PASAR, NEGARA, DAN KRISIS EKONOMI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Publik Dosen Pengampu: Mahardika Cipta Raharja S.E., M.Si.
Disusun Oleh:
Ade Wahyuni : 214110201019
Septiana Dwi Saputri : 214110201
Sofi Istiazah : 21411020
David Novianto Ramadhan : 21411020
Kelas : 4 Ekonomi Syariah C
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI K.H. SAIFUDDIN ZUHRI PURWOKERTO
KATA PENGANTAR
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah SWT. kita memuji, meminta pertolongan, meminta ampunan dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah SWT. dari kejahatan diri dan keburukan perbuatan kita. Siapapun yang diberi petunjuk oleh Allah SWT., maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya. Kami bersaksi bahwa tiada AIlah yang hak untuk disembah selain Allah SWT. dan tidak ada sekutu baginya. Dan kami bersaksi bahwa Muhammad SAW. adalah hamba dan Rasul-Nya.
Kami sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Pasar, Negara dan Krisis Ekonomi” tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Publik yang diampu oleh Mahardika Cipta Raharja S.E., M.Si Selain itu, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini dengan sangat baik.
Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran konstruktif dari berbagai pihak demi penyempurnaan makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, terutama menambah wawasan mengenai Ekonomi Publik.
Purwokerto, 13 Juni 2023
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian BAB II PEMBAHASAN
A. Pembiayaan APBN Dengan Utang B. Siklus APBN
C. Profil & Kinerja APBN 10th Terakhir
D. Kinerja Kesejahteraan Masyarakat Dilihat Dari Tingkat Inflasi E. Besaran Ekonomi Publik
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pembiayaan APBN dengan Utang?
2. Bagaimana Siklus APBN?
3. Bagaimana Profil dan Kineria APBN 10 Tahun Terakhir?
4. Bagaimana Kinerja Kesejahteraan Masyarakat Dilihat dari Tingkat Inflasi?
5. Bagaimana Besaran Ekonomi Publik?
C. Tujuan Penelitian
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonmi Publik sekaligus menambah pengetahuan bagi pembaut makalah serta para pembaca mengenai pembiayaan APBN dengan utang, siklus APBN, profil dan kineria APBN 10 tahun terakhir, kinerja kesejahteraan masyarakat dilihat dari tingkat inflasi, besaran Ekonomi Publik.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pembiayaan APBN Dengan Utang
Sejak Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, istilah “Anggaran Pendapatan dan Belanja” dipakai secara resmi dalam pasal 23 ayat 1 UUD 1945, dan di dalam perkembangan selanjutnya ditambahkan kata Negara untuk melengkapinya sehingga menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negata atau disingkat APBN, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari – 31 Desember). APBN, Perubahan APBN, dan Pertanggungjawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan Undang-undang. 1
Pembiayaan APBN adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar Kembali dan pengeluaran yang akan diterima Kembali pada tahun anggaran yang bersangkutan atau tahun-tahun berikutnya. Pembiayaan suatu negara sangat erat kaitannya dengan utang, pemerintah akan melakukan utang untuk pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam melakukan dan mengelola utang atau pinjaman, pemerintah mempunyai aturan main yaitu undang-undang, best practies dan prinsip kehati-hatian (prudent). Hal penting yang juga perlu dipahami, bahwa utang tersebut digunakan dalam rangka mendukung pembangunan nasional, disepakati bersama antaran Pemerintah dan DPR RI ketika membahas dan menetapkan APBN.
Pembangunan nasional membutuhkan dana yang besar, yang dicantumkan dalam APBN. Sumber penerimaan untuk mendanai pengeluaran APBN berasal dari Pendapatan Negara dan Penerimaan Pembiayaan. Pendapatan Negara berasal dari Perpajakan, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan Hibah. Sementara Penerimaan Pembiayaan antara lain berasal dari penerimaan utang. Selama kurun
1 Amiruddin Idris, “Ekonomi Publik”, (Yogyakarta, Grup Penerbitan CV Budi Utama, 2018), hal. 45.
waktu 7 tahun (2015-2021), pengeluaran belanja dalam APBN terus meningkat, sebesar Rp 1.806,5 triliun (2015) menjadi Rp 2.750 triliun (2021). Pengeluaran belanja digunakan untuk Belanja Pemerintah Pusat serta Transfer ke Daerah dan Dana Desa. Belanja pemerintah pusat dialokasikan kepada kementrian/lembaga.
Transfer ke Daerah dan Dana Desa merupakan dan yang ditransfer ke pemda dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiscal dan menjadi pendapatan pemda yang bersangkutan.
Jika dianalisis APBN 2015-2021, terjadi penambahan yang signifikan dalam postur APBN. Selama tahun 2015-2019, deficit APBN dikisaran 1,82 persen- 2,59 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Bahkan tahun 2018 dan 2019 mencapai titik terendah yaitu 1,82 persen dan 2,20 persen, jauh di bawah 3 persen yang ditetapkan Undang-undang Keuangan Negara. Pada tahun 2020 dan 2021, terjadi peningkatan yang signifikan terhadao deficit APBN yaitu 6,34 persen dan 5,7 persen. Peningkatan deficit tersebut dikarenakan menurunnya Pendapatan Negara dan terjadinya kenaikan Belanja Negara akibat pandemic Covid-19. Kenaikan belanja tersebut untuk Kesehatan, Perlindungan Sosial (Social Safety Net), program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Belanja Kesehatan antara lain untuk penyediaan fasilitas kesehatan dan penyediaan vaksin Covid-19. Perlindungan Sosial berupa Bantuan Sosial untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemic Covid-19. Program PEN untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku usaha dalam menjalankan usahanya.
Pada tahun 2020 dan 2021, Pendapatan Negara adalah sebesar Rp 1.674,8 triliun dan Rp 1.743,6 jauh dibawah tahun 2019 sebelum Covid-19 sebesar Rp 1.960. Sementaran Belanja Negara tahun 2020 dan 2021 meningkat signifikan yaitu Rp 2.595,5 dan Rp 2.750, sebelumnya sebesar Rp 2.039,3 triliun pada tahun 2019. Penurunan Pendapatan Negara dan kenaikan Belanja Negara yang signifikan tersebut mengakibatkan peningkatan deficit. Untuk menutup deficit, pemerintah melakukan pinjaman. Utang tersebut merupakan bagian instrument fiscal untuk mendanai pembangunan nasional.
Sesuai dengan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2020 yang telah diaudit oleh BPK RI dan beropini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), posisi pinjaman Pemerintah Pusar sebesar Rp 6.079,17 triliun. Masyarakat sering bertanya apakah Utang Pemerintah di atas aman, dan mampu dibayar oleh Pemerintah, kitab isa melihat dari beberapa aspek. Pertama, peraturan perundang- undangan sesuai dengan UU No.1/2003 tentang Keuangan Negara, rasio utang pemerintah adalah maksimal 60 persen dari PDB. Posisi Utang Pemerintah per 31 Desember 2020 adalah 39,39 persen artinya masih jauh dibawah ketentuan.
Kedua, porsi Utang Pemerintah, 85,89 persen dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini menggambarkan upaya Pemerintah untuk meningkatkan kemandirian pembiayaan dan peran masyarakat dalam pembangunan serta meminimalkan risiko. Ketiga, Utang Pemerintah didominasi Rupiah untuk meminimalkan risiko terhadap fluktuasi nilai tukar dan mengoptimalkan sumberdaya domestic. Keempat, diversifikasi portofolio utang, yang meningkatkan efisiensi utang (biaya dan meminimalkan risiko). Kelima, Porsi Pinjaman Jangka Panjang melebihi 90 persen dari total Utang. Pemerintah mempunyai kesempatan dan kekuasaan untuk mengambil kebijakan pembayaran utang yang lebih baik. Hal ini juga sejalan dengan kebijakan memberikan multiplier effects jangka menengah dan panjang.
Last but not least, posisi keuangan Pemerintah menurut LKPP 2020 sangat baik, di mana ekuitas atau kekayaan bersih Pemerintah mencapai Rp 4.473,2.
Artinya asset Pemerintah lebih besar dari utangnya. Porsi terbesar asset Pemerintag adalah asset tetap termasuk infrastruktur, dan Investasi Jangka Panjang yang mencapa Rp 82,4 persen dari total asset. Hal ini menandakan, Pemerintah juga menggunakan APBN untuk memperoleh asset yang memberikan manfaat kepada masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi. 2
2 Edward UP Nainggolan, “Memahami Utang Pemerintah”, diakses dari www.djkin.kemenkeu.go.id , pada tanggal 13 Juni 2023.
B. Siklus APBN
Terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam prosespenyusunan RAPBN, antara lain siklus APBN, kondisi ekonomi domestik daninternasional yang tercermin dalam asumsi dasar ekonomi makro, berbagaikebijakan APBN dan pembangunan, parameter konsumsi komoditas bersubsidi,kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara, resiko fiskal dan kinerjapelaksanaan APBN dari tahun ke tahun.Siklus adalah putaran waktu yang berisi rangkaian kegiatan secara berulangdengan tetap dan teratur. Oleh karena itu, Siklus APBN dapat diartikan sebagairangkaian kegiatan yang berawal dari perencanaan dan penganggaran sampaidengan pertanggungjawaban APBN yang berulang dengan tetap dan teratur setiaptahun anggaran. Secara ringkas, penggambaran siklus APBN disajikan pada Gambar 1.1
Gambar 1.1
Siklus APBN diawali dengan tahapan kegiatan perencanaan danpenganggaran APBN. Terkait penyusunan rencana anggaran (kapasitas fiskal), Pemerintah, BPS, Bank Indonesia mempersiapkan asumsi dasar ekonomi makroyang akan digunakan sebagai acuan penyusunan kapasitas fiskal oleh Pemerintah. Selain itu juga disiapkan konsep pokok-pokok kebijakan fiskal dan ekonomi makro. Dalam tahapan ini, terdapat dua kegiatan penting yaitu:
perencanaan kegiatan (Perencanaan) dan perencanaan anggaran (Penganggaran).
Dalam perencanaan, para pemangku kepentingan terutama Kementerian Negara/Lembaga (K/L) menjalankan perannya untuk mempersiapkan RKP/RKAKL yang mencerminkan prioritas pembangunan yang telah ditetapkan oleh Presiden dan mendapat persetujuan DPR. Setelah melalui pembahasan antara K/L selaku chief of operation officer (COO) dengan Menteri Keuangan selaku chief financial officer (CFO) dan Menteri Perencanaan, dihasilkan Rancangan Undang-Undang APBN yang bersamaNota Keuangan kemudian disampaikan kepada DPR. Setelah dilakukan pembahasan antara Pemerintah dan DPR, dengan mempertimbangkan masukanDPD, DPR memberikan persetujuan dan pengesahan sehingga menjadi Undang-undang APBN, di mana tahapan kegiatan ini disebut penetapan APBN. Pada tahapan selanjutnya, pelaksanaan APBN dilakukan oleh KL dan Bendahara Umum Negara dengan mengacu pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) sebagai alat pelaksanaan APBN. Bersamaan dengan tahapan pelaksanaan APBN, KL dan Bendahara Umum Negara melakukan pelaporan dan pencatatan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) sehingga menghasilkan Laporan KeuanganPemerintah Pusat (LKPP) yang terdiri atas Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Arus Kas (LAK), dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK). Atas LKPP tersebut, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan pemeriksaan, dan LKPP yang telah diaudit oleh BPK tersebut disampaikan oleh Presiden kepadaDPR dalam bentuk rancangan undang-undang pertanggung jawaban pelaksanaan APBN untuk dibahas dan disetujui. Di setiap tahapan siklus APBN, terdapat rangkaian aktivitas yang melibatkan masing-masing pemangku kepentingan pengelolaan APBN. Proses pengelolaan APBN juga dibatasi oleh jadwal atau time frame yang disepakati bersama oleh Pemerintah dan DPR. Dari setiap rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh setiap pemangku kepentingan pada setiap jadwal yang telah ditetapkan tersebut dihasilkankeluaran (output) yang menjadi dasar penetapan output untuk setiap tahapan berikutnya sehingga menjadi APBN.Pada pembahasan-pembahasan selanjutnya, dalam buku ini akan dijelaskan tahap demi
tahap dari siklus pengelolaan APBN yang meliputi dasar hukum,pemangku kepentingan yang berkontribusi, time frame, bahan yang harus disiapkan serta output yang dihasilkan. Pembahasan juga akan mencakup aktivitas setelah APBN ditetapkan, yaitu penyampaian laporan semester dan prognosis, siklus penyusunan RAPBN Perubahan (RAPBN-P), dan siklus penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP).3
C. Profil Kinerja APBN 10th Terakhir
APBN dalam 10th terakhir telah merealisasikan pengeluaran keuangan untuk belanja negara, dikutip dari badan pusat statistic dari tahun 2013-2022 berikut bentuk realisasi disajikan dalam bentuk tabel.
3 Roy Chandra, Pokok-pokok Siklus APBN di Indonesia. 2014. Hlm 7-14.
Pengeluaran Realisasi Pengeluaran Negara ( Keuangan ) ( Milyar Rupiah )
Pengeluaran Pemerintah
Realisasi Pengeluaran Negara ( Keuangan ) ( Milyar Rupiah )
2013 2014 2015 2016 2017
PENGELUARAN NEGARA
1.650.563,7 0
1777 182,80 1 806 515,20 1 864 275,10 2007 351,80 I. Pengeluaran
Pemerintahan Pusat
1.137.162,9 0
1 203 577,20 1 183 303,70 1 154 018,20 1265 359,40
1. Belanja Kementrian dan Lembaga
582 940,20 577 164,80 732 137,10 684 204,30 765 134,00
2. Belanja Non- Kementriandan Lembaga
554 222,70 626 412,30 451 166,60 469 813,90 500 225,40
II. Pengeluaran Untuk Daerah
513 260,40 573 703,00 623 139,60 710 256,90 741 992,40 1. Transfer ke
Daerah
513 260,40 573 703,00 602 373,40 663 577,50 682 225,80 a. Dana
Perimbangan
498 311,40 555 747,30 583 045,90 639 765,70 654 482,50 b. Dana Insentif
Daerah
1 387,80 1 387,80 1 664,50 5 000,00 7 500,00
c. Dana Otonomi Khusus dan Dana Keistimewaan
13 561,30 16 567,90 17 663,00 18811,90 20 243,30
2. Dana Desa - 20 766,20 46 679,30 59 766,60
III. Suspen 140,40 -97,40 71,90 - -
2018 2019 2020 2021 2022 PENGELUARAN
NEGARA
2213 117,80 2 309 287,30 2 595 481,10 2 697 237,00 2 714 155,72 I. Pengeluaran
Pemerintahan Pusat
1 455 324,90
1 496 313,90 1 832 950,92 1 926 964,90 1 944 542,25
1. Belanja Kementrian dan Lembaga
846 561,60 873 426,40 1 832 950,92 1 059 433,20 945 751,46
2. Belanja Non- Kementrian dan Lembaga
608 763,20 622 887,50 773 333,59 867 531,70 998 790,79
II. Pengeluaran Untuk Daerah
757 792,90 812 973,40 762 530,18 770 272,10 769 613,47 1. Transfer ke
Daerah
697 933,50 743 159,30 691 429,66 698 416,10 701 613,47 a. Dana
Perimbangan
668 643,20 711 284,90 652 097,64 664 404,10 672 857,20 b. Dana Insentif
Daerah
8230,80 9 694,40 18 455,29 13 209,10 7 000,00
c. Dana Otonomi Khusus dan Dana Keistimewaan
21 059,60 22 179,90 20 876,73 20 802,90 21 756, 26
2. Dana Desa 59 859,40 69 814,10 71 100,52 71 856,00 68 000,00
III. Suspen - - 0.00 0.00 0,00
4
Badan Pusat Statistik juga menunjukan kinerja positif dari APBN 10th terakhir, Indonesia memang sempat mengalami gejolak ekonomi yang cukup signifikan pada saat pandemic kemarin. Tetapi kinerja APBN terus memunculkan
4 Kementrian Keuangan, “Realisasi Pengeluaran Negara (Keuangan) (Miliyar Rupiah)”, diakses pada www.bps.go.id , pada tanggal 13 Juni 2023.
kinerja positif dengan meningkatnya pendapatan setelah masa pandemic, bahkan tahun 2022 bisa meredam gejolak ekonomi di tahun-tahun sebelumnya. Berikut realisasi pendapatan keuangan negara, disajikan dalam bentuk tabel.
Sumber Penerimaan- Keuangan
Realisasi Pendapatan Negara ( Keuangan ) ( Milyar Rupiah )
2013 2014 2015 2016 2017
PENERIMAAN 1 432 058,60 1 545 456,30 1 496 047,33 1 546 946,60 1 654 746,10 Penerimaan
Perpajakan
1 077 306,70 1 146 856,80 1 240 418,86 1 284 970,10 1 343 529,80 Pajak Dalam
Negeri
1 029 850,00 1 103 217,60 1 205 478,89 1 249 499,50 1 304 316,30 Pajak
Penghasilan
506 442,80 546 180,90 602 308,13 666 212,40 646 793,50
Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
384 713,50 409 181,90 432 710,82 412 213,50 480 724,60
Pajak Bumi dan Bangunan
25 304,60 23 476,20 29 250,05 19 443,20 16 770,30 Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan
0,00 0,00 0,30 0,50 1,20
Cukai 108 452,00 118 085,50 144 641,30 143 525,00 153 288,10
Pajak Lainnya 4 937,10 6 293,40 5 568,30 8 104,90 6 738,50
Pajak
Perdagangan Internasional
47 456,60 43 648,10 34 939,97 35 470,70 39 213,60
Bea Masuk 31 621,30 32 319,10 31 212,82 32 427,10 35 066,20
Pajak Ekspor 15 835,40 11 329,00 3 727,15 2 998,60 4 147,40
Penerimaan
Bukan Pajak 354 751,90 398 590,50 255 628,48 261 976,30 311 216,30 Penerimaan
Sumber Data Alam
226 406,20 240 848,30 100 971,87 64 901,90 111 132,00
Sumber Penerimaan- Keuangan
Realisasi Pendapatan Negara ( Keuangan ) ( Milyar Rupiah )
2018 2019 2020 2021 2022
PENERIMAAN 1 928 110,00 1 955 136,20 1 628 950,53 2 006 334,00 2 435 867,10 Penerimaan
Perpajakan
1 518 789,80 1 546 141,90 1 285 136,32 1 547 841,10 1 924 937,50 Pajak Dalam
Negeri
1 472 908,00 1 505 088,20 1 248 415,11 1 474 145,70 1 832 327,50 Pajak
Penghasilan
749 977,00 772 265,70 594 033,33 696 676,60 895 101,00
Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
537 267,90 531 577,30 450 328,06 551 900,50 680 741,30
Pajak Bumi dan Bangunan
19 444,90 21 145,90 20 953,61 18 924,80 20 903,80 Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan
0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Cukai 159 588,60 172 421,90 176 309,31 195 517,80 224 200,00
Pajak Lainnya 6 629,50 7 677,30 6 790,79 11 126,00 11 381,40
Pajak
Perdagangan Internasional
45 881,80 41 053,70 36 721,21 73 695,40 92 610,00
Bea Masuk 39 116,70 37 527,00 32 443,50 39 122,70 43 700,00
Pajak Ekspor 6 765,10 3 526,70 4 277,71 34 572,70 48 910,00 Penerimaan
Bukan Pajak
409 320,20 408 994,30 343 814,21 458 493,00 510 929,60 Penerimaan
Sumber Data Alam
180 592,60 154 895,30 97 225,07 149 489,40 218 493,10
Dari gambaran di atas, Indonesia selama kurang lebih 3 tahun terakhir telah berhasil menjaga masyarakat dan perekonomian. Perekonomian Indonesia terbukti tangguh menghadapi berbagai guncangan dan ancaman ketidakpastian.
Kinerja APBN 2022 mampu meredam gejolak ekonomi dan mendorong pemulihan ekonomi lebih cepat. Hal ini tercemin dari kinerja positif perekonomian Indonesia yang melaju kuat di tengah turbelensi ekonomi global.
PDB nasional tumbuh kuat sebesar 5,72 persen pada triwulan III-2022 (yoy) dan sudah melampaui level PDB prapandemi dan indicator-indikator ekonomi makro juga menunjukan penguatan. 5
D. Kinerja Kesejahteraan Masyarakat Dilihat Dari Tingkat Inflasi E. Besaran Ekonomi Publik
5 Kementrian Keuangan, “Realisasi Pendapatan Negara (Keuangan) (Miliyar Rupiah)”, diakses pada www.bps.go.id , pada tanggal 13 Juni 2023.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Idris, A. (2018). "Ekonomi Publik". Yogyakarta: Grup Penerbitan CV Budi Utama . Keuangan, K. (2023, January 1). "Realisasi Pengeluaran Negara (Keuangan)
(MIliyar Rupiah)". Retrieved from Badan Pusat Statistik: www.bps.go.id Keuangan, K. (2023, January 1). “Realisasi Pendapatan Negara (Keuangan)
(Miliyar Rupiah)”. Retrieved from Badan Pusat Statistik: www.bps.go.id Nainggolan, E. U. (2021, Desember 30). "Memahami Utang Pemerintah". Retrieved
from Artikel DJKN: www.djkin.kemenkeu.go.id