• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH ISU-ISU PEMIKIRAN KONTEMPORER DI INDONESIA DAN RESPON PEMIKIR MUSLIM KEL. 7

N/A
N/A
NAZWA MARCHEBELA DIVANI -

Academic year: 2025

Membagikan "MAKALAH ISU-ISU PEMIKIRAN KONTEMPORER DI INDONESIA DAN RESPON PEMIKIR MUSLIM KEL. 7"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

ISU-ISU PEMIKIRAN KONTEMPORER DI INDONESIA DAN RESPON PEMIKIR MUSLIM

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Islam Ulil Albab Dosen Pengampu: Dr. Moch Taufiq, M.P.

Disusun oleh: Kelompok 7

Krisna Aulia Fitra Al Yusan (23422043) – Pendidikan Agama Islam Inayati Zahra Widiyani (23422046) - Pendidikan Agama Islam

Nazwa Marchebela Divani (23521053) – Teknik Kimia Azizah (23521054) _ Teknik Kimia

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya baik berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai dan tepat waktu. Shalawat serta salam kami ucapkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya di akhirat kelak. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Islam Ulil Albab. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca supaya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagu. Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi referensi bagi semua pihak yang memerlukannya..

Yogyakarta, 27 Mei 2024

ii

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN... 1

a. Latar Belakang...1

b. Rumusan Masalah...3

c. Tujuan penulisan...3

BAB II PEMBAHASAN...4

A. Respon terhadap Konsep Demokrasi...4

a. Pengertian Demokrasi... 4

b. Model-Model Demokrasi...5

c. Respon Umat Islam Indonesia terhadap Demokrasi...6

B. Respon terhadap Konsep HAM... 7

a. Pengertian HAM...7

b. Respon Umat Islam Indonesia terhadap Konsep HAM...7

C. Respon terhadap Konsep Pluralisme...11

a. Pengertian Pluralisme...11

b. Isu-isu Pluralisme dalam Pandangan Ulama Islam...12

c. Respon Umat Islam terhadap Konsep Pluralisme...13

D. Respon terhadap Konsep Gender...14

a. Pengertian Gender...14

b. Respon Umat Islam terhadap Konsep Pluralisme...15

E. Respon terhadap Konsep Civil Society...16

a. Pengertian Civil Society...16

b. Pandangan Umat Muslim terhadap Civil Society...17

BAB III PENUTUP...19

A. Kesimpulan... 19

DAFTAR PUSTAKA... 20

iii

(4)

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Dinamika pemikiran Islam di Indonesia dimaknai sebagai suatu fase di mana pemahaman dan pengamalan keislaman yang telah lama mapan di Nusantara ini dibaca ulang, dikritisi, diperdalam dan disegarkan. Dengan demikian, kajian ini merujuk pada satu babak sejarah pemikiran Islam pada abad ke-20, di mana para cendikiawan Muslim di Indonesia menggagas pemikiran tersebut, berkembang dan mengalami pasang surut. Perkembangan dinamika pemikiran Islam ditandai dengan lahirnya karya-karya akademis dan intelektual sebagai pembacaan ulang terhadap warisan budaya dan intelektual Islam. Fase-fase pemikiran Islam terus berkaitan satu dengan yang lainnya dari zaman ke zaman, sebagai upaya untuk merealisasikan keyakinan bahwa Islam akan selalu relevan di setiap masa, di seluruh tempat, dan dalam segala kondisi. Pemikiran Islam di Indonesia juga tidak dapat terlepas dari karakteristik dan corak keislaman masyarakat Indonesia yang pluralis-kultural.

Fenomena pemikiran ini merupakan respon atas kekalahan bangsa Arab di tangan Israel pada perang enam hari Juni tahun 1967. Peristiwa tersebut yang menyebabkan timbulnya garis pemisah antara pemikiran modern dan pemikiran kontemporer. Masalah utama dari pemikiran Islam Kontemporer umumnya terkait sikap terhadap tradisi di satu sisi dan sikap terhadap modernitas di sisi lain. Sedangkan pemikiran modern menyikapi tradisi sebagai sesuatu hal yang mesti dihilangkan demi kemajuan zaman.

Pemikiran Islam Kontemporer

Pemikiran Islam kontemporer merupakan pemikiran Islam yang berkembang pada masa modern (sekitar abad ke-19) hingga sekarang. Pemikiran Islam kontemporer ditandai dengan lahirnya suatu kesadaran baru atas keberadaan tradisi di satu sisi dan keberadaan modernitas di sisi yang lain, serta bagaimana sebaiknya membaca dan memahami keduanya. Karakteristik dari pemikiran Islam kontemporer adalah bersifat agresif yang berkembang dengan metode pemikiran baru dalam menafsirkan Al-Quran dan peradaban Islam.

iv

(5)

Berbeda dengan pemikiran Islam tradisional yang menganggap bahwa modernitas sebagai dunia lain yang asing, dan berbeda pula dengan pemikiran Islam modernis yang menghilangkan tradisi hanya demi pembaharuan. Pemikiran Islam kontemporer memandang bahwa tradisi merupakan prestasi sejarah, sedangkan modernitas merupakan realitas sejarah. Oleh karena itu, kita tidak bisa menekan tradisi apalagi sampai menghilangkannya hanya demi pembaharuan, rasionalisasi, atau modernisasi sebagaimana perspektif modernis selama ini. (M. Arkoun, 1997)

Akhir-akhir ini gema pemikiran Islam kontemporer semakin meluas, akan tetapi masih dalam kerangka tarik-menarik dengan pemikiran klasik/tradisonal. Karena keterkaitan para intelektual Islam sangat kuat dengan dengan masa keemasan para pendahulunya, mereka membuka lembaran masa lalu untuk menggali inspirasi. Masa lalu merupakan pemicu utama para intelektual muslim kontemporer untuk melakukan reaktualisasi, rekonstruksi dan dekonstruksi.

Murâd Wahbah menyatakan bahwa Ibnu Rushd, filsuf muslim dari Maroko, merupakan pintu gerbang pencerahan di Eropa. Bahkan hingga saat ini, tidak terdapat karya secermelang Ibnu Rushd dalam kategori komentar terhadap buku-buku Aristoteles, sehingga dijuluki dengan al- syarih al-‘adham (komentator agung).

Guru Besar Filsafat di Universitas Kairo, Dr. Athif Iraqi, menyatakan bahwa setelah Ibnu Rushd wafat, maka berakhirlah masa filsafat Islam. Setelah itu pemikiran-pemikiran filsafat tidak muncul lagi, para intelektual muslim kontemporer mulai menemukan percikan-percikan yang sangat bermakna dari pemikiran Islam klasik/tradisional dalam menentukan tumbuh-kembangnya pemikiran Islam Kontemporer.

Dengan demikian, Islam Kontemporer merupakan gerakan pemikiran Islam di kalangan intelektual Islam dalam menafsirkan kembali pemikiran klasik dengan situasi modern. Para tokohnya adalah para intelektual Islam yang banyak belajar di lembaga-lembaga pendidikan Barat maupun Eropa. Inti dari pemikirannya yaitu untuk mengembalikan kejayaan serta keunggulan pemikiran para intelektual Islam tradisional pada abad modernisasi, sehingga mampu melahirkan Islam modern. Hal tersebut dikarenakan pemikiran Islam tradisional sangat relevan dengan perkembangan peradaban modern. Sehingga, apabila peradaban ingin berkembang di abad modern, maka pemikiran Islam harus ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zamannya.

Perkembangan pemikiran Islam kontemporer di Indonesia tidak jauh beda dengan perkembangan Islam kontemporer di dunia Islam pada umumnya. Hal tersebut dikarenakan para intelektual muslim Indonesia banyak belajar di negara-negara Islam modern dan juga di negara-

v

(6)

negara Barat. Oleh karena itu, terjadi kolaborasi pemikiran antara pemikiran Islam kontemporer yang berasal dari jazirah Arab dan pemikiran islam kontemporer yang dikembangkan oleh para Islamolog yang terdapat di universitas-universitas Barat. Pemikiran Islam kontemporer di Indonesia dimulai sejak berkembangnya umat Islam Indonesia pada periode ide, terutama setelah para intelektual Islam Indonesia banyak bersentuhan dengan pembaharuan pemikiran Islam, baik pengaruh dari dunia Islam sendiri maupun dari dunia Barat.

Islam yang dibawa ke Indonesia itu bersifat adaptable, yaitu dapat diterima dengan baik oleh banyak kalangan. Kemungkinan Islam juga disesuaikan dengan berbagai keadaan yang menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan salah satu kekuatan Islam. Interpretasi Islam sebagai way of life di Indonesia yang diperjuangkan oleh para Wali Songo sangatlah erat dengan kebudayaan setempat. Perkembangan pemikiran kontemporer Islam di Indonesia tidaklah lepas dari pengaruh sosio-budaya dan sosio-politik bangsa Indonesia. Semakin besar pengaruh sosio- budaya, maka pemikiran Islam kaum intelektual Indonesia akan semakin modern. Akan tetapi, apabila semakin besar pengaruh sosio-politik, maka pemikiran Islam kaum intelektual muslim akan lebih bersifat tradisionalis. Dengan demikian, perkembangan islam kontemporer mengalami pasang-surut seiring berkembangnya sosio-budaya dan sosio-politik di Indonesia.

Namun yang jelas, berkembangnya Islam kontemporer di Indonesia terjadi pada periode ide. Periode ide yang dimaksud yaitu terdapat tiga tema sentral. Pertama, Interpretasi kembali Al- Quran, yaitu keinginan untuk melakukan rekonstruksi terhadap ajaran-ajaran Islam sebagai dasar pembinaan suatu masyarakat modern. Pendekatan yang diambil adalah mencari esensi-esensi ajaran Islam itu sendiri atau menggali nilai-nilai yang paling fundalmental. Kedua, Aktualisasi Tradisi, yakni bermaksud untuk melakukan pembaharuan pemikiran. Pembaharuan yang diinginkan bukan berarti harus terputus dengan sejarah. Ketiga, Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Inti dari Gagasan Islamisasi ini adalah memberikan esensi peradaban Islam modern dengan nilai-nilai tauhid. Dari ketiga tema tersebut, lahirlah istilah pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia. Gerakan pemikiran Islam kontemporer tersebut bermaksud untuk meraih masa depan Islam.

b. Rumusan Masalah

1. Bagaimana respon pemikir muslim terhadap konsep demokrasi?

2. Bagaimana respon pemikir muslim terhadap konsep HAM?

vi

(7)

3. Bagaimana respon pemikir muslim terhadap konsep pluralisme?

4. Bagaimana respon pemikir muslim terhadap konsep gender 5. Bagaimana respon pemikir muslin terhadap konsep sivil society

c. Tujuan penulisan

Dalam penulisan makalah ini, penulis memiliki beberapa tujuan penulisan yaitu:

1. Untuk mengetahui respon pemikir muslim terhadap konsep demokrasi, HAM, pluralisme, gender, dan Civil society.

vii

(8)

BAB II PEMBAHASAN

A. Respon terhadap Konsep Demokrasi a. Pengertian Demokrasi

Istilah demokrasi pertama kali diperkenalkan oleh Herodotus sekitar 3000 tahun yang lalu di Mesir Kuno, kemudian dikembangkan oleh para pemikir Yunani Kuno pada masa klasik (Afan, 1995). Secara etimologi, kata demokrasi berasal dari kata Demos (rakyat) dan Kratos (kekuasaan/pemerintahan) dalam bahasa Yunani.

Demokrasi menurut Sidney Hook, merupakan bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan pemerintah yang penting atau arah kebijakan di balik keputusan ini secara langsung maupun tidak langsung, didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa. Maka dapat dikatakan bahwa demokrasi mengandung unsur-unsur seperti kekuasaan mayoritas, suara rakyat, pemilihan yang bebas dan bertanggung jawab. Meskipun demikian, ada tujuh kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem demokrasi, yaitu (Robert A, 1982) :

1) Kontrol atas keputusan pemerintah mengenai kebijakan secara konstitusional diberikan pada para pejabat yang dipilih; 2) Para pejabat dipilih melalui pemilihan yang teliri dan jujur dimana paksaan dianggap sebagai sesuatu yang tidak umum; 3) Secara praktis semua orang dewasa mempunyai hak untuk mencalonkan diri pada jabatan- jabatan di pemerintahan, walaupun batasan umur untuk menduduki jabatan mungkin lebih ketimbang hak pilihnya ; 5) Rakyat mempunyai hak untuk menyuarakan pendapat tanpa ancaman hukuman yang berat mengenai berbagai persoalan politik yang didefinisikan secara luas, termasuk mengkritik para pejabat pemerintahan, rezim, tatanan sosio-ekonomi dan ideologi yang berlaku; 6) Rakyat mempunyai hak untuk mendapatkan sumber-sumber informasi alternatif. Lebih dari itu, sumber-sumber informasi alternatif yang ada dan dilindungi oleh hukum; 7) Untuk meningkatkan hak- hak mereka, termasuk hak-hak yang dinyatakan di atas, rakyat juga mempunyai hak

viii

(9)

membentuk lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi yang relatif independen, termasuk berbagai partai politik dan kelompok kepentingan yang independen.

b. Model-Model Demokrasi

Ketika berbicara mengenai hubungan antara agama (dalam hal ini Islam) dengan demokrasi, menurut Komaruddin Hidayat (1998), terdapat tiga model demokrasi antara lain:

1) Agama versus Demokrasi

Agama dan demokrasi tidak dapat disatukan atau dipertemukan. Agama bersifat konservatif dan membatasi nalar serta kebebasan manusia untuk membangun dunianya sendiri secara mandiri, tanpa dikekang oleh tangan Tuhan yang hadir melalui kekuasaan lembaga dan penguasa agama.

Hubungan negatif, bahkan konfliktual antara kehendak untuk membangun masyarakat demokratis dengan otoritas agama akan dijumpai dalam masyarakat, baik masyarakat Kristen di Barat maupun masyarakat Islam di Timur.

2) Sekularisasi Politik

Menurut sekularisasi politik, agama dan demokrasi bersifat netral, yaitu urusan agama dan urusan politik berjalan sendiri. Sekularisasi politik dapat terjadi pada level formal kelembagaan, pada proses sosial, pada level kesadaran metafisis, atau dapat juga terjadi pada ketiga level tersebut.

Karakteristik umum pada kehidupan sekular adalah penekanannya pada prinsip rasionalitas dan efisiensi yang diberlakukan dalam bidang kehidupan yang faktual empiris, sehingga agama semakin tersisih menjadi urusan pribadi.

3) Teo-Demokrasi

Menurut model Teo-Demokrasi, beranggapan bahwa secara teologis maupun sosiologis, agama sangat mendukung proses demokrasi politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Hal tersebut karena semua agama dari tradisi Ibrahim muncul dan berkembang dengan misi untuk melindungi dan menjunjung tinggi harkat manusia. Meskipun agama secara sistematis tidak

ix

(10)

mengajarkan praktek demokrasi, namun agama memberika etos, spirit, dan muatan doktrinal yang mendorong bagi terwujudnya kehidupan demokratis.

Meskipun agama berasal dari Tuhan, tetapi pada pelaksanaannya tetap melibatkan peranan manusia.

c. Respon Umat Islam Indonesia terhadap Demokrasi

Demokrasi menurut bangsa Indonesia telah tumbuh sejak awal kebangkitan nasional, dimana para pemimpin dan intelektual muslim Indonesia telah merespon demokrasi sebagai sistem yang harus dijalankan dalam kehidupan sosial dan politik.

Penyataan tersebut pertama kali dikemukakan oleh partai Serikat Islam (SI) dalam kongres keduanya pada tahun 1917, yang berisi tentang tuntutan terhadap pemerintah Belanda untuk menerapkan sistem yang demokratis di Indonesia. Selama periode parlementer dan demokrasi terpimpin, partai-partai Islam lainnya serta para intelektual muslik mendukung terwujudnya demokrasi di Indonesia.

Sebagai contoh, pada tahun 1952-1958, Muhammad Natsir sebagai ketua Masyumi mendukung demokrasi walaupun ia memiliki pandangan tersendiri mengenai demokrasi. Menurut pandangannya, Islam adalah sistem demokrastis, dalam arti bahwa Islam menolak segala bentuk despotisme, absolutisme, dan otoritarianisme. Islam adalah sintesis antara demokrasi dan otokrasi, yang berarti bahwa segala urusan dalam pemerintahan Islam diputuskan melalui Majelis Syura (Dewan Permusyawaratan).

Keputusan-keputusan demokratis hanya diterapkan pada masalah-masalah yang tidak disebutkan secara khusus dalam syari’ah, tidak pada masalah-masalah yang jelas disebutkan dalam Al-Quran seoerti laramngan judi dan berzina.

Amin Rais menerima demokrasi berdasarkan tiga alasan, yaitu: Pertama, Karena Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan musyawarah dalam menyelesaikan masalah-masalah mereka; kedua, secara historis Nabi Muhammad SAW menerapkan musyawarah kepada umat Islam sebagai cara dalam menyelesaikan permasalahan mereka; dan ketiga, secara rasional, dimana umat Islam diperintahkan untuk menyelesaikan dilema dan masalah-masalah mereka, hal tersebut menunjukkan bahwa sistem demokrasi adalah bentuk tertinggi mengenai sistem politik dalam sejarah umat manusia.

x

(11)

Sedangkan Dawam Rahardjo tidak terlalu mempersoalkan aspek-aspek normatif tentang hubungan Islam dengan demokrasi. Menurutnya, demokrasi merupakan suatu konsep terbuka yang bersifat universal, dan tidak perlu dikaitkan dengan klaim-klaim ideologis. Ia lebih tertarik terhadap pelaksanaan dan praktek demokrasi, khususnya di Indonesia. Menurutnya, demokrasi sejati tidak hanya meliputi bidang politik, tetapi juga mencakup kehidupan di bidang ekonomi. Akan tetapi, demokrasi di bidang ekonomi sulit dicapai tanpa adanya syarat demokrasi politik.

Begitupun sebaliknya, adanya demokrasi di bidang ekonomi akan sangat membantu terselenggarakannya bidang politik. (Anwar, 1995)

Dapat disimpulkan bahwa hubungan Islam dengan demokrasi dapat dibahas dalam dua pendekatan yaitu pendekatan normatif dan pendekatan empiris. Pada pendekatan normatif, para ahli mempersoalkan tentang nilai-nilai demokrasi dari sudut pandang ajaran Islam. Sedangkan menurut pendekatan empiris, para ahli menganalisis impelementasi demokrasi dalam praktek politik dan ketatanegaraan.

Sistem demokrasi yang dipraktikkan di Indonesia akan berbeda dengan sistem demokrasi yang dipraktekkan di Eropa dan di Amerika, karena Indonesia mempunyai kekhususannya tersendiri, baik dari segi budaya maupun di tingkat kemajuan dan perkembangan negara. Demokrasi pancasila yang dicanangkan oleh Orde Baru ini, secara teoritis, setidak-tidaknya adalah demokrasi yang dibimbing oleh nilai-nilai Pancasila dan UUD 45, yaitu mekanisme pembuatan keputusan melalui metode musyawarah dan mufakat. Bagi umat Islam Indonesia, penggunaan istilah demokrasi pancasila tidak menjadi persoalan, asal tidak menyalahi konsep demokrasi secara universal dan tidak menyalahi pula sila-sila yang ada dalam pancasila.

Bagi mereka, demokrasi pancasila merupakan suatu bentuk demokrasi yang mempunyai standar moral yang tinggi, karena demokrasi ini mempertahankan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya demokrasi yang menghargai hukum Tuhan dan tidak akan melanggarnya.

B. Respon terhadap Konsep HAM a. Pengertian HAM

xi

(12)

HAM atau yang lebih populer diketahui dengan Hak Asasi Manusia merupakan sebuah hak yang selalu menempel pada diri setiap insan sejak dilahirkan. Sebuah gagasan yang umumnya muncul akibat banyaknya tindakan sewenang-wenang dari penjajah, penguasa, maupun praktik perbudakan yang dirasakan manusia.

Terdapat tiga Hak Asasi Manusia yang menjadi alamiah setiap manusia yaitu hak untuk hidup, hak milik, serta hak kebebasan. Tidak adanya penerapan HAM dalam kehidupan masyarakat sosial dapat menyebabkan perlakuan semena- mena pada orang lain. Setiap orang berhak memiliki rasa aman, sehingga setiap negara haruslah memiliki aturan agar warga negaranya terlindungi.

b. Respon Umat Islam Indonesia terhadap Konsep HAM

HAM pada zaman sekarang tidak berada dalam kelayakan global sehingga segala macam pelanggaran HAM terjadi dan semakin terus meningkat. Dalam perkembangan modern HAM juga menjadi sebuah pemikiran yang tak lantas dapat dipisahkan hingga kemudian dijadikan gagasan-gagasan dalam kehidupan politik islam dengan tujuan sebagai penyelaras kepada perkembangan dunis modern.

Hak Asasi Manusia banyak diagungkan dalam alquran dan Assunnah yang menjadi sumber hukum dan pedoman hidup. Hak asasi manusia telah ditetapkan dalam Al quran dan As sunnah jauh sebelum konsep masyarakat global muncul.

HAM setidaknya memiliki tiga hak yang tidak boleh di lepaskan dari seseorang sebagai manusia yaitu:

1) Hak untuk hidup

2) Hak untuk tidak dianiaya 3) Memiliki kebebasan

Pemahaman islam yang komprehensif mencakup tidak hanya mendefinisikan hak asasi manusia dalam kaitannya dengan posisi manusia sebagai pengikut risalah kemanusiaanya. Melainkan juga menjelaskan mengenai kehendak Hak Asasi Manusia, kebebasan bersama dalam Islam benar-benar dihadirkan ke dunia dari keistimewaan Allah SWT. Hal pertama yang ditemukan dalam Islam dan berkaitan dengan Hak Asasi Manusia yaitu bahwa Islam menetapkan hak-hak

xii

(13)

tertentu bagi manusia sebagai manusia, setiap manusia, terlepas dari mana asalnya dan bahwa hak-hak ini harus dijunjung tinggi serta diakui oleh seluruh umat Islam, serta wajib untuk dilaksanakan.

Berkembangnya HAM tidak semata-mata berkesinambungan oleh hak-hak politik, sipil, dan tradisional. Akan tetapi, juga dengan hak-hak sosial serta ekonomi. Pandangan HAM hadir karena adanya campur tangan dari kepentingan sendiri, terutama yang dilakukan oleh negara. Meskipun begitu, terdapat perbedaan yang signifikan dalam penerapan konsep hak asasi manusia, khususnya di antara negara- negara liberal, sosialis, dan muslim. Negara-negara liberal mengutamakan hak-hak sipil berserta politik menurut prinsip “individualisme”, sedangkan negara- negara sosialis ataupun komunis mengutamakan hak-hak ekonomi serta sosial menurut prinsip “kolektivisme”. Negara berkembang menafsirkan kembali gagasan universal tentang hak asasi manusia ini dengan tujuan untuk menyesuaikan dengan keadaan dan budaya lokal dan regional.

Isu-isu yang terdapat dalam Hak Asasi Manusia yaitu:

1) Perbudakan, merupakan fenomena yang populer dan bentuk yang telah menjadikan norma yang berlaku. Pembatasan kepada sumber-sumber yang dapat menambah perbudakan. Perbaikan dalam memperjuangkan kondisi perbudakan tersebut dan mengangkat pembebasannya berdasarkan hukum Islam harus berlandaskan kemanusiaan ataupun agama. Islam memiliki pandangan terkait pembebasan budak dengan didasarkan atas keikhlasan seseorang, sebagai bentuk perilaku yang sangat terpuji. Menurut An-Naim, hukum Islam sekalipun sampai sekarang menyatakan perbudakan itu sah, namun di masa kini tidak memungkinkan lagi disetujuinya perbudakan secara resmi di sebuah negara Muslim. An-Naim kemudian mengedepankan pandangan yang berkenaan dengan penafsiran tentang peghapusan perbudakan selaku otoritatif dalam hukum Islam. Contohnya seperti profesi buruh yakni TKW dan TKI.

2) Kesetaraan. Al-Qur'an menggambarkan laki-laki dan perempuan sebagai manusia yang setara dalam berbagai hal dalam perihal ini.

Secara umum, Islam sangat menekankan pada persamaan status, kedudukan, dan nilai. Keduanya adalah ciptaan Tuhan dan secara alami memiliki status sosial dan signifikansi yang sama dengan manusia.

Perempuan telah dijamin peran sosial, hak politik dan ekonomi, pendidikan dan pelatihan, kesempatan kerja, dan banyak lagi oleh Islam.

xiii

(14)

Secara teoritis, perempuan dalam Islam diberikan beberapa hak, antara lain :

a) Hak independensi kepemilikan : ini termasuk kebebasan untuk menangani uang dan aset mereka sendiri. Hak perempuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi lainnya juga diperkuat dengan prinsip-prinsip Al-Qur'an yang juga memberikan pengetahuan.

b) Hak memelihara identitas diri : secara hukum, wanita selalu memiliki hak untuk menggunakan nama belakang mereka.

Karena dia selalu dikenal dengan nama keluarganya dan ini berarti masalah karakternya. Oleh karena itu, wanita dalam Islam tidak diperbolehkan mengganti nama setelah menikah atau bercerai.

c) Hak pendidikan : Baik Al-Qur'an maupun Sunnah mendukung hak perempuan dan laki-laki untuk menuntut ilmu. Setiap Muslim diperintahkan oleh Al-Qur'an untuk menuntut ilmu tanpa kecuali.

d) Hak untuk dihargai : Islam memandang perempuan dan laki-laki sebagai manusia yang setara. Akibatnya, Islam menekankan penghormatan dan pengertian di antara keduanya. Menurut perspektif Islam, seorang wanita adalah orang yang terhormat dan pantas dihormati. Dia juga mampu mandiri seperti laki-laki, memiliki jiwa, hati, serta kecerdasan, dan dia memiliki hak dasar untuk mengekspresikan kemampuan dan keterampilannya di semua bidang usaha manusia.

Hak Asasi Manusia Barat memiliki pandangan fundamentalis yaitu perspektif Islam berpandangan bahwa hak terhadap Hak Asasi Manusia bersifat teosentris yaitu segala sesuatu didasarkan pada Tuhan, karena Tuhan merupakan standar yang dengannya kebenaran diukur, Tuhan menjadi sangat penting. Berbeda dengan pandangan Barat yang memposisikan manusia pada posisi sebagai tolak ukur segala sesuatu, Islam berpandangan bahwa firman Allah SWT adalah tolak ukur segala sesuatu, dan bahwa manusia hanyalah makhluk Allah SWT yang berbakti kepada-Nya. Bagi umat Islam, Teo-Centris berarti harus menyakini ajaran utama yang dituangkan dalam dua kalimat syahadat. Ajaran ini termasuk mengakui bahwa Allah SWT adalah salah satunya Tuhan dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusanya. Hal ini menunjukkan bahwa, menurut Islam, konsep HAM adalah hasil wahyu Allah SWT yang diturunkan melalui para Nabi dan Rasul sejak awal keberadaan manusia di bumi.

Saat menghadapi isu-isu politik kontemporer sebagaimana perihal hak asasi manusia, feminisme, demokrasi, pluralisme, juga terdapat keragamaan orientasi tinjauan di kawasan muslim nyaris segenap bagian belahan dunia begitu pula Indonesia. Kalangan Islamis-integrasionistik atau yang condong fundamentalis

xiv

(15)

sangat reaktif serta terdapat sebagian yang melihatnya dengan skema kufur sebagaimana pendapat Hizbut Tahrir dan Majelis Mujahidin dalam mengamati isu- isu kontemporer tersebut. Selain itu, dari kalangan modernis-reformis yang biasa disebut Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama lebih mengedepankan kepada segi nilai dan substansi, disertai dengan sikap kritis yang menunjang serta melakukan integrasi yang setujuan dengan konsep keislaman. Sementara di kalangan sekuler- liberal walaupun sebagiannya melakukan kritik yang tajam, sebagian lainnya condong menerima dengan adanya disertai perkembangan pemikiran dekonstruksi berkenaan dengan Islam sebagaimana banyak diwadahi kumpulan Jaringan Islam Liberal.

Pada intinya, Islam dipahami sebagai berhadapan dengan ideologi-ideologi kontemporer seperti liberalisme, kapitalisme, atau sosialisme, bukan sebagai sebuah ideologi. Sistem "intelektual sekuler" fundamentalis kontemporer ini umumnya menegaskan bahwa mereka adalah para pemikir agama yang tidak dipimpin oleh ulama (kecuali Iran). Gerakan-gerakan ini menanggapi kesulitan dan dampak modernisasi dengan maksud memberikan ideologi Islam ke dunia modern sekuler. Fundamentalisme Islam modern menikmati dan memainkan peran politik yang signifikan di banyak negara Muslim, meskipun menjadi minoritas di dunia Islam. Namun, program, strategi, dan taktik mereka biasanya berbeda dari satu negara ke negara lain karena aktivitas mereka tidak diadaptasi

C. Respon terhadap Konsep Pluralisme a. Pengertian Pluralisme

Pluralisme berasal dari kata “plural” yang memiliki arti “banyak” atau

“lebih dari satu”. Dalam kajian filosofis, pluralisme diberi makna sebagai doktrin, bahwa substansi hakiki itu tidaklah satu (monisme), tidak pula dua (dualisme), melainkan banyak (jamak) (Nikki R. Keddie, 1995). Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa pluralisme merupakan paham untuk menghargai keberagaman atau perbedaan yang terjadi dalam kehidupan, serta menjaga dan mengizinkan kelompok tertentu untuk mempertahankan budayanya. Istilah pluralisme merupakan salah satu konsep fundamental, yang akhir-akhir ini muncul bersamaan dengan berbagai kebutuhan masyarakat modern. Berbagai bangsa melihat pluralisme sebagai suatu sistem bagi kehidupan manusia, yang di dasarkan pada prinsip-prinsip bersama, yang menjamin dihormatinya berbagai realitas yang plural dan diakuinya keragaman orientasi yang dianut warga negara.

xv

(16)

Pengertian pluralisme agama menurut ajaran Rasulullah SAW yaitu hidup bersosial kemasyarakatan secara baik, rukun, dan damai dengan penganut agama lain, bukanlah berarti membenarkan semua agama mampu menghantarkan manusia pada kemuliaan dan keselamatan sejati dan abadi yang merupakan konsekuensi dari pembenaran esensi setiap agama. Tentunya, semua yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tidak pernah bertentangan dengan Al-Quran atupun menjadi argumen (sunnah) bagi seluruh umat muslim di dunia.

Pluralisme secara pemikiran dan praktek mengharuskan semua orang yang menikmati eksistensinya sebagai warga negara untuk berbagai peran dalam rangka meraih tujuan bersama, dengan melaluinya mereka memperoleh hasil dari apa yang disebut sebagai “manajemen hidup bersama”, yang menjamin toleransi berpolitiik, iklim dialogis dan pengakuan terhadap orang lain (baik eksistensi, pendapat, ataupun sikap).

Karakteristik utama pluralisme yaitu sifat menerima perbedaan yang ada, menghargai kekurangan dan kelebihan masing-masing pihak, dan kesediaan mengambil serta memanfaatkan yang terbaik. Hal tersebut bermakna bahwa sejak awal, pluralisme merupakan salah satu sifat yang telah ada dalam ajaran Islam.

Tentunya, umat muslim yang mengamalkan ajaran Islam tersebut seharusnya memiliki sifat pluralisme itu.

b. Isu-isu Pluralisme dalam Pandangan Ulama Islam

Isu-isu pluralisme menurut pandangan kaum muslim lebih mengupas masalah keadaan hidup di masyarakat dan interaksi sosial praktis antar manusia yang berkaitan pada agama, tradisi dan kultur yang berbeda. Yakni masalah yang berhubungan dengan bagaimana mengatur dan mengurus individu-individu dan kelompok-kelompok yang hidup dalam tatanan masyarakat yang satu. Baik yang menyangkut hak maupun kewajiban untuk menjamin ketentraman dan perdamaian umum.

Namun, dalam Islam sendiri banyak yang tidak setuju mengenai pluralisme.

Salah satunya pendapat yang diungkapkan oleh Dr. KH Hilmi Muhammad Hasbullah M.A, pengasuh di Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogyakarta, juga sebagai Ahli dalam Jurusan Tafsir Hadist, memberikan pendapatnya mengenai pluralisme.

xvi

(17)

Menurut beliau, sebenarnya Pluralisme agama dalam Islam itu tidak ada. Menurutnya paham itu lebih cenderung kepada akidah dan ibadah. Apabila seorang pemeluk agama terkait dengan akidah dan ibadah, maka mereka akan merasa bahwa agamanya yang paling benar. Namun, disisi lain beliau juga berpendapat jika pluralisme keagamaan dan pluralitas beragama berkembang dalam ranah agama, khususnya agama Islam.

Beliau menyepakatinya karena dua istilah tersebut berbeda dengan pluralisme.

Menurutnya, pluralisme keagamaan dan pluralitas beragama lebih cenderung kepada sosial ataupun politiik, jadi sah-sah saja apabila kedua paham tersebut diakui keberadaannya.

Menurut pendapat di atas dapat diketahui bahwa perbedaan pendapat tentang pluralisme di kalangan umat Islam, ditambah dengan diterbitkannya fatwa MUI yang melarang paham pluralisme dalam agama Islam. Dalam fatwa MUI, pluralisme didefinisikan sebagai suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Hal tersebut yang membuat MUI berpendapat bahwa pemahaman pluralisme telah berbelok dari pemahaman pluralisme yang seharusnya.

Dalam Islam nilai-nilai pluralisme sudah ada. Salah satu contohnya yaitu dalil dalam Al-Quran surat Al—Kafirun ayat 6, yang berbunyi:

Artinya: “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Agama Islam itu sangat mengajarkan pluralisme, walaupun gagasan pluralisme tidak disebutkan secara tersurat, namun secara tersirat gagasan tentang paham pluralisme telah ada dalam berbagai ayat-ayat Al-Quran serta hadist-hadist Nabi. Sehingga apabila umat Islam mengkaji Islam secara mendalam dan dibarengi dengan rasa kasih sayang terhadap sesama manusia seperti halnya sesuai anjuran dalam agama Islam, maka kekerasan yang melatar belakangi perbedaan dan atas nama

xvii

(18)

agama secara bertahap akan hilang. sehingga umat Islam secara keseluruhan dapat hidup dengan damai di dalam kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

c. Respon Umat Islam terhadap Konsep Pluralisme

Pemahaman mengenai pluralisme atau dalam bahasa Arab, “al- ta’addudiyah” jarang dikenal secara populer dan tidak banyak digunakan dalam kalangan Islam. Bahkan di dalam Al-Quran dan hadist serta kitab-kitab klasik tidak ditemukan tentang makna pluralisme.

Pluralisme dapat muncul pada masyarakat dimana pun ia berada. Pluralisme selalu mengikuti perkembangan masyarakat yang semakin cerdas dan tidak ingin dibatasi oleh sekat-sekat sektarianisme (perbedaan pemahaman dalam menjalankan nilai-nilai keislaman). Oleh karena itu, pluralisme harus dimaknai sebagai konsekuensi logis dari keadilan ilahi, bahwa keyakinan seseorang tidak dapat diklaim benar atau salah begitu saja, melainkan harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu latar belakangnya, seperti lingkungan sosial budaya, dan referensi atau informasi yang diterima.

Dalam Islam menganjurkan agar sifat pluralisme terus dikembangkan sebagai salah satu syarat mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis dan sejahtera. Sabda Rasulullah SAW: “Sayangilah orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya Allah SWT yang di langit akan mengasihanimu. Bersayang-sayanglah, niscaya anda di sayangi pula. Sesungguhnya Allah SWT merahmati para hamba-Nya yang bersifat penyayang.”

D. Respon terhadap Konsep Gender a. Pengertian Gender

Gender secara leksikon merupakan identitas atau penggolongan gramatikal yang berfungsi mengklasifikasikan suatu benda pada kelompok-kelompoknya. Secara

xviii

(19)

garis besar, penggolongan ini berhubungan dengan dua jenis kelamin, masing-masing dirumuskan dengan kategori peminim dan maskulin.

Secara terminologis, gender digunakan untuk menandai perbedaan segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat dengan perbedaan seksual. Perbedaan yang dimaksud termasuk di dalamnya adalah bahasa, tingkah laku, pikiran, makanan, ruang, waktu, harta milik, tabu, teknologi, media massa, mode, pendidikan, profesi, alat-alat produksi, dan alat-alat rumah tangga.

Gender sendiri sebenarnya memiliki definisi terminologis yang variatif, namun sesungguhnya saling melengkapi. Selain itu, pembatasannya juga lebih banyak terkait dengan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Menurut Heyzer (1991), gender merupakan peranana laki-laki dan perempuan dalam suatu tingkah laku sosial yang terstruktur. Sedangkan Illich (1983) berpendapat bahwa gender dimaksudkan untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan secara sosial, yang mengacu pada unsur emosional, kejiwaan, dan tingkah laku.

Secara psikologis, terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan, misalnya dilihat dari sifat yang dimiliki keduanya. Perempuan akan cenderung lebih emosional, sementara laki-laki cenderung rasional. Dalam memahami makna gender, ada juga yang melihat dari perspektif perbedaan fisikal antara laki-laki dan perempuan, namun ada juga yang melihatnya dari sisi budaya. Dari segi fisikal, memang sangatlah kentara perbedaan antara perempuan dengan laki-laki. Namun, membedakan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya dilihat dari segi fisikal, tetapi juga dari segi psikologis atau kejiwaan.

Dapat dikatakan bahwa gender merupakan suatu pengertian yang khas bahwa laki-laki tidak sama dengan perempuan, ditinjau dari berbagai macam aspek maupun dimensi, baik waktu, tempat, kultur, bangsa, alat, tugas, peradaban, verbalisasi, persepsi, maupun aspirasi. Seseorang yang dilahirkan sebagai laki-laki ataupun perempuan keberadaannya akan berbeda-beda dalam waktu, tempat, kultur bangsa, maupun peradaban.

b. Respon Umat Islam terhadap Konsep Gender

xix

(20)

Gender merupakan satu di antara sejumlah wacana yang dapat disebut kontemporer yang cukup menyita perhatian banyak kalangan, mulai para remaja, kalangan aktivis pergerakan, akademisi dan mahasiswa, kalangan legislatif dan pemerintah, hingga para agamawan. Kajian gender tidak hanya sekedar menarik untuk dibahas, lebih dari sekedar itu gender merupakan isu aktual. Isu gender sudah berkembang sangat pesat dan progresif, bahkan cenderung liberal. Wacana gender mulai berkembang di Indonesia pada era 80-an, tetapi mulai memasuki isu keagamaan pada era 90-an. Dapat dikatakan bahwa selama 10 tahun atau 5 tahun terakhir ini perkembangan isu gender sangat pesat dan sangat produktif, jauh lebih pesat dibandingkan dengan isu pluralisme yang juga tak kalah penting.

Perbedaan gender sebenarnya tidak menjadi masalah sejauh tidak menyebabkan ketidakadilan bagi perempuan dan laki-laki. Secara teologis, perempuan dan laki-laki diciptakan semartabat, sebagai manusia yang se-“citra” dengan Allah.

Namun, tidak dapat dipungkiri, dalam realitas kultural-agama antara keduanya sering terjadi ketidakadilan yang melahirkan kekerasan terutama kaum perempuan di masyarakat, kita kerap menyaksikan kekerasan terhadap perempuan dengan berbagai manifestasinya. Kekerasan fisik, emosional, psikologi, entah secara domestik maupun publik (Haideh Moghissi, 2004).

Hingga sekarang, banyak penafsiran ayat Al-Quran yang masih diterjemahkan dan dipahami menurut pola pandang patriarchal. Yang berarti, masih menonjolkan kepentingan laki-laki. Akibatnya, kepentingan laki-laki lebih diunggulkan dan ditonjolkan. Hal tersebut karena adanya penafsiran agama yang sudah berumur ribuan tahun, ditambah dengan adanya budaya yang patriarki, adat istiadat, dan mitos-mitos tentang laki-laki dan perempuan, berakibat laki-laki mempunyai perasaan dan kecenderungan misogenis (Muhammad Imarah, 1999).

Gerakan feminisme dan gender mulai merambah ke dunia Islam akibat pengaruh Barat cukup menita perhatian publik dengan konsep-konsep yang ingin merekonstruksi ulang tatanan hukum Islam beserta kajian Al-Quran dan hadits yang terkesan menyudutkan perempuan. Padahal perlu diingat bahwa ajaran Islam telah memberikan perhatian terhadap martabat dan harkat perempuan. Sebagai contoh,

“poligami”, beberapa pendapat menyatakan bahwa poligami itu diperbolehkan.

xx

(21)

Namun, sebaiknya mengkaji Al-Quran lebih dalam, lebih saksama, dan lebih teliti agar dapat mengetahui makna yang sebenarnya.

Beberapa contoh Al-Quran memihak pada kaum perempuan yaitu: 1) Dahulu perempuan tidak boleh menerima warisan, namun sekarang diperbolehkan meskipun perbandingannya satu banding dua dengan laki-laki; 2) Dahulu perempuan tidak diperbolehkan menjadi saksi dalam sebuah perkara, namun sekarang boleh meskipun minimal dua orang saksi perempuan yang nilainya sama dengan satu orang saksi laki-laki.

Secara normatif, semua agama adalah anti kekerasan. Sinergi antara agama dengan jaringan perempuan akan memaksimalkan usaha untuk penyelenggaraan pendidikan pelatihan gender. Penegakan keadilan gender akan semakin terberdayakan.

Pengembangan jaringan kemitraan dan kerja sama semacam ini dapat semakin memudahkan kita dalam melawan kekerasan dalam kehidupan. Kita harus mampu menciptkan ruang yang adil, damai, dan cerah bagi kehidupan, sehingga kekerasan dapat kita lawan dengan kelembutan hati, kepekaan nurani perempuan.

E. Respon terhadap Konsep Civil Society a. Pengertian Civil Society

Civil society atau masyarakat sipil adalah ruang sosial di mana individu, kelompok, dan organisasi non-pemerintah (NGO) berkumpul untuk menyuarakan kepentingan bersama, memperjuangkan nilai-nilai tertentu, dan mempengaruhi kebijakan publik. Ini mencakup berbagai entitas yang beroperasi di luar kendali pemerintah dan sektor bisnis, termasuk LSM, kelompok advokasi, komunitas lokal, serikat pekerja, organisasi keagamaan, dan asosiasi profesional. Civil society berfungsi sebagai jembatan antara warga negara dan pemerintah, memberikan wadah untuk partisipasi publik, pengawasan terhadap kekuasaan, dan pengembangan komunitas.

Singkatnya, Civil Society adalah elemen kunci dalam memperkuat demokrasi, mengawasi kekuasaan, dan mendorong pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan. Di Indonesia, masyarakat sipil berperan penting dalam memperjuangkan hak asasi manusia, keadilan sosial, dan lingkungan yang sehat.

xxi

(22)

b. Pandangan Umat Muslim terhadap Civil Society

Respon umat Muslim terhadap civil society di Indonesia sangat bervariasi dan mencerminkan spektrum luas dari penerimaan penuh hingga kritik yang konstruktif. Secara umum, banyak pemikir dan tokoh Muslim mendukung civil society sebagai mekanisme penting untuk memperkuat demokrasi, keadilan sosial, dan kesejahteraan umum. Mereka berusaha untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan prinsip-prinsip civil society, mempromosikan partisipasi aktif dan kolaborasi dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan inklusif. Civil society di Indonesia, dengan dukungan dari umat Muslim, berperan penting dalam mendorong perubahan sosial dan politik yang positif serta membangun masyarakat yang lebih demokratis dan adil.

Banyak pemikir Muslim di Indonesia menerima dan mendukung civil society sebagai bagian integral dari pembangunan demokrasi dan keadilan sosial.

Mereka melihat nilai-nilai civil society, seperti partisipasi publik, transparansi, akuntabilitas, dan keadilan, sebagai sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Beberapa pemikir Muslim juga berusaha mengintegrasikan nilai-nilai civil society dengan ajaran Islam, menggarisbawahi bahwa prinsip-prinsip dasar Islam mendukung partisipasi aktif warga dalam urusan publik dan pengawasan terhadap pemerintah. Ada juga pandangan kritis di kalangan umat Muslim terhadap beberapa aspek civil society, terutama ketika nilai-nilai yang diperjuangkan oleh organisasi masyarakat sipil dianggap bertentangan dengan ajaran Islam atau budaya lokal.

Umat Muslim di Indonesia juga aktif berpartisipasi dalam organisasi- organisasi masyarakat sipil, baik yang berbasis agama maupun sekuler. Mereka terlibat dalam berbagai isu, seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi.

xxii

(23)

xxiii

(24)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah disampaikan diatas dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan, pemikiran Islam kontemporer di Indonesia menunjukkan upaya yang kuat untuk menyeimbangkan antara tradisi dan modernitas. Para pemikir Muslim memainkan peran penting dalam menafsirkan kembali ajaran Islam sesuai dengan tantangan zaman modern tanpa kehilangan identitas keislaman. Respon mereka terhadap konsep-konsep modern seperti demokrasi, HAM, pluralisme, gender, dan civil society mencerminkan dinamika intelektual yang terus berkembang dan beradaptasi dengan konteks global yang berubah. Dengan demikian, pemikiran Islam kontemporer di Indonesia tidak hanya memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan keislaman di tingkat lokal, tetapi juga menjadi bagian dari diskursus global tentang bagaimana Islam dapat berperan dalam menciptakan dunia yang lebih adil dan harmonis. Dengan adanya respon-respon muslim terhadap isu-isu kontemporer di Indonesia, dapat kita jadikan sebagai wadah tumbuhnya Islam kontemporer yang bisa di terima dengan baik di kalangan masyarakat Indonesia sesuai dengan tradisi dan budaya mereka masing-masing. Manusia sebagai makhluk social seharusnya dapat mempertahankan dan memperjuangkan hak asasinya sendiri. Sebagai manusia kita harus saling menghargai dan menerima pendapat dari masing-masing kalangan dan melindungi satu sama lain. Seperti ungkapan bahwa tidak ada kebaikan pada agama yang tidak ada politiknya dan tidak ada kebaikan dalam politik yang tidak ada agamanya. Politik mendapatkan kedudukan dan tempat yang hukumnya bisa menjadi wajib.

xxiv

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Arkoun, M. dan Louis Gardet. 1997. Islam Kemarin dan Hari Esok. Bandung.

Abdillah, Masykuri. 1999. Demokrasi di Persimpangan Makna, alih bahasa: Wahib Wahab. Yogyakarta: tiara Wacana Yogya.

Anwar, M. Syafi’i. 1995. Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia. Jakarta: Paramadina Nikki R. Keddie. 1995. ’Jamaludin Al-Afghani, In The Oxford en-cyclopedia of the modern Islamic World, ed. John L.Esposito (New York: Oxford University Press)

Haideh Moghissi. 2004. Feminisme dan Fundamentalisme Islam. Yogyakarta. LkiS Yogyakarta.

Hidayat, Komaruddin. 1998. Tragedi Raja midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme. Jakarta: Paramadina.

Muhammad Imarah. 1999. Fundamentalisme dalam Perspektif Barat dan Islam.

Jakarta. Gema Insani

Gaffar, Afan. 1995. Islam dan Demokrasi: Pengalaman Empirik, dalam Muhammad Wahyuni Nafis dkk, (ed)., Konteksrtualisasi Ajaran Islam: 70 tahun Prof.

Dr. H. Munawir Sjadzali, MA. Jakarta

Dahl, Robert A. 1982. Dilemma of Pluralist Democracy. New Haven dan London:

Yale University Press.

xxv

Referensi

Dokumen terkait