terdapat dalam UUD NRI Tahun 1945. Ini disebabkan karena dari dua hal inilah persoalan konstitusionalitas dapat timbul. Fungsi Mahkamah Konstitusi sebagai peradilan konstitusi tercermin dalam (2) dua kewenangan tersebut, yaitu: (1) kewenangan untuk menguji undang-undang terhadap UUD; dan (2) kewenangan untuk memutus SKLN yang kewenangannya bersumber dari UUD NRI Tahun 1945.

Pasal 24C ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 secara limitatif menentukan kewenangan yang dimiliki oleh Mahkamah Konstitusi, ayat (1) tersebut berbunyi:

“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap UndangUndang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum”. Ketentuan limitatif Pasal 24C ayat (1) tersebut tampaknya menutup ruang perluasaan kewenangan MK untuk memutus sengketa kewengan lembaga negara independent.

2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Sengketa Kewenangan Antarlembaga Negara

Sengketa kewenangan antarlembaga negara dalam penyelenggaraan pemerintahan dapat terjadi karena berbagai kemungkinan, diantaranya sebagai berikut:

1. Kurang memadainya sistem yang mengatur dan mewadahi hubungan antarlembaga negara yang ada sehingga menimbulkan perbedaan interpretasi.

Perbedaan interpretasi terhadap suatu ketentuan yang menjadi dasar penyelenggaraan negara seringkali menyulut sengketa.

2. Dalam sistem ketatanegaran yan diadopsikan dalam UUD 1945, mekanisme hubungan antarlembaga negara bersifat horizontal, tidak lagi bersifat vertikal.

Sesuai dengan paradigma baru ini, semua lembaga-lembaga negara secara konstitusional berkedudukan sederajat. MPR tidak lagi berkedudukan

(9)

6 sebagai lembaga tertinggi, sebaliknya Presiden, DPD, DPR, BPK, MA, MK, dan lain-lain lembaga konstitusional berkedudukan sebagai lembaga tinggi.

UUD 1945, walaupun tidak seperti yang diharapkan teori trias politik dari Montersquieu, menganut sistem pemisahan kekuasaan (separation of power).

Hubungan antarlembaga negara dilakukan berdasarkan prinsip saling mengontrol dan mengimbangi (checks and balances). Prinsip pemisahan kekuasaan pada prinsipnya dimaksudkan untuk membatasi kekuasaan sehingga tidak terjadi dominasi kekuasaan suatu lembaga negara terhadap lembaga negara lainnya. Di samping itu, juga untuk menghindari terjadinya penindasan dan tindakan sewenang-wenang penguasa. Hubungan kelembagaan yang saling mengontrol dan mengimbangi tersebut memungkinkan terjadinya sengketa dalam melaksanakan wewenang masing- masing, yanki jika terjadi perbedaan dalam menafsirkan maksud yang terkandung dalam ketentuan UUD 1945.

3. Norma-norma yang menentukan mengenai lembaga negara yang diatur dalam UUD 1945 semakin meluas. Lembaga-lembaga negara yang ditentukan di dalam UUD 1945 tidak terbatas pada yang dikenal selama ini, yakni MPR, DPR, Presiden, BPK, DPA, dan MA, melainkan ditentukan adanya lembaga- lembaga negara baru, antara lain TNI, Kepolisian Negara, DPD, Komisi Pemilihan Umum, MK, Komisi Yudisial, dan lain-lain.

Kewenangan untuk memutus sengketa kewenangan antarlembaga negara diperlukan untuk mencegah agar sengketa itu tidak menjadi sengketa polotik yang bersiafat adversarial. Sebab hal itu akan berdampak buruk terhadap mekanisme hubungan kelembagaan dan pelaksanaan fungsi lembaga-lembaga negara.

2.3 Pedoman Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara

Pengaturan hukum acara yang dimuat dalam undang-undang tersebut tidaklah lengkap. Mengenai hal tersebut, menarik diperhatikan pendapat Maruarar Siahaan sebagai berikut. Pengaturan hukum acara yang dimuat dalam UU MK sangat sumir, sehingga terdapat begitu banyak kekosongan. Akan tetapi sejak awal, pembuat

(10)

7 undang-undang telah menyadari hal tersebut, baik karena keterbatasan waktu maupun kurangnya sumber acuan yang dapat digunakan sebagai bahan dalam menyusun hukum acara di MK, sehingga pengembangan lebih lanjut aturan hukum acara yang dibutuhkan diserahkan kepada MK untuk mengatur hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenangnya (Pasal 86 UU MK).3

Mekanisme pelaksanaan kewenagan Mahkamah Konstitusi sebagaimana diatur dalam ketentuan Peraturan Mahkamah Konstitusi tentang Pedoman Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara adalah tahapan sebagai berikut:

A. Permohonan

1. Pengajuan Permohonan

Dalam Bagian Kedua UU 24/2003, terdapat Pasal 29-31 yang isinya mengenai Pengajuan Permohonan. Pasal 29 ayat (1) UU 24/2003 berbunyi,

“Permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia oleh pemohon atau kuasanya kepada Mahkamah Konstitusi”, sedangkan ayat (2)-nya menyatakan agar permohonan tersebut ditandatangani oleh pemohon atau kuasanya dalam 12 rangkap.4 Permohonan tersebut memang untuk dibagikan kepada sembilan orang hakim konstitusi dan lembaga negara yang menjadi pihak termohon, dan lembaga negara yang terkait lainnya.

Permohonan tersebut, menurut ketentuan Pasal 30 UU 24/2003, wajib dibuat dengan uraian yang jelas mengenai jenis perkara yang diajukan. Permohonan yang diajukan berkenaan dengan salah satu jenis perkara konstitusi, menurut ketentuan Pasal 31 ayat (1) UU 24/2003, sekurang-kurangnya harus memuat (i) identitas

3 Maruarar Siahaan, “Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia”, Jakarta: Konpress, 2005, hlm. 4-5

4 Pasal 29 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi

(11)

8 pemohon, yaitu setidaktidaknya nama dan alamat; (ii) uraian mengenai perihal atau pokok perkara yang menjadi dasar permohonan, yaitu salah satu dari perkara konstitusi seperti diuraikan di atas atau fundamentum petendi dari permohonan; dan (iii) hal-hal yang diminta untuk diputus atau petitum permohononan. Selanjutnya, pada ayat (2) dinyatakan bahwa permohonan dimaksud harus diajukan dengan disertai alat-alat bukti yang mendukung permohonan tersebut.5

2. Pendaftaran Permohonan dan Jadwal Sidang

Terhadap setiap permohonan yang diajukan, Panitera Mahkamah Konstitusi melakukan pemeriksaan kelengkapan permohonan. Permohonan yang belum memenuhi kelengkapan wajib dilengkapi oleh pemohon dalam jangka waktu paling lambat tujuh hari kerja sejak pemberitahuan kekuranglengkapan tersebut diterima pemohon. Selanjutnya, Permohonan yang telah memenuhi kelengkapan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi. Untuk itu Pemohon akan mendapatkan tanda terima. Dalam jangka waktu paling lambat 14 hari kerja setelah permohonan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi, Mahkamah Konstitusi menetapkan hari sidang pertama yang harus diberitahukan kepada para pihak dan diumumkan kepada masyarakat, yaitu dengan menempelkan salinan pemberitahuan tersebut di papan pengumuman Mahkamah Konstitusi.

3. Pemberitahuan dan Pemanggilan

Pasal 38 UU 24/2003 jelas menyatakan bahwa para pihak, saksi, dan ahli wajib hadir. Surat panggilan harus sudah diterima oleh yang dipanggil dalam jangka waktu paling lambat tiga hari sebelum hari persidangan. Para pihak yang merupakan lembaga negara dapat diwakili oleh pejabat yang ditunjuk atau kuasanya berdasarkan peraturan perundang-undangan. Jika saksi tidak hadir tanpa alasan yang sah meskipun sudah dipanggil secara patut menurut hukum, Mahkamah

5 Pasal 61 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi

(12)

9 Konstitusi dapat meminta bantuan kepolisian untuk menghadirkan saksi tersebut secara paksa.

B. Pemeriksaan Perkara 1. Pemeriksaan Pendahuluan

Pemeriksaan Pendahuluan Sebelum mulai memeriksa pokok perkara, Mahkamah Konstitusi mengadakan pemeriksaan kelengkapan dan kejelasan materi permohonan. Dalam pemeriksaan itu, Mahkamah Konstitusi wajib memberi nasihat kepada pemohon untuk melengkapi dan/atau memperbaiki permohonan dalam jangka waktu paling lambat 14 hari.

2. Pemeriksaan Persidangan

Pemeriksaan tahap berikutnya, seperti diatur dalam Pasal 40 sampai dengan Pasal 44 ayat (2) UU 24/2003 disebut sebagai pemeriksaan persidangan. Sidang Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum, kecuali rapat permusyawaratan hakim.

Setiap orang yang hadir dalam persidangan wajib menaati tata tertib persidangan.

Dalam persidangan hakim konstitusi memeriksa permohonan beserta alat bukti yang diajukan untuk itu hakim konstitusi wajib memanggil para pihak yang berperkara untuk memberi keterangan yang dibutuhkan dan/atau meminta keterangan secara tertulis kepada lembaga negara yang terkait dengan permohonan.

Lembaga negara tersebut wajib menyampaikan penjelasannya dalam jangka waktu paling lambat tujuh hari kerja sejak permintaan hakim konstitusi diterima.

3. Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH)

Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH) merupakan rapat pleno hakim yang diselenggarakan secara tertutup untuk membahas putusan atas perkara yang telah diperiksa melalui persidangan yang bersifat terbuka untuk umum. Pasal 40 ayat (1) UU 24/2003 menyatakan, “Sidang Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum, kecuali rapat permusyawaratan hakim”.

RPH harus dilakukan secara tertutup dan rahasia yang dihadiri sekurang- kurangnya tujuh hakim konstitusi. RPH untuk pengambilan keputusan meliputi pengambilan keputusan mengenai mekanisme pemeriksaan dan kelanjutan perkara, putusan sela dan putusan akhir. RPH dapat juga untuk melakukan curah pendapat (brain storming) dan perancangan (drafting) putusan setelah musyawarah. RPH

(13)

10 demikian tidaklah harus memenuhi syarat kuorum dihadiri sekurangkurangnya tujuh hakim konstitusi.

C. Putusan

Sidang pleno pembacaan putusan merupakan sidang pleno terakhir yang diadakan oleh Mahkamah Konstitusi untuk penyelesaian perkara konstitusi yang diajukan oleh pemohon. Pada sidang ini, akan dibacakan putusan oleh majelis hakim. Pasal 48 UU 24/2003 menegaskan bahwa Mahkamah Konstitusi memberi putusan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.46 Dalam setiap Putusan, dimuat hal-hal: Kepala putusan berbunyi: “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”; Identitas pihak; Ringkasan permohonan;

Pertimbangan hukum yang menjadi dasar putusan; Amar putusan; dan Hari, tanggal putusan, nama hakim konstitusi, dan panitera.

Putusan Mahkamah Konstitusi, seperti ditegaskan oleh Pasal 47 UU 24/2003, memperoleh kekuatan hukum tetap sejak selesai diucapkan atau dibacakan dalam sidang pleno terbuka untuk umum. Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final, yakni putusan Mahkamah Konstitusi langsung memperoleh kekuatan hukum tetap sejak diucapkan dan tidak ada upaya hukum yang dapat ditempuh. Sifat final dalam putusan Mahkamah Konstitusi dalam Undang-Undang ini mencakup pula kekuatan hukum mengikat (final and binding).

(14)

11 BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Fungsi Mahkamah Konstitusi sebagai peradilan konstitusi tercermin dalam dua kewenangan tersebut, yaitu: (1) kewenangan untuk menguji undang-undang terhadap UUD; dan (2) kewenangan untuk memutus SKLN yang kewenangannya bersumber dari UUD NRI Tahun 1945.

Sengketa kewenangan antarlembaga negara dalam penyelenggaraan pemerintahan dapat terjadi karena kurang memadainya sistem yang mengatur hubungan antarlembaga negara, mekanisme hubungan antarlembaga negara bersifat horizontal, Lembaga-lembaga negara yang ditentukan di dalam UUD 1945 tidak terbatas.

Adapun Pedoman Beracara Dalam Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara ialah:

• Pengajuan Permohonan

• Pendaftaran Permohonan dan Jadwal Sidang

• Pemberitahuan dan Pemanggilan

• Pemeriksaan Pendahuluan

• Pemeriksaan Persidangan

• Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH)

• Putusan 3.2 Saran

Penulis berharap agar para pembaca tidak sekadar membaca artikel ini, karena penulis masih banyak melakukan kesalahan. Saya berharap tulisan ini dapat menambah pengetahuan para pembaca.

(15)

12

DAFTAR PUSTAKA

Anwary, Ichsan. Lembaga Negara dan Penyelesaian Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara, Yogyakarta: Genta Publishing, 2018.

Eddyono, Luthfi Widagdo. Penyelesaian Sengketa Kewenangan Lembaga Negara oleh Mahkamah Konstitusi, Konstitusi, Nomor 3, 2010.

Jimly Asshiddiqie, Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negara, Jakarta: Konpres, 2005

Simamora, Janpatar. Problematika Penyelesaian Sengketa Kewenangan Lembaga Negara Oleh Mahkamah Konstitusi, Mimbar Hukum, Nomor 1, 2016.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Pasal 24C ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945, MK berwenang untuk, menguji undang-undang terhadap UUD 1945, memutus sengketa kewenangan lembaga negara

[3.3] Menimbang bahwa Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 menyatakan, ”Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk

SENGKETA KEWENANGAN LEMBAGA NEGARA YANG MEMPEROLEH KEWENANGANNYA DARI UUD 1945 ADALAH SENGKETA YANG TIMBUL DALAM BIDANG HUKUM TATA NEGARA SEBAGAI AKIBAT SATU

Jika hal ini dihubungkan dengan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang

Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat Final untuk

Berdasarkan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, Mahkamah Konstitusi selanjutnya disebut MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang

Kewenangan Mahkamah Konstitusi sesuai dengan ketentuan Pasal 24C ayat (1) dan (2) UUD NRI tahun 1945 adalah untuk mengadili pada tingkat pertama dan terakhir untuk menguji UU

Pasal 24C ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) mengatur kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK).Mahkamah