MAKALAH
PELANGGARAN ETIKA DALAM BUMN (Studi Kasus Mega Korupsi PT Asuransi Jiwasrya)
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Administrasi Perushaaan Negara
Dosen Pengampu : Ade Opik S.Sos.,M.Si
Disusun Oleh KELOMPOK 3
Ana Rosita E.2135223861
Deri Muhamad M E.2135223910 Giri Sudirman E.2135223930
Nica Nurani E.2135223918
Rizky Triani E.2135223865
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN IMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS APRIL 2024
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkannn kehdadirat Allah SWT ,yang telah memberikan izin dan kekuatan kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Pelanggaran Etika Dalam BUMN (Studi Kasus Mega Korupsi PT Asuransi Jiwasrya )’’. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Administrasi Perusahaan Negara
Kami menyadari bahwa dalam penyusunaan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan seperti pribahasa mengatakan “tak ada gading yang tak retak’’. Oleh karena itu,kritik dan saran yang sifatnya membangun kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberi wawasan yang lebih luas dan bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya
Sumedang, 24 November 2024 Penulis
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Asuransi sebagai proteksi untuk para pemegang polis untuk mendapatkan keuntungan seperti kehilangan, kerusakan hingga kematian. Meski asuransi populer dikalangan masyarakat, tidak semua memiliki asuransi bahkan minimnya pemahaman akan hal ini. Mengenai asuransi, Indonesia memiliki asuransi tertua yang dikenal dengan nama Nederlandsch Indische Levensverzekering en-Lijfrente Maatschappij atau NILLMIJ yang mengubah namanya di tahun 1984 menjadi Jiwasraya. PT Asuransi Jiwasraya merupakan satu satunya perusahaan Asuransi lokal terbesar di Indonesia yang termasuk dalam Badan Usaha Milik Negara.
Memiliki penghargaan bergengsi di setiap tahunnya membuktikan bahwa PT Asuransi Jiwasraya memiliki performa baik dan tersohor namanya. Tetapi nyatanya Jiwasraya terseret kasus yang merugikan negara dengan bukti bahwa dalam laporan keuangan terdapat kecurangan manipulasi laporan keuangan pada November 2018.
Pada Oktober 2018, Asuransi ini dinyatakan gagal bayar terkait klaim polis nasabah sebesar Rp 802 Miliar.
Hal ini bukan hanya dilihat kesalahan dari sisi Asuransi yang melanggar etika dan melakukan penyelewengan, tetapi akibat buruk dan lemahnya pengawasan Otoritas Jasa Keuangan. Indikasi kecurangan telah dilaporkan kepada Kejaksaan oleh Kementerian BUMN. Manajer investasi dirugikan dengan kasus hukum yang terjadi yakni sebesar Rp 16,8 triliun. Bahkan banyak industri asuransi lainnya yang mendapat masalah, yakni public trust sebagai konsumen yang menurun dan khawatir akan adanya asuransi terpercaya.
Hal ini dibuktikan dengan adanya kesenjangan antara tingkat literasi pada sektor perasuransian pada tahun 2022 yang berada di angka 31,7 persen, tetapi
tingkat inklusinya pada angka 16,6 persen. Ini menjadi indikasi bahwa kasus asuransi yang menyentil Jiwasraya menjadi salah satu faktor penurun minat masyarakat untuk berasuransi.
Terdapat sindikat bahwa Komisaris PT Hanson International bekerja sama dengan mantan direktur PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Salim. Sisi positivisme memandang, bahwa kasus ini harus sesuai dengan hukum yang berlangsung serta ketaatan dan proses pengadilan yang efektif menjadi perspektif kualitas hukum di Indonesia. Dari banyaknya bukti tindakan oleh PT Asuransi Jiwasraya, terlihat bahwa investasi yang dilakukan dengan kurang hati hati serta lalai dalam bertanggung jawab. Industri asuransi memiliki aturan dan etika profesi, seperti berpegang pada prinsip keterbukaan, akuntabilitas, tanggung jawab, dan independensi. Pelanggaran etika yang dilakukan oleh perusahaan ini adalah rekayasa laporan keuangan. Hal ini terungkap pada tahun 2018, ketika Jiwasraya mengalami kesulitan keuangan dan tidak mampu membayar klaim nasabah. Setelah dilakukan investigasi, ditemukan bahwa Jiwasraya telah melakukan rekayasa laporan keuangan dengan cara memalsukan nilai investasi dan mengalihkan dana nasabah ke investasi yang berisiko tinggi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Kronologi Kasus Korupsi PT Asuransi Jiwasraya?
2. Bagaimana Hubungan Antara Kasus Korupsi Jiwasraya dengan Pelanggaran Etika?
3. Bagaimana Dampak Tindak Korupsi PT Asuransi Jiwasraya?
4. Bagaimana Upaya Pemerintah dalam Menangani Kasus Korupsi PT Asuransi Jiwasraya?
1.3 Tujuan
1. Untuk Mengetahui Kronologi Kasus Korupsi PT Asuransi Jiwasraya 2. Untuk Mengetahui Hubungan Antara Kasus Korupsi Jiwasraya dengan
Pelanggaran Etika
3. Untuk Mengetahui Dampak Tindak Korupsi PT Asuransi Jiwasraya
4. Untuk Mengetahui Upaya Pemerintah dalam Menangani Kasus Korupsi PT Asuransi Jiwasraya
BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Administrasi Publik
Administrasi publik adalah serangkaian kegiatan atau proses yang dilakukan oleh aparatur pemerintah untuk mengelola sumber daya publik dan melayani kepentingan masyarakat. Administrasi publik mencangkup berbagai aktivitas seperti perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan program dan kebijakan publik, serta pelayanan publik kepada masyarakat.
Menurut Nicholas Henry (2013), mengatakan bahwa administrasi publik adalah seni dan ilmu untuk mengelola urusan publik, termasuk implementasi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Pendekatan ini menekankan aspek manajemen, kebijakan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Menurut George Frederickson (1997), mengatakan bahwa administrasi publik adalah disiplin yang terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Frederickson menekankan pentingnya perspektif yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat yang beragam. Hal ini menandakan bahwa administrasi publik bersifat dinamis dan kontekstual.
Sedangkan menurut Nigro (Pasolong, 2019) mendefinisikan administrasi publik sebagai berikut :
1. Suatu kerjasama kelompok dalam lingkungan pemerintah
2. Meliputi tiga cabang pemerintahan yaitu: eksekutif, legislatif dan serta hubungan di antara mereka.
3. Mempunyai peranan penting dalam perumusan kebijakan pemerinta, dan karenanya merupakan Sebagian dari proses politik.
4. Sangat erat berkaitan dengan berbagai macam kelompok swasta dan perorangan dalam menyajikan pelayanan kepada masyarakat.
5. Dalam beberapa hal berbeda pada penempatan pengertian dengan administrasi perseorangan.
Dari beberapa definisi administrasi publik diatas, maka penulis menarik kesimpulan bahwa administrasi publik adalah kerjasama yang dilakukan oleh sekelompok orang atau Lembaga dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dalam memenuhi kebutuhan publik secara efektif dan efisien.
2.2 Pengertian Administrasi Perusahaan Negara
Administrasi perusahaan negara merupakan suatu sistem pengelolaan dan pengorganisasian yang diterapkan pada badan usaha milik negara (BUMN) untuk memastikan kelancaran operasional, keberlanjutan bisnis, serta kontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional. Sebagai salah satu jenis perusahaan negara, BUMN memiliki peran strategis dalam memberikan pelayanan publik sekaligus menghasilkan keuntungan untuk mendukung keuangan negara. Dalam kasus Jiwasraya, administrasi yang baik menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap produk asuransi yang disediakannya.
Perusahaan negara seperti Jiwasraya diatur berdasarkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri BUMN dan perundang-undangan terkait. Administrasi perusahaan negara mencakup berbagai aspek, seperti manajemen risiko, perencanaan strategis, pengelolaan sumber daya manusia, serta pelaporan keuangan yang transparan. Hal ini penting untuk menjamin bahwa perusahaan dapat menjalankan fungsi komersialnya sekaligus mempertahankan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat, khususnya dalam penyediaan layanan asuransi.
Namun, administrasi perusahaan negara juga sering menghadapi tantangan yang signifikan, seperti manajemen yang kurang efektif, lemahnya pengawasan, dan praktik korupsi yang merugikan keuangan negara. Hal ini terlihat dalam kasus Jiwasraya, di mana kelemahan administrasi perusahaan mengakibatkan kerugian
besar akibat investasi yang tidak prudent dan praktik manipulasi laporan keuangan.
Masalah ini menyoroti pentingnya reformasi administrasi perusahaan negara untuk mencegah terulangnya krisis di perusahaan sejenis.
Pemerintah dan lembaga pengawas berperan penting dalam memastikan administrasi perusahaan negara berjalan sesuai dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Dalam konteks Jiwasraya, upaya restrukturisasi, penyelamatan aset, serta penyelesaian klaim nasabah menjadi langkah yang tidak hanya memulihkan kepercayaan masyarakat tetapi juga memperkuat administrasi perusahaan negara ke depannya. Hal ini menunjukkan bahwa administrasi yang baik bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal menjaga integritas perusahaan negara dalam melayani masyarakat.
2.3 Perusahaan Publik
Perusahaan publik, atau sering disebut public company, adalah entitas bisnis yang sahamnya terdaftar di pasar modal dan dapat dimiliki oleh masyarakat luas.
Perusahaan publik diatur oleh regulasi yang ketat untuk memastikan transparansi dan perlindungan terhadap investor. Saham perusahaan ini diperdagangkan di bursa efek, sehingga perusahaan harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk dalam hal pelaporan keuangan dan tata kelola perusahaan.
Perusahaan publik adalah entitas bisnis yang sahamnya dimiliki oleh masyarakat umum melalui perdagangan di pasar modal. Berdasarkan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, perusahaan publik adalah perusahaan yang memenuhi persyaratan jumlah pemegang saham dan modal disetor tertentu, yang kemudian terdaftar di Bursa Efek. Perusahaan publik bertujuan untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk mendukung operasional dan pengembangan usahanya, dengan kewajiban memberikan transparansi dan akuntabilitas kepada para pemegang saham.
Dalam konteks Jiwasraya, meskipun perusahaan ini tidak secara langsung terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai emiten, pengelolaan investasi dan produk keuangannya memiliki karakteristik yang relevan dengan dinamika
perusahaan publik. Jiwasraya mengelola dana masyarakat melalui produk-produk asuransi dan investasi seperti saving plan, yang menuntut transparansi dan pengelolaan aset yang prudent. Seperti perusahaan publik, Jiwasraya menghadapi tuntutan untuk mematuhi prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), terutama dalam pengelolaan dana publik.
BAB III
METODE PENELITIAN
Tulisan ini disusun dengan menggunakan pendekatan kepustakaan, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mempelajari berbagai buku referensi serta hasil penelitian sebelumnya yang sejenis yang berguna untuk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti. Dengan demikian, penekatan ini dilakukan dengan cara penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan (Nazir:
1988). Terkait dengan tulisan ini, maka hasilkarya ilmiah yang dibutuhkan adalah berupa jurnal ilmiah atau buku teks akademik yang membahas tentang patalogi biroksai serta upaya yang dilakukan dengan cara refeormasi adminstrasi pelyanan publik, terutama pada era digital pada generasi milenial. Dari hail penelusuran informasi dan karya ilmiah tersebut, selanjutnya dilakukan pemilahan terhadap konsep-konsep dan teori yang sesuai dengan tema tulisan.
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Kronologi Kasus Korupsi PT Asuransi Jiwasraya
PT Asuransi Jiwasraya merupakan BUMN di bidang keuangan non-bank yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan program asuransi jiwa di Indonesia.
Secara historis, PT Asuransi Jiwasraya telah didirikan sejak tanggal 31 Desember 1859. Pada awalnya, pendirian perusahaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia terhadap perencanaan masa depan dengan menawarkan program asuransi jiwa dan perencanaan keuangan yang kompleks.
Meskipun PT Asuransi Jiwasraya merupakan salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia, namun selama perjalanannya PT Asuransi Jiwasraya telah mengarungi berbagai permasalahan. Dilansir melalui laman CNBC Indonesia (2019), ditemukan fakta bahwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya telah ada sejak lama, yakni sejak tahun 2004. Berikut ini kronologi permasalahan PT Asuransi Jiwasraya sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2019.
Berdasarkan kronologi kasus tersebut, dapat diketahui bahwa bentuk korupsi yang dilakukan berupa kerja sama yang dilakukan secara ilegal oleh salah seorang petinggi perusahaan PT Hanson International bersama dengan sejumlah eks petinggi PT Asuransi Jiwasraya. Berdasarkan hasil pemeriksaan, telah terbukti bahwa salah seorang petinggi perusahaan melancarkan aksi suap dan gratifikasi kepada eks petinggi di PT Asuransi Jiwasraya untuk investasi saham dan reksa dana dari PT Asuransi Jiwasraya selama tahun 2008-2018. Maka dari itu, terbukti dengan jelas bahwa para pihak yang terlibat melakukan tindakan korupsi yang berimplikasi pada kerugian finansial PT Asuransi Jiwasraya. Selain itu, PT Asuransi Jiwasraya terindikasi melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Bersumber dari hasil pemeriksaan yang dijalankan oleh BPK, diketahui bahwa PT Asuransi Jiwasraya telah melancarkan transaksi jual-beli saham yang harganya telah direkayasa oleh pihak-pihak yang bekerja sama dengannya. Para pelaku berusaha untuk mempertahankan investasi pada saham-saham yang tidak likuid. Hal ini dapat
ditemukan dalam sejumlah produk reksa dana dengan harga yang tidak wajar.
Terjadinya fenomena ini secara jelas memperlihatkan bahwa PT Asuransi Jiwasraya telah melangsungkan tindak pencucian uang, dengan tujuannya untuk mempertahankan portofolio saham PT Asuransi Jiwasraya tetap terlihat baik (Rantetandung, 2021
Dalam memproses kasus PT Asuransi Jiwasraya, Mahkamah Agung telah menetapkan enam terdakwa atas tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang pada kasus pengelolaan investasi saham di PT Asuransi Jiwasraya. Keenam terdakwa tersebut antara lain Heru Hidayat sebagai Komisaris di PT Trada Alam Minera, Syahwirman sebagai Mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan di PT Asuransi Jiwasraya, Joko Hartono sebagai Mantan Direktur Maxima Integra, Hary Prasetyo sebagai Mantan Direktur Keuangan di PT Asuransi Jiwasraya, Rahim Hendrisman sebagai Mantan Direktur Utama, dan Benny Tjokrosaputro sebagai Komisaris di PT Hanson International. Pada akhirnya, keenam terdakwa tersebut telah dipidana oleh Kejaksaan Agung, atas putusan dari Mahkamah Agung (MA) berupa hukuman pidana dan denda
4.2 Hubungan Antara Kasus Korupsi Jiwasraya dengan Pelanggaran Etika Teori etika, khususnya teori deontologi, teleologi, dan etika kebajikan, dapat digunakan untuk menilai persoalan korupsi PT Jiwasraya. Dalam teori deontologis ditekankan bahwa seseorang bertindak atau mengambil keputusan karena kewajiban. Adalah tanggung jawab kita untuk bertindak secara moral dan menahan diri dari tindakan tidak bermoral. Robert Klitgaard (2001) mendefinisikan korupsi sebagai perilaku yang menyimpang dari tugas resmi jabatan seseorang dalam negara, yaitu untuk memperoleh keuntungan berupa status atau uang untuk diri sendiri atau orang lain, keluarga dekat, kelompok sendiri, atau dengan melanggar aturan. tentang penerapan perilaku pribadi. Dengan kata lain, korupsi dapat diartikan sebagai perbuatan tidak jujur yaitu memalsukan informasi dan mencuri hak orang lain demi keuntungan diri sendiri. Kasus korupsi di PT Jiwasraya merupakan pelanggaran etika bisnis yang berujung pada tindakan ketidakjujuran dan tidak bertanggung jawab yang merugikan pemangku kepentingannya. Dalam
konteks kasus korupsi PT Jiwasraya, mari kita lebih lanjut melengkapi dan memberikan penjelasan terhadap analisis menggunakan teori etika tersebut:
a. Deontologi: Dalam teori deontologi, tindakan korupsi di PT Jiwasraya dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap kewajiban moral yang seharusnya dipegang oleh para pejabat atau pegawai perusahaan. Kewajiban tersebut melibatkan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap para pemegang saham dan peserta asuransi. Melanggar kewajiban tersebut dengan terlibat dalam praktik korupsi menunjukkan kekurangan moral dan etika yang signifikan.
b. Teleologi: Dari perspektif teleologi, tindakan korupsi di PT Jiwasraya dapat dinilai dari dampak atau konsekuensinya. Korupsi cenderung menghasilkan kerugian ekonomi dan sosial, terutama bagi para pemegang saham yang menginvestasikan dana mereka dalam perusahaan tersebut. Terlebih lagi, korupsi dapat merugikan reputasi perusahaan secara keseluruhan dan mempengaruhi kepercayaan masyarakat pada lembaga keuangan. Oleh karena itu, dari sudut pandang teleologi, tindakan korupsi di PT Jiwasraya dianggap sebagai tindakan yang merugikan dan tidak menguntungkan secara keseluruhan.
c. Virtue Ethics: Dalam kerangka virtue ethics, fokusnya adalah pada karakter dan moralitas individu. Tindakan korupsi di PT Jiwasraya mencerminkan kekurangan kebajikan seperti integritas, kejujuran, dan tanggung jawab. Virtue ethics menekankan pentingnya pembentukan karakter yang baik dalam membimbing tindakan-tindakan moral. Dalam kasus ini, kurangnya kebajikan pada tingkat individu, seperti pejabat atau pegawai yang terlibat dalam korupsi, menyiratkan kebutuhan untuk memperkuat pembentukan karakter dan nilai- nilai moral dalam budaya perusahaan
Secara keseluruhan, analisis dengan menggunakan ketiga teori etika tersebut menunjukkan bahwa kasus korupsi PT Jiwasraya melibatkan serangkaian pelanggaran etika bisnis yang mencakup ketidakjujuran dan kurangnya tanggung jawab. Memahami kasus ini dari berbagai sudut pandang etika dapat menjadi dasar
untuk perbaikan dan perubahan dalam praktik bisnis perusahaan, dengan harapan dapat mencegah terulangnya tindakan serupa di masa depan.
4.3 Dampak Tindak Korupsi PT Asuransi Jiwasraya
Dampak tindak korupsi yang melibatkan PT Asuransi Jiwasraya mencakup sejumlah konsekuensi serius yang merugikan berbagai pihak terkait. Pertama, dari perspektif nasabah, kasus ini mengakibatkan kerugian finansial yang substansial.
Nasabah yang telah membayar premi asuransi dengan harapan mendapatkan manfaat finansial pada saat klaim, kini dihadapkan pada ketidakpastian terkait kelangsungan perlindungan tersebut. Klaim yang seharusnya memberikan jaminan keuangan di masa sulit menjadi terancam, menimbulkan kekecewaan dan
ketidakpercayaan terhadap sistem asuransi.
Dampak kedua adalah terkikisnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor keuangan dan asuransi secara keseluruhan. Kejadian ini menciptakan citra negatif terhadap lembaga keuangan, membuat masyarakat ragu-ragu terkait keamanan dan integritas industri asuransi. Kepercayaan yang rusak ini dapat berdampak jangka panjang, menghambat pertumbuhan industri, dan menyulitkan upaya pemerintah untuk meyakinkan masyarakat akan keamanan berinvestasi dalam bentuk asuransi.Dampak ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Pemerintah sebagai regulator dan pemangku kebijakan terpaksa mengalokasikan sumber daya finansial untuk menanggulangi krisis yang muncul akibat korupsi Jiwasraya. Hal ini termasuk melindungi nasabah yang terkena dampak dan menciptakan kebijakan pemulihan untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Pengalokasian sumber daya ini dapat mengganggu stabilitas keuangan dan berpotensi merugikan rencana fiskal yang telah disusun.Secara keseluruhan, tindak korupsi dalam kasus Jiwasraya bukan hanya masalah internal perusahaan, melainkan juga menyentuh aspek-aspek fundamental dalam industri keuangan. Penanganan yang cermat dan transparan diperlukan untuk memulihkan kepercayaan masyarakat, menjaga integritas industri asuransi, dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
4.4 Upaya Pemerintah dalam Menangani Kasus Korupsi PT Asuransi Jiwasraya
Selain melakukan penanganan dalam segi hukum berupa pemberian sanksi dan denda, pemerintah juga perlu melakukan penanganan dari aspek perusahaan dan penyelamatan dana polis pada PT Asuransi Jiwasraya. Menurut Elfahra dan Joesoef (2021), pemerintah dapat merespons tindak korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) melalui dua alternatif solusi. Pertama, melakukan
restrukturisasi pada perusahaan untuk memperbaiki kinerja dan mengembalikan kepercayaan masyarakat. Kedua, melakukan privatisasi yang bertujuan
mengurangi beban fiskal negara dan mempercepat penyelesaian kasus. Dalam kasus ini, Pemerintah Indonesia telah mengambil restrukturisasi sebagai alternatif solusi pemulihan dana nasabah yang mengalami kegagalan klaim pembayaran jatuh tempo akibat kasus yang menjerat PT Asuransi Jiwasraya. Alternatif ini dipilih lantaran skema restrukturisasi merupakan skema penanganan dengan biaya kerugian nasabah yang paling rendah. Melalui program restrukturisasi, PT
Asuransi Jiwasraya harus menata ulang perusahaannya untuk menyelamatkan dana nasabah, serta tetap menjaga kelangsungan manfaat polis. Tentunya, pemilihan program didasarkan atas hasil pembahasan yang dilakukan oleh Kementerian BUMN dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan fokus utamanya adalah seluruh polis asuransi di PT Asuransi Jiwasraya.
Selama pelaksanaan upaya restrukturisasi, pemerintah sebagai salah satu pemegang saham terbesar di PT Asuransi Jiwasraya akan memberikan bantuan berupa Penyertaan Modal Negara (PMN), dengan dana tersebut berasal dari APBN.
Dana PMN akan diserahkan kepada PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) melalui dua tahapan. Tahap pertama (tahun 2021) akan diberikan dana sebesar Rp12 triliun, dan tahap kedua (tahun 2022) akan diberikan dana sebesar Rp10 triliun. Jadi, diperkirakan total dana PMN yang akan diberikan oleh pemerintah sebesar Rp22 triliun. Nantinya, dana PMN akan dimanfaatkan untuk membangun perusahaan asuransi dengan nama baru, yakni Indonesia Financial
Group Life (IFG Life).
Dalam keterangannya, Hexana Tri Sasongko sebagai Direktur PT Asuransi Jiwasraya menuturkan bahwa program restrukturisasi ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, mengakhiri kerugian PT Asuransi Jiwasraya yang disebabkan karena pemberian jaminan yang tidak normal pada produk JS Saving Plan. Kedua, mencegah timbulnya kerugian yang semakin besar dari para polis akibat kegagalan PT Asuransi Jiwasraya dalam membayar klaim jatuh tempo. Ketiga, diharapkan IFG Life dapat melanjutkan program penyediaan asuransi yang sebelumnya telah dilakukan oleh PT Asuransi Jiwasraya, tentunya dengan skala perusahaan yang lebih besar, menghasilkan lebih banyak profit dan berkelanjutan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa program restrukturisasi dilakukan sebagai tanggung jawab pemerintah dalam berkontribusi positif terhadap BUMN sekaligus menjaga kepercayaan pemerintah selaku pemegang saham.
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan
Kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya melibatkan kerjasama ilegal antara petinggi perusahaan di PT Hanson International dengan mantan petinggi di PT Asuransi Jiwasraya. Hal ini mengakibatkan kerugian besar bagi PT Asuransi Jiwasraya dan terindikasi adanya tindak pidana pencucian uang. Mahkamah Agung menetapkan enam terdakwa tindak pidana korupsi dan pencucian uang dalam kasus tersebut, yang mengakibatkan hukuman dan denda. Diperlukannya melakukan penanganan dari aspek perusahaan dan penyelamatan dana polis pada PT Asuransi
Jiwasraya oleh pemerintah.
Dari analisis kasus yang dikaji, diharapkan menjadi pembelajaran industri asuransi untuk tetap berhati hati dan memperhatikan prinsip etika dalam berprofesi, karena ini menjadi perhatian public trust terhadap asuransi lokal maupun swasta yang eksis.
5.2 Rekomendasi
Rekomendasi yang dihasilkan dari analisis kasus korupsi PT Jiwasraya mencakup beberapa aspek krusial yang dapat memperbaiki integritas dan transparansi di sektor asuransi Indonesia. Penguatan pengawasan dan regulasi, terutama oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta peninjauan ulang mekanisme pengawasan internal di perusahaan asuransi, menjadi prioritas utama untuk mencegah praktik korupsi dan manipulasi laporan keuangan. Selain itu, penegakan hukum yang tegas dan transparansi dalam proses penegakan hukum diharapkan dapat memberikan efek jera dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Pentingnya reformasi etika bisnis dan pembangunan budaya bisnis yang berbasis pada integritas juga menjadi fokus, dengan peran pendidikan dan pelatihan bagi eksekutif dan karyawan dalam memahami nilai-nilai tersebut.Selain aspek regulasi, edukasi dan literasi keuangan masyarakat serta keterlibatan aktif mahasiswa diidentifikasi sebagai komponen penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih
bersih dari korupsi. Mendorong partisipasi masyarakat dalam pengawasan lembaga keuangan, serta menjalankan kampanye penyuluhan tentang risiko korupsi, diharapkan dapat membangun kesadaran dan tanggung jawab bersama.
Restrukturisasi perusahaan yang transparan dan akuntabel, melibatkan pemegang saham dan nasabah, juga dianggap esensial dalam memulihkan kepercayaan masyarakat. Perbaikan sistem asuransi, termasuk kajian ulang kebijakan dan penerapan standar etika yang ketat, menjadi langkah-langkah konkret untuk memastikan industri asuransi Indonesia dapat beroperasi dengan integritas dan kepercayaan yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Rantetandung. (2021). Penegakan Hukum dalam tindak pidana pasar modal,pencucian uang,dan korupsi;studi kasus jiwasraya. jurnal kertha negara, 9-10.
Sembiring. (2019, desember 28). Retrieved from CNBN Indonesia:
http://www.cnbnindonesia.com/market/20191228185156-17-12-126263/b obrok
Z, P. (2020, oktober 26). detikNews. Retrieved from Benyy tjokor divonis penjara seumur hidup skandar jiwasraya.