TUGAS
KEPERAWATAN DEWASA SISTEM KARDIOVASKULER, RESPIRATORI, DAN HEMATOLGI
“Analisa Kasus Coronary artery disease (CAD)”
OLEH KELOMPOK 9 :
1. Nita Amalia Ramadhani 2111311014
2. Rifa Fairuz 2111311041
3. Fitriana Rovi Auliarahmi 2111312014 4. Desti Fitriana Gusri 2111312026 5. Khofifah Gustina 2111312029
6. Zuria arifa 2111313026
7. Anastasia Putri Simarmata 2111313038
DOSEN PENGAMPU :
Ns. Mulyanti Roberto Muliantino, M.Kep
KELAS A2 2021
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS ANDALAS TAHUN PELAJARAN 2022/2023
i
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Ta’ala atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul, “Analisa Kasus Coronary artery disease (CAD)”
dapat kami selesaikan dengan baik. Kami berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Begitu pula atas limpahan kesehatan dan kesempatan yang Allah SWT karuniai kepada kami sehingga makalah ini dapat kami susun melalui beberapa sumber yakni melalui kajian pustaka maupun melalui media internet.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kami semangat dan motivasi dalam pembuatan tugas makalah ini. Kepada dosen pembimbing kami yang telah memberikan banyak kontribusi, Ibu Ns. Mulyanti Roberto Muliantino, M.Kep . Harapan kami, informasi dan materi yang terdapat dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Tiada yang sempurna di dunia, melainkan Allah SWT. Tuhan Yang Maha Sempurna, karena itu kami memohon kritik dan saran yang membangun bagi perbaikan makalah kami selanjutnya.
Padang, 17 September 2022
KELOMPOK 9
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI... ii
DAFTAR GAMBAR ... iii
DAFTAR TABEL. ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penulisan ... 3
BAB II KERANGKA TEORI ... 4
2.1 Konsep Dasar Coronary Artery Desease (CAD) ... 4
2.1.1 Definisi ... 4
2.1.2 Etiologi ... 4
2.1.3 Klasifikasi ... 6
2.1.4 Gejala Klinis… ... 7
2.1.5 Pemeriksaan diagnostik/penunjang.. ... 8
2.1.6 Penatalaksanaan medis. ... 11
2.1.7 Komplikasi. ... 15
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Coronary Artery Diesease (CAD) ... 16
2.2.1 Pengkajian Keperawatan ... 16
2.2.2 Diagnosa keperawatan ... 21
2.2.3 Intervensi Keperawatan ... 21
BAB III ANALISIS KASUS ... 30
3.1 Analisis Kasus Coronary Artery Disease (Cad) ... 30
3.1.1 Kasus ... 30
3.1.2 Pengkajian ... 32
3.1.3 Diagnosis Keperawatan ... 35
3.1.4 Intervensi Keperawatan ... 38
BAB IV PENUTUP ... 43
4.1 Kesimpulan ... 43
4.2 Saran ... 43
DAFTAR PUSTAKA ... 44
iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Tabel 1 Lokasi Infark Berdasarkan Sedapan EKG ... .8
Gambar Tabel 2 Skor TIMI untuk UAP dan NSTEMI ... .10
Gambar Tabel 3 Stratifikasi Resiko Berdasarkan Skor TIMI ... .10
Gambar Tabel 4 Mortalitas 30 hari Berdasarkan Kelas Killip ... .10
DAFTAR TABEL 3.1.3 Tabel Analisa Data ... .35
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit jantung koroner (PJK) atau Coronary artery disease (CAD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh penyempitan dan penyumbatan pada pembuluh darah jantung (Khan et al., 2020). World Health Organization menetapkan penyakit jantung coroner sebegai penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian tertinggi di dunia (World Health Organization, 2021). Peningkatan kasus penyakit jantung coroner disebabkan oleh kambuhnya kembali penyakit individu setelah menjalani perawatan penyakit jantung coroner (Sandi et al., 2019). Pengendalian penyakit jantung koroner diperburuk dengan kurangnya upaya pencegahan kekambuhan pasien terhadap penyakit jantung coroner (Gooding et al., 2020).
Individu yang tidak melaksanakan upaya pencegahan akan beresiko mengalami serangan jantung berulang sehingga meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan penyakit jantung coroner (Virani et al., 2021).
Berdasarkan data dari World Health Organization terdapat 17,9 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit jantung coroner (World Health Organization, 2021). Berdasarkan dara Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah terdapat setidaknya 15 dari 1000 orang, atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderita penyakit jantung coroner (Kemenkes RI, 2019). Sedangkan data di provinsi Jawa Timur, prevalensi angka penyakit jantung koroner masih tinggi dari rata-rata prevalensi di Indonesia yang 1,5% (Kemenkes RI, 2019).
Menurut medical record di beberapa rumah sakit didapatkan angka kunjungan pasien dengan penyakit jantung koroner dengan rata-rata 956 kunjungan tiap bulan dan 44 kunjungan per hari. Dari 44 kunjungan per hari ini 47% (21 orang) Data ini meningkat dari tahun sebelumnya, dari data bulan Januari sampai Desember 2019 didapatkan 10.467 kunjungan dengan rata-rata 872 kunjungan tiap bulan dan 40 kunjungan per hari.
Didapatkan 1 pasien Tn. A usia 50 tahun mengeluh napasnya terasa sesak jika berjalan lebih dari 20 menit. Keluhan ini dirasakan sejak 1 tahun yang lalu. Klien merasa cemas dengan kondisi penyakitnya, karena klien masih belum melakukan anjuran dokter untuk pasang ring pada jantungnya. Klien juga sering tibatiba pingsan. Sebelumnya klien pernah mengalami nyeri
2
dada, dan dirawat di Rumah Sakit serta dianjurkan tindakan pasang ring. Namun karena belum siap tindakan tersebut sampai sekarang belum dilakukan. Saat ini keluhan utama klien selain sesak napas, adalah kelelahan dan mudak kecapekan saat beraktivitas.
Klien mengidap hipertensi sejak 11 tahun yang lalu, berobat teratur ke klinik namun klien sulit menghindari pantangan untuk mengurangi konsumsi garam dan makan gulai-gulai, tetapi ia sudah berhenti merokok. Keluarga klien juga ada yang sakit jantung, kakak perempuannya meninggal karena sakit jantung.
Salah satu upaya pencegahan kambuhnya penyakit jantung kororner yaitu dengan cara melakukan promosi kesehatan. Promosi kesehatan memiliki tujuan untuk memberdayakan satu individu atau kelompok dalam meningkatkan kemampuan untuk mengontrol kesehatannya sendiri dan meningkatkan status kesehatan berdasarkan filsafat atau pemahaman yang jelas dalam penerapan dalam kehidupan sehari – hari sehingga tidak terjadi kekambuhan pada individu dengan penyakit jantung coroner (Martina et al., 2021). Promosi kesehatan sangat penting dalam sebuah intervensi preventif untuk meningkatkan pengetahuan pasien jantung coroner (Nurmala, 2018). Upaya pencegahan kekambuhan penyakit jantung coroner dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan individu terkait penyakit (Suarningsih & Suindrayasa, 2020). Individu dengan tingkat pengetahuan rendah lebih beresiko tidak melaksanakan upaya pencegahan yang akan menyebabkan serangan jantung berulang sehingga meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan penyakit jantung coroner (Virani et al., 2021).
Tingkat pengetahuan berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat.
Individu yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi maka akan berorientasi pada tindakan preventif, mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki status kesehatan yang lebih baik (Liu et al., 2020). Tingkat pengetahuan yang tinggi akan memudahkan individu memperoleh dan mencerna informasi untuk kemudian menentukan pilihan dalam pelayanan kesehatan dan menerapkan hidup sehat (Notoatmodjo, 2014). Semakin rendah tingkat pengetahuan menyebabkan individu kurang sadar untuk menjalani pengobatan secara teratur dan lengkap juga relatif rendah, sehingga dapat meningkatkan terjadinya kekambuhan penyakit jantung coroner (Ramadhani & Nuryani, 2020).
Tujuan jangka panjang penanggulangan penyakit jantung koroner untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh kambuhnya kembali penyakit jantung koroner. Pencegahan kekambuhan merupakan salah satu upaya yang paling efektif untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit jantung coroner (Tumanggor, 2020).
Melakukan promosi kesehatan merupakan hal utama yang dapat dilakukan untuk mencegah
3
serta menghambat mekanisme kekambuhan berulang penyakit jantung koroner. Sehingga diharapkan tidak lagi menjadi permasalahan kesehatan bagi masyarakat (Kemenkes RI, 2015).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa landasan teori asuhan keperawatan pada pasien coronary artery disease?
2. Bagaimana cara menegakkan asuhan keperawatan pada pasien coronary artery disease?
1.3 Tujuan
1. Tujuan umum :
Menegakkan dan memahami asuhan keperawatan pada pasien coronary artery disease.
2. Tujuan khusus :
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan coronary artery disease b. Menentukan diagnosa keperawatan pada klien dengan coronary artery disease c. Merencanakan asuhan keperawatan pada klien dengan coronary artery disease d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan coronary artery disease e. Melakukan evaluasi keperawatan pada klien dengan coronary artery disease
4 BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar Coronary Artery Desease (CAD) 2.1.1. Definisi
Coronary Artery Disease (CAD) merupakan suatu gangguan fungsi jantung yang disebabkan karena adanya penyempitan dan tersumbatnya pembuluh darah jantung.
Kondisi ini dapat mengakibatkan perubahan pada berbagai aspek, baik fisik, psikologis, maupun sosial yang berakibat pada penurunan kapasitas fungsional jantung dan kenyaman (Mutarobin, 2019). Coronary Artery Disease (CAD) merupakan suatu gangguan fungsi jantung yang disebabkan karena otot miokard kekurangan suplai darah akibat adanya penyempitan arteri koroner dan tersumbatnya pembuluh darah jantung (AHA, 2017).
2.1.2. Etiologi
Penyebab utama dari CAD adalah terjadinya aterosklerosis. Aterosklerosis adalah pengerasan pada dinding arteri. Aterosklerosis ditandai dengan adanya penimbunan lemak, kolesterol, di lapisan intima arteri. Timbunan ini dinamakan ateroma atau plak.
Walaupun pengetahuan tentang kejadian etiologi tidak lengkap, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggung jawab untuk perkembangan aterosklerosis. Ada beberapa faktor resiko yang mengakibatkan terjadinya CAD yaitu:
a. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi 1) Usia
Kerentanan terhadap aterosklerosis meningkat dengan bertambahnya usia. Pada laki- laki biasanya risiko meningkat setelah umur 45 tahun sedangkan pada wanita umur 55 tahun.
2) Jenis Kelamin
Aterosklerosis 3 kali lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita. Wanita agaknya relatif lebih kebal terhadap penyakit ini karena dilindungi oleh hormon estrogen, namun setelah menopause sama rentannya dengan pria.
5 3) Ras
Orang Amerika-Afrika lebih rentan terhadap aterosklerosis dibanding orang kulit putih.
4) Riwayat Keluarga CAD
Riwayat keluarga yang ada menderita CAD, meningkatkan kemungkinan timbulnya aterosklerosis prematur.
b. Faktor yang dapat dimodifikasi 1) Hiperlipidemia
Adalah peningkatan lipid serum, yang meliputi: Kolesterol > 200 mg/dl, Trigliserida > 200 mg/dl, LDL > 160 mg/dl, HDL < 35 mg/dl.
2) Hipertensi
Adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan atau diastolik. Hipertensi terjadi jika tekanan darah melebihi 140/90 mmHg. Peningkatan tekanan darah mengakibatkan bertambahnya beban kerja jantung. Akibatnya timbul hipertrofi ventrikel sebagai kompensasi untuk meningkatkan kontraksi. Ventrikel semakin lama tidak mampu lagi mengkompensasi tekanan darah yang terlalu tinggi hingga akhirnya terjadi dilatasi dan payah jantung. Dan jantung semakin terancam oleh aterosklerosis koroner.
3) Merokok
Merokok akan melepaskan nikotin dan karbonmonoksida ke dalam darah.
Karbonmonoksida lebih besar daya ikatnya dengan hemoglobin daripada dengan oksigen. Akibatnya suplai darah untuk jantung berkurang karena telah didominasi oleh karbondioksida. Sedangkan nikotin yang ada dalam darah akan merangsang pelepasan katekolamin. Katekolamin ini menyebabkan konstriksi pembuluh darah sehingga suplai darah ke jantung berkurang. Merokok juga dapat meningkatkan adhesi trombosit yang mengakibatkan terbentuknya thrombus.
4) Diabetes Mellitus
Hiperglikemi menyebabkan peningkatan agregasi trombosit. Hal ini akan memicu terbentuknya trombus. Pasien Diabetes Mellitus juga berarti mengalami kelainan dalam metabolisme termasuk lemak karena terjadinya toleransi terhadap glukosa.
6 5) Obesitas
Obesitas adalah jika berat badan lebih dari 30% berat badan standar. Obesitas akan meningkatkan kerja jantung dan kebutuhan oksigen.
6) Inaktifitas Fisik
Inaktifitas fisik akan meningkatkan risiko aterosklerosis. Dengan latihan fisik akan meningkatkan HDL dan aktivitas fibrinolysis.
7) Stres dan Pola tingkah Laku
Stres akan merangsang Hiperaktivitas HPA yang dapat mempercepat terjadinya CAD. Peningkatan kadar kortisol menyebabkan ateroklerosis, hipertensi, dan kerusakan sel endotel pembuluh darah dan merangsang kemotaksis.
2.1.3. Klasifikasi a. Angina Stable
Merupakan tipe angina yang paling umum . Terjadi karena jantung bekerja lebih keras dari biasanya. Memiliki pola yang teratur . Nyeri biasanya hilang dalam beberapa menit setelah istirahat atau meminum obat angina. Angina stabil buklan serangan jantung , tetapi merupakan tanda adanya ancaman serangan jantung (infark) di masa yang akan datang. Aktivitas fisik merupakan penyebab utama nyeri dan ketidaknyamanan.
b. Angina Unstable
Merupakan jenis angina yang sangat berbahaya dan membutuhkan penanganan segera. Ini merupakan suatu tanda bahwa serangan jantung (infark) akan segera dimulai. Serangan angina bisa timbul tanpa aktifitas fisik sebelumnya. Serta tidak hilang atau menurun dengan istirahat atau obat. Angina unstable ini disebabkan oleh bekuan darah yang secara parsial atau total membendung arteri. Jika flaq dalam arteri rupture atau pecah terbuka bekuan darah dapat terbentuk sehingga membentuk bendungan yang lebih besar yang dapat menyebabkan infark.
c. Angina Variant
Tipe angina ini jarang terjadi dan timbul saat istirahat. Nyeri dapat memburuk dan terjadi tengah malam atau pagi buta. Nyeri biasanya menurun dengan obatobatan. Nyeri yang timbul tengah malam ini merupakan hasil peningkatan aktifitas metabolism REM saat tidur.Tipe angina ini biasanya terjadi pada usia yang masih muda. Tetapi angina variant ini sangat jarang terjadi. Angina ini disebabkan oleh spasme arteri coroner.
7 d. Infark Miokard Akut
Merupakan kematian atau nekrosis jaringan miocardakibat penurunan secara tiba- tiba aliran darah arteri koronaria ke jantung atau terjadinya peningkatan kebutuhan oksigen secara tiba-tiba tanpa perfusi arteri koronaria yang cukup. Infark miokard ini dapat disebabkan oleh:
1) Penyempitan arteri coroner akibat ateriosklerosis atau oklusi arteri komplit akibat embolus atau thrombus
2) Penurunan aliran darah coroner dapat juga disebabkan oleh syok atau hemoragik 3) Ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokard Kalsifikasi infark
miokard akut :
1) Infark miokard akut dengan elevasi ST (STEMI) 2) Infark miokard akut dengan non elevasi ST (NSTEMI)
2.1.4. Gejala klinis a. Nyeri dada
Nyeri dada yang tiba-tiba dan berlangsung terus menerus, terletak dibagian bawah sternum dan perut atas, adalah gejala utama yang biasanya muncul. Nyeri akan terasa semakin berat sampai tidak tertahankan. Rasa nyeri yang tajam dan berat, biasamenyebar kebahu dan lengan biasanya lengan kiri. Tidak seperti nyeri angina, nyeriini muncul secara spontan (bukan setelah kerja berat atau gangguan emosi) danmenetap selama beberapa jam sampai beberapa hari dan tidak akan hilang dengan istirahat maupun nitrogliserin. Pada beberapa kasus nyeri bisa menjalar ke dagu dan leher.
b. Sesak napas
Keluhan ini timbul sebagai tanda mulainya gagal jantung dimana jantung tidak mampu memompa darah ke paru-paru sehingga oksigen di paru-paru juga berkurang.
c. Diaphoresis
Pada fase awal infark miokard terjadi pelepasan katekolamin yang meningkatkan stimulasi simpatis sehingga terjadi vasokonstriksi pembuluh darah perifer sehingga kulit akan menjadi lembab, dingin, dan berkeringat.
d. Pusing
Pusing juga merupakan salah satu tanda dimana jantung tidak bisa memompa darah ke otak sehingga suplai oksigen ke otak berkurang.
8 e. Kelelahan
Kelelahan disebabkan karena jantung kekurangan oksigen akibat penyempitan pembuluh darah.
f. Mual dan muntah
Nyeri yang dirasakan pada pasien dengan penyakit jantung adalah di dada dan didaerah perut khususnya ulu hari tergantung bagian jantung mana yang bermasalah.
Nyeri pada ulu hati bisa merangsang pusat muntah. Area infark merangsang reflex vasofagal.
2.1.5. Pemeriksaan diagnostik /penunjang a. Pemeriksaan EKG
Semua pasien dengan keluhan nyeri dada atau keluhan lain yang mengarah kepada iskemia harus menjalani pemeriksaan EKG 12 sadapan sesegera mungkin sesampainya di ruang gawat darurat. Penilaian ST elevasi dilakukan pada J point dan ditemukan pada 2 sadapan yang bersebelahan. Nilai ambang elevasi segmen ST untuk diagnosis STEMI untuk pria dan perempuan pada sebagian besar sadapan adalah 0,1 mV.
Gambar Tabel 1 Lokasi Infark Berdasarkan Sedapan EKG b. Pemeriksaan Marka Jantung
Kreatinin kinase-MB (CK-MB) atau troponin I/T merupakan marka nekrosis miosit jantung dan menjadi marka untuk diagnosis infark miokard. Troponin I/T sebagai marka nekrosis jantung mempunyai sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi dari CK-MB. Peningkatan marka jantung hanya menunjukkan adanya nekrosis miosit, namun tidak dapat dipakai untuk menentukan penyebab nekrosis miosit tersebut
9
(penyebab koroner/nonkoroner). Troponin I/T juga dapat meningkat oleh sebab kelainan kardiak nonkoroner seperti takiaritmia, trauma kardiak, gagal jantung, hipertrofi ventrikel kiri, miokarditis/perikarditis.
Keadaan nonkardiak yang dapat meningkatkan kadar troponin I/T adalah sepsis, luka bakar, gagal napas, penyakit neurologik akut, emboli paru, hipertensi pulmoner, kemoterapi, dan insufisiensi ginjal. Pada dasarnya troponin T dan troponin I memberikan informasi yang seimbang terhadap terjadinya nekrosis miosit, kecuali pada keadaan disfungsi ginjal. Pada keadaan ini, troponin I mempunyai spesifisitas yang lebih tinggi dari troponin T. Dalam keadaan nekrosis miokard, pemeriksaan CK-MB atau troponin I/T menunjukkan kadar yang normal dalam 4-6 jam setelah awitan pemeriksaan hendaknya diulang 8-12 jam setelah awitan angina. Jika awitan SKA tidak dapat ditentukan dengan jelas, maka pemeriksaan hendaknya diulang 6-12 jam setelah pemeriksaan pertama.
Kadar CK-MB yang meningkat dapat dijumpai pada seseorang dengan kerusakan otot skeletal (menyebabkan spesifisitas lebih rendah) dengan waktu paruh yang singkat (48 jam). Mengingat waktu paruh yang singkat, CK-MB lebih terpilih untuk mendiagnosis ekstensi infark (infark berulang) maupun infark periprosedural.
Pemeriksaan marka jantung sebaiknyadilakukan di laboratorium sentral.
Pemeriksaan di ruang darurat atau ruang rawat intensif jantung (point of care testing) pada umumnya berupa tes kualitatif atau semikuantitatif, lebih cepat (15-20 menit) tetapi kurang sensitif. Point of care testing (POCT) sebagai alat diagnostik rutin hanya dianjurkan jika waktu pemeriksaan di laboratorium sentral memerlukan waktu >1 jam. Jika marka jantung secara point of care testing menunjukkan hasil negatif maka pemeriksaan harus diulang di laboratorium sentral. Sementara untuk di RSUP sanglah pemeriksaan marka jantung masih dilakukan di laboratorium sentral. POCT hanya dilakukan pada pemeriksaan gula darah. Pemeriksaan di lab sentral membutuhkan waktu 2-4 jam dari pengambilan sample darah.
c. Stratifikasi Risiko pada Miokard Infark
Tujuan stratifikasi risiko adalah untuk menentukan strategi penanganan selanjutnya (konservatif atau intervensi segera) bagi seorang dengan NSTEMI.
Beberapa stratifikasi risiko yang digunakan adalah TIMI (Thrombolysis In Myocardial Infarction) Stratifikasi risiko TIMI ditentukan oleh jumlah skor dari 7 variabel yang masingmasing setara dengan 1 poin.
10
Gambar Tabel 2 Skor TIMI untuk UAP dan NSTEMI
Gambar Tabel 3 Stratifikasi Resiko Berdasarkan Skor TIMI
Stratifikasi risiko berdasarkan kelas Killip merupakan klasifikasi risiko berdasarkan indikator klinis gagal jantung sebagai komplikasi infark miokard akut dan ditujukan untuk memperkirakan tingkat mortalitas dalam 30 hari.
Gambar Tabel 4 Mortalitas 30 hari Berdasarkan Kelas Killip
11 2.1.6. Penatalaksanaan medis
a. Terapi awal
Terapi awal yang dimaksud adalah Morfin, Oksigen, Nitrat, Aspirin (disingkat MONA), yang tidak harus diberikan semua atau bersamaan. Yang dimaksud dengan terapi awal adalah terapi yang diberikan pada pasien dengan diagnosis kerja kemungkinan CAD atau CAD atas dasar keluhan angina di ruang gawat darurat, sebelum ada hasil pemeriksaan EKG dan/atau marka jantung
1) Tirah baring.
2) Suplemen oksigen harus diberikan segera bagi mereka dengan saturasi O2 arteri <
90 % atau yang mengalami distress respirasi.
3) Suplemen oksigen dapat diberikan pada semua pasien SKA dalam 6 jam pertama, tanpa mempertimbangkan saturasi O2 arteri.
4) Aspirin 160-320 mg diberikan segera pada semua pasien yang tidak diketahui intoleransinya terhadap aspirin (Kelas I-A). Aspirin tidak bersalut lebih terpilih mengingat absorpsi sublingual (di bawah lidah) yang lebih cepat.
5) Penghambat reseptor ADP (adenosine diphosphate) Dosis awal ticagrelor yang dianjurkan adalah 180 mg dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 2 x 90 mg/hari kecuali pada pasien STEMI yang direncanakan untuk reperfusi menggunakan agen fibrinolitik ataudosis awal clopidogrel adalah 300 mg dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 75 mg/hari (pada pasien yang direncanakan untuk terapi reperfusi menggunakan agen fibrinolitik, penghambat reseptor ADP yang dianjurkan adalah clopidogrel
6) Nitrogliserin (NTG) spray/tablet sublingual bagi pasien dengan nyeri dada yang masih berlangsung saat tiba di ruang gawat darurat. jika nyeri dada tidak hilang dengan satu kali pemberian, dapat diulang setiap lima menit sampai maksimal tiga kali. Nitrogliserin intravena diberikan pada pasien yang tidak responsif dengan terapi tiga dosis NTG sublingual. dalam keadaan tidak tersedia NTG, isosorbid dinitrat (ISDN) dapat dipakai sebagai pengganti.
7) Morfin sulfat 1-5 mg intravena, dapat diulang setiap 10-30 menit, bagi pasien yang tidak responsif dengan terapi tiga dosis NTG sublingual.
8) Penyekat Beta (Beta Bloker)
Keuntungan utama terapi penyekat beta terletak pada efeknya terhadap reseptor beta-1 yang mengakibatkan turunnya konsumsi oksigen miokardium. Terapi hendaknya tidak diberikan pada pasien dengan gangguan konduksi atrio-ventrikler
12
yang signifikan, asma bronkiale, dan disfungsi akut ventrikel kiri. Pada kebanyakan kasus, preparat oral cukup memadai dibandingkan injeksi. Penyekat beta direkomendasikan bagi pasien UAP atau NSTEMI, terutama jika terdapat hipertensi dan/atau takikardia, dan selama tidak terdapat kontra indikasi.
9) Calcium channel blockers (CCBs)
Nifedipin dan amlodipin mempunyai efek vasodilator arteri dengan sedikit atau tanpa efek pada SA Node atau AV Node. Sebaliknya verapamil dan diltiazem mempunyai efek terhadap SA. Node dan AV Node yang menonjol dan sekaligus efek dilatasi arteri.
10) Antikoagulan
Fondaparinuks secara keseluruhan memiliki profil keamanan berbanding risiko yang paling baik. Dosis yang diberikan adalah 2,5 mg setiap hari secara subkutan.
Enoksaparin (1 mg/kg dua kali sehari) disarankan untuk pasien dengan risiko perdarahan rendah apabila fondaparinuks tidak tersedia. Heparin tidak terfraksi (UFH) dengan target aPTT 50-70 detik atau heparin berat molekul rendah (LMWH) lainnya (dengan dosis yang direkomendasikan) diindaksikan apabila fondaparinuks atau enoksaparin tidak tersedia.
11) Inhibitor ACE dan Penghambat Reseptor Angiotensin
Inhibitor angiotensin converting enzyme (ACE) berguna dalam mengurangi remodeling dan menurunkan angka kematian penderita pascainfarkmiokard yang disertai gangguan fungsi sistolik jantung, dengan atau tanpa gagal jantung klinis.
12) Statin
Tanpa melihat nilai awal kolesterol LDL dan tanpa mempertimbangkan modifikasi diet, inhibitor hydroxymethylglutary-coenzyme A reductase (statin) harus diberikan pada semua penderita UAP/NSTEMI, termasuk mereka yang telah menjalani terapi revaskularisasi, jika tidak terdapat indikasi kontra.
b. Terapi Invasif Percutaneous Coronary Intervention (PCI).
Berdasarkan stratifikasi risiko, dapat ditentukan kebutuhan untuk dilakukan strategi invasif dan waktu pelaksanaan revaskularisasi. Strategi invasif melalui tindakan angioplasti coroner.
Angioplasti koroner merupakan tindakan revaskularisasi koroner non bedah, sering disebut dengan Percutanious Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA). PTCA
13
merupakan tindakan melebarkan penyempitan arteri koroner dengan menggunakan balon atau stent yang diarahkan melalui kateter. Pada perkembangan teknik angioplasti koroner, PTCA lazim disebut dengan Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Istilah PCI di Indonesia dikenal dengan Intervensi Koroner Perkutan (AHA, 2012). Seperti tindakan kateterisasi, prosedur PTCA juga hanya menggunakan pembiusan/anastesi lokal di kulit. Akses pembuluh darah bisa di pergelangan tangan ataupun di pangkal paha. Setelah dipasang selongsong (sheath) di pembuluh darah kaki atau tangan, maka kateter akan dimasukan sampai pada pembuluh darah koroner jantung. Kateter yang digunakan mempunyai diameter lumen yang lebih besar dibandingkan dengan kateter yang digunakan untuk kateterisasi jantung. Untuk masuk ke pembuluh darah koroner yang menyempit, harus dipandu dengan menggunakan guide wire dengan ukuran sangat kecil, yaitu 0,014 inchi. Waktu pelaksanaan kateterisasiditentukan berdasarkan beberapa parameter dan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu:
1) Primary Percutaneous Coronary Intervention adalah tidakan yang dilakukan pada Akut Coroner Infark dengan Onset gejala kurang dari 12 Jam, Keterlambatan door to needle atau door to balloon tiap 30 menit akan meningkatkan risiko relative 1 tahun sebanyak 7.5%. Sehingga segala usaha harus dilakukan untuk mempercepat reperfusi.
2) Early Percutaneous Coronary Intervention adalah tidakan yang dilakukan pada Akut Coroner Infark dengan Onset gejala lebih dari 12 Jam.
3) Rescue Percutaneous Coronary Intervention adalah tidakan yang dilakukan pada Akut Coroner Infark dengan Onset gejala kurang dari 12 Jam setelah mengalami kegagalan terapi Fibrinolitik
4) Percutaneous Coronary Intervention Elektif, strategi ini dilakukan pada pasien yang tidak memenuhi kriteria risiko tinggi dan dianggap memiliki risiko rendah, yaitu memenuhi kriteria berikut ini:
a) Nyeri dada tidak berulang, tidak ada tanda-tanda kegagalan jantung
b) Tidak ada kelainan pada EKG awal atau kedua (dilakukan pada jam ke-6 - 9) c) Tidak ada peningkatan nilai troponin (saat tiba atau antara jam ke-6 hingga 9) d) Tidak ada iskemia yang dapat ditimbulkan (inducible ischemia).
14 c. Indikasi untuk dilakukan PCI adalah:
1) Acute ST-elevation myocardial infarction (STEMI) adalah sindrom Koroner akut dengan deviasi ST segmen elevasi > 1 mm di ekstrimitas dan > 2 mm di precordial, lead yang bersebelahan serta peninggkatan CKMB lebih dari25µ/l , Troponin T positif > 0,03
2) Non–ST-elevation acute coronary syndrome (NSTE-ACS) adalah sindrom Koroner akut dengan deviasi ST segmen depresi > 0,5mm, dapat disertai dengan gelombang T inverse dan peningkatan CKMB > 25 µ/l Troponin T positif > 0,03
3) Unstable angina adalah sindrom Koroner akut dengan deviasi ST segmen depresi >
0,5mm, dapat disertai dengan gelombang T inverse dan Enzim jantung (Bio- marker) normal
4) Stable angina
5) Anginal equivalent (eg, dyspnea, arrhythmia, or dizziness or syncope) 6) High risk stress test findings
d. Kontraindikasi
1) CHF yang tidak terkontrol, BP tinggi, aritmia 2) Gangguan elekrolit
3) Infeksi (demam) 4) Gagal ginjal
5) Perdarahan saluran cerna akut/anemia 6) Stroke baru (< 1 bulan)
7) Intoksikasi obat-obatan (seperti: Kontras) 8) Pasien yang tidak kooperatif
9) Usia kehamilan kurang dari 3 bulan
e. Area Penusukan
Area penusukan pada tindakan PCI terdiri atas:
1) Arteri Femoralis 2) Arteri Brachialis 3) Arteri Radialis
15 f. Komplikasi
1) Diseksi arteri coroner 2) Vasospasme arteri coroner 3) Akut disritmia
4) Cardiac arrest 5) Tamponade jantung 6) Hipotensi
2.1.7. Komplikasi a. Aritmia
Aritmia jantung yang mengancam nyawa yaitu ventricular tachycardia (VT), ventricular fibrillation (VF), dan AV blok total dapat menjadi manifestasi awal terjadinya sindrom coroner akut. Insidens aritmia ventrikel biasanya terjadi 48 jam pertama.
b. Gagal Jantung
Gagal jantung pada SKA biasanya disebabkan oleh kerusakan miokard tapi dapat pula terjadi karena aritmia atau komplikasi mekanik seperti ruptur septum ventrikel atau regurgitasi mitral iskemik. Gagal jantung pada SKA menandakan prognosis yang lebih buruk. Tatalaksana umum meliputi monitor kemungkinan terjadinya aritmia, gangguan elektrolit dan adanya kelainan katup atau paru.
Pemeriksaan foto toraks dan ekokardiografi direkomendasikan untuk evaluasi luas kerusakan miokard dan komplikasi yang mungkin terjadi seperti ruptur septum dan regurgitasi mitral akut. Syok kardiogenik pada SKA menandakan kegagalan pompa jantung berat dan hipoperfusi dengan manifestasi klinis TD sistolik < 90 mmHg, pulmonary wedge pressure > 20 mmHg atau cardiac index < 1,8 L/m2. Hal ini akibat nekrosis miokard yang luas. Inotropik atau IABP sering diperlukan untuk mempertahankan TD sistolik > 90 mmHg. Diagnosis syok kardiogenik ditegakkan setelah menyingkirkan penyebab lain hipotensi seperti hipovolemik, reaksi vagal, tamponade, aritmia dan gangguan elektrolit. Terapi suportif IABP direkomendasi sebagai jembatan untuk terapi definitive yaitu terapi intervensi (emergency PCI).
16
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Coronary Artery Diesease (CAD) 2.2.1 Pengkajian Keperawatan
1. Data subjektif
a. Identitas Klien : Nama klien, nomor RM, umur, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan,suku, agama, alamat, tanggal MRS, diagnosa medis: diagnosa medis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan penunjang, tidak bisa hanya dengan manifestasi klinik yang ada, tanggal engkajian, jam pengkajian
b. Riwayat Kesehatan 1) Keluhan utama :
a) Ptekie
Bintik-bintik kemerahan yang muncul akibat pendarahan dibawah kulit, keluarnya darah dari pembuluh darah ke dermis, dan ruam tidak memucat bila ditekan. Nilai ptekie kurang dari 5 mm apabila memucat ketika ditekan.
Sedangkan lebih dari 5 mm disebut purpura. Petekie ditemukan bila jumlah trombosit < 30.000/mm3.
b) Ekimosis
Darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit dan gejala ini terjadi mendadak pada penderita ITP. Ekimosis yang bertambah dan perdarahan yang lama akibat trauma ringan ditemukan pada jumlah < 50.000/mm3 .
c) Vesikel atau bulae yang bersifat hemoragik
Lepuhan kecil berisi cairan yang berdiameter kurang dari 0,5 cm. Sedangkan bulae merupakan lesi menonjol melingkar (> 0,5 cm) yang berisi cairan serosa di atas dermis.
d) Perdarahan dibawah membran mukosa (saluran GI, kemih, genital, respirasi) e) kelemahan saat beraktivitas dan sesak napas.
2) Riwayat penyakit sekarang a) Epitaksis
Sering disebut juga mimisan yaitu satu keadaan pendarahan dari hidung yang keluar melalui lubang hidung akibat adanya kelainan lokal pada rongga hidung ataupun karena kelainan yang terjadi di tempat lain dari tubuh.
b) Menoragia
Periodik menstruasi yang terjadi pendarahan berat atau berkepanjangan (abnormal), periode inilah yang menyebabkan kehilangan banyak darah dan
17 dapat juga disertai kram.
c) Malaise
Keluhan utama dapat disertai malaise yaitu anoreksia, nafsu makan menurun dan kelelahan, dan kelemahan. Kelemahan dapat terjadi dengan atau tanpa disertai saat pendarahan terjadi akibat kekurangan suplai darah tidak seimbang dengan kebutuhan.
d) Menometroraghia
Bentuk campuran dari menoragia dan metroragia, menoragia merupakan perdarahan haid dalam jumlah yang melebihi 80 ml. Sedangkan metroragia yaitu terjadinya perdarahan berupa bercak bercak diluar siklus haid.
Pengkajian riwayat penyakit sekarang yang mendukung keluhan utama dilakukan dengan mengajukan pertanyaan mengenai kelemahan fisik klien secara PQRST, diantaranya :
i) Provoking insident : kelemahan fisik terjadi setelah melakukan aktivitas ringan sampai berat, sesuai derajat gangguan pada jantung.
ii) Quality of pain : seperti apa keluhan kelemahan dalam melakukan aktivitas yang dirasakan atau digambarkan oleh pasien.
iii) Region : radiation, relief : apakah kelemahan fisik bersifat lokal atau memengaruhi keseluruhan sistem otot rangka atau sering disertai dengan ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan.
iv) Saverity (scale) of pain : kaji rentang kemampuan klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari .
v) Time : sifat awalnya adalah dengan timbulnya (onset), keluhan kelemahan beraktivitas biasanya timbul perlahan. Lama timbulnya (durasi) kelemahan saat beraktivitas biasanya setiap saat, baik saat istirahat maupun saat beraktivitas.
3) Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian yang mendukung dikaji dengan menanyakan apakah sebelumnya pasien pernah menderita nyeri dada, hipertensi, iskemia miokardium, infark miokardium, diabetes melitus, dan hiperlipidemia. Tanyakan mengenai obat-obatan yang biasa di konsumsi oleh pasien pada masa yang lalu dan masih relevan dengan kondisi saat ini. Obat-obatan yang terkait misalnya seperti obat
18
diuretik, nitrat, penghambat beta, serta anti hipertensi. Catat adanya efek sampingyangterjadi di masa lalu, alergi obat, dan reaksi alergi yang timbul
Pada trombositopenia akuista, kemungkinan penggunaan satu atau beberapa obat penyebab trombositopenia (heparin, kuinidin, kuinin, antibiotik yang mengandung sulfa, beberapa obat diabetes per-oral, garam emas, rifampin).
4) Riwayat penyakit keluarga
Perawat memfokuskan bertanya tentang penyakit yang pernahdialami oleh anggota keluarga, terutama anggota keluarga yang meninggal pada usia produktif, dan penyebab kematiannya
c. Pola Fungsi Kesehatan
1) Pola persepsi terhadap kesehatan
Terjadi perubahan karena defisit perawatan diri akibat kelemahan, sehingga menimbulkan masalah kesehatan lain yang juga memerlukan perawatan yang serius akibat infeksi.
2) Pola nutrisi metabolisme
Penderita pada umumnya kehilangan nafsu makan, dan sering terjadi pendarahan pada saluran pencernaan.
3) Pola eliminasi.
Pola ini biasanya terjadi perubahan pada eliminasi akut karena asupan nutrisi yang kurang sehingga penderita biasanya tidak bisa BAB secara normal. Terjadi melena dan hematuria adalah hal yang sering dihadapi klien.
4) Pola istirahat-tidur.
Gangguan kualitas tidur akibat perdarahan yang sering terjadi.
5) Pola aktivitas latihan
Penderita terjadi kelelahan umum dan kelemahan otot, kelelahan, nyeri akan mempengaruhi aktifitas pada penderita ITP.
6) Pola persepsi diri
Adanya kecemasan, menyangkal dari kondisi, ketakutan dan mudah terangsang, perasaan tidak berdaya dan tidak punya harapan untuk sembuh.
7) Pola kognitif perseptual
Perubahan status kesehatan dapat mempengaruhi kemampuan panca indra penglihatan dan pendengaran akibat dari efek samping obat pada saat dalam tahap penyembuhan.
19 8) Pola toleransi koping stress
Adanya ketidakefektifan dalam mengatasi masalah individu dan keluarga pada klien.
9) Pola reproduksi seksual
Pada umumnya terjadi penurunan fungsi seksualitas pada penderita ITP.
10) Pola hubungan peran
Terjadi keadaan yang sangat menggangu hubungan interpersonal karena klien dengan ITP dikenal sebagai penyakit yang menakutkan.
11) Pola nilai dan kepercayaan
Timbulnya distress spiritual pada diri penderita, bila terjadi serangan yang hebat atau penderita tampak kurang sehat.
2. Data Obyektif a. Keadaan Umum
Penderita dalam kelemahan, composmentis, apatis, stupor, somnolen, soporo coma dan coma. Penilaian GCS sangat penting untuk diperhatikan. Tanda vital : suhu meningkat, takikardi, takipnea, dyspnea, tekanan darah sistolik meningkat dengan diastolik normal.
b. Pemeriksaan Fisik (B1-B6)
• Breathing (B1)
Inspeksi : Adanya dispnea, takipnea, sputum mengandung darah, terjadi pendarahan spontan pada hidung
Palpasi : Kemungkinan vokal vremitus menurun akibat kualitas pernapasan buruk karena pendarahan pada saluran respirasi
Perkusi : Suara paru sonor atau pekak
Auskultasi : Adanya suara napas tambahan whezing atau ronchi yang muncul akibat dari komplikasi gejala lain.
• Blood (B2)
Inspeksi : Adanya hipertensi, hemoraghi subkutan, hematoma dan Sianosis akral. Adanya ptekie atau ekimosis pada kulit, purpura.
Palpasi : Penghitungan frekuensi denyut nadi meliputi irama dan kualitas denyut nadi, denyut nadi perifer melemah, hampir tidak teraba. Takikardi, adanya
20
petekie pada permukaan kulit. Palpitasi (sebagai bentuk takikardia kompensasi).
Perkusi : Kemungkinan adanya pergeseran batas jantung
Auskultasi : Bunyi jantung abnormal, tekanan darah terjadi peningkatan sistolik, namun normal pada diastolik.
• Brain (B3)
Inspeksi : Kesadaran biasanya compos mentis, sakit kepala, perubahan tingkat kesadaran, gelisah dan ketidakstabilan vasomotor.
• Bladder (B4)
Inspeksi: Adanya hematuria (kondisi di mana urin mengandung darah atau sel- sel darah merah. Keberadaan darah dalam urin biasanya akibat perdarahan di suatu tempat di sepanjang saluran kemih.
Palpasi : Kemungkinan ada nyeri tekan pada kandung kemih karena distensi sebagai bentuk komplikasi
• Bowel (B5)
Inspeksi : Klien biasanya mengalami mual muntah penurunan nafsu makan, dan peningkatan lingkar abdomen akibat pembesaran limpa. Adanya hematemesis dan melena.
Palpasi: Adakah nyeri tekan abdomen, splenomegali, pendarahan pada saluran cerna
Perkusi: Bunyi pekak deteksi adanya pendarahan pada daerah dalam abdomen Auskultasi: Terdengar bising usus menurun (normal 5-12x/menit).
• Bone (B6)
Inspeksi: Kemungkinan adanya nyeri otot sendi dan punggung, aktivitas mandiri terhambat, atau mobilitas dibantu sebagian akibat kelemahan. Toleransi terhadap aktivitas sangat rendah
c. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan DL: jumlah trombosit rendah hingga mencapai 100.000/ mm3 (normal 150.000-350.000 / mm3 ), Penurunan hemoglobin, Kadar trombopoietin tidak meningkat, Masa koagulasi untuk PT dan PTT memanjang, Foto toraks dan uji fungsi paru, Tes kerapuhan kapiler meningkat, Skrining antibody terdiri dari:
Aspirasi sumsum tulang, menunjukkan peningkatan jumlah megakariosit, Tes
21
sensitif menunjukkan IgG anti trombosit pada permukaan trombosit atau dalam serum.
2.2.2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien Coronary Artery Disease (CAD), yaitu:
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung, perubahan frekuensi jantung, perubahan kontraktilitas, perubahan preload, perubahan afterload b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologi, agen pencedera kimiawi, agen
pencedera fisik
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, tirah baring, kelemahan
d. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi pusat pernafasan, hambatan upaya nafas (misalnya nyeri saat bernafas, kelemahan otot pernafasan)
e. Hipervolemi berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi, kelebihan asupan cairan, kelebihan asupan natrium
f. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan hiperglikemia, peningkatan tekanan darah, penurunan aliran arteri dan/atau vena.
g. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan kematian, ancaman kesehatan, dan perubahan kesehatan.
h. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi tentang penyakit.
2.2.3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Luaran Intervensi
1 Penurunan Curah Jantung Tanda dan gejala:
1.Bradikardi/
takikardi 2.Gambaran
Curah Jantung Setelah dilakukan Tindakan keperawatan selama 3x24 jam,maka
Curah jantung
meningkat
Perawatan Jantung Observasi:
1.Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung
2.Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah jantung 3. Monitor tekanan darah
22 EKG aritmia,
3.Edema 4.Central venous pressure meningkat / menurun, 5.Tekanan darah meningkat/
menurun, 6.Nadi perifer lemah, 7. Sianosis, 8.Ejection Fraction menurun 9.Berat badan bertambah, 10.Pulmonary vascular resistance meningkat / menurun 11. Lelah 12. Dispnea 13. Ortopnea 14. Batuk
kriteria hasil:
1.Bradikardi/takikardi hilang
2. Aritmia hilang 3. Edema hilang 4. Sianosis hilang 5. Lelah hilang 6. Dispnea hilang 7. Ortopnea hilang 8. Batuk hilang 9.Central venous pressure membaik 10.Tekanan darah membaik
11.Nadi perifer membaik
12.Ejection Fraction membaik
13.Berat badan membaik
14.Pulmonary vascular resistance membaik
4. Monitor intake dan output cairan 5. Monitor saturasi oksigen
6. Monitor keluhan nyeri dada 7. Monitr EKG 12 sandapan
Terapeutik:
1.Posisikan pasien semi fowler atau fowler dengan kaki ke bawah atau posisi nyaman
2.Berikan diet jantung yan sesuai 3.Fasilitasi pasien dan keluarga untuk memotivasi gaya hidup sehat
4.Berikan terapi relaksasi untuk mengurani stres, jika perlu 5.Berikan dukungan emosional dan spiritual
6.Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen
>94%
Edukasi:
1.Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi
2.Anjurkan beraktvitas fisik secara bertahap
3.Anjurkan berhenti merokok 4.Anjurkan pasien dan keluarga mengukur berat badan
5.Anjurkan pasien dan keluarga mengukur intake dan output cairan harian
23
Kolaborasi:
1.Kolaborasi pemberian antihistamin, jika perlu
2.Rujuk ke program rehabilitasi jantung
2 Nyeri akut Tanda dan gejala:
1.Mengeluh nyeri, 2.Tampak meringis, 3.Bersikap protektif (mis.waspada ,posisi menghindari nyeri), 4.Frekuensi nadi
meningkat, 5.Sulit tidur, 6.Tekanan darah meningkat, 7.Pola napas berubah 8.Nafsu makan berubah, 9.Proses berpikir
Tingkat Nyeri Setelah dilakukan Tindakan keperawatan selama 3x24 jam, maka tingkat nyeri menurun
kriteria hasil:
1.Keluhan nyeri menurun,
2.Meringis menurun, 3.Sikap protektif menurun,
4.Gelisah menurun, 5.Kesulitan tidur menurun,
6. Diaforesis menurun, 7.Frekuensi nadi membaik,
8.Pola napas membaik, 9.Tekanan darah membaik
Manajemen nyeri Observasi:
1.Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
2.Identifikasi skala nyeri.
3.Identifikasi respon nyeri non verbal.
4.Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri.
5.Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri.
Terapeutik:
1.Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis.
TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik, bio feedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing)
2.Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan).
3. Fasilitas istirahat dan tidur.
24 terganggu,
10.Menarik diri,
11.Berfokus pada diri sendiri, 12.Diaforesis .
Edukasi:
1.Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri.
2.Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat.
3.Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
Kolaborasi:
1.Kolaborasi pemberian analgetic, jika perlu
3 Intoleransi Aktivitas Tanda dan gejala:
1.Mengeluh lelah 2.Dispnea saat/setelah beraktivitas 3.Merasa tidak nyaman setelah
beraktivitas 4.Merasa lemah 5. Sianosis
Toleransi Aktivitas Setelah dilakukan Tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan toleransi aktivitas meningkat
kriteria hasil:
1.Lelah hilang 2.Dispnea hilang 3.Rasa tidak nyaman hilang
4.Lemah hilang 5.Sianosis hilang
Manajemen Energi Observasi:
1.Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan,
2.Monitor kelelahan fisik dan emosional,
3.Monitor pola tidur dan jam tidur, 4.Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
4 Pola nafas tidak efektif Tanda dan gejala:
1. Dispnea 2.Penggunaan
Pola Napas Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, maka pola nafas membaik
Manajemen Jalan Napas Observasi:
1.Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
2.Monitor bunyi napas tambahan
25 otot bantu
pernapasan.
3.Fase ekspirasi memanjang.
4.Pola napas abnormal (mis.takipnea .bradipnea, hiperventilasi kussmaul cheyne- stokes).
5.Ortopnea 6.Pernapasan pursed-lip.
7.Pernapasan cuping hidung.
8.Diameter thoraks anterior- posterior meningkat 9.Ventilasi semenit menurun 10.Kapasitas vital menurun 11.Tekanan ekspirasi menurun 12.Tekanan
Kriteria hasil:
1.Dispnea menurun, 2.Penggunaan otot bantu napas menurun, 3.Pemanjangan fase ekspirasi menurun, 4.Ortopnea menurun, 5.Pernapasan cuping hidung menurun,
6.Frekuensi napas membaik,
7.Kedalaman napas membaik
(misalnya gurgling, wheezing, mengi, ronkhi)
3.Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
Terapeutik:
1.Posisikan semi fowler atau fowler
2.Berikan minum hangat
3.Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
4.Lakukan suction
5.Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi:
1.Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi 2.Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi:
1.Kolaborasi pemberian bronko- dilator, ekspektoran, jika perlu
26 inspirasi
menurun 13.Ekskursi dada berubah 5 Perfusi
perifer tidak efektif Tanda dan gejala:
1.Pengisian kapiler >3 detik.
2.Nadi perifer menurun atau tidak teraba.
3.Akral teraba dingin.
4.Warna kulit pucat.
5.Turgor kulit menurun 6.Parastesia.
7.Nyeri ekstremitas (klaudikasi intermiten).
8. Edema.
9.Penyembuh -an luka lambat.
10.Indeks anklebrachial
< 0,90.
Perfusi perifer Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan perfusi perifer meningkat
Kriteria hasil:
1.Edema perifer menurun
2.Warna kulit pucat menurun
3.kelemahan otot menurun
4.CRT kurang dari 3 detik
5.Tekanan sistol dan diastole dalam rentang normal
6.Konjungtiva tidak anemis
Perawatan sirkulasi Observasi
1.Periksa sirkulasi perifer(mis.
Nadi perifer, edema, pengisian kalpiler, warna, suhu, angkle brachial index)
2.Identifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi (mis. Diabetes, perokok, orang tua, hipertensi dan kadar kolesterol tinggi)
3.Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas
Terapeutik
1.Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area keterbatasan perfusi
2.Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas pada keterbatasan perfusi
3.Hindari penekanan dan pemasangan torniquet pada area yang cidera
4.Lakukan pencegahan infeksi 5.Lakukan perawatan kaki dan kuku
6.Lakukan hidrasi
27 11.Bruit
femoral. Edukasi
1.Anjurkan berhenti merokok 2.Anjurkan berolahraga rutin 3.Anjurkan mengecek air mandi untuk menghindari kulit terbakar 4.Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan darah, antikoagulan, dan penurun kolesterol, jika perlu
5.Anjurkan minum obat pengontrol tekakan darah secara teratur
6.Anjurkan menghindari penggunaan obat penyekat beta 7.Anjurkan melakukan perawatan kulit yang tepat(mis.
Melembabkan kulit kering pada kaki)
8.Anjurkan program rehabilitasi vaskuler
9.Anjurkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi (mis.
Rendah lemak jenuh, minyak ikan, omega3)
10.Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan (mis. Rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak sembuh, hilangnya rasa)
28 6 Ansietas
Tanda dan gejala:
1.Merasa bingung 2.Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi 3.Sulit
berkonsentrasi 4.Mengeluh pusing 5.Anoreksia 6.Frekuensi napas meningkat 7.Tremor 8.Kontak mata buruk
Tingkat Ansietas Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan keluarga
mampu merawat
keluarga yang sakit dengan
kriteria hasil:
1.Bingung hilang 2.Rasa khawatir hilang 3.Pusing hilang
4.Anoreksia hilang 5.Tremor hilang
6.Kontak mata
membaik
7.Frekuensi napas membaik
8. Konsentrasi membaik
Reduksi Ansietas Observasi:
1.Identifikasi saat tingkat ansietas berubah,
2.Identifikasi kemampuan mengambil keputusan,
3.Monitor tanda tanda ansietas (verbal dan nonverbal)
Terapeutik:
1.Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, 2.Temani pasien untuk mengurangi kecemasan,
3.Pahami situasi yang membuat ansietas,
4.Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan,
5.Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan.
Edukasi:
1.Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami, 2.Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis.
3.Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi.
4.Latih kegiatan pengalihan.
Kolaborasi:
29
1.Kolaborasi pemberian obat anti ansietas
7 Defisit
pengetahuan Tanda dan gejala:
1.Kebingung- an
2.Menunjuk- kan perilaku tidak sesuai anjuran 3.Menunjuk- kan persepsi yang keliru terhadap masalah 4.Menunjuk- kan perilaku berlebihan (mis.Apatis, bermusuhan, agitasi,
Tingkat Pengetahuan Setelah dilakukan Tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan tingkat pengetahuan membaik
kriteria hasil:
1.Perilaku sesuai anjuran meningkat 2.Kemampuan menjelaskan
pengetahuan suatu topik meningkat
3.Persepsi yang keliru terhadap masalah 4.Perilaku kesehatan meningkat.
Edukasi kesehatan Observasi:
1.Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi 2.Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat
Terapeutik:
1.Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
2.Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai dengan kesepakatan
3.Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi:
1.Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
2.Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
3.Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat
30 BAB III ANALISIS KASUS 3.1 Analisis Kasus Coronary Artery Disease (Cad)
3.1.1 Kasus
Tn. A usia 50 tahun mengeluh napasnya terasa sesak jika berjalan lebih dari 20 menit.
Keluhan ini dirasakan sejak 1 tahun yang lalu. Klien merasa cemas dengan kondisi penyakitnya, karena klien masih belum melakukan anjuran dokter untuk pasang ring pada jantungnya. Klien juga sering tiba-tiba pingsan. Sebelumnya klien pernah mengalami nyeri dada, dan dirawat di Rumah Sakit serta dianjurkan tindakan pasang ring. Namun karena belum siap tindakan tersebut sampai sekarang belum dilakukan. Saat ini keluhan utama klien selain sesak napas, adalah kelelahan dan mudak kecapekan saat beraktivitas.
Klien mengidap hipertensi sejak 11 tahun yang lalu, berobat teratur ke klinik namun klien sulit menghindari pantangan untuk mengurangi konsumsi garam dan makan gulai- gulai, tetapi ia sudah berhenti merokok. Keluarga klien juga ada yang sakit jantung, kakak perempuannya meninggal karena sakit jantung.
Saat ini klien cemas dengan penyakitnya, ia takut penyakitnya bertambah parah, dan takut dengan tindakan untuk pasang stent (ring). Hasil pengkajian ditemukan TD: 120/90 mmHg, N : 75x/menit, P : 23 x/menit dan S : 36,8°C. Pemerikasaan paru: gerakan dada simetris, nafas sesak dengan aktifitas, taktil fremitus kiri dan kanan lemah, Redup, rhonchi +/+, wheezing (-). Pemeriksaan jantung: ictus tidak tampak, ictus teraba ICS V MCS, perkusi jantung pekak, BJ I dan II (+),reguler, murmur (-), gallop (-).
Obat-obatan yang dikonsumsi saat ini:
- Brilinta (Ticagrelor 90 mg) 2 x 1 - Nitrokaf retard (nitroglycerin)2 x 1 - Bisoprolol fumaratek 2 x 1
- Nitral glyceryl trinitrate 500 mg 1 x 1 bila nyeri - Aptor acetyl salicylic Acid 1 x 1
- Lansoprazole 30 mg 1 x 1 - Ramipril 5 mg 1 x 1
- Atorvastatin calcium trihydrate 1 x 1
31 Nilai Laboratorium Klien :
Hasil Rontgen thoraks :
Hasil echocardiography :
Hasil Corangiography :
Hasil: Critical stenosis di proximal mid RCA, Stenosis 70-75% di proximal LAD
32 3.1.2 Pengkajian
A. Biodata
• Identitas Pasien
Nama : Tn. A
Tgl lahir/ Umur : 50 tahun Jenis kelamin : laki-laki Status Perkawinan : kawin
No. RM : -
Dx. Medis : CAD
B. Keluhan Utama
Sesak napas, kelelahan dan mudah kecapekan saat beraktivitas.
C. Status Kesehatan
• Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan saat ini klien mengeluh napasnya terasa sesak jika berjalan lebih dari 20 menit, merasa cemas dengan kondisi penyakitnya, klien juga sering tiba-tiba pingsan
• Riwayat kesehatan masa lalu
Klien pernah mengalami nyeri dada, dan dirawat di Rumah Sakit serta dianjurkan tindakan pasang ring. Namun karena belum siap tindakan tersebut sampai sekarang belum dilakukan. Klien mengatakan mengidap pernah hipertensi sejak 11 tahun yang lalu berobat teratur ke klinik namun klien sulit menghindari pantangan untuk mengurangi konsumsi garam dan makan gulai-gulai
• Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan bahwa Keluarganya ada yang sakit jantung, kakak perempuannya meninggal karena sakit jantung.
D. Pola Kesehatan Fungsional
• Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
Kurangnya pengetahuan klien tentang penyebab dan factor-faktor yang mempengaruhi terjadinya CAD
33
• Pola Nutrisi-Metabolik
Klien sulit menghindari pantangan untuk mengurangi konsumsi garam dan makan gulai-gulai
• Pola Aktivitas-Latihan
Kelelahan dan mudak kecapekan saat beraktivitas dan terasa sesak saat berjalan lebih dari 20 menit
• Pola Kognitif dan Persepsi
Klien merasa cemas dengan kondisi penyakitnya, pernah mengalami nyeri dada, dan dirawat di Rumah Sakit
• Pola Persepsi-Konsep diri
Klien cemas dengan kondisi fisiknya dan berharap dapat cepat sembuh
• Pola Toleransi Stress-Koping
Saat ini klien cemas dengan penyakitnya, ia takut penyakitnya bertambah parah, dan takut dengan tindakan untuk pasang ring.
E. Pemeriksaan Fisik
• Tekanan Darah : 120/90 mmHg
• Nadi : 75x/menit
• Pernapasan : 23 x/menit
• Suhu : 36,8°C.
• Pemerikasaan paru : gerakan dada simetris, nafas sesak dengan aktifitas, taktil fremitus kiri dan kanan lemah, Redup, rhonchi +/+, wheezing (-).
• Pemeriksaan jantung : ictus tidak tampak, ictus teraba ICS V MCS, perkusi jantung pekak, BJ I dan II (+),reguler, murmur (-), gallop (-).
34 F. Pemeriksaan Penunjang
Nilai Laboratorium Klien :
Ureum darah tidak normal (normal 8-24 mg/dL), kreatinin darah normal (0,6-1,2 mg/dL), asam urat tidak normal (normal 3,7-7 mg/dL), kolesterol total normal
(<200mg/dL), HDL kolesterol normal (normal 40 mg/dL atau lebih), LDL kolesterol normal selama tidak lebih dari 120 mg/dL (untuk laki-laki), trigliserida normal (<150 mg/dL), gula darah puasa normal (70-100 mg/dL)
Hasil Rontgen thoraks :
Hasil echocardiography :
Dimensi ruang jantung dalam batas normal, LVH positif dengan konsentrik hypertrophy
35 Hasil Corangiography :
Terjadi critical stenosis pada proximal mid Right Coronary Arteri, stenosis sebesar 70-75% pada proximal LAD (left anterior descending artery.
3.1.3 Diagnosa Keperawatan
• Analisa Data
No Data Etiologi Problem
1 DS: Klien
mengatakan sering tiba-tiba pingsan dan mudah lelah
DO:
TD: 120/90 mmHg, N : 75x/menit, P : 23 x/menit dan S : 36,8°C
Pemeriksaan
jantung: ictus tidak tampak, ictus teraba ICS V MCS, perkusi jantung pekak, BJ I dan II (+),reguler, murmur (-), gallop (-).
Atreoklorosis atau Spasme Pembuluh Darah Coroner → Penyempitan pembuluh darah → Iskemik pada arteri coroner → Hipoksia otot jantung → Metabolism anaerob → Asam laktat meningkat → Asidosis → Fungsi ventrikel terganggu → Perubahan hemodynamic → Cardiac output menurun → Penurunan Curah Jantung
Penurunan curah jantung
36 2 DS: Klien mengeluh
napas terasa sesak k jika berjalan lebih dari 20 menit
DO:
TD: 120/90 mmHg, N : 75x/menit, P : 23 x/menit dan S : 36,8°C
Pemerikasaan paru:
gerakan dada simetris, nafas sesak dengan aktifitas, taktil fremitus kiri dan kanan lemah, Redup, rhonchi +/+, wheezing (-).
Atreoklorosis atau Spasme Pembuluh Darah Coroner → Penyempitan pembuluh darah → Iskemik pada arteri coroner → Hipoksia otot jantung → Metabolism anaerob → Asam laktat meningkat → Asidosis → Fungsi ventrikel terganggu → Perubahan hemodynamic → tekanan jantung meningkat → tekanan paru-paru meningkat → sesak → Pola napas tidak efektif
Ketidakefektifan Pola napas
3 DS: pasien mengeluh kelelahan dan mudah kecapekan saat beraktivitas.
DO:
TD: 120/90 mmHg, N : 75x/menit, P : 23 x/menit dan S : 36,8°C
Terlihat nafas sesak dengan aktifitas dan mudah lelah
Arteriosklerosis → Penyempitan pembuluh darah → Penurunan perfusi jaringan jantung → suplai oksigen dan nutrisi terganggu → kerja otot jantung menurun → cardiac output menurun → penurunan perfusi jaringan perifer → metabolisme sel menurun → energi menurun → kelelahan → Intoleransi aktivitas
Intoleransi aktivitas
4 DS: Klien
mangatakan cemas
Perubahan status kesehatan → Perasaan takut akan penyakit →
Ansietas
37 dengan kondisi
penyakitnya karena takut penyakitnya bertambah parah dan masih belum siap untuk memasang ring pada jantungnya
DO:
TD: 120/90 mmHg N : 75x/menit, P : 23 x/menit dan S : 36,8°C
Koping inefektif → Ansietas
5 DS: klien
mengatakan pernah mengalami nyeri dada
DO:
TD: 120/90 mHg, N : 75x/menit, P : 23 x/menit dan S : 36,8°C
Arteriosklerosis → Penyempitan pembuluh darah → Penurunan perfusi jaringan jantung → suplai oksigen dan nutrisi terganggu → metabolisme anaerob → peningkatan asam laktat → merangsang pelepasan mediator kimia
→ merangsang nosireseptor → inpuls dihantarkan oleh saraf eferen → serabut eferen → nyeri
Nyeri akut
Diagnosa keperawatan
• Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahahan kontraktilitas jantung
• Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru
• Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
• Ansietas berhubungan dengan perubahan mayor status kesehatan, stressor
• Nyeri akut berhubungan dengan agen biologis (iskemia)
38 3.1.4 Intervensi keperawatan
No Diagnosa Intervensi Utama
1 1 (Perawatan Jantung) I.02075 Tindakan
Observasi
− Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung (meliputi dispnea, kelelahan, edema, ortopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea, peningkatan CVP)
− Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah jantung (meliputi peningkatan berat badan, hepatomegali, distensi vena jugularis, palpitasi, ronchi basah, oliguria, batuk, kulit pucat)
− Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah ortostatik, jika perlu)
− Monitor intake dan output cairan
− Monitor berat badan setiap hari pada waktu yang sama
− Monitor saturasi oksigen
− Monitor keluhan nyeri dada (mis, intensitas, lokasi, radiasi, durasi, previtasi yang mengurangi nyeri)
− Monitor EKG 12 sadapan
− Monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi)
− Monitor nilai laboratorium jantung (mis, elektrolit, enzim jantung, BNP, NT pro-BNP)
− Monitor fungsi alat pacu jantung
− Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum dan sesudah aktivitas
− Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum pemberian obat (mis, beta blocker, ACE inhibitor calelum channe; blocker, digoksin)
39 Terapeutik
− Posisikan pasien semi-fowler atau fowler dengan kaki ke bawah atau posisi nyaman
− Berikan diet jantung yang sesuai (mis, batasi asupan kafein, natrium, kolesterol, dan makanan tinggi lemak)
− Gunakan stocking elastic atau pneumatic intermiten, sesuai indikasi
− Fasilitasi pasien dan keluarga untuk modifikasi gaya hidup sehat
− Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stress, jika perlu
− Berikan dukungan emosional dan spiritual
− Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >94%
Edukasi
− Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi
− Anjurkan beraktivitas fisik se3cara bertahap
− Anjurkan berhenti merokok
− Ajarkan pasien dan keluarga mengukur berat badan harian
− Ajarkan pasien dan keluarga mengukur intake dan output cairan harian
Kolaborasi
− Kolaborasi pemberian antiaritmia, jika perlu
− Rujuk ke program rehabilitasi jantung 2 2 (Manajemen Jalan Napas I.01011)
Tindakan:
Observasi:
− Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
− Monitor bunyi napas tambahan (mis. gurgling, mengi, wheezing, ronchi kering)
− Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
40 Terapeutik:
− Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (jaw-thrust jika curiga trauma servical)
− Posisikan semi-fowler atau fowler
− Berikan minum hangat
− Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
− Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
− Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal
− Keluarkan sumbatan benda pada dengan forsep McGill
− Berikan oksigen, jika perlu Edukasi:
− Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi
− Ajarkan tehnik batuk efektif Kolaborasi:
− Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu
3 3 (Manajemen Energi I.05178) Tindakan
Observasi
− Identifkasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
− Monitor kelelahan fisik dan emosional
− Monitor pola dan jam tidur
− Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas Terapeutik
− Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya, suara, kunjungan)
− Lakukan rentang gerak pasif dan/atau aktif
− Berikan aktivitas distraksi yang menyenangkan
41
− Fasilitas duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan
Edukasi
− Anjurkan tirah baring
− Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
− Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang
− Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan Kolaborasi
− Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
4 4 (Reduksi Ansietas I.09314) Tindakan
Observasi
− Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (misal: kondisi, waktu, stresor)
− Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal) Teraupetik
− Ciptakan suasana teraupetik untuk menumbuhkan kepercayaan Edukasi :
− Jelaskan prosedur serta sensasi yang mungkin dialami
− Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan dan prognosis
Kolaborasi
− Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu 5 5 (Manajemen Nyeri I.08238)
Tindakan Observasi
− Lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
42
− Identifikasi skala nyeri
− Identifikasi respon nyeri non verbal
− Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
− Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
− Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
− Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
− Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
− Monitor efek samping penggunaan analgetic Terapeutik
− Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis.
TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
− Control lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
− Fasilitasi istirahat dan tidur
− Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri
Edukasi
− Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
− Jelaskan strategi meredakan nyeri
− Anjurkan memonitor nyri secara mandiri
− Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
− Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi
− Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
43 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Penyakit jantung koroner (CAD) adalah penyakit yng menyerang organ jantung. Gejala dan keluhan dari CAD hampir sama dengan gejala yang dimiliki oleh penyakit jantung secara umum. Penyakit jantung koroner juga salah satu penyakit yang tidak menular. Kejadia